Nanti Kita ke Jepang ya …

Clingendael

Selama dua hari ini hujan turun terus, tidak hanya itu, suhu udara pun mulai dingin. Kami serumah pilek muter tiada akhir. Yang satu sembuh, yang satu belum, nulari yang lainnya. Begitu saja terus seperti lingkaran tak ada putusanya. Akibat hujan jadi malas ke luar rumah, saya malah produktif di dapur. Kemarin saya membuat sambel teri kacang satu toples besar, membuat sambel teri pedas dan menggoreng ikan asin. Duh nikmatnya makan ikan asin setelah sekian lama males nggoreng karena rumah pasti jadi bau setelahnya. Betul saja, saat suami pulang, begitu buka pintu komentarnya, “goreng ikan asin ya?” hahaha dia benci sekali dengan bau ikan asi. Padahal sewaktu menggoreng, pintu dapur saya buka lebar (pasti tetangga kanan kiri mbatin iki ambu opo haha) dan setelahnya saya rebus rempah2 supaya wangi. Tetep saja baunya nempel.

Karena kemarin masak yang berbau, tadi saya membuat camilan yang harum. Lumayan rumah jadi wangi Vanilla. Tadi saya membuat bubur kacang hijau dan kue labu kuning keju. Saya rajin masak selain karena suka masak, juga karena serumah doyan makan. Makanya jadi makin semangat untuk masak. Nah, kue labu keju ini andalan. Sekarang sedang musim labu kuning, jadi harganya murah. Selain saya buat sup labu, saya juga buat untuk kue. Ini kue anti gagal menurut saya. Resepnya aslinya saya mencontek, tapi saya modifikasi sendiri pada akhirnya. Kalau saya membuat ini, wah pada doyan semua. Kalau ada yang mau resepnya, kapan-kapan saya buat postingan terpisah untuk resepnya (PD sekali ada yang nanya :D). Yang pasti gampang dan anti gagal karena bahan-bahannya gampang dan caranya pun gampang. Seminggu ini saya sudah membuat tiga kali. Rasanya tidak terlalu manis (saya tidak suka manis), aroma keju dan menteganya menggoda. Penampakan baru diangkat dari oven seperti ini :

Kue labu keju baru mentas dari oven
Kue labu keju baru mentas dari oven

Nah minggu lalu, saya juga membuat kerajinan tangan. Lumpia (isi rebung, wortel, tahu), Martabak telur pakai kulit lumpia, dan kue labu keju. Karena membuatnya banyak, jadi bisa dimakan sewaktu Yayang dan si kembar ke rumah, bagi-bagi ke tetangga, Mama dan dimakan serumah. Semua suka, syukurlah. Dan hari minggunya saya membuat sate ayam dan oseng sawi (putih dan hijau). Hari minggu bertepatan dengan waktu winter jadi jam dimundurkan satu jam. Harusnya sih bisa menikmati bonus tidur satu jam lebih lama, tapi kok ya serempak semua bangun tidurnya tetap seperti biasanya.

Lumpia dan martabak telur yang mejeng. Yang tidak difoto masih banyak.
Lumpia dan martabak telur yang mejeng. Yang tidak difoto masih banyak.
Lumpia, martabak telur, dan kue labu kuning keju. Versi cantiknya
Lumpia, martabak telur, dan kue labu kuning keju. Versi cantiknya
Masakan hari minggu. Sate ayam, oseng sayuran dan camilannya kue llabu keju (membuat kedua kalinya dalam 3 hari)
Masakan hari minggu. Sate ayam, oseng sayuran dan camilannya kue llabu keju (membuat kedua kalinya dalam 3 hari)
Sate ayam ala bu deny :D
Sate ayam ala bu deny 😀

Nah hubungannya cerita makanan dengan Jepang apa. Ya cerita makanannya cuma pendahuluan saja haha. Hari minggu kemarin, matahari cerah setelah beberapa hari hujan dan mendung. Walaupun cerah, tapi dinginnya minta ampun, Sekarang kalau pagi suhunya 2ºC. Brr, dingin. Makanya hidung meler terus. Nah karena matahari moodnya sedang bagus, saya mengusulkan untuk ke Taman Jepang (Japanse Tuin) yang tidak jauh dari rumah. Hari itu adalah terakhir taman ini buka untuk periode musim gugur. Jam 3 sore kami sudah sampai sana. Langsung kami menuju ke taman tersebut sambil sesekali saya berhenti untuk foto-foto seputaran Clingendael Park. Jadi taman Jepang ini letaknya di dalam taman. Sepertinya memang jadi ritual kami untuk mengunjungi Taman Jepang karena buka dua kali dalam setahun dan kami nyaris selalu ke sana. Entahlah, suka saja melihatnya. Beberapa cerita saya tentang Japanse Tuin bisa dibaca di sini dan di sini.

Clingendael
Clingendael
Clingendael
Clingendael
Clingendael
Clingendael

Eh, ternyata kami salah belok. Harusnya belok ke kiri, kami malah terus saja. Suami nanya, apa musti balik arah atau terus saja? saya bilang terus saja sekalian jalan-jalan di taman besarnya. Nanti saja terakhir baru ke taman Jepang. Kami lalu berjalanlah keliling taman lalu berhenti begitu melihat taman bermain. Setengah jam di sana baru melanjutkan jalan-jalan lagi. Nah begitu sampai pintu masuk Japanse Tuin, lha kok sudah tutup. Ternyata tutupnya jam 4. Kami sampai depan pintunya jam 4 lebih dua menit. Kraakk langsung patah hati saya. Sedih, telatnya dua menit. Tahu muka saya kecewa begitu, suami memeluk pundak saya, “Kapan-kapan kalau ada rejeki waktu dan uang, kita semua ke Jepang aslinya ya. Biar kamu bisa lihat taman jepang yang asli di negaranya, tidak yang versi mungil begini.” Duh saya jadi terharu. Langsung hati saya mengamini. Mudah-mudahan berjodoh kami sekeluarga bisa mengunjungi Jepang suatu hari nanti, meskipun suami sudah pernah ke sana beberapa tahun lalu.

Supaya saya tidak kecewa berkepanjangan, suami langsung menawari untuk mencari makanan di kota. Saya langsung girang. Memang gampangan kalau disogok makanan haha. Akhirnya kami mampir ke warung yang jual bakso dan mie ayam. Menghangatkan badan dengan menyantap bakso, mie ayam pedas, dan juga lemper.

Pelipur kecewa
Pelipur kecewa

Meskipun sedikit terselip kecewa sesaat karena telat masuk ke Japanse Tuin, tapi rasa syukur saya lebih besar dibandingkan kekecewaan yang seuprit itu. Saya bersyukur diberikan kesempatan selalu menikmati saat-saat bersama keluarga, bersyukur bisa masak untuk mereka dan melihat mereka lahap makannya, dan bersyukur bahwa kami diberikan kesehatan dan umur yang berkah hingga detik ini.

Clingendael
Clingendael

-Nootdorp, 31 Oktober 2018-

Pesta Masakan Manado Pada Musim Gugur yang Panas

Penuh dengan makanan Manado

Kok bisa musim gugur tapi panas? Musim gugur kali ini cuacanya benar-benar niet normaal kalau kata orang Belanda. Tidak normal, karena sampai pertengahan oktober masih saja suhunya di atas 20 derajat celcius saat siang menuju sore. Bahkan, sabtu minggu lalu, sampai 27 derajat celcius. Malah di Limburg kata teman saya sampai 30 derajat celcius. Musim gugur rasa musim panas. Tapi minggu depan dari prakiraan cuaca, kembali lagi ke suhu belasan dan hujan.

Sabtu minggu lalu saya beserta beberapa teman datang ke rumah Patricia di Wijchen, memenuhi undangan keluarga Patricia untuk makan masakan Manado. Undangan ini rasanya sudah terwacanakan sejak awal tahun. Baru matang terlaksana Oktober ini. Patricia berasal dari Manado dan dari keluarga Manado asli. Saya yang memang sangat menyukai makanan Manado -suka sekali- langsung antusias memenuhi undangan Patricia. Saya tidak mempunyai darah Manado. Namun sejak bekerja sering ditugaskan ke Manado, saya langsung jatuh cinta dengan makanan Manado. Benar-benar favorit di jiwa dan ragalah. Apalagi saya mempunyai beberapa saudara yang tinggal di Manado (menikah dengan orang Manado) tepatnya di Bitung, Tomohon, dan Tondano, makin punya alasan saya sering ke Manado. Sewaktu kami berencana liburan ke Indonesia, kami akan ke Manado. Selain untuk berkunjung ke saudara, juga untuk wisata kuliner dan menunjukkan ke suami betapa Manado kental sekali hubungannya dengan Belanda. Sayang di Belanda saya belum menemukan restoran Manado (atau mungkin ada yang tahu di mana?), hanya tahu pesanan langsung ke orang-orang Manado asli. Kalau dibandingkan dengan masakan Padang,saya lebih suka dengan masakan Manado. Lebih cocok di lidah dan selera saya.

Ok, kembali lagi ke undangan Patricia. Kami berangkat dari rumah jam setengah satu siang karena ke rumah tetangga dahulu untuk memenuhi undangan ulangtahun. Perjalanan satu setengah jam berkendara menuju Wijchen. Panasnya kentang-kentang sepanjang jalan. Begitu sampai dan masuk rumah, mata saya langsung jelalatan mencari meja makan haha. Maklum, sudah menahan lapar dengan sangat. Halaman belakang rumah Patricia sangat luas, jadi kami (saya dan beberapa anak kecil maksudnya) lesehan di rumput sementara yang lainnya duduk di kursi. Saking panasnya, beberapa anak kecil sampai harus ganti baju memakai baju seminimal mungkin. Sumuk maksimal.

Kami yang datang ini sebenarnya bukan pertama kali saya ceritakan di blog. Saya kenal dengan Patricia pun berasal dari blog sebelum pindah ke Belanda, yang dikemudian hari baru tahu ternyata kami sama-sama ikut Upload Kompakan di Instagram. Sekarang dia jarang nulis di blog karena kesibukan. Dua tahun lalu pertama kali kami kopi darat. Setelahnya dibeberapa acara kami juga bertemu. Walaupun sejak 3 tahun lalu saya sudah menghapus akun IG dan tidak punya lagi sampai sekarang, tapi pertemuan sesama anggota UK yang ada di Belanda lumayan sering, masih menjalin silaturrahmi. Tahun ini kalau tidak salah 3 atau 4 kali kami bertemu. Tidak bisa sering bertemu karena lokasi rumah yang berjauhan, juga kesibukan masing-masing dan juga menyesuaikan dengan jadwal Mbak Yulia ke Amsterdam. Mbak Yulia ini tinggalnya di Austria tapi tiap bulan pasti ke Amsterdam. Sedangkan anggota lainnya adalah Rurie, pemilik katering Kios Kana (akun IG nya @kioskana, kalau mau pesen bakwan malang enak di Belanda, kios kana juaranya. Masakan lainnya juga enak. Bukan endorse ini, testimoni pelanggan yang puas), Asri (pekerja kantoran, alumni S2 VU. Blognya jarang diperbarui karena kesibukan sebagai mbak-mbak kantoran). Kami berlima ini yang sering kumpul. Meskipun tidak lengkap, kadang ketemu dengan beberapa orang juga sering kami lakukan.

Nah ini dia masakan Manado yang penuh satu meja. Kata Patricia, orang Manado itu mempunyai tradisi kalau mengundang tamu, meja makan haruslah penuh dengan makanan. Tidak boleh ada ruang kosong. Kalau bisa malah numpuk piring ke atas. Intinya makanan haruslah berjubel di meja makan tidak memandang jumlah undangan. Meskipun satu atau hanya dua orang yang diundang, perlakuannya tetap sama dengan mengundang orang banyak. Begitu cara mereka menghormati tamu. Menarik juga ya filosofinya, mengingatkan saya dengan orang Jawa di pedesaan juga hampir sama seperti ini. Kalau mengundang orang, mereka akan masak besar-besaran juga. Padahal yang diundang tidak terlalu banyak, tapi masakan yang disajikan istimewa dan banyak jumlahnya. Suami Patricia sampai bertanya berapa keluarga yang datang. Begitu Patricia bilang hanya ada empat keluarga, suaminya langsung heran kenapa masak bisa seheboh itu kuantitasnya. Lalu Patricia menjawab, “Biasa, orang Manado ini yang punya hajat.”

Absen ya masing-masingnya : Puding gula merah (enaknya kebangetan!), dadar gulung (entah isi apa karena ga sempat makan ini, sudah terlalu kenyang), Panada (enak sekali ini, banget!), dabu-dabu, ayam goreng tepung (untuk anak-anak), dadar jagung (bikinan Rurie. Di Manado nyebutnya perkedel jagung ya?), Ayam bumbu RW, tumis sawi, ikan bakar rica, ikan goreng bumbu apa ya itu pokoknya cabe, tumis daun anggur (baru tahu masakan ini. Enak juga ya daun anggur ditumis), ikan bumbu entah warnanya kuning, peyek (buatan mertuanya Patricia yang orang Batak), Bruine bonensoep atau di Manado disebut Brenebon soup.

 

Penuh dengan makanan Manado
Penuh dengan makanan Manado

Ada beberapa hal yang saya baru tahu dari Masakan Manado. Bruine bonensoep atau Brenebon soup atau sop kacang merah, ini sup khas Manado. Saya tanya apakah asalnya dari Belanda karena namanya kok bahasa Belanda sekali. Patricia jawab, mungkin iya. Aslinya kalau di Manado menggunakan kaki babi sebagai kaldu dan dagingnya. Tapi karena banyak pendatang yang muslim di Manado, akhirnya disesuaikan buat mereka yang tidak makan babi, bisa menggunakan daging sapi yang ada lemaknya. Kemarin Patricia memasak menggunakan daging sapi yang ada lemaknya. Super lekker! saya sampai minta resepnya ke dia karena pasukan di rumah suka semua dan lahap makannya dengan soup ini.

Lekker!!
Lekker!!. Ini dabu-dabu

Lalu ada Ayam bumbu RW. Ada yang menyelutuk, bumbu RT ada ga haha, becanda. RW ternyata diambil dari bahasa Minahasa yang berarti Rintek Wuu yang artinya bulu halus (maksudnya bumbunya digiling sampai halus seperti bulu). Awalnya, yang menggunakan bumbu RW ini adalah anjing. Maksudnya Anjing bumbu RW. Tapi seiring berjalannya waktu, berkembang menjadi ayam, daging itik, kelinci, ataupun kucing bisa dimasak dengan bumbu RW. Nah, Mbak Yulia kaget kok bisa anjing bisa dimakan di Manado. Saya lalu menjawab, sewaktu saya sering ditugaskan ke Manado, pernah diberi tahu sopir taksi sana kalau orang Manado itu makan semua yang berkaki, kecuali kaki meja. Jadi kucing pun dimakan oleh mereka. Lalu pak Sopir itu juga cerita, jangan sampai lihat ada kucing berkeliaran, bisa ditangkap lalu dimasak. Mbak Yulia sampai terbengong mendengarkan cerita saya, dan Patricia pun mengamini. Saya lalu menambahkan, di Tomohon malah ada pasar tradisional yang terkenal menjual binatang-binatang yang “tak lazim” untuk dikonsumsi selain oleh masyarakat sekitar, seperti tikus hutan, anjing, ular phyton, kelelawar, monyet hitam, kucing. Babi juga dijual di sini. Nama pasarnya adalah Pasar Beriman Tomohon. Pasar ini ramai juga dikunjungi oleh turis.

Nah, di Manado makan singkong pakai dabu-dabu
Nah, di Manado makan singkong pakai dabu-dabu

Percakapan dengan Patricia menambah wawasan kami akan ragam kuliner di Indonesia, khususnya Manado. Oh iya, ada lagi satu makanan yaitu Puding Gula Merah. Duh ini enak sekali. Laris manis pula banyak peminatnya jadi cuma tinggal sepotong kecil di meja. Untungnya saya sempat sih membungkus bawa pulang (penting ini haha). Karena tidak punya banyak teman yang benar-benar asli Manado (dari keluarga Manado, lahir dan besar di Manado), maka kenal dengan Patricia selalu saja banyak cerita-cerita tentang kebiasaan orang Manado yang sebenarnya saya sudah tahu tapi tetap seru ketika diceritakan berulang kali misalkan orang Manado suka berpesta dan kebiasaan lainnya.

Ini favorit saya. Puding gula merah
Ini favorit saya. Puding gula merah
Saling silaturrahmi dalam satu piring sampai tidak muat
Saling silaturrahmi dalam satu piring sampai tidak muat

Setelah kenyang makan dan berbincang, Mbak Yulia mengusulkan untuk jalan-jalan ke hutan sekaligus hunting foto. Maklum, Mbak Yulia dan Patricia itu fotografer professional (Rurie juga). Yang lainnya tentu saja senang, lumayan kan dapat gratis difoto mumpung warna warni musim gugur sudah keluar. Kami ke hutan Alverna yang letaknya tidak jauh dari rumah Patricia. Betul warna daun warna warninya sudah keluar. Indah sekali. Saya tidak mengambil foto-foto dengan kamera Hp karena sibuk difoto haha sekaligus asyik menikmati pemandangan alam. Lumayan lah di sini lima keluarga bisa foto keluarga gratisan dengan hasil yang ciamik karena difoto dengan kamera canggih dan latar belakang musim gugur yang warna warni. Wah kalau menuruti jiwa narsis yang bergelora, ingin rasanya hasil foto-fotonya saya unggah di sini semua karena bagus-bagus. Tapi tahaann tahaann untuk kalangan terbatas saja 😀 cukup satu saja, lumayan bisa ganti foto profil beberapa akun.

Cuma ini yang saya abadikan. Salah satu sudut tempat kami berfoto ria
Cuma ini yang saya abadikan. Salah satu sudut tempat kami berfoto ria
Sesekali mejeng di blog sendiri. Foto oleh Mbak Yulia
Sesekali mejeng di blog sendiri. Foto oleh Mbak Yulia

Setelah puas berfoto ria, kami kembali lagi ke rumah Patricia. Kami harus segera pulang karena suami tidak terlalu suka menyetir kalau gelap sudah datang. Tidak lupa membungkus makanan (yang membuat saya tidak usah masak sampai senin bahkan sampai selasa besok, saking banyaknya) dan bertransaksi bakso dengan Rurie.

Senang sekali keseruan pertemuan akhir pekan ini. Saking serunya sampai saya euforia tidak karuan. Entah, meskipun cuma sebentar, tapi pertemuan kami benar-benar berkualitas. Ditambah makanan yang enak, pembicaran yang seru dan juga cuaca yang bagus. Lengkap sudah. Akhir pekan yang menyenangkan. Tot Volgende keer! 

Inilah kami. Saya, Patricia, Mbak Yulia, Asri, dan Rurie. Kata teman saya yang melihat foto ini "kok latar belakangnya kayak di Jonas" haha
Inilah kami. Saya, Patricia, Mbak Yulia, Asri, dan Rurie. Kata teman saya yang melihat foto ini “kok latar belakangnya kayak di Jonas” haha. Foto oleh Mbak Yulia

-Nootdorp, 14 Oktober 2018-

Belanda Kembali Menghangat

Pemandangan sepanjang sepedahan

Belanda kembali menghangat setelah sebelumnya sudah kembali ke cuaca fitrahnya yaitu hujan, angin, dan dingin. Hal itu wajar karena memang sudah masuk ke musim gugur. Sebenarnya matahari bersinar terang dan suhu menghangat pada bulan oktober itu tidak seperti biasanya. Saya ingat, tahun kemarin juga seperti ini. Walhasil pada musim dingin ampun-ampunan dinginnya dan sampai ekstrim bahkan beberapa kali turun salju yang sangat lebat. Dengan cuaca yang kembali menghangat pada bulan Oktober ini, semoga musim dingin nanti tidak terlalu ekstrim suhu dinginnya. Oh ya, saat ini langit mulai gelap sekitar jam 7 malam dan kembali terang sekitar jam 8 pagi. Jadi malamnya lumayan lama.

Ya sudah, musim dingin dipikirkan nanti saja. Sekarang dinikmati yang ada, yaitu memanfaatkan semaksimal mungkin aktifitas di luar rumah selama matahari bersinar terang dan hangat. Bagaimana tidak, walaupun tidak ada matahari selama tidak hujan saja kami pasti tetap jalan-jalan. Nah ini matahari muncul dan suhu hangat, pastinya kami tidak mau hanya sekedar duduk-duduk dalam rumah. Sampai minggu depan, konon suhu sampai 22 derajat celcius.

Nongkrong di danau
Nongkrong di danau

Hari Jumat minggu lalu, saat suhu menghangat sampai 22 derajat celcius, kami memutuskan untuk menghabiskan sore dengan nongkrong di danau dekat rumah. Kami sering sekali main ke sini. Berjalan kaki hanya sekitar 20 menit saja. Di danau ini ada fasiltas bermain untuk anak selain bisa main pasir selayaknya di pantai juga. Kalau musim panas, danau ini sangat penuh karena banyak yang berenang. Jika musim gugur seperti saat ini, anak-anak hanya bermain pasir dan beberapa permainan yang lain karena air danaunya tidak layak untuk dijadikan tempat berenang karena faktor dingin.

Kami menghabiskan waktu sekitar 1.5 jam di sini. Senang rasanya menikmati suasana sepi, melihat burung-burung di tepi danau, menghirup udara segar, dan merasakan hangatnya sinar matahari. Karenanya, saya sangat senang berlama-lama di sini jika keadaan memungkinkan.

Hari Sabtu, cuaca tetap sama. Kami yang awalnya tidak punya rencana ke luar rumah, tiba-tiba ketika makan siang, tercetus ide untuk sepedahan ke pusat pertokoan di kota sebelah. Tidak jauh, hanya 30 menit saja naik sepeda. Sekitar jam setengah 4 sore kami berangkat. Namun rencana hanya sekedar rencana. Ditengah perjalanan, tiba-tiba saya usul untuk ke taman saja karena sayang kalau cuaca cerah seperti ini dihabiskan di dalam pusat pertokoan. Suami setuju, akhirnya kami membelokkan sepeda ke taman yang biasanya kami datangi. Jadi taman ini tidaklah asing bagi kami.

Sepedahan
Sepedahan
Pemandangan sepanjang sepedahan
Pemandangan sepanjang sepedahan
Pemandangan sepanjang sepedahan
Pemandangan sepanjang sepedahan
Sampai di taman
Sampai di taman
Daunnya belum semua berubah warna
Daunnya belum semua berubah warna

 

Masuk lebih dalam ke hutan
Masuk lebih dalam ke hutan
Masih di taman
Masih di taman
masih di taman
masih di taman

Ah senangnya bisa kembali lagi ke sini setelah terakhir kalau tidak salah awal tahun kemarin. Kami berkeliling menikmati daun-daun yang mulai berubah warna dan duduk menikmati bekal biskuit yang saya bawa sambil berbincang dan merasakan nikmat hangat sinar matahari.

Setelah puas berkeliling sekitar 1.5 jam, kami memutuskan pulang karena tidak mau saat gelap kami masih di jalan. Saat mulai mengayuh sepeda, dari kejauhan kami mendengar banyak suara anak kecil. Suami bilang mungkin ada speeltuin atau taman bermain untuk anak di sana. Kami lalu ke arah suara tersebut dan ternyata untuk masuk ke sana harus membayar meskipun untuk anak dibawah 3 tahun gratis tetapi yang menemani tetap membayar. Taman bermain ini memang besar dan lengkap permainannya, jadi kami maklum kalau untuk masuk harus membayar. Biasanya kalau di perumahan, di setiap komplek ada taman bermain juga, tetapi kecil dan tidak lengkap permainannya.

Kami putuskan lain kali saja ke sini karena sudah telat untuk bermain dan kami melihat ada restoran di sampingnya. Membaca menunya ada Pannenkoek atau pancake. Kami belum pernah makan pancake di restoran sebelumnya karena biasanya hanya makan sesekali untuk sarapan di rumah dan sejujurnya saya tidak terlalu suka. Tapi tidak ada salahnya makan di restoran kan.

Pemandangan dari balkon
Pemandangan dari balkon

Ternyata restoran ini besar sekali. Bukan hanya restoran tapi juga ada tempat bermain bowling, tempat bermain anak dalam ruangan, dan tempat pertemuan. Ruang restoran saja dibagi beberapa ruangan. Restoran untuk anak-anak ada di ruangan tersendiri dan dengan desain ruangan seolah olah kapal laut. Aslinya mengadopsi cerita Pirates of the Carribean. Kami memesan 3 jenis pancake yaitu pancake dengan jahe, pancake ukuran kecil dan pancake dengan keju dan jamur. Ternyata enak juga pancake dengan aneka rasa seperti itu karena biasanya dimakan dengan gula, meses atau segala sesuatu yang manis.

Sudut yang desainnya seperti dalam kapal
Sudut yang desainnya seperti dalam kapal
Aneka rasa pancake
Aneka rasa pancake

Saya senang sekali akhir pekan ini kami habiskan waktu banyak di luar ruangan dan mencoba hal baru yang nampaknya sepele yaitu pancake. Tapi disetiap hal baru pasti akan ada pengalaman tak terlupakan bukan, karenanya kami sangat menikmati saat-saat seperti ini. Berkumpul bersama di akhir pekan.

Oh ya, akhir pekan ini saya memasak nasi kuning dengan pelengkap yang lumayan niat. Pelengkapnya adalah ayam goreng, orek tahu tempe, sambel pete, telur dadar, mie kuning, perkedel, dan sayur urap. Niat ya haha. Kalau sedang kepingin memang harus dituruti kalau tidak, akan kepikiran. Masak begini saya juga dibantu suami. Dia bagian bersih-bersih dapur setelah saya selesai memasak dan mencuci peralatan masak. Dan saya mikirnya akhir pekan adalah saat kami bisa makan siang bersama jadi setiap akhir pekan kalau sedang tidak ada undangan atau tidak ada rencana makan ke luar, saya masak yang sedikit berbeda dari biasanya. Senang semuanya lahap makan nasi kuning ini sampai nambah-nambah. Terharu saat sabtu malam menjelang tidur suami tiba-tiba menyelutuk :

Suami (S) : ga sabar besok siang

Saya (D) :  ada apa?

(S) : makan enak

(D) : hah di mana? Kan masih ada makanan di kulkas

(S)  :ya itu,nasi kuning kamu enak.

(D) : *merona lalu meleleh *lemah kena gombalan

Nasi kuning dengan pelengkap ayam goreng,orek tahu tempe, sambel pete, telur dadar, mie kuning, perkedel, dan sayur urap
Nasi kuning dengan pelengkap ayam goreng,orek tahu tempe, sambel pete, telur dadar, mie kuning, perkedel, dan sayur urap

Karena minggu depan cuaca masih menghangat, saya sudah mempunyai beberapa rencana untuk menikmati matahari di beberapa tempat, dengan catatan kalau tidak malas haha. Ya, selama cuaca masih ok, harus dinikmati dengan maksimal.

 

-Nootdorp, 7 Oktober 2018-

Science Centre di Delft

Minggu lalu cuaca lumayan “terik” dibandingkan minggu ini. Kenapa teriknya pakai tanda petik? Ya meskipun matahari bersinar nyentrong selama 5 hari, tapi angin dan dinginnya tak tahan aduhai membuat harus memakai jaket tebal. Maklum suhu sudah dikisaran 14 derajat celcius ke bawah. Tapi dengan adanya sisa-sisa matahari yang nongol, jadwal ke luar rumah harus dimaksimalkan karena tidak tahu kapan matahari akan nongol lagi.

Hari Rabu kami nongkrong di Delft. Matahari sedang bergembira sampai obral sinarnya sehingga kami bisa duduk leyeh-leyeh depan gereja sambil menikmati bekal dari rumah dan bersenda gurau. Oh ya, Delft ini adalah salah satu kota favorit saya selain Den Haag. Saya langsung jatuh cinta saat pertama kali ke sini tahun 2014. Suasana di Delft itu Cozy dengan bangunan-bangunannya yang masih mempunyai ciri khas bangunan tua tapi terawat dengan baik. Banyak turis datang ke sini tapi tidak sehiruk pikuk Amsterdam ataupun Den Haag. Kalau Den Haag sebenarnya juga tidak terlalu banyak turis, tapi memang penduduknya yang banyak. Kalau berkesempatan ke Belanda, silahkan mampir ke Delft dan rasakan perbedaannya dengan Amsterdam.

Delft saat cuaca cerah
Delft saat cuaca cerah

Hari kamis, makbedundug saya menerima pesan dari mahasiswa PhD sekaligus tempat belajar saya dalam dunia nak kanak children. Maureen sering membagikan ilmu dan pengalamannya  di blog dalam menyelami dunia anak-anak sebagai seorang Ibu maupun sebagai akademisi dan praktisi di bidang tersebut. Oh jangan salah, meskipun namanya nampak “barat”, medoknya Sorbeje asli. Saya pertama kali ketemu awal tahun ini sewaktu ada acara di rumah kami. Kenal lewat blog, twitter dan WhatsApp sudah lama. Ya beberapa tahun ini maksudnya.

Jadi, maksud dia kirim pesan ke saya, mengajak ketemuan di Delft mumpung cuaca masih cerah. Dia dan Stan -putranya- pengen ke Science Centre – museum science untuk anak-anak. Saya langsung cek jadwal dengan suami, hari sabtu kami tidak ada acara jadi saya langsung mengiyakan ajakannya. Sudah lama juga sebenarnya saya ingin ke museum ini tapi masih belum ketemu waktu yang pas. Saya langsung menghubungi Yayang mau mengajak juga siapa tahu Cinta Cahaya belum pernah ke sini. Sayang karena terlalu mendadak, Yayang yang bekerja pada hari sabtu tidak bisa bergabung dengan kami. Mudah-mudahan bulan depan bisa ketemu ya Yang!

Awalnya suami tidak mau ikut. Tapi entah kenapa saat makan siang tiba-tiba dia mengutarakan keinginannya untuk ikut. Ya tentu saja saya senang. Sekalian rame-rame. Rencananya saya akan berangkat naik bis. Tetapi karena dia ingin ikut, maka akhirnya kami naik sepeda. Jarak Science Centre dari rumah kami tidak terlalu jauh, hanya 20 menit jika naik sepeda. Jam 3 sore kami sudah tiba di sana. Tahu tidak, saya itu selalu berdebar-debar kalau melihat tulisan TU Delft dan ketika berada dalam area kampus ini. Maklum ya, memang sudah impian dan cita-cita saya sejak dahulu kala bisa kuliah di tempat ini. Jadi jangan bosan-bosan ketika membaca tulisan saya yang selalu mengungkapkan bahwa TU Delft adalah kampus impian. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa kuliah di sini. Kalau tidak sampai PhD seperti Maureen, ya paling tidak bisa mencicipi program masternya.

Ruang depan Science Centre TU Delft
Ruang depan Science Centre TU Delft
Ruang tunggu. Berasa anak kuliahan lagi nongkrong sewaktu duduk di sini *ngayal jangan nanggung2
Ruang tunggu. Berasa anak kuliahan lagi nongkrong sewaktu duduk di sini *ngayal jangan nanggung2

Masuk ruang tunggunya saja langsung berasa sekali aura tekniknya. Jadi Science centre ini memang museum yang ditujukan untuk dikunjungi oleh anak-anak. Tiga tema dari tempat ini adalah Sains, Desain, dan Teknik. Science centre merupakan tempat semua alat atau bahan penelitian yang sudah dan sedang dilakukan oleh TU Delft. Jadi kita bisa menikmati hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh mahasiswa maupun para peneliti. Tiket masuknya jika mempunyai museumkaart, gratis. Jika tidak mempunyai, untuk anak berumur dibawah 7 tahun gratis, umur 7-17 tahun harga tiketnya €4, diatas 18 tahun €7, dan untuk seluruh keluarga maksimal 4 orang €17.5.  Tentang Science centre, lebih lengkapnya bisa dibaca di sini.

Tertera di keterangan, ini permainannya agak rumit. Minimal butuh waktu 20 menit. Kata Maureen "duh, hidup sehari2 sudah serus masa iya main pun musti serius. Pening"
Tertera di keterangan, ini permainannya agak rumit. Minimal butuh waktu 20 menit. Kata Maureen “duh, hidup sehari2 sudah serius masa iya main pun musti serius. Pening”
Disetiap ruangannya, enath di lantai, tembok ataupun langit-langitnya selalu bertebaran rumus-rumus. Mengingatkan saya akan masa lalu yang tertimbun rumus-rumus
Disetiap ruangannya, entah di lantai, tembok ataupun langit-langitnya selalu bertebaran rumus-rumus. Mengingatkan saya akan masa lalu yang tertimbun rumus-rumus

Beberapa alat peraganya bisa dimainkan. Misalkan main simulasi mobil atau bola yang jatuh dari langit-langit atau simulasi angin. Di beberapa ruangan juga banyak yang bisa dicoba untuk dimainkan.

Ini ruangan utamanya
Ini ruangan utamanya
Ruangan utama
Ruangan utama
Sampai langit-langit pun ada rumusnya
Sampai langit-langit pun ada rumusnya

Kalau ke sini bukan hanya bisa berkeliling di ruangan-ruangannya saja, tapi juga bisa mengikuti workshop yang diadakan dengan jadwal yang ada pada websitenya. Selain itu, jika ada yang ingin merayakan ulangtahun, juga bisa jauh hari menghubungi pihak Science centre sehingga acara ulangtahunnya bisa dirayakan di tempat ini. Kalau ingin mengikuti tour, bisa juga. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di sini. Oh iya, di halaman belakang, ada taman bermain juga. Sayang saya tidak bisa mengambil foto karena banyak anak yang sedang bermain di sini.

Tak terasa satu jam lebih kami berasa di sini. Senang rasanya berkeliling, melihat dan menjajal alat peraga yang ada. Saya dan Maureen juga sempat berbincang di taman belakang. Meskipun sak nyuk an ketemu tapi obrolan kami mendalam. Senang juga bisa berbagi cerita dengan Stan. Anak pintar dan supel. Stan ini bisa berbicara 4 bahasa lho. Jepang, Inggris, Belanda, dan Indonesia tentu saja. Jawa juga kalau mau dimasukkan. Sehat selalu ya Stan!

Kami lalu melanjutkan perjalanan ke Pusat Delft. Kalau hari sabtu ada pasar, jadi seru bisa berkeliling sambil melihat-lihat pasar. Tidak berapa lama karena haus, akhirnya kami nongkrong.

Camilan nongkrong kami. Saya di mana-mana memang selalu pesannya susu coklat haha *sebelum ada yang nanya
Camilan nongkrong kami. Saya di mana-mana memang selalu pesannya susu coklat haha *sebelum ada yang nanya

Itu yang dipiring adalah Tortilla disiram keju dan saus tomat ditambahi Jalapeno. Terus terang saya tidak terlalu suka. Jadi saya makan sedikit saja. Andaikan bisa makan bakso ya *yak ngayal episode kesekian pun dimulai.

Setelah sekitar 30 menit menikmati sisa sore, kami memutuskan pulang tapi mampir dulu ke toko buku. Sempat ketemu lagi dengan Maureen dan Stan yang sedang berjemur di depan Gereja sambil makan kentang goreng. Tot volgende keer Maureen en Stan!

Kesan saya tentang Science centre, seru! Tapi kata suami, biasa saja. Ya beda selera. Yang penting ada yang senang bisa menikmati dan bersenang-senang di sana.

Saat menulis ini, di luar matahari sedang gonjreng dan langitpun biru menawan. Kami sedang bersiap jalan-jalan ke danau.

-Nootdorp, 3 Oktober 2018-

 

Pekan Terhangat di Musim Semi

Menuju danau Dobbeplass

Terhitung sejak hari selasa minggu lalu sampai saat saya menulis ini (hari senin) cuaca di Belanda secara keseluruhan menghangat dan cenderung panas, kecuali hari ini cuma gonjreng tapi hawanya semilir sejuk. Minggu lalu benar-benar hari ternyaman untuk saya, karena untuk suami katanya terlalu panas. Suhu setiap hari rata-rata bisa diatas 25 derajat celcius. Malah ada satu hari suhunya sampai 30 derajat celcius.

Karena keadaan seperti ini sangatlah jarang, apalagi di musim semi, maka mendadak saya jadi petakilan. Saya tidak betah di rumah, mendadak males masak, maunya ke luar rumah terus selama cuaca nyentrong seperti ini. Suasana hati mendadak gembira sekali. Senyum sepanjang hari. Riang gembira lah pokoknya. Ke luar rumah juga jadi lebih mudah. Cuma pakai sandal dan baju selapis. Merdeka banget rasanya. Saya inginnya kalau pagi sampai siang cuma leyeh-leyeh di halaman belakang. Rajin berbenah halaman depan dan belakang. Pokoknya halaman depan dan belakang mendadak jadi agak rapi (walaupun yang bagian depan tidak terlalu rapi sekali). Tahun ini saya tidak menanam apapun. Hanya mengandalkan tanaman-tanaman yang sudah ada. Semoga tahun depan bisa kembali bercocok tanam.

Kalau menjelang sore, kami seperti gasing jalan jalan ke sana sini. Dari jelajah taman sampai jelajah danau. Kenapa tidak ke pantai? karena membayangkan banyak orang di pantai saya sudah pusing duluan (ya kalau mau sepi, di kuburan Den!). Saya sampai bilang ke suami bahwa sejak tinggal di Belanda, saya jadi lebih menghargai yang namanya cuaca hangat (dan panas). Padahal kalau di Indonesia, marah-marah terus saya kalau cuaca panas. Ya tapi kan beda situasi, kalau di Belanda jarang cuaca panas karenanya lebih banyak bersyukur kalau panas datang.

Westbroekpark
Westbroekpark
Westbroekpark
Westbroekpark
Westbroekpark
Westbroekpark
Westbroekpark
Westbroekpark

Kalau di taman, kami beneran tidur di rumput-rumputnya melihat langit dan berjemur. Duh beneran nikmat sekali. Apalagi anginnya semilir ya, bikin ngantuk. Kalau tidak ingat punya tanggungan di rumah, saya bisa seharian di taman tiduran sambil baca buku.

Menuju danau Dobbeplass
Menuju danau Dobbeplass

Ada danau dekat rumah. Jalan kaki hanya 15 menit saja. Sewaktu kami ke sana, waduh ramainya tidak karuan. Semua berenang. Mau ambil foto saja sampai tidak bisa karena semua sudut ada orang pakai baju renang. Kan melanggar privasi kalau saya mengambil foto. kami duduk-duduk di bawah pohon, sesekali main pasir juga. Nah, beberapa hari setelahnya, kami ke danau ke kota sebelah di Zoetermeer. Ini danaunya lebih besar dari yang dekat rumah. Tapi ramainya juga tidak karuan. Sewaktu kami pertama sampai, saya mencium harum sate. Langsung dong ya saya mencari sumber harum sate itu, ternyata ada keluarga yang sedang memanggang sate dan panggangannya sama seperti panggangan di Indonesia. Langsung membayangkan makan sate pakai lontong trus minumnya es degan *halusinasi sesekali.

Kalau cuaca panas seperti ini saya memang seringnya membayangkan tukanhg jual makanan gerobak. Andaikan ada gerobak bakso, gorengan, dan es degan, sempurna sekali di pinggir danau makan semangkuk bakso pedas dan minum es degan *ngayal teruuusss!

Zoetermeer
Zoetermeer
Zoetermeer
Zoetermeer
Leyeh leyeh pinggir danau
Leyeh leyeh pinggir danau

Saking petakilannya, saya sampai tiba-tiba terpikir untuk ke pasar. Terakhir ke pasar Haagse, 3 bulan lalu sewaktu Ibu ada di sini. Ke pasar kali ini juga dipicu oleh suami yang belakangan ini mengeluh karena stok sambal habis. Setiap mau makan atau buka kulkas, dia selalu komentar “Sambelnya habis lho” “Kamu ga bikin sambal nih?” “Kok ada yang kurang ya makan tanpa sambal” “Kamu ada rencana bikin sambal kapan.” —-Saya merasa terteror dengan urusan sambal ini. Akhirnya demi mendapatkan cabe merah dengan harga murah, ke pasarlah kami naik tram, suami sih tidak ikut karena dia sedang belajar untuk ujian. Eh ternyata di pasar cabe rawit merah sedang langka. Di beberapa stan langganan tidak jualan karena katanya sedang mahal sekali. Untung saja mata saya melihat ada cabe rawit nyelip di jual di stan lainnya. Langsung saya borong semua. Selain untuk beli cabe, saya juga ingin beli ikan segar. Rencananya akan saya buat pepes. Selain itu saya juga cari buah naga, biasanya di pasar ada dengan harga murah. Eh, saya cari sampai teliti ternyata tidak ada.

Saking lamanya saya tidak ke pasar, beberapa langganan yang memang sudah hapal dengan saya sampai bertanya, “lama tidak ke pasar, stok cabe aman ya?” Hahahaha, maklum, saya kalau beli cabe sampai berkilo-kilo. Bukan buat diri sendiri saja, tapi titipan dari beberapa teman. Makanya sampai dihapalin oleh si pemilik stan. Belum lagi satu-satunya stan yang jual belimbing wuluh, pemiliknya sewaktu saya mau beli belimbing wuluh bilang, “setiap ada belimbing wuluh segar, saya selalu mbatin kamu lho. Kok lama tidak ke pasar.” ya beginilah kegiatan di pasar, selalu menyenangkan karena bertemu dengan banyak orang dan bisa sekalian cuci mata.

Langsung lahap makan pakai ikan beli di pasar meskipun menunya ga nyambung :)))
Langsung lahap makan pakai ikan beli di pasar meskipun menunya ga nyambung :)))
Sepanjang minggu bisa makan di halaman belakang. Ini makan pakai ayam panggang dan sisa bumbunya dipakai untuk masak Mie goreng
Sepanjang minggu bisa makan di halaman belakang. Ini makan pakai ayam panggang dan sisa bumbunya dipakai untuk masak Mie goreng

Hari Senin saya diawali dengan membuat stok sambal. Begitu melihat saya membuat sambal, sumringah lah muka suami. Berasa dapat lotere haha!

Sambel untuk suami
Sambel untuk suami

Bagaimana hari Senin kalian? Semoga awal minggu kalian juga menyenangkan yaaa. Minggu ini suhu di Belanda kembali pada angka belasan dan konon katanya beberapa hari kedepan akan turun hujan. Saatnya produktif lagi di rumah

-Nootdorp, 23 April 2018-

Hubungan Antara Saya, Sejarah, dan Museum

Saya tidak ingat kapan pertama kali mengenal museum. Mungkin saat kami sekeluarga jalan-jalan ke Jakarta sewaktu saya masih kecil (sekitar umur 7 tahun kayaknya). Bapak dan ibu sering mengajak anak-anaknya jalan-jalan ke Jakarta karena memang banyak keluarga Ibu yang tinggal di sana. Beberapa museum yang kami kunjungi waktu itu ya seputar museum yang di Monas, Lubang Buaya (ini museum kan ya), beberapa museum yang ada di TMII (termasuk museumnya Ibu Tien). Seingat saya hanya itu. Ingatan saya tentang museum yang dikunjungi waktu kecil tidak terlalu bagus. Membosankan, menakutkan, dan membuat saya sedih. Apalagi waktu ke Lubang Buaya, entah kenapa saya selalu ketakutan sekaligus sedih ketika di sana, tapi ya entah kenapa juga tetap berkali-kali mau diajak ke sana lagi. Nah, karena pengalaman masa kecil yang tidak terlalu bagus dengan museum, akhirnya saya tumbuh menjadi orang yang tidak suka kalau ada yang mengajak ke museum. Saya takut terbawa sedih karena saya memang mikiran orangnya. Ditambah lagi, minat saya terhadap sejarah juga tidak terlalu tinggi. Saya sudah terlanjur setia dengan angka-angka. Meskipun saya tidak terlalu suka pelajaran sejarah, tapi nilai-nilai saya pada mata pelajaran sejarah lebih tinggi dibandingkan fisika *misteri yang tak terpecahkan.

Itu cerita dulu, sebelum saya mengenal suami. Awal kenal dia dan tahu latar belakang pendidikannya adalah sejarah serta memang passionnya di sejarah (juga musik), sempat terpikir juga ini nanti kami nyambung apa tidak ya ngobrolnya karena saya kalau sudah diajak ngobrol tentang sejarah ciut duluan. Pengetahuan saya tentang sejarah sangatlah minim, bahkan sejarah bangsa sendiri. Masing-masing orang memang minatnya berbeda-beda ya dan saya tidak memaksakan diri untuk menyukai sesuatu yang memang datangnya tidak dari hati. Saya berpikir nanti akan ada saatnya saya akan tertarik minimal membaca sesuatu yang berhubungan dengan sejarah. Nah, suami suka sekali yang namanya berkunjung ke museum. Dia selalu berbinar-binar kalau sudah berada di museum, anteng sampai lupa waktu. Awal-awal, saya tersiksa menemani dia berkunjung dari satu museum ke museum lainnya.

Ketika pertama kali ke Surabaya, dia bertanya museum apa yang bisa dikunjungi. Dia agak terkejut ketika saya bilang tidak pernah berkunjung ke museum sama sekali selama belasan tahun numpang hidup di Surabaya. Dan baru dengan dia lah saya masuk ke House of Sampoerna (padahal dulu pernah kerja di perusahaan rokok ini) dan museum Sepuluh Nopember. Ketika pertama kali saya berkunjung ke Belanda, dia ajak saya berkunjung dari satu museum ke museum yang lain, dari Rijksmuseum, Anne Frank House, dua museum lainnya saya lupa namanya. Diantara beberapa museum tersebut, Anne Frank House yang membuat saya sampai menangis. Dan setelahnya saya jadi tertarik dengan sejarah yang berhubungan dengan Nazi. Apalagi setelah mengunjungi Camp Westerbork, kepala saya langsung pusing membaca cerita dan melihat camp transit pada saat Nazi ada di Belanda, membayangkan bagaimana keadaan jaman dulu bersempit2-sempitan dengan banyak orang di satu ruangan kecil dan perlakuan yang mereka dapatkan.

Setelah menikah, selama 6 minggu kami melakukan perjalanan dari Bali sampai Bandung dengan menggunakan segala macam alat transportasi, seperti kereta api ekonomi, bis ekonomi, kapal laut, kereta api eksekutif, sampai pesawat terbang. Selama perjalanan tersebut, tentu saja suami ingin berkunjung ke museum di setiap kota, jika memungkinkan. Dari lebih 10 museum yang kami kunjungi, yang paling berkesan buat saya adalah Ullen Sentalu di Jogjakarta dan Museum Gajah di Jakarta. Kalau di Ullen Sentalu karena perjalanan menuju kesananya yang berkesan harus berganti beberapa kali bis dan pulangnya sudah tidak ada kendaraan lagi sehingga kami harus menumpang sepeda motor orang. Ullen Sentalu sendiri meninggalkan kesan mendalam karena cerita silsilah Dinasti Mataram, budaya, dan koleksi bermacam batik (serta makna masing-masing coraknya) juga lukisan. Karena terkesan dengan kisah yang disampaikan oleh pemandunya, sampai tidak terasa kalau berkeliling Ullen Sentalu sudah berakhir. Tidak boleh berfoto di dalamnya karena menyangkut koleksi pribadi. Sedangkan Museum Gajah yang ada di Jakarta baru saya kunjungi ya setelah menikah dengan suami, padahal selama 6 tahun lebih tinggal di Jakarta dan sering wira wiri depan Museum Gajah, tidak satupun tergerak hati untuk masuk ke dalam. Ternyata di dalam, bagus sekali isinya terdiri dari benda-benda kuno dari seluruh Nusantara beserta sejarahnya. Saya membaca satu persatu dan amati satu persatu benda-benda yang ada di sana. Hampir seharian kami berkeliling Museum Gajah. Saya jadi belajar banyak hal.

Ullen Sentalu. Cuma di sini yang diperkenankan foto
Ullen Sentalu. Cuma di sini yang diperkenankan foto

Nah, mempunyai blog ini dan beberapa kali menuliskan tentang cerita perjalanan kami setelah liburan, mau tidak mau membuat saya juga harus sedikit melek sejarah. Sebelum bepergian, saya banyak mencari tahu tentang tempat-tempat yang akan kami kunjungi. Minimal tahu ceritanya ini tempat apa. Dan ketika akan menuliskan cerita tersebut dalam blog, sebelumnya saya juga melengkapi informasi supaya apa yang saya tuliskan ada nilainya, minimal membuat saya banyak belajar tentang tempat-tempat tersebut. Padahal dulu tidak sedalam itu saya menggali informasi karena memang dulu setelah bepergian, ada fotonya, selesai. Tidak ada keinginan untuk mencari tahu lebih dalam tempat itu. Entah kenapa sekarang saya lebih ingin tahu. Secara tidak langsung, keinginan untuk belajar sejarah dan masuk museum memang tertular dari suami. Bagaimana tidak, di ruangan perpustakaan kecil kami di rumah, buku-buku sejarah punya suami lebih mendominasi daripada buku-buku saya. Akhirnya saya jadi penasaran dan mencoba membaca meskipun tidak pernah sampai tuntas.

Kalau tahun kemarin saya disibukkan dengan persiapan ujian bahasa Belanda sehingga perhatian saya seluruhnya tercurah untuk belajar bahasa Belanda, sehingga intensitas kami ke museum juga berkurang dibandingkan tahun 2016, mungkin sekitar 15 museum (total dengan yang kami kunjungi ketika ke Italia dan Perancis). Saya juga minta ke suami untuk berkunjung ke museum tentang lukisan saja karena saya lebih tertarik ke lukisan. Kami pernah ke Bronbeek Museum yang ada di Arnhem, pulangnya kepala saya jadi nyut-nyutan karena memang isinya sarat tentang sejarah, jadi banyak informasi yang harus dibaca. Saya jadi puyeng sendiri sekaligus sedih setelah keluar dari sana. Kembali lagi, saya itu suka mikir kalau ke museum yang isinya sarat tentang sejarah, jadi mikir jaman dahulu seperti apa. Makanya saya lebih senang ke museum yang isinya tentang lukisan atau kalau misalkan yang murni sejarah saya tertarik yang ada hubungannya dengan Nazi meskipun ujungnya tetap sedih.

Nah, tahun ini saya ingin belajar sesuatu yang baru. Awalnya saya sudah mempersiapkan diri untuk kuliah lagi di jurusan dan universitas yang sudah saya incar sejak bertahun-tahun lalu. Tapi karena satu hal, untuk sementara kembali ke bangku kuliah di tahun ini bukan pilihan tepat. Nanti kalau waktunya sudah memungkinkan, kembali kuliah akan kembali menjadi prioritas. Akhirnya saya mencanangkan, 2017 sebagai tahun museum karena saya ingin mengunjungi sebanyak mungkin museum yang ada dan sebanyak mungkin untuk belajar sejarah. Saya suka terkagum dengan anak-anak kecil di sini yang sudah diajarkan untuk suka museum sejak dini. Jadi bersemangat juga selain karena memang museum-museum yang ada di sini itu asyik sekali tempatnya, bersih dan terawat. Nyamanlah pokoknya, jadi saya ingin memanfaatkan semaksimal mungkin. Nah, untuk memecut diri sendiri supaya semangat, saya membeli museumkaart seharga €59.90 yang bisa dipakai selama setahun di lebih 400 museum yang ada di Belanda. Tinggal pilih saja mana museum yang akan dikunjungi. Bayangkan betapa hematnya saya punya kartu tersebut bisa dipakai setahun padahal kalau beli ketengan masuk museum di sini rata-rata harganya €10 per museum. Selain museum, saya juga ingin mendatangi tempat-tempat bersejarah sekitar Den Haag minimal, seperti Het Binnenhof dan De Ridderzaal (tempat diadakan Konferensi Meja Bundar) atau tempat-tempat lainnya.

Minggu kemarin, saya dan suami memanfaatkan fasilitas gratis masuk museum yang diadakan oleh Gemeentemuseum tempat diadakan pameran karya-karya Piet Mondriaan dan kawan-kawannya yang mempelopori De Stijl. Saya yang selama ini cuma mengerti sepintas warna warni lukisan Mondriaan tapi tidak ngeh sejarah dibaliknya, setelah kunjungan ke museum minggu lalu, jadi sedikit banyak mengerti sejarah De Stijl. Itupun harus dijelaskan berkali-kali oleh suami supaya saya mengerti benang merahnya (memang agak lama otak saya memproses cerita sejarah, harus diulang-ulang).

Salah satu lukisan Piet Mondriaan yang terkenal, yang terakhir dan belum sepenuhnya selesai yaitu Victory Boogie Woogie
Salah satu lukisan Piet Mondriaan yang terkenal, yang terakhir dan belum sepenuhnya selesai yaitu Victory Boogie Woogie

Lalu hari Senin saya ikut tour masuk ke dalam De Ridderzaal yang sampai saat ini masih difungsikan sebagai tempat berlangsungnya acara kenegaraan seperti Prinsjesdag (Hari saat Raja membacakan kebijakan pemerintah untuk kerja parlemen setahun ke depan) dan pernah dijadikan tempat pelaksanakan Konferensi Meja Bundar. Ada rasa haru waktu masuk ke dalam dan diterangkan satu persatu sejarah dan fungsi tempat ini oleh pemandunya. Haru karena bisa melihat secara dekat dalamnya yang selama ini hanya bisa dilihat di TV, sejarah bangunan ini, dan membayangkan dulu di tempat ini dilaksanakan KMB. Tour juga mengunjung ruangan Eerste Kamer (Senat) dan Tweede Kamer (Parlemen). Sewaktu ke gedung Tweede Kamer tidak diperkenankan membawa Hp atau Kamera karena semua barang harus disimpan di dalam loker. Masuknya pun diperiksa secara ketat harus lepas sepatu segala. Pengalaman hari Senin sangatlah menyenangkan karena saya bisa melihat secara dekat gedung yang sering saya lewati dan dalamnya selama ini saya lihat dari TV, mengerti sejarahnya, dan juga diperlihatkan cara kerja parlemen.

De Ridderzaal
De Ridderzaal

Ruangan Senat (De Eerste Kamer)
Ruangan Senat (De Eerste Kamer)

Mudah-mudahan niat baik dan keinginan saya untuk belajar sejarah mulai tahun ini dan berkunjung ke banyak museum tidak hanya hangat di depan tetapi konsisten minimal sepanjang tahun. Meskipun saya akan mengunjungi museum sendirian tanpa ditemani suami (karena dia sudah masuk ke banyak museum di Belanda *ya iya, lha dia sudah mulai ke museum sejak kecil), tapi saya tetap semangat. Selama saya masih memungkinkan untuk melakukan aktivitas tersebut, maka saya akan maksimal melakukannya karena ternyata menyenangkan. Mungkin nanti ada saatnya rehat sebentar, tapi minimal sudah ada keinginan dalam diri untuk belajar sejarah.

Kalau kamu, ada cerita tentang museum atau sejarah?

-Nootdorp, 14 Februari 2017-

Dobbeloop – 10 KM

Kategori anak-anak yang lebih besar sedang bersiap

Hari minggu pagi (jam 11) kami kembali ikut race lari 10 km. Ini lomba lokal yang diikuti oleh mereka yang tinggal di sekitar Nootdorp. Lokasi lomba di seputaran hutan dan danau Dobbeplaas, karenanya lomba ini dinamakan Dobbeloop. Acara ini diadakan setiap bulan. Jaraknya terbagi : 750m untuk anak-anak kecil, 1.5km untuk anak-anak yang lebih besar, dan 3.2-5-10-15km untuk usia dewasa. Karena peserta dari segala usia, maka acara ini banyak peminatnya. Saya tidak mengira kalau pesertanya akan banyak. Ditambah lagi hari minggu ini memang cuaca sangat bersahabat. Meskipun memang dingin – suhu 5 derajat celcius – (sewaktu bersepeda menuju tempat lomba, padahal saya dan suami sudah berjaket tebal, tetep saja rasanya dingin kayak masuk freezer, tangan saya sampai kebas karena lupa bawa sarung tangan), matahari bersinar cerah sepanjang hari.

Start di sini. Cerah ya, tapi 5 derajat celcius.
Start di sini. Cerah ya, tapi 5 derajat celcius.

Saat kami sampai di tempat acara, ternyata untuk kategori anak-anak baru saja selesai. Senang sekali melihat anak-anak usia sekitar 3 sampai 5 tahun lari-lari kecil bersama orangtuanya. Iya benar, usia 3 tahun sudah ikut bersenang-senang lari bersama orangtuanya. Mereka terlihat senang sekali, seperti bermain mungkin ya rasanya. Saya sampai ikut gemes dengan balita-balita ini. Untuk kategori 750m, saya perhatikan tidak saja diikuti oleh anak-anak kecil tapi mereka yang berkebutuhan khusus juga, dengan pendampingan tentunya.

Kategori anak-anak yang lebih besar sedang bersiap
Kategori anak-anak yang lebih besar sedang bersiap
Peserta kategori anak-anak
Peserta kategori anak-anak. Kecil-kecil begini larinya melesat cepat.

Setelah kategori anak-anak kecil, selanjutnya untuk anak-anak yang lebih besar bersiap berangkat. Kira-kira yang ikut usia 6 sampai 9 tahunan. Meskipun usia masih kecil, tapi mereka larinya cepat sekali. Saya sampai melongo melihat bagaimana mereka berlari sangat kencang dan ada yang memakai teknik berlari juga. Jarak 1.5 km ditempuh sangat cepat. Sebelum 10 menit (bahkan ada yang baru 7 menit), banyak yang sudah sampai finish. Saya sampai senyum-senyum sama suami karena untuk jarak 1.5 km saya membutuhkan waktu lebih dari 10 menit. Senang sekali melihat semangat berolahraga anak-anak ini, didukung oleh orangtua mereka yang juga ikut lari untuk kategori yang berbeda.

Kategori dewasa sedang menunggu giliran berangkat
Kategori dewasa sedang menunggu giliran berangkat

Selanjutnya kategori terakhir yang bersiap. Suami memberi semangat dengan mengatakan kalau kali ini pasti waktu saya lebih baik dari 10 km bulan kemarin di Rottermerenloop bahkan CPC Loop tahun kemarin. Saya juga merasa yakin, setidaknya jika dilihat dari cuaca yang cerah dan tempatnya yang tidak asing karena saya dan suami sering lari di area ini. Seperti biasa setelah start, suami melesat sedangkan saya dengan ritme lari seperti biasanya. Sampai di km ke 4, saya belum yang paling belakang karena ketika belokan dan saya sempat menoleh, masih ada beberapa orang di belakang. Ternyata dari beberapa orang tersebut, mengikuti untuk kategori 5km. Dan sisanya menyusul saya bahkan setelahnya lari jauh di depan. Akhirnya saya menjadi yang paling belakang lagi. Tetapi saya tidak khawatir karena pasti “ditemani” oleh mereka yang 15 km. Dan benar saja, sekitar km ke 7, beberapa yang  kategori 15 km sudah menyalip saya. Saya sampai senyum-senyum sendiri, karena saking santainya saya lari, sampai terkejar oleh mereka yang 15km. Dan beberapa meter sebelum sampai finish, suami sudah menunggu lalu dia menemani saya berlari beriringan menuju finish (dia hanya menemani saja, karena sudah selesai duluan). Waktu tempuh Mas Ewald untuk 10km : 47 menit, sedangkan saya untuk 10 km : 1 jam 20 menit. Waktu ini 5 menit lebih cepat dibandingkan bulan kemarin. Suami bilang kalau waktu dia kali ini adalah catatan tercepat selama mengikuti race 10 km. Saya bilang ke dia kalau saat 47 menit itu, mungkin saya masih di km ke 6. Karena sewaktu saya di km ke 5, waktu menunjukkan 36 menit. Sedangkan mereka yang ikut 15km ada yang sampai finish sebelum 1 jam. Terbayang ya bagaimana cepatnya orang Belanda ini kalau lari. Tapi tetap, yang dari Kenya lebih cepat untuk urusan lari.

Inilah kami setelah lomba. Sebelah kir atas itu jalan yang dilalui.
Inilah kami setelah lomba. Sebelah kiri atas itu jalan yang dilalui. Saking dinginnya, setelah sampai finish suami kembali berjaket.

Cuaca yang sangat bagus hari ini benar-benar sangat sempurna dan mendukung saya untuk tidak berhenti sekalipun sepanjang 10km. Pemandangan sepanjang 10km tersebut adalah hutan, padang rumput, sapi yang sedang merumput dan danau. Benar-benat tidak membosankan. Oh iya, kali ini saya tetap menjadi yang terakhir sampai finish untuk 10km, tetapi di belakang saya masih ada beberapa orang untuk kategori 15km. Namanya juga lari santai, jadinya waktu tempuh segitu sudah bagus. Mudah-mudahan race berikutnya bisa lebih cepat lagi sampai finish.

Bagaimana dengan cerita akhir pekan kalian?

-Den Haag, 23 Oktober 2016-

Rottemerenloop 2016 – 10KM

Pecah telur juga tahun ini bisa ikutan lomba lari. Setelah dari awal tahun ada saja halangan mau ikut race ini dan itu tapi terhalang satu dan lain hal. Sudah daftar jauh-jauh hari eh ternyata dekat hari H tidak bisa. Hangus jadinya uang pendaftaran. Beruntung yang kali ini tidak gagal lagi, meskipun 2 jam sebelum pelaksaan lomba nyaris gagal lagi karena hujan deras.

Jadi hari minggu 2 Oktober 2016, saya dan Mas Ewald ikut lomba lari 10 Km di Rotterdam. Nama lombanya adalah Rottermerenloop. Ada tiga kategori yaitu 1.5 km untuk anak-anak, 10 km dan half marathon (21.1 km). Dua kategori terakhir untuk dewasa. Biasanya Mas Ewald ikut yang kategori 21.1 km kalau ada lomba lari. Tapi kali ini dia ingin ikut yang 10 km. Akhirnya bisa satu kategori sama suami setelah dua kali lomba lari bersama, kami selalu beda (Pertama waktu Bromo Marathon dan kedua waktu CPC Loop di Den Haag). Niatnya sih tahun ini saya bisa pecah telur naik kelas ke 21.1 km. Apa daya selain halangannya ada saja, latihan juga masih kurang maksimal, ditambah kurang nekat. Mudah-mudahan tahun depan bisa.

Ikut lomba yang pagi inipun sebenarnya dadakan. Daftarnya baru seminggu lalu. Rencananya kami justru akan ikut lomba yang akhir Oktober 2016. Ternyata ada yang lebih dulu meskipun tempatnya agak jauh, akhirnya kamipun sepakat ikut. Hitung-hitung sebagai pemanasan karena sudah lama tidak ikut lomba. Nah, pagi tadi hujan pun turun. Kami ragu-ragu berangkat atau tidak ke lomba. Kalau dilihat dari prakiraan cuaca, ada saat-saat yang tidak hujan meskipun secara keseluruhan sepanjang hari akan turun hujan. Tapi menjelang jam 10, matahari bersinar terang. Akhirnya kami putuskan berangkat saja, toh kami bawa jaket yang anti air. Jadi kalau hujan tinggal jaketnya dipakai.

Para peserta 10km
Para peserta 10km

Ternyata waktu jam 11 mataharinya bersinar terang meskipun hawanya tetap dingin. Wah, syukurlah jadi bisa lari tanpa khawatir hujan. Saya lupa kalau ini Belanda, artinya 4 musim bisa terjadi dalam satu hari. Pada saat menjelang km ke 7, saya melihat dari kejauhan mendungnya tebal. Benar saja, saat memasuki km ke 7, hujan deras langsung mengguyur dan angin kencang tiba-tiba datang. Saya yang sejak start sampai km ke 7 terus lari, tiba-tiba langsung berhenti tidak kuat kena angin kencang dan hujan deras. Saya berjalan sampai saya melihat peserta HM (Half Marathon = 21.1 km) melintas, akhirnya saya ikutan lari lagi sampai finish. Hujannya deras sejak km ke 7 sampai km ke 9. Jadi selama 2km saya menguatkan diri lari ditemani hujan deras dan angin kencang.

Ditengah lari, mendungnya tebal sekali. Ini moto sambil lari, makanya miring. Setelah moto ditegur panitia, katanya ga usah moto, nanti lambat larinya. Lah lari memang sudah lambat dari sananya :D
Ditengah lari, mendungnya tebal sekali. Ini moto sambil lari, makanya miring. Setelah moto ditegur panitia, katanya ga usah moto, nanti lambat larinya. Lah lari memang sudah lambat dari sananya 😀

Lomba kali ini sangat istimewa untuk saya karena saya menjadi peserta terakhir yang sampai finish. Saya memang tidak bisa cepat kalau lari, meskipun untuk 10 km saya pasti lari terus tanpa berhenti (kalau pas tidak hujan). Mungkin kalau dilatih bisa untuk sedikit cepat, tapi saya saja yang memang agak bebal selalu beralasan kalau suami berencana melatih lari dengan metode interval. Kalau dua lomba sebelumnya saya boleh jumawa karena tidak menjadi peserta terakhir yang sampai finish, karena dua lomba sebelumnya pesertanya jauh lebih banyak dan lebih beragam dibanding yang kali ini. Nah tadi pagi pesertanya orang Belanda semua, mereka kan tingginya menjulang (alasan :p), jadi pasrah sejak awal kalau akan lambat sampai finish. Buat saya, 2km awal dan 2km akhir itu adalah jarak kritis. Jadi harus pintar-pintar mengatur strategi nafas dan ritme kaki.

Begitu sampai finish, semua bersorak sambil menyebut nama saya. Sementara saya senyum-senyum simpul haha! Makanya saya menyebut lomba kali ini istimewa, karena punya pengalaman jadi peserta terakhir yang sampai finish. Ah tak mengapa, yang penting sampai juga dengan keadaan sehat karena ada dua peserta ditengah-tengah jarak tidak melanjutkan, karena kakinya kram. Jadi suami catatan waktunya 49 menit, sementara saya 1 jam 25 menit. Catatan waktu saya lebih lama dibanding yang tahun lalu. Sampai finish saya lalu minum dua gelas dan makan jeruk. Saking laparnya saya sampai nambah berkali-kali jeruk yang disediakan panitia. Setiap peserta diberi Flash Disk ketika sampai finish, sebagai kenang-kenangan.

Finisher 10 Km
10 Km Finisher

Saya suka baca buku di bawah ini, bercerita kisah orang orang yang tergerak untuk lari dengan tempo masing-masing sesuai kemampuan. Mengingatkan akan tempo saya sendiri.


Jadi itulah pengalaman lomba lari hari ini. Menyenangkan karena banyak kejadian yang bisa membuat senyum-senyum sendiri kalau diingat.
Cerita Akhir Pekan

Numpang sedikit tentang cerita akhir pekan selain lomba lari. Jadi hari sabtu, saya tiba-tiba kepengen klepon (lagi). Akhirnya saya buat klepon dalam porsi banyak karena untuk dikasih ke Mertua juga. Selain buat klepon, saya juga buat serundeng untuk persediaan. Lumayan bisa jadi teman makan atau ditabur pas makan salad. Saya kasih juga Serundeng ke Mama mertua karena Beliau suka sekali dengan Serundeng dan Klepon

Klepon
Klepon
Serundeng
Serundeng

Lalu makan siang kami, saya masak yang cepat saja. Tumis kangkung dan tempe penyet. Kami berdua suka sekali sambel penyet tempe. Tempenya dipanggang soalnya males goreng-goreng. Saking malesnya saya dengan goreng-goreng, minyal 1L selama 4 bulan masih ada separuh botol.

Penyetan tempe, tumis kangkung plus pete, serundeng, dan quinoa
Penyetan tempe, tumis kangkung plus pete, serundeng, dan quinoa

Pulang dari rumah Mama, kami mampir sepedahan di hutan dan tiduran sebentar di pinggir danau mumpung cuaca cerah dan matahari bersinar meskipun dingin. Anggap saja sedang menabung vitamin D.

Tidur pinggir danau.
Tidur pinggir danau.


Begitulah cerita akhir pekan kami. Minggu depan dari ramalan cuaca mengatakan kalau matahari bersinar sepanjang minggu. Yiayy!

Bagaimana cerita akhir pekan kalian? Semoga juga menyenangkan. Selamat hari Senin, selamat mengawali minggu dengan keceriaan. Semoga sepanjang minggu keberkahan selalu menyertai kita semua.

-Den Haag, 2 Oktober 2016-

Cerita Akhir Pekan – Kembali ke Dapur

Raw vegan cake. Tanpa gula, tanpa di oven, tanpa telur, dan gluten free.

Sudah lama ya rasanya tidak bercerita tentang kegiatan akhir pekan, kangen juga menuliskan di blog ini. Maklum, akhir pekan kami akhir-akhir ini selalu saja ada kegiatan yang menyita waktu, begitu minggu malam, rasanya ingin leyeh-leyeh saja. Setelah kami road trip ke Italia, minggu lalu saya pergi sendiri ke Berlin untuk kopdaran dengan beberapa blogger yang tinggal di Jerman (Beth, Mia, Mindy), Austria (Mbak Dian), dan Edinburgh (Anggi). Jadi ini semacam girls trip. Kami meninggalkan sejenak para suami di rumah. Cerita lengkapnya menyusul akan saya tuliskan, atau follow saja blog mereka karena nampaknya mereka yang akan terlebih dahulu menceritakan keseruan yang kami lalui di Berlin. Jika punya akun Instagram, bisa melihat foto-foto keseruan kami dengan hastag #mbakyuropdiberlin.

Dari kiri ke kanan : Mbak Dian, Beth, Anggi, Mia, Deny
Dari kiri ke kanan : Mbak Dian, Beth, Anggi, Mia, Deny
Beth, Anggi, Deny, Mindy, Mbak Dian. Foto dari kamera Mbak Dian.
Beth, Anggi, Deny, Mindy, Mbak Dian. Foto dari kamera Mbak Dian.

Akhir pekan ini kami tidak ada acara khusus. Karena sudah lama tidak memasak pada akhir pekan, saya merasa kangen dengan dapur. Rasanya ingin mencoba memasak sesuatu yang baru, tapi yang tidak ruwet. Sabtu pagi suami pergi ke gym setelahnya belanja di supermarket, saya di rumah bersih-bersih kamar. Tiba-tiba saya ingin makan pecel untuk makan siang karena persediaan bumbu pecel masih ada dan di kulkas stok sayuran masih bervariasi karena jumat sepulang kerja saya dan suami pergi belanja sayur dan buah. Akhirnya kami makan siang dengan pecel lauk perkedel tahu panggang. Ini sambel pecelnya sangat pedes, tapi mas Ewald doyan meskipun makannya sambil bercucuran air mata dan ingus keluar dari hidung saking pedesnya dan dia harus berkali-kali membersihkan ingus. Saya bilang kalau kepedesan tidak usah dihabiskan, tapi dia bilang pedasnya masih bisa diterima oleh lidahnya. Level pedes suami rasanya semakin hari semakin meningkat seiring istrinya tega selalu menyajikan makanan dengan rasa pedas 😀

Pecel dan perkedel tahu panggang
Pecel (sayurannya : daun basil, kecambah, sawi, buncis, ketimun, wortel) dan perkedel tahu panggang

Setelah makan siang, saya bersiap untuk membuat kue. Jadi suami malamnya ada acara dengan kerabat. Si empunya acara ini vegan. Setelah mencari resep kue vegan kesana kemari, akhirnya saya cocok dengan resep kue vegan yang ada di youtube ini karena bahannya tidak ruwet dan proses membuatnya tanpa dioven. Bahan kuenya : Tepung Almond (karena saya tidak paham tepung apa yang diterangkan di youtube tersebut, akhirnya saya ganti sendiri dengan tepung almond), air kelapa, kelapa parut, cocoa powder, vanilla extract, kurma (pengganti gula). Ini semua bahannya dicampur menggunakan tangan. Bahan isi dan lapisan luarnya : kurma, air kelapa, avocado, cocoa powder, vanilla extract, dan apel. Untuk takaran bahan-bahannya saya memakai ilmu kira-kira jadi tidak pakai timbangan. Ini baru pertama kali saya membuat kue vegan, dan tanpa di oven. Suami sempat bertanya,”kalau kuenya sudah jadi bisa dimakan?” Wah yo embuh ya mas, ora tau nggawe sebelumnya :D. Dan setelah jadi, taddaaa ternyata kuenya enaaakkk banget. Lembut, tidak terlalu manis, dan yang penting sehat dan tidak ruwet membuatnya. Kue vegan ini setengah loyang dibawa suami ke acara, dan mereka semua suka. Ah senang rasanya baru pertama membuat dan langsung sukses. Sementara suami di rumah berkali-kali buka tutup kulkas untuk makan kue ini. Dia ingin selanjutnya saya membuat kue vegan saja karena menurut dia rasanya lebih enak dibandingkan kue yang biasa saya buat. Saya yang memang tidak terlalu suka jenis kue yang manis, hanya memakan satu kali saja kue vegan coklat tersebut.

Raw vegan cake. Tanpa gula, tanpa di oven, tanpa telur, dan gluten free.
Raw vegan cake. Tanpa gula, tanpa di oven, tanpa telur, dan gluten free.
Raw vegan cake. Tanpa gula, tanpa di oven, tanpa telur, dan gluten free.
Raw vegan cake. Tanpa gula, tanpa di oven, tanpa telur, dan gluten free. Hiasan seadanya.

Sabtu malam saat suami tidak di rumah, saya tiba-tiba ingin makan Tom Yum. Saya ingat masih punya bumbu Tom Yum di kulkas yang saya buat sendiri. Tapi sayangnya saya tidak punya stok seafood. Akhirnya saya membuat Tom Yum isi sayuran : jamur, sawi, kecambah ditambah irisan cabe rawit. Sabtu malam kencan dengan Tom Yum sambil cekikikan melihat lagi foto-foto di Berlin.

Tom Yum isi kecambah, sawi, jamur.
Tom Yum isi kecambah, sawi, jamur.

Kami memulai minggu pagi seperti biasa dengan olahraga. Saya lari 5km, suami bersepeda 50km plus lari 8 km. Lalu saya sibuk di dapur menyiapkan makan siang, suami membersihkan wc dan kamar mandi. Sehari sebelumnya, saya sudah mencari resep pastel tutup karena memang belum pernah membuat dan masih ada stok kentang. Ternyata membuat pastel tutup itu gampang, tidak seruwet seperti yang saya bayangkan. Isi dari pastel tutup ini : wortel, sawi, buncis, jamur, soun, prei dan brokoli. Tinggal oseng-oseng isinya, masukkan di pinggan tahan panas, tutup dengan kentang rebus yang sudah dihaluskan, masukkan oven 190 derajat selama 22 menit. Setelah dicoba ternyata enaakk rasanya, meskipun kentangnya tidak memakai susu, keju ataupun telur. Kentangnya saya campur dengan sedikit tepung supaya agak merekat. Suami suka dengan pastel tutup ini. Hanya satu kritiknya, kok ga dikasih cabe. Duh mas, lidahmu kok lebih mengIndonesia sekarang, apa-apa harus pedas :p. Sisa adonan kentangnya saya buat perkedel panggang untuk lauk suami makan siang di kantor. Dan inilah penampakan pastel panggang pertama saya. Kami makan 3/4 loyang dan selebihnya saya bagi ke Mama mertua.

Pastel tutup isi wortel, soun, jamur, buncis, prei
Pastel tutup isi wortel, soun, jamur, buncis, prei
Pastel tutup isi wortel, soun, jamur, buncis, prei
Pastel tutup isi wortel, soun, jamur, buncis, brokoli, dan prei

Setelah makan siang dan kekenyangan pastel panggang, suami melanjutkan aktivitas menyapu dan membersihkan karpet sementara saya menjemur baju. Sekitar jam 3 kami pergi ke toko tanaman untuk membeli beberapa bunga karena bunga-bunga yang ada di rumah mati semua selama kami tinggal liburan. Setelah dari toko tanaman kami ke rumah Mama. Saya membawa pastel tutup dan kue vegan coklat. Setelah dicoba Mama, beliau sukaa sekali pastel tutup dan kue vegan coklat tersebut. Wah saya girang bukan kepalang. Mama adalah penikmat masakan saya yang paling jujur. Kalau masakan saya tidak enak, beliau akan bilang tidak enak dan makanan saya selebihnya akan dikembalikan. Untung saja selama ini baru satu kali masakan saya yang dibilang tidak enak dan dikembalikan. Kalau tidak salah semur tempe. Selebihnya beliau suka, bahkan tumis pare pete pedes pun beliau suka. Beliau ini suka makanan pedas. Kalau akhir pekan saya memang memasak agak banyak agar Mama juga bisa ikut makan masakan saya. Kalau saya sedang tidak bisa main ke rumah Mama, maka makanan akan saya titipkan pada suami karena suami setiap minggu pasti ke rumah Mama.

Setelah dari rumah Mama kami mengayuh sepeda diiringi angin yang super kencang, gerimis, dan mendung yang memang menggelayut sejak pagi. Musim panas di Belanda matahari muncul hanya sesekali. Selebihnya tetap mendung, hujan dan angin kencang. Akhir pekan kami tutup dengan berbincang ditemani kerupuk, teh jahe, kue coklat vegan dan mendung. Akhir pekan yang menyenangkan karena saya akhirnya kembali lagi ke dapur. Memasak selalu membuat saya bahagia.

Bagaimana cerita akhir pekan kalian?

-Den Haag, 7 Agustus 2016-

Akhir Pekan Ceria

Cantik ya, jambulnya dong ga nahan :D

Sesuai dengan judulnya, akhir pekan yang kami lalui memang ceria dalam arti sebenarnya. Tentu saja ceria disini berhubungan dengan cuaca. Nyaris seminggu kabut selalu turun pagi hari dan sore hari. Memang tidak terasa terlalu dingin karena kami kalau keluar rumah tidak menggunakan jaket, tapi tetap saja rasanya kelabu kalau melihat kabut yang turun. Bukan hanya kabut, hujan juga berhari-hari mengguyur. Tidak terus-terusan turun hujan di tempat kami tinggal, tetapi tetap saja perlu membawa peralatan perang kalau hujan.

Kabut pekat
Kabut pekat

Tetapi akhir pekan cuaca mulai membaik. Lumayan sabtu dan minggu sinar mataharinya terik dengan suhu sekitar 25 derajat celcius. Kesempatan ini tentu saja tidak kami sia-siakan dengan bersepeda menyusuri rute yang baru dan berjalan-jalan di hutan. Kalau cuaca cerah begini senang melihat oarang-orang giat beraktivitas di luar rumah. Ada yang berperahu, memancing, berenang di danau, anak-anak kecil bermain air di halaman rumah, berjemur di taman, membaca buku, jalan-jalan di hutan, duduk dipinggir danau, berolahraga, dan masih banyak aktivitas lainnya. Kalau cuaca sedang cerah, semua orang berbondong-bondong keluar rumah.

Cantik ya, jambulnya dong ga nahan :D
Cantik ya, jambulnya dong ga nahan 😀

Dengan cuaca seperti ini, enak sekali bersepeda atau berjalan-jalan di hutan. Rasanya segar meskipun saya merasa agak gerah. Sampai diledek suami “gaya kamu berasa gerah, nanti bagaimana kalau liburan ke Indonesia, bisa-bisa uring-uringan :p” padahal tahun kemarin saat awal datang ke Belanda saya selalu uring-uringan karena udara dingin sekali. Hampir 1.5 tahun setelahnya keadaan menjadi berbalik.

Dalam hutan. Jalan-jalan begini dalam bahasa Belanda namanya wandelen
Dalam hutan. Jalan-jalan santai dengan jarak agak jauh kalau dalam bahasa Belanda namanya wandelen.
Sesuatu ini beneran ngagetin. Kami kira ada orang pingsan ditengah hutan. Saya malah mau lari saja, mikir film-film horor gitu. Tapi setelah didekati suami katanya gundukan tanah biasa. Duh, bikin jantungan!
Sesuatu ini beneran ngagetin. Kami kira ada orang pingsan ditengah hutan. Saya malah mau lari saja, mikir film-film horor gitu. Tapi setelah didekati suami katanya gundukan tanah biasa. Duh, bikin jantungan!

Ada hal yang menggangu ketika jalan-jalan, yaitu serbuk sari (pollen) yang beterbangan. Untung kami tidak punya alergi terhadap serbuk sari atau bunga tertentu, jadi tidak bersin-bersin dan pilek. Tapi tetap saja risih masuk ke hidung. Jadi rasanya ketika jalan-jalan seperti ada salju beterbangan. Dimana-mana putih warnanya. Membuat kotor rambut juga, menempel. Kalau punya alergi terhadap rumput, serbuk sari dari bunga, tumbuhan namanya hooikoorts. Biasanya sering muncul kalau bunga-bunga mulai mekar

Pollen (serbuk sari)
Pollen (serbuk sari)
Geli sebenarnya lihat gini. Ini seperti bekicot tapi ga ad cangkangnya. Namanya Slak. Nyaris saja keinjak saking kecilnya ditengah jalan
Geli sebenarnya lihat gini. Ini seperti bekicot tapi ga ada cangkangnya. Namanya Slak. Nyaris saja keinjak saking kecilnya ditengah jalan
Nongkrong pinggir danau
Nongkrong pinggir danau

Kalau cuaca panas begini rasanya ingin minum yang dingin-dingin. Inginnya minum es degan sih atau dawet trus duduk-duduk di bawah pohon sambil makan rujak super pedes. Tapi adanya es krim 😀 awalnya kami akan ke Ikea membeli es krim karena es krimnya enak dan murah meriah. Tapi di tengah jalan menuju Ikea kami menjumpai ada yang jual es krim rumahan. Mas Ewald bilang untuk beli disini saja, “kita beli disini saja. Kan membantu orang yang punya usaha sendiri.” Aduh, tersentuh mas dengan ucapanmu :D. Es krimnya enak, rasanya pas.

Beli es krim pinggir jalan (ya kalau ditengah jalan nabrak dong *kriikk krikk)
Beli es krim pinggir jalan (ya kalau ditengah jalan nabrak dong *kriikk krikk)
satu cone begini harganya 1 euro. Rasanya enak banget, haus soalnya
satu cone begini harganya 1 euro. Rasanya enak banget, haus soalnya 😀
Unik ya rumahnya. Yang punya rumah sedang berkebun ditemani anjingnya. Trus kami bertanya nama bunganya apa kok unik bentuknya
Unik ya rumahnya. Yang punya rumah sedang berkebun ditemani anjingnya. Trus kami bertanya nama bunganya apa kok unik bentuknya
Bunga
Bunga Digitalis purpurea. Bunganya seperti lonceng. Ini karena pakai kamera Hp jadi kalau diperbesar pecah.

Akhir pekan saya tidak terlalu heboh masak. Sabtu menunya gudeg sudah ada persediaan, masak yang banyak untuk persediaan bulan puasa, persiapan kalau malas masak melanda. Sedangkan minggu masak stamppot yang merupakan makanan tradisional Belanda. Stamppot ini identik dengan makanan musim dingin, tapi bisa juga dimakan segala musim. Stamppot adalah kentang direbus yang ditumbuk halus bersama sayuran lainnya (biasanya wortel, kale, atau zuurkool-kubis asin-) ditambah keju, margarin, lauknya sausage. Selain dengan sayuran, bisa juga digunakan buah.

Gudeg, pindang telur, ikan asin, nasi coklat, sambel
Gudeg, pindang telur, ikan asin, nasi coklat, sambel

Yang saya masak adalah stamppot modifikasi, vegetarian. Kentang diganti ubi saya tumbuk bersama ujungnya venkel. Diatas kentang saya taburi dengan bawang yang dicampur dengan balsamic. Sayurnya venkel, asparagus, wortel, jagung kecil. Lauknya perkedel tahu yang dipanggang dan tempe yang dibentuk burger dan dipanggang juga. Ini mengenyangkan sekali tapi enak rasa ubi tumbuknya.

Stamppot
Stamppot ubi lauk perkedel tahu panggang. Bebas minyak
Stamppot lauk tempe dibentu burger trus dipanggang. Tanpa minyak
Stamppot ubi lauk tempe dibentu burger trus dipanggang. Tanpa minyak

Selamat puasa hari pertama. Semangaatt!

-Den Haag, 6 Juni 2016-

Semua foto adalah dokumentasi pribadi