Pekan Terhangat di Musim Semi

Menuju danau Dobbeplass

Terhitung sejak hari selasa minggu lalu sampai saat saya menulis ini (hari senin) cuaca di Belanda secara keseluruhan menghangat dan cenderung panas, kecuali hari ini cuma gonjreng tapi hawanya semilir sejuk. Minggu lalu benar-benar hari ternyaman untuk saya, karena untuk suami katanya terlalu panas. Suhu setiap hari rata-rata bisa diatas 25 derajat celcius. Malah ada satu hari suhunya sampai 30 derajat celcius.

Karena keadaan seperti ini sangatlah jarang, apalagi di musim semi, maka mendadak saya jadi petakilan. Saya tidak betah di rumah, mendadak males masak, maunya ke luar rumah terus selama cuaca nyentrong seperti ini. Suasana hati mendadak gembira sekali. Senyum sepanjang hari. Riang gembira lah pokoknya. Ke luar rumah juga jadi lebih mudah. Cuma pakai sandal dan baju selapis. Merdeka banget rasanya. Saya inginnya kalau pagi sampai siang cuma leyeh-leyeh di halaman belakang. Rajin berbenah halaman depan dan belakang. Pokoknya halaman depan dan belakang mendadak jadi agak rapi (walaupun yang bagian depan tidak terlalu rapi sekali). Tahun ini saya tidak menanam apapun. Hanya mengandalkan tanaman-tanaman yang sudah ada. Semoga tahun depan bisa kembali bercocok tanam.

Kalau menjelang sore, kami seperti gasing jalan jalan ke sana sini. Dari jelajah taman sampai jelajah danau. Kenapa tidak ke pantai? karena membayangkan banyak orang di pantai saya sudah pusing duluan (ya kalau mau sepi, di kuburan Den!). Saya sampai bilang ke suami bahwa sejak tinggal di Belanda, saya jadi lebih menghargai yang namanya cuaca hangat (dan panas). Padahal kalau di Indonesia, marah-marah terus saya kalau cuaca panas. Ya tapi kan beda situasi, kalau di Belanda jarang cuaca panas karenanya lebih banyak bersyukur kalau panas datang.

Westbroekpark
Westbroekpark
Westbroekpark
Westbroekpark
Westbroekpark
Westbroekpark
Westbroekpark
Westbroekpark

Kalau di taman, kami beneran tidur di rumput-rumputnya melihat langit dan berjemur. Duh beneran nikmat sekali. Apalagi anginnya semilir ya, bikin ngantuk. Kalau tidak ingat punya tanggungan di rumah, saya bisa seharian di taman tiduran sambil baca buku.

Menuju danau Dobbeplass
Menuju danau Dobbeplass

Ada danau dekat rumah. Jalan kaki hanya 15 menit saja. Sewaktu kami ke sana, waduh ramainya tidak karuan. Semua berenang. Mau ambil foto saja sampai tidak bisa karena semua sudut ada orang pakai baju renang. Kan melanggar privasi kalau saya mengambil foto. kami duduk-duduk di bawah pohon, sesekali main pasir juga. Nah, beberapa hari setelahnya, kami ke danau ke kota sebelah di Zoetermeer. Ini danaunya lebih besar dari yang dekat rumah. Tapi ramainya juga tidak karuan. Sewaktu kami pertama sampai, saya mencium harum sate. Langsung dong ya saya mencari sumber harum sate itu, ternyata ada keluarga yang sedang memanggang sate dan panggangannya sama seperti panggangan di Indonesia. Langsung membayangkan makan sate pakai lontong trus minumnya es degan *halusinasi sesekali.

Kalau cuaca panas seperti ini saya memang seringnya membayangkan tukanhg jual makanan gerobak. Andaikan ada gerobak bakso, gorengan, dan es degan, sempurna sekali di pinggir danau makan semangkuk bakso pedas dan minum es degan *ngayal teruuusss!

Zoetermeer
Zoetermeer
Zoetermeer
Zoetermeer
Leyeh leyeh pinggir danau
Leyeh leyeh pinggir danau

Saking petakilannya, saya sampai tiba-tiba terpikir untuk ke pasar. Terakhir ke pasar Haagse, 3 bulan lalu sewaktu Ibu ada di sini. Ke pasar kali ini juga dipicu oleh suami yang belakangan ini mengeluh karena stok sambal habis. Setiap mau makan atau buka kulkas, dia selalu komentar “Sambelnya habis lho” “Kamu ga bikin sambal nih?” “Kok ada yang kurang ya makan tanpa sambal” “Kamu ada rencana bikin sambal kapan.” —-Saya merasa terteror dengan urusan sambal ini. Akhirnya demi mendapatkan cabe merah dengan harga murah, ke pasarlah kami naik tram, suami sih tidak ikut karena dia sedang belajar untuk ujian. Eh ternyata di pasar cabe rawit merah sedang langka. Di beberapa stan langganan tidak jualan karena katanya sedang mahal sekali. Untung saja mata saya melihat ada cabe rawit nyelip di jual di stan lainnya. Langsung saya borong semua. Selain untuk beli cabe, saya juga ingin beli ikan segar. Rencananya akan saya buat pepes. Selain itu saya juga cari buah naga, biasanya di pasar ada dengan harga murah. Eh, saya cari sampai teliti ternyata tidak ada.

Saking lamanya saya tidak ke pasar, beberapa langganan yang memang sudah hapal dengan saya sampai bertanya, “lama tidak ke pasar, stok cabe aman ya?” Hahahaha, maklum, saya kalau beli cabe sampai berkilo-kilo. Bukan buat diri sendiri saja, tapi titipan dari beberapa teman. Makanya sampai dihapalin oleh si pemilik stan. Belum lagi satu-satunya stan yang jual belimbing wuluh, pemiliknya sewaktu saya mau beli belimbing wuluh bilang, “setiap ada belimbing wuluh segar, saya selalu mbatin kamu lho. Kok lama tidak ke pasar.” ya beginilah kegiatan di pasar, selalu menyenangkan karena bertemu dengan banyak orang dan bisa sekalian cuci mata.

Langsung lahap makan pakai ikan beli di pasar meskipun menunya ga nyambung :)))
Langsung lahap makan pakai ikan beli di pasar meskipun menunya ga nyambung :)))
Sepanjang minggu bisa makan di halaman belakang. Ini makan pakai ayam panggang dan sisa bumbunya dipakai untuk masak Mie goreng
Sepanjang minggu bisa makan di halaman belakang. Ini makan pakai ayam panggang dan sisa bumbunya dipakai untuk masak Mie goreng

Hari Senin saya diawali dengan membuat stok sambal. Begitu melihat saya membuat sambal, sumringah lah muka suami. Berasa dapat lotere haha!

Sambel untuk suami
Sambel untuk suami

Bagaimana hari Senin kalian? Semoga awal minggu kalian juga menyenangkan yaaa. Minggu ini suhu di Belanda kembali pada angka belasan dan konon katanya beberapa hari kedepan akan turun hujan. Saatnya produktif lagi di rumah

-Nootdorp, 23 April 2018-

Hubungan Antara Saya, Sejarah, dan Museum

Saya tidak ingat kapan pertama kali mengenal museum. Mungkin saat kami sekeluarga jalan-jalan ke Jakarta sewaktu saya masih kecil (sekitar umur 7 tahun kayaknya). Bapak dan ibu sering mengajak anak-anaknya jalan-jalan ke Jakarta karena memang banyak keluarga Ibu yang tinggal di sana. Beberapa museum yang kami kunjungi waktu itu ya seputar museum yang di Monas, Lubang Buaya (ini museum kan ya), beberapa museum yang ada di TMII (termasuk museumnya Ibu Tien). Seingat saya hanya itu. Ingatan saya tentang museum yang dikunjungi waktu kecil tidak terlalu bagus. Membosankan, menakutkan, dan membuat saya sedih. Apalagi waktu ke Lubang Buaya, entah kenapa saya selalu ketakutan sekaligus sedih ketika di sana, tapi ya entah kenapa juga tetap berkali-kali mau diajak ke sana lagi. Nah, karena pengalaman masa kecil yang tidak terlalu bagus dengan museum, akhirnya saya tumbuh menjadi orang yang tidak suka kalau ada yang mengajak ke museum. Saya takut terbawa sedih karena saya memang mikiran orangnya. Ditambah lagi, minat saya terhadap sejarah juga tidak terlalu tinggi. Saya sudah terlanjur setia dengan angka-angka. Meskipun saya tidak terlalu suka pelajaran sejarah, tapi nilai-nilai saya pada mata pelajaran sejarah lebih tinggi dibandingkan fisika *misteri yang tak terpecahkan.

Itu cerita dulu, sebelum saya mengenal suami. Awal kenal dia dan tahu latar belakang pendidikannya adalah sejarah serta memang passionnya di sejarah (juga musik), sempat terpikir juga ini nanti kami nyambung apa tidak ya ngobrolnya karena saya kalau sudah diajak ngobrol tentang sejarah ciut duluan. Pengetahuan saya tentang sejarah sangatlah minim, bahkan sejarah bangsa sendiri. Masing-masing orang memang minatnya berbeda-beda ya dan saya tidak memaksakan diri untuk menyukai sesuatu yang memang datangnya tidak dari hati. Saya berpikir nanti akan ada saatnya saya akan tertarik minimal membaca sesuatu yang berhubungan dengan sejarah. Nah, suami suka sekali yang namanya berkunjung ke museum. Dia selalu berbinar-binar kalau sudah berada di museum, anteng sampai lupa waktu. Awal-awal, saya tersiksa menemani dia berkunjung dari satu museum ke museum lainnya.

Ketika pertama kali ke Surabaya, dia bertanya museum apa yang bisa dikunjungi. Dia agak terkejut ketika saya bilang tidak pernah berkunjung ke museum sama sekali selama belasan tahun numpang hidup di Surabaya. Dan baru dengan dia lah saya masuk ke House of Sampoerna (padahal dulu pernah kerja di perusahaan rokok ini) dan museum Sepuluh Nopember. Ketika pertama kali saya berkunjung ke Belanda, dia ajak saya berkunjung dari satu museum ke museum yang lain, dari Rijksmuseum, Anne Frank House, dua museum lainnya saya lupa namanya. Diantara beberapa museum tersebut, Anne Frank House yang membuat saya sampai menangis. Dan setelahnya saya jadi tertarik dengan sejarah yang berhubungan dengan Nazi. Apalagi setelah mengunjungi Camp Westerbork, kepala saya langsung pusing membaca cerita dan melihat camp transit pada saat Nazi ada di Belanda, membayangkan bagaimana keadaan jaman dulu bersempit2-sempitan dengan banyak orang di satu ruangan kecil dan perlakuan yang mereka dapatkan.

Setelah menikah, selama 6 minggu kami melakukan perjalanan dari Bali sampai Bandung dengan menggunakan segala macam alat transportasi, seperti kereta api ekonomi, bis ekonomi, kapal laut, kereta api eksekutif, sampai pesawat terbang. Selama perjalanan tersebut, tentu saja suami ingin berkunjung ke museum di setiap kota, jika memungkinkan. Dari lebih 10 museum yang kami kunjungi, yang paling berkesan buat saya adalah Ullen Sentalu di Jogjakarta dan Museum Gajah di Jakarta. Kalau di Ullen Sentalu karena perjalanan menuju kesananya yang berkesan harus berganti beberapa kali bis dan pulangnya sudah tidak ada kendaraan lagi sehingga kami harus menumpang sepeda motor orang. Ullen Sentalu sendiri meninggalkan kesan mendalam karena cerita silsilah Dinasti Mataram, budaya, dan koleksi bermacam batik (serta makna masing-masing coraknya) juga lukisan. Karena terkesan dengan kisah yang disampaikan oleh pemandunya, sampai tidak terasa kalau berkeliling Ullen Sentalu sudah berakhir. Tidak boleh berfoto di dalamnya karena menyangkut koleksi pribadi. Sedangkan Museum Gajah yang ada di Jakarta baru saya kunjungi ya setelah menikah dengan suami, padahal selama 6 tahun lebih tinggal di Jakarta dan sering wira wiri depan Museum Gajah, tidak satupun tergerak hati untuk masuk ke dalam. Ternyata di dalam, bagus sekali isinya terdiri dari benda-benda kuno dari seluruh Nusantara beserta sejarahnya. Saya membaca satu persatu dan amati satu persatu benda-benda yang ada di sana. Hampir seharian kami berkeliling Museum Gajah. Saya jadi belajar banyak hal.

Ullen Sentalu. Cuma di sini yang diperkenankan foto
Ullen Sentalu. Cuma di sini yang diperkenankan foto

Nah, mempunyai blog ini dan beberapa kali menuliskan tentang cerita perjalanan kami setelah liburan, mau tidak mau membuat saya juga harus sedikit melek sejarah. Sebelum bepergian, saya banyak mencari tahu tentang tempat-tempat yang akan kami kunjungi. Minimal tahu ceritanya ini tempat apa. Dan ketika akan menuliskan cerita tersebut dalam blog, sebelumnya saya juga melengkapi informasi supaya apa yang saya tuliskan ada nilainya, minimal membuat saya banyak belajar tentang tempat-tempat tersebut. Padahal dulu tidak sedalam itu saya menggali informasi karena memang dulu setelah bepergian, ada fotonya, selesai. Tidak ada keinginan untuk mencari tahu lebih dalam tempat itu. Entah kenapa sekarang saya lebih ingin tahu. Secara tidak langsung, keinginan untuk belajar sejarah dan masuk museum memang tertular dari suami. Bagaimana tidak, di ruangan perpustakaan kecil kami di rumah, buku-buku sejarah punya suami lebih mendominasi daripada buku-buku saya. Akhirnya saya jadi penasaran dan mencoba membaca meskipun tidak pernah sampai tuntas.

Kalau tahun kemarin saya disibukkan dengan persiapan ujian bahasa Belanda sehingga perhatian saya seluruhnya tercurah untuk belajar bahasa Belanda, sehingga intensitas kami ke museum juga berkurang dibandingkan tahun 2016, mungkin sekitar 15 museum (total dengan yang kami kunjungi ketika ke Italia dan Perancis). Saya juga minta ke suami untuk berkunjung ke museum tentang lukisan saja karena saya lebih tertarik ke lukisan. Kami pernah ke Bronbeek Museum yang ada di Arnhem, pulangnya kepala saya jadi nyut-nyutan karena memang isinya sarat tentang sejarah, jadi banyak informasi yang harus dibaca. Saya jadi puyeng sendiri sekaligus sedih setelah keluar dari sana. Kembali lagi, saya itu suka mikir kalau ke museum yang isinya sarat tentang sejarah, jadi mikir jaman dahulu seperti apa. Makanya saya lebih senang ke museum yang isinya tentang lukisan atau kalau misalkan yang murni sejarah saya tertarik yang ada hubungannya dengan Nazi meskipun ujungnya tetap sedih.

Nah, tahun ini saya ingin belajar sesuatu yang baru. Awalnya saya sudah mempersiapkan diri untuk kuliah lagi di jurusan dan universitas yang sudah saya incar sejak bertahun-tahun lalu. Tapi karena satu hal, untuk sementara kembali ke bangku kuliah di tahun ini bukan pilihan tepat. Nanti kalau waktunya sudah memungkinkan, kembali kuliah akan kembali menjadi prioritas. Akhirnya saya mencanangkan, 2017 sebagai tahun museum karena saya ingin mengunjungi sebanyak mungkin museum yang ada dan sebanyak mungkin untuk belajar sejarah. Saya suka terkagum dengan anak-anak kecil di sini yang sudah diajarkan untuk suka museum sejak dini. Jadi bersemangat juga selain karena memang museum-museum yang ada di sini itu asyik sekali tempatnya, bersih dan terawat. Nyamanlah pokoknya, jadi saya ingin memanfaatkan semaksimal mungkin. Nah, untuk memecut diri sendiri supaya semangat, saya membeli museumkaart seharga €59.90 yang bisa dipakai selama setahun di lebih 400 museum yang ada di Belanda. Tinggal pilih saja mana museum yang akan dikunjungi. Bayangkan betapa hematnya saya punya kartu tersebut bisa dipakai setahun padahal kalau beli ketengan masuk museum di sini rata-rata harganya €10 per museum. Selain museum, saya juga ingin mendatangi tempat-tempat bersejarah sekitar Den Haag minimal, seperti Het Binnenhof dan De Ridderzaal (tempat diadakan Konferensi Meja Bundar) atau tempat-tempat lainnya.

Minggu kemarin, saya dan suami memanfaatkan fasilitas gratis masuk museum yang diadakan oleh Gemeentemuseum tempat diadakan pameran karya-karya Piet Mondriaan dan kawan-kawannya yang mempelopori De Stijl. Saya yang selama ini cuma mengerti sepintas warna warni lukisan Mondriaan tapi tidak ngeh sejarah dibaliknya, setelah kunjungan ke museum minggu lalu, jadi sedikit banyak mengerti sejarah De Stijl. Itupun harus dijelaskan berkali-kali oleh suami supaya saya mengerti benang merahnya (memang agak lama otak saya memproses cerita sejarah, harus diulang-ulang).

Salah satu lukisan Piet Mondriaan yang terkenal, yang terakhir dan belum sepenuhnya selesai yaitu Victory Boogie Woogie
Salah satu lukisan Piet Mondriaan yang terkenal, yang terakhir dan belum sepenuhnya selesai yaitu Victory Boogie Woogie

Lalu hari Senin saya ikut tour masuk ke dalam De Ridderzaal yang sampai saat ini masih difungsikan sebagai tempat berlangsungnya acara kenegaraan seperti Prinsjesdag (Hari saat Raja membacakan kebijakan pemerintah untuk kerja parlemen setahun ke depan) dan pernah dijadikan tempat pelaksanakan Konferensi Meja Bundar. Ada rasa haru waktu masuk ke dalam dan diterangkan satu persatu sejarah dan fungsi tempat ini oleh pemandunya. Haru karena bisa melihat secara dekat dalamnya yang selama ini hanya bisa dilihat di TV, sejarah bangunan ini, dan membayangkan dulu di tempat ini dilaksanakan KMB. Tour juga mengunjung ruangan Eerste Kamer (Senat) dan Tweede Kamer (Parlemen). Sewaktu ke gedung Tweede Kamer tidak diperkenankan membawa Hp atau Kamera karena semua barang harus disimpan di dalam loker. Masuknya pun diperiksa secara ketat harus lepas sepatu segala. Pengalaman hari Senin sangatlah menyenangkan karena saya bisa melihat secara dekat gedung yang sering saya lewati dan dalamnya selama ini saya lihat dari TV, mengerti sejarahnya, dan juga diperlihatkan cara kerja parlemen.

De Ridderzaal
De Ridderzaal

Ruangan Senat (De Eerste Kamer)
Ruangan Senat (De Eerste Kamer)

Mudah-mudahan niat baik dan keinginan saya untuk belajar sejarah mulai tahun ini dan berkunjung ke banyak museum tidak hanya hangat di depan tetapi konsisten minimal sepanjang tahun. Meskipun saya akan mengunjungi museum sendirian tanpa ditemani suami (karena dia sudah masuk ke banyak museum di Belanda *ya iya, lha dia sudah mulai ke museum sejak kecil), tapi saya tetap semangat. Selama saya masih memungkinkan untuk melakukan aktivitas tersebut, maka saya akan maksimal melakukannya karena ternyata menyenangkan. Mungkin nanti ada saatnya rehat sebentar, tapi minimal sudah ada keinginan dalam diri untuk belajar sejarah.

Kalau kamu, ada cerita tentang museum atau sejarah?

-Nootdorp, 14 Februari 2017-

Dobbeloop – 10 KM

Kategori anak-anak yang lebih besar sedang bersiap

Hari minggu pagi (jam 11) kami kembali ikut race lari 10 km. Ini lomba lokal yang diikuti oleh mereka yang tinggal di sekitar Nootdorp. Lokasi lomba di seputaran hutan dan danau Dobbeplaas, karenanya lomba ini dinamakan Dobbeloop. Acara ini diadakan setiap bulan. Jaraknya terbagi : 750m untuk anak-anak kecil, 1.5km untuk anak-anak yang lebih besar, dan 3.2-5-10-15km untuk usia dewasa. Karena peserta dari segala usia, maka acara ini banyak peminatnya. Saya tidak mengira kalau pesertanya akan banyak. Ditambah lagi hari minggu ini memang cuaca sangat bersahabat. Meskipun memang dingin – suhu 5 derajat celcius – (sewaktu bersepeda menuju tempat lomba, padahal saya dan suami sudah berjaket tebal, tetep saja rasanya dingin kayak masuk freezer, tangan saya sampai kebas karena lupa bawa sarung tangan), matahari bersinar cerah sepanjang hari.

Start di sini. Cerah ya, tapi 5 derajat celcius.
Start di sini. Cerah ya, tapi 5 derajat celcius.

Saat kami sampai di tempat acara, ternyata untuk kategori anak-anak baru saja selesai. Senang sekali melihat anak-anak usia sekitar 3 sampai 5 tahun lari-lari kecil bersama orangtuanya. Iya benar, usia 3 tahun sudah ikut bersenang-senang lari bersama orangtuanya. Mereka terlihat senang sekali, seperti bermain mungkin ya rasanya. Saya sampai ikut gemes dengan balita-balita ini. Untuk kategori 750m, saya perhatikan tidak saja diikuti oleh anak-anak kecil tapi mereka yang berkebutuhan khusus juga, dengan pendampingan tentunya.

Kategori anak-anak yang lebih besar sedang bersiap
Kategori anak-anak yang lebih besar sedang bersiap
Peserta kategori anak-anak
Peserta kategori anak-anak. Kecil-kecil begini larinya melesat cepat.

Setelah kategori anak-anak kecil, selanjutnya untuk anak-anak yang lebih besar bersiap berangkat. Kira-kira yang ikut usia 6 sampai 9 tahunan. Meskipun usia masih kecil, tapi mereka larinya cepat sekali. Saya sampai melongo melihat bagaimana mereka berlari sangat kencang dan ada yang memakai teknik berlari juga. Jarak 1.5 km ditempuh sangat cepat. Sebelum 10 menit (bahkan ada yang baru 7 menit), banyak yang sudah sampai finish. Saya sampai senyum-senyum sama suami karena untuk jarak 1.5 km saya membutuhkan waktu lebih dari 10 menit. Senang sekali melihat semangat berolahraga anak-anak ini, didukung oleh orangtua mereka yang juga ikut lari untuk kategori yang berbeda.

Kategori dewasa sedang menunggu giliran berangkat
Kategori dewasa sedang menunggu giliran berangkat

Selanjutnya kategori terakhir yang bersiap. Suami memberi semangat dengan mengatakan kalau kali ini pasti waktu saya lebih baik dari 10 km bulan kemarin di Rottermerenloop bahkan CPC Loop tahun kemarin. Saya juga merasa yakin, setidaknya jika dilihat dari cuaca yang cerah dan tempatnya yang tidak asing karena saya dan suami sering lari di area ini. Seperti biasa setelah start, suami melesat sedangkan saya dengan ritme lari seperti biasanya. Sampai di km ke 4, saya belum yang paling belakang karena ketika belokan dan saya sempat menoleh, masih ada beberapa orang di belakang. Ternyata dari beberapa orang tersebut, mengikuti untuk kategori 5km. Dan sisanya menyusul saya bahkan setelahnya lari jauh di depan. Akhirnya saya menjadi yang paling belakang lagi. Tetapi saya tidak khawatir karena pasti “ditemani” oleh mereka yang 15 km. Dan benar saja, sekitar km ke 7, beberapa yangΒ  kategori 15 km sudah menyalip saya. Saya sampai senyum-senyum sendiri, karena saking santainya saya lari, sampai terkejar oleh mereka yang 15km. Dan beberapa meter sebelum sampai finish, suami sudah menunggu lalu dia menemani saya berlari beriringan menuju finish (dia hanya menemani saja, karena sudah selesai duluan). Waktu tempuh Mas Ewald untuk 10km : 47 menit, sedangkan saya untuk 10 km : 1 jam 20 menit. Waktu ini 5 menit lebih cepat dibandingkan bulan kemarin. Suami bilang kalau waktu dia kali ini adalah catatan tercepat selama mengikuti race 10 km. Saya bilang ke dia kalau saat 47 menit itu, mungkin saya masih di km ke 6. Karena sewaktu saya di km ke 5, waktu menunjukkan 36 menit. Sedangkan mereka yang ikut 15km ada yang sampai finish sebelum 1 jam. Terbayang ya bagaimana cepatnya orang Belanda ini kalau lari. Tapi tetap, yang dari Kenya lebih cepat untuk urusan lari.

Inilah kami setelah lomba. Sebelah kir atas itu jalan yang dilalui.
Inilah kami setelah lomba. Sebelah kiri atas itu jalan yang dilalui. Saking dinginnya, setelah sampai finish suami kembali berjaket.

Cuaca yang sangat bagus hari ini benar-benar sangat sempurna dan mendukung saya untuk tidak berhenti sekalipun sepanjang 10km. Pemandangan sepanjang 10km tersebut adalah hutan, padang rumput, sapi yang sedang merumput dan danau. Benar-benat tidak membosankan. Oh iya, kali ini saya tetap menjadi yang terakhir sampai finish untuk 10km, tetapi di belakang saya masih ada beberapa orang untuk kategori 15km. Namanya juga lari santai, jadinya waktu tempuh segitu sudah bagus. Mudah-mudahan race berikutnya bisa lebih cepat lagi sampai finish.

Bagaimana dengan cerita akhir pekan kalian?

-Den Haag, 23 Oktober 2016-

Rottemerenloop 2016 – 10KM

Pecah telur juga tahun ini bisa ikutan lomba lari. Setelah dari awal tahun ada saja halangan mau ikut race ini dan itu tapi terhalang satu dan lain hal. Sudah daftar jauh-jauh hari eh ternyata dekat hari H tidak bisa. Hangus jadinya uang pendaftaran. Beruntung yang kali ini tidak gagal lagi, meskipun 2 jam sebelum pelaksaan lomba nyaris gagal lagi karena hujan deras.

Jadi hari minggu 2 Oktober 2016, saya dan Mas Ewald ikut lomba lari 10 Km di Rotterdam. Nama lombanya adalah Rottermerenloop. Ada tiga kategori yaitu 1.5 km untuk anak-anak, 10 km dan half marathon (21.1 km). Dua kategori terakhir untuk dewasa. Biasanya Mas Ewald ikut yang kategori 21.1 km kalau ada lomba lari. Tapi kali ini dia ingin ikut yang 10 km. Akhirnya bisa satu kategori sama suami setelah dua kali lomba lari bersama, kami selalu beda (Pertama waktu Bromo Marathon dan kedua waktu CPC Loop di Den Haag). Niatnya sih tahun ini saya bisa pecah telur naik kelas ke 21.1 km. Apa daya selain halangannya ada saja, latihan juga masih kurang maksimal, ditambah kurang nekat. Mudah-mudahan tahun depan bisa.

Ikut lomba yang pagi inipun sebenarnya dadakan. Daftarnya baru seminggu lalu. Rencananya kami justru akan ikut lomba yang akhir Oktober 2016. Ternyata ada yang lebih dulu meskipun tempatnya agak jauh, akhirnya kamipun sepakat ikut. Hitung-hitung sebagai pemanasan karena sudah lama tidak ikut lomba. Nah, pagi tadi hujan pun turun. Kami ragu-ragu berangkat atau tidak ke lomba. Kalau dilihat dari prakiraan cuaca, ada saat-saat yang tidak hujan meskipun secara keseluruhan sepanjang hari akan turun hujan. Tapi menjelang jam 10, matahari bersinar terang. Akhirnya kami putuskan berangkat saja, toh kami bawa jaket yang anti air. Jadi kalau hujan tinggal jaketnya dipakai.

Para peserta 10km
Para peserta 10km

Ternyata waktu jam 11 mataharinya bersinar terang meskipun hawanya tetap dingin. Wah, syukurlah jadi bisa lari tanpa khawatir hujan. Saya lupa kalau ini Belanda, artinya 4 musim bisa terjadi dalam satu hari. Pada saat menjelang km ke 7, saya melihat dari kejauhan mendungnya tebal. Benar saja, saat memasuki km ke 7, hujan deras langsung mengguyur dan angin kencang tiba-tiba datang. Saya yang sejak start sampai km ke 7 terus lari, tiba-tiba langsung berhenti tidak kuat kena angin kencang dan hujan deras. Saya berjalan sampai saya melihat peserta HM (Half Marathon = 21.1 km) melintas, akhirnya saya ikutan lari lagi sampai finish. Hujannya deras sejak km ke 7 sampai km ke 9. Jadi selama 2km saya menguatkan diri lari ditemani hujan deras dan angin kencang.

Ditengah lari, mendungnya tebal sekali. Ini moto sambil lari, makanya miring. Setelah moto ditegur panitia, katanya ga usah moto, nanti lambat larinya. Lah lari memang sudah lambat dari sananya :D
Ditengah lari, mendungnya tebal sekali. Ini moto sambil lari, makanya miring. Setelah moto ditegur panitia, katanya ga usah moto, nanti lambat larinya. Lah lari memang sudah lambat dari sananya πŸ˜€

Lomba kali ini sangat istimewa untuk saya karena saya menjadi peserta terakhir yang sampai finish. Saya memang tidak bisa cepat kalau lari, meskipun untuk 10 km saya pasti lari terus tanpa berhenti (kalau pas tidak hujan). Mungkin kalau dilatih bisa untuk sedikit cepat, tapi saya saja yang memang agak bebal selalu beralasan kalau suami berencana melatih lari dengan metode interval. Kalau dua lomba sebelumnya saya boleh jumawa karena tidak menjadi peserta terakhir yang sampai finish, karena dua lomba sebelumnya pesertanya jauh lebih banyak dan lebih beragam dibanding yang kali ini. Nah tadi pagi pesertanya orang Belanda semua, mereka kan tingginya menjulang (alasan :p), jadi pasrah sejak awal kalau akan lambat sampai finish. Buat saya, 2km awal dan 2km akhir itu adalah jarak kritis. Jadi harus pintar-pintar mengatur strategi nafas dan ritme kaki.

Begitu sampai finish, semua bersorak sambil menyebut nama saya. Sementara saya senyum-senyum simpul haha! Makanya saya menyebut lomba kali ini istimewa, karena punya pengalaman jadi peserta terakhir yang sampai finish. Ah tak mengapa, yang penting sampai juga dengan keadaan sehat karena ada dua peserta ditengah-tengah jarak tidak melanjutkan, karena kakinya kram. Jadi suami catatan waktunya 49 menit, sementara saya 1 jam 25 menit. Catatan waktu saya lebih lama dibanding yang tahun lalu. Sampai finish saya lalu minum dua gelas dan makan jeruk. Saking laparnya saya sampai nambah berkali-kali jeruk yang disediakan panitia. Setiap peserta diberi Flash Disk ketika sampai finish, sebagai kenang-kenangan.

Finisher 10 Km
10 Km Finisher

Saya suka baca buku di bawah ini, bercerita kisah orang orang yang tergerak untuk lari dengan tempo masing-masing sesuai kemampuan. Mengingatkan akan tempo saya sendiri.


Jadi itulah pengalaman lomba lari hari ini. Menyenangkan karena banyak kejadian yang bisa membuat senyum-senyum sendiri kalau diingat.
Cerita Akhir Pekan

Numpang sedikit tentang cerita akhir pekan selain lomba lari. Jadi hari sabtu, saya tiba-tiba kepengen klepon (lagi). Akhirnya saya buat klepon dalam porsi banyak karena untuk dikasih ke Mertua juga. Selain buat klepon, saya juga buat serundeng untuk persediaan. Lumayan bisa jadi teman makan atau ditabur pas makan salad. Saya kasih juga Serundeng ke Mama mertua karena Beliau suka sekali dengan Serundeng dan Klepon

Klepon
Klepon
Serundeng
Serundeng

Lalu makan siang kami, saya masak yang cepat saja. Tumis kangkung dan tempe penyet. Kami berdua suka sekali sambel penyet tempe. Tempenya dipanggang soalnya males goreng-goreng. Saking malesnya saya dengan goreng-goreng, minyal 1L selama 4 bulan masih ada separuh botol.

Penyetan tempe, tumis kangkung plus pete, serundeng, dan quinoa
Penyetan tempe, tumis kangkung plus pete, serundeng, dan quinoa

Pulang dari rumah Mama, kami mampir sepedahan di hutan dan tiduran sebentar di pinggir danau mumpung cuaca cerah dan matahari bersinar meskipun dingin. Anggap saja sedang menabung vitamin D.

Tidur pinggir danau.
Tidur pinggir danau.


Begitulah cerita akhir pekan kami. Minggu depan dari ramalan cuaca mengatakan kalau matahari bersinar sepanjang minggu. Yiayy!

Bagaimana cerita akhir pekan kalian? Semoga juga menyenangkan. Selamat hari Senin, selamat mengawali minggu dengan keceriaan. Semoga sepanjang minggu keberkahan selalu menyertai kita semua.

-Den Haag, 2 Oktober 2016-

Cerita Akhir Pekan – Kembali ke Dapur

Raw vegan cake. Tanpa gula, tanpa di oven, tanpa telur, dan gluten free.

Sudah lama ya rasanya tidak bercerita tentang kegiatan akhir pekan, kangen juga menuliskan di blog ini. Maklum, akhir pekan kami akhir-akhir ini selalu saja ada kegiatan yang menyita waktu, begitu minggu malam, rasanya ingin leyeh-leyeh saja. Setelah kami road trip ke Italia, minggu lalu saya pergi sendiri ke Berlin untuk kopdaran dengan beberapa blogger yang tinggal di Jerman (Beth, Mia, Mindy), Austria (Mbak Dian), dan Edinburgh (Anggi). Jadi ini semacam girls trip. Kami meninggalkan sejenak para suami di rumah. Cerita lengkapnya menyusul akan saya tuliskan, atau follow saja blog mereka karena nampaknya mereka yang akan terlebih dahulu menceritakan keseruan yang kami lalui di Berlin. Jika punya akun Instagram, bisa melihat foto-foto keseruan kami dengan hastag #mbakyuropdiberlin.

Dari kiri ke kanan : Mbak Dian, Beth, Anggi, Mia, Deny
Dari kiri ke kanan : Mbak Dian, Beth, Anggi, Mia, Deny
Beth, Anggi, Deny, Mindy, Mbak Dian. Foto dari kamera Mbak Dian.
Beth, Anggi, Deny, Mindy, Mbak Dian. Foto dari kamera Mbak Dian.

Akhir pekan ini kami tidak ada acara khusus. Karena sudah lama tidak memasak pada akhir pekan, saya merasa kangen dengan dapur. Rasanya ingin mencoba memasak sesuatu yang baru, tapi yang tidak ruwet. Sabtu pagi suami pergi ke gym setelahnya belanja di supermarket, saya di rumah bersih-bersih kamar. Tiba-tiba saya ingin makan pecel untuk makan siang karena persediaan bumbu pecel masih ada dan di kulkas stok sayuran masih bervariasi karena jumat sepulang kerja saya dan suami pergi belanja sayur dan buah. Akhirnya kami makan siang dengan pecel lauk perkedel tahu panggang. Ini sambel pecelnya sangat pedes, tapi mas Ewald doyan meskipun makannya sambil bercucuran air mata dan ingus keluar dari hidung saking pedesnya dan dia harus berkali-kali membersihkan ingus. Saya bilang kalau kepedesan tidak usah dihabiskan, tapi dia bilang pedasnya masih bisa diterima oleh lidahnya. Level pedes suami rasanya semakin hari semakin meningkat seiring istrinya tega selalu menyajikan makanan dengan rasa pedas πŸ˜€

Pecel dan perkedel tahu panggang
Pecel (sayurannya : daun basil, kecambah, sawi, buncis, ketimun, wortel) dan perkedel tahu panggang

Setelah makan siang, saya bersiap untuk membuat kue. Jadi suami malamnya ada acara dengan kerabat. Si empunya acara ini vegan. Setelah mencari resep kue vegan kesana kemari, akhirnya saya cocok dengan resep kue vegan yang ada di youtube ini karena bahannya tidak ruwet dan proses membuatnya tanpa dioven. Bahan kuenya : Tepung Almond (karena saya tidak paham tepung apa yang diterangkan di youtube tersebut, akhirnya saya ganti sendiri dengan tepung almond), air kelapa, kelapa parut, cocoa powder, vanilla extract, kurma (pengganti gula). Ini semua bahannya dicampur menggunakan tangan. Bahan isi dan lapisan luarnya : kurma, air kelapa, avocado, cocoa powder, vanilla extract, dan apel. Untuk takaran bahan-bahannya saya memakai ilmu kira-kira jadi tidak pakai timbangan. Ini baru pertama kali saya membuat kue vegan, dan tanpa di oven. Suami sempat bertanya,”kalau kuenya sudah jadi bisa dimakan?” Wah yo embuh ya mas, ora tau nggawe sebelumnya :D. Dan setelah jadi, taddaaa ternyata kuenya enaaakkk banget. Lembut, tidak terlalu manis, dan yang penting sehat dan tidak ruwet membuatnya. Kue vegan ini setengah loyang dibawa suami ke acara, dan mereka semua suka. Ah senang rasanya baru pertama membuat dan langsung sukses. Sementara suami di rumah berkali-kali buka tutup kulkas untuk makan kue ini. Dia ingin selanjutnya saya membuat kue vegan saja karena menurut dia rasanya lebih enak dibandingkan kue yang biasa saya buat. Saya yang memang tidak terlalu suka jenis kue yang manis, hanya memakan satu kali saja kue vegan coklat tersebut.

Raw vegan cake. Tanpa gula, tanpa di oven, tanpa telur, dan gluten free.
Raw vegan cake. Tanpa gula, tanpa di oven, tanpa telur, dan gluten free.
Raw vegan cake. Tanpa gula, tanpa di oven, tanpa telur, dan gluten free.
Raw vegan cake. Tanpa gula, tanpa di oven, tanpa telur, dan gluten free. Hiasan seadanya.

Sabtu malam saat suami tidak di rumah, saya tiba-tiba ingin makan Tom Yum. Saya ingat masih punya bumbu Tom Yum di kulkas yang saya buat sendiri. Tapi sayangnya saya tidak punya stok seafood. Akhirnya saya membuat Tom Yum isi sayuran : jamur, sawi, kecambah ditambah irisan cabe rawit. Sabtu malam kencan dengan Tom Yum sambil cekikikan melihat lagi foto-foto di Berlin.

Tom Yum isi kecambah, sawi, jamur.
Tom Yum isi kecambah, sawi, jamur.

Kami memulai minggu pagi seperti biasa dengan olahraga. Saya lari 5km, suami bersepeda 50km plus lari 8 km. Lalu saya sibuk di dapur menyiapkan makan siang, suami membersihkan wc dan kamar mandi. Sehari sebelumnya, saya sudah mencari resep pastel tutup karena memang belum pernah membuat dan masih ada stok kentang. Ternyata membuat pastel tutup itu gampang, tidak seruwet seperti yang saya bayangkan. Isi dari pastel tutup ini : wortel, sawi, buncis, jamur, soun, prei dan brokoli. Tinggal oseng-oseng isinya, masukkan di pinggan tahan panas, tutup dengan kentang rebus yang sudah dihaluskan, masukkan oven 190 derajat selama 22 menit. Setelah dicoba ternyata enaakk rasanya, meskipun kentangnya tidak memakai susu, keju ataupun telur. Kentangnya saya campur dengan sedikit tepung supaya agak merekat. Suami suka dengan pastel tutup ini. Hanya satu kritiknya, kok ga dikasih cabe. Duh mas, lidahmu kok lebih mengIndonesia sekarang, apa-apa harus pedas :p. Sisa adonan kentangnya saya buat perkedel panggang untuk lauk suami makan siang di kantor. Dan inilah penampakan pastel panggang pertama saya. Kami makan 3/4 loyang dan selebihnya saya bagi ke Mama mertua.

Pastel tutup isi wortel, soun, jamur, buncis, prei
Pastel tutup isi wortel, soun, jamur, buncis, prei
Pastel tutup isi wortel, soun, jamur, buncis, prei
Pastel tutup isi wortel, soun, jamur, buncis, brokoli, dan prei

Setelah makan siang dan kekenyangan pastel panggang, suami melanjutkan aktivitas menyapu dan membersihkan karpet sementara saya menjemur baju. Sekitar jam 3 kami pergi ke toko tanaman untuk membeli beberapa bunga karena bunga-bunga yang ada di rumah mati semua selama kami tinggal liburan. Setelah dari toko tanaman kami ke rumah Mama. Saya membawa pastel tutup dan kue vegan coklat. Setelah dicoba Mama, beliau sukaa sekali pastel tutup dan kue vegan coklat tersebut. Wah saya girang bukan kepalang. Mama adalah penikmat masakan saya yang paling jujur. Kalau masakan saya tidak enak, beliau akan bilang tidak enak dan makanan saya selebihnya akan dikembalikan. Untung saja selama ini baru satu kali masakan saya yang dibilang tidak enak dan dikembalikan. Kalau tidak salah semur tempe. Selebihnya beliau suka, bahkan tumis pare pete pedes pun beliau suka. Beliau ini suka makanan pedas. Kalau akhir pekan saya memang memasak agak banyak agar Mama juga bisa ikut makan masakan saya. Kalau saya sedang tidak bisa main ke rumah Mama, maka makanan akan saya titipkan pada suami karena suami setiap minggu pasti ke rumah Mama.

Setelah dari rumah Mama kami mengayuh sepeda diiringi angin yang super kencang, gerimis, dan mendung yang memang menggelayut sejak pagi. Musim panas di Belanda matahari muncul hanya sesekali. Selebihnya tetap mendung, hujan dan angin kencang. Akhir pekan kami tutup dengan berbincang ditemani kerupuk, teh jahe, kue coklat vegan dan mendung. Akhir pekan yang menyenangkan karena saya akhirnya kembali lagi ke dapur. Memasak selalu membuat saya bahagia.

Bagaimana cerita akhir pekan kalian?

-Den Haag, 7 Agustus 2016-

Akhir Pekan Ceria

Cantik ya, jambulnya dong ga nahan :D

Sesuai dengan judulnya, akhir pekan yang kami lalui memang ceria dalam arti sebenarnya. Tentu saja ceria disini berhubungan dengan cuaca. Nyaris seminggu kabut selalu turun pagi hari dan sore hari. Memang tidak terasa terlalu dingin karena kami kalau keluar rumah tidak menggunakan jaket, tapi tetap saja rasanya kelabu kalau melihat kabut yang turun. Bukan hanya kabut, hujan juga berhari-hari mengguyur. Tidak terus-terusan turun hujan di tempat kami tinggal, tetapi tetap saja perlu membawa peralatan perang kalau hujan.

Kabut pekat
Kabut pekat

Tetapi akhir pekan cuaca mulai membaik. Lumayan sabtu dan minggu sinar mataharinya terik dengan suhu sekitar 25 derajat celcius. Kesempatan ini tentu saja tidak kami sia-siakan dengan bersepeda menyusuri rute yang baru dan berjalan-jalan di hutan. Kalau cuaca cerah begini senang melihat oarang-orang giat beraktivitas di luar rumah. Ada yang berperahu, memancing, berenang di danau, anak-anak kecil bermain air di halaman rumah, berjemur di taman, membaca buku, jalan-jalan di hutan, duduk dipinggir danau, berolahraga, dan masih banyak aktivitas lainnya. Kalau cuaca sedang cerah, semua orang berbondong-bondong keluar rumah.

Cantik ya, jambulnya dong ga nahan :D
Cantik ya, jambulnya dong ga nahan πŸ˜€

Dengan cuaca seperti ini, enak sekali bersepeda atau berjalan-jalan di hutan. Rasanya segar meskipun saya merasa agak gerah. Sampai diledek suami “gaya kamu berasa gerah, nanti bagaimana kalau liburan ke Indonesia, bisa-bisa uring-uringan :p” padahal tahun kemarin saat awal datang ke Belanda saya selalu uring-uringan karena udara dingin sekali. Hampir 1.5 tahun setelahnya keadaan menjadi berbalik.

Dalam hutan. Jalan-jalan begini dalam bahasa Belanda namanya wandelen
Dalam hutan. Jalan-jalan santai dengan jarak agak jauh kalau dalam bahasa Belanda namanya wandelen.
Sesuatu ini beneran ngagetin. Kami kira ada orang pingsan ditengah hutan. Saya malah mau lari saja, mikir film-film horor gitu. Tapi setelah didekati suami katanya gundukan tanah biasa. Duh, bikin jantungan!
Sesuatu ini beneran ngagetin. Kami kira ada orang pingsan ditengah hutan. Saya malah mau lari saja, mikir film-film horor gitu. Tapi setelah didekati suami katanya gundukan tanah biasa. Duh, bikin jantungan!

Ada hal yang menggangu ketika jalan-jalan, yaitu serbuk sari (pollen) yang beterbangan. Untung kami tidak punya alergi terhadap serbuk sari atau bunga tertentu, jadi tidak bersin-bersin dan pilek. Tapi tetap saja risih masuk ke hidung. Jadi rasanya ketika jalan-jalan seperti ada salju beterbangan. Dimana-mana putih warnanya. Membuat kotor rambut juga, menempel. Kalau punya alergi terhadap rumput, serbuk sari dari bunga, tumbuhan namanya hooikoorts. Biasanya sering muncul kalau bunga-bunga mulai mekar

Pollen (serbuk sari)
Pollen (serbuk sari)
Geli sebenarnya lihat gini. Ini seperti bekicot tapi ga ad cangkangnya. Namanya Slak. Nyaris saja keinjak saking kecilnya ditengah jalan
Geli sebenarnya lihat gini. Ini seperti bekicot tapi ga ada cangkangnya. Namanya Slak. Nyaris saja keinjak saking kecilnya ditengah jalan
Nongkrong pinggir danau
Nongkrong pinggir danau

Kalau cuaca panas begini rasanya ingin minum yang dingin-dingin. Inginnya minum es degan sih atau dawet trus duduk-duduk di bawah pohon sambil makan rujak super pedes. Tapi adanya es krim πŸ˜€ awalnya kami akan ke Ikea membeli es krim karena es krimnya enak dan murah meriah. Tapi di tengah jalan menuju Ikea kami menjumpai ada yang jual es krim rumahan. Mas Ewald bilang untuk beli disini saja, “kita beli disini saja. Kan membantu orang yang punya usaha sendiri.” Aduh, tersentuh mas dengan ucapanmu :D. Es krimnya enak, rasanya pas.

Beli es krim pinggir jalan (ya kalau ditengah jalan nabrak dong *kriikk krikk)
Beli es krim pinggir jalan (ya kalau ditengah jalan nabrak dong *kriikk krikk)
satu cone begini harganya 1 euro. Rasanya enak banget, haus soalnya
satu cone begini harganya 1 euro. Rasanya enak banget, haus soalnya πŸ˜€
Unik ya rumahnya. Yang punya rumah sedang berkebun ditemani anjingnya. Trus kami bertanya nama bunganya apa kok unik bentuknya
Unik ya rumahnya. Yang punya rumah sedang berkebun ditemani anjingnya. Trus kami bertanya nama bunganya apa kok unik bentuknya
Bunga
Bunga Digitalis purpurea. Bunganya seperti lonceng. Ini karena pakai kamera Hp jadi kalau diperbesar pecah.

Akhir pekan saya tidak terlalu heboh masak. Sabtu menunya gudeg sudah ada persediaan, masak yang banyak untuk persediaan bulan puasa, persiapan kalau malas masak melanda. Sedangkan minggu masak stamppot yang merupakan makanan tradisional Belanda. Stamppot ini identik dengan makanan musim dingin, tapi bisa juga dimakan segala musim. Stamppot adalah kentang direbus yang ditumbuk halus bersama sayuran lainnya (biasanya wortel, kale, atau zuurkool-kubis asin-) ditambah keju, margarin, lauknya sausage. Selain dengan sayuran, bisa juga digunakan buah.

Gudeg, pindang telur, ikan asin, nasi coklat, sambel
Gudeg, pindang telur, ikan asin, nasi coklat, sambel

Yang saya masak adalah stamppot modifikasi, vegetarian. Kentang diganti ubi saya tumbuk bersama ujungnya venkel. Diatas kentang saya taburi dengan bawang yang dicampur dengan balsamic. Sayurnya venkel, asparagus, wortel, jagung kecil. Lauknya perkedel tahu yang dipanggang dan tempe yang dibentuk burger dan dipanggang juga. Ini mengenyangkan sekali tapi enak rasa ubi tumbuknya.

Stamppot
Stamppot ubi lauk perkedel tahu panggang. Bebas minyak
Stamppot lauk tempe dibentu burger trus dipanggang. Tanpa minyak
Stamppot ubi lauk tempe dibentu burger trus dipanggang. Tanpa minyak

Selamat puasa hari pertama. Semangaatt!

-Den Haag, 6 Juni 2016-

Semua foto adalah dokumentasi pribadi

Cerita Akhir Pekan dan Ulang Bulan Perkawinan

Japanse Tuin

Akhir pekan kami dipenuhi oleh cerita makan-makan dan dan kumpul-kumpul bersama keluarga serta kedatangan tamu istimewa. Dimulai dari Jumat malam, saya dan suami kedatangan tamu, seorang blogger bersama suaminya yang sedang liburan beberapa hari di Belanda. Saya sudah mengenal dia sejak awal mempunyai blog ini. Saya selalu suka dengan ceritanya diblog, dengan cara bertutur yang segar juga foto-foto yang bagus, terutama kalau sedang mengulas makanan. Karenanya, begitu dia mengabari dua bulan sebelumnya kalau akan menginap di Den Haag, saya menawari untuk mampir ke rumah dan makan malam bersama.

Setelah pulang kerja, saya mulai memasak. Karena tidak punya banyak waktu, akhirnya saya membuat yang gampang-gampang saja. Ikan bakar, nasi liwet, tumis kangkung, tahu tempe goreng, sambel dabu dabu, oseng pedes teri asin pete, ayam panggang dan tidak lupa krupuk. Penampakan masakannya tidak ada, males mendokumentasikan karena sudah lapar. Atau saya ketularan males, karena blogger yang saya undang ke rumah kali ini tidak suka mandi, alias males mandi. Iya, yang mengunjungi saya adalah Dita, pemilik blog Males Mandi. Dita seru orangnya meskipun awalnya masih malu-malu πŸ˜€ dan ternyata suaminya satu satu kampus dengan saya, jadilah kami reuni kecil-kecilan mengenang kampus dan sekitarnya, terutama warung-warung yang jual makanan murah *tetep lho omongannya ga jauh dari makanan πŸ˜€.

AKhirnya ketemu Dita
Akhirnya ketemu Dita

Sebenarnya bukan kali pertama saya kopdaran dengan blogger yang sedang berlibur di Belanda dan mengundang mereka ke rumah. Sebelumnya rumah kami pernah kedatangan Chocky, Safitri, Arievrahman dan istrinya. Tidak semua yang saya kenal diundang ke rumah dan makan malam bersama, tergantung kedekatan saja. Kalau dengan Safitri saya memang sudah kenal lama, sejak masih kerja di Jakarta. Kenal Chocky karena saya memaksa dia untuk membawa titipan buku. Eh, tapi Dita dan Safitri juga sama sih, saya modus menitip buku ke mereka *terima kasih yaa sudah mau direpoti untuk membawa titipan buku.

Chocky dan Safitri
Chocky dan Safitri. Duh foto dengan Safitri kucel, maklum pulang sekolah.
Fotonya nyolong dari twitter @Arievrahman
Fotonya nyolong dari twitter @Arievrahman

Sabtu dan minggu adalah acara kumpul keluarga. Sabtu ada acara ulang tahun ipar, jadinya kami makan-makan disana. Jangan membayangkan kalau orang Belanda ulang tahun makanannya berlimpah. Makanannya porsinya imut imut dan terbatas (secukupnya). Tapi karena keluarga suami ini suka makan, saya melihat perkecualian. Kalau ada anggota keluarga yang ulang tahun, makanannya berlimpah. Banyak sekali sampai kami sering dibekali untuk dibawa pulang.

Hari minggu adalah Hari Ibu di Belanda. Karenanya, saya dan suami mengunjungi Mama. Ternyata disana sudah ada anggota keluarga yang lain. Setelah memberikan kado kepada Mama, acara makan dimulai. Senang kalau acara kumpul keluarga seperti ini, salah satu wadah saya memperlancar bahasa Belanda juga karena bisa ngobrol dengan mereka menggunakan bahasa Belanda.

Keesokan harinya tepatnya Senin, karena sedang libur kerja saya menemani Dita dan suaminya keliling Den Haag, salah satunya ke Japanese Garden. Entah kenapa saya selalu suka ke tempat ini, mungkin karena bisa merasakan tenang dan damai, dengan melihat bunga-bunga dan mendengar merdu suara burung, melihat angsa berenang didanau taman Clingendael. Suami Dita sampai berkali-kali memuji tempat ini (dan tentu saja membandingkan dengan Jakarta :D). Japanse Garden buka dua kali dalam satu tahun yaitu pada saat musim semi dan musim gugur. Saya pernah menuliskan cerita tentang Japanese Garden sebelumnya disini.

Japanse Tuin
Japanse Tuin

Setelah berkeliling ke beberapa tempat dan Dita mencoba makan pertama kali khas Belanda, kami akhirnya makan di restaurant Indonesia. Maklum, dia sudah lebih dari seminggu tidak makan sesuatu yang beraroma Indonesia, karenanya saya bawa kesini. Tentu saja dia kalap, ingin makan ini dan itu. Lumayan bisa menjadi tombo kangen makanan Indonesia karena acara liburannya masih panjang di beberapa negara. Kami memesan rujak cingur, es cendol, mie ayam, es teh manis, kerupuk, dan es jus sirsak.

Rujak cingur tanpa cingur (saya hibahkan ke suami Dita) dan es cendol
Rujak cingur tanpa cingur (saya hibahkan ke suami Dita) dan es cendol.

Senin kemarin merupakan ulang bulan perkawinan kami dan setiap bulan juga pasti kami merayakannya. Kadangkala kami merayakan dirumah atau kalau memang ada waktu, kami merayakan diluar rumah. Terkadang kami merayakan dengan makan, atau sekedar menonton film di Bioskop atau merayakan dengan belanja buku bersama. Untuk bulan ini kami merayakan ulang bulan perkawinan sekaligus ada kabar bahagia dengan makan di restoran Lebanon. Setelah berpisah dengan Dita, saya menunggu suami sampai jam kantor selesai di perpustakaan pusat kota Den Haag. Saya sering menghabiskan waktu disini kalau sedang janjian dengan suami pada saat jadwal kencan kami. Lumayan bisa membaca buku sekalian ngadem. Kapan-kapan akan saya bahas tentang tempat favorit kami berkencan, yaitu segala macam toko buku dan perpustakaan. Kami bisa menghabiskan waktu berjam jam kalau sudah nongkrong di toko buku dan perpustakaan.

Perpustakaan kota Den Haag
Salah satu lantai di Perpustakaan pusat kota Den Haag
Makan di restoran Lebanon. Lumayanlah rasanya meskipun tidak Wow
Makan di restoran Lebanon. Lumayanlah rasanya meskipun tidak Wow
Sesekali pasang foto berdua, mumpung keduanya lagi mood selfie :D
Sesekali pasang foto berdua, mumpung keduanya lagi mood selfie πŸ˜€

-Den Haag, 10 Mei 2016-

Catatan Akhir Pekan : Membuat Pempek

Hasil Pempek

Sejak kamis malam entah kenapa saya tiba-tiba terbayang pecel tumpang Nganjuk. Kangen sekali rasanya ingin makan pecel Nganjuk yang super pedas diberi sambel tumpang, sambel goreng tahu tempe dan peyek teri yang ditata dipincuk daun. Biasanya saya membeli ditetangga Mbah Putri yang menjual nasi pecel. Setelah makan pecel tumpang dilanjutkan makan bubur sumsum. Menulis ini saja saya harus menahan air liur yang hampir menetes. Makanan sederhana tetapi menjadi istimewa jika jauh seperti ini. Karena persediaan sambel pecel saya habis dan masih belum ada mood untuk membuatnya, akhirnya saya hanya membawa khayalan makan nasi pecel tersebut ke dalam tidur, siapa tahu didalam mimpi kesampaian bisa makan pecel tumpang Nganjuk lengkap dengan bubur sumsum, yang nyatanya saya malah mimpi liburan.

Jumat sepulang kerja, dalam keadaan basah karena kehujanan, sambel pecel tiba-tiba datang lagi sekelebat didalam pikiran. Daripada terus dihantui perpecelan ini akhirnya saya mampir ke toko Indonesia dekat rumah untuk membeli kacang sambel. Sebelumnya saya mampir ke supermarket untuk membeli beberapa sayuran. Ketika melewati rak ikan, mata saya tiba-tiba tertuju pada ikan pangasius yang sedang diskon 50% seberat 250gr. Wah, lumayan pikir saya. Saya berpikir sebentar, bisa dibuat apa ya ikan pangasius ini. Lalu saya teringat kalau ikan pangasius ini bisa menggantikan ikan tengiri untuk membuat pempek. Tanpa berpikir panjang saya langsung membeli ikan tersebut, niatnya ingin bereksperimen membuat pempek menggunakan ikan untuk pertama kali. Entah kenapa saya menjadi lupa tujuan awal ingin mampir ke toko Indonesia, setelah sampai rumah baru teringat niat awalnya ingin membuat sambel pecel lha kok malah belok ingin membuat pempek *duassaarr. Saat suami sampai rumah, saya sampaikan rencana besar dihari sabtu untuk membuat pempek. Dia hanya senyum-senyum melihat saya bersemangat, mungkin dalam hatinya bilang “mudah-mudahan tidak gagal ya” karena ini pertama kali membuat pempek.

Sabtu jam 9 pagi saya mulai menyiapkan peralatan memasak, kemudian mencari resep pempek di youtube. Iya saya baru mencari resepnya pagi itu. Akhirnya saya mengkombinasikan resep yang saya dapat dari masak.TV dan resep pempek dos. Setelahnya saya baru mempersiapkan bahan-bahannya, yang untungnya masih punya persediaan tepung tapioka dan tepung terigu. Saya tidak mengikuti takaran resep yang sudah ada, hanya memakai ilmu perkiraan saja, yang penting takaran untuk tepung terigu setengahnya tepung tepioka. Itupun saya hanya memakai takaran sendok bukan ditimbang. Setelah menggiling ikan, memasukkan telor dan air, kemudian diaduk lagi, tepung mulai dimasukkan. Setelahnya drama dimulai. Rupanya saya terlalu banyak memasukkan air. Akhirnya setelah tepung tapioka didalam wadahnya habis, adonan masih terasa lembek. Saya terdiam sejenak, memikirkan apa yang musti dilakukan. Disaat seperti itu saya merindukan warung atau toko pracangan di Indonesia. Kalau ada yang kurang ditengah memasak, bisa langsung melipir ke warung. Yang sedihnya disini tidak ada, dan masak iya saya harus menunggu toko Indonesia dekat rumah buka dulu jam 12 siang, keburu adonannya ngambek :D.

Saya masuk ke gudang, membongkar segala persediaan disana, berharap terselip tepung tapioka. Kenyataannya saya malah menemukan tepung beras ketan sisa membuat wingko babat. Akhirnya saya nekat memasukkan tepung beras ketan kedalam adonan sebagai gantinya tepung tapioka, logikanya kan sama-sama memadatkan fungsi kedua tepung tersebut. Saya sebenarnya tidak yakin pada logika saya tersebut, sampai pada proses terakhir direbus dan setelah didinginkan, saya coba mencicipi dengan mengiris sedikit. Wah, ternyata rasanya enak *huahaha dipuji sendiri, tapi memang benar rasanya enak, strukturnya tidak keras, lumayanlah untuk ukuran pertama kali membuat pempek yang diselingi drama kehabisan tepung. Beralih ke proses membuat cuko yang juga agak drama. Dari resepnya salah satunya dibutuhkan ebi. Karena tidak punya ebi, tetapi menurut masak.tv juga diperlukan tongcay, saya punyanya hanya tongcay. Jadilah saya hanya menggunakan tongcay, asam jawa dan cukapun hanya tinggal sedikit yang tersisa dari persediaan. Ya dari sisa-sisa tersebut saya mengolah cuko sedemikian rupa, hasilnya enaak sekali sesuai yang saya harapkan.

Hasil akhirnya saya bisa membuat 6 porsi pempek. Lumayan mengiritlah dibanding harus beli, jadinya sekarang punya persediaan, kalau kepengen tinggal menggoreng dari yang tersimpan di freezer. Karena terharu berhasil membuat pempek pertama kali, saya langsung kirimkan fotonya ke Puji, maklum dia yang selalu bersemangat “ngomporin” saya sejak dulu untuk membuat pempek sendiri dan mengatakan kalau membuat pempek itu mudah. Ternyata memang mudah, kalau tidak diselingi drama haha. Tarrraa, Inilah pempek pertama buatan saya yang dinikmati bersama suami πŸ™‚ Karena euforia, siang dan malam saya makan pempek :p

Hasil Pempek
Hasil Pempek lenjer. Bagaimana, lumayan kan? πŸ˜€

Hari minggu seperti biasa hari memasak. Karena memang sedang malas, akhirnya saya masak yang gampang-gampang saja untuk lauk beberapa hari kedepan. Saya membuat perkedel panggang. Resepnya sama seperti perkedel biasa, tapi karena malas menggoreng dan malas membentuk bulat-bulat, akhirnya saya panggang saja. Lebih praktis dan mengurangi penggunaan minyak. Suami juga lebih senang perkedel panggang karena lebih sehat tanpa minyak.

Perkedel panggang
Perkedel panggang

Hari minggu ini suami mengikuti lari half marathon (21km) yang diadakan di Den Haag bernama CPC Loop. Tahun lalu kami ikut acara ini bersama, ceritanya pernah saya tulis disini. Tahun ini saya sudah mempersiapkan diri untuk ikut yang 21km juga. Saya sudah mendaftar, sudah latihan selama beberapa bulan, tetapi karena suatu kondisi akhirnya saya harus merelakan tidak bisa mengikuti half marathon. Sedih rasanya, padahal impian saya bisa ikut berlari bersama suami dan karena sudah latihan juga. Tetapi memang tidak bisa dipaksakan karena skala prioritas. Akhirnya suami pergi sendiri. Seperti biasa sebelum lomba lari, dia akan makan spaghetti. Saya memasak spaghetti, dengan sausnya ditambahi jamur dan wortel kemudian ditaburi keju, disajikan bersama daun basil. tomat dan paprika. Menurut dia enak sekali, sampai nambah *enak opo luwe mas :D.

Spaghetti saus tomat wortel dan jamur disajikan dengan taburan keju, paprika, daun basil, dan tomat.
Spaghetti saus tomat wortel dan jamur disajikan dengan taburan keju, paprika, daun basil, dan tomat.

Sedangkan makan siang saya dengan lodeh pedes. Angan-angannya sih membuat lodeh mangut, tapi kan disini tidak ada. Akhirnya mangutnya diganti makarel asap. Rasanya nyaris sama lho, ada sangitnya. Menu begini saja bisa nambah nasi berkali-kali :D.

Lodeh pedes tempe, makarel, pete.
Lodeh pedes tempe, makarel, pete.

Setelah suami berangkat lari, saya melanjutkan belajar bahasa Belanda. Menjelang sore, saya mulai penat belajar, akhirnya melanjutkan membaca buku A Simple Life. Saya suka sekali isi buku ini karena yang ditulis oleh Desi Anwar tidak jauh-jauh dari kehidupan kita sehari-hari. Meskipun menggunakan bahasa Inggris, tetapi kalimatnya mudah dipahami. Seringnya saya manggut-manggut kalau menemukan bagian-bagian yang “menohok” ataupun senyum-senyum kalau membaca bagian yang “lho ini kan aku banget.” Buku yang sangat saya rekomendasikan untuk dibaca. Buku Desi Anwar ini adalah buku ke 10 yang saya baca ditahun 2016 ini. Sedang deg-degan nih menunggu IEP datang *padahal kalau sudah datang juga belum tahu kapan dibacanya πŸ˜€.

A Simple Life by Desi Anwar
A Simple Life by Desi Anwar

Begitulah cerita akhir pekan saya dan suami. Oh iya, suami bisa menyelesaikan 21km dengan catatan waktu 1 jam 50 menit. Kata dia lebih cepat 4 menit dibandingkan tahun lalu. Mudah-mudahan tahun depan saya bisa ikut 21km bersama dia dan tidak ada kendala.

Bagaimana cerita akhir pekan kalian? Mudah-mudahan berkesan juga ya. Sedang membaca buku apa saat ini?

Semoga minggu ini dilancarkan segala urusan dan dimudahkan segala yang diharapkan. Selamat hari Senin.

-Den Haag, 6 Maret 2016-

Semua foto adalah dokumentasi pribadi