Cerita Seru Potluck

Saat di Jakarta, saya sering diajak grup Peucangers (teman2 backpackeran yang ketemu di pulau Peucang) untuk potluck. Seringnya sih ngumpul di taman Suropati. Selain memang tempatnya nyaman, sekalian saya bisa melihat pemuda pemudi yang main alat musik hari minggu pagi.

Sebenarnya potluck bukanlah hal yang baru buat saya karena sewaktu masih di Surabaya pun juga sering mengadakan potluck dengan teman-teman kampus. Cuma waktu itu menyebutnya bukan potluck melainkan : nggowo dewe-dewe yo rek panganane. Haha ga ringkes ya, kedawan (terlalu panjang). Tapi ya intinya sama, bawa makanan sendiri-sendiri lalu dimakan bareng dengan bawaan kawan lainnya.

Nah selama di Belanda, sudah tak terhitung berapa kali saya ikut dalam acara potluck. Bukan hanya dengan sesama orang Indonesia, tapi juga dengan kolega-kolega di tempat saya kerja dulu. Serunya kalau dengan kolega-kolega, kami bisa saling mencicipi masakan dari berbagai negara karena kolega saya tidak hanya berasal dari Belanda, ada juga yang dari Iran, Turki, Thailand, Irlandia, Kenya, Suriname, dan beberapa negara lagi tapi lupa mana saja. Wah itu masakan yang dibawa enak-enak. Kalau cuaca cerah, kami duduk-duduk di taman belakang rumah jompo. Lesehan gitu. Guyub rasanya. Saya yang memang selalu penasaran dengan makanan dari negara lain, selalu bawel bertanya tentang namanya, bahan masaknya apa saja, cara masaknya bagaimana dan tradisi memakannya di negara asal seperti apa. Seru sekali.

Potluck di Rotterdam
Potluck di Rotterdam

Kalau dengan sesama orang Indonesia juga tidak kalah seru. Karena bukan hanya suku Jawa peserta potlucknya, makanan yang dibawa juga bervariasi. Ada makanan Jawa Timur, Manado, Jawa Barat, Sumatera, Aceh, sampai Kalimantan. Lengkap. Nah inipun tidak kalah serunya karena kami bisa saling bertukar resep ataupun menyimak bagaimana proses memasaknya. Di Belanda, kumpul-kumpul yang paling enak memang kalau di rumah, lebih bebas dan tak terbatas waktu (ya ga mungkin sampai dini hari sih haha). Bisa juga disepakati kumpul di taman atau pinggir danau. Intinya bukan di mall atau restoran karena konsepnya bukan lagi potluck melainkan njajan

Kalau potluck begini, biasanya memang dibahas dulu siapa akan membawa apa. Semampu dan sebisanya saja. Fungsinya dibahas sebelumnya adalah untuk menghindari menu yang sama dan juga supaya tidak terlalu bentrok antara satu menu dan lainnya. Jadi saling melengkapi. Nah membahas menu ini juga menyenangkan karena akan menimbulkan perut keroncongan padahal rencana potlucknya masih 4 bulan yang akan datang.

Baru-baru ini saya dan beberapa teman mengadakan potluck yang bertempat di rumah kami. Pesertanya sih hanya 6 orang ya (plus anak-anak dan para suami), tapi makanan yang dibawa bisa untuk makan satu kampung haha saking banyaknya. Meja makan di rumah sudah lumayan besar, bisa untuk 8 orang, masih saja tidak cukup menampung makanan-makanan yang dibawa. Luar biasa memang semangat Ibuk-ibuk ini membawa makanan. Silahkan dizoom saja untuk melihat menunya apa saja. Kalau saya daftar, nanti malah panjang jadi buku berseri.

Potluck di rumah kami
Potluck di rumah kami

Empat diantaranya adalah blogger. Ya peserta tetap yang sering ketemuan. Yayang, Anis, Maureen, dan dua lainnya juga peserta tetap yaitu Rurie dan Asri. Karena masih dalam suasana hari Paskah, Rurie mengadakan permainan mencari coklat telur. Ini juga lumayan seru, anak-anak bersemangat sekali mencari coklat telur yang disembunyikan. Sayang cuaca saat itu tidak terlalu cerah di luar, jadinya kami hanya duduk dan ngobrol di dalam rumah.

Peserta Potluck
Peserta Potluck

Yang paling menyenangkan kalau ada acara kumpul-kumpul begini ya apalagi kalau bukan bungkus membungkus makanan. Lumayan kan jadi bisa bawa pulang beraneka jenis makanan. Apalagi saya sebagai tuan rumah, sampai 4 hari berturut tidak masak. Mengandalkan makanan hasil potluck haha. Jadi merasa orang paling kaya sedunia karena punya berbagai jenis makanan.

Kami sudah merencanakan untuk potluck selanjutnya summer nanti di ruang terbuka alias di alam. Sudah tidak sabar rasanya, karena menu-menunya juga enak-enak dan tempatnya nampak menyenangkan. Mudah-mudahan cuacanya benar-benar musim panas. Bukan musim gugur berkedok musim panas.

Kalian ada cerita seru juga tentang Potluck?

-Nootdorp, 22 Mei 2019-

16 thoughts on “Cerita Seru Potluck

    1. Tosss lagi Shin. AKu nih tukang sapu bersih. Asal disuruh bungkus aja, ga sungkan2 bungkusnya. Soalnya akupun biasanya bawa banyak

    1. Nah Persis Nel! aku kalau bungkus, sebisa mungkin makanan yang aku ga bisa atau males masaknya. Lalu bungkusnya banyakin :)))

  1. Ini potluck ber-6 aja, makanannya meriah banget yaaaa eh tapi ada anak2 dan para suami juga sih yaa.. seru banget yah Deny, ngumpul2 sama beberapa temen blogger juga..
    di Blenheim sini, jarang potluck, karena jarang ketemuan yang rame2.. cuma ini bakalan ada yang open house pas Lebaran besok, jadi gak sabaran deh aku hahaha..

    1. Sebenarnya suami yang ada cuma dua sih. Ewald sama suaminya Rurie haha tetep aja makanannya berlimpah. Anak2 kicik pun yang dimakan cuma ayam kan.

      Waahh seruuu Inly open house lebaran. Cerita yaaa di blog. Seneng aku baca cerita2 kumpul2 di LN

  2. Ituuuu kaleng krupuk birunya amu naksiiiiir Salah fokus hahaaaa! Dsini juga suka ada potluck Den, kalo aku lebih sering bawa kue or dessert lah krn yg bawa makanan uda banyak

    1. Haha Ria, itu kaleng kerupuk beli di Belanda. Yang pasti harganya aduhaiii bikin pusing. Tutup mata sajalah karena memang kepake. Serumah suka kerupuk semua.
      Bener Ria, kalau Potluck, yang sering kelewat itu dessert nya. Saking bersemangat mikir menu utama

  3. Iya.. Aku yg bawa pulang macam2 aja berasa kaya.. Apalagi tuan rumah wkwkwk… Mau lagiiiii ^^ kalau di Indonesia tiap acara potluck aku blm pernah masak sendiri, tinggal mesen atau beli deh, ternyata lebih seru masak sendiri ya bisa ngobrolin resep ngga cuma pamer list go food..

    1. Hahaha bener, sampai kulkas ga sedeng.

      Tapi aku ya pengen sesekali potluck tinggal beli gitu. Ora ruwet, tapi jadi ga ada tantangannya ya *tsaahh!

  4. Mbaaa…kaleng dua putrinya sungguh eye catching 🙂 itu beneran isinya krupuk terung kah? :))

    Iya, paling enak ketemuan emang di rumah. Sensasinya lain. Lebih ayem tentrem gitu meskipun memang jadinya nyonya rumah harus repot isah-isah 😀

    1. kerupuk biasa, bukan terung.
      Kalau isah2 nggak karena ada mesin cuci piring. Tapi males berantakan setelahnya :))) makanya aku jarang ngadain acara di rumah

  5. Aduh serunya Den, ngiler aku lihat makanan2nyaa… kalau aku disini dan teman2 Indonesia kalau potluck modelan Jakarta masih, alias beli sendiri hahaha, menunya seringkali ayam goreng pakai nasi, itu aja udah cukup membuat kami senang soalnya jarak rumah kami jauh – jauh jadi seringnya ketemu di restoran di tengah2. Nah, tapi beda kisahnya kalau ada acara di rumah sodaranya R.. itu baru dehh tante – tante pada sibuk masak, kita sih golongan “anak2” alias aku, R dan sepupu2 nya kebagian makan dan bungkus aja hehehehe 😀

    1. Waahh juara memang kalau para tante yang masak. Serahkan pada ahlinya kalau gitu ya haha. anak2 mudanya bagian bungkus saja

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.