Kisah Hari Ibu

Hari Ibu di Belanda dan beberapa negara Eropa (atau mungkin di benua lainnya juga) dirayakan setiap hari minggu, pada minggu kedua dibulan Mei. Jadi tanggal 12 Mei adalah Hari Ibu ditahun 2019. Dengar-dengar tradisi di Belanda kalau hari Ibu, anggota keluarga yang lain akan membuatkan sarapan dan mengantarkan ke tempat tidur. Ibu memakan sarapan tersebut di sana. Lalu seharian, Ibu akan bebas tugas (bebas memasak terutama) mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Meskipun saya mendapatkan hadiah, tapi hari Ibu di rumah kami tak ada bedanya dengan akhir pekan pada umumnya. Hari minggu waktunya leyeh-leyeh. Semua bangun siang, kecuali suami yang sudah lari pagi dan pergi ke gym sejak jam 6 pagi. Setelah suami datang dari Gym, sekitar jam setengah 9 kami sama-sama makan di ruang makan. Jadi tidak ada sarapan yang diantarkan ke tempat tidur (padahal ngarepnya yang diantarkan adalah bubur ayam, nyatanya ya sarapan roti seperti biasa). Untuk bebas tugas masak, memang betul. Bukan karena hari Ibu tapi karena hari Sabtu ada undangan ulang tahun anaknya Astrid dan hari minggunya ditraktir suami makan di restoran. Ya jadinya akhir pekan bebas masak.

Setelah bersiap, kami pergi jalan-jalan ke Clingendael. Seperti biasa kalau Taman Jepang waktunya dibuka untuk umum, kami tak pernah melewatkan untuk berkunjung. Walaupun ya isinya tetap sama, entah kenapa kami selalu saja kesana, dua kali setahun. Tak pernah bosan mengunjungi Japanse Tuin.

Japanse Tuin
Japanse Tuin

Kami melewatkan pagi dengan berjalan menyusuri taman di Clingendael. Mendengarkan kicau burung yang saling bersahutan, melihat keluarga yang saling bersenda gurau, menyapa oma opa yang semangat berolahraga, seorang Bapak yang menggandeng tangan anaknya, maupun sepasang kekasih yang saling bergenggaman tangan

.

Clingendael

Hari Ibu mengingatkan akan hubungan saya dengan Ibu yang tak pernah baik-baik saja, bahkan sampai saat ini. Kami saling menyayangi dengan cara yang tidak biasa. Walaupun begitu, saya mencoba berdamai dengan hal tersebut, mencoba semaksimal mungkin selesai dengan hal-hal yang memberatkan langkah saya. Apa yang telah terjadi pada saya dan Ibu, memberikan banyak pelajaran berharga pada saya yang saat ini sudah mempunyai keluarga. Yang baik akan saya pertahankan, yang buruk akan saya singkirkan. Dan saya akan melangkah dengan cara saya sendiri. Luka yang pernah ada, coba saya obati dan sembuhkan perlahan.

Clingendael

Kami makan siang di restoran yang terletak di pusat kota. Sembari menunggu saya selesai makan, suami pamit sebentar ke supermarket. Mau membeli roti katanya.

Tak berapa lama dia datang sambil membawa roti dan bunga. Wah tumben nih dikasih bunga, batin saya. Dia meletakkan bunga tersebut di meja depan saya, tanpa berkata apa-apa dan dengan ekspresi yang datar

Saya : “Terima kasih ya bunganya.”

Suami : “Bunga apa? Ohh itu tadi aku beli buat Mama.”

…………………………………………….Hening sesaat dan kami saling berpandangan. Beberapa detik kemudian meledaklah tawa kami.

Saya sudah GR tak karuan. Ternyata bunganya untuk Mama mertua. Tiwas sudah tersipu malu. Pengen krukupan panci ae rasane.

Bunga yang membuat GR

Hal-hal receh seperti ini tetap membuat kami tertawa terbahak. Saya yang gampang sekali GR dan suami yang tidak tertebak jalan pikirannya. Bagaimanapun, saya sangat bersyukur memiliki dia. Bersyukur memiliki keluarga yang tidak sempurna tapi pantang menyerah untuk terus belajar supaya hari ini menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

Hadiah dari tetangga

Apapun status saat ini dan nanti, semoga saya selalu ingat bahwa saya tetap seorang individu. Ada hal-hal yang tidak serta merta melebur dan saya tetap bisa bersenang-senang sebagai seorang individu. Betapapun beratnya waktu yang telah terlewati, setiap mengingat bahwa keluarga dalam keadaan sehat dan bahagia, selalu membuat payah jadi terbayarkan dipenghujung hari. Rasa syukur yang selalu terucapkan karena mempunyai keluarga tempat untuk kembali pulang dan menerima saya apa adanya.

Selamat hari Ibu.

-Nootdorp, 12 Mei 2019-

7 thoughts on “Kisah Hari Ibu

  1. :)) numpak ketawa yo mb, hihihihihihi
    Selamat hari ibu, semoga bisa jadi ibu yang makin hari makin baik… semoga makin bahagia juga bersama keluarga, aamiin

    1. Terima kasih Mbak Vero amiiinn buat doanya. Semoga kita tidak pernah letih belajar supaya jadi ibu yang semakin hari makin baik. Doa yang sama buat Mbak Vero

  2. Kalau aku waktu itu pernah mak mertuaku nunjukkin jam tangan padaku, entah dimana pikiranku saat itu, ko ya aku ke GR an nanya “buat aku?” haha maluu dah, pdhl mak mertua cuma mau kaish liat baru beli jam tangan 😀 . Selamat hari ibu yaa Den 😉 .

    1. Haha Nel, wah itu Mertua pengen ngikik rasanya lihat ekspresi mantunya selamat hari Ibu juga yaaa buatmu

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.