Urus Saja Takdirmu Sendiri

Pernah tidak bertemu dengan orang yang selalu saja ingin tahu detil kehidupan kita. Mulai dari bertanya tentang sudah punya pacar belum, pacarnya orang mana, sudah berkeluarga belum, sudah punya anak belum, suaminya orang mana, dan kalau perlu sampai bertanya berapa kali kamu kencing satu hari. Ya saking tidak ada kerjaan sampai urusan orangpun diurusin sampai detil. Atau memang kerjaan dia sudah selesai makanya banyak waktu untuk mengurusi kehidupan pribadi orang lain. Kalau hanya bertanya sekali atau dua kali sih tidak masalah ya. Tapi kalau sampai setiap bertemu topik pertanyaannya selalu sama padahal yang ditanyakan sudah masuk area pribadi dan jawaban yang diberikan pun sudah tegas tetapi tetap saja bertanya, rasa-rasanya orang tersebut sudah tidak punya urat malu.

Saya pernah (dan banyak) bertemu dengan tipe orang seperti ini. Saking parahnya, dia (dan mereka) karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari saya atau malah tidak bertanya langsung pada saya, malah mengorek-ngorek jawaban dari orang-orang yang dekat dengan saya. Bertanya ini itu yang jelas-jelas sudah mulai masuk ke ranah paling pribadi. Saya sampai heran luar biasa lho dengan tipe orang semacam ini. Apa ya yang ada di pikiran mereka kok ya punya energi yang luar biasa sampai ingin tahu setiap jengkal kehidupan orang lain.

Yang akan saya ceritakan sekilas ini berhubungan dengan cerita yang ada di gambar. Tulisan dalam foto tersebut bukan saya yang menulis tetapi saya dapatkan dari seorang teman jadi saya tidak tahu siapa awalnya yang menulis. Kalau ada yang tahu tolong kasih tahu saya sumbernya sehingga bisa saya sertakan linknya di foto tersebut.

Cerita ini berhubungan dengan pertanyaan tentang anak, tentu saja. Alkisah, pertanyaan tentang kapan punya anak itu dulu sudah bikin telinga saya kapalan seketika saking seringnya. Bahkan ada yang bertanya tentang program kehamilan apa saja yang pernah kami jalani. Kalau Ibu saya yang bertanya mungkin akan saya jawab ya (yang pada kenyataannya juga Ibu tidak bertanya tentang program kehamilan, cuma dulu suka nanya kapan saya akan memutuskan untuk hamil dan saya jawab dengan tegas untuk menghargai privasi kami dengan tidak terlalu jauh masuk dalam ranah RT kami). Nah, herannya ada lho orang yang dulunya paling sensitif kalau ditanya tentang anak karena memang lama punya anak, eh setelah (akhirnya!) punya anak lalu dengan gampangnya jadi tukang survey kepada orang-orang yang belum diberikan rejeki anak, bertanya tentang topik anak. Bahkan menanyakan tentang program kehamilan apa yang sedang atau pernah dijalani. Nih orang amnesia atau bagaimana, dulu sampai mengucilkan diri karena tersinggung kalau ditanya-tanya tentang anak, setelah Tuhan kasih kesempatan untuk dia punya anak kok ya tidak ada empatinya sama sekali. Bahkan sampai mengulik kabar terbaru bukan dari empunya langsung tapi dari orang lain. Kadar kesopanannya sungguhlah luar biasa perlu dipertanyakan.

Saya sangat menghindari bertanya kepada orang lain yang berhubungan dengan anak atau kehamilan. Sedekat apapun hubungan kami, kecuali yang bersangkutan cerita lebih dulu. Apalagi bertanya tentang program kehamilan yang sedang atau pernah dijalani, saya usahakan semaksimal mungkin supaya mulut tertutup rapat tidak bertanya yang bukan menjadi urusan saya, kecuali seperti yang saya sebutkan sebelumnya, yang bersangkutan bercerita lebih dahulu. Berceritapun saya pilah lagi, ini hanya butuh didengarkan atau ingin diberi masukan. Kalau ada orang yang bercerita, saya maksimalkan supaya tidak jadi kompetisi penderitaan, seperti yang sudah pernah saya tuliskan beberapa waktu lalu. Contohnya : ada yang sedang curhat perutnya begah sekali pas kehamilan umur 7 bulan. Saya tidak akan menimpali : kamu sih lumayan ya cuma begah, saya dulu 9 bulan tidak bisa makan sama sekali. Itu misalnya ya. Buat apa to kompetisi penderitaan macam itu. Malah menyakiti hati yang sedang curhat. Saya memperlakukan orang seperti saya ingin diperlakukan. Saya tidak suka membicarakan hal-hal pribadi kepada orang yang saya tidak kenal dengan sangat baik. Ibaratnya pada Ibu saya saja ada banyak hal yang tidak saya ceritakan, lalu kenapa saya harus bercerita macam-macam kepada orang yang kenal cuma selintas lalu, apalagi sampai cerita di media sosial. Itu bukan saya.

Kepada siapapun yang pernah dan sampai saat ini selalu tertarik dengan kehidupan privasi kami yang tidak kami ceritakan atau tampilkan kecuali dalam kehidupan nyata, apalagi sampai bertanya kepada orang lain hal-hal privasi tentang kami, tolong urus saja dunia kalian sendiri. Kami bukan orang terkenal, bukan pesohor, jadi tidak perlu sampai mengulik terlalu dalam yang bukan menjadi urusan kalian. Jika ada yang pernah “tertarik” dengan cerita kami tentang anak dan tidak bertanya langsung pada saya, kenapa nyali sekecil itu. Saya lebih menghargai yang langsung bertanya pada saya. Tidak harus tahu semua hal lho di dunia ini, bahkan sampai ngurusi RT orang. Punya anak itu bukan lahan pertandingan dan anak bukan ajang kompetisi. Apa sih yang ingin dicapai, medali apa yang ingin diraih, apa yang ingin dipamerkan. Urus saja takdirmu sendiri, urus RT mu sendiri, urus anakmu sendiri. Dan yang terpenting adalah tidak usah terlalu sibuk mengurusi takdir orang lain.

Everyone you meet is fighting a battle you know nothing about. BE KIND. ALWAYS.

-unknown-

-Nootdorp, 9 Mei 2018-

37 thoughts on “Urus Saja Takdirmu Sendiri

    1. Wah kamu belum ketemu aku. Orang mau nyapa duluan males gara2 lihat mukaku yang jutek dan kalau ngomong pedes hahaha.

  1. Aku juga capek denger pertanyaan-pertanyaan kepo, mba… dan jengkelnya, memang budaya “kepo” kita itu dibenarkan sebagai bentuk peduli.. meskipun ujung-ujungnya jadi bahan gosip buat orang lain.

    Tapi yang paling menyedihkan, ini bikin aku suka parno sama orang Indonesia sekarang. Kalau ada teman jauh atau saudara jauh yang out of the blue nanyain kabar, prasangka ku udah buruk duluan…. ini mereka memang beneran tertarik dengan kabar aku, atau pengen nyinyirin di belakang?

    1. Eh iya lho yang tentang Parno. Aku mengalami sendiri. Jadi nih, aku kirim wa ke kenalan yang memang sudah lama ga kedengeran kabarnya. Cuma bertanya kabar dan bilang semoga semuanya sehat dan bahagia. Dia jawab baik2 saja, lalu nanya : ada apa ya? Hahaha kenapa musti ada apa untuk saling berkirim kabar ya. padahal aku murni cuma menanyakan kabar. Aku rasa dia selama ini jadi korban ke kepoan atau jangan2 dia malah si pelaku kepo :)))

      1. Wuahaha nah itu.. aku akuin aku juga sering bales nanya gitu… tapi kalau aku nanya baliknya β€œWhat’s up?” Karena kesannya lebih santai ha ha.

        Untungnya sebagian besar orang bukan kepo sih selama ini, tapii justru ujung-ujungnya nawarin MLM

  2. Den, aku juga lelah ditanyain hal-hal kayak gini. Kemaren ada temen lama yang gak pakai nanya kabar ba bi bu langsung nanya anak. Terus aku dengan tenangnya ngasih informasi2 yg bikin dia shock (belum punya anak, belum direncanakan, masih dihitung-hitung). Lama-lama kicep.

    1. Pertanyaan macam gini tuh kayak rumput ilalang ya. Ditebas satu, tetep numbuh aja. Jadi ga selesai2. Menguji kesabaran sebenere. Tapi kok yooo malese

  3. Cape ya, Den.. Ngadepin tipe kayak gitu.. Aku juga udah kenyang “dikepoin”, apalagi jalan hidupku agak beda dibandingkan orang kebanyakan sekitarku (nikah belakangan, punya anak belakangan, karir maju cepat waktu masih ngantor dulu, punya suami WNA, dll). Aku gak nyaman nanya-nanya kehidupan pribadi orang lain kalo gak deket-deket amat atau orang ybs cerita sendiri, tapi orang lain kayaknya bablas aja kalo nanya/komentar soal aku..

    1. Capek banget Em. Wong kami hidup tenang2 ga gangguin siapapun eh masih ada aja orang2 yang usil ini itu. Ya inilah Em salah satu drama orang Indonesia di sini. Kepo2 ga jelas dan sebar2 fitnah padahal yang difitnah ga paham apa2. Itulah ya, kenapa orang2 tertentu itu gampang sekali suka pengen ikut campur dengan nanya ini itu gampang banget. Padahal kitanya sudah tahu rambu2 mana yang perlu ditanya atau harus diam. Tapi aku kadang bersyukur dengan adanya orang2 macam gini. Jadi berkaca supaya jangan sampai aku seperti mereka.

  4. Bener yg kamu paparkan, ada aja orang yg nanya ga perlu dan ga ada sangkut pautnya dgn dirinya.
    Tentang kasus pertanyaan kapan punya anak, salah satu kakak saya baru punya anak setelah 10 thn menikah, ibuku sendiri tak pernah menanyakan sekali pun mengapa mereka belum punya anak. Tapi ibuku memang di kenal orang yg tak mau mencampuri urusan orang.

    1. Selamat Yang untuk kakakmu dan keluarga besarmu bertambah anggota keluarga yang baru πŸ™‚

      Drama orang Indonesia di Belanda ya gini ini. Kepo2 ga jelas

  5. Yes… Urus saja takdirmu… setuju saya. Duluuu, saya selalu khusnudzon kalau ada yang nanya ranah privasi ke sy itu niatnya tulus karena pgn kenal lebih jauh… karena saya juga kalau niat nanya ya karena memang pengen lebih dekat. Tapi semakin kesini, kok lama2 pertemanan kok jadi kudu kita yang punya banyak saringan yaa, banyak yang aku kira dah dekat, tyt di lain hari, ketika kita bahas hal yang sama, tyt dia lupa.. hadeh.. jadi kemarin aku ngobrol sama sapa yaa?? hiks

    1. Kalau nanyanya sekali dua kali mungkin masih gpp ya. Tapi kalau nanyanya sudah berkali2 dan makin jauh ke area pribadi, itu sih sudah mencampuri namanya. Makanya kitapun musti tegas dengan orang2 macam gini. Kepo ga penting kurang kerjaan bener!

  6. Salam kenal Kak Denny. Aku juga kenal yang model begini. Segala hal ditanyain, pekerjaan orang tuaku, aku punya pacar atau enggak, di rumah aku tidur sama siapa,yang berujung pengen tau rumahku besar/enggak (lagian definisi besar/kecil itu relatif), bahkan merk mobil orang tuaku pun dia pengen tau. Bingung banget harus gimana, mana umurnya hampir seibuku πŸ™

    1. Hai Elisa, salam kenal juga. Terima kasih sudah mampir ke blog kami. Panggil saja Deny. Saran saja, kalau aku selalu kutegaskan kalau pertanyaannya membuatku ga nyaman dan sudah masuk jauh ke arah privasi. Kalau dengan orang yang kita kenal baik sih ga masalah ya, tapi kalau kenalnya selewat lalu, ya mending dikasih tahu aja apa yang kita rasakan. Mau dibilang kurang ajar, ya silahkan. Wong pertanyaan mereka juga ga sopan

    1. Ancene kudu dipasang filter ben ga asal mangap ae. Waktu sekolah mungkin lambene keri jadi ga melok berpendidikan

  7. lagi dalam tahap itu mba deen,
    meski masalah nikah kalo titin mah πŸ˜€

    yang berkaitan dg takdir mah ya, sejauh usaha yang kita bisa
    99% usaha pun, tetep yg pegang 1% keputusan Allah..

    banyak tipe orang dan kebanyakan pengen liatnya pas senengnya aja kali yak?
    gak ngeuh usaha ush kaya apa juga hehe

    1. Sabar ya Tin dan kamu juga musti tegas. Kalau sudah merasa ga nyaman, bilang aja apa yang kamu rasakan kalau pertanyaan itu membuat kamu ga nyaman. Kalau dibilang kurang ajar, ga masalah. Toh pertanyaan mereka juga ga sopan.

  8. Aku juga ga berani nanya2 kalau tau keadaan orang memang belum menikah atau belum punya anak. Aku juga punya teman yang nikahnya lambat juga, terus sehabis nikah jadi “takabur” dengan nanya2 terus kapan nikah dan ngebully yang belum nikah. Ga ingat kah kalau dia dulu juga ga nikah2. Dan walaupun jadi cerita sedih, ternyata dia tidak berjodoh dengan orang yang dia nikahi. Kasian jadinya.

    1. Emang ada tipe2 orang seperti ini Geraldine. Semacam amnesia saja. Bukannya mau menakut2i, pergaulan orang Indonesia di Belanda kamu beneran musti pintar2 menyaring. Aku yang ga terlalu bergaul saja adaaaa aja kena sandungan. Padahal ya hidupku cuma seputar rumah dan pasar. Gitu aja ada yang masih kepo dan atau sebar2 fitnah. Jadi semoga nanti kamu ga kayak gini, lancar ga berkendala dengan sesama orang Indonesia.

  9. Biasanya karena kepo, iseng, nggak ada bahan, otomatis (karena dulu sering ditanya), atau empati (dengan cara yang salah). Aku pribadi tidak menanyakan pertanyaan2 sensitif semacam ini, pertanyaan yang selalu mulai dgn kata “Kapan?”. Dulu BT banget dibegitukan. Terutama krn sempat terbiasa juga dg didikan Barat yg menghargai privasi. Tapi sekarang berusaha memaafkan saja, karena ya itu lebih ke repetisi yg terjadi, terutama di budaya kita. Orang akan terus mengulangi sesuatu karena itu dianggap kebiasaan di dalam memori. Mengubah mindset nggak bisa semalam. Dulu marah karena seolah diingatkan berulang kali bahwa hidupku nggak sempurna. Sekarang aku mikirnya memang orang kan nggak mungkin sempurna 100%. Kita bisanya berusaha. So what gitu lho. Mereka juga sebetulnya korban. Korban cara berpikir yg sedikit mengajarkan empati.Bila mereka melakukannya agar membuat diri jadi superior artinya mrk masuk kategori bullyers karena membuat targetnya merasa jd tertekan dan malas ketemu. Cara menghadapi bullyers ya harus nyaman dulu dgn diri kita lalu lawan…misal dg mengungkapkan perasaan. Maaf saya tdk nyaman dg pertanyaan kamu…kamu sendiri dulu nyaman tidak rasanya ditanya begitu? Seperti itulah. Semoga dijauhkan dari org2 demikian, mba Den

    1. Terima kasih pendapatnya. Kalau aku lebih memilih tegas. Kalau ada yang bertanya ke arah privasi, aku akan jawab bahwa pertanyaannya itu sudah ga sopan dan aku ga akan menjawab. Jadi supaya mereka tahu bahwa pertanyaan seperti itu tidak layak untuk ditanyakan apalagi kalau ga terlalu kenal baik. Sama seperti pendapatmu di akhir. Harus tegas kitanya. Supaya mereka juga tahu.

  10. Terkadang orang Indonesia terlalu guyub (versi huznudzon) atau kepo (versi suudzon) dengan kehidupan teman atau orang lain. Ada yang sangat menghargai bila ya nanya langsung aja ke gue, gue jawab versi gue. Tapi ditambah ‘bumbu’ dari info teman lain lebih seru didengar. Masuk kategori yang mana deh?! Jawaban menelisik lebih dalam dan detil tentang program kehamilan pun tergantung. Apakah tujuannya menjadi endorser, influencer, buzzer, atau hanya sekedar berbagi. Di Indonesia, lagi demam : program kehamilan, estetika, hingga promosi produk tertentu diendorse mulai dari artis, youtuber, blogger, blogger, seleb ig, dan lainnya. Di genk aku baik single maupun berkeluarga terkait sistem reproduksi, kami saling share tentunya kalo cewek : promo. Promo vaksin atau promo papsmear. Kalau saya menghargai Mbak Deny untuk menjaga privacinya.

    1. Kalau ditanya dengan orang yang ga dikenal dengan baik itu beneran terganggu Frany. Seperti yang aku tulis, untuk hal-hal tertentu yang sensitif lebih baik ga usah bertanya kalau ga diceritain. Lihat kedekatan juga. Kalau ga deket2 banget lebih baik mingkem. Kalau aku selalu tegas bilang kalau aku ga nyaman dengan pertanyaan tersebut dan mulai masuk ranah pribadi jadi sifatnya ga sopan. Supaya yang bertanya pun tahu kalau itu pertanyaan ga sopan, itupun kalau dia merasa ya.
      terima kasih Fran

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.