Tentang Perasaan Tenang dan Bahagia

Agustus tahun ini tepat 3.5 tahun saya tinggal di Belanda dan belum sekalipun berjodoh untuk liburan ke Indonesia. Awalnya tahun ini kami sudah merencanakan dengan matang akan pulang akhir tahun, tetapi situasi berkata lain. Rencana kami menengok keluarga di Indonesia diundur mungkin ke tahun 2020. Selama 3.5 tahun di Belanda banyak sekali hal-hal positif yang saya rasakan. Bukan hanya yang secara tampak mata, tetapi juga yang tidak tampak mata. Dua hal yang sangat saya rasakan ada perubahan dalam diri saya adalah tentang rasa tenang dan rasa bahagia.

Bukan karena saya menikah dengan pria yang berbeda kebangsaan dan berbeda warna kulit lalu saya menjadi bahagia. Bukan karena saya tinggal di negara maju yang segala sesuatunya lebih teratur lalu saya menjadi tenang. Rasa tenang yang saya rasakan lebih kepada suasana hati. Selama di Indonesia mungkin saya sering mengabaikan kata hati, tidak terlalu banyak waktu untuk mengajak berdialog dan terlalu mendengarkan suara-suara di luar. Dan itu ternyata membuat saya tidak sepenuhnya bahagia dan tenang.

Dulu saya pikir hati dan kehidupan saya bahagia. Bisa mengenyam pendidikan sampai jenjang yang tinggi, bisa bekerja sampai jenjang yang saya impikan dan inginkan, bisa mempunyai lingkungan pergaulan yang oke, bisa liburan ke sana sini dari hasil jerih payah sendiri, bisa membeli ini dan itu. Dulu saya pikir saya bahagia dengan itu semua, dengan semua yang saya miliki, dengan semua pencapaian dari hasil kerja keras. Sampai saya merenung dan berdialog dengan hati, dan pada satu titik saya tersadar bahwa kehidupan saya di Indonesia tidak sepenuhnya membuat bahagia. Saya bisa saja bangga dengan segala pencapaian dan hasil yang saya dapatkan. Tapi benarkah itu semua yang saya inginkan? Ternyata, saya terlalu ingin dilihat oleh khalayak ramai, ingin menunjukkan yang terbaik pada keluarga, ingin dilihat berhasil supaya bisa diterima oleh komunitas tertentu, tetapi saya lupa bertanya kepada diri sendiri bahwa apakah itu semua membuat saya tenang dan bahagia.

Rasanya melelahkan harus mencapai sesuatu bukan karena keinginan sendiri melainkan karena tuntutan. Tidak hanya tuntutan dari luar, tetapi juga tuntutan dari dalam kepala yang ingin “pamer” keberhasilan. Saya harus nampak bahagia meskipun dalam hati ada sesuatu yang kosong. Saya seperti selalu ceria walaupun rasanya asing dalam keramaian. Walaupun begitu, masih ada kepingan dalam hati saya yang merasakan kebanggaan atas semua pencapaian saya dulu.

Sejak menetap di Belanda yang berbeda segalanya dengan Indonesia, saya semakin sadar bahwa sebenarnya kebahagiaan itu kita sendiri yang menentukan, bukan karena sanjungan orang, bukan puja dan puji, bukan ditentukan oleh orang lain, pasangan, maupun anak. Membaca kalimat sebelum ini rasanya akan banyak yang mbatin : haduh, itu juga semua orang sudah tahu. Sayapun dulu tahu konsep seperti itu. Tapi saya tidak sadar, hanya pada tataran tahu. Sejak 3.5 tahun ini, saya semakin sadar karena di sini saya hidup tanpa tuntutan. Tidak menuntut diri sendiri untuk menjadi yang terbaik supaya dilihat orang, tidak memenuhi tuntutan luar supaya terlihat “normal” dalam hidup bermasyarakat. Saya lebih mendengarkan kata hati dalam ketenangan. Saya lebih sering mengajak berdialog hati dan pikiran. Dulu saya tidak sempat karena keriuhan yang ada, terlalu kemrusung. Saya tidak lagi melekatkan kebahagiaan saya pada kebendaan. Saya tidak lagi menggantungkan kebahagiaan kepada hal di luar diri saya.

Segala keputusan yang saya ambil selama di sini adalah keputusan yang saya buat secara sadar dan benar-benar melalui pertimbangan yang matang. Keputusan bekerja tidak sesuai dengan bidang keilmuan dan pengalaman kerja yang ternyata membuat saya jauh lebih bahagia dibandingkan ketika saya bekerja di Jakarta walaupun pekerjaan di sini ecek-ecek lah kalau dibandingkan dengan yang sebelumnya. Tapi saya bahagia. Akhirnya saya memutuskan berhenti dengan pertimbangan yang matang juga. Keputusan untuk mempunyai anak bukan karena sebagai ajang pamer dan bangga-banggaan semata atau supaya tidak ditanya terus karena kalau tidak mempunyai anak rasanya tidak “normal” di mata masyarakat Indonesia. Keputusan memiliki keturunan, saya (bersama suami) pikirkan secara matang dan bertanya beberapa kali pada hati apakah memang ini yang saya inginkan. Mempunyai anak akan merubah total hidup saya karena ikatannya seumur hidup dan saya harus siap dengan bekal ilmu dan harus konsekuen belajar sepanjang hidup dalam membesarkan anak, bagaimana dengan dananya apakah juga sudah siap, bagaimana dengan lingkungan apakah mendukung untuk memiliki anak, dan banyak pertimbangan lainnya. Saya bukan orang yang percaya bahwa anak datang dengan rejeki masing-masing. Yang saya percaya adalah setiap orang yang memutuskan untuk memiliki anak harus mempersiapkan sebaik mungkin masa depan anak dari segi dana sampai usia tertentu. Memiliki anak bukan hanya sekedar berapa kali bisa melahirkan, memiliki anak bukan sebagai pembuktian dan seberapa sering memajang foto mereka di ranah dunia maya, memiliki anak bukan untuk berkompetisi dalam hal cerita dengan sesama orangtua sejauh mana kemampuan anak, memiliki anak bukan karena supaya dinilai “normal” karena urutan setelah menikah adalah mempunyai anak. Memiliki anak adalah pilihan, karenanya saya memikirkan dan mempertimbangkan hal tersebut dalam ketenangan dan bertanya apakah itu akan membuat saya bahagia nantinya. Ketika keputusan sudah dibuat, artinya saya sudah siap dengan segala konsekuensinya, baik dan buruknya. Dan yang pasti, keputusan yang dibuat dalam keadaan hati dan pikiran yang tenang, kebahagiaanpun akan datang dengan sendirinya. Bahagia yang penuh kesadaran.

Schloss Mirabell and Garden - Salzburg
Schloss Mirabell and Garden – Salzburg

Mungkin memang ada masanya saya harus menjauh dari hiruk pikuk dalam arti yang sebenarnya dan dalam arti secara kiasan supaya saya lebih tau apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Lebih bisa berdialog dengan hati dan pikiran. Supaya saya hidup lebih sadar. Supaya saya bisa lebih bersyukur  Bahagia itu tidak perlu sesuatu yang ndakik ndakik. Bersyukur karena matahari muncul setelah dua hari hujan sehingga kami bisa jalan-jalan keluar, itu rasanya sungguh luar biasa bahagianya. Bersyukur diberikan kesehatan yang baik sehingga bisa duduk-duduk di taman sambil melihat angsa hilir mudik, itupun membuat bahagia. Bersyukur bisa mandi tanpa tergesa-gesa juga bahagia dari hal-hal yang kecil. Bersyukur bisa menyapa orang-orang yang selama ini saya jarang sapa, pun membuat saya bahagia. Bersyukur karena diberikan kesempatan untuk terus melanjutkan nafas detik demi detik. Lebih banyak bersyukur dan tidak terlalu membandingkan keadaan diri dengan sesuatu yang jauh diluar jangkauan adalah bahagia yang tidak terkira. Banyak ambisi yang ingin saya wujudkan. Tapi saat ini ambisinya lebih ke arah dalam, bukan ambisi ingin terlihat dari luar. Ambisi secara spiritual, begitu saya menyebutnya.

Jika banyak yang bilang saya lebih tertutup sekarang, mungkin iya mungkin tidak. Sebenarnya bukan tertutup, tapi saya sudah cukup bahagia dengan kehidupan saya saat ini, saya lebih tenang, jadi buat apa saya mengumbar-umbar. Saya bercerita yang perlu saya ceritakan saja. Yang sekiranya tidak perlu banyak orang tahu, ya saya simpan sendiri. Tidak semua kebahagiaan perlu diketahui khalayak ramai, begitu juga sebaliknya. Saya lebih memilih dan memilah mana yang patut dan layak dibagi. Sesederhana itu.

Semoga saya tidak pernah berhenti untuk selalu belajar tentang apapun itu sehingga akan banyak rasa syukur karena mengetahui banyak hal tanpa harus membandingkan dengan sesuatu yang diluar jangkauan, semoga saya bisa makin tenang dengan segala yang saya miliki dan ingin miliki dengan sadar. Semoga saya selalu bisa berdialog dengan hati dan pikiran sehingga makin tahu tentang tenang dan bahagia.

Semoga kita semua diberikan ketenangan dan kebahagiaan. Hidup di dunia sangatlah singkat, semoga kita bisa memanfaatkan apa yang ada secara maksimal  untuk kebaikan dan melakukan segala hal secara sadar.

-Nootdorp, 20 September 2018-

 

 

28 thoughts on “Tentang Perasaan Tenang dan Bahagia

  1. Berkunjuuuuung.. Yang ditulis sebenernya ‘semua orang juga tau’ ya,, cuma beda rasanya pas nulis sekedar nulis teorinya aja sama yang bener2 dirasakan.. aku malah kebalikan dr mbak Deny, pas ngerasa bahagia dgn hal yang sederhana begini malah jadi pengen banyak nulis..

    1. Terima kasiihh kunjungannyaaa. Aku senang Nita baca blogmu sekarang penuh cerita2 yang santai dan berasa nyaman dibacanya. Merasakan juga kesenanganmu ketika menulis, jadi kayak nyetrum gitu. Semangat teruuss nulisnya

  2. Aku cenderung dari dulu “tidak perduli” apa kata orang selama apa yang ku kerjakan tidak merugikan orang lain. Dan kalau urusan misal “pamer” foto anak di sosmed, tadinya diawali karena keluarga intiku (ortu dan saudara2ku) beda kota semua, jadi perlu “lapor” kondisi masing2 :). Aslinya mah sering lupa kalau mau pamer, hahahaha.
    Apalagi sekarang anak2 dah tambah gede, kudu ijin mereka dulu kl mau upload foto.
    Tapi intinya setuju deh, memang kita kudu lebih mendengarkan kata hati kita sendiri, jangan mudah goyah karena dikomen teman atau saudara.

    1. Tentang menaruh foto anak di medsos itu kebijakan masing2 orangtua, menurutku ga ada yang salah atau benar karena keluarga beda cara pandang tentang hal ini. Kalau anak2 sudah besar sebenarnya malah enak karena mereka lebih bisa mengeluarkan pendapat. Kalau yang masih kecil atau bahkan bayi, nah lebih baik orangtua lebih bijaksana.

  3. Aku salah fokus sama gardennya mba Den haha..
    Aku semakin kesini pun semakin berusaha untuk lebih belajar mendengarkan kata hati sendiri, mendengarkan apa yang aku mau bukan apa yang orang lain mau. Sederhana saja, aku mau (lebih) bahagia karena seperti kata mba Den di post ini, hidup di dunia sangatlah singkat. Semoga kita semua begitu ya mba.

    1. Taman di Salzburg itu Wien 🙂
      Semangat Wien karena yang tahu apa yang membuat kita bahagia adalah diri sendiri. Dan kalau ingin membuat sekitar bahagia, sebaiknya bahagiakan diri sendiri terlebih dahulu

  4. Aku sekarang gak bahagia ditempat kerja sekarang. Sejak 3 bulan lalu kerja rasanya gak semangat. Saya malah cendrung untuk tertutup untuk suatu hal. Gimana dong. Apa perlu ambil langkah besar, keluar dari “comfort zone” sehingga bisa menantang diri sendiri untuk menciptakan rasa tenang dan bahagia? Lieur, euy…

    1. Kalau memang keluar dari comfort zone membuat hati tenang dan lebih bahagia, kenapa tidak Pak. Mungkin butuh lebih banyak waktu untuk merenung dan mempertimbangkan baik buruknya sebelum memutuskan. Semangat Pak!

  5. Aku sedikit banyak sedang proses mengalami yang kamu tulis disini Den,hidupku disini jauuuh banget modelnya dari hidup Jakarta, well aku kan baru pindah belum lama, jadi jujur aja masih belum bisa se-content kamu dan kadang2 masih banyak protes/lelah/dan sebagainya hahahaha… wajar kok. Tapi abis mengeluarkan emosi, aku merasa, sebenernya aku lebih tenang, lebih senang, dan lebih bisa mengapresiasi hal2 kecil disini. Mahal harganya dibanding di Jakarta 🙂

    1. Betul Christa, mengapresiasikan hal-hal kecil mungkin dulu tidak sempat kita lakukan karena terlalu sibuk dan bising. Sekarang lebih tenang dan nyaman jadi lebih bisa mengamati dan berbicara dengan diri sendiri. Dan betul, itu mahal harganya.

  6. Akhir2 ini, itu juga yg menjadi salah satu poin utama dalam doaku: diberikan sakinah mutmainah atau ketenangan hidup. Susah senang— asal tenang. Lg banyak duit atau bokek— asal tenang. Krn klo udah tenang rasa hati ini, menjalani hidup bs lbh enaaaaak bgt. Kalem, gak kemrungsung (bener jaremu kui).

    1. Karena memang sumber dari bahagia ya selain banyak bersykur juga rasa tenang. Kalau sudah tenang, ya mau apalagi. Ga perlu usrek maneh.

  7. Maaf, OOT sedikit. Baca kata spiritual, yang langsung terbersit: aa Gatot guru spiritual Reza Arramevia (penyanyi). Hehe.

    Aku turut mengamini semua doa dan pencapaian mbak Deny. Apapun bentuk keputusannya tentu gak lepas dari ikhtiar dan doa yang diijabah. Bentuk bahagia manusia berbeda-beda. Kenapa manusia bisa gak bahagia? Jawabannya ya kufur nikmat *self reminder juga ini biar gak begitu.

    1. Salah satu sumber ketidakbahagiaan memang kurangnya rasa syukur. Semakin banyak bersyukur dari hal-hal yang sederhana, semankin tenang hati, semakin bahagia rasanya.

  8. Syukurlah. Tulisan ini bagus, banyak memberikan pencerahan. Menurutku manusia itu punya kecenderungan untuk merasa tidak bahagia. Sebabnya akan selalu ada saja, Makanya ia harus berusaha merasa bahagia dimanapun berada. Apalagi bila sudah memiliki anak, ya.

    1. Terima kasih atas apresiasinya. Betul, kecenderungan merasa tidak bahagia memang akan selalu ada, di manapun dan kapan pun. Tinggal mengolah hati dan pikiran saja.

  9. Ah, seneng rasanya kalau dengar kabar baik seperti ini dari teman. Aku sekarang rasanya sudah cukup bahagia, tapi rasanya kayak masih ada yang kurang, sepertinya aku pengen belajar lebih spiritual, tapi kok rasanya belom terpanggil2 banget ya untuk menggali sisi spiritualitasku. (Spiritual lho bukan religius).

    1. Terima kasih Crys!
      Menurutku perjalanan spiritual itu mengalir aja. Tanpa perlu panggilan. Sederhananya : Bersyukur bahwa setiap pagi bisa minum kopi, misalnya, itu saja sudah termasuk bagian dari perjalanan spiritual. Jadi spiritual itu sebenarnya selalu ada dalam kehidupan sehari2 di sekeliling kita.

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.