Buku-Buku Tentang Persiapan Hamil, Kehamilan, Tumbuh Kembang Stimulasi Bayi, Parenting, dan Mpasi

Judulnya panjang ya. Daripada membuat tulisan secara terpisah, saya jadikan satu saja, supaya lebih ringkas. Beberapa waktu lalu, saya baru saja melungsurkan koleksi buku-buku yang berhubungan dengan persiapan hamil, kehamilan, tumbuh kembang stimulasi bayi, parenting, dan Mpasi (dengan metode BLW) kepada seorang kenalan yang tinggal di Eropa dan saya kenal lewat twitter (kami belum pernah bertemu sama sekali). Tidak semua buku yang saya foto dibawah ini saya berikan, ada beberapa yang masih saya simpan karena kedepannya ingin saya baca-baca lagi. Beberapa lainnya saya berikan dan dia dengan senang hati mengadopsinya. Saya juga senang karena buku-buku tersebut mempunyai rumah baru sekarang dan semoga manfaatnya juga terus mengalir.

Nah, daripada mubadzir cuma saya foto-foto saja, maka saya putuskan untuk berbagi cerita di blog tentang buku-buku ini. Saya pernah menuliskan di blog cerita tentang kehamilan pertama yang pada akhirnya keguguran, beberapa tahun lalu. Pada saat keguguran itu, awalnya jelas kami sedih karena kehilangan anak pertama kami. Namun selang beberapa waktu kemudian, saya malah bersyukur bahwa saya keguguran. Pasalnya, saya belum siap memiliki anak pada saat itu. Pengetahuan saya tentang dunia hamil, bayi dan seputar parenting, nol besar. Saya tidak ada persiapan pengetahuan sama sekali. Dan buat saya pribadi, memasuki satu fase penting dalam hidup tanpa persiapan matang, apapun jenisnya, tidak bisa saya lakukan. Minimal, saya tahu gambarannya seperti apa.

Dan alasan lainnya, sebenarnya pada saat itu saya belum yakin apakah benar saya ingin mempunyai anak. Tentang keputusan memiliki anak, sudah saya bicarakan dengan suami pada saat kami belum menikah. Waktu itu, saya bilang bahwa ada kemungkinan besar setelah menikah saya tidak ingin mempunyai anak karena saya merasa tanggungjawab memilik anak itu sangat besar. Kontraknya seumur hidup dan benar-benar keputusan berdua dengan pasangan (terutama saya karena badan dan hormon saya yang akan mengalami perubahan). Suami orangnya santai. Dia menikah dengan saya bukan dengan tujuan memiliki keturunan. Jadi kalaupun akhirnya saya memutuskan tidak punya anak, dia biasa saja. Begitu juga sebaliknya.

Pernah seorang teman di sini, menitipkan bayinya dua kali (waktu itu usia 9 bulan dan 12 bulan) untuk menginap di rumah kami saat akhir pekan. Kalau di sini, sudah biasa bayi-bayi dititipkan kepada teman dengan tujuan supaya bayi-bayi itu bisa beradaptasi dengan lingkungan diluar rumah sendiri dan dengan orang diluar lingkungan keluarga. Nah, selama bayi ini ada di rumah, saya merasa biasa saja haha. Seperti tidak ada naluri keibuan. Bahkan tugas mengganti popok semua dilakukan suami. Saya memang tidak mau mengganti popok terutama untuk urusan poop, jauh-jauh deh. Jadi terhadap bayi yang dititipkan ini, perasaan saya biasa saja, datar.

Dari pengalaman tersebut, saya lalu mempertanyakan lagi ke diri sendiri apakah benar saya ingin mempunyai anak. Karena pada dasarnya saya ini mempunyai jiwa riset yang sangat tinggi, akhirnya saya memperbanyak riset dulu dari buku-buku maupun jurnal-jurnal internasional yang berhubungan dengan kehamilan dan ilmu parenting. Saya mengibaratkan, sebelum memutuskan untuk hamil (kembali), saya perlu mempelajari kisi-kisi ilmunya. Seperti saat akan kuliah, minimal saya tahu mata kuliah apa saja dalam jurusan yang akan saya ambil. Jadi ketika keputusan sudah diambil, tidak ada kata menyesal kemudian dan menikmati segala alur serta perjalannya secara sadar. Berbekal ilmu juga (sebagai salah satu cara mempersiapkan mental), saya bisa memutuskan dengan sadar bahwa saya memang benar-benar mau atau tidak mau punya anak. Jadi keputusan memiliki atau tidak memiliki anak datang dari diri sendiri (bersama pasangan), bukan hanya sekedar ingin tanpa persiapan (lahir batin), apalagi hanya untuk memenuhi standar normal kehidupan pernikahan dalam masyarakat Indonesia. Sama halnya dengan pernikahan, buat saya, memiliki anak bukanlah sebuah kewajiban tetapi pilihan hidup.

Oke, mari mulai bercerita tentang buku. Semua buku-buku dalam postingan ini saya baca dalam kurun waktu 2016-2018. The Fertility Diet adalah buku pertama yang saya baca setelah riset sana sini tentang jenis makanan apa saja yang dikonsumsi sebelum persiapan hamil. Setelah membaca keseluruhan isi bukunya, ternyata isinya sangat menarik, bukan hanya membahas tentang jenis makanan maupun jenis diet yang bisa dilakukan untuk mereka sebelum hamil, tapi  juga menjelaskan tentang jenis-jenis makanan dan kandungannya secara umum. Dalam buku ini juga dijelaskan tentang PCOS (Polycystic ovary syndrom), makanan apa saja yang bisa dikonsumsi dan juga diet apa saja yang bisa dilakukan. Buat saya, buku ini penuh penjelasan ilmiah dan penuh riset yang sangat menambah pengetahuan. Buku ini sudah saya berikan kepada seorang teman di Belanda.

 

Fertility Diet
Fertility Diet

Nah dua buku di bawah ini saya baca untuk mengetahui gambaran selama hamil dan ketika melahirkan itu seperti apa. Buat saya, gambaran melahirkan pada saat itu sangatlah menyeramkan. Entah, di kepala saya selama ini yang namanya orang melahirkan itu terbayang menyeramkan. Karenanya saya perlu membaca buku yang minimal memberikan saya pengetahuan tentang hamil, proses selama hamil, persiapan melahirkan dan melahirkan secara sadar. Dan dua buku ini cukup membuka gerbang pengetahuan dan memenuhi rasa ingin tahu saya tentang hal tersebut.

Mengerti konsep tentang hamil dan melahirkan secara sadar
Mengerti konsep tentang hamil dan melahirkan secara sadar

Mempersiapkan dan menjalani kehamilan bukan hanya tugas perempuan, dalam hal belajar dan mencari informasi. Yang namanya hamil, dibuatnya berdua, maka segala persiapan, belajar dan apapun itu juga dilakukan berdua, sampai anak lahir nantinya. Dua buku di bawah ini bukan hanya saya yang baca, tetapi suami juga.

Pengetahuan tentang kehamilan bukan hanya pihak perempuan yang aktif belajar, pasangan juga seyogyanya sama-sama belajar
Pengetahuan tentang kehamilan bukan hanya pihak perempuan yang aktif belajar, pasangan juga seyogyanya sama-sama belajar

Kalau buku What to Expect ini semacam bible nya orang hamil ya. Bukunya tebal sekali. Meskipun ada aplikasinya yang juga saya unduh, tapi bukunya lebih lengkap dibandingkan apa yang dikirimkan lewat aplikasi. Kalau buku resep masakan dari Annabel Karmel bukan hanya menyajikan resep masakan saja, tetapi juga mengupas nutrisi yang terkandung dalam jenis makanan yang bisa menunjang kehamilan sehat untuk Ibu dan bayi. Resep masakannya enak dan cepat masaknya.

Panduan selama kehamilan
Panduan selama kehamilan

Nah setelah membaca buku-buku sampai masa kehamilan, saatnya membaca buku-buku yang berhubungan dengan bayi. Buku yang sebelah kiri itu juga ada unduhan aplikasinya, tapi versi buku lebih lengkap. Sedangkan buku How Smart Is Your Baby isinya tentang stimulasi apa saja yang bisa diberikan pada bayi demi menunjang tumbuh kembangnya secara maksimal dan memaksimalkan kemampuan bayi sejak hari pertama lahir. Saya sangat merekomendasikan buku ini karena buat saya buku ini seperti membuka mata bahwa apa yang selama ini oleh orang tua (jaman dulu) tidak boleh dilakukan kepada bayi, sebenarnya bisa dilakukan karena ada dasar risetnya.

Panduan tumbuh kembang bayi dan panduan stimulasi anak
Panduan tumbuh kembang bayi dan panduan stimulasi anak

Tiga buku di bawah ini sudah masuk kepada buku parenting. Dua buku parenting yang berhubungan tentang Belanda, benar-benar memberikan banyak pengetahuan kepada saya tentang cara mendidik anak (dari lahir sampai masuk sekolah) di Belanda. Minimal saya tahu, ketika memiliki anak di Belanda, lingkungannya seperti apa, persiapannya apa saja, pendidikannya bagaimana. Apalagi saat membaca buku The Happiest Kids in The World, saya manggut-manggut. Jadi tahu kenapa anak-anak kecil di Belanda. misalnya kalau masuk sekolah selalu mukanya sumringah tanpa keterpaksaan, bagaimana orangtua di Belanda mengajarkan anak-anaknya mandiri dalam hal makan dan tidur sejak bayi dan masih banyak hal-hal menarik dalam buku ini tentang parenting di Belanda (yang dibandingkan dengan parenting di Amerika dalam beberapa aspek). Sedangkan buku The Childhood roots of adult happiness juga bagus sekali. Intinya, anak harusnya sering-sering diajak main diluar ruangan, diperkenalkan dengan alam, distimulasi sebanyak mungkin berdekatan dengan alam (misalnya main pasir dengan kaki telanjang atau sering-sering menginjak rumput, main tanah) dan seminim mungkin terpapar oleh teknologi (misalkan TV, Hp dan gadget lainnya). Saya senang sekali membaca buku ini, banyak quote-quote menarik.

Buku-buku parenting
Buku-buku parenting

Buku-buku parenting selanjutnya dalam bahasa Indonesia. Ini juga isinya bagus-bagus. Jatuh hati pada Montessori isinya berbeda dengan buku-buku montessori lainnya. Buku ini menuliskan bukan tentang teori montessori tetapi pendekatan montessori dalam mengasuh anak dan memaksimalkan kemampuan anak sejak usia dini. Saya merekomendasikan buku ini jika ingin belajar tentang pendekatan montessori dari kacamata yang berbeda. Buku Adhitya Mulya juga favorit saya. Banyak poin poin dalam ceritanya yang saya amini (karena saya mengalami sendiri), meskipun beberapa poin lainnya saya tidak sepaham. Tapi secara keseluruhan, buku ini bagus. Sedangkan dua buku lainnya, ditulis oleh pakar dan praktisi pendidikan di Indonesia, juga favorit saya.

Buku-buku parenting
Buku-buku parenting

Nah, buku ini sebenarnya bukan buku tentang parenting (menurut saya), melainkan bercerita tentang pengalaman mendidik sejak bayi seorang anak namanya Kirana. Saya tidak mempunyai IG, jadi saya tahu tentang buku ini malah dari twitter. Meskipun bukan buku parenting, tapi cerita yang dituliskan secara mengalir dan enak dibaca, bahkan ada beberapa bagian yang membuat saya menangis, banyak memberikan pelajaran berharga.

Bukan buku Parenting tapi ceritanya memberikan banyak pelajaran berharga
Bukan buku Parenting tapi ceritanya memberikan banyak pelajaran berharga

Tiga buku terakhir ini adalah buku Mpasi dengan metode BLW (Baby Led Weaning). Saya tertarik mempelajari metode ini lebih lanjut karena metode ini sebenarnya bukan metode yang baru, sudah diterapkan sejak jaman dulu (bahkan di Indonesia pun). Intinya, bayi diperkenalkan dengan makanan solid sejak awal dia mulai makan. Bayi diberikan kebebasan menentukan sendiri sebanyak apa makanan yang masuk dalam tubuhnya berdasarkan kenyang yang dia rasakan serta bayi sejak awal sudah dibiasakan makan sendiri dengan makanan dalam bentuk asli. Kalau di Belanda, bayi mulai bisa diperkenalkan dengan makanan sejak umur 4 bulan (tanpa adanya indikasi medis). Buat saya, metode BLW ini sangatlah membantu dan cocok. Membantu karena tidak perlu selalu menyuapi dan mengajarkan anak mandiri sejak awal dan jadinya tidak picky eater karena sudah diperkenalkan makanan dalam bentuk asli sejak awal dari berbagai variasi makanan, bahkan yang sekiranya menimbulkan alergi (di stop dulu untuk beberapa waktu, nanti diberikan lagi untuk melihat apakah tetap menimbulkan alergi ataukah tidak).

Buku Panduan Mpasi Metode BLW
Buku Panduan Mpasi Metode BLW

Begitulah tulisan saya kali ini yang berbagi cerita tentang beberapa buku yang sudah saya baca. Kembali lagi, buat saya pribadi, membekali diri dengan ilmu itu sangat penting, dalam hal apapun. Karena saya senang membaca, saya membekali diri dengan banyak membaca supaya referensi dan ilmu saya selalu bertambah. Meskipun pada akhirnya yang namanya mendidik anak tidak selalu sama berdasarkan teorinya karena setiap anak itu unik, tapi minimal saya punya bekal ilmu. Meskipun seringnya mendidik anak pada akhirnya berbekal insting, tapi minimal insting saya punya dasar ilmu. Sampai sekarang pun saya tetap membaca buku-buku tentang parenting karena sesungguhnya yang namanya belajar itu tidak mengenal batasan media dan waktu. Kapan-kapan akan saya bagi beberapa buku bagus tentang parenting yang sedang saya baca.

Semoga tulisan kali ini bermanfaat bagi yang sedang membutuhkan bacaan seputar persiapan hamil, kehamilan, tumbuh kembang stimulasi bayi, parenting, dan Mpasi (dengan metode BLW).

-Nootdorp, 27 Januari 2019-

13 thoughts on “Buku-Buku Tentang Persiapan Hamil, Kehamilan, Tumbuh Kembang Stimulasi Bayi, Parenting, dan Mpasi

  1. wah luar biasa mba den…saya amini sekali, memang punya anak itu butuh persiapan, kami baru merencanakan punya anak planningnya 2 thn setelah menikah tapi ternyata lebih cepat setahun, dan syukurnya lagi ga tinggal di indonesia:D krn pasti byk pertanyaaan, apalagi kalau memutuskan ga mau punya anak, suami juga tipe yang sprt ini, punya anak syukur ga punya ya gpp, jadi ga merasa dituntut jg hrs memberikan keturunan. kalau akhirnya di beri amanah dua (dan insha allah cukup dua saja) ya sudah kami terima sbg tugas jadi orangtua. Mengenai BLW, saya terapkan ke anak anak saya mulai dari ketika mereka belajar makan dan sudah ada gigi, 7-8 bulanan, saya start dari sayuran atau buah, untuk buah ada alat pegangnya khusus biasanya agar si anak tidak tersedak. manfaatnya sudah saya rasakan, meski sehabis makan selalu berantakan, anak kedua si alya skrg 2 thn, dia jadi terbiasa makan sendiri, minum dgn gelas biasa jg terlatih, saya jarang suapin anak, mereka belajar mengenal rasa lapar dan jam makan, begitu bangun pagi langsung ke dapur, duduk manis dan bilang mamam, dan mereka habiskan sarapan tanpa hrs saya paksa, saya lebih cenderung suka dengan metode blw ini. ga bikin repot mamaknya:D semoga proses kehamilannya lancar ya mba den..nikmatin saja moment2 nya:)

    1. Metode BLW ini sangatlah membantu buat Ibu2 perantau macam kita yang apa2 dikerjakan sendiri. Kalau misalkan metode suap, wah aku angkat tangan deh. Kalau sesekali gpp, tapi kalau setiap makan musti disuap, sehari yang ada ngurusin anak makan aja. Untungnya ya kok cocok diterapkan plus aku memang tidak telaten untuk bikin menu2 mpasi yang halus2 gitu haha males aslinya.
      Terima kasih yaaa sudah berbagi cerita tentang BLW

  2. Yang BLW,, ttp bs kasih makanan solid walau anaknya belum punya gigi mbak??? Kalau masih kelihatan lapar gimana?? BLW ini hrsnya bisa memecahkan masalah anak yang malas mengunyah kayaknya ya.. Skrg masalah yg sering kuhadapi di klinik adalah pasien anak gak suka mengunyah sehingga rahangnya kurang berkembang..

    1. Iya bener Nita. Dari buku yang kubaca (corect me if i’m wrong ya. Karena pas banget dokter Gigi yang komen nih :D). meskipun gigi belum muncul, tapi sebenarnya gigi sudah ada di bawah gusi. Jadi tetep bisa bayi diberikan makanan yang solid. Dari pengalamnku, umur 6-7 bulan sudah bisa dikasih daging steak dan dikunyah lalu ditelan. Pemberian makanan solid ini banyak manfaatnya, salah satunya bisa membantu bayi menggerakkan rahang dan mulutnya sebagai bekal persiapan saat mereka berbicara nanti. Jadi pengucapannya lebih jelas.
      Jika bayi kelihatan lapar? manfaat BLW lainnya, bayi yang menentukan kapan berhenti atau meneruskan makan. Jadi ortu menyediakan makanan dalam porsi tertentu, nanti bayi yang akan memutuskan kapan dia sudah kenyang, kapan dia masih lapar. Kalau dia masih lapar, ya dia akan tetap ambil makanannya dan akan dikunyah.

      Metode BLW ini sebenarnya cuma satu malesnya, makanan bercecer di mana2 haha. Kadang2 orangtua malesnya itu, lihat makanan berceceran. Tapi kalau dilatih lama2 nggak kok. Pas setahun biasanya mereka sudah lebih rapi dan masuk ke tahapan berikutnya, makan pake sendok atau garpu. Enaknya BLW ini, bayi bisa makan bersama seluruh keluarga. Jadi Ibu atau Bapak bisa duduk makan juga, ga sibuk nyuapin bayi.

  3. Salut Den sama persiapan kamu buat jadi Ibu, banyak banget buku-buku parentingnya sementara aku ngandelin internet dan tanya suami dan orang terdekat aja
    Kalo deket dulu pas hamil bakal rajin pinjem buku ke kamu kali ya hihi

    1. Makasih Nis, karena aku kutu buku mungkin ya. Jadinya lebih telaten baca daripada nanya2. Dan lagi aku tuh orangnya ga terlalu suka nanya2, kecuali sama ahlinya. Apalagi suami, sudah lupa katanya. Sudah berbelas tahun lalu pengalamannya. Makanya aku akhirnya ya baca2 buku aja, meskipun ga semua plek ketiplek bisa diterapkan. Minimal ada pandangan.
      Kalau kata suamiku dulu pas aku rajin beli2 buku ini “kamu sudah bisa buka jasa konselor, buku2nya lengkap tapi bayinya belum ada” hahaha

  4. Berasa dpt referensi buku, terutama soal parenting … Perjalanan jd ortu, g habis2 walopun sudah berpuluh seminar di ikuti. Tp ya gitu (ini mah aku ya,, ) makasih ya mbak Deni, postingnya bermanfaat sekali. Alhamdulillah

    1. Sama2 Mbak. Semoga berguna. Aku ga terlalu suka ikut seminar, apalagi milis2 parenting gitu aku ga ikutan sama sekali haha. Jadinya ya baca2 buku yang diperbanyak. Benar, parenting itu perjalanan seumur hidup ya. Sekali nyemplung ya memang musti belajarnya tiada henti, ini kalau aku 😀

    1. Haha jangan bersedih Inong. Yang penting kan tetep semangat membacanya tetap membara. Aku juga baca kok novel2 ringan gitu sebagai selingan. Soalnya kalau baca yg berat2 terus, bisa ngebul kepala 😀

  5. Komplit tenan bukunya…. saluuut. aku cuma punya 1 buku andalan, punyanya Miriam Stoppard yg aku baca pas hamil anak pertama. Dan kemudian yang kulakukan ketika hamil adalah belajar memahami tubuh, alhamdulillah 5 persalinanku relatif cepat dan lancar

    1. Kalau kata suamiku biyen Mbak pas aku mulai beli buku2 ini “wah, bisa buka jasa konselor ini. Bayinya belum ada, bukunya sudah hapal luar kepala” hahaha.

      Mbak, aku beneran masih terpana lho, persalinan lima kali. Kalau aku sudah dadah2 ke kamera itu haha. Sehat selalu ya Mbak 🙂

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.