Buku-Buku yang Tuntas Dibaca Tahun 2018

Buku-buku Fiksi dan Non Fiksi tahun 2018

Akhirnya kesampaian juga menuliskan di blog tentang buku-buku yang tuntas dibaca. Setiap tahun memang niatnya ingin rajin mendokumentasikan di blog tentang buku-buku apa saja yang tuntas dibaca, tapi apa daya selama ini hanya wacana belaka. Mumpung sekarang lagi rajin, jadi didokumentasikan dalam bentuk tulisan. Jadi kalau dibaca lagi, bisa memotivasi untuk tetap dan semakin semangat membaca ditengah kesibukan sehari-hari.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, buku yang saya baca bukan hanya fiksi saja tetapi juga nonfiksi. Bukan hanya dalam bahasa Indonesia saja tapi juga bahasa Inggris (tahun sebelumnya malah rajin baca novel bahasa Belanda, sekalian belajar buat ujian).

BUKU FIKSI

Dari daftar buku fiksi, akhirnya saya membaca juga bukunya Eka Kurniawan. Padahal saya sudah punya dua buku ini sejak tahun 2016, tapi baru ada niatan membaca tahun 2018. Ternyata oh ternyata, saya langsung jatuh cinta dengan gaya penulisan dan berceritanya. Suka sekali!. Jadi menyesal kenapa telat bacanya. Saya pikir dulu itu gaya bertuturnya akan berat, eh ternyata tidak sama sekali. Nyastra sih tapi masih bisa mengikuti alur ceritanya dengan baik. Jadi ingin membeli buku Eka Kurniawan yang lainnya. Padahal saya sudah bertemu dengan Beliau sewaktu di Belanda, minta tanda tangan dibukunya, eh baru dibaca haha.

Jika buku Laksmi Pamuntjak sebelumnya yang berjudul Aruna dan Lidahnya membuat saya bosan sekali kecuali bagian cerita kulinernya, tidak dengan buku Laksmi yang berjudul Amba. Buku ini bisa menghipnotis saya dengan cerita fiksi yang dipadukan dengan sejarah. Seperti tidak rela berhenti sejenak tapi juga tidak rela cepat-cepat selesai. Sama rasanya ketika saya membaca semua tulisan Leila S.Chudori.

Kalau buku fiksi lain yang saya suka adalah Resign! Dari halaman awal, sudah mempesona ceritanya. Menarik, unik, lucu, dan segar. Mungkin karena ada kesamaan cerita yang pernah saya alami sewaktu bekerja di Jakarta selama 7 tahun (terutama bagian lemburnya), jadi sangat menikmati cerita dalam buku ini. Sayang ketika hampir selesai, jalan ceritanya terlalu seperti dipaksakan untuk berakhir. Tidak smooth. Kabarnya buku ini akan difilmkan, semoga sebagus bukunya atau lebih bagus dari bukunya.

Buku fiksi yang agak mengecewakan adalah Dilan. Saya sudah berharap terlalu tinggi dengan cerita dalam buku ini karena gaungnya di tanah air sangat kencang apalagi filmnya yang dielu-elukan. Ternyata membaca dua bukunya, tidak sesuai yang saya harapkan. Bukan tipe buku yang ingin saya baca. Ternyata saya bukan fans Dilan. Biasa saja.

BUKU NONFIKSI

Buku nonfiksi tahun lalu yang saya baca selain masih seputaran parenting juga ada topik lainnya misalkan tentang industri makanan dan revolusinya (terutama di Amerika) yaitu buku In Defense of Food. Dari buku ini saya jadi tahu tentang fakta-fakta industri makanan yang jarang terkuak (atau memang sudah jadi rahasia umum hanya saja saya yang tidak tahu). Misalkan tentang sapi-sapi yang dibiakkan secara instan supaya bisa lebih cepat dipotong salah satunya dengan digelonggong (kalau ini ada juga ya di Indonesia) atau disuntik atau ditempatkan di kandang yang sangat kecil dan sumpek. Bacanya jadi miris sendiri.

Nonfiksi favorit saya adalah The Childhood roots of adult happiness. Saya sampai memberi bintang lima untuk buku ini. Berkali-kali dibahas betapa pentingnya mengajak anak untuk sebanyak mungkin bermain di alam, bersinggungan dengan alam dan benar-benar meniadakan (tidak memperkenalkan terlebih dahulu) paparan teknologi (misalnya TV, gadget dll) untuk usia tertentu (dibawah dua tahun). Contoh yang diberikan misalnya di Jerman, anak-anak selalu diajak bermain di luar rumah minimal 1.5 jam setiap hari apapun musimnya. Jadi tidak ada alasan hujan tidak bermain di luar. Bukan musimnya yang salah, tapi memakaikan pakaian yang tepat untuk setiap musim, jadi anak-anak tetap bisa bermain di luar. Saya merekomendasikan buku ini bagi yang tertarik membaca tentang parenting.

Imperfection juga jadi favorit karena saya seperti ditarik ke belakang jaman pencarian jati diri. Cara bertutur penulis di buku ini tidak menggurui karena memang berdasarkan pengalaman semasa masih dalam taraf pencarian jati diri dan menerima segala kekurangan yang ada, menjadikannya sebagai bahan lecutan untuk menjadi lebih baik. Terbaca klise ya,tapi tulisannya membuat saya malas untuk berhenti sejenak membaca buku ini. Inginnya langsung selesai, saking menariknya.

Satu lagi yang menjadi favorit saya adalah Jatuh Hati Pada Montessori. Di buku ini tidak dijelaskan tentang teori Montessori melainkan pengalaman penulis sebagai praktisi Montessori yang mendirikan sekolah berbasis Montessori. Banyak sekali motivasi terselip disetiap ceritanya dan membuat saya berdecak kagum juga akhirnya jadi termotivasi untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

BUKU FIKSI DAN NON FIKSI

Buku-buku Fiksi dan Non Fiksi tahun 2018

Buku-buku Fiksi dan Non Fiksi tahun 2018
Buku-buku Fiksi dan Non Fiksi tahun 2018
Tiga buku parenting yang tidak ada di goodreads
Tiga buku parenting yang tidak ada di goodreads

BUKU CERITA ANAK

Selain buku-buku di atas, saya juga membeli dan membaca beberapa buku cerita anak bahasa Indonesia. Di rumah kami, untuk buku cerita anak memang difokuskan dalam bahasa Belanda dan bahasa Indonesia karena sehari-hari kami aktif menggunakan dua bahasa tersebut. Untuk bahasa Inggris, kami tiadakan dulu. Karenanya koleksi buku cerita anak di rumah saat ini dalam dua bahasa tersebut. Dua penulis cerita anak favorit saya sampai saat ini adalah Clara Ng dan Watiek Ideo. Topik yang diangkat dalam karya tulisan merekapun beragam tapi saya senang membaca tentang toleransi dan perbedaan dalam hubungan pertemanan. Jelajah kota pun jadi salah satu buku favorit saya selain rangkaian kisah dari Nusantara (Kisah dari Alor, Kisah dari Sumba, dan Kisah dari Banggai).

Karena bahasanya yang sederhana, suami saya jadi suka juga membacanya dan jika ada kalimat atau kata yang dia tidak mengerti, langsung bertanya apa artinya. Saat ini, kemampuan berbahasa Indonesia suami jadi lebih meningkat dibanding sebelumnya. Semakin banyak kata dalam bahasa Indonesia yang mampu dia ingat dan ucapkan dan juga bisa merangkai kalimat panjang. Lumayan kan, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

Buku Cerita Anak
Buku Cerita Anak
Buku Cerita Anak
Buku Cerita Anak
Buku Cerita Anak
Buku Cerita Anak

BUKU RESEP MASAKAN

Sejak mempunyai buku resep masakan karya Junita (Xander’s kitchen), saya jadi selalu mempunyai ide mau memasak apa. Biasanya pagi hari saat sarapan, saya mencari ide akan masak apa hari itu dengan membuka buku resep ini dan membolak baliknya, mencari apa yang sesuai dengan bahan yang saya punya di kulkas. Benar-benar membantu sekali dengan keberadaan buku ini.

Sebenarnya saya juga nitip ke sepupu untuk dibelikan buku Icha Irawan, karena tertarik ada resep kue kue juga. Eh ternyata laku keras terus.

Tidak hanya buku resep masakan dewasa yang jadi favorit saya tahun lalu, juga buku resep mpasi BLW.

Buku resep masakan penolong kalau lagi males mikir mau masak apa
Buku resep masakan penolong kalau lagi males mikir mau masak apa

Itulah cerita buku-buku yang tuntas saya baca ditahun 2018. Jadi ada 34 buku yang saya baca (Seingat saya malah 36 buku, tapi dua lainnya saya kok lupa baca buku apa). Untuk saya pribadi, ini sudah sebuah prestasi bisa membaca buku sebanyak itu tahun lalu mengingat kesibukan sehari-hari yang sepertinya tiada henti. Meskipun setiap tahun target membaca selalu saya pasang 50 buku, dan tidak pernah kesampaian sampai saat ini, tapi bisa membuat saya selalu semangat untuk terus membaca buku.

 

 

Buku-buku yang rencananya akan dibaca tahun 2019

Kalau tadi sudah saya jabarkan dan perlihatkan buku-buku apa saja yang sudah saya baca tahun 2018, di bawah ini adalah buku-buku baru yang sudah nongkrong di ruang perpustakaan kami di rumah. Total ada 30 buku dan kebanyakan adalah Non Fiksi yang kali ini didominasi tentang topik Parenting dan Stoic. Ceritanya saya sedang tertarik memperdalam pengetahuan tentang Stoicisme (awalnya karena membaca Filosofi Teras, jadinya malah sangat tertarik dan pas banget suami saya pernah melakukan penelitian tentang filosofi ini jadi ada beberapa bukunya di rumah).

Semoga semua buku ini bisa saya baca. Target saya bisa membaca 40 buku tahun 2019. Mudah-mudahan bisa ya karena 2019 makin bertambah yang diurus jadi makin sibuk. Sampai saat ini dari buku-buku di bawah ini, sudah 9 buku selesai saya baca dan sekarang sedang membaca buku ke 10. Semangat!

Buku-buku yang rencananya akan dibaca rahun 2019
Buku-buku yang rencananya akan dibaca tahun 2019
xBuku-buku yang rencananya akan dibaca tahun 2019
Buku-buku yang rencananya akan dibaca tahun 2019

Buku-buku yang dihibahkan awal tahun 2019

Setiap tahun saya selalu rajin membeli buku fisik, ada buku-buku yang ingin saya koleksi, ada yang tidak ingin saya simpan lagi. Karenanya, setiap tahun saya selalu rajin menyortir buku-buku apa saja yang harus keluar dari rumah kami. Karena sesuai dengan prinsip yang saya anut sejak kecil : jika membeli satu barang, minimal satu barang harus keluar dari rumah. Hal tersebut berlaku juga untuk buku. Jadi awal tahun saya sudah woro-woro di twitter dan grup whatsapp, buku-buku apa saja yang saya tawarkan untuk dikirim seputar Eropa. Gratis hanya ganti ongkos kirimnya saja. Selain 25 buku di bawah yang ternyata laris manis sudah menyebar ke beberapa negara di Eropa, buku-buku tentang kehamilan, parenting dan perbayian yang pernah saya tulis di sini, juga saya berikan kepada kenalan yang lebih membutuhkan. Supaya manfaatnya terus mengalir. Jadi lumayan, rak buku di rumah jadi tidak penuh.

Buku-buku yang dihibahkan awal tahun 2019
Buku-buku yang dihibahkan awal tahun 2019

 

Begitulah cerita panjang saya seputar buku. Semoga apapun kondisinya, saya selalu punya semangat dan waktu untuk tetap membaca buku. Karena tahun 2019 ini salah satu komitmen saya adalah lebih mengurangi aktivitas bermedia sosial dan blogging, itu kenapa produktivitas membaca buku saya rasakan jadi meningkat.

Kalau kamu, setiap tahun punya target membaca tidak? Lebih suka membaca buku fiksi atau nonfiksi?

-Nootdorp, 5 Maret 2019-

Minibieb : Perpustakaan Mini di Belanda

Minibieb

Dalam bahasa Belanda, perpustakaan adalah Bibliotheek atau sering disingkat Bieb (baca : Bib). Nah jika diartikan, Minibieb adalah perpustakaan mini. Maksudnya gimana nih? Jangan dibayangkan perpustakaan mini adalah sebuah ruangan kecil yang penuh dengan buku dan kita bisa meminjam buku-buku tersebut. Perpustakaan mini di Belanda adalah sebuah lemari kecil berkaca (biasanya dua atau tiga rak atau bahkan ada yang lebih besar) yang di dalamnya berisi buku-buku (kebanyakan dalam bahasa Belanda). Lemari buku ini dibuat oleh perorangan atau komunitas atau bahkan perusahaan dan diletakkan di tempat-tempat strategis yang dilewati orang-orang, misalnya di pinggir jalan besar, depan rumah, pojokan jalan  bahkan di taman bermain luar ruangan atau tempat di ruang publik lainnya. Yang saya lihat selama ini seringnya diletakkan di depan rumah orang yang mempunyai inisiatif membuat minibieb.

Minibieb
Minibieb di depan rumah

Lemari kaca yang berisi buku-buku ini tidak dalam keadaan terkunci. Jadi siapa saja bisa meminjam dan mengembalikan kapanpun setiap saat. Bahkan, siapapun juga bisa meletakkan buku yang sekiranya sudah tidak ingin mereka simpan lagi di rumah. Karena tidak dikunci, jelas sistemnya saling percaya. Yang meminjam nanti akan mengembalikan lagi jika sudah selesai membaca, yang mempunyai minibieb percaya bahwa buku-buku yang diletakkan akan dikembalikan atau bahkan diganti dengan buku lainnya. Apakah pernah ada kejadian minibieb ini dicuri atau tiba-tiba menghilang? Yang saya tahu, tetangga dekat rumah pernah kehilangan minibiebnya. Tapi beberapa hari kemudian ditemukan di sungai dekat rumah juga. Buku-buku masih ada lengkap di dalamnya. Jadi tidak tahu sebenarnya motivasi orang yang mengambil minibieb ini apa. Mungkin kejadian ini hanya satu dari banyak yang aman karena selama ini saya tidak pernah membaca tentang pencurian minibieb.

Minibieb
Minibieb

Lemari kaca bisa dibuat sendiri maupun membeli, tergantung lebih mudahnya bagaimana. Yang saya taruh foto-fotonya di sini adalah minibieb yang ada di sekitaran rumah, jadi lemarinya tidak terlalu besar. Namun beberapa kali saya melihat minibieb yang diletakkan di pinggir jalan raya besar itu lemarinya besar, ya seperti lemari baju berkaca berisi penuh buku. Menurut saya konsep ini sangat menarik. Jadi orang-orang yang kebetulan melewati dan punya keinginan membaca buku tidak perlu jauh-jauh untuk meminjam buku ke perpustakaan. Saya sering meminjam buku di minibieb yang ada di sekitar rumah. Seringnya buku cerita anak. Meskipun jarak rumah ke perpustakaan juga tidak terlalu jauh (hanya sekitar 200 meter dan saya sering ke sana), tapi meminjam buku-buku di minibieb dekat rumah juga mengasyikkan karena ragam bukunya juga banyak.

Minibieb
Minibieb di pinggir jalan untuk sepeda

Seiring makin banyaknya minibieb, sekarang tak kurang ada 900 jumlahnya yang tersebar di seluruh Belanda. Data ini saya baca dari portal berita AD. Tidak hanya jumlahnya yang makin bertambah sejak pertama kali minibieb ada yaitu tahun 2009, namun fungsinya saat ini juga mulai meluas tidak hanya sebagai perpustakaan mini untuk buku. Beberapa lemari kaca ini selain untuk menaruh buku, juga kadang ditemukan beberapa makanan atau bunga atau camilan yang bisa diambil juga secara gratis. Atau kalau misalkan ada yang ingin menaruh makanan di lemari ini juga bisa. Makin menarik saja fungsi dari minibieb dewasa ini.

Minibieb
Minibieb

Saya pernah mengutarakan pada suami tentang keinginan untuk memiliki minibieb di depan rumah. Jadi lumayan bisa menaruh beberapa koleksi buku yang ada di rumah dan bisa dipinjam untuk dibaca oleh mereka yang melintas depan rumah kami. Mungkin tahun depan mulai direalisasikan. Informasi tentang minibieb bisa dibaca pada website resminya.

Ada yang tertarik menerapkan konsep ini di lingkungan tempat tinggalnya? atau mungkin ada yang sudah punya di rumahnya?

-Nootdorp, 10 Februari 2019-

Buku-Buku Tentang Persiapan Hamil, Kehamilan, Tumbuh Kembang Stimulasi Bayi, Parenting, dan Mpasi

Fertility Diet

Judulnya panjang ya. Daripada membuat tulisan secara terpisah, saya jadikan satu saja, supaya lebih ringkas. Beberapa waktu lalu, saya baru saja melungsurkan koleksi buku-buku yang berhubungan dengan persiapan hamil, kehamilan, tumbuh kembang stimulasi bayi, parenting, dan Mpasi (dengan metode BLW) kepada seorang kenalan yang tinggal di Eropa dan saya kenal lewat twitter (kami belum pernah bertemu sama sekali). Tidak semua buku yang saya foto dibawah ini saya berikan, ada beberapa yang masih saya simpan karena kedepannya ingin saya baca-baca lagi. Beberapa lainnya saya berikan dan dia dengan senang hati mengadopsinya. Saya juga senang karena buku-buku tersebut mempunyai rumah baru sekarang dan semoga manfaatnya juga terus mengalir.

Nah, daripada mubadzir cuma saya foto-foto saja, maka saya putuskan untuk berbagi cerita di blog tentang buku-buku ini. Saya pernah menuliskan di blog cerita tentang kehamilan pertama yang pada akhirnya keguguran, beberapa tahun lalu. Pada saat keguguran itu, awalnya jelas kami sedih karena kehilangan anak pertama kami. Namun selang beberapa waktu kemudian, saya malah bersyukur bahwa saya keguguran. Pasalnya, saya belum siap memiliki anak pada saat itu. Pengetahuan saya tentang dunia hamil, bayi dan seputar parenting, nol besar. Saya tidak ada persiapan pengetahuan sama sekali. Dan buat saya pribadi, memasuki satu fase penting dalam hidup tanpa persiapan matang, apapun jenisnya, tidak bisa saya lakukan. Minimal, saya tahu gambarannya seperti apa.

Dan alasan lainnya, sebenarnya pada saat itu saya belum yakin apakah benar saya ingin mempunyai anak. Tentang keputusan memiliki anak, sudah saya bicarakan dengan suami pada saat kami belum menikah. Waktu itu, saya bilang bahwa ada kemungkinan besar setelah menikah saya tidak ingin mempunyai anak karena saya merasa tanggungjawab memilik anak itu sangat besar. Kontraknya seumur hidup dan benar-benar keputusan berdua dengan pasangan (terutama saya karena badan dan hormon saya yang akan mengalami perubahan). Suami orangnya santai. Dia menikah dengan saya bukan dengan tujuan memiliki keturunan. Jadi kalaupun akhirnya saya memutuskan tidak punya anak, dia biasa saja. Begitu juga sebaliknya.

Pernah seorang teman di sini, menitipkan bayinya dua kali (waktu itu usia 9 bulan dan 12 bulan) untuk menginap di rumah kami saat akhir pekan. Kalau di sini, sudah biasa bayi-bayi dititipkan kepada teman dengan tujuan supaya bayi-bayi itu bisa beradaptasi dengan lingkungan diluar rumah sendiri dan dengan orang diluar lingkungan keluarga. Nah, selama bayi ini ada di rumah, saya merasa biasa saja haha. Seperti tidak ada naluri keibuan. Bahkan tugas mengganti popok semua dilakukan suami. Saya memang tidak mau mengganti popok terutama untuk urusan poop, jauh-jauh deh. Jadi terhadap bayi yang dititipkan ini, perasaan saya biasa saja, datar.

Dari pengalaman tersebut, saya lalu mempertanyakan lagi ke diri sendiri apakah benar saya ingin mempunyai anak. Karena pada dasarnya saya ini mempunyai jiwa riset yang sangat tinggi, akhirnya saya memperbanyak riset dulu dari buku-buku maupun jurnal-jurnal internasional yang berhubungan dengan kehamilan dan ilmu parenting. Saya mengibaratkan, sebelum memutuskan untuk hamil (kembali), saya perlu mempelajari kisi-kisi ilmunya. Seperti saat akan kuliah, minimal saya tahu mata kuliah apa saja dalam jurusan yang akan saya ambil. Jadi ketika keputusan sudah diambil, tidak ada kata menyesal kemudian dan menikmati segala alur serta perjalannya secara sadar. Berbekal ilmu juga (sebagai salah satu cara mempersiapkan mental), saya bisa memutuskan dengan sadar bahwa saya memang benar-benar mau atau tidak mau punya anak. Jadi keputusan memiliki atau tidak memiliki anak datang dari diri sendiri (bersama pasangan), bukan hanya sekedar ingin tanpa persiapan (lahir batin), apalagi hanya untuk memenuhi standar normal kehidupan pernikahan dalam masyarakat Indonesia. Sama halnya dengan pernikahan, buat saya, memiliki anak bukanlah sebuah kewajiban tetapi pilihan hidup.

Oke, mari mulai bercerita tentang buku. Semua buku-buku dalam postingan ini saya baca dalam kurun waktu 2016-2018. The Fertility Diet adalah buku pertama yang saya baca setelah riset sana sini tentang jenis makanan apa saja yang dikonsumsi sebelum persiapan hamil. Setelah membaca keseluruhan isi bukunya, ternyata isinya sangat menarik, bukan hanya membahas tentang jenis makanan maupun jenis diet yang bisa dilakukan untuk mereka sebelum hamil, tapi  juga menjelaskan tentang jenis-jenis makanan dan kandungannya secara umum. Dalam buku ini juga dijelaskan tentang PCOS (Polycystic ovary syndrom), makanan apa saja yang bisa dikonsumsi dan juga diet apa saja yang bisa dilakukan. Buat saya, buku ini penuh penjelasan ilmiah dan penuh riset yang sangat menambah pengetahuan. Buku ini sudah saya berikan kepada seorang teman di Belanda.

 

Fertility Diet
Fertility Diet

Nah dua buku di bawah ini saya baca untuk mengetahui gambaran selama hamil dan ketika melahirkan itu seperti apa. Buat saya, gambaran melahirkan pada saat itu sangatlah menyeramkan. Entah, di kepala saya selama ini yang namanya orang melahirkan itu terbayang menyeramkan. Karenanya saya perlu membaca buku yang minimal memberikan saya pengetahuan tentang hamil, proses selama hamil, persiapan melahirkan dan melahirkan secara sadar. Dan dua buku ini cukup membuka gerbang pengetahuan dan memenuhi rasa ingin tahu saya tentang hal tersebut.

Mengerti konsep tentang hamil dan melahirkan secara sadar
Mengerti konsep tentang hamil dan melahirkan secara sadar

Mempersiapkan dan menjalani kehamilan bukan hanya tugas perempuan, dalam hal belajar dan mencari informasi. Yang namanya hamil, dibuatnya berdua, maka segala persiapan, belajar dan apapun itu juga dilakukan berdua, sampai anak lahir nantinya. Dua buku di bawah ini bukan hanya saya yang baca, tetapi suami juga.

Pengetahuan tentang kehamilan bukan hanya pihak perempuan yang aktif belajar, pasangan juga seyogyanya sama-sama belajar
Pengetahuan tentang kehamilan bukan hanya pihak perempuan yang aktif belajar, pasangan juga seyogyanya sama-sama belajar

Kalau buku What to Expect ini semacam bible nya orang hamil ya. Bukunya tebal sekali. Meskipun ada aplikasinya yang juga saya unduh, tapi bukunya lebih lengkap dibandingkan apa yang dikirimkan lewat aplikasi. Kalau buku resep masakan dari Annabel Karmel bukan hanya menyajikan resep masakan saja, tetapi juga mengupas nutrisi yang terkandung dalam jenis makanan yang bisa menunjang kehamilan sehat untuk Ibu dan bayi. Resep masakannya enak dan cepat masaknya.

Panduan selama kehamilan
Panduan selama kehamilan

Nah setelah membaca buku-buku sampai masa kehamilan, saatnya membaca buku-buku yang berhubungan dengan bayi. Buku yang sebelah kiri itu juga ada unduhan aplikasinya, tapi versi buku lebih lengkap. Sedangkan buku How Smart Is Your Baby isinya tentang stimulasi apa saja yang bisa diberikan pada bayi demi menunjang tumbuh kembangnya secara maksimal dan memaksimalkan kemampuan bayi sejak hari pertama lahir. Saya sangat merekomendasikan buku ini karena buat saya buku ini seperti membuka mata bahwa apa yang selama ini oleh orang tua (jaman dulu) tidak boleh dilakukan kepada bayi, sebenarnya bisa dilakukan karena ada dasar risetnya.

Panduan tumbuh kembang bayi dan panduan stimulasi anak
Panduan tumbuh kembang bayi dan panduan stimulasi anak

Tiga buku di bawah ini sudah masuk kepada buku parenting. Dua buku parenting yang berhubungan tentang Belanda, benar-benar memberikan banyak pengetahuan kepada saya tentang cara mendidik anak (dari lahir sampai masuk sekolah) di Belanda. Minimal saya tahu, ketika memiliki anak di Belanda, lingkungannya seperti apa, persiapannya apa saja, pendidikannya bagaimana. Apalagi saat membaca buku The Happiest Kids in The World, saya manggut-manggut. Jadi tahu kenapa anak-anak kecil di Belanda. misalnya kalau masuk sekolah selalu mukanya sumringah tanpa keterpaksaan, bagaimana orangtua di Belanda mengajarkan anak-anaknya mandiri dalam hal makan dan tidur sejak bayi dan masih banyak hal-hal menarik dalam buku ini tentang parenting di Belanda (yang dibandingkan dengan parenting di Amerika dalam beberapa aspek). Sedangkan buku The Childhood roots of adult happiness juga bagus sekali. Intinya, anak harusnya sering-sering diajak main diluar ruangan, diperkenalkan dengan alam, distimulasi sebanyak mungkin berdekatan dengan alam (misalnya main pasir dengan kaki telanjang atau sering-sering menginjak rumput, main tanah) dan seminim mungkin terpapar oleh teknologi (misalkan TV, Hp dan gadget lainnya). Saya senang sekali membaca buku ini, banyak quote-quote menarik.

Buku-buku parenting
Buku-buku parenting

Buku-buku parenting selanjutnya dalam bahasa Indonesia. Ini juga isinya bagus-bagus. Jatuh hati pada Montessori isinya berbeda dengan buku-buku montessori lainnya. Buku ini menuliskan bukan tentang teori montessori tetapi pendekatan montessori dalam mengasuh anak dan memaksimalkan kemampuan anak sejak usia dini. Saya merekomendasikan buku ini jika ingin belajar tentang pendekatan montessori dari kacamata yang berbeda. Buku Adhitya Mulya juga favorit saya. Banyak poin poin dalam ceritanya yang saya amini (karena saya mengalami sendiri), meskipun beberapa poin lainnya saya tidak sepaham. Tapi secara keseluruhan, buku ini bagus. Sedangkan dua buku lainnya, ditulis oleh pakar dan praktisi pendidikan di Indonesia, juga favorit saya.

Buku-buku parenting
Buku-buku parenting

Nah, buku ini sebenarnya bukan buku tentang parenting (menurut saya), melainkan bercerita tentang pengalaman mendidik sejak bayi seorang anak namanya Kirana. Saya tidak mempunyai IG, jadi saya tahu tentang buku ini malah dari twitter. Meskipun bukan buku parenting, tapi cerita yang dituliskan secara mengalir dan enak dibaca, bahkan ada beberapa bagian yang membuat saya menangis, banyak memberikan pelajaran berharga.

Bukan buku Parenting tapi ceritanya memberikan banyak pelajaran berharga
Bukan buku Parenting tapi ceritanya memberikan banyak pelajaran berharga

Tiga buku terakhir ini adalah buku Mpasi dengan metode BLW (Baby Led Weaning). Saya tertarik mempelajari metode ini lebih lanjut karena metode ini sebenarnya bukan metode yang baru, sudah diterapkan sejak jaman dulu (bahkan di Indonesia pun). Intinya, bayi diperkenalkan dengan makanan solid sejak awal dia mulai makan. Bayi diberikan kebebasan menentukan sendiri sebanyak apa makanan yang masuk dalam tubuhnya berdasarkan kenyang yang dia rasakan serta bayi sejak awal sudah dibiasakan makan sendiri dengan makanan dalam bentuk asli. Kalau di Belanda, bayi mulai bisa diperkenalkan dengan makanan sejak umur 4 bulan (tanpa adanya indikasi medis). Buat saya, metode BLW ini sangatlah membantu dan cocok. Membantu karena tidak perlu selalu menyuapi dan mengajarkan anak mandiri sejak awal dan jadinya tidak picky eater karena sudah diperkenalkan makanan dalam bentuk asli sejak awal dari berbagai variasi makanan, bahkan yang sekiranya menimbulkan alergi (di stop dulu untuk beberapa waktu, nanti diberikan lagi untuk melihat apakah tetap menimbulkan alergi ataukah tidak).

Buku Panduan Mpasi Metode BLW
Buku Panduan Mpasi Metode BLW

Begitulah tulisan saya kali ini yang berbagi cerita tentang beberapa buku yang sudah saya baca. Kembali lagi, buat saya pribadi, membekali diri dengan ilmu itu sangat penting, dalam hal apapun. Karena saya senang membaca, saya membekali diri dengan banyak membaca supaya referensi dan ilmu saya selalu bertambah. Meskipun pada akhirnya yang namanya mendidik anak tidak selalu sama berdasarkan teorinya karena setiap anak itu unik, tapi minimal saya punya bekal ilmu. Meskipun seringnya mendidik anak pada akhirnya berbekal insting, tapi minimal insting saya punya dasar ilmu. Sampai sekarang pun saya tetap membaca buku-buku tentang parenting karena sesungguhnya yang namanya belajar itu tidak mengenal batasan media dan waktu. Kapan-kapan akan saya bagi beberapa buku bagus tentang parenting yang sedang saya baca.

Semoga tulisan kali ini bermanfaat bagi yang sedang membutuhkan bacaan seputar persiapan hamil, kehamilan, tumbuh kembang stimulasi bayi, parenting, dan Mpasi (dengan metode BLW).

-Nootdorp, 27 Januari 2019-