Enam Tahun Perkawinan

Enam Tahun Pernikahan

Minggu lalu, perkawinan kami genap berusia 6 tahun. Sebenarnya kami kenal satu sama lain 6.5 tahun. Tinggal satu atap 5.5 tahun. Enam tahun menikah, pasti ada saja ya naik turunnya. Menikah kan bukan hanya sebatas yang indah-indah saja, yang pahit-pahit juga harus dihadapi dan diselesaikan bersama.

Saya memang orangnya realistis, tidak mau hidup dalam dunia dongeng. Kalau ada yang bertanya pada saya, bagaimana kehidupan setelah menikah. Saya selalu bilang kalau kehidupan pernikahan itu bukan menyelesaikan sebuah permasalahan tapi membuat permasalahan baru dilipatgandakan. Ya karena setelah menikah semuanya dihadapi berdua. Ada masalah ya seringnya datang dari kedua belah pihak, maka dari itu masalahnya jadi ganda. Bedanya, setelah nikah ada yang diajak diskusi. Jadi menyelesaikan masalah juga berdua. Karena itu, buat mereka-mereka yang kebelet menikah diusia muda, lebih baik pikirkan berulang kali. Nikmati masa muda sepuasnya dulu, kejar yang perlu dikejar, raih setingginya yang perlu diraih. Nanti setelah menikah, orientasinya berbeda. Tentu saja masih bisa mengejar dan meraih, dengan diskusi berdua.

Biasanya saat ulangtahun pernikahan, kami lewati dengan jalan-jalan. Kali ini situasinya berbeda, Pandemi. Kami melewati hari di acara ulangtahun Anis. Tanggal ulangtahun dia dan ulangtahun pernikahan kami, persis sama. Jadi ketika kami memutuskan tidak jadi ke negara tetangga, kami mengiyakan undangan ulangtahun Anis. Seperti biasa, saya membuat tumpeng lalu membagikan nasi kuning ke para tetangga dan saudara. Spesialnya, saya membuat sendiri kue ulangtahun pernikahan kami. Tidak yang ruwet, sederhana tapi kekinian haha penting. Saya membuat Jelita Cake. Gampang sih bikin ini *huahaha sumboongg padahal sebelum bikin, deg-degan takut bantat, nanya terus sama Mita di twitter. Saya membuat dua, satu untuk kami makan sendiri dan bagi-bagi. Satu untuk dibawa ke ulangtahun Anis. Rasanya enak dan tidak bantat.

Alhamdulillah, ulangtahun pernikahan yang sangat bermakna. Kami lewati bersama para teman dan keluarganya. Pandemi ini sungguhlah luar biasa efeknya. Melewati hari jadi pernikahan bersama mereka, membuat hati menghangat. Untuk Anis, selalu bahagia, berkah melimpah, sehat dipertambahan umur periode yang baru.

Jelita Cake
Jelita Cake
Tumpengan
Jelita Cake untuk ulangtahun Anis
Jelita Cake untuk ulangtahun Anis
Jelita Cake

Sehari sebelum hari ulang tahun pernikahan, saya bertanya pada suami : Bagaimana rasanya 6 tahun menikah denganku, apakah terlalu berat? *sadar diri, kerasnya melebihi batu. Tapi sekarang kadar kerasnya sudah jauh berkurang.

Dijawab suami : Pasti naik turun ya, tapi aku merasakan banyak bahagianya dibandingkan yang pahit-pahitnya. Sampai kadang lupa bagian pahitnya, saking bahagianya *lalu hidungku mekrok2 karena dipuji.

Hidup dengan orang yang tepat, waktu berlalu sangat cepat. Mendadak kok sudah 6 tahun saja. Merasa kok sudah 5.5 tahun di Belanda. Ngapain saja aku selama ini *amnesia. Segala hal selalu kami perjuangkan bersama. Segala bahagia dan tertawa selalu kami rasakan berdua. Kata orang, 5 tahun pernikahan di awal sangatlah berat. Ujian akan datang pada rentang waktu tersebut. 5 tahun pertama kami lewati dengan mulus. Justru ujian datang beberapa bulan setelah 5 tahun. Saat saya keguguran mendekati akhir tahun lalu. Bersyukur, kami bisa melewatinya dengan baik. Peristiwa tersebut semakin menguatkan hubungan kami.

Enam tahun penuh dengan cerita, suka duka tawa bahagia. Saling menopang dan menguatkan, saling bahagia dan membahagiakan. Saling cinta dan mencintai. Enam tahun dengan dua malaikat yang sudah berpulang mendahului, namun selalu ada dalam hati, ingatan, dan doa kami. Enam tahun bersama buah hati yang terkadang membuat awut-awutan hari namun lebih banyak memberikan keceriaan dengan segala tingkah laku mereka. Kami terberkati dengan kebahagiaan ini, syukur yang tak pernah putus mengalir setiap hari. Semoga kami berjodoh panjang, sehat, berkah, dan bahagia.

-12 Agustus 2020-

Membicarakan Kematian

Duh kok agak horor ya malam Jumat begini nulis tentang kematian. Tenang, ini bukan tulisan tentang setan dan kaumnya. Saya ingin bercerita tentang perbincangan beberapa hari lalu dengan suami.

Dua tahun lalu, saya pernah menuliskan topik tentang kematian di blog ini. Lebih lengkapnya, bisa dibaca di sini. Dulu, saat belum menikah, membicarakan kematian adalah hal yang saya hindari. Kayak ga ada topik pembicaraan yang lebih menarik lainnya kan. Ngeri takut kejadian kalau ngobrol tentang kematian. Setelah menikah, budaya di Belanda ternyata berbeda. Membicarakan kematian jadi hal yang biasa, setidaknya di lingkungan keluarga kami dan beberapa rekan yang kami kenal.

Pada akhirnya, saya jadi biasa membicarakan tentang kematian. Jadi semacam, ya biasa saja. Jadi lebih realistis, ya memang meninggal itu butuh dipersiapkan. Lebih realistis ya semua orang memang ujung-ujungnya akan meninggal. Dulu, saya sudah wanti-wanti suami kalau saya meninggal terlebih dahulu, ingin dikuburkan dekat Bapak. Jadi jenazah saya, minta dipulangkan ke Indonesia. Karena keinginan yang seperti itu, kami lalu mencari informsi tentang asuransi, supaya nanti tidak kelabakan. Asuransi pemakanan, super mahal.

Jalan di kampung kami

Lalu beberapa hari lalu, saat saya sedang mencuci peralatan masak, tiba-tiba terlintas : kenapa harus dikuburkan di Indonesia ya kalau saya meninggal. Dulu ingin dimakamkan dekat Bapak dengan alasan supaya keluarga di sini tetap bisa untuk sesekali ke Indonesia menengok kuburan saya dan Bapak juga bisa bertemu dengan keluarga di sana. Jadi tidak putus hubungan dengan keluarga di Indonesia.

Lalu saya pikir-pikir lagi, kok ya repot sangat. Sudah jadi jenazah, kok ya jadi merepotkan yang masih hidup dengan harus mengirim ke Indonesia, mendampingi dan harus menempuh perjalanan sebegitu panjangnya. Padahal keinginan saya (dan suami), kalau kami meninggal tidak mau terlalu merepotkan yang sudah hidup.

Atas dasar pikiran yang tiba-tiba terlintas tersebut, saya utarakan ke suami kalau saya membatalkan rencana untuk dikuburkan di Indonesia. Saya ingin dikuburkan di Belanda saja. Saya tidak mau merepotkan yang masih hidup. Saya ingin yang simpel dan gampang saja, yang penting khidmat dan dikenang baik oleh keluarga. Yang datang di acara pemakaman juga hanya keluarga inti dan teman sangat dekat. Keluarga di Indonesia tidak perlu datang supaya tidak repot. Bahkan saya juga bilang, kalau misalkan tidak ada lahan untuk mengubur, dikremasi pun tidak masalah. Intinya, jangan dibuat susah dan tidak merepotkan. Sudah seikhlas itu.

Tanggapan suami : Ok, nanti mau diputarkan lagu apa waktu jenazah kamu disemayamkan. Bonjovi atau Coldplay?

Hahaha sungguh saya langsung tergelak. Belum terpikirkan tentang hal itu. Tapi saya sudah lega menyampaikan keinginan tersebut. Meninggal tanpa merepotkan yang masih hidup. Sederhana tapi manis dikenang. Obrolan macam ini memang sering kami lakukan.

Saya menulis begini jangan langsung dijadikan sebuah pertanda atau firasat atau apapun ya. Yang namanya umur tidak ada yang tahu. Inginnya diberikan kesehatan yang baik dan umur yang berkah. Ingin hidup yang lebih lama, berjodoh lama dengan suami, dan bersama dengan keluarga lebih lama. Utang puasa masih banyak dan belum lunas nih, jadi berdoa usia dipanjangkan.

Kalian pernah memikirkan tentang hal ini, atau sering ngobrol dengan pasangan tentang kematian?

-23 Juli 2020-

Musim Gugur 2019

Sudah dipenghujung bulan November, saatnya saya mendokumentasikan secara singkat cerita musim gugur tahun ini.

Meskipun bukan musim favorit, tapi saya selalu suka warna warni selama musim gugur. Menyenangkan melihat dedaunan berubah warna menjadi kuning, merah, atau oranye. Setiap sudut tempat menjadi sangat cantik. Bahkan daun yang berguguguran pun jadi nampak cantik.

Jalan-jalan di hutan

Jalan-jalan di hutan

Kegiatan kami selama musim gugur : melakukan aktivitas luar ruangan semaksimal mungkin. Jalan-jalan ke hutan, ke taman kota, peternakan, ke taman bermain, bersepeda sore hari menikmati lalu menunggu matahari terbenam, duduk-duduk di danau, dan saya seperti biasa olahraga lari. Lari dengan suhu dibawah 7°C sangatlah nyaman, tidak terlalu gerah, tidak gampang capek, tapi tetep keluar keringat.

Bersepeda sore hari, berhenti di jembatan menunggu matahari terbenam
Bersepeda sore hari, berhenti di jembatan menunggu matahari terbenam

Pagi hari di kampung tempat tinggal kami
Pagi hari di kampung tempat tinggal kami

Masih dari kampung kami
Masih dari kampung kami

Bersepeda menuju hutan
Bersepeda menuju hutan

Di taman kota Den Haag
Di taman kota Den Haag

Daun warna merah
Daun warna merah

Beberapa kali di pagi hari, suhu sudah menjadi minus derajat celcius (antara -3 sampai -1). Dingin sekali dan tangan jadi perih rasa tertusuk jika nekad ke luar rumah tanpa memakai sarung tangan (seperti saya, selalu malas memakai sarung tangan). Gelap juga cepat sekali datang. Hujan menjadi lebih sering singgah. Tapi bagaimanapun cuacanya, selama tidak hujan badai atau angin sangat kencang, kami memaksimalkan kegiatan di luar rumah. Sebenarnya godaan untuk leyeh-leyeh di rumah sangat besar, tapi saya memang dasarnya tidak terlalu suka hanya berdiam diri di rumah. Sesekali bolehlah, istirahat. Tapi selama diberikan kesehatan, bergerak semaksimal mungkin di dalam dan di luar rumah.

Musim gugur ini, saya membuat sebuah keputusan dan melakukan sesuatu yang sangat keluar dari zona nyaman, yang tidak pernah saya duga pada akhirnya akan saya lakukan. Belum bisa saya ceritakan saat ini, tapi suatu saat akan saya tuliskan di sini. Selain itu, saya mulai kembali belajar bahasa Belanda dan ikut kursus gratisan di perpustakaan dekat rumah untuk level Staatsexamen II (B2). Rencananya tahun depan saya ikut ujian B2. Lontaran yang sering saya ucapkan ke suami : datang ke Belanda, bahasa Belanda level A1. 5 tahun kemudian ya naiklah jadi B2. Salah satu ucapan yang selalu memotivasi diri sendiri untuk lebih baik dan lancar berbahasa Belanda, lisan, tulisan, dan pendengaran. Awal di sini, berbicara di telepon selalu minta dalam bahasa Inggris. Sekarang saya sudah percaya diri menggunakan bahasa Belanda setiap menelepon Instansi maupun Perusahaan. Perkara bahasa, memang harus memaksa diri sendiri supaya lebih lancar.

Beberapa teman melahirkan di musim gugur ini. Jadi saya juga sibuk melakukan kraambezoek atau tilik bayi. Tidak lupa saya sempatkan memasak untuk dibawa ketika berkunjung. Membawa makanan saat kraambezoek selalu saya lakukan karena makanan selalu membawa bahagia bukan. Ibu baru melahirkan harus banyak makan, keluarganya pun. Jadi dengan membawa makanan, bisa sedikit meringankan kegiatan Ibu atau Bapak menyiapkan makanan.

Saat minus satu derajat celcius di pagi hari. Rumput beku tapi matahari tetap nyentrong
Saat minus satu derajat celcius di pagi hari. Rumput beku tapi matahari tetap nyentrong

Kegiatan masak memasak tetap berjalan, bahkan saya sering mencoba untuk memasak makanan baru. Cerita singkatnya ada di postingan sebelum ini. Musim gugur tahun ini, meskipun ada berita sedih di keluarga kami, tapi ada juga momen bahagia. Kami melakukan syukuran dengan mengundang seluruh keluarga. Selalu menghangat hati jika ingat waktu itu. Semua sangat menikmati dan suasana sangatlah intim. Het was super gezellig!

Tumpeng sederhana saat syukuran
Tumpeng sederhana saat syukuran

November menjadi bulan yang sangat spesial juga buat saya dan suami. 6 tahun lalu, pertama kalinya kami mengenal satu sama lain. Seringnya kami terkesima, sudah 6 tahun berlalu ternyata. Sepertinya tak lama. Pernikahan kami akan menuju 5.5 tahun. De tijd gaat snel! Kami benar-benar menikmati kebersamaan, naik turun, jatuh bangun, jatuh cinta dan pertengkaran, semuanya. Kami banyak belajar selama 6 tahun mengenal. Pembelajaran yang menjadikan kami pribadi yang lebih baik dan saling mendewasakan.

Daun-daun makin banyak yang rontok, hujan semakin sering turun, suhu semakin dingin. Musim dingin sudah nampak didepan mata. Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan yang baik, kebahagiaan, kesempatan berkumpul bersama keluarga, menyelesaikan yang belum selesai sebelum tahun 2019 yang tinggal sebulan lagi berlalu. Saya masih ada tanggungan membaca 9 buku lagi dari target 50 buku tahun ini. Semoga terkejar.

-28 November 2019-

Yang Terjadi Pada Kehidupan Setelah Keguguran

Perihal Keguguran. Saya pernah bercerita di blog tentang salah satu keguguran yang terjadi. Cerita singkatnya pernah saya tuliskan di bagian akhir tentang Berkah dan Musibah. Iya, salah satu, karena saya mengalami keguguran tidak hanya sekali. Jumlah keguguran yang pernah saya alami bukanlah hal yang ingin saya banggakan atau untuk kompetisi penderitaan. Bukan. Jika memungkinkan, lebih baik saya tidak pernah mengalami peristiwa yang akan selalu membekas dalam hidup sampai kapanpun. Perihnya bukan hanya tertinggal pada badan, tetapi juga pada jiwa dan pikiran. Sampai sekarang saya masih berdamai dengan keadaan, hati, dan juga pikiran. Tidak semudah itu buat saya untuk melepaskan yang telah pergi, yang pernah satu raga, dan pernah saya lihat detak jantungnya. Tidak semudah itu buat saya untuk melupakan yang pernah saya kandung tetapi tidak sempat saya lahirkan pada saat cukup umur. Hidup memang terus berjalan, tapi kenangan akan mereka selalu melekat dalam setiap langkah saya melewati hari. Kehidupan setelah keguguran tidaklah mudah, sangat tidak mudah.

image1.JPG

Butuh waktu buat saya untuk bercerita tentang keguguran pada lingkungan selain keluarga. Bahkan pada keluarga dekat pun saya memilih untuk tidak bercerita secara detail, malah pada akhirnya saya memilih untuk tidak bercerita sama sekali. Pada akhirnya saya lebih memilih bercerita pada yang saya percaya dan menyamankan. Hal yang paling menyakitkan dan menyedihkan buat saya adalah saat menerima komentar tentang keguguran (di luar lingkungan keluarga). Percayalah, ucapan belasungkawa saja sangatlah cukup. Jika memang tidak diberitahu, lebih baik simpan keinginan untuk bertanya, “kenapa keguguran?” meskipun memang mungkin keinginan bertanya hal tersebut sangatlah kuat. Apalagi kalau komentarnya disertai penghakiman seperti : Terlalu capek sih. Makanya makannya dijaga jangan sembarangan. Mungkin kamu melakukan hal-hal yang dilarang. Sudahlah lupakan saja toh hanya keguguran. Move on dan fokus dengan yang sudah ada sekarang. Dan sebagainya dan sebagainya. Keguguran sudahlah sangat membuat sedih, tolong jangan ditambahi dengan komentar yang lebih membuat terluka. Jika memang tidak diminta pendapat, tolong simpan saja segala macam komentar. Cukup berikan rasa simpati dan empati, itu sungguh sangat berarti. Mudah-mudahan tulisan saya kali ini bisa memberikan gambaran, bagaimana musti menyikapi dan bersikap ketika kita mendengar ada kerabat, teman, atau kenalan yang mengalami keguguran. Mungkin memang membingungkan bagaimana harus bersikap. Jika lama tidak berkomunikasi lalu mendengar ada yang keguguran dan kalian ada sedikit waktu, sekedar menanyakan kabar, itu sangatlah berarti. Jika mereka butuh dipeluk untuk membuat tenang, peluklah. Mungkin tampak luar mereka baik-baik saja, tapi dalamnya mereka sedang berjuang menyatukan kepingan-kepingan hati supaya kuat kembali. Mereka sedang bingung dan butuh ruang. Terkadang mereka butuh bahu dari seorang teman untuk menyandarkan sejenak dari rasa sakit akan kehilangan.

IMG_0123

Dukungan dari pasangan sangat diperlukan. Saya tahu, kesedihan bukan hanya dimonopoli oleh calon Ibu yang kehilangan calon bayinya. Rasa sedih pasti juga dirasakan oleh calon Bapak. Dalam situasi yang seperti ini, saatnya untuk menguatkan satu sama lain. Saling mendampingi dan tidak meninggalkan sesulit apapun kondisi dan situasinya. Jika memang kata-kata tak cukup untuk saling menguatkan, peluk sesering mungkin pasangan kalian. Perempuan yang kehilangan janinnya, perasaannya akan hampa dan kosong, bahkan seringnya emosi juga turun naik. Bagi suami atau pasangannya, tolong dampingi istrimu atau pasanganmu. Jangan anggap sepele perkara keguguran. Buat Istri, Perempuan yang mengalami keguguran, tolong sempatkan untuk menanyakan perasaan suami atau pasangan kalian. Kesedihan bukan hanya milik kalian saja. Suami atau pasangan kalian juga merasakan kehilangan itu. Inilah waktunya untuk saling menguatkan. Keguguran bisa mengakibatkan depresi jika tidak ada dukungan dari orang terdekat, bahkan bisa juga membuat retak hubungan dan ikatan pernikahan.

image3.JPG

Untuk semua Ibu yang kehilangan bayinya, doa saya selalu menyertai semoga saya, kalian, kita semua yang kehilangan selalu dikuatkan. Saya tahu, entah butuh berapa lama untuk bisa berdamai dengan keadaan ini. Rasa sakit yang menyertai hari-hari kita, pertanyaan yang selalu datang, “jika mereka lahir dengan sehat, tahun ini mereka seperti apa, sudah bisa apa?” Pertanyaan itu tetap datang pada saya, setiap saat. Bukan karena saya tidak mau melepaskan dan melanjutkan kehidupan dengan yang ada saat ini, tetapi seperti yang saya bilang di awal, kehilangan tetaplah kehilangan. Butuh waktu yang entah berapa lama untuk mengatasi rasa sakit karena kehilangan. Mungkin setahun, dua tahun, atau mungkin memang waktu tidak bisa menyembuhkannya karena sakit itu akan selalu ada. Saya tidak tahu caranya menghentikan rasa sakit itu dan saya memang tidak mencari tahu bagaimana caranya. Saya tahu rasa sakit yang kalian alami juga and I am sorry that any of us ever had to know this reality. Saya tahu duka itu mungkin akan selalu ada. Yang bisa kita lakukan adalah tetap menjalani hari demi hari dan membawa dalam hati dan pikiran, hati bayi kita yang hilang. Mereka pernah ada di sini. Mereka pernah ada satu badan dengan kita. Mereka pernah ada satu detak jantung dengan kita. Mereka pernah kita kandung. Kenangan akan mereka akan selalu ada sampai kapanpun. Bawa mereka dalam doa. Saya, Kalian adalah Ibu mereka, selamanya dan untuk selamanya.

Peluk erat dari saya.

Terima kasih saya ucapkan (kali ini saya tuliskan di blog setelah waktu itu saya ucapkan langsung) sepenuh hati pada teman-teman yang telah menguatkan saya, memikirkan, mencari dan menanyakan kabar saat saya tidak bisa dihubungi karena sedang butuh ruang untuk sendiri, serta ikut mendoakan yang terbaik untuk keluarga kami. Terima kasih.

-15 Oktober 2019-

 

 

Lima Tahun Perkawinan

Wedding Day

Ada rasa yang membuncah karena kisah cinta super kilat yang dimulai 5.5 tahun lalu telah membawa kami pada tahun kelima perkawinan. Senang tak terperi, syukur yang terucap bertubi, gembira, dan rasa haru mewarnai beberapa hari ini.

DE_0137

Seminggu lalu, saya membuka laptop lama untuk mencari satu dokumen. Membuka satu persatu folder, mata saya terantuk pada folder perjalanan kisah kami berawal, sampai pernikahan. Membaca kembali salinan surat elektronik, sontak membuat mata saya berkabut. Rasa haru menyeruak dan melemparkan ingatan ke 5.5 tahun lalu. Siapa sangka ketika banyak orang yang meragukan hubungan kami, pun kami sendiri saat awal pernikahan, sekarang ikatan ini semakin kuat. Siapa sangka bahwa kami mampu membuktikan pada kami sendiri bahwa 5 tahun pernikahan yang kata banyak orang adalah masa-masa kritis, telah terlewati dengan baik.

IMG_20140705_112432

Kisah kami tidak selalu berjalan mulus dan tidak seindah foto banyak pasangan yang terpampang di media sosial. Ada hari sangat sulit dilewati, ada hari rasanya ingin menyerah, namun lebih banyak hari berisi suka cita dan selalu mengingat kembali apa sebenarnya yang membuat kami di awal memutuskan untuk menikah. Kami saling mencintai, itu yang mudah-mudahan selalu terjaga, sampai kapanpun. Segala terjal perjalanan, gelombang, batu, dan kerikil yang selalu ada di depan, mudah-mudahan bisa selalu kami lewati dengan berjuang bersama. Mudah-mudahan kami tak pernah meninggalkan satu sama lain dan selalu berjuang bersama.

Kami memilih untuk tidak terlalu banyak bercerita tentang hubungan kami di ruang umum, pun tidak terlalu sering menaruh foto berdua, hanya sesekali saja. Itulah cara kami menikmati setiap momen dalam kehidupan rumah tangga. Waktu berlalu sangat cepat, jadi setiap detiknya kami manfaatkan sebaik mungkin. Ada satu yang selalu kami pegang selama ini, bahwa setiap masalah yang terjadi, jangan sampai terhembus keluar rumah. Hadapi dan selesaikan bersama di dalam rumah. Tidak perlu banyak cerita pada keluarga, teman, bahkan mengumbar ke media sosial.  Tidak perlu.

Lebur Dalam Sebuah Ikatan
Lebur Dalam Sebuah Ikatan

Lima tahun belumlah waktu yang terlalu panjang dalam perhitungan kuantitatif membina rumah tangga. Namun, bukankah dalam berumah tangga yang terpenting adalah sama-sama belajar untuk menjadi lebih baik setiap saat, tidak menyoal satu tahun, lima tahun atau berpuluh tahun. Selama lima tahun ini, kami merasa menjadi pribadi yang lebih baik dan memberi kebaikan satu sama lain. Kami berubah bukan untuk menarik perhatian pasangan. Kami berubah untuk diri sendiri. Jika perubahan dilandasi oleh kesadaran sendiri, maka manfaatnya akan terasa buat sekitar. Begitupun yang kami lakukan. Kami tidak pernah saling menuntut pasangan untuk lebih mengerti, tapi saling introspeksi berbicara dari hati ke hati dan kepala dingin mengakui serta minta maaf jika melakukan kesalahan serta tak pernah pelit untuk saling memuji. Kami saling menghormati, bukan selalu menuntut. Kami selalu belajar dari kesalahan dan menjadikannya lecutan untuk lebih baik dalam melangkah.

Kami selalu merasa jatuh cinta. Merawat dan menumbuhkan perasaan berjuta kupu-kupu yang menggelitik perut. Kami masih sering melemparkan kata-kata rayuan gombal yang entah kenapa tetap saja membuat saling tersipu. Kami merawat cinta ini berdua, bersama, dan terus menerus. Kami tetap saling menomor satukan kepentingan satu sama lain karena kami mengawali rumah tangga ini berdua dan pada akhirnya nanti, saat yang lainnya memilih dengan hidup masing-masing, kami akan kembali berdua. Kami tak pernah lupa untuk saling jatuh cinta karena cinta juga yang menjaga kami sampai akhir nanti.

Lima tahun, waktu yang belum panjang dalam berumah tangga. Namun lima tahun ini buat kami berlalu sangat cepat. Jika dijalani bersama orang yang tepat, segala suka duka bisa dilalui, memang tidak mudah, tetapi relatif lebih mudah. Semoga akan banyak tahun didepan yang akan kami tempuh bersama dalam banyak tawa, sesekali menangis, pertengkaran, perbedaan pendapat, dan tatapan mata yang selalu jatuh cinta. Semoga kami diberikan umur panjang dan kesehatan yang baik sehingga bisa menjalani tidak hanya lima tahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun, atau berapapun lamanya yang sudah menjadi takdir kami bersama sampai nanti ujung waktu.

Wedding Day
Wedding Day

Buat suami : Terima kasih untuk lima tahun ini. Terima kasih dengan kesabaran dan pengertian luar biasa, selalu ada ketika saya ingin bercerita, menangis, marah, bergembira, ataupun sekadar ingin diam. Terima kasih kamu selalu menemani pada saat-saat tersulit hidup saya dan saat-saat paling bahagia. Terima kasih, karena hanya bersama kamu, saya bisa membicarakan apapun tanpa ada rasa kawatir. Terima kasih atas segala dukungan kamu. Terima kasih sudah menjadi pasangan dalam gelak tawa dan duka nestapa. Mari kita jalani terus hari-hari kedepan, menua dengan penuh cinta, bahagia, dan sehat bersama.

-Nootdorp, 9 Agustus 2019-

Mengingat Lima Tahun Lalu

Ketemu pertama, makan di tempat makan yang banyak gazebo di Mulyorejo Surabaya. Saya mengajak sahabat saya haha jadi ini bukan kecncan

Saya bukan pengingat tanggal yang baik, tapi saya bisa mengingat momen. Untuk mengingat tanggal-tanggal penting seperti ulang tahun, bahkan tanggal ulang tahun sahabat-sahabat, saya mengandalkan pengingat di telepon genggam. Setali tiga uang, hal tersebut juga berlaku pada suami saya. Jadi kami ini pasangan yang suka dan gampang mengingat momen dibandingkan tanggal. Hanya keluarga dekat saja yang saya ingat luar kepala tanggal-tanggal pentingnya.

Beberapa hari lalu, kami baru saja melewati lima tahun, tepatnya lima tahun sejak awal perkenalan. Bukan lima tahun pernikahan ya (karena itu masih tahun depan). Bagaimana kami bisa selalu mengingatnya, karena pada saat perkenalan tersebut ada momen yang tidak kami lupa. Dan tanggal perkenalan itu juga kami jadikan salah satu bagian penting dalam pernikahan kami. Karenanya, kami selalu merayakan dua hal yang berkaitan dengan kebersamaan, yaitu tanggal pada saat kami berkenalan dan tanggal pada saat kami menikah (selain setiap bulannya kami juga selalu mengucapkan gefeliciteerd atau selamat pada tanggal pernikahan).

“Gaat snel,” begitu orang Belanda menyebutnya. Waktu begitu cepat berlalu. 5 tahun yang kami lalui dari awal berkenalan sampai saat ini benar-benar kami nikmati setiap saat. Mungkin karena itulah, jadi tidak terasa. Pertengkaran, berbeda pendapat, segala romantis yang ada, bahkan naik turun dan susah senang membawa kami bertahan sampai hari ini dan semoga sampai seterusnya. Tidak dapat dipungkiri, banyak sekali perbedaan diantara kami. Tapi sejauh ini, kami bisa membuat segala perbedaan itu tetap berjalan beriringan, bukan menyatukan. Ada banyak sekali kompromi, legowo, saling menerima kekurangan masing-masing dan saling berkomitmen dengan diri sendiri untuk selalu lebih baik setiap harinya.

Saya merasa (dan diamini oleh suami), saya yang sekarang jauh lebih baik dan lebih stabil dibandingkan saat sebelum bersama suami. Bukan, saya berubah bukan karena atau demi dia. Tapi saya berubah untuk menjadi pribadi yang lebih baik demi diri saya sendiri. Saya selalu mengingat bahwa seseorang akan merugi kalau hari ini tidak lebih baik dari hari sebelumnya. Karenanya, saya tidak mau menjadi orang yang merugi. Lima tahun bersama dia, dari awalnya yang saya sangat emosian dan susah mengendalikan amarah, sekarang saya jauh lebih santai dan lebih bisa mengatur emosi. Dan itu membuat jiwa saya lebih tenang dan nyaman. Saya berpikir, buat apa gampang tersulut oleh amarah. Malah membuat diri sendiri rugi dan capek sendiri. Lebih baik saya menyimpan energi dan menyalurkannya untuk hal-hal yang lebih berguna. Membicarakan secara kepala dingin setiap ada perbedaan. Saat ini saya lebih fokus dengan apa yang ada, benar-benar menikmati setiap detiknya, karena waktu tidak akan pernah berulang.

Ketemu hari pertama, malam harinya nya makan di tempat makan yang banyak gazebo di Mulyorejo Surabaya. Saya mengajak sahabat saya haha jadi ini bukan kencan. Lalu lapar lihat menu yang ada di meja
Ketemu hari pertama, malam harinya nya makan di tempat makan yang banyak gazebo di Mulyorejo Surabaya. Saya mengajak sahabat saya haha jadi ini bukan kencan. Lalu lapar lihat menu yang ada di meja

Sehari sebelum merayakan lima tahun tersebut, kami mengingat apa yang terjadi lima tahun lalu. Setiap detilnya masih kami ingat dengan baik dan itu membuat kami cekikikan dan tersenyum tak tertahankan. Betapa dari obrolan yang tidak penting, siapa sangka 8 bulan kemudian kami menikah. Kalau ada lagu yang bisa mewakili suara hati suami saat bertemu saya pertama kali, Terpesona punya Glenn Fredly mungkin yang pas. “Terpesona pada pandangan pertama …. ” *Terus mblenek dewe nulis ngene, ke PD en.

Bahkan dua sahabat saya pun sebagai saksi dari awal kami berkenalan, mengingat dengan baik apa yang terjadi setelahnya. Kalian memang the best!. Hubungan jarak jauh dari sebelum menikah bahkan setelah menikah. Perkenalan yang singkat saat saya sedang fokus menyelesaikan tesis dan tidak terpikir sama sekali tentang pernikahan. Campur nekat juga karena saya baru meng-iya-kan lamarannya setelah dua kali melamar dan tiga bulan kemudian kami menikah. Saat itu saya baru merasa yakin bahwa dia adalah orang yang terbaik untuk bersama-sama menua dan sampai akhir hayat. Semoga memang kami jodoh yang dipertemukanNya dan tertuliskan dalam rencanaNya. Lima tahun memang masih terhitung baru, kamipun sampai sekarang masih saling belajar mengenal satu sama lain. Masih ada saja kejutan yang muncul. Yang saya percayai juga, pasangan yang baik adalah yang membuat satu sama lain menjadi lebih baik.

Tidak hanya dari saya yang sekarang merasa menjadi pribadi yang lebih baik, saya juga merasa suami jauh lebih baik kondisinya daripada saat awal kami bertemu. Dia pun berubah menjadi baik bukan untuk menyenangkan saya, tapi kesadaran datang dari dirinya sendiri, agar langkah kedepannya semakin baik. Dia berproses, saya berproses, kami saling berproses bersama. Kalau saya sedang “kumat”, cara jitu untuk menjinakkan kekumatan saya yaitu mengingat lagi hal-hal manis dari awal perkenalan dan semua susah senang yang telah kami lewati bersama. Dan cara itu, ampuh buat saya. Setidaknya, setelahnya saya jinak lagi haha. Seringkali kami juga rasa tidak percaya sudah lima tahun saling mengenal, mengingat setahun awal pernikahan layaknya bom molotov (ini saya ya haha, kalau dia lempeng forever).

Ketemu kedua, makan di food court dekat kampus. Saya kaget lho tadi lihat foto ini di Hp suami. Betapa lengan sekecil itu dulu. Maklum, mahasiswa kena kejar proposal tesis. Sekarang lengannya tetap kecil sih, bagian badan yang lain yang emngembang haha. Kaos ini masih ada sampai sekarang. Nanti kalau saya sudah menyusut kembali,akan saya pakai lagi. Lalu saya lapar lihat makanan yang di foto
Ketemu kedua, makan di food court dekat kampus. Saya kaget lho tadi lihat foto ini di Hp suami. Betapa lengan sekecil itu dulu. Maklum, mahasiswa kena kejar proposal tesis. Sekarang lengannya tetap kecil sih, bagian badan yang lain yang emngembang haha. Kaos ini masih ada sampai sekarang. Nanti kalau saya sudah menyusut kembali,akan saya pakai lagi. Lalu saya lapar lihat makanan yang di foto

Suami saya ini kalemnya luar biasa, malah kalau lama tidak ada gejolak-gejolak, saya yang cari perkara. Biar rumah agak rame sedikit gitu :))) yang ada malah saya yang uring-uringan sendiri. Kata suami, saya dulu ini bagaikan permainan halilintar di Dufan, sekarang seperti sprinter (kereta jarak pendek di Belanda yang santai dan sering berhenti). Cara berpikir dia sederhana, tapi eksekusinya yang luar biasa dan sangat menikmati proses. Kalau saya, cara berpikir ndakik ndakik (ketinggian), tapi eksekusinya lebih ndakik ndakik haha. Tapi sekarang saya lebih santai. Berusaha menikmati setiap momen, setiap proses yang ada karena semua ini tidak akan terulang lagi. Karena itulah sekarang saya lebih tenang, bisa bernafas dengan sadar tidak berusaha keras menjadi sempurna. Saya banyak belajar hal-hal baik dari dia.

Kencan makan Sushi
Kencan makan Sushi

Kami merayakan lima tahun tersebut dengan kencan di restoran sushi langganan. Kencan sambil membicarakan apa yang sudah kami lewati dan apa yang kami rencanakan ke depannya, apa yang kami tunggu dalam waktu dekat maupun apapun yang akan terjadi di depan. Dua jam berlalu tidak terasa saat kencan makan malam tersebut. Kami pulang, berjalan bersisian dan dalam hati kami berharap semoga langkah kami kedepan tetap bersama, berjalan saling bersisian, saling menopang saat keadaan susah, saling tertawa saat keadaan senang, selalu bersyukur dengan segala yang sudah dititipkan pada kami saat ini dan bisa menjaga dengan sebaik mungkin yang kami miliki. Semoga.

Ada yang seperti kami jugakah, masih mengingat kapan persisnya pertama kali berkenalan dengan pasangan?

-Nootdorp, 1 Desember 2018-

Akhirnya, Kencan Berdua!

Jam 11 malam makan Gelato dan Granita rasa Semangka

“Nanti malam kencan yuk, berdua aja”

—– hening, saya yang sedang khusyuk membaca twitter dari Hp, menatap dia, kirain mengigau. Maklum, jam 7 pagi dan di luar masih gelap. Sabtu pagi biasanya kami beranjak dari kasur agak siang, sekitar jam 8. Leyeh-leyeh dulu.

“Gimana?” memastikan kalau dia tidak mengigau

“Iya, kencan nonton bioskop nanti malam. Jam 8 malam gitu berangkat dari rumah. Kan ceritanya malam mingguan. Sudah lama kita tidak kencan berdua kan?”

Saya langsung memiringkan badan menatap dia, tersipu-sipu seperti anak gadis diajak kencan pacarnya. Duh saya beneran senang sekali pagi itu. Sampai senyum simpul saya tidak lepas dan tetap tersipu-sipu. Sampai saya merasakan ada sensasi kupu-kupu di dalam perut. Rasa senangnya sampai membuat bingung harus menjawab apa.

“Nanti kita nonton film yang jam 9. Tram terakhir masih ada sampai jam 12, jadi ga usah khawatir kita bisa pulang naik tram. Gimana? Nanti aku bilang Lisa untuk datang jaga di rumah. Kamu kok dari tadi senyum-senyum terus” —Lisa ini anak tetangga sebelah rumah persis.

“Duh aku ini grogi lho sampai bingung mau jawab apa. Senang rasanya seperti awal kita ketemu, trus kamu mengajak aku nonton film di Galaxy Mall. Film yang entah apa aku ga ingat ceritanya, tapi sampai sekarang aku ingat betapa aku senang sekali dan sepanjang film tidak berhenti tersenyum. Perutku sekarang ini lho seperti ada yang menggelitik, rasanya banyak kupu-kupu terbang di sana”

—– Dia tersenyum mengerti.

Dia tahu sekali bahwa kami memang setahun belakang ini tidak pernah pergi hanya berdua. Memang kondisi yang belum memungkinkan. Bahkan saya ingat sekali, terakhir kami nonton bioskop berdua itu saat adik saya ke Belanda tahun kemarin. Jadi hitungannya juga bukan hanya berdua tapi bertiga haha. Film yang kami tonton terakhir di bioskop di Rotterdam waktu itu adalah Dunkirk, itupun 1.5 tahun lalu. Nah karena sekarang kondisinya sudah mulai stabil dan memungkinkan, jadi kami coba-coba juga sih ini sebenarnya.

Sepanjang hari, saya senyum-senyum terus membayangkan nanti malam mau pakai baju apa ya, mau dandan ah. Rasanya benar-benar panas dingin gitu lho seperti diajak kencan pas jaman usia 20 an haha. Suami menghubungi anak tetangga apakah nanti malam bisa jaga di rumah kami. Bayar sih ini, bukan gratisan. Hitungannya perjam. Kalau di Belanda namanya Oppassen, Lisa namanya Oppas. Karena sudah kenal dekat sekali dengan Lisa dan keluarganya, jadi kami nyaman menitipkan ke dia. Lisa belum bisa memberikan jawaban karena masih kerja. Baru sore hari, dia memberikan jawaban bisa. Yiaay! langsung suami beli tiket lewat Hp, yang ternyata nyaris seluruh kursinya sudah penuh. Kami dapat kursi nomer 5 dari depan. Tidak apalah daripada depan sendiri.

Setelah makan malam, kami nonton TV. Tidak berapa lama saya bilang mau ke atas dulu, mau siap-siap. Dia menatap saya, buat apa katanya. Saya bilang, “Kita ini kan mau kencan berdua. Pertama kali setelah berapa lama lalu. Jadi aku mau dandan, biar kayak dulu waktu awal-awal kamu ke Surabaya itu lho, ngajak aku nonton. Kan kamu nungguin aku di kos, siap-siap dulu sebelum pergi.” —haha nulis gini saya kok jadi ketawa sendiri. Trus suami nanya, dia perlu “dandan” juga ga. “Ga usah, lha wong kamu sudah siap gitu.

Setelah menyelesaikan urusan dalam negeri, setengah delapan saya turun, nonton TV sama suami sambil menunggu Lisa datang. Jam delapan persis, Lisa datang. Kami lalu menjelaskan hal-hal yang perlu Lisa lakukan kalau misalkan ada apa-apa. Kami tanya, Lisa mau tidur di kamar yang kosong di atas atau di sofa depan TV, dia pilih yang kedua. Bahkan dia sudah bawa bantal dan selimut sendiri haha, mentang-mentang rumah sebelahan. Padahal saya sudah menyiapkan bantal dan selimut di sofa.

Kami lalu pamitan pergi. Sepanjang jalan dari rumah menuju halte tram yang hanya sekitar 8 menit, kami bergandengan tangan. Saya tetap senyum-senyum (ga jelas haha), jantung kok rasanya dag dig dug. “Kamu berbunga-bunga juga ga sih kita akhirnya bisa kencan berdua gini, malam-malam pula.” Suami ternyata juga senyum-senyum simpul, “Iya, ternyata sensasinya menyenangkan ya bikin gembira acara “melarikan diri” berdua selama beberapa jam ke depan.” Lalu kami tertawa terbahak.

Mungkin hal tersebut terjadi karena euforia kami terhadap bulan November. Ada banyak hal menyenangkan terjadi di bulan ini. Salah satunya adalah, kami pertama kami kenal, 60 bulan lalu pada bulan ini. Dan karena merasa tanggal tersebut istimewa, kami jadikan jumlah uang untuk mas kawin. Dan beberapa hari lalu, kami baru melewati 51 bulan pernikahan. Benar, kami selalu mengingat dan menghitung setiap tanggal kami menikah setiap bulannya. Selalu menyenangkan ketika tahu sudah berapa bulan kami berada dalam satu rumah tangga.

Di tram, kami duduk bersisian sambil membicarakan dan mengingat kejadian-kejadian sebelum kami menikah. Mengingat kembali bagaimana suami melamar saya langsung ke Ibu, mengingat betapa nekatnya kami yang beda benua ini memutuskan menikah dalam waktu singkat, mengingat bagaimana saya sempat tidak memberikan jawaban beberapa bulan setelah dia melamar saya, dan ingatan-ingatan lainnya. Kami terkekeh, terbahak dan tersenyum simpul mengingat banyak hal yang telah kami lewati selama ini. Dan juga membicarakan hal-hal yang akan terjadi di depan. Lalu saya meminta dia memfotokan saya, supaya terabadikan momen sedikit dandan haha padahal cuma pakai lipstik aja. Bedakanpun tidak. Akhirnya tram sudah sampai di halte dekat bioskop.

Bermodalkan polesan bibir aja, sudah nampak sumringah haha
Bermodalkan polesan bibir aja, sudah nampak sumringah haha

Kami datang lebih awal. Ternyata bioskopnya rame sekali dan antrian menuju studio yang kami tuju sudah mengular. Jadi mikir, ini orang-orang “melarikan diri” sejenak seperti kami jugakah haha. Begitu sudah waktunya masuk dan kami menemukan nomer tempat duduk, saya cepat-cepat mengeluarkan Hp, cekrek foto berdua haha. Benar-benar mengabadikan waktu berdua  secara maksimal lah ini pokoknya. Sebelum film mulai, suami kirim pesan ke Lisa apakah keadaan aman terkendali. Kata Lisa, aman.

Muka bahagia bisa berduaan di luar rumah 4.5 jam :)))
Muka bahagia bisa berduaan di luar rumah 4.5 jam :)))

Filmnya super keren. Tidak terasa 2.5 jam berlalu. Saking menikmati film ini, saya sampai merasa sepertinya tidak sampai 1 jam. Saat kembali ke rumah naik tram jam 12 malam, di dalam tram banyak sekali para remaja. Kami berasa seperti ABG yang baru pulang pacaran :))). Setelah turun dari tram, saat jalan kaki menuju rumah, saya bilang terima kasih ke suami sudah membuat acara kencan secara spontan ini benar-benar indah. Terima kasih sudah mengajak saya kencan berdua. “Kapan-kapan yuk diulangi lagi.” Haha dia ketagihan.

Sampai di rumah jam setengah satu dini hari, Lisa ternyata tidur nyenyak. Setelah kami memberikan uang, dia pulang dengan mata masih mengantuk, susah melek.

Sampai saat saya menuliskan cerita ini, masih saja saya tersenyum simpul mengingat pengalaman tadi malam. Bahagianya masih terasa.

Kalian, kapan terakhir kencan berdua dengan pasangan dan melakukan kegiatan apa?

BOHEMIAN RHAPSODY

Film yang kami tonton tadi malam judulnya Bohemian Rhapsody. Terus terang saya bukan penggemar Queen. Hanya tahu lagu-lagunya saja. Itupun saya tahunya karena teman kos jaman SMA selalu muter lagu Queen setiap hari. Sewaktu film ini sudah ada di bioskop, saya nanya suami yang penggemar berat Queen apakah ada rencana nonton. Dia bilang iya. Saya bilang, ya sudah nonton saja pas akhir pekan, saya di rumah. Dia mengajak, tapi saya males. Takut ga paham ceritanya. Nah, sampai ajakan kencan itu datang lalu saya mengiyakan. Demi sebuah kencan.

Ternyata dari awal film sampai akhir saya sangat menikmati ceritanya dan baru tahu banyak tentang Freddie Mercury, darimana nama itu, nama aslinya, latar belakang keluarganya dan sebagainya. Dan ternyata juga, saya tidak asing dan banyak tahu lagu-lagu sepanjang film.  Saking fokus dengan ceritanya, saya sampai memperhatikan detail lainnya seperti : drummernya ganteng menggemaskan haha, kaki Rami Malek jenjang dan cara jalannya keren saya suka, saya naksir semua sneakers yang dipakai Rami Malek haha apalagi yang akhir-akhir cerita, badan Rami Malek bagus ternyata sewaktu pakai kaos kutang di konser, dan masih banyak lainnya hal-hal yang saya perhatikan. Kurang kerjaan :))) Bagian yang luar biasa ya sewaktu konser terakhir. Duh beneran seperti melihat secara langsung konsernya. Apalagi lagu terakhir, saya sampai ga sadar nangis. Nyesek karena mikir banyak hal tentang vokalisnya. Berpikir ternyata dibalik kesuksesannya, dia mencari sesuatu yang kosong dalam hidupnya dan baru bertemu saat-saat terakhir sebelum meninggal, berpikir bahwa bagaimanapun cara orangtua membesarkan anak-anaknya, pada akhirnya mereka sendiri yang akan memutuskan hidupnya akan seperti apa, banyak hal lagi yang saya pikirkan sewaktu mendengarkan lagu terakhir itu, makanya jadi menangis (cuma beberapa tetes saja).

Film ini luar biasa. Saya suka dan terkesima. Awalnya tidak menaruh harapan tinggi (bahkan sempat khawatir saya akan jatuh tertidur saat menontonnya karena biasanya jam segitu saya sudah tidur), eh ternyata suka sekali. Keren!

Ada yang sudah nonton film ini? bagaimana kesannya?

-Nootdorp, 11 November 2018-

Menua Bersama

Ini salah satu tempat favorit kami nongkrong di dekat rumah. Duduk-duduk pinggir danau sambil lihat angsa berenang dan membawa bekal seperti piknik

Pada tanggal 9 setiap bulan, kami selalu menghitung sudah berapa lama ya kami menikah. Sudah berapa bulan suka dan duka yang terlewati sejak ijab kabul. Ada kesenangan tersendiri mengetahui : oh sudah sekian bulan nih, wah banyak juga ya. Lalu biasanya kami akan sedikit kilas balik apa saja yang sudah terlewati, kisah baik dan buruknya. Apa yang perlu dibenahi kedepan, apa yang perlu ditinggalkan di belakang, apa yang perlu diambil sebagai bahan pembelajaran. Selalu menyenangkan diskusi pada tanggal 9 setiap bulan.

Minggu lalu, pernikahan kami genap berusia 4 tahun. Usia yang masih sangat muda tentu saja. Sampai sekarang kami kadangkala seringnya tak percaya bisa bertahan sejauh ini mengingat rentang perbedaan yang sangat lebar diantara kami. Bukan hanya sifat dan kebiasaan, cara berpikir dan keyakinan akan banyak hal pun banyak sekali bedanya. Namun kami selalu menyadari bahwa pernikahan bukanlah untuk menjadikan sama dua hal yang berbeda, tetapi menyelaraskan perbedaan itu sehingga daya bentroknya bisa diperkecil. Saudara kembar pun mempunyai perbedaan yang banyak, apalagi kami yang dibesarkan ditempat yang saling berjauhan dan membawa banyak hal yang berbeda dalam hidup.

Empat tahun yang terasa sangat cepat karena kami sangat menikmati setiap detik kebersamaan. Kebersamaan yang tidak hanya dilewati dengan tawa bahagia, senda gurau tapi juga terselip pertengkaran, amarah, dan air mata kecewa. Empat tahun, semoga akan menjadi empat puluh tahun kemudian atau lebih. Semoga kami bisa diberikan banyak kesabaran dan saling pengertian yang lebih satu sama lain. Banyak hal baik yang suami contohkan dan akhirnya bisa saya serap, begitu juga sebaliknya. Setiap hari kami belajar banyak hal. Mengenal dia selama empat tahun pernikahan membuat saya banyak bersyukur bahwa Tuhan memberi jodoh seperti dia. Mudah-mudahan dia pun merasa seperti itu. Kami saling mencukupkan, tapi tidak mencoba untuk saling menyempurnakan. Itu saja sudah lebih dari yang saya tuangkan dalam doa selama ini.

Semoga kami selalu dilimpahi kebahagiaan dan kesehatan yang baik kedepannya. Semoga kami bisa mendidik anak-anak kami dengan baik, melihat mereka bertumbuh, sehat, dan bahagia dengan apapun pilihan mereka yang membuat mereka bahagia dan tidak menimbulkan kerusakan dan kerugian bagi siapapun serta apapun, terutama bagi mereka sendiri. Semoga kami tetap saling bergandengan tangan, menatap dengan penuh cinta seperti saat pertama kami saling jatuh cinta, dan menyandarkan kepala pada bahu  jika salah satunya sedang butuh sandaran, dan mempunyai rejeki yang cukup untuk bisa mewujudkan impian kami melangkahkan kaki dan melihat dunia yang lebih luas. Semoga kami dapat menua bersama dengan penuh rasa syukur. Semoga.

Ini salah satu tempat favorit kami nongkrong di dekat rumah. Duduk-duduk pinggir danau sambil lihat angsa berenang dan membawa bekal seperti piknik
Ini salah satu tempat favorit kami nongkrong di dekat rumah. Duduk-duduk pinggir danau sambil lihat angsa berenang dan membawa bekal seperti piknik

-Nootdorp, 12 Agustus 2018-

Tiga Tahun

Tiga tahun berjalan sangat cepat. Menjelang tiga tahun pernikahan, hampir setiap hari kami membahasnya kalau tiga tahun yang kami lalui ini benar-benar tidak terasa. Dan kami suka membahas sambil cekikikan kalau diantara kami tuh sebenarnya banyak sekali perbedaan. Kalau dibuat daftar, banyak bedanya dibanding samanya.

Zaanse Schans
Zaanse Schans

 

– Yang satu tukang ngegombal setiap detik setiap saat, yang satu cuma senyum-senyum saja sambil lempeng bilang thank you.

– Yang satu selalu ribet nyari kunci (apapun) di pagi hari, yang satu selalu gemes ngelihatnya dan mengulang omongan kalo kunci musti ditaruh tempat yg disediakan setiap nyampe rumah.

– Yang satu suka banget pakai sepatu dan sandal di dalam rumah tapi nyeker kalau ke luar rumah, yg satu tukang ngomel dan kayak kaset rusak ngomong setiap masuk rumah alas kaki harus dicopot dan suka geli kalau kaki sendiri basah dan kotor jadi harus cepat-cepat dibersihkan.

– Yang satu suka banget makan kue yang manis-manis, yang satu suka banget makan camilan yang banyak micinnya meskipun setelahnya pasti sakit tenggorokan.

– Yang satu hobi banget naik kendaraan umum, yang satu ga bisa hidup tanpa ngayuh sepeda setiap hari.

– Yang satu suka banget nanya ini dimana itu ditaruh mana dan kalau nyari ga ketemu, yang satu entah kenapa kayak punya kekuatan bulan selalu menemukan yang dicari.

– Yang satu tukang beberes dan paling tidak bisa lihat rumah berantakan, yang satu bagian ngeberantakin dan selalu komentar “ini kan rumah bukan museum, jadi ga usahlah terlalu bersih”

– Yang satu sukanya makan tempe, yang satu doyannya makan tahu.

– Yang satu bisa ngunyah buah sampai 4 jenis berbeda setiap harinya, yang satu suka banget sama sayuran mentah.

– Yang satu suka sekali dengan sejarah dan ga suka matematika, yang satu hobi utak atik rumus matematika kayak kurang kerjaan dan ga terlalu mudeng dengan geografi dan sejarah.

– Yang satu jago dan rapi sekali kalau pasang seprei, yang satu mending nyetrika daripada masang seprei.

Kalau mau dijabarkan perbedaan yang ada, bisa lebih panjang dari novel-novel yang beredar di pasaran. Bagaimanapun juga, kami menjalankan pernikahan ini atas nama perbedaan dan bukan untuk menyamakan yang beda tapi mengharmonikan hal-hal yang tidak sama.

Satu yang pasti, banyak perubahan yang terjadi termasuk perasaan kami tidak lagi sama seperti tiga tahun lalu atau getaran itu tidak lagi sama seperti 3.5 tahun lalu saat pertama kali bertemu. Perasaan dan getaran yang ada semakin hari semakin menguat. Selalu ada pipi yang menghangat dan kupu-kupu yang beterbangan di perut saat ucapan tulus terlontarkan atau celutukan-celutukan manis walau cuma selewat. Kadang-kadang kalau lama tidak bertengkar, yang satu suka iseng cari gara-gara tapi kalau salah paham beneran ngambeknya susah hilang.

Bersyukur atas tiga tahun yang terlewati. Semua yang hadir dalam tiga tahun ini datang pada waktu yang tepat, tidak terlalu cepat pun tidak lambat. Perbedaan atau persamaan, bukanlah hal yang besar buat kami saat ini. Karena sejak awal, kami sama-sama yakin bahwa kami dipertemukan untuk bisa saling belajar dan menjadi yang terbaik bagi satu sama lain.

Doa setiap tahun, semoga kami terus bersama dalam keadaan sehat dan bahagia, saling menguatkan dalam susah dan tidak takabur dalam senang, diberikan umur panjang yang barokah agar bisa saling beriringan berjalan dalam pernikahan sampai berpuluh tahun kemudian.

Di Leuven, Belgia
Di Leuven, Belgia

Biar agak romantis gitu, tiga tahunan di Paris. Tapi gelap fotonya 😅
Biar agak romantis gitu, tiga tahunan di Paris. Tapi gelap fotonya 😅

-Nootdorp, 9 Agustus 2017-

Semua Tentang Pilihan

Yang namanya orang hidup, masih bernafas, bisa berpikir dan bertindak pasti akan banyak sekali menghadapi pilihan. Ya, macam saya yang setiap sarapan pagi sudah mikir nanti siang mau makan apa ya. Kalau sedang tidak bekerja, enak saya bisa makan lalapan sama sambel. Kalau sedang bekerja, ya makannya disesuaikan dengan apa yang disediakan di tempat kerja. Masalah mengisi perut saja, saya harus berpikir untuk memutuskan diantara beberapa menu. Masih bersyukur saya punya pilihan menu karena banyak orang yang tidak seberuntung saya. Jangankan berpikir menu, bisa makan saja sudah sangat bersyukur sekali. Hal-hal seperti ini sering membuat saya melipatgandakan syukur yang luar biasa.

Dulu, saat gejolak jiwa muda masih bergelora (tetap berjiwa muda sih sampai kapanpun, kan forever young :D) dan sudah mengenal yang namanya media sosial, segala sesuatu pasti saya bagikan di akun media sosial yang saya punya. Apapun itu, dari hal-hal remeh sampai status yang memang ada muatan informasinya. Dari foto liburan sampai foto yang (saat ini saya mikirnya) tidak terlalu penting seperti foto tentang materi kuliah yang isinya angka-angka dengan caption “duh susah sekali tugasnya.” Mbok ya kalau susah dicari tahu penyelesaiannya, jangan nyetatus, kan tidak menyelesaikan masalah tho yo. Rasanya senang saja kalau bisa eksis setiap saat. Bahkan hal-hal yang tidak terlalu penting untuk dibagikan secara maya pun saya unggah fotonya, secara sadar. Berharap akan banyak reaksi yang menyanjung dan mendapatkan “like” sebanyak mungkin. Walaupun memang tidak semua menyukai foto-foto yang saya unggah, dilihat dari komentar yang dituliskan “gini aja kok diunggah” atau ada selentingan yang terdengar alias rasan-rasan kalau saya terlalu berlebihan dalam mengunggah foto atau menuliskan status. Waktu itu saya berpikir “ihh sirik aja, wong akunku ini, yo sak karepku tho yo mau nulis opo.” Maklum, prinsip saya kan semua orang harus tahu. Padahal waktu itu saya sibuk banget lho kerja sebagai mbak-mbak kantoran yang selalu lembur bareng bos, tapi selalu ada waktu untuk bermedia sosial. Mungkin karena multitasking itu ya jadinya selalu lembur, kebanyakan main medsos. Tanpa main medsos pun ya tetap aja lembur sebenarnya. Waktu kuliahpun begitu, sedang dikejar-kejar revisi tugas, tetap aja lho ada waktu unggah foto di FB atau minimal nyetatus, meskipun mengumpulkan revisi sesuai jadwal walaupun mepet waktunya. Intinya saya dulu eksis sekali lah. Tiada hari tanpa ber FB dan IG. Kalau twitter  saya buka dan seringnya ikut kuis-kuis, makanya dulu saya sering menang kuis di twitter *haha kurang gawean.

Sampai akhirnya saya mengenal Suami. Waktu awal dia ke Surabaya, saya memperhatikan ini orang kok jarang banget ya pegang HP nya. Jadi kalau bersama saya, dia sama sekali tidak menyentuh Hp nya. sedangkan saya, sibuk jeprat jepret sana sini lalu unggah di FB. Trus beberapa menit sekali mengecek, kalau-kalau ada yang komentar atau menekan tombol suka. Sampai waktu itu dia nanya, kok saya sering cek Hp ada apa. Apakah dosen pembimbing mencari saya. Lalu saya jawab dengan santai “nggak, lagi ngecek FB saja.” Dan juga dia heran, kenapa setiap makan harus difoto dulu. Bukannya langsung dimakan. Lalu saya dengan cuek bilang “harus difoto dulu, untuk diunggah ke FB atau IG.” Entah saya tidak ingat reaksi mukanya seperti apa waktu itu, karena fokus saya pada makanan. Kebiasaan menjepret makanan tetap saya lakukan sampai sekarang, kecuali kalau makan sama mertua atau acara makan formal. Malah suami jadi suka mengingatkan “sudah difoto belum makanannya?”

Sebelumnya saya sudah tahu kalau dia tidak punya FB dan IG. Saya berpikir kok bisa ya orang ini tidak punya FB dan IG. Alasannya : karena tidak perlu dan cukup twitter saja. Lalu saya mbatin kok bisa ya hidup tanpa FB dan IG. Yang dikemudian hari saya tahu jawabannya, ya bisa saja karena memang media sosial itu digunakan sesuai kebutuhan. Kalau tidak ada kebutuhannya ya bisa-bisa saja. Seperti saya tidak pernah punya Path, ya karena memang saya tidak butuh makanya tidak punya. Suami saya ini akhirnya punya Instagram setelah satu tahun kawin dengan saya dan ikut-ikutan membuat akun, padahal jarang diisi. Setelah saya tidak punya IG lagi, akunnya ikut terbengkalai tidak pernah ditengok. Ohhh jangan-jangan punya akun IG untuk memantau saya *manggut-manggut *tatapan mata tajam *zoom in zoom out *istri suudzon *lalu minta maaf. Kalau mengingat masa itu, ada sedikit rasa sesal. Kenapa saya terlalu memperhatikan “penghargaan” orang di dunia maya (baca : sibuk bermedsos) yang tidak semuanya saya kenal dengan baik. Kenapa saya tidak fokus dengan orang yang ada di depan atau sekitar saya. Waktu tidak bisa diputar kembali, sesal juga jadi tidak berarti. Sekarang saya mencoba untuk lebih memperhatikan penghargaan orang-orang terdekat saya dan sebaliknya menghargai mereka secara nyata.

Sebelum menikah, saya dan suami sama-sama punya blog. Jadi kami memang dasarnya suka menulis. Bedanya, blog pribadi saya isinya puisi patah hati dan cerpen putus cinta. Ya maklum, dulu kesehariannya kalau tidak patah hati ya putus cinta. Akhirnya daripada linglung, mending saya tuangkan dalam bentuk puisi dan cerpen. Lumayanlah akhirnya dibukukan. Sedangkan blog suami isinya kalau tidak tentang sejarah, politik, musik, ya kritikan dia tentang ini dan itu. Lalu suami mengusulkan, bagaimana kalau kami membuat blog bersama, jadi ya diisi bersama. Dia bilang waktu itu “daripada kamu menulis status ga jelas di FB, mendingan kamu menulis di blog, jadi sekalian bisa melatih menulis panjang semacam artikel.” Akhirnya jadilah blog ini. Walaupun pada akhirnya saya yang dominan dalam mengisi. Tahun kemarin, saya rajin memperhatikan search terms  blog ini. Banyak yang lucu-lucu tetapi tidak sedikit juga yang ternyata mencari informasi detail tentang kami seperti kami menikah secara apa, apakah betul kami menikah, apakah kami sudah punya anak, mencari tahu masa lalu saya dan suami, kami bertemunya di mana, sampai ada yang mencari tahu kami ini agamanya apa (khusus ini, menyusul akan saya tuliskan secara terpisah). Wah, sedap-sedap ngeri juga ya banyak yang mencari tahu secara detail informasi tentang kami.

Pada awal membuat blog ini, saya sudah memberi batasan pada diri sendiri dan saya diskusikan dengan suami apa yang bisa ditulis dan apa yang harus kami simpan sendiri. Bukan berarti ketika kami mempunyai blog bersama terus semuanya bisa diumbar cerita ini dan itu. Banyak hal yang memang selayaknya tidak perlu semua orang tahu misalkan tentang hal-hal yang terjadi dalam RT (we keep our dirty laundry at home), kegiatan secara detail, cerita yang kami pikir tidak perlulah untuk dibagikan ataupun cerita tentang bagian rumah. Syukurlah keputusan itu tepat karena pada akhirnya ternyata memang ada orang-orang di luar sana yang mencari informasi tentang kami. Kami berpikir bahwa kami ini bukan orang terkenal. Jadi tidak perlulah semuanya diceritakan di blog karena tidak semua yang baca blog kami juga butuh cerita detail. Kami tidak bisa mengontrol siapa yang bisa membaca blog ini, jadi yang kami lakukan adalah mengontrol diri sendiri untuk berbagi cerita seperlunya saja, sewajarnya dengan batasan yang telah kami sepakati.

Saat masa-masa bulan madu (kalau tidak salah seminggu setelah menikah), suami pernah bertanya apakah jika kami punya anak, saya akan memajang foto anak dan mengunggahnya secara rutin di media sosial yang saya punya. Saya menjawab dengan haqul yakin “Iya donk!. Dunia harus tahu anak berdarah Jatim dan Belanda,” kira-kira seperti itu jawaban saya. Waktu itu membayangkan pasti bangga sekali saya kalau punya anak berdarah campuran, jadi ya wajiblah dipamer dengan catatan dalam batas wajar ya. Bukan pas mandi atau tidak memakai baju trus diunggah karena terus terang dari dulu saya paling anti dengan orang tua yang mengunggah foto bayinya yang sedang telanjang atau tidak memakai baju secara lengkap. Biasanya saya kasih tahu secara baik. Dan seringnya saya malah kena semprot balik, “ini anak saya, jadi saya tahu mana yang boleh apa tidak. Kamu kan belum punya anak, jadi ga tahu rasanya kalau punya anak yang sedang lucu-lucunya semua orang harus tahu.” Oh ya wes lah, mungkin memang saya yang terlalu rese ya, sok ngasih tahu (padahal saya membayangkan beberapa tahun lagi kalau anak itu melihat fotonya yang telanjang dan setengah telanjang ada di internet dan yang mengunggah orangtuanya sendiri, bagaimana perasaannya. Saya membayangkan, pasti malu). Ok, kembali lagi ke pembahasan foto. Suami lalu menyarankan untuk dipikirkan lagi apakah yang saya akan lakukan itu cukup bijaksana kedepannya untuk anak kami bahkan untuk kami sendiri. Tujuan lainnya selain rasa bangga apa? karena menurut dia justru yang paling berbahaya adalah kejahatan internet yang kami tidak bisa tahu kapan datangnya. Bisa datang cepat atau saat anak sudah beranjak besar. Mungkin dia sudah mengendus nantinya saya akan jadi Ibu yang over share. Waktu itu cuma saya dengarkan lalu menguap tak bersisa sarannya.

Lalu sewaktu saya rajin BW dan berkenalanlah dengan Mbak Yoyen dan mulai membaca satu persatu tulisannya sampai mata saya terantuk pada tulisan tentang SharentSaya membaca sambil mencerna. Lalu perlahan mulai merenung dan menyambungkan apa yang suami saya pernah katakan dan tulisan Mbak Yoyen serta beberapa artikel yang ada di postingan tersebut. Tapi belum masuk ke hati, dibaca, dicerna, lalu hilang lupa. Sampai saatnya saya pindah ke Belanda.

Ketika sampai di Belanda, cara pandang saya terhadap media sosial perlahan namun pasti menjadi berubah. Saya tidak se aktif sebelumnya ketika mengunggah foto ke FB atau IG (yang dikemudian hari akun IG saya malah tidak terdeteksi saking lamanya deactive). Malah ketika saya menghilang dari FB, salah seorang dosen dan teman-teman saya mengirim email, menanyakan kok lama tidak melihat saya di FB (karena dulu terlalu aktif, menghilang pun sampai bisa terdeteksi). Saya menjadi pemilih mana yang harus dibagikan mana yang saya simpan. Semuanya terjadi secara alami, tidak ada paksaan melainkan keinginan sendiri. Saya merasa untuk apa ya terlalu banyak berbagi ini dan itu. Iya kalau berguna, kalau ga berguna kan nyampah jadinya. Lalu saya membaca beberapa tulisan di blog ataupun beberapa artikel di internet tentang media sosial untuk anak. Ya yang berkaitan dengan topik itulah. Lama merenung, mempertimbangkan, berbicara dengan hati sendiri, menurunkan ego, dan melatih diri. Kemudian suatu hari disekitar awal tahun 2016 saya bilang pada suami bahwa saya memutuskan nantinya tidak akan bercerita apapun tentang kehamilan (pernah bercerita tentang keguguran tahun 2015), proses kehamilan, melahirkan proses tumbuh kembang anak dan tidak mengunggah foto anak, sampai mereka bisa menentukan sendiri dan berpendapat bahwa fotonya atau ceritanya bisa dibagikan kepada orang banyak. Bahkan waktu itu saya bilang pada suami bahwa saya tidak akan mengunggah foto hasil USG karena anak pun punya  hak untuk dilindungi privasinya sejak dalam kandungan. Terdengar berlebihan? mungkin iya untuk banyak orang. Tapi buat kami (khususnya saya) lebih baik mencegah dan lebih baik berhati-hati di awal daripada ada sesuatu yang tidak diharapkan terjadi dikemudian hari. Kami bisanya mengontrol sesuai kemampuan kami dan beginilah yang bisa kami lakukan. Kami (terutama saya) tidak paranoid, hanya lebih kepada berhati-hati sebelum bertindak.  Tidak ada alasan buat saya untuk paranoid dengan media sosial. Kami akan membagikan cerita dan informasi hanya pada keluarga dekat dan teman-teman yang kami kenal dengan baik. Kembali lagi, kami tidak bisa mengontrol siapa yang bisa membaca blog ini dan mengakses media sosial kami, tapi kami berusaha untuk mengontrol diri sendiri. Berharapnya sih satu : semoga selalu konsisten dalam pelaksanaannya.

Selain daripada yang saya sebutkan di atas, rasa tidak nyaman (lebih tepatnya resah) lainnya muncul ketika membaca tulisan Mbak Yo yang Respect Your Kids Online dan ada sepenggal kalimat yang selalu saya ingat sampai sekarang : Sharents or not what you put on the net stays forever. Waktu itu saya agak tidak percaya sampai saya bertanya ke suami dan dijelaskan secara gamblang olehnya, ditambah saya mencari informasi yang terpercaya tentang hal ini dan akhirnya menjadi percaya setelah membuktikan sendiri. Saya mencoba googling foto dan status lebih dari 10 tahun yang lalu dan saya ingat betul sudah saya hapus ketika memutuskan menggunakan jilbab (jadi ketika memutuskan menggunakan jilbab, semua foto-foto sebelum berjilbab sudah saya hapus semua dari FB dan tidak akan saya munculkan lagi dengan alasan apapun), ternyata masih ada yang muncul. Padahal sudah saya hapus lho dulu. Akhirnya saya percaya kalimat di atas : Sharents or not what you put on the net stays forever. Hal ini berlaku bukan hanya foto, bahkan status-status pun masih bisa terlacak. Ya sudah, anggap saja karena dulu minim sekali pengetahuan tentang internet, jadinya memang tidak tahu dan karena sekarang sudah agak pintar dan sudah belajar mencari tahu kesana kemari, jangan sampai saya mengulangi kecerobohan masa lalu. Semoga kedepannya semakin bijaksana dalam bermedia sosial.

Saya sangat senang sekali dengan keberadaan internet (terutama media sosial), mempermudah hampir semuanya, menguntungkan (jika dipakai secara benar), mendekatkan yang jauh bahkan bisa menjauhkan yang dekat juga. Apa yang terjadi dalam kehidupan saya saat ini, selain karena campur tangan Tuhan juga karena campur tangan internet. Saya tidak bisa sampai pada titik ini tanpa adanya internet. Namun, saat ini saya lebih memilih mengontrol diri dan jari tangan. Berbagi yang sewajarnya, seperlunya, dan tidak berlebihan (meskipun batas berlebihan ini subjektif sifatnya). Memilih lebih berpikir banyak langkah ke depan sebelum mengunggah atau nyetatus di twitter atau menulis di blog. Saya belajar banyak hal dari dunia blog. Banyak ilmu baru dan hal-hal baru yang sangat berguna saya dapatkan dari blog. Karenanya saya suka sekali dengan dunia blog.

Memang benar bahwa namanya media sosial kan wadah untuk berbagi ya. Tapi saya memilih berbagi yang menyamankan hati, tidak merugikan kedepannya untuk saya sendiri maupun keluarga. Kalau saya dan suami masih bisa berpikir dan memilah mana yang bisa untuk diunggah dan dibagikan. Tapi yang belum bisa berpendapat dan menentukan keputusan sendiri kan masih belum tahu apa-apa. Saya suka sekali dengan pujian atau sanjungan, tapi jangan sampai karena terlena dengan sanjungan komentar dan banyaknya like yang didapat, malah menjerumuskan saya untuk melakukan sesuatu yang berlebihan. Saya jadi teringat kata-kata Ibu tempo hari “anak dan orangtua kan tidak bisa saling memilih, anak tidak bisa memilih dilahirkan oleh orangtua mana begitupun sebaliknya. Tapi begitu anak lahir, maka kewajiban orangtua untuk bertanggungjawab penuh melindungi anak sampai mereka bisa melindungi mereka sendiri.” Kalau kata suami, “biarlah mereka nanti ngetop dengan cara mereka sendiri, ga usah nebeng ngetop orangtuanya.” hahaha yang ini minta dijitak.

Semua memang tentang pilihan. Masing-masing orang (atau keluarga) pasti berbeda pilihan dan penyikapan tentang hidup dalam era media sosial ini. Saya tidak bisa menghakimi atau memberi label ini itu jika pilihan orang berbeda dengan pilihan saya dan berharap juga sebaliknya, meskipun pelabelan atau penghakiman pun tanpa sadar ataupun dalam keadaan sadar pernah saya lakukan. Hanya yang selalu saya ingat adalah membuka hati dan pikiran menerima pendapat dan berpikir jauh kedepan, tidak egois berpikir tentang diri sendiri karena saat ini saya hidup tidak lagi sendiri tetapi sudah membangun sebuah keluarga. Untuk saat ini (dan mudah-mudahan kedepannya juga) saya merasa nyaman dengan pilihan ini karena disetiap pilihan yang diambil pasti selalu ada konsekuensi baik buruknya. Saya mencoba untuk lebih bertindak bijaksana dan lebih hati-hati kedepannya hidup di era media sosial karena what you put on the net stays forever.

Film pendek ini membuat saya lebih berhati-hati untuk “nyampah” di media sosial. Di youtube, banyak sekali dokumenter tentang media sosial atau internet. Membuat lebih melek informasi dan lebih berhati-hati.

Ini juga mengingatkan saya pada diri sendiri

-Nootdorp, 21 Maret 2017-