Agama dan Proses Pencarian

“Den, aku nanti mampir kosmu ya. Mau belajar Sholat.”

Seorang teman yang saya kenal saat dibangku SMA, tiba-tiba berkata seperti itu saat berpapasan di gang ketika saya pulang kuliah. Rumahnya tidak jauh dari tempat saya ngekos. Saya mengiyakan tapi di kepala saya timbul pertanyaan, “kok dia mau belajar sholat, kenapa ya?” Sore hari, dia ke tempat saya. Dia belajar wudhu, belajar mengenakan mukena, dan belajar gerakan sholat. Saya dan beberapa teman mengajarinya tanpa banyak bertanya. Dia ingin belajar, kami mengajari dan memberitahu apa yang ingin dia ketahui. Dia juga mengatakan, kalau waktunya sholat Maghrib dan Isya ingin ikut berjamaah dengan kami. Sejak saat itu, dia rajin datang ke kosan dan sholat berjamaah bersama saya dan teman-teman.

Saya sudah lama tidak bertemu dengannya sejak kami lulus SMA. Meskipun rumah kami tidak terlalu jauh, tapi kami kuliah di kampus yang berbeda. Jadi saya tidak tahu kabar apapun tentangnya sampai suatu hari dia bilang ingin belajar sholat. Saat dia selesai belajar sholat pertama kali, saya tanya kabarnya bagaimana. Dia hanya menjawab singkat, “baik Den. Aku ingin belajar tentang Islam. Tolong ajari aku ya.” Banyak sebenarnya yang ingin saya tanyakan saat itu, terutama kenapa dia ingin belajar tentang Islam. Apakah dia ingin pindah agama? Tapi saya simpan sendiri pertanyaan tersebut. “Yuk kita belajar bareng-bareng. Akupun butuh belajar banyak tentang Islam.” Setelah beberapa lama dia belajar ke sana dan ke sini, suatu hari saya mendengar kabar kalau dia sudah masuk Islam.

Setelah berbelas tahun lamanya, hari ini saya kembali teringat dengan ceritanya. Pertama kali dalam hidup saya, tahu proses dari awal seorang kawan memilih agama secara sadar dari perjalanan panjang, kegelisahan dan pergulatan batin meninggalkan agama sebelumnya, dan berproses dengan banyak belajar serta bertanya. Pernah terlontar perkataan pada saat itu, “saya iri dengan kamu karena berani mengambil langkah memilih agama sesuai kata hati dan proses pembelajaran serta pencarian. Sedangkan saya, beragama karena warisan keluarga turun temurun.”

Beragama di Indonesia bukanlah tentang sebuah pilihan tetapi kewajiban. Itupun agama yang didapat bukan karena proses pencarian melainkan karena meneruskan dari agama turun temurun di keluarga. Agama warisan. Selain itu, beragama dan berkeyakinan menjadi sebuah kewajiban karena harus tercantum saat ingin mendapatkan kartu identitas sebagai seorang penduduk. Lalu bagaimana dengan orang yang memilih tidak beragama dan tidak berkeyakinan? Tetap harus memilih dari daftar agama resmi dan keyakinan yang diakui di Indonesia.

Dalam proses beragama, sayapun seringkali mengalami pergolakan batin dan banyak mempertanyakan ajaran agama yang pada akhirnya saya pilih secara sadar, untuk saat ini, walaupun awalnya saya dapat dari warisan keluarga. Itupun setelah saya belajar, mencari dan tetap mempertanyakan banyak hal, sampai saat ini. Salah satu alasan kenapa sampai sekarang saya tetap belajar dan tidak pernah berhenti bertanya tentang ajaran agama saya, supaya saya semakin mengenal agama yang saya pilih. Bukan hanya terima jadi lalu merasa ini adalah agama yang paling benar di muka bumi.

Sebelum memutuskan berjilbab, saya mengalami dilema besar. Bertanya dan melakukan pencarian kenapa dan hukumnya apa sebenarnya jilbab itu. Belajar dan mencari tahu sejarahnya bagaimana. Sampai saat ini setelah hampir 10 tahun lamanya mengenakan Jilbab, saya tetap menggali lebih dalam tentang jilbab. Saya tidak pernah berhenti dan tetap dahaga ilmu dengan apa yang saya pilih sampai sekarang. Saya berproses dan tidak tahu kedepannya proses yang saya lakukan sekarang akan menuju pada jalan ke arah yang mana. Saya tidak pernah tahu.

Bukan hanya tentang perjalanan agama dan spiritual saya yang berproses, cara berpikir sayapun seiring bertambahnya umur mengalami banyak sekali proses pembelajaran. Dulu saat mendengar ada yang pindah agama dari A ke B, B ke A, A ke Z, Z ke K, selalu timbul pertanyaan, kenapa ya? lalu mencoba menebak sendiri alasannya dari kabar yang berhembus. Mendengar dan tahu ada teman atau kenalan yang awalnya mengenakan jilbab lalu mencopotnya atau buka copot jilbab, rasanya ingin nyinyir kenapa kok seperti labil tidak punya pendirian. Dari proses pembelajaran dan melewati perjalanan hidup, akhirnya saya pada satu pemikiran bahwa semua pasti ada alasannya. Mereka yang memutuskan berpindah, melalui proses pencarian, perjalanan dan pergulatan yang saya tidak tahu apa. Jadi saya tidak punya hak untuk menghakimi apapun.

IMG_4943

Beragama, berTuhan, memilih tidak beragama dan mempercayai selain Tuhan, semuanya berproses, melalui perjalanan panjang, pergolakan batin, pengalaman hidup yang sifatnya sangat individu dan menjadi urusan pribadi. Kecuali kita ada di sana saat seseorang memutuskan berpindah (apapun konteksnya), kita tidak pernah tahu pergumulan seperti apa yang terjadi sebelumnya. Kita tidak punya hak menghakimi. Memutuskan berjilbab, melepas jilbab, semuanya pun berproses. Mereka melewati sebuah perjalanan dan proses batin yang kita tidak tahu seperti apa. Kita tidak berhak untuk menghakimi.

Saat seseorang datang padamu ketika dia sedang dalam pergolakan batin, temanilah. Rangkul dan dengarkan apa yang menjadi kegelisahannya. Berkomentar saat memang diminta pendapat. Jika tidak, dengarkan saja apa yang dia utarakan dan apa yang ingin dia ceritakan. Bawalah dia dalam doamu supaya proses pencarian dan pergolakan batinnya membawanya pada titik yang bisa membuatnya lebih damai dan menjawab semua keresahannya selama ini.

Jika kita memilih beragama, bukan berarti kita pantas untuk merasa lebih dari yang memilih tidak beragama. Jika kita mengenakan jilbab, tidak ada alasan untuk menjadi tinggi hati dan memandang sebelah mata mereka yang memilih tidak berjilbab. Saat kita mendengar seseorang melepaskan jilbab, tidak perlu dengan jumawa memberi pelabelan ini itu. Mereka berproses, mari kitapun menghargai apapun yang sudah mereka putuskan saat kita tidak menjadi bagian dalam proses yang mereka jalani.

Saat teman saya memilih untuk pindah agama, yang bisa saya lakukan adalah sama-sama belajar dengannya dan membawa dalam doa semoga yang sudah dia lalui sampai dititik saat itu menguatkan dia untuk melangkah dalam pilihannya. Saya tidak pernah menanyakan alasan kenapa dia memutuskan pindah agama karena dia tidak pernah menyebutkan. Seyogyanya memang kita tidak usah terlalu mencampuri terlalu jauh sesuatu yang kita tidak tahu dengan pasti. Tidak perlu menduga-duga apakah orang pindah agama karena pernikahan, perceraian, kekecewaan akan suatu hal atau yang lainnya. Pun berlaku ketika seseorang memutuskan menggunakan atau melepas simbol keagamaan. Simpan saja pendapat kita dan tidak perlu menduga terlalu jauh, apalagi sampai menghakimi. Kita tidak ada di sana saat mereka sedang berproses.

Beragama, berTuhan, memilih tidak beragama dan mempercayai selain Tuhan, mengenakan atau tidak mengenakan simbol sebuah agama, semuanya adalah urusan pribadi dan melalui sebuah proses pencarian. Punya hak apa kita menilai benar atau salah?

-Nootdorp, 15 Juli 2019-

10 thoughts on “Agama dan Proses Pencarian

  1. Luamaa buanget ga mampir2 blog (dan ga ngeblog :p ), ternyata mbak Den masih rajin ngeblog! Dan saya langsung baca tulisan ini. Saya sepakat mbak… (yg ngga sepakat juga gpp… tetap damai :p)

    1. Hai Vit. Aku selalu baca setiap kamu nulis. Karena muncul di readerku. Salam buat nyambik2 di ITS yo haha wes ga onok nyambike saiki palingan yo

      Aku sik lumayan lah ngeblog, seminggu sekali. Suwun ya wes dibaca tulisanku

  2. Ini bener banget, mbak. Pergulatan dan pergumulan itu ga kan ada yang memahami, hanya diri kita sendiri dan segala keputusan akhirnya pun karena dan untuk diri sendiri bukan orang lain. Aku dulu juga bergama islam dan kemudian memutuskan masuk kristen katolik setelah pergumulan tiga tahun lebih, pun sempat diusir dari rumah, dibenci oleh keluarga, ga diakui anak lagi oleh papa, suamiku (waktu itu masih pacar) disalahkan karena dia aku pindah agama padahal suamiku waktu itu justru ga berafiliasi ke agama apapun dan kami kenalnya saat aku sedang proses belajar agama kristen. Sampai akhirnya sebagian keluarga sadar hidupku ini sepenuhnya pilihanku bukan lagi pilihan mereka dan sekarang kami bisa berdamai, saling menghargai kepercayaan masing2. Itu semua butuh proses juga dan penuh drama. Jadi jangan takut menuruti kata hati karena pasti selalu ada jalan yang baik untuk niat yang baik.

    1. Terima kasih Icha sudah berbagi cerita di sini. Terharu baca perjuanganmu. Betul, keluarga memang lingkaran terdekat yang lebih susah menerima kalau kita berpindah karena suatu proses. Syukurlah sekarang keluargamu sudah bisa legowo ya.

  3. Aku terharu mbak baca ini. Keluargaku memang multi agama tapi ga ada satupun yang kayaknya berhasil mengakui diri gak berafiliasi dengan agama apapun. Aku jadi yang pertama begitu. Sekarang kalo orang tanya agama aku jawab “I was born and raised Christian but now I am not religious anymore”. Papa udah ngerti aku ga ke gereja lagi tapi kayaknya berita ini nggak sampe anggota keluarga yang lain, biarin aja. Menurutku proses mencari iman itu juga hampir sama dengan proses melepaskan iman yang selama ini sudah dipelajari. Toh beragama atau tidaknya seseorang nggak menjamin dia baik/nggak. Yang penting berbuat baik sama orang lain, sisanya itu urusan dia sendiri.

    Selain konsep agama sebagai warisan, kayaknya di negara asal kita juga kurang pengertian konsep agama atau tidak beragama gak pengaruh sama kondisi moral seseorang. Masih banyak orang di negara kita yang berpikir kamu tuh harus punya iman karena kalo gak, bisa jadi gak takut neraka, makanya moralnya jelek. Duuuhhh kalo denger yang begitu2 tuh suka sedih dan Gemes deh.

    1. Terima kasih Crys sudah berbagi cerita pengalaman pribadi. Di negara kita, iman ga berproses melainkan ditentukan. Dan saat mulai belajar agama, diberikan gambaran tentang surga dan neraka. Jika balik lagi saat masa2 aku masih kecil, rasanya ngeri aja mengingat aku saat itu sudah diceritakan ttg Neraka seperti apa. Padahal yang namanya berperilaku baik dan buruk itu tidak tergantung takut atau tidak neraka. Justru memberikan bekal pada anak tentang dasar2 berperilaku itu lebih awet manfaatnya, bukan tentang pamrih ingin masuk surga atau mencari pahala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.