Pohon Natal Kami

Salah satu yang membuat antusias bulan November ini adalah kami memutuskan untuk memasang kembali pohon Natal setelah dua tahun berturut tidak memungkinkan untuk mendekorasi. Keputusannya juga baru dua minggu lalu, dadakan karena melihat kondisi sudah memungkinkan. Seperti yang saya sebutkan pada tulisan sebelumnya, sejak minggu kedua November, kami sudah mulai mengumpulkan kembali pernak pernik untuk pohon Natal yang tersimpan di gudang, beserta pohonnya. Lalu akhir minggu lalu, kami mulai mencicil untuk menghiasnya.

Pohon ini sudah kami miliki sejak tahun 2015, jadi usianya sudah 5 tahun. Pohon yang terbuat dari plastik ini, biasanya mulai kami pasang minggu ketiga November. Sebenarnya, kalau mau mengikuti tradisi di sini, pohon Natal baru mulai dipasang setelah Pakjesavond atau malam ulangtahun Sinterklaas. Jadi saat Sinterklaas kembali ke Spanyol tanggal 6 Desember, nah orang Belanda baru mulai pasang pohon Natal sampai tanggal 25 Desember. Jadi cuma sekitar 3 minggu saja. Saya melihat tempat yang biasanya menjual pohon asli dekat rumah, belum buka lapak. Mungkin baru minggu depan.

Kami beda, bikin aturan sendiri haha. Mikirnya, kalau cuma 3 minggu, terlalu singkat sekali menikmati suasana rumah yang hangat karena warna warni pantulan cahaya pada pernak pernik yang ada pada pohon Natal. Betul lho, memandangi lampu kerlap kerlip dan pantulan cahaya pada dekorasinya, membuat hati menghangat. Rasanya cozy. Hal ini membuat rasa depresif karena cuaca dan suasana suram menuju musim dingin jadi berkurang.

Kali ini, saya tidak terlalu dominan ikut serta menghias. Cukup jadi pengamat saja sambil tetap menjaga situasi tetap kondusif jangan sampai terjadi huru hara semacam pohon rubuh atau bola – bola nya berjatuhan lalu pecah. Jadi peran saya kali ini hanya 15% saja. Sangat menyenangkan, semua antusias menghias lalu setelah 3 hari dicicil dan semua hiasan terpasang, setiap saat mereka mengagumi hasil karyanya. Sesekali bergumam : Mooi he! atau kijkt, het is super mooi! atau menyentuh sesekali hiasannya sambil menyebutkan ini warna apa, itu warna apa atau menyebutkan bentuk-bentuknya. Semua bergembira.

Pohon sudah terpasang, minggu depan adalah Pakjesavond atau Sinterklaasfeest. Pesta ulangtahun Sinterklaas. Saya sudah tidak sabar. Kado-kado sudah selesai kami bungkus, sudah kami taruh kantong. Tahun lalu kami dapat sumbangan kado dari tetangga, banyak sekali. Dari Mama mertua juga. Tahun ini, belum nampak sumbangannya, hahaha ngarep. Tahun lalu, Suami pura-puranya jadi Sinterklaas yang gedor-gedor pintu membawa kantong berisi kado – kado. Saya merekam sambil menahan tertawa.

Supaya tidak membingungkan, saya ceritakan berurut ya perihal Sinterklaas ini, menurut pemahaman saya tentunya. Jadi, Sinterklaas datang ke Belanda setelah perayaan Sint Martin tanggal 11 November. Tepatnya Hari Sabtu setelah tanggal tersebut. Jadi Sinterklaas datangnya selalu hari Sabtu. Saat Sinterklaas datang ke Belanda dari Spanyol naik kapal laut, dia akan bagi – bagi coklat, permen, segala makanan kecil yang manis. Nah, setelah Sinterklaas datang, dimulai tradisi menaruh sepatu saat malam, mengisinya dengan rumput kering atau menaruh wortel atau air di wadah sebagai makanan kudanya Sinterklaas. Hal ini juga kami lakukan. Keesokan harinya, akan terlihat di dalam sepatu sudah ada hadiah misalkan coklat atau hadiah kecil lainnya. Menaruh sepatu ini akan berlanjut sampai 5 Desember pagi. Nah 5 Desember malam yang disebut Pakjesavond atau Sinterklaasfeest itulah pesta ulang tahun Sinterklaas yang ceritanya akan bagi-bagi kado. Pada tanggal 6 Desember, Sinterklaas kembali pulang ke Spanyol. Mudah-mudahan tidak bingung ya. Jadi Sinterklaasfeest ini gaungnya lebih terasa dibandingkan hari Natal tanggal 25 Desember. Kalau Natal, seperti biasa kumpul keluarga makan malam bersama, mungkin juga buka kado bersama.

Saya yang baru tahu cerita dan urutan ini beberapa tahun terakhir lumayan tertarik juga meskipun tidak sampai mendalami sejarahnya bagaimana sampai detail. Hal baru buat saya. Sinterklaas dulunya bernama Sint Nicolaas lalu berubah menjadi Sinterklaas.

Sejak dua minggu lalu, rumah kami juga mulai memutar lagu – lagu Sinterklaas dan Natal dalam bahasa Belanda. Kalau pagi kami mendengarkan dari radio sampai sore. Malam setelah menonton berita, kami menonton lagu – lagu dari YouTube. Saya sampai hapal liriknya. Mendengarkan nyanyian tersebut sambil memandangi pohon berwarna warni, hati jadi senang dan riang. Hati menghangat.

Meskipun tahun ini kami tidak bisa pergi ke pasar Natal seperti yang biasa kami lakukan setiap tahun karena pasar Natal pun tidak ada yang buka disebabkan Pandemi, pemasangan pohon Natal kembali tahun ini di rumah kami, membuat suasana di rumah tetap antusias melewati perayaan setiap perayaan saat bulan November dan Desember.

Sekian dulu cerita pohon Natal kami yang merembet cerita ke mana – mana. Nanti akan saya tuliskan cerita saat Paksjesavond atau Sinterklaasfeest.

Selamat berakhir pekan.

-26 November 2020-

7 thoughts on “Pohon Natal Kami

  1. Huwaaaa!!!! Liat pohon natal aku mupeenggg. Tahun ini belum tau bisa pasang pohon natal ato gak

    Sejarah dan tradisi sinterklas itu terbawa sampai ke tanah Minahasa, makanya sampe skrg tradisi sinterklas di Manado juga dirayakan di tanggal yg sama dgn yg di Belanda, yaitu tgl 5 Desember

    1. Wahh aku baru tahu tentang Sinterklaas di Manado, Lisa. Menarik ya, pengaruh Belanda terasa sekali. Sehat2 selalu Lisa di sana bersama seluruh keluarga. Stay Safe.

      1. Tapi akhirnya kami dekorasi pohon Natal juga. Itu pun seminggu sebelum Natal xD baru mau di bongkar weekend ini. Awalnya nggak mood, tapi R tiba2 kepingin pasang pohon Natal. Ya udah deh… ternyata kalo ngerjainnya 2 orang, selesainya cepet.

  2. Baca sejarah Sinterklas menarik juga ya, dan sepertinya beda di tiap tiap negara BTW, aura masa Natal dan akhir tahunnya berasa beda ga di sana karena pandemi, Den? Kalau di sini kan kayak Lebaran kemarin berasa beda banget karena pandemi..ga semeriah biasanya 🙁

    1. Beda Inong, pas Natal juga sedang Lockdown jadi peraturan diperketat. Biasanya kami kumpul keluarga, pas Natal ya kami rayakan serumah saja. Tahun lalu memang semua berubah ya, dunia juga beradaptasi. Sedih tapi ya mau gimana lagi.

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.