Crypto Currency and Market Capitalisation

253_2120x1590_L_1496928172

Over the past months I became interested in the possibilities that crypto currencies have to offer. At first I became interested in the idea that crypto currency could play an important role in (international) money transfers, replacing traditional currency like dollar, euro and pound and replace traditional bank-to-bank transferring methods. At the same time I realised that  there still are causes that will prevent crypto currencies to become intensively used in money transferring.

The crypto currency market, especially the one for Bitcoin has known many up and down swings over the years since its introduction in 2009. Although there were some near-meltdowns along its path over the years, 2017 proved to be a kind of ‘break through’ year where the price half way 2017 soared from $ 1.000  to $ 3.000. The potential prospect of soon to be realised gains for simply holding on to ones crypto currencies will create an effect where the owners of their crypto currencies rather not want to use them in transferring scenarios. Yet if the owner of a crypto currency would want to use his digital cash for transferring purposes he or she will be faced with many complications. There are still relatively few people (ask the ones around you)  owning an ewallet which would allow them to receive or send digital cash. There is no way that different types of crypto currencies are interchangeable. And last but not least there are few (web) shops that accept crypto currencies for paying goods or services.

When diving in the technology behind the crypto currency you will find the block chain technology that can be considered as a transparant, autonomous and highly secure way of storing  data. The comparison to a world wide operating virtual ledger or spreadsheet is often made. The blockchain technology is what drives and enables crypto currency but blockchain technology can actually be applied for many other purposes.

We are witnessing a revolutionary way in which administrative (economical) processes will be changing over the coming years and decades. The concept can even be applied to concepts beyond administrative processes (for example to identity management and asset registration). Without going into detail too deep in the underlying technology we will witness the emerge of an autonomous, transparant, de-centralized infrastructure that offer possibilities in which we currently are using banks, clearing institutes, accountancy and administrative firms to perform most of these activities. With blockchain technology all these activities come under one roof, but without the boundaries and middle men that are usually associated with those activities.

If you look at the developments from this perspective than investing in Bitcoin, Ethereum or one the hundreds of alternative altcoins becomes like investing in a company -like investing in stock-, although lacking the traditional centralized management that we usually associate with the ‘traditional’ companies. It then becomes obvious that the market capitalization of (for example) Ethereum does signal something about its economic relevance and may be compared to those traditional companies. That is why 2017 also saw the break through of ICO’s (Initial Coin Offerings) which somewhat can be compared to the virtual launch of an IPO (Initial Public Offering), the most usual way for a company that is going public by issuing stock and entering the stock market.

Let’s take for example a ‘traditional’ company, Apple, which had in June a market capitalisation of app. $ 675 billion, making it the company with the largest market capitalisation in the world. Ethereum had at the same time a market capitalisation of approximality $ 30 billion. So Apple as a 40 year old company producing computer related products and services is at the moment 20x the size of Ethereum, a highly advanced initiative that takes the Bitcoin blockchain technology to the next level with its abilities of incorporating development tools in its own block chain technology.

From such a perspective  it is justified to believe that Ethereum one day will become bigger than Apple, measured by its market capitalisation because its added economical value will become at least as significant as Apple’s (and probably much more important). It may be tempting to make calculations about what the pricing of one Ether (Ethereum’s crypto currency) could be like in such a scenario, but one can assume that the current price of ca. $300 is just a fragment of its pricing potential. Others have been less witholding about their predictions about what the the pricing for crypto currencies could become like.

All in all investing in crypto currencies is at the moment more like earning a stake in a promising new technology enabled by an initiative that could be typed as a ‘virtual’ company. The traditional lines between stock and currency are blurring as you might one day use that stake (your Ethers, Bitcoins or other altcoins) for actually using it as digital cash. And that would be something that would be impossible to do with regular stock from the ‘traditional’ companies.

On the other hand take in consideration that this whole blockchain industry is still in its very early stages. The pricing of the crypto currencies are extremely volatile, because nobody really knows where things are heading. There is always the probability that reading this article in three years time the content seems to be completely out of date because the playing field has completely changed.

If you want to have a good introduction to crypto currencies and blockchain technology I advise you to read and see the following links:

6 interesting introduction videos:

Watch all six episodes of the series Trust Disrupted: Bitcoin and the Blockchain

Vilarik Buterin (the inventor of Ethereum) explaining Ethereum:

https://coincenter.org/entry/what-is-ethereum

Lebaran Pertama di Belanda

IMG_3265.JPG

Dua hari menjelang Lebaran yang jatuh pada hari Jumat 17 Juli 2015, perasaan saya berkecamuk sedih. Tidak dapat dipungkiri saya rindu suasana menjelang lebaran di Ambulu, Jember atau di Nganjuk. Meskipun saya dan adik-adik tinggal di Situbondo, tapi sejak kecil kami tidak pernah merayakan lebaran disana. Alasannya simpel : kami tidak punya saudara disana karena Bapak dan Ibu adalah pendatang. Tahun 2014 pertama kali kami berlebaran di Situbondo karena satu minggu setelahnya saya menikah. Jadi lebaran tahun kemarin juga disibukkan oleh persiapan pernikahan. Sehingga selama ini kalau lebaran ya identik dengan Ambulu atau Nganjuk. Suasana takbir keliling sambil bawa oncor, pelepasan balon raksasa di Ambulu, arak-arakan penduduk desa yang mendatangi masing-masing rumah setelah sholat Ied, sholat Ied bersama, makanan khas keluarga seperti : pecel ayam pedes, lodeh pedes tahu tempe, brongkos laos, brengkes pindang, sambel goreng kentang telur puyuh, penyet lele dan ikan mujaer, serta kue-kue lebaran khas desa. Hal-hal seperti itulah yang dirindukan sehingga membuat saya menangis terus menjelang lebaran tahun ini karena merasa nelongso tidak dapat merasakan  suasana lebaran yang selalu menemani sejak masih kecil. Tapi yang membuat makin sedih bahwa saya jauh dari Ibu, tidak bisa sungkem, tidak bisa nyekar ke kuburan Bapak. Mas Suami sampai bingung melihat saya menangis terus menerus.

Namun kesedihan tersebut sedikit terobati ketika Jumat pagi saya memulai bersiap untuk Sholat Ied di Masjid Al Hikmah di Den Haag. Menurut sejarahnya, Masjid yang terletak di Moerwijk ini dulunya adalah Gereja yang bernama Immanuel. Pada tahun 1995 Gereja tersebut dibeli oleh pengusaha Probosutedjo dan diwakafkan atas nama kakaknya yang wafat di Leiden. Mengapa Gereja? Untuk mendirikan bangunan baru di Belanda tidak mudah sementara pada saat itu banyak Gereja yang tidak lagi difungsikan dan dijual kepada umum. Menurut salah satu pengurusnya, masyarakat sekitar Gereja lebih senang Gereja tersebut difungsikan untuk Masjid dibandingan kepentingan lainnya, misalkan Diskotik.

Dengan berganti bis dan tram, dalam waktu setengah jam saya sudah sampai di Masjid Al Hikmah. Sholat Ied baru akan dimulai jam 10 pagi, tetapi salah sorang kenalan bercerita lebih baik datang pagi sekali karena jika datangnya mepet maka kemungkinan tempat sudah penuh. Akhirnya saya sampai Masjid jam 8.30 dan benar saja  saya masih mendapat Shaf pertama diruangan bawah. Sepanjang mata memandang jamaahnya mayoritas memang dari Indonesia dan sebagian kecil dari bangsa negara lain. Ceramahnya menggunakan bahasa Indonesia. Mendengar suara takbir yang dikumandangkan langsung didalam Masjid, saya kembali menangis. Betapa saya memang merindukan datang ke Masjid. Ibu-ibu yang ada disebelah saya datang dari Paris dan Belgia untuk sholat di Masjid ini. Sholat dimulai tepat jam 10 pagi. Ditengah-tengah sholat ada beberapa anak kecil menangis kencang. Saya mbatin “ga di Indonesia, ga di Den Haag, masih aja ada suara anak kecil menangis kalau pas sholat Ied atau Idul Adha. Mbok ya anaknya ditinggal dirumah atau kalau memang ga ada yang jaga, mbok ya ga usah ikut sholat di Masjid, kan bisa dilakukan sendiri dirumah daripada mengganggu jamaah lainnya.” 

Jam 10.30 Sholat Ied dan ceramahnya selesai. Saya yang memang datang sendirian dan tidak mengenal siapa-siapa disana, langsung keluar dari Masjid setelah bersalaman dengan beberapa Ibu. 

Suasana setelah bubaran Masjid nampak dari kejauhan
Suasana setelah bubaran Masjid nampak dari kejauhan
Setelah dari Masjid, saya langsung meluncur ke acara selanjutnya yaitu open house di Salero Minang. Beberapa hari sebelum lebaran, Uni Rita pemilik Salero Minang membuat pengumuman di Facebook akan mengadakan Open House. Tanpa berpikir panjang saya langsung mendaftar. Lumayan daripada dirumah sedih sendiri mending “kelayapan” mencari kegiatan. Karena Restoran padang maka menu yang disediakan adalah lontong Padang, teri kacang, telur balado, beberapa kue-kue. Senang sekali berkenalan dengan beberapa orang baru.

Setelahnya saya pulang untuk istirahat sebentar. Jam 4 sore saya dan suami berangkat ke Halal Bihalal KBRI yang diadakan di Event Plaza, Rijswijk. Karena saya memang belum punya banyak kenalan disini, niat datang kesana karena ingin tahu suasananya dan niat makan. Sesampainya disana ternyata ruangan sudah penuh, antrian makan mengular, dan ada beberapa yang sedang poco-poco mengikuti alunan musik dan lantunan suara penyanyi dipanggung. 

   
Antrian makanan dengan menggunakan sistem kupon yang diberikan ketika pertama kali kita masuk ruangan. Satu orang satu kupon. Ditengah mengantri, tiba-tiba ada yang memberikan 2 kupon tambahan ke suami. Jelas saja dia langsung senang sekali. Menunya adalah opor ayam, lontong, sayur lodeh, sambal goreng kentang ati, kerupuk, sambal terasi, dan telor balado. Saya kemarin memang niat tidak masak karena sudah tahu kalau seharian akan numpang makan disana sini. 

Bertemu beberapa kenalan
Bertemu beberapa kenalan
 

Saya dan Suami mengucapkan selamat lebaran, maaf untuk khilaf kata dan perbuatan, semoga kita semua dipertemukan lagi dengan Ramadan akan datang dalam keadaan yang lebih baik supaya dapat beribadah lebih baik juga. 

Pertama kali memakai Batik :)
Pertama kali memakai Batik 🙂

-Den Haag, 18 Juli 2015-

  

Mendadak Muncul di TV Nasional

IMG_2693.JPG

Sebelum saya bercerita tentang asal muasal kenapa saya muncul disalah satu TV yang ada di Indonesia, saya akan bercerita terlebih dahulu tentang satu tulisan yang dibuat oleh Mbak Emiralda tentang saya. Saya mengenal Mbak Emi beberapa tahun lalu ketika masih kerja di Jakarta dalam salah satu kegiatan sosial. Setelahnya kami sering bertemu dibeberapa kegiatan sosial lainnya. Kami sering berbicara tentang berbagai hal. Saat itu (dan sampai sekarang) saya mengagumi Mbak Emi sebagai sosok yang luar biasa. Dia peduli dengan masalah pendidikan disekitarnya, aktif dalam kegiatan sosial, sosok yang ceria dan sudah sering keliling dunia, orang yang suka menulis dengan gaya bahasa yang terstruktur dan puitis (mudah-mudahan buku Mbak Emi segera terbit). Intinya, saya menjadi pengagumnya. Beberapa saat kemudian kami menjadi jarang bertemu lagi karena kesibukan saya dipekerjaan sampai akhirnya pindah ikut suami. Tapi komunikasi antara saya dan Mbak Emi masih terjalin meskipun dengan frekuensi tidak sesering dulu.

Pada awal Ramadan, Mbak Emi menghubungi saya, meminta ijin untuk menjadikan saya sebagai salah satu narasumber pada rubrik Muslimah Around The World di Facebook (FB) yang dia dan teman-temannya buat. Nama page di FB adalah Annisaa. Annisaa adalah proyek jangka panjang mereka mengupas serba serbi tentang dunia muslimah. Untuk saat ini, mereka mengawali dari FB dengan rubrik utamanya Muslimah Around The World, satu hari satu cerita tentang seorang muslimah yang ada diseluruh dunia. Cerita muslimah-muslimah yang lain sangat membuat kita sebagai pembaca akan berdecak kagum. Cerita-cerita yang sangat menginspirasi. Silahkan langsung menuju page Annisaa untuk membaca cerita muslimah lainnya.

Singkat cerita, prosesnya sangat cepat. Setelah saya menyetujui, kemudian mengirimkan cerita tentang diri sendiri dalam bahasa Indonesia, Mbak Emi lalu menceritakan kembali dalam bahasa Inggris. Beberapa kali saya revisi, lalu tulisan finalnya keluar. Saya senang dengan cara bertutur Mbak Emi dalam tulisannya tentang saya. Terharu dibagian penutupnya. Membaca ini seperti kilas balik tentang kehidupan saya. Meskipun pendek, tapi sangat menyentuh buat saya pribadi. Tulisan ini dimuat di Annisaa pada tanggal 24 Juni 2015.

  

Annisaa

Meet Deny Lestiyorini, originally from Situbondo, East Java, who recently moved to Den Haag, joining her Dutch husband.”We got married in August 2014. I moved to Den Haag 5 months after, as I had to complete my Master degree in Industrial Engineering at ITS Surabaya first.This is my first Ramadan fasting for 19 hours. Not easy, but Alhamdulillaah, so far I’m doing fine.”

As much as she finds it hard to move so far away from home, Deny is excited of what’s ahead of her.

“Few years ago when I was still working in Jakarta, I was very determined to continue my Master study in The Netherlands. I applied for several scholarships, but I didn’t make it through. Now that I really am moving to The Netherlands – perhaps this is Allah’s will, that I’m going to live here, but through different way.

After all, man proposes, yet Allah disposes. Allah knows best. Always.”

Being the only one wearing hijab in her husband’s family doesn’t really bother Deny.

“My mother-in-law and sister-in-law understand my halal food requirements. Even more, they gave me some hijabs and informed me about a moslem-clothing store in the neighborhood. Coming from my husband’s closest family circle, such kind gestures mean a lot.

Deny took that as a sign that Den Haag very much welcomes her and she adjusted herself pretty well.

“Generally, it’s not too hard. Den Haag is a big city, a melting pot, where many people with different nationalities live. Hence, mix races, cultures and religions are very much embraced. It’s quite easy to find halal food, and for sure, there are some ladies wearing hijab just like me.

It’s also easy to find Indonesian spices for me to cook, either in the market or oriental stores. My husband loves Indonesian food!”

Having been in Den Haag for 5 months, Deny is now a housewife while taking Dutch language course.

“On the first day of Ramadan, I went to a store to buy a gift for a friend’s child. When I came to the cashier to pay, she smiled and said, ‘Fijne Ramadan!’ – which means ‘Happy Ramadan!’

I know it’s such a simple thing, but she really made my day. It was very heartwarming, being greeted by a total stranger in a middle of somewhat ‘nowhere’.

Insya Allah, I’ll be fine here. In Den Haag, with my husband, my home away from home.

Alhamdulillah.”

#RamadanInspiration
#MuslimahAroundTheWorld

Ketika tulisan tersebut saya share di FB, banyak yang berkomentar, bahkan dosen-dosen saya yang biasanya tidak pernah muncul, ikut berkomentar. Komentar positif tentunya. Berterimakasih juga buat Mbak Emi, karena dengan share tulisan tersebut saudara-saudara saya juga bisa mengetahui keadaan saya disini. Untuk siapapun yang usil suka bertanya ini itu, atau menuduh ini itu, akhirnya juga berkomentar dan tahu kalau saya disini baik-baik saja, bahagia bersama suami tercinta.

Setelah Annisaa, seminggu kemudian seorang teman dari grup whatsapp (teman-teman yang tinggal di Eropa) yang tinggal di Jerman, Beth (blog Beth ini isinya makanan semua, selalu lapar kalau baca :D), meminta saya menjadi narasumber tentang pengalaman berpuasa di Belanda untuk iNews TV, salah satu TV Nasional segmen berita jaringan MNC Group, pada acara berita siang jam 11.40 WIB. Ketika saya menyanggupi, Beth kemudian menghubungkan saya pada produsernya, Ibu Dewi Murtiningrum. Setelah beberapa kali komunikasi via Whatsapp, akhirnya saya setuju untuk Live via skype pada hari Rabu tanggal 8 Juli 2015. Persiapannya tidak terlalu banyak. Ibu Dewi memberikan saya beberapa poin daftar pertanyaan untuk dipelajari dan sehari sebelum hari H saya baru mencari jawabannya.

Hari Rabu sekitar jam 5.30 pagi waktu Den Haag, Ibu Dewi menelepon saya untuk bersiap-siap. Saya yang memang masih terlelap tidur jadi agak kebingungan karena belum mempersiapkan jilbab dan baju. Akhirnya dengan memakai bedak ala kadarnya serta memoles lipstik tipis, tetap memakai celana panjang tidur dan kaos merah asal nyamber serta jilbab merah yang memang saya pakai sehari sebelumnya, dengan persiapan secara terburu-buru akhirnya siap untuk tes skype. Setelah tes skype beres, Ibu Dewi mengabarkan kalau bagian saya dimajukan 10 menit. Dan inilah momen pertama dalam hidup muncul di TV Nasional dengan menggunakan skype, iNews TV secara Live. Walaupun wajah saya hanya muncul sesaat karena tiba-tiba webcam ngadat, lumayan ada cerita untuk dikenang sepanjang masa. Sebenarnya ini bukan pertama kali saya muncul di TV. Dulu ketika saya masih bekerja dibagian marketing, sering promosi produk kantor juga lewat TV, lokal maupun Nasional. Kalau dulu munculnya untuk memperkenalkan produk yang saya pegang dalam segmen talkshow, sekarang munculnya karena berbagi pengalaman dalam sebuah cerita disegmen berita. Sensasinya pasti beda. Inilah rekamannya :

Sebenarnya sehari sebelumnya saya sudah memberikan informasi ke Ibu untuk melihat saya, tapi karena ibu sedang ada didesa Bapak di Jember, tidak ada yang mempunyai saluran iNews TV karena rata-rata TV saudara-saudara menggunakan TV Kabel. Tapi sehari setelahnya saya memberikan link Youtube pada Beliau. Ibu langsung menelepon saya sambil tertawa dan kamipun membahas sampai satu jam lamanya. Kata Ibu “lumayan ya, meskipun belum bekerja lagi, kamu tetap bisa masuk TV.” Lalu seperti biasa, dalam hitungan jam berita itu sudah menyebar dikeluarga besar.

Begitulah cerita saya tentang berbagi pengalaman berpuasa selama di Belanda. Ada satu lagi sebenarnya untuk sebuah radio di Surabaya. Teman kuliah saya yang menghubungi 2 minggu lalu untuk berbagi cerita diradio tempat dia bekerja. Tapi karena masih belum tayang, nanti saja saya akan ceritakan kemudian.

Ibu menyebut saya seperti artis musiman. Laku keras kalau Ramadan saja. Lalu saya berkomentar, anggap saja berkah Ramadan. Suami lain lagi bercandanya “Untuk Ramadan tahun depan, harus atur jadwal supaya tidak bentrok. Saya mau jadi Manager kamu,” yang saya sambut dengan tertawa kencang.

-Den Haag, 14 Juli 2015-

Gefeliciteerd!

IMG_3019.JPG

Hanya judulnya saja yang menggunakan Bahasa Belanda. Isinya tetap bahasa Indonesia 🙂 Jadi hari Senin 6 Juli 2015 adalah hari dimana suami tercinta, Mas Ewald lulus dari Universitas Leiden dengan gelar Master of Arts Majoring Ancient History. Akhirnya, setahun ini suami istri ini lulus semua kuliahnya.

 

I'm the proud wife. Can't be more proud of my Husband. Graduating in Master of Arts Majoring Ancient History Leiden University, The Netherlands ❤️
I’m the proud wife. Can’t be more proud of my Husband. Graduating in Master of Arts Majoring Ancient History Leiden University, The Netherlands ❤️

Sejak sebulan lalu, kami sudah merencanakan untuk merayakan kelulusan ini bersama seluruh keluarga besar. Dikarenakan sidang thesis harinya tidak jauh dari ulang tahun Suami yaitu 2 Juli, maka diputuskan untuk digabungkan saja perayaannya. Kami mengundang sekitar 20 orang yang terdiri dari seluruh keluarga dan teman-teman Mas Ewald. Lalu dia bertanya ke saya, mau mengundang teman Indonesia apa tidak. Saya menjawab tidak usah karena bulan puasa, teman saya puasa semua. Lalu dia teringat dengan Crystal dan mengusulkan untuk mengundang Crystal. Saya langsung mengiyakan mengingat Crystal juga tidak puasa dan mereka sebelumnya sudah pernah bertemu sewaktu Suami sedang bimbingan di Leiden. 

Makanan yang diminta oleh Suami adalah makanan Indonesia (saking cintanya dia sama makanan Indonesia) dan Mama mertua juga punya pesanan khusus yaitu Gado Gado. Karena sewaktu hari H saya harus mendampingi suami ujian, dan suami juga tidak mau saya terlalu repot didapur, akhirnya dia memesan Tumpeng Nasi Kuning, es cendol dan Gado Gado di katering yang memang sudah terkenal di Den Haag. Sedangkan saya hanya menyiapkan printilannya : memasak bakso, lumpia, dimsum, muffin, acar, memotong buah, menyediakan aneka minuman dan menggoreng krupuk.

  
Senangnya karena seluruh keluarga dan teman-teman Suami, termasuk Crystal puas dengan makanan yang kami sediakan. Kata mereka rasanya sangat enak. Awal sebelum memotong tumpeng, saya harus menjelaskan satu persatu jenis-jenis makanan itu. Jadi saya harus menjelaskan apa itu rendang, nasi kuning, urap, sambel tempe goreng. Giliran menjelaskan apa es Cendol, saya serahkan ke Crystal. Saya senang Crystal bisa datang, lumayan bisa ngobrol santai menggunakan Bahasa Indonesia.

Saya yang memang sedang puasa dan harus menunggu buka puasa sekitar jam 10 malam, mendapat pertanyaan seputar Ramadan dari keluarga. Mereka terkesima bagaimana bisa seseorang menahan lapar dan haus dalam kurun waktu 19 jam. 

Begitulah cerita menyenangkan dan menggembirakan hari senin ini. Acara selesai sekitar jam 10, tepat beberapa menit sebelum waktu berbuka. Sementara suami berbenah, saya meluruskan punggung dan selonjoran sambil berbuka puasa. Senang rasanya kalau kumpul seluruh keluarga. Rumah menjadi ramai karena setiap hari kami hanya berdua saja dirumah.

Selamat sekali lagi buat Suami Tercinta. Selamat Ulang Tahun dan Selamat Lulus!

-Den Haag, 6 Juli 2015-

Minggu Ceria – Pertemuan Para Blogger di Belanda

Deny, Mbak Yoyen, Crystal, Yayang, dan Indah yang bersedia mngambil gambar kami semua

Minggu 22 Maret 2015, pagi hari suasananya sendu. Mendung bergelayut pekat disekitar tempat saya tinggal, Den Haag. Sempat bimbang juga, nanti kalau hujan bagaimana dengan acara yang sudah direncanakan sebulan sebelumnya. Ya, pada hari itu akan ada temu muka dengan para Blogger yang tinggal di Belanda. Buat saya, tentu saja ini pertama kalinya akan bertemu dengan mereka. Mbak Yoyen yang memprakarsai acara ini dengan mengirimkan email satu persatu kepada kami tentang ide jumpa Bloggers ini serta tentang kesediaan tanggal yang memungkinkan kami untuk bertemu. Saya tentu saja sangat senang karena pada saat itu baru sekitar sebulan pindah ke Den Haag. Ingin mendengar pengalaman dari mereka yang sudah menetap lama disini, sekaligus berbagi cerita tentang apa saja yang saya rasakan selama sebulan di Belanda. Dari beberapa suara yang masuk, yang menyatakan bisa ditanggal terbanyak dan terdekat adalah 5 orang, termasuk saya. Akhirnya disepakati 22 Maret 2015 adalah hari pertemuan itu, yang dikemudian hari juga ditentukan kami akan berkumpul di Utrecht Centraal Station jam 12 siang  didepan Ticket & Service.

Ada yang mengesankan dari Mbak Yo, yang (lagi-lagi) mengawali untuk mengirim email kepada saya menanyakan preferensi tempat makan,berkaitan dengan halal. Awalnya saya sempat mbatin, ingin meminta tempat makan yang halal, sempat maju mundur akan mengirimkan email, tapi saya takut malah merepotkan dengan permintaan itu. Akhirnya justru Mbak Yo yang terlebih dulu menanyakan. Lega juga karena tidak ada ganjalan lagi. Setelah beberapa kali berbalas email dengan menyampaikan kriteria halal menurut saya, pada akhirnya sudah jelas tipe tempat makan yang akan dituju.

Hari H datang juga. Sejak pagi saya sudah ribut sendiri akan memakai pakaian seperti apa, bongkar lemari mengeluarkan beberapa pilihan baju, meminta pendapat Suami mana yang pantas. Saya memang seperti itu, selalu gelisah jika akan bertemu orang-orang baru. Bingung nanti apa yang akan dibicarakan, takut kikuk tidak nyambung dengan obrolan, dan beberapa ketakutan yang lain. Maklum saja, saya tipe orang yang agak susah berbaur dengan segala sesuatu yang baru. Tapi Suami menenangkan dengan kata-kata “tenang saja, saya percaya teman-teman blogger kamu bukan tipe yang menilai dari kulit luarnya”. Setelahnya, saya menjadi santai.

Sesampainya di Utrecht Centraal, saya langsung menuju ke tempat pertemuan. Senang sekali karena sejak awal obrolan mengalir. Yayang, Crystal, Mbak Yoyen ramah sekali. Saya yang awalnya takut tidak bisa masuk kedalam obrolan, akhirnya ketakutan yang tidak beralasan itu lenyap. Tidak berapa lama kemudian formasi menjadi lengkap dengan datangnya Indah. Rasanya bagaimana setelah bertemu mereka? Girang bukan main. Karena selama ini hanya membaca tulisan-tulisan saja, sekarang bisa bertemu dan bercakap langsung dengan penulisnya. Yayang yang sama dengan saya, datang ke Belanda karena menikah, tinggal di Rotterdam. Mbak Yo tinggal di Arnhem, selama ini saya kagumi karena tulisan-tulisannya yang informatif, kritis, tajam ternyata aslinya ramah, tidak pelit ilmu, nuturi dan banyak berbagi pengalaman serta cerita-cerita yang bermanfaat, serta tips untuk menulis diblog dengan baik. Indah, tinggal di Rotterdam, selama ini selalu saya kagumi dengan foto-foto bawah lautnya yang super keren, sampai saya kadang bertanya-tanya dalam hati, bagaimana ya caranya mengambil gambar hewan-hewan laut yang kecil sampai dapat gambar yang menakjubkan. Indah juga berbagi banyak sekali cerita-cerita selama dia tinggal di Belanda. Sedangkan Crystal, saya baru mengenalnya hari itu juga. Terus terang belum sempat baca-baca blognya sebelum bertemu. Crystal mendapatkan beasiswa LPDP, tinggal di Leiden, sedang menempuh Master program di Leiden University jurusan Sejarah, sama dengan suami saya.

Waktu 6 jam bergulir dengan cepat. Obrolan seru mewarnai pertemuan kami. Makan siang di Sumo Sushi belum cukup menampung topik pembicaraan yang kian menghangat. Akhirnya pembicaraan berlanjut dengan duduk santai di Starbucks (tanpa Indah sebab dia harus pulang terlebih dahulu karena sedang tidak enak badan). Saya tentu saja berceloteh tentang cerita adaptasi selama satu bulan, pengalaman berbelanja ke pasar, kenekatan saya berbicara bahasa Belanda ketika berbelanja, dan culture schock dengan beberapa wanita Indonesia yang tinggal di Belanda. Yayang pada akhirnya nyaman bercerita pada kami tentang beberapa pengalaman pada saat proses melahirkan, yang ternyata ada tragedi dibaliknya. Crystal berbagi cerita tentang kehidupan mahasiswa dan pengalaman jalan-jalan ke beberapa negara tetangga. Ternyata Crystal dan saya datang ke Belanda berdekatan jaraknya. Dia Januari awal, saya Januari akhir. Jadi kami ini sama-sama pendatang baru. Mbak Yo dan Indah dengan sabar mendengarkan cerita kami diselingi dengan celutukan-celutukan lucu. Saya merasa siang itu menjadi gayeng dan menyenangkan dengan tawa, haru, serius yang mewarnai segala macam kisah yang terlontarkan.

Terima kasih buat semuanya. Pengalaman baru, bertemu orang-orang baru, saling berbagi cerita dan pengalaman yang seru. Semoga suatu saat ada kesempatan lagi bertemu dengan mereka dan beberapa Blogger lainnya yang berhalangan hadir pada saat itu.

Ternyata bertemu dengan orang-orang baru tidak selalu diawali dengan suasana kaku. Jika kita nyaman dan menempatkan diri berdasarkan porsinya, maka semua akan lancar dan terasa menyenangkan. Semoga April ini akan banyak pengalaman baru dan mengesankan yang akan dihadapi tanpa halangan.

-Den Haag, 1 April 2015-

Dokumentasi dipinjam dari kamera Indah

Deny, Mbak Yoyen, Crystal, Yayang, dan Indah yang bersedia mngambil gambar kami semua
Deny, Mbak Yoyen, Crystal, Yayang, dan Indah yang bersedia mengambil gambar kami semua

Another Candle on the Cake

Semoga tidak pernah lupa untuk selalu bersyukur dengan yang telah Allah titipkan dihari kemarin, saat ini, dan kapanpun juga. Semoga langkah kaki lebih bermanfaat bagi keluarga, lingkungan, dan mereka yang membutuhkan.

-Leeuwarden, 29 Maret 2015-  

Semoga menjadi istri dan teman perjalanan yang mengasyikkan dalam mengarungi setiap suka dan duka kehidupan.