After the Dutch 2017 Election

When reading through the international comments on the Dutch parliament elections there is an international and general sense of relief and even happiness. The movement of “extreme right populism” as it recently gained victories in the UK (Brexit referendum) and the USA (President Trump’s election) seems to have be put to a halt in The Netherlands. The main reason for this optimism was the small rise in seats for Geert Wilder’s PVV (Party for Freedom, from 15 to 20) where until recently explosive growth was expected. Wilders’ PVV is now the second party in the Netherlands after Mark Rutte’s VVD (Popular Democratic Party). Rutte’s VVD lost a small number of seats (8) yet remains the biggest party in the Netherlands.

So Wilders gained a few seats but his role in the political arena is over after yesterday’s election results. Rutte already indicated that a collaboration between his VVD and Wilders’ PVV  would not be in question. In the Netherlands political parties have to seek collaborations to hold a majority (minimal 76 of the 150 seats) in the “Tweede Kamer” (the House of Parliament).

Wilders was remarkably absent in the recent campaign: a few TV shows, a few public appearances and not even a joint gathering of his PVV party members to watch the election results come in which is a common procedure for Dutch political parties. It is to guess why Wilders followed this strategy: did he think that social media would do for him what it had done for Trump? Where there issues surrounding his security? Or did he deliberately seek to fight his political arguments from the opposition ranks and was he scared his movement would become too big to handle? Although only Wilders himself could answer these questions, it becomes clear that Wilders will never lead a Dutch government administration. He is unfit to propose proper solutions for his sharp criticism of developments within Dutch society. He failed to bind influential figures of Dutch society to support his party and its policies.

The biggest loser yesterday was PvdA (The Labour Party). The party was decimated (from 38 to 9 seats) although it does not necessarily mean that its strong tentacles within the government, NGO’s and media now suddenly have disappeared. The seats that PvdA lost went to other left-wing and center parties like GroenLinks (Green Party), D66 (Democratic Party) and CDA (Christian Party). This means that PvdA lost its attractiveness to the voters, but it does not mean that their defeat will lead to radical changes in the political landscape.

So the conclusion is that the result of the election will be foremost a continuation of the status quo of Dutch “kartel parties” so called by new comer Forum voor Democratie (from 0 to 2 seats). ‘Kartel parties’  is the conglomerate of institutionalised parties that already reign over the Dutch politics in different combinations for many decades.

The large majority of the Dutch voters still seem to approve the current political situation. There is little interest in controversial subjects like abolishing the Euro or leaving the EU (Nexit). For now they seem to comfortably close their eyes for the big issues that sooner or later will be knocking at their doors: the high amounts of immigrants, the stability of the EU and Euro and last but not least, the internal stability of a segregated society where different populations hold their own ideas about their loyalty to the Netherlands. Last week events in the Netherlands surrounding the visit of Turkey’s ministers and the commotion it caused afterwards are strong indicators  about the current state of things and what is likely to be expected to happen more intensively and more often in the near future.

Other election events in 2017 (Germany, France) will give further indicators if citizens of those EU countries wish to continue the current direction of their political leaders or whether they are already prepared for more dramatic measures.

Den Haag, 16 maart 2017

Sehari Menjadi Turis di Edam, Volendam, dan Marken

Klompen yang sudah jadi

Saya kembali memeriksa isi tas dan memastikan tidak ada satu barangpun yang tertinggal, terutama dompet dan tiket kereta. Setelah berpamitan pada suami, kaki tergesa melangkah ke stasiun kereta dekat rumah. Saya berharap tidak tertinggal kereta karena tadi begitu sibuk menyiapkan beberapa pepes ikan asin peda dan sambel teri, pesanan dua orang teman. Ikan asin peda saya buat sendiri karena saat beli ikan di pasar ternyata jumlahnya terlalu banyak untuk dimakan sendiri, akhirnya saya punya ide kenapa tidak dibuat ikan asin saja, mumpung sinar matahari sedang berlimpah satu minggu ini pada bulan Agustus. Setelah menjadi ikan asin lalu saya buat pepes dan saya jual kepada dua orang teman yang sebelumnya sudah memesan sambal teri. Lumayan hasilnya bisa saya buat jalan-jalan. Aroma pepes dan sambel teri menguar dipangkuan saat saya sudah duduk di dalam kereta. Saya berharap aroma ini tidak sampai mengganggu penumpang lainnya. Cukup saya saja yang bisa menciumnya.

Setelah berganti kereta, saya mencari tempat duduk dekat jendela, tempat favorit. Masih jam delapan pagi dan aplikasi prakiraan cuaca mengatakan bahwa hari ini hujan tidak akan datang dan suhu berkisar 15 derajat. Untuk ukuran bulan Agustus, seharusnya suhu bisa lebih dari ini. Tapi dengan tidak hujan saja sudah lebih dari cukup, apalagi saya melihat semburat matahari. Bisa kacau rencana hari ini kalau sampai hujan turun. Melalui jendela kereta, saya menikmati suasana pagi sepanjang jalan. Sapi dan domba yang merumput, rumah-rumah mungil tertata rapi, area pertanian, gedung-gedung perkantoran, dan tak luput saya amati juga kegiatan penumpang yang di dalam kereta. Ada yang sibuk membaca buku, asyik mendengarkan musik, berbincang, dan ada yang menikmati sarapan paginya yaitu roti dan segelas kopi. Tiba-tiba saya kangen sarapan nasi pecel pakai peyek teri.

Jam 9 pagi, kereta sampai di Amsterdam Centraal. Saat kaki keluar dari kereta, kepala mulai menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok seorang teman. Ah, dia sudah berdiri di dekat papan pengumuman. Setelah berbincang sesaat, kami lalu bergegas ke kantor informasi turis (VVV) yang berada tepat di depan Stasiun Amsterdam. Ya, hari ini kami akan menjadi turis sehari dengan mengunjungi beberapa tempat tujuan favorit para turis kalau sedang berkunjung ke Belanda. Tempatnya tidak jauh dari Amsterdam. Dengan berbekal tiket bis terusan seharga €9 yang bisa dipakai selama 24 jam serta mempunyai fasilitas wifi gratis dan peta yang kami dapatkan dari VVV, kami akan mengunjungi tiga tempat yang menjadi bagian dari Waterland. Tempat yang akan kami kunjungi adalah Edam, Volendam, dan Marken. Sebenarnya tempat-tempat yang jadi bagian Waterland selain yang saya sebutkan tadi adalah Monickendam, Purmerend, Broek in Waterland, Middenbeemsteer, Graft-De Rijp, Hoorn, dan Landsmeer. Info lengkap tentang rute bus bisa dilihat langsung di website ini. Tiket bus selain bisa dibeli di kantor VVV, juga bisa dibeli online, dan dengan membeli langsung ke sopir di dalam bis. Tidak harus membeli tiket terusan jika memang tujuannya tidak mengunjungi semua tempat itu. Tapi kalau mengunjungi tiga tempat, seperti yang kami lakukan, lebih menghemat kalau membeli tiket terusan saja.

EDAM

Tentu saja saya sangat antusias dengan tujuan jalan-jalan kali ini. Saya sudah mengajak suami untuk mengunjungi beberapa tempat ini sejak setahun lalu, tapi dia nampak tidak antusias. Dia selalu beralasan kalau Volendam itu sangat ramai dengan turis. Tapi kan tidak afdol rasanya kalau saya tidak ikut berkunjung ke tempat yang menjadi daya tarik turis. Untung saja saya punya teman yang suka kelayapan juga, yang pernah saya ceritakan pada tulisan kunjungan ke Kinderdijk. Akhirnya kesampaian juga berkunjung ke Edam, Volendam, dan Marken. Bisa saja saya bepergian sendiri, tapi kalau ada teman yang sejiwa akan semakin seru.

Tujuan pertama kami adalah Edam. Kalau yang suka sekali dengan keju, pasti tidak asing dengan keju Edam. Ya, Edam adalah salah satu tempat penghasil keju di Belanda. Saya pernah menuliskan tempat lain penghasil keju di blog ini, yaitu Gouda. Edam adalah kota kecil yang ada sejak abad ke-12 saat petani dan nelayan mulai menetap di sepanjang sungai Ye. Kota kecil ini berkembang menjadi sebuah kota yang semakin makmur pada abad ke- 17. Kapal memainkan peranan yang penting dalam pertumbuhan ekonomi di Edam. Setelah membuat 33 kapal, Edam menghasilkan banyak kapal yang terkenal di dunia. Salah satunya adalah “Halve Man”, kapal milik orang Inggris Henry Hudson, yang berlayar pada tahun 1609 untuk mencari rute utara menuju Hindia Timur. Perjalanan yang sia-sia karena akhirnya dia berakhir di pulau Manhattan. Selain kapal, perdagangan juga memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi di Edam. Amsterdam, Hoorn, Enkhuizen, dan Edam adalah kota-kota komersil yang penting di Belanda.

Edam
Edam
Edam
Edam
Edam
Edam
jajaran-rumah-di-edam
jajaran-rumah-di-edam

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, asosiasi kata yang langsung muncul di kepala saat disebutkan Edam adalah keju. Selama berabad-abad keju Edam sudah tersohor di seluruh dunia. Edam juga terkenal dengan pasar keju yang ada setiap musim panas, setiap hari rabu. Pada saat kami ke sana, ada jadwal tambahan pasar keju. Sayangnya pasar keju tersebut baru dimulai jam 5 sore, jadi kami tidak bisa menyaksikan. Kami masuk ke salah satu toko keju dan saya memutuskan untuk membeli keju rasa pesto, oleh-oleh untuk suami. Sedangkan teman saya selain membeli keju rasa pesto juga membeli rasa yang lainnya. Dia mencoba contoh-contoh keju yang disediakan, menurutnya yang rasa daging asap juga enak, ada yang rasa cabai juga.

Edam
Edam
Tempat Pasar Keju
Tempat Pasar Keju
Timbangan Keju
Timbangan Keju
De Kaasdragers
De Kaasdragers

Kami bisa membayangkan bagaimana keadaan Edam berabad-abad lalu. Menyusuri rumah-rumah dan jalan-jalan tua di Edam, melewati sungai-sungai kecil, berhenti di depan gereja yang merupakan salah satu gereja terbesar di Belanda dan singgah ke beberapa toko yang ada hanya sekedar melihat saja, membuat waktu tak terasa berjalan cepat. Hampir dua jam kami habiskan di Edam. Tidak terlalu banyak turis yang berkunjung, jalanan tidak terlalu ramai, sehingga kami bisa menikmati Edam dengan leluasa.

Edam
Edam
Ngaso sejenak, nunggu tukang jualan tahu tek lewat :D
Ngaso sejenak, nunggu gerobak abang nasi goreng lewat 😀

VOLENDAM

Setelah dari Edam, kami melanjutkan perjalanan ke Volendam. Dari kota kecil yang tidak terlalu ramai, tiba di Volendam suasana langsung berubah, kontras berbeda. Volendam sangat terkenal di kalangan turis, sepertinya semua turis dari penjuru dunia tumplek blek di sini. Rame sekali. Tidak mengherankan karena ada yang mengatakan bahwa jika ingin melihat keindahan Belanda, pergilah ke Volendam. Desa nelayan ini terletak arah timur laut dari Amsterdam, terkenal dengan rumah berwarna warni dan kapal-kapal tua yang bersandar di pelabuhan. Selain itu, di Volendam juga ada pabrik keju. Kita bisa masuk dan melihat proses pengolahan keju, membeli hasil keju, atau masuk ke museum keju. Volendam ini adalah tempat favorit yang nampaknya wajib dikunjungi oleh turis dari Indonesia. Namun hari itu kami tidak bertemu satupun orang Indonesia.

Volendam
Volendam
Ramainya Volendam
Ramainya Volendam
Volendam
Volendam
Jajaran kapal tua, mengingatkan akan Sunda Kelapa
Jajaran kapal tua, mengingatkan akan Sunda Kelapa
Pabrik keju Volendam
Pabrik keju Volendam
Museum
Museum

Keju beraneka rasa di pabrik keju Volendam
Keju beraneka rasa di pabrik keju Volendam

Hal lainnya yang terkenal dari Volendam adalah pakaian tradisional Belanda. Kita bisa mengenakan pakaian tradisional Belanda lengkap dengan klompen serta latar belakang negeri Belanda dan mengabadikannya dalam foto di banyak studio foto di Volendam. Kami masuk ke salah satu studio foto dan melihat kisaran harganya. Salah satu pegawainya mengenali kalau kami berasal dari Indonesia. Dia lalu mengatakan bahwa 70% pengunjung studionya adalah orang Indonesia. Saya tidak bertanya lebih lanjut 70% tersebut dari total berapa pengunjung selama rentang waktu berapa lama. Tetapi dengan melihat beberapa wajah yang saya kenali lewat televisi terpampang di etalase semua studio foto, semakin meyakinkan saya bahwa Volendam memang salah satu tempat wajib dikunjungi oleh turis dari Indonesia. Teman saya sampai terbahak ketika melihat wajah Maya Rumantir dan bertanya tahun berapa foto tersebut sudah ada di sana karena wajah Maya Rumantir masih sangat muda. Dengan membayar €15 untuk satu kali jepret dengan ukuran standar (saya lupa berapa), maka kita sudah punya bukti pernah ke Volendam. Bagaimana dengan kami? Mungkin lain kali kami akan kembali ke Volendam, khusus untuk foto dengan pakaian tradisional Belanda.

Salah satu studio foto di Volendam
Salah satu studio foto di Volendam
Ada wajah yang dikenali?
Ada wajah yang dikenali?
Mungkin karena banyaknya turis Indonesia di Volendam, sampai dibuat tanda dalam bahasa Indonesia
Mungkin karena banyaknya turis Indonesia di Volendam, sampai dibuat tanda dalam bahasa Indonesia

Jadi, jangan lupa kalau ke Volendam untuk foto mengenakan pakaian tradisional Belanda, biar dikatakan sah pergi ke Belanda.

MARKEN

Kami menuju Marken menggunakan kapal dengan membayar €7.5 untuk sekali jalan dan tiketnya bisa langsung beli di tempat. Jika memilih pulang pergi maka harga kapal menjadi €9.95. Kami memilih untuk membeli tiket kapal sekali jalan karena kami tidak akan kembali lagi ke Volendam dan setelah dari Marken akan menggunakan Bus untuk melanjutkan perjalanan karena masih punya tiket terusan. Kapal berangkat setiap 30 menit. Jika ingin pergi menggunakan Bus dari Volendam ke Marken, juga bisa. Karena cuaca mendung dan angin lumayan kencang, saya menggigil kedinginan selama perjalanan 20 menit menuju Marken, ditambah lagi saya tidak membawa jaket. Bersyukurnya di tengah jalan tidak hujan.

Tempat kapal menuju ke Marken
Tempat kapal menuju ke Marken
Marken
Marken
Marken
Marken

Dari hiruk pikuk Volendam, sesampainya di Marken suasana kembali sunyi. Marken tidak terlalu banyak dikunjungi turis. Marken adalah sebuah desa bagian dari wilayah Waterland dengan jumlah penduduk 1.810 pada tahun 2012. Marken membentuk sebuah semenanjung di Markermeer dan sebelumnya sebuah pulau di Zuiderzee. Marken dipisahkan dari daratan setelah mengalami gelombang badai pada abad ke-13. Dulu mata pencaharian utama penduduk Marken adalah nelayan, sedangkan saat ini juga ditunjang dari sektor pariwisata. Dulu banjir kerap datang ke Marken, karenanya tipe rumah di Marken adalah rumah panggung. Kita akan menemui banyak jembatan di Marken dan uniknya jembatan-jembatan ini diberi nama dari nama-nama anggota keluarga kerajaan seperti Maxima, Beatrix, Amalia, dll.

Marken
Marken
Marken
Marken
Marken
Marken
Jembatan-jembatan di Marken diberi nama anggota keluarga kerajaan
Jembatan-jembatan di Marken diberi nama anggota keluarga kerajaan

Suasana di Marken sangat tenang. Menyusuri setiap sudutnya, mata dimanjakan oleh tata letak rumah yang sangat rapi dan berwarna nyaris seragam yaitu hijau. Saking sepinya Marken, saya sampai bilang tidak mungkin ada orang Indonesia yang tinggal di sini. Ternyata dugaan saya salah besar. Dari salah satu rumah, saya mendengar ada yang berbicara menggunakan Bahasa Indonesia (dengan logat Jawa). Ketika kami mengintip dari sela-sela pagarnya ternyata memang ada beberapa orang Indonesia di sana. Kami sampai mengikik, tidak menyangka ada orang Indonesia yang tinggal di Marken.

Marken
Marken
Toko dan tempat pembuatan klompen
Toko dan tempat pembuatan klompen
Tempat pembuatan klompen
Tempat pembuatan klompen. Yang diatas itu klompen yang sudah dibentuk tetapi belum dipercantik.

Jika berkesempatan mengunjungi Marken, jangan lewatkan untuk mampir ke tempat pembuatan klompen. Selain bisa menyaksikan langsung bagaimana klompen dibuat, kita juga bisa langsung membeli klompen dengan berbagai ukuran dan beraneka rupa warna. Selain sebagai oleh-oleh, klompen yang berada di sana juga bisa digunakan sebagaimana fungsi klompen yaitu sebagai alas kaki. Sayang sewaktu kami ke sana, proses pembuatannya sedang tidak berlangsung. Saya mengincar klompen kecil, rasanya ingin kalap membeli kalau tidak ingat harganya yang sudah disesuaikan dengan harga turis.

Klompen yang sudah jadi
Klompen-klompen yang sudah jadi

Perjalanan kami menyusuri Edam, Volendam, dan Marken berakhir saat jam menunjukkan angka lima disore hari. Perjalanan yang menyenangkan karena akhirnya tahu tempat-tempat yang menjadi favorit turis jika datang ke Belanda. Sehari menjadi turis di tempat yang turistik. Kami bergegas menuju halte bus yang akan membawa kami menuju ke Amsterdam Centraal. Sepanjang jalan perut kami keruyukan mencium aroma pepes dan sambal teri. Ingin segera rasanya sampai di rumah seorang teman yang sudah siap menyambut kedatangan kami dengan beraneka ragam masakan Indonesia. Sabtu kami ditutup dengan perbincangan dan gelak tawa sembari menikmati hangatnya nasi, tempe tahu goreng, balado terong, sambel terasi, ikan goreng, dan oseng ikan asin.

Marken
Marken

Jika suatu saat ada kesempatan ke Belanda, kalian ingin berkunjung kemana?

Sumber : Edam , Marken , Volendam

-Den Haag, 2 November 2016-

Semua foto dokumentasi pribadi

Romeinenweek

This week, from April 30th until May 8th in the Netherlands there is an event called Romeinenweek. The English translation would be something like Week of the Romans.  It is a nice gesture to commemorate the presence of the Romans in the Netherlands 2000 years ago. There is a special website that has a program of all the activities to this special week. This year is the third time this event will be organised and the theme for this year is water. So the activities will be focused on subjects like bridges, aquaducts and canals.

But why would a nation commemorate the presence of Romans, an event that already happened so very long ago? There are several reasons for that. From a personal level I remember as a young child there was something fascinating and magical about Romans and their Roman Empire. Most of all, their soldiers looked cool. They wore impressive outfits and the soldiers were very well trained and usually would easily beat their enemies.

romans
Roman soldiers

I think this is still applicable to the children that grow up nowadays even in this time of TV and video game ‘superheroes’, the Romans still have this special attraction to children. If you want to know how life in the Netherlands was during the Roman presence you might consider making a trip to Archeon in Alphen aan den Rijn. They rebuild buildings from that time, like a Roman bathhouse and there are shows with Roman soldiers and gladiators.

Unknown
Bathhouse in Archeon

As I grew older and studied ancient history I learned that there were many other reasons why the Romans could be considered ‘cool’. They managed to unite and unify large parts of the tribes and people that lived in Europe, something that no other military or political figure since then has managed. And they knew how to stay in control: the larger part of their empire would be united for nearly 1000 years. It seems almost unbelievable that with the modest technology they had at their disposal they managed to keep together an empire that stretched from England and Spain in the West, Germany in the North, North Africa in the South and stretched all the way to Egypt and Israel in the East. The Romans built a capital, Rome, that was unlike anything the world had ever seen until that point. Millions of people were living in that city and it would take until the 19th century before humanity would see new capitals with a comparable figure of inhabitants.

Rome

The Dutch people have always had a keen interest in their history. And the Romans have left us many things to remind us from the time they were present in the Netherlands. Not as obvious like temples or buildings, those have not survived. But by excavating or by pure accident many objects from the Roman time have been found. Not only phyiscal objects like (coins, household items and tombstones to name a few) but also infrastructures like the roads they built or the fundaments of cities and villages. Many of these found objects are on display in musea all around the Netherlands. I could recommend visiting the Rijksmuseum voor Oudheden in Leiden that has one of the largest collections on display in their beautiful museum.

For a full program of activities during Romeinweek you can have a look at the schedule.

-Den Haag, 2 May 2016-

Berkunjung ke Pusat Kota Gouda

Pasar Keju Gouda

Jika mendengar kata Gouda, apa yang ada dipikiran? Yap, Keju! Meskipun bukan penyuka keju, tetapi sejak tinggal di Indonesia saya sudah familiar dengan Gouda karena saat menyusuri lorong susu dan keju di supermarket, keju Gouda dengan mudah dapat ditemukan. Di Belanda, tiga kota penghasil keju yang terkenal adalah Gouda, Edam, dan Alkmaar. Gouda menyumbang sekitar 60% produksi keju di Belanda. Meskipun Gouda lekat dengan keju, sesungguhnya ada sisi menarik lain dari kota Gouda. Ketika berkunjung ke pusat kota Gouda, maka akan terlihat beberapa bangunan bersejarah dengan bentuk yang menawan, kanal dengan undakan, maupun taman disudut kota.

Balai Kota (Stadhuis) Gouda
Balai Kota (Stadhuis) Gouda

Gouda terletak diprovinsi Zuid Holland. Selain terkenal dengan keju, kota ini juga dikenal sebagai penghasil stroopwafel dan lilin. Ada beberapa acara terkenal di Gouda yang seringkali menarik perhatian wisatawan untuk berkunjung, salah satunya adalah Pasar Keju Gouda. Pada awal April sampai akhir Agustus setiap tahun, tepatnya hari kamis pukul 10.00 – 12.30 salah satu pasar keju tradisional di Belanda digelar di Gouda. Kenapa disebut tradisional? Karena petani membawa langsung keju ke pasar (yang terletak disekitar Stadhuis) dengan menggunakan gerobak yang disebut brik, proses uji kualitas, ditimbang digedung timbang, diberi harga, kemudian dijual. Menyenangkan jika berada dipasar seperti ini adalah bisa mencicipi keju secara gratis. Sayang sekali tahun kemarin saya tidak bisa menyaksikan secara langsung pasar keju ini karena hari dan jamnya bertepatan dengan saya sekolah. Beruntungnya saya mendapatkan salah satu foto dari Rurie.

Pasar Keju Gouda
Pasar Keju Gouda. Foto : Rurie

Saya mengenal Rurie dari Melly yang tinggal di Jerman. Beruntung akhirnya saya kenal dengan Rurie, jadi punya alasan untuk berkunjung ke Gouda. Maklum, Gouda dan Den Haag jaraknya tidak terlalu jauh, secara psikologis biasanya kalau tempat yang dekat dikunjunginya menyusul dikemudian hari, justru tempat yang jauh didatangi lebih dahulu. Rurie punya usaha katering spesialis makanan Indonesia bernama Kios Kana. Kios Kana ini menerima pesanan dan pengiriman dari dan ke seluruh Eropa. Saya beberapa kali pesan ke Kios Kana untuk makanan yang tidak bisa (belum bisa lebih tepatnya) saya buat sendiri, contohnya baso ikan, ikan asin, cumi asin, pempek, dan lumpia semarang isi tahu. Saya ketagihan dengan Ikan asin dan cumi asin buatannya, oh iya baso ikannya juga enak sekali. Kios Kana ini kios serba ada, tidak hanya menyediakan beragam masakan Indonesia, tetapi juga beberapa barang atau bumbu yang berhubungan dengan Indonesia, semuanya (diusahakan) ada. Selain usaha Katering, Rurie juga seorang fotografer dan mempunyai usaha fotografi bernama Rurie van Sark Photography.

Saya kerumah Rurie dalam rangka menjaga putrinya yang masih bayi. Akhirnya Rurie mengajak saya untuk berkeliling ke pusat kota Gouda. Karena saat itu cuaca sedang panas dan bertepatan dengan bulan Ramadan yang 19 jam jadinya saya tidak mau uji nyali berkeliling terlalu lama, menghemat energi menuju buka puasa jam 10 malam. Beberapa tempat dibawah ini yang saya datangi :

De Waag atau gedung timbang selain menjadi tempat untuk penimbangan keju ketika pasar keju dilaksanakan, juga berfungsi sebagai museum keju dan beberapa kerajinan tangan dipajang disana.

De Waag
De Waag
Timbangan Keju
Timbangan Keju
Keju Gouda
Keju Gouda

 

Salah satu sudut De Waag
Salah satu sudut De Waag

Balai kota atau dalam bahasa Belanda adalah Stadhuis selain menjadi tempat kantor pemerintahan juga sebagai pelaksanaan pernikahan. Stadhuis Gouda ini dibangun pada tahun 1450. Pada saat saya sedang kesana, sedang berlangsung satu pernikahan.

Stadhuis Gouda
Stadhuis Gouda
Stadhuis dimalam hari. Foto : Rurie
Stadhuis dimalam hari. Foto : Rurie

Sint Janskerk adalah adalah gereja dengan tinggi 123meter yang menjadikan gereja tertinggi di Belanda dan terkenal didunia karena kemegahan 72 jendela kaca patri.Gereja ini pernah mengalami kebakaran hebat pada tahun 1552.

Sint Janskerk
Sint Janskerk
Bagian dalam Sint Janskerk. Sumber : http://www.sintjan.com/
Bagian dalam Sint Janskerk. Sumber : http://www.sintjan.com/

Selain bangunannya, taman dan kanal-kanal di Gouda juga sangat menarik. Berjalan diseputar pusat kota (centrum) Gouda tidak akan membosankan Saya lupa untuk memotret pusat perbelanjaan di Gouda.

Kanal di Gouda
Kanal di Gouda
Salah satu taman di Gouda
Salah satu taman di Gouda

Selain terkenal dengan pasar keju, setiap bulan Desember di Gouda ada festival cahaya atau disebut Kunslicht. Puncak acaranya ketika ribuan lilin dinyalakan serentak (yang disebut Kaarstlicht) di Markt Square diiringi oleh paduan suara Natal.

Kunslicht. Foto : Rurie
Kunslicht. Foto : Rurie
Kunslicht. Foto : Rurie
Kunslicht. Foto : Rurie

Setelah saya ajak berkeliling ke Pusat Kota Gouda melalui tulisan ini, tertarik untuk mengunjungi Gouda? Info tentang Gouda bisa didapat langsung pada website resmi kota Gouda.

-Den Haag, 10 Januari 2016-

Semua foto yang tidak ada keterangan sumbernya adalah dokumentasi pribadi.

Memperkenalkan Indonesia Melalui The World In Your Classroom Den Haag

The World In Your Classroom (TWIYC) adalah sebuah proyek atau kegiatan sukarela yang diprakarsai oleh pemerintah kota (Gemeente) Den Haag yang bekerjasama oleh ACCESS, PEP, The Bridge Hague, Holland Times serta AngloInfo sebagai media partner. The Hague atau yang dikenal dengan Den Haag adalah kota Internasional yang banyak sekali pendatang dari segala penjuru dunia dengan tujuan menetap ataupun bekerja. Pemerintah kota Den Haag melihat sebuah peluang dari keberagaman pendatang tersebut yang bisa dijadikan sebagai sebuah kegiatan sukarela (volunteer atau dalam bahasa Belanda disebut vrijwilliger), maka didirikanlah TWIYC. Kegiatan dalam TWIYC ini bertujuan memberikan kesempatan kepada para pendatang untuk menjadi Guest Lecturer dalam waktu satu jam pada siswa berusia 12 sampai 16 tahun disekolah menengah (Middelbare school) diseluruh Den Haag.

Para sukarelawan dapat memperkenalkan dan bercerita apapun tentang negara asal mereka dari segi sejarah, budaya, ekonomi, geografi, ataupun politik. Mereka diberikan waktu satu jam, mengambil jam pelajaran bahasa Inggris, bahasa Perancis, bahasa Jerman, Geografi, atau Sejarah. Para sukarelawan diberikan kesempatan menyampaikan topik yang telah dipilih dalam bahasa Inggris, bahasa Perancis, atau bahasa Jerman. Tetapi tidak menutup kemungkinan juga bisa menyampaikan dalam bahasa Belanda. Manfaat yang didapat oleh para sukarelawan tentu saja bisa langsung berinteraksi dengan siswa dan guru yang bertanggungjawab serta dapat menyampaikan hal-hal yang berhubungan dengan negara mereka. Sedangkan manfaat yang didapatkan oleh siswa adalah mereka mendapatkan kesempatan untuk berlatih keterampilan bahasa mereka, diluar bahasa Belanda (karena selain bahasa Inggris, mereka juga belajar bahasa lainnya seperti Perancis, atau Jerman) dan memperluas pengetahuan mereka tentang dunia. Beberapa bahkan mungkin terinspirasi belajar atau bekerja di luar negeri pada satu hari nanti.

Awal saya bergabung dengan TWICY karena pada saat itu sedang mencari kegiatan volunteer disekitar kota Den Haag untuk mempraktekkan bahasa Belanda agar lebih lancar. Sehari-hari saya memang sudah berbicara menggunakan bahasa Belanda dengan suami, keluarga, maupun ketika berbincang dengan orang-orang yang saya temui dipasar, supermarket maupun tetangga rumah. Bahkan saya sudah lihai melakukan tawar menawar dipasar supaya mendapatkan cabe rawit dengan harga murah perkilogramnya. Bangga beli cabe dengan harga murah. Jangan dibayangkan saya sudah cas cis cus lancar sekali berbahasa Belanda. Memang sudah cukup bagus kata guru saya untuk ukuran 10 bulan tinggal di Belanda, tapi menurut saya belum terlalu lancar dan saya belum puas. Justru karena itu, saya ingin lebih lancar lagi, tidak hanya berbicara dengan orang-orang yang saya sebut diatas, tapi saya juga ingin mencari pengalaman lain yang langsung terjun dalam sebuah kegiatan. Akhirnya suatu hari guru sekolah saya memberitahukan salah satu website yang memberikan informasi tentang kegiatan volunteer apa saja yang ada di kota Den Haag. Setelah membaca satu persatu sesuai minat, akhirnya saya memilih beberapa, salah satunya TWIYC ini.

Setelah mendaftar (saya mendaftar 2 hari menjelang tanggal penutupan), saya menerima email yang memberitahukan akan ada training sebelum langsung terjun ke sekolah yang ditunjuk. Singkat cerita pada tanggal 7 Oktober 2015 saya datang ke tempat training. Saya bertemu dengan 20 volunteer lainnya. Training ternyata dibagi 4 gelombang karena akan ada sekitar 80 volunteer (saya satu-satunya dari Indonesia). Pada training ini kami diberikan pengarahan cara menyampaikan materi dan memanfaatkan waktu 1 jam secara efektif dan efisien. Materi training diberikan oleh Irish dan didampingi oleh Lucie sebagai Koordinator TWICY. Ketika training berlangsung, saya langsung teringat ketika mengikuti Kelas Inspirasi. Bedanya Kelas Inspirasi memperkenalkan profesi sukarelawan, sementara TWICY  memperkenalkan negara asal sukarelawan.

Screen-Shot-2014-11-20-at-12.38.23-pm

Pada saat training, sukarelawan diharapkan sudah mempunyai ide topik yang akan dijadikan materi ketika menjadi Guest Lecturer. Terus terang saya masih belum ada ide ketika datang ke training tersebut. Indonesia sangat luas dan kaya akan segalanya, saya harus fokus pada satu topik. Tentunya topik tersebut yang saya senangi dan gampang ketika menyampaikan. Pada saat sesi brainstorming dengan semua sukarelawan, tiba-tiba saya mendapatkan ide cemerlang. Saya mantap mengatakan bahwa topik yang akan disampaikan adalah tentang ragam makanan di Indonesia., ragam kuliner Indonesia. Lucie mengatakan ide saya cemerlang karena menurutnya baru kali ini ada sukarelawan yang menyampaikan topik tentang ragam makanan suatu negara. Simpel saja sebenarnya kenapa saya tiba-tiba tercetus ide itu : Siapa yang tidak suka dengan obrolan tentang makanan. Saya juga mengatakan akan membawa alat peraga yaitu beberapa macam bumbu dan rempah yang digunakan dalam masakan Indonesia. Nantinya para siswa akan saya beri kesempatan untuk menyentuh dan mencium rempah dan bumbu yang akan saya bawa, jadi mereka mengetahui bumbu dan rempah seperti apa yang digunakan sehingga tercipta makanan Indonesia yang super lezat.

Sumber : http://www.theworldinyourclassroom.nl/
Sumber : http://www.theworldinyourclassroom.nl/

Training Didact 7 October

Beberapa waktu kemudian, saya menerima email dari Lucie yang mengatakan saya akan menjadi Guest Lecturer di Edith Stein College pada kelas ISK pada tanggal 24 November 2015 jam 11:20 – 12:20. Kelas ISK ini adalah kelas khusus untuk siswa yang baru datang ke Belanda, maksimal 2 tahun. Mereka belajar bahasa Belanda, bahasa Inggris dan Matematika dikelas tersebut. Siswanya berasal dari Indonesia, Polandia, Etopia, Syria, Afghanistan, Filipina, Spanyol, Brasilia, Bulgaria, China, Pakistan, Yunani, India, Portugal, Turki, dan Hungaria. Satu kelas terdiri dari 23 siswa. Kelas ISK ini semacam kelas Internasional. Saya senang sekali ada satu siswa dari Indonesia. Jadi saya bisa meminta dia untuk memberikan testimoni langsung tentang makanan Indonesia. Sebelum hari H, saya mengirim email ke Sytske yang merupakan guru bahasa Inggris di kelas ISK juga sebagai perwakilan sekolah pada saat saya menjadi Guest Lecturer di Edith Stein College, menanyakan beberapa hal salah satunya apakah ada murid yang mempunyai alergi ketika mencium bau tertentu. Beruntungnya tidak ada. Semua yang berkaitan dengan kegiatan TWIYC saya koordinasikan melalui email dengan Sytske. Saya juga membuat materi presentasi semenarik dan sesingkat mungkin karena waktunya hanya satu jam. IMG_6598

Selasa, 24 November 2015, sekitar jam 10.30 saya berangkat dari rumah. Hari itu, hujan deras mengguyur Den Haag, dingin dan angin kencang. Suhu udara 3 derajat celcius. Jarak antara rumah dan sekolah tidak terlalu jauh. Setelah sampai di Den Haag Centraal saya langsung menyalakan google maps menuju lokasi sekolah yang ternyata hanya 20 menit berjalan kaki. Sesampainya di sekolah, saya langsung menemui Sytske diruang guru. Menariknya adalah Sytske sudah 3 kali backpakeran ke Indonesia, tepatnya ke Tanjung Puting, Manado, Lombok, Flores, Jakarta, Bali, Sumbawa, Maluku, dan Raja Ampat. Saya malu hati dia sudah menjelajah beberapa tempat yang belum pernah saya datangi. Bahkan dia pernah backpackeran sendiri dalam keadaan hamil 6 bulan, menggendong tas ransel 50L. Setelah berbincang beberapa saat tentang teknis pelaksanaan, saya kemudian diperkenalkan dengan siswa asal Indonesia. Dia baru satu tahun di Belanda, tapi bahasa Belandanya sudah lancar sekali. Kami lalu menuju kelas untuk memulai sesi presentasi.

Siswa saat melihat video, bagian dari presentasi saya.
Siswa saat melihat video, bagian dari presentasi saya.
Saya saat berada didepan kelas.
Saya saat berada didepan kelas.

Saya lalu memperkenalkan diri kepada seluruh siswa. Kemudian saya bertanya kepada Sytske apakah pihak sekolah mengijinkan jika saya akan mendokumentasikan dalam bentuk foto selama kegiatan berlangsung dan akan saya taruh pada blog. Sytske mengijinkan sebagai perwakilan dari sekolah karena sekolah ini sudah terbiasa mendapatkan kunjungan. Kemudian saya bertanya kepada siswa apakah ada yang keberatan dengan hal tersebut, mereka menjawab serempak kalau mereka tidak keberatan. Jadi semua foto yang saya unggah disini sudah melalui persetujuan pihak sekolah maupun para siswa. Kemudian saya bertanya kepada mereka, apa yang mereka ketahui tentang Indonesia. Ada yang menjawab tarian, bakmi goreng, nasi goreng, Bali, bahkan ada yang menjawab cabe. Yang menjawab ini bukan siswa dari Indonesia. Dia sih diam saja, memberikan kesempatan pada yang lain untuk menjawab. Saya tersenyum dengan jawaban mereka. Ternyata ada yang tahu ya kalau mayoritas makanan Indonesia itu tidak jauh dari cabe :).

Presentasi saya buka dengan memutarkan video dari Good News From Indonesia yang saya dapat dari Youtube. Kemudian dilanjutkan ke slide berikutnya diantaranya saya menerangkan sekilas tentang sejarah rempah dan beberapa makanan Indonesia yang mendapatkan pengaruh dari beberapa negara yang pernah datang ke Indonesia, termasuk Belanda. Kemudian saya juga menceritakan kedekatan orang Indonesia dengan makanan Indonesia. Dimanapun orang Indonesia tinggal diseluruh penjuru dunia, mereka akan dengan suka cita menyambut topik pembicaraan tentang makanan Indonesia. Selain itu, saya juga menginformasikan bahwa makanan Indonesia itu jumlahnya ribuan (sesuai keterangan didalam video pada link diatas) karena masing-masing suku, masing-masing kota mempunyai jenis makanan sendiri. Lalu saya juga menerangkan tentang makanan yang berhubungan dengan perayaan atau hari besar keagamaan, misalkan tumpeng dan filosofi tumpeng. Selanjutnya juga saya jelaskan tentang waktu makan orang Indonesia dan jenis makanan yang biasanya dimakan, yang sebenarnya tidak pernah ada bedanya dari segi porsi ketika makan pagi, makan siang atau makan malam. Semua porsinya besar dan tidak ada pakem makanan tertentu dimakan pada saat tertentu. Satu lagi yang tidak kalah menarik, saya juga menginformasikan bahwa Rendang dan Nasi Goreng pernah dinobatkan menjadi makanan paling enak nomer 1 dan 2 didunia versi CNN Traveling pada tahun 2011. Terakhirnya saya tutup presentasi dengan video mencoba makanan Indonesia. Total slide presentasi saya sebanyak 16. Ditengah-tengah presentasi tersebut, saya ajak mereka untuk melihat dan mencium aroma dari rempah dan bumbu Indonesia.

Rempah dan bumbu yang saya bawa : kemiri, sereh, ketumbar, kayu manis, cengkeh, jahe, kunyit, daun jeruk, cabe, kencur, kunci, kluwek,
Rempah dan bumbu yang saya bawa : kemiri, sereh, ketumbar, kayu manis, cengkeh, jahe, kunyit, daun jeruk, cabe, kencur, kunci, kluwek, pala, bawang merah, bawang putih, dan asem kandis . Saya membuat 3 paket jadi kerumunan tidak berpusat disatu tempat. Semua rempah tersebut yang ada didapur saya, jadi tinggal angkut.

Para siswa sangat antusias menyimak selama saya memberikan presentasi. Banyak sekali pertanyaan dari mereka misalkan kenapa makanan Indonesia bumbunya banyak, kenapa rendang memasaknya lama,  Apa daging rendang tidak menjadi bubur setelah dimasak berjam-jam, kalau di Indonesia makan dipinggir jalan apa tidak sakit perut, kalau makan dengan tangan kosong (tidak menggunakan sendok atau garpu) apakah sehat, bahkan ada yang bertanya rasanya nasi goreng seperti apa. Saya membuat presentasi semenarik mungkin supaya para siswa tersebut merasa senang dan ada sesuatu yang baru yang mereka dapatkan. Pastinya banyak sekali foto makanan Indonesia didalamnya misalkan rendang, soto ayam, rendang, pempek, tumpeng, nasi goreng, sate padang, nasi bali, bebek betutu, bubur tinutuan dan masih banyak lainnya yang saya pinjam dari google, otomatis saya sertakan juga sumbernya. Saya juga meminjam beberapa foto makanan dari blog Melly dan Beth. Lucunya lagi, karena jam presentasi adalah jam menjelang makan siang, tentu saja foto-foto makanan tersebut membuat mereka lapar, sampai ada yang bilang “Stop, aku sangat lapar sekali.” Lalu ada yang curi-curi makan roti. Jangankan mereka, saya saja ikut-ikutan lapar ketika memperlihatkan satu persatu slide yang berisi makanan Indonesia tersebut.

Salah satu siswa sedang mencoba rasanya cabe :D
Salah satu siswa sedang mencoba rasanya cabe 😀
Ekspresi saat mereka mencium rempah.
Ekspresi saat mereka mencium rempah.

Selama sesi Guest Lecturer tersebut hampir seluruhnya saya menggunakan bahasa Inggris. Selebihnya, di 15 menit terakhir saya menggunakan bahasa Belanda. Hal tersebut yang menjadi kesepakatan saya dan siswa diawal. Saat menggunakan bahasa Belanda, hanya satu yang saya fikirkan, “Semoga saya tidak menyesatkan mereka dengan bahasa Belanda yang pas-pasan.” Mereka juga sedang belajar bahasa Belanda, jadi posisinya antara saya dengan para siswa tersebut juga sedang sama-sama belajar bahasa Belanda. Secara keseluruhan saya senang sekali mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan TWIYC. Saya bangga memperkenalkan Indonesia melalui program ini. Dan saya juga bahagia ketika para siswa merasa senang dengan materi yang saya sampaikan karena mereka bilang bahwa ini adalah pengetahuan baru yang mereka dapatkan juga mendapatkan pengalaman untuk mengerti bahan-bahan yang digunakan memasak makanan Indonesia. Ada siswa yang menyelutuk “Saya mau makan di Restoran Indonesia. Saya ingin makan Rendang.” Wah, senangnya bisa membuat mereka tertarik untuk langsung merasakan masaka Indonesia. Diakhir sesi kami berfoto bersama, dan saya diberi buket bunga oleh pihak sekolah. Rabu besok dan bulan depan saya kembali akan mendatangi sekolah berbeda, materi yang saya sampaikan tetap sama. TWIYC adalah pengalaman sukarelawan pertama yang saya ikuti di Den Haag. Saya juga jadi mengenal orang-orang baru, para volunteer lainnya dari negara yang berbeda-beda. Ada beberapa program volunteer lainnya yang saya ikuti. Akan saya ceritakan pada tulisan terpisah. Saya meninggalkan sekolah dengan perasaan bahagia luar biasa. Pengalaman pertama saya terjun langsung dalam kegiatan di Den Haag memperkenalkan Indonesia. Berbagi itu selalu membuat senang hati, apalagi berbagi cerita tentang keragaman negara sendiri.

Foto bersama. Saya menggunakan blazer batik.
Foto bersama. Saya menggunakan blazer batik.

Dibawah ini adalah video yang menerangkan apa sebenarnya TWIYC itu.

-Den Haag, 6 Desember 2015-

Semua foto adalah dokumentasi pribadi.

Berkunjung ke Arnhem

Ketika membaca postingan Mbak Yoyen tentang Sonsbeekmarkt pada bulan Maret lalu, saya langsung terpana dengan jajaran pemandangan makanan dipostingan tersebut. Langsung saya menunjukkan tulisan Mbak Yo tersebut ke suami untuk dibaca. Dia juga terpana karena belum pernah mendengar Sonsbeekmarkt sebelumnya. Akhirnya kami sepakat untuk mengunjungi Arnhem pada bulan Juni. Iya, saya suka latah kalau ada postingan yang berhubungan dengan makanan, padahal kalau sudah sampai tempatnya ya tidak terlalu banyak makan. Selain akan ke Sonsbeekmarkt, saya bertanya pada Mbak Yo tempat manalagi yang bisa dikunjungi. Mbak Yo yang memang tinggal di Arnhem menyarankan untuk ke Openluchtmuseum dan Museum Bronbeek. Tentu saja suami memilih untuk ke Museum Bronbeek dibanding Openluchtmuseum. Padahal saya ingin sekali ke Openluchtmuseum. Kenapa tidak bisa langsung langsung tiga tempat dalam satu hari? Karena pak suami pasti lama sekali kalau sudah masuk museum. Waktu ke Museum Bronbeek saja sampai hampir tutup museumnya kami masih didalam. Satu persatu dibaca, sementara saya membaca juga tapi cuma sekilas saja. Maklum, kami memang beda keyakinan kalau masalah yang satu ini.

Singkat cerita, setelah mendapatkan tiket kereta dagkaart kami langsung memutuskan kapan akan pergi. Kalau memakai dagkaart bisa lebih mengirit untuk bepergian jarak jauh. Jarak tempuh dari Den Haag – Arnhem antara 1.5 jam sampai 2 jam. Tergantung waktu datang kereta saat transit. Waktu itu saya mendapatkan seharga €14 bisa dipakai seharian. Ternyata waktu di Arnhem bisa juga dipakai untuk naik bis, asal perusahaan transportasinya sesuai dengan yang tertera ditiket. Dagkaart bisa dipakai ke seluruh Belanda dalam waktu satu hari. Dagkaart ini ada yang hanya bisa dipakai senin-jumat, ada yang bisa dipakai hanya sabtu-minggu, ada yang bisa dipakai seluruh hari. Dagkaart dijual di HEMA, Kruidvart, Blokker, dan Albert Heijn (AH). Untuk mengetahui promosi ini bisa dicek ke website Treinreizeger.

SONSBEEKMARKT

Sonsbeekmarkt ini adanya setiap hari minggu pada minggu pertama setiap bulan sejak bulan Maret sampai Desember setiap tahunnya. Jadi hari minggu besok adalah yang terakhir pada tahun ini. Sonsbeekmarkt bertempat di Sonsbeekpark. Kalau ke Arnhem naik kereta, maka lokasi Sonsbeekpark ini tidak jauh dari Arnhem Centraal, penunjuk jalannya jelas, bisa dijangkau sekitar 10 menit jalan kaki. Saya sendiri terpesona dengan Sonsbeekpark yang luas dan sejuk, sepanjang mata memandang hamparan rumput hijau dan pohon-pohon. Selain itu, diarea ini juga terdapat hutan. Lengkap mata dimanjakan oleh pemandangan yang menyegarkan. Ditengah-tengah Sonsbeekpark ada gedung putih atau yang dikenal sebagai De Witte Villa. Gedung ini berfungsi selain sebagai restaurant juga cafe, juga sebagai tempat pertemuan atau tempat mengadakan pesta yang berkapasitas sampai 600 orang. De Witte Villa dibangun pada tahun 1744 dan direnovasi pada tahun 2014.

IMG_2360

IMG_2367

IMG_2507

IMG_2993

Sonsbeekmarkt sudah ada sejak tahun 2012. Markt sendiri adalah bahasa Belanda yang artinya pasar. Yang menyenangkan di Sonsbeekmarkt adalah tidak hanya makanan dan minuman saja yang dijual, tetapi segala jenis barang ada. Makanan dan minumannya fresh, bahkan rotinya homemade. Produk yang dijual kebanyakan adalah produk lokal. Jadi terbayang kan pengalaman merasakan langsung produk lokal. Tidak hanya itu saja, penjualnya juga senang menerangkan dengan ramah tentang apa yang dijual. Saking senangnya mereka bercerita, saya sampai takjub mendengarkan ada satu stand yang menjual roti menerangkan proses pembuatan roti yang dia jual. Di stand lain yang menjual Sate, saya malah diajak berbincang karena yang menjual bisa dengan lancar berbicara bahasa Indonesia dan dia bilang kalau pernah bekerja selama 2 tahun di Jakarta, tetapi harus meninggalkan pekerjaannya tersebut dan memilih pulang ke Belanda untuk membantu usaha keluarganya tersebut. Awal mula dia mengajak berbincang karena saya celingak celinguk didepan stand tersebut, lalu dia menyapa “Hai, kami berjualan sate ayam biasanya, tapi kali ini kami hanya membawa sate babi, jadi kamu tidak bisa makan karena ini tidak boleh buat kamu.”Saya jadi terharu.

IMG_2391

Ikan siap dipanggang
Ikan siap dipanggang

 

Homemade bread dengan berbagai macam rasa.
Homemade bread dengan berbagai macam rasa.
Pizza
Pizza
Jus buah
Jus buah

IMG_2411

IMG_2384

Bapak yang sedang nggipasin sate pakai blankon
Bapak yang sedang ngipasin sate pakai blankon
Taplaknya batik. Mas yang disana yang fasih berbahasa Indonesia. Yang pakai blankon tadi bapaknya.
Taplaknya batik. Mas yang disana yang fasih berbahasa Indonesia. Yang pakai blankon tadi bapaknya.
Saya makan Oyster dikucuri jeruk nipis. Segar sekali
Saya makan Oyster dikucuri lemon. Segar sekali

Hampir disetiap stand makanan ada testernya. Jadi kami berkeliling sambil icip-icip gratis. Lama-lama kenyang juga. Akhirnya setelah berputar mencari makanan apa yang cocok untuk makan siang, suami mengajak makan gado-gado distand makanan Indonesia yang punya ibu dari Suriname. Suami ini memang kalau makan diluar menunya cuma dua, kalau tidak soto ya gado-gado. Awalnya saya tidak tahu kalau Ibu ini bisa bahasa Indonesia. Begitu saya mengucapkan terima kasih, malah diajak ngobrol bahasa Jawa. Saya lupa kalau Suriname banyak orang Jawanya. Akhirnya kami mengobrol menggunakan bahasa Jawa.

IMG_2422

Ujung-ujungnya makan gado-gado
Ujung-ujungnya makan gado-gado

MUSEUM BRONBEEK

Museum Bronbeek ini museum tentang KNIL (Koninklijk Nederlands-Indie Leger). Walaupun saya tidak setekun suami untuk membaca semua informasi didalamnya, yang saya rasakan setelah keluar dari museum ini sedih sekali, entah kenapa. Jangan bertanya lebih lanjut tentang sejarah pada saya. Kalau ingin tahu  apa saja yang ada didalam museum ini, saya rekomendasikan untuk langsung membaca tulisan Crystal tentang Museum Bronbeek. Saya saja baru paham ketika membaca tulisan dia, padahal saya yang lebih dulu ke museum ini. Dibelakang museum ada restoran Indonesia yang bernama Kumpulan juga ada rumah untuk para veteran. Sewaktu saya kesana, ada satu veteran yang sedang bertandang ke Museum. Beliau bercerita tentang sejarah pada saat ada di Jakarta. Saya yang waktu itu masih belum terlalu paham bahasa Belanda, ya agak sepotong-sepotong menangkap isi ceritanya. Sedangkan suami jangan ditanya, seperti punya dunia sendiri kalau sudah masuk museum, tidak bisa diganggu gugat, menekuri satu persatu seluruh bagian museum. Saya lupa tiket masuk museum ini berapa. Kalau yang suka sekali berkunjung ke museum, lebih baik membeli museumkaart. Kartu ini bisa digunakan ke seluruh museum di Belanda (yang jumlahnya lebih dari 400) dalam waktu satu tahun, cukup dengan membayar €55. Ini sangat menghemat jika setiap minggu pergi ke museum dan tiket masuknya anggap saja satu kali masuk €10. Bisa dihitung sendiri hematnya berapa.

IMG_2439

IMG_2444

IMG_2447

Sementara suami tekun membaca, saya tekun foto-foto saja :)
Sementara suami tekun membaca, saya tekun foto-foto saja 🙂

IMG_2452

Ini ruangan favorit saya, bisa duduk sambil melihat film. Adem ruangannya. Tempat memutar film itu adalah ranjang.
Ini ruangan favorit saya, bisa duduk sambil melihat film. Adem ruangannya. Tempat memutar film itu adalah ranjang.

IMG_2466

IMG_2469

IMG_2477

Kantin
Kantin

IMG_2489

Semacam mesra berpegangan tangan :D
Semacam mesra berpegangan tangan 😀
200 tahun Waterloo
200 tahun Waterloo

Beruntung sekali sewaktu ke Arnhem cuaca cerah cenderung panas. Padahal berhari-hari sebelumnya selalu turun hujan dan cuaca seperti ini khas Belanda : sebentar hujan, sebentar ada matahari, angin kencang muncul, hujan lagi dan seterusnya. Saya senang dengan Arnhem. Tidak sehiruk pikuk Den Haag. Jalan yang kami lalui tenang dan lengang. Mudah-mudahan suatu saat bisa berkunjung kembali ke Arnhmen. Ada beberapa tempat lagi yang ingin kami datangi.

Kelihatannya njomplang ya, padahal...memang iya :D Tapi saya tidak semungil itu kok, beda sudut mengambilnya saja *pembelaan
Kelihatannya njomplang ya, padahal…memang iya 😀 Tapi saya tidak semungil itu kok, beda sudut mengambilnya saja *pembelaan

-Den Haag, 2 Desember 2015-

Semua foto adalah dokumentasi pribadi.

Indonesia Jazz Night dan Indonesia Angklung Performance di Den Haag

Dalam satu minggu ini, saya dan suami datang ke dua acara besar yang diadakan oleh KBRI di Den Haag bekerjasama dengan Rumah Budaya Indonesia (RBI) yang ada di Belanda. Rumah Budaya Indonesia sendiri terdapat di 10 negara yaitu Belanda, Amerika, Perancis, Jerman, Turki, Jepang, Timor Leste, Singapura, Myanmar, dan Australia. RBI didirikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia yang bertujuan untuk menjadikan rumah publik dalam rangka memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia sehingga dapat meningkatkan apresiasi, citra, dan membangun ikatan (budaya) masyarakat Internasional terhadap Indonesia. Selain itu, di RBI masyarakat lokal bisa belajar banyak hal mengenai Indonesia seperti sejarah, bahasa, dan tentu saja keragaman budaya Indonesia. Untuk mendukung tujuan tersebut, maka RBI akan menggelar berbagai pertunjukan seni dan pameran kesenian kebudayaan Indonesia, seperti pertunjukan tari tradisional, permainan musik tradisional, dan sebagainya. Di Belanda sendiri RBI diresmikan pada tanggal 25 Juni 2015 di Amsterdam.

Dalam satu minggu kebelakang, KBRI dan RBI di Belanda mengadakan dua pagelaran besar. Semuanya tanpa dipungut biaya alias gratis untuk siapapun baik masyarakat Indonesia ataupun warga Belanda atau siapapun yang menyaksikan acara tersebut.

INDONESIA JAZZ NIGHT

Sebenarnya saya sudah telat saat mengetahui akan ada acara ini. Seorang teman yang ingin datang ke Den Haag untuk mengurus paspor mengatakan bahwa akan ada Dwiki Darmawan di Den Haag. Tetapi ketika saya mencoba mendaftar melalui website KBRI, ternyata sudah tidak bisa. Ya iyalah seminggu sebelum acara pasti sudah tidak ada tempat sisa. Singkat cerita, akhirnya saya bisa mendapatkan tiket ke acara tersebut dengan segala perjuangan. Kenapa saya begitu ingin datang ke Indonesia Jazz Night yang diadakan di Koninklijk Conservatorium Den Haag pada tanggal 20 November 2015 pukul 18.30-21.00? Karena salah satu pengisi acaranya adalah orang yang suka sejak dulu. Indonesia Jazz Night menampilkan Dwiki Darmawan, Tohpati, dan Dira Sugandi, dan beberapa musisi pendukung lainnya. Ya, saya ingin melihat Dira Sugandi karena suka mendengar suara penyanyi Indonesia yang sudah menginternasional ini. Sejak kemuculan Dira Sugandi di acara Just Alvin, saya langsung terpana dan memutuskan menjadi salah satu fansnya. Bangga banget kesannya :D. Sedangkan suami tertarik datang ke acara ini karena dia memang penyuka dan penikmat musik jazz. Maklum, darah pemusik dikeluarganya kental. Papa mertua pernah menelurkan beberapa album jazz bersama grup musik beliau. Suami juga bisa memainkan beberapa alat musik dengan baik seperti piano, gitar, dan drum. Karenanya suami senang sekali datang ke pertunjukan musik khususnya jazz.

Sajojo
Sajojo

Indonesia Jazz Night ini dibuka oleh tarian Sajojo yang (kalau tidak salah) dibawakan oleh siswa-siswa salah satu SMA di Semarang dilanjutkan oleh grup Angklung dari Eindhoven. Selanjutnya Dwiki Darmawan membawakan Jazz for Freeport dilanjutkan Paris Berantai. Dira Sugandi muncul pada urutan ketiga menyanyikan lagu IE. Saya menahan nafas melihat kecantikan Dira Sugandi dan kejernihan suaranya dalam bernyanyi. Saya lupa Tohpati muncul pada saat kapan, yang pasti pada saat membawakan lagu Lukisan Pagi, Dira Sugandi diiringi oleh petikan gitar Tohpati. Aslinya Lukisan Pagi ciptaan Tohpati ini dilantunkan oleh Shakila. Pada saat Dwiki Darmawan memberitahukan hal tersebut, suami bertanya dengan polosnya pada saya “Lho, lagu ciptaan Tohpati ini pernah dibawakan sama Shakira?”, Mas, Shakila, bukan Shakira :p

Dira Sugandi, Dwiki Darmawan. Tohpati dalam satu panggung
Dira Sugandi, Dwiki Darmawan. Tohpati dalam satu panggung

Lagu lainnya yang dibawakan oleh Dira Sugandi adalah Bubuy Bulan dan Lamalera’s Dream. Sedangkan Dwiki Darmawan beserta Tohpati dan beberapa musisi lainnya membawakan Prambanan Mood, Frog Dance (yang terinspirasi dari suara kodok ketika berlibur ke Ubud), Whale Dance, Pasar Klewer (dari album terbaru Dwiki Darwaman yang belum keluar dipasaran), Arafura, dan The Spirit of Peace.

Saya sebagai penikmat musik yang biasa saja, merasa senang dengan penampilan Dwiki Darmawan yang bersinkronisasi (aduh ini istilah opo ya) dengan petikan gitar Tohpati, tabuhan kendang, petikan bass, dan tabuhan drum musisi pendukung lainnya. Meskipun terdengar seperti berdiri sendiri ketika mereka memainkannya dan juga cepat seperti saling berkejaran, namun masih terdengar satu harmoni. Saya masih bisa menikmati. Sedangkan Suami yang memang khusyuk sekali memperhatikan, tidak bisa disenggol sedikitpun kalau musik sudah dimainkan. Bahkan saya beberapa kali dipelototi ketika mencoba mendokumentasikan dalam bentuk foto atau video. Dia semakin kesal ketika beberapa kamera menggunakan flash dan terdengar suara “cekrik” pada saat memotret. Saya juga sebenarnya sebal sekali dengan Ibu yang duduk didepan. Bukannya melihat pertunjukan, malah sibuk dengan FB dengan sinar sangat terang pada layar Hpnya. Beliau sampai ditegur oleh Ibu Belanda yang duduk disebelahnya. Disebelah suami malah dengan santainya menerima telpon dan berbincang, akhirnya ditegur oleh suami. Dia sampai tidak habis mengerti dan mengomel “Orang Indonesia ini seperti tidak tahu cara berterimakasih. Sudah diberikan pertunjukan musik gratis dengan mendatangkan orang-orang bertalenta berkelas Internasiona, bukannya duduk menyimak sebagai bentuk penghargaan, malah sibuk dengan sosial media.” Inggih Mas *kemudian melipir.

Sebelum acara berakhir, Dwiki Darmawan meminta penonton berdiri untuk hening sejenak “Mari kita hening sejenak, mendoakan para korban di Paris, korban ketidakadilan, korban perang dimanapun berada, sementara kita masih diberikan kesempatan bersenang-senang disini. Semoga kedamaian tercipta dimuka bumi ini.”

Secara keseluruhan, kami puas dengan Indonesia Jazz ini. Lebih dari puas malah saya bilang. Penampilan yang super. Kapan lagi bisa melihat penampilan 3 orang musisi yang sudah melanglang buana karyanya dikalangan Internasional, dalam satu panggung. Ditambah lagi gratis melihat acara ini dan diberikan kotak snack (lupa isinya yang pasti ada teh kotak) oleh KBRI. Hati riang, perut kenyang, pulang kerumah dalam keadaan senang 🙂

INDONESIA ANGKLUNG PERFORMANCE

Indonesia Angklung Performance yang diadakan pada tanggal 25 November 2015 pukul 18:00-19:30 di Museon Den Haag, menampilkan Saung Angklung Udjo. Saya sudah lama mendengar ketenaran Saung Angklung Udjo, tapi baru kali ini melihat secara langsung bagaimana mereka pentas. Dan memang sungguh menakjubkan. Pada bulan November juga merupakan perayaan selama lima tahun Angklung ditasbihkan sebagai Intangible Heritage oleh UNESCO.

Saya janjian dengan suami distasiun yang tidak jauh dari rumah karena suami pulang kerja, jadi kami berangkat bersama-sama ketempat acara. Sesampainya di Museon, kami langsung disuguhi kotak snack, yang lagi-lagi isinya menggugah selera : lemper, pastel, nogosari dan jus jeruk. Setelahnya kami masuk keruangan. Awalnya kami duduk didepan, tapi karena saya yang tingginya pas-pasan begini, jadi tidak bisa melihat dengan jelas panggungnya. Akhirnya saya bilang ke suami untuk pindah ke bagian belakang saja karena letaknya lebih tinggi dan masih banyak tempat kosong (yang sesaat kemudian penuh ketika beberapa orang yang terlambat mulai berdatangan). Beberapa saat kemudian pertunjukan dimulai dengan beberapa orang mulai memainkan angklung dan beberapa lainnya menari. Setelahnya beberapa murid Saung Angklung Udjo unjuk kebolehan memainkan instrumen menyerupai bambu berderet yang harus dipukul alat untuk mengeluarkan bunyinya (seperti gamelan tetapi dari bambu, lupa namanya apa).

image4

Selain pertunjukan yang benar-benar meriah dan membuat yang hadir sangat antusias, ada juga workshopnya. Penonton diberi masing-masing satu angklung yang kemudian bersama-sama dipandu oleh anak Mang Udjo yang sekarang menjadi pemilik Saung Angklung Udjo. Setiap angklung mempunyai satu nada. Saya memegang angklung bernada 6, sementara suami bernada 7. Kami beberapa kali diajari cara memainkannya yang kemudian bersama-sama memainkan beberapa buah lagu dengan cara dipandu. Seru sekali bagian ini. Kami seringkali tertawa ketika beberapa orang tidak bisa mengikuti yang diinstruksikan. Antusias terlihat bukan hanya dari orang Indonesia, beberapa orang bule juga saya lihat nampak bersemangat (termasuk yang disebelah saya :D). Tak disangka setelah workshop berakhir, diumumkan bahwa kami diperbolehkan membawa Angklung. Ruangan langsung riuh dengan suara senang penonton. Kami malah membawa pulang tiga angklung karena tiba-tiba diberi oleh ibu yang duduk disebelah. Seru sekali sesi ini. Suasana Workshop yang sempat saya rekam :

Setelah Workshop selesai, dilanjutkan kembali oleh pertunjukan Angklung kembali. Dan dibawah ini adalah rekaman penutupnya yaitu Es Lilin dan tarian.

Wah kami senang sekali mendatangi dua acara diatas yang diselenggarakan dalam waktu berdekatan. Terutama pertunjukan Angklung karena bisa memperkenalkan ke suami alat musik tradisional Indonesia. Lihat saja wajah antusiasnya 🙂 Dia malah bilang kalau saat pulang ke Indonesia nanti, mau mampir ke Saung Angklung Udjo di Bandung. Mau membeli Angklung semua nada. Huwooo digawe opooo Mas, ngebak-ngebaki omah ae :p

image1Senang tidak hanya warga Indonesia yang bisa menikmati suguhan budaya ini, tetapi juga beberapa warga negara kebangsaan diluar Indonesia.

Selamat berakhir pekan, semoga akhir pekannya menyenangkan bersama yang tersayang. Jadi, apa rencana akhir pekan kalian?

-Den Haag, 26 November 2015-

Semua dokumentasi adalah milik pribadi