Memperkenalkan Indonesia Melalui The World In Your Classroom Den Haag

The World In Your Classroom (TWIYC) adalah sebuah proyek atau kegiatan sukarela yang diprakarsai oleh pemerintah kota (Gemeente) Den Haag yang bekerjasama oleh ACCESS, PEP, The Bridge Hague, Holland Times serta AngloInfo sebagai media partner. The Hague atau yang dikenal dengan Den Haag adalah kota Internasional yang banyak sekali pendatang dari segala penjuru dunia dengan tujuan menetap ataupun bekerja. Pemerintah kota Den Haag melihat sebuah peluang dari keberagaman pendatang tersebut yang bisa dijadikan sebagai sebuah kegiatan sukarela (volunteer atau dalam bahasa Belanda disebut vrijwilliger), maka didirikanlah TWIYC. Kegiatan dalam TWIYC ini bertujuan memberikan kesempatan kepada para pendatang untuk menjadi Guest Lecturer dalam waktu satu jam pada siswa berusia 12 sampai 16 tahun disekolah menengah (Middelbare school) diseluruh Den Haag.

Para sukarelawan dapat memperkenalkan dan bercerita apapun tentang negara asal mereka dari segi sejarah, budaya, ekonomi, geografi, ataupun politik. Mereka diberikan waktu satu jam, mengambil jam pelajaran bahasa Inggris, bahasa Perancis, bahasa Jerman, Geografi, atau Sejarah. Para sukarelawan diberikan kesempatan menyampaikan topik yang telah dipilih dalam bahasa Inggris, bahasa Perancis, atau bahasa Jerman. Tetapi tidak menutup kemungkinan juga bisa menyampaikan dalam bahasa Belanda. Manfaat yang didapat oleh para sukarelawan tentu saja bisa langsung berinteraksi dengan siswa dan guru yang bertanggungjawab serta dapat menyampaikan hal-hal yang berhubungan dengan negara mereka. Sedangkan manfaat yang didapatkan oleh siswa adalah mereka mendapatkan kesempatan untuk berlatih keterampilan bahasa mereka, diluar bahasa Belanda (karena selain bahasa Inggris, mereka juga belajar bahasa lainnya seperti Perancis, atau Jerman) dan memperluas pengetahuan mereka tentang dunia. Beberapa bahkan mungkin terinspirasi belajar atau bekerja di luar negeri pada satu hari nanti.

Awal saya bergabung dengan TWICY karena pada saat itu sedang mencari kegiatan volunteer disekitar kota Den Haag untuk mempraktekkan bahasa Belanda agar lebih lancar. Sehari-hari saya memang sudah berbicara menggunakan bahasa Belanda dengan suami, keluarga, maupun ketika berbincang dengan orang-orang yang saya temui dipasar, supermarket maupun tetangga rumah. Bahkan saya sudah lihai melakukan tawar menawar dipasar supaya mendapatkan cabe rawit dengan harga murah perkilogramnya. Bangga beli cabe dengan harga murah. Jangan dibayangkan saya sudah cas cis cus lancar sekali berbahasa Belanda. Memang sudah cukup bagus kata guru saya untuk ukuran 10 bulan tinggal di Belanda, tapi menurut saya belum terlalu lancar dan saya belum puas. Justru karena itu, saya ingin lebih lancar lagi, tidak hanya berbicara dengan orang-orang yang saya sebut diatas, tapi saya juga ingin mencari pengalaman lain yang langsung terjun dalam sebuah kegiatan. Akhirnya suatu hari guru sekolah saya memberitahukan salah satu website yang memberikan informasi tentang kegiatan volunteer apa saja yang ada di kota Den Haag. Setelah membaca satu persatu sesuai minat, akhirnya saya memilih beberapa, salah satunya TWIYC ini.

Setelah mendaftar (saya mendaftar 2 hari menjelang tanggal penutupan), saya menerima email yang memberitahukan akan ada training sebelum langsung terjun ke sekolah yang ditunjuk. Singkat cerita pada tanggal 7 Oktober 2015 saya datang ke tempat training. Saya bertemu dengan 20 volunteer lainnya. Training ternyata dibagi 4 gelombang karena akan ada sekitar 80 volunteer (saya satu-satunya dari Indonesia). Pada training ini kami diberikan pengarahan cara menyampaikan materi dan memanfaatkan waktu 1 jam secara efektif dan efisien. Materi training diberikan oleh Irish dan didampingi oleh Lucie sebagai Koordinator TWICY. Ketika training berlangsung, saya langsung teringat ketika mengikuti Kelas Inspirasi. Bedanya Kelas Inspirasi memperkenalkan profesi sukarelawan, sementara TWICY  memperkenalkan negara asal sukarelawan.

Screen-Shot-2014-11-20-at-12.38.23-pm

Pada saat training, sukarelawan diharapkan sudah mempunyai ide topik yang akan dijadikan materi ketika menjadi Guest Lecturer. Terus terang saya masih belum ada ide ketika datang ke training tersebut. Indonesia sangat luas dan kaya akan segalanya, saya harus fokus pada satu topik. Tentunya topik tersebut yang saya senangi dan gampang ketika menyampaikan. Pada saat sesi brainstorming dengan semua sukarelawan, tiba-tiba saya mendapatkan ide cemerlang. Saya mantap mengatakan bahwa topik yang akan disampaikan adalah tentang ragam makanan di Indonesia., ragam kuliner Indonesia. Lucie mengatakan ide saya cemerlang karena menurutnya baru kali ini ada sukarelawan yang menyampaikan topik tentang ragam makanan suatu negara. Simpel saja sebenarnya kenapa saya tiba-tiba tercetus ide itu : Siapa yang tidak suka dengan obrolan tentang makanan. Saya juga mengatakan akan membawa alat peraga yaitu beberapa macam bumbu dan rempah yang digunakan dalam masakan Indonesia. Nantinya para siswa akan saya beri kesempatan untuk menyentuh dan mencium rempah dan bumbu yang akan saya bawa, jadi mereka mengetahui bumbu dan rempah seperti apa yang digunakan sehingga tercipta makanan Indonesia yang super lezat.

Sumber : http://www.theworldinyourclassroom.nl/
Sumber : http://www.theworldinyourclassroom.nl/

Training Didact 7 October

Beberapa waktu kemudian, saya menerima email dari Lucie yang mengatakan saya akan menjadi Guest Lecturer di Edith Stein College pada kelas ISK pada tanggal 24 November 2015 jam 11:20 – 12:20. Kelas ISK ini adalah kelas khusus untuk siswa yang baru datang ke Belanda, maksimal 2 tahun. Mereka belajar bahasa Belanda, bahasa Inggris dan Matematika dikelas tersebut. Siswanya berasal dari Indonesia, Polandia, Etopia, Syria, Afghanistan, Filipina, Spanyol, Brasilia, Bulgaria, China, Pakistan, Yunani, India, Portugal, Turki, dan Hungaria. Satu kelas terdiri dari 23 siswa. Kelas ISK ini semacam kelas Internasional. Saya senang sekali ada satu siswa dari Indonesia. Jadi saya bisa meminta dia untuk memberikan testimoni langsung tentang makanan Indonesia. Sebelum hari H, saya mengirim email ke Sytske yang merupakan guru bahasa Inggris di kelas ISK juga sebagai perwakilan sekolah pada saat saya menjadi Guest Lecturer di Edith Stein College, menanyakan beberapa hal salah satunya apakah ada murid yang mempunyai alergi ketika mencium bau tertentu. Beruntungnya tidak ada. Semua yang berkaitan dengan kegiatan TWIYC saya koordinasikan melalui email dengan Sytske. Saya juga membuat materi presentasi semenarik dan sesingkat mungkin karena waktunya hanya satu jam. IMG_6598

Selasa, 24 November 2015, sekitar jam 10.30 saya berangkat dari rumah. Hari itu, hujan deras mengguyur Den Haag, dingin dan angin kencang. Suhu udara 3 derajat celcius. Jarak antara rumah dan sekolah tidak terlalu jauh. Setelah sampai di Den Haag Centraal saya langsung menyalakan google maps menuju lokasi sekolah yang ternyata hanya 20 menit berjalan kaki. Sesampainya di sekolah, saya langsung menemui Sytske diruang guru. Menariknya adalah Sytske sudah 3 kali backpakeran ke Indonesia, tepatnya ke Tanjung Puting, Manado, Lombok, Flores, Jakarta, Bali, Sumbawa, Maluku, dan Raja Ampat. Saya malu hati dia sudah menjelajah beberapa tempat yang belum pernah saya datangi. Bahkan dia pernah backpackeran sendiri dalam keadaan hamil 6 bulan, menggendong tas ransel 50L. Setelah berbincang beberapa saat tentang teknis pelaksanaan, saya kemudian diperkenalkan dengan siswa asal Indonesia. Dia baru satu tahun di Belanda, tapi bahasa Belandanya sudah lancar sekali. Kami lalu menuju kelas untuk memulai sesi presentasi.

Siswa saat melihat video, bagian dari presentasi saya.
Siswa saat melihat video, bagian dari presentasi saya.
Saya saat berada didepan kelas.
Saya saat berada didepan kelas.

Saya lalu memperkenalkan diri kepada seluruh siswa. Kemudian saya bertanya kepada Sytske apakah pihak sekolah mengijinkan jika saya akan mendokumentasikan dalam bentuk foto selama kegiatan berlangsung dan akan saya taruh pada blog. Sytske mengijinkan sebagai perwakilan dari sekolah karena sekolah ini sudah terbiasa mendapatkan kunjungan. Kemudian saya bertanya kepada siswa apakah ada yang keberatan dengan hal tersebut, mereka menjawab serempak kalau mereka tidak keberatan. Jadi semua foto yang saya unggah disini sudah melalui persetujuan pihak sekolah maupun para siswa. Kemudian saya bertanya kepada mereka, apa yang mereka ketahui tentang Indonesia. Ada yang menjawab tarian, bakmi goreng, nasi goreng, Bali, bahkan ada yang menjawab cabe. Yang menjawab ini bukan siswa dari Indonesia. Dia sih diam saja, memberikan kesempatan pada yang lain untuk menjawab. Saya tersenyum dengan jawaban mereka. Ternyata ada yang tahu ya kalau mayoritas makanan Indonesia itu tidak jauh dari cabe :).

Presentasi saya buka dengan memutarkan video dari Good News From Indonesia yang saya dapat dari Youtube. Kemudian dilanjutkan ke slide berikutnya diantaranya saya menerangkan sekilas tentang sejarah rempah dan beberapa makanan Indonesia yang mendapatkan pengaruh dari beberapa negara yang pernah datang ke Indonesia, termasuk Belanda. Kemudian saya juga menceritakan kedekatan orang Indonesia dengan makanan Indonesia. Dimanapun orang Indonesia tinggal diseluruh penjuru dunia, mereka akan dengan suka cita menyambut topik pembicaraan tentang makanan Indonesia. Selain itu, saya juga menginformasikan bahwa makanan Indonesia itu jumlahnya ribuan (sesuai keterangan didalam video pada link diatas) karena masing-masing suku, masing-masing kota mempunyai jenis makanan sendiri. Lalu saya juga menerangkan tentang makanan yang berhubungan dengan perayaan atau hari besar keagamaan, misalkan tumpeng dan filosofi tumpeng. Selanjutnya juga saya jelaskan tentang waktu makan orang Indonesia dan jenis makanan yang biasanya dimakan, yang sebenarnya tidak pernah ada bedanya dari segi porsi ketika makan pagi, makan siang atau makan malam. Semua porsinya besar dan tidak ada pakem makanan tertentu dimakan pada saat tertentu. Satu lagi yang tidak kalah menarik, saya juga menginformasikan bahwa Rendang dan Nasi Goreng pernah dinobatkan menjadi makanan paling enak nomer 1 dan 2 didunia versi CNN Traveling pada tahun 2011. Terakhirnya saya tutup presentasi dengan video mencoba makanan Indonesia. Total slide presentasi saya sebanyak 16. Ditengah-tengah presentasi tersebut, saya ajak mereka untuk melihat dan mencium aroma dari rempah dan bumbu Indonesia.

Rempah dan bumbu yang saya bawa : kemiri, sereh, ketumbar, kayu manis, cengkeh, jahe, kunyit, daun jeruk, cabe, kencur, kunci, kluwek,
Rempah dan bumbu yang saya bawa : kemiri, sereh, ketumbar, kayu manis, cengkeh, jahe, kunyit, daun jeruk, cabe, kencur, kunci, kluwek, pala, bawang merah, bawang putih, dan asem kandis . Saya membuat 3 paket jadi kerumunan tidak berpusat disatu tempat. Semua rempah tersebut yang ada didapur saya, jadi tinggal angkut.

Para siswa sangat antusias menyimak selama saya memberikan presentasi. Banyak sekali pertanyaan dari mereka misalkan kenapa makanan Indonesia bumbunya banyak, kenapa rendang memasaknya lama,  Apa daging rendang tidak menjadi bubur setelah dimasak berjam-jam, kalau di Indonesia makan dipinggir jalan apa tidak sakit perut, kalau makan dengan tangan kosong (tidak menggunakan sendok atau garpu) apakah sehat, bahkan ada yang bertanya rasanya nasi goreng seperti apa. Saya membuat presentasi semenarik mungkin supaya para siswa tersebut merasa senang dan ada sesuatu yang baru yang mereka dapatkan. Pastinya banyak sekali foto makanan Indonesia didalamnya misalkan rendang, soto ayam, rendang, pempek, tumpeng, nasi goreng, sate padang, nasi bali, bebek betutu, bubur tinutuan dan masih banyak lainnya yang saya pinjam dari google, otomatis saya sertakan juga sumbernya. Saya juga meminjam beberapa foto makanan dari blog Melly dan Beth. Lucunya lagi, karena jam presentasi adalah jam menjelang makan siang, tentu saja foto-foto makanan tersebut membuat mereka lapar, sampai ada yang bilang “Stop, aku sangat lapar sekali.” Lalu ada yang curi-curi makan roti. Jangankan mereka, saya saja ikut-ikutan lapar ketika memperlihatkan satu persatu slide yang berisi makanan Indonesia tersebut.

Salah satu siswa sedang mencoba rasanya cabe :D
Salah satu siswa sedang mencoba rasanya cabe 😀
Ekspresi saat mereka mencium rempah.
Ekspresi saat mereka mencium rempah.

Selama sesi Guest Lecturer tersebut hampir seluruhnya saya menggunakan bahasa Inggris. Selebihnya, di 15 menit terakhir saya menggunakan bahasa Belanda. Hal tersebut yang menjadi kesepakatan saya dan siswa diawal. Saat menggunakan bahasa Belanda, hanya satu yang saya fikirkan, “Semoga saya tidak menyesatkan mereka dengan bahasa Belanda yang pas-pasan.” Mereka juga sedang belajar bahasa Belanda, jadi posisinya antara saya dengan para siswa tersebut juga sedang sama-sama belajar bahasa Belanda. Secara keseluruhan saya senang sekali mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan TWIYC. Saya bangga memperkenalkan Indonesia melalui program ini. Dan saya juga bahagia ketika para siswa merasa senang dengan materi yang saya sampaikan karena mereka bilang bahwa ini adalah pengetahuan baru yang mereka dapatkan juga mendapatkan pengalaman untuk mengerti bahan-bahan yang digunakan memasak makanan Indonesia. Ada siswa yang menyelutuk “Saya mau makan di Restoran Indonesia. Saya ingin makan Rendang.” Wah, senangnya bisa membuat mereka tertarik untuk langsung merasakan masaka Indonesia. Diakhir sesi kami berfoto bersama, dan saya diberi buket bunga oleh pihak sekolah. Rabu besok dan bulan depan saya kembali akan mendatangi sekolah berbeda, materi yang saya sampaikan tetap sama. TWIYC adalah pengalaman sukarelawan pertama yang saya ikuti di Den Haag. Saya juga jadi mengenal orang-orang baru, para volunteer lainnya dari negara yang berbeda-beda. Ada beberapa program volunteer lainnya yang saya ikuti. Akan saya ceritakan pada tulisan terpisah. Saya meninggalkan sekolah dengan perasaan bahagia luar biasa. Pengalaman pertama saya terjun langsung dalam kegiatan di Den Haag memperkenalkan Indonesia. Berbagi itu selalu membuat senang hati, apalagi berbagi cerita tentang keragaman negara sendiri.

Foto bersama. Saya menggunakan blazer batik.
Foto bersama. Saya menggunakan blazer batik.

Dibawah ini adalah video yang menerangkan apa sebenarnya TWIYC itu.

-Den Haag, 6 Desember 2015-

Semua foto adalah dokumentasi pribadi.

30 thoughts on “Memperkenalkan Indonesia Melalui The World In Your Classroom Den Haag

  1. Seru ya…eh..mencicipi cabe? Apa ngga sebaiknya di level terakhir, tuh? Atau di bagian simulasi “berani terima tantangan?”…

    1. Iya seruu. Itu sebenarnya mereka sudah aku warning untuk tidak memakan atau mencicipi> Hanya mencium dan memegang. Tapi kecolongan ada yang mencicipi. Itu foto dari gurunya. Keder juga pas tau, kalo ada apa2 gimana karena mereka kan ga pernah makan pedes2.

  2. Seruu ya mba kegiatannya, apalagi pas sesi pengenalan rempah2 nya. Emang iya ya, masakan indonesia tuh full rempah, kurang 1 bahan aja bisa bikin rasanya kurang nendang.

    Itu yang nyobain rasa cabe ga trauma kan mba

  3. Wohoooo… keren den !! *jempol
    Enak yak banyak kegiatan positif yang bisa diikutin. Eh ada ga tuh, anak anak yang baru pertama kali liat rempah indonesia macam sereh dkk ? penasaran mereka bilang apa dan pengen nyicip langsung 😀

    1. Suwuuun Mel 🙂 Banyak banget kegiatan volunteer disini. Sebagian besar dari mereka baru pertama lihat rempah2 itu. Aku sudah bilang didepan bahwa ini bukan untuk dimakan. Hanya bisa dicium dan dipegang saja. Ternyata ada yang nyolong2 makan ujungnya cabe 😀

  4. Waah seru sekali pengalamannya! Kalau masalah makanan Indonesia kaya akan rempah juga ya dibandingkan negara misal Timur tengah. Kluwek ini yang unik ya! Mungkin cuma khas Indonesia ya. Btw di Belanda gampang ya beli kluwek? Ditunggu pengalaman berikutnya.

    1. Iya Lu, iseng2 bunuh waktu sepi. Cari kegiatan positif sebanyak2nya diluar rumah.
      Kluwek yang kubawa ke kelas itu yang masih ada cangkangnya, dibawain sama teman. Di Belanda juga ada kluwek, tapi setahuku yang di toko oriental sudah ga ada cangkangnya. ya dalam buahnya itu ditaruh plastik. Di Den Haag lengkap Lu semua lengkap bumbu2 makanan Indonesia 🙂 Siaapp ditunggu 🙂

  5. Hehehe, idenya bagus banget memang! Salah satu keunikan Indonesia yang baru aku sadari setelah pindah memang adalah keaneka-ragaman makanannya. Biasanya kan di satu negara ada satu “kiblat” gitu jenis makanannya seperti apa. Nah, Indonesia kan gak kayak gitu. Satu jenis makanan (soto) pindah provinsi aja udah beda jadinya, huahahaha 😆

    1. Thanks Ko. Kalau jauh gini tiap hari yang dipikirin kan kangen makanan Indonesia Ko hahaha. Jadinya kan kalo ngobrolin makanan didepan kelas berapi2 penuh antusias gitu, nyampenya ke siswa mudah2an senang juga auranya 🙂
      Betul Ko, tiap kota tiap suku punya makanan khas sendiri, Soto sama Sate contohnya. Kuliner Indonesia memang selalu ngangenin *duh, jadi laper nulis ini 😀

    1. Aku dulu pas kita sepedahan bareng pernah cerita sekilas tentang ini. Mungkin kamu ga ngeh ya waktu itu, saking gembiranya sepedahan haha. Aku daftarnya hampir telat ini, 2 hari menjelang penutupan. Cewek yang dibelakangku difoto pertama itu dari Taiwan, sedang Master di Leiden. Jurusannya aku lupa, kayaknya semacam bahasa appaaa gitu. Dia guru bahasa Inggris di Taiwan. Bidang apa saja tidak masalah, yang penting menguasai materi yang disampaikan dan tidak terlalu serius materinya. Menyenangkan.

  6. Waaah bagus ya programnya Den. Dan ide mu bagus deh membawa kuliner, kalo udah ngomongin makanan ga ada yang mbosenin ya apalagi sambil di bawain rempah nya juga. Hahaha kalo aku jadi studentnya, ngarep di bawain makanannya juga deh 😀
    Kalo menurut temen tante ku dari Amerika, katanya makanan Indonesia pedes pedes ngangenin, memorable 🙂

    1. Iya May, suka dengan program mereka. Dan mereka banyak sekali program volunteer yang melibatkan pendatang.
      Thanks May, maklum perantau, tiap hari kangen dengan makanan Indonesia yang rasanya nendang dan bisa dibeli disetiap pengkolan haha. Makanya langsung kepikiran ide makanan aja, jadi aku gampang menyampaikan dan rasa senangnya juga nyampe ke siswa2 itu. Suamiku juga bilang, kenapa ga bawa makanan. Aku maunya sih gitu, tapi resiko tinggi dan kayaknya juga ga boleh dari pihak sekolah. Kalau ada apa2 siapa yang tanggungjawab.
      Bener, memorable banget karena bumbunya banyak, sehingga rasanya fresh. Apalagi pedesnya, fresh banget hahaha.

      1. Ooo iya ya, biasanya kalo ga familiar makanan kita tuh bisa bikin diare karna kebanyakan bumbu. Tapii bumbu2 nya juga menarik sih, mereka bisa cium aroma nya ya nanti mungkin bisa di aplikasi juga pas mereka masak, seruuu 😀

    1. Terima kasih Anna, itu video juga hasil browsing2 youtube. Kok ndilalah ada yang satu topik, jadi meringankanku bikin presentasi 😀
      Yang makan cabe pastinya kepedesen hahaha tapi dia minta ijin mau bawa pulang cabenya. Mau ditunjukkan ke orangtuanya.

  7. Huaaaaaa… Mba Den aku terharu sekali, sampe menitikan air mata lho *beneran* ah emang dasar aku mah cengeng. hihi

    Bener kata Mas Dani, idenya brilian sekali, aku salut sama pemikiran mba Den. pokonya aku baca postingan ini ikutan bangga. Terimakasih ya mba Deni, sudah mau menjadi guest lecturer dan mengenalkan Indonesia dengan cara yg unik. salut

    Di foto terakhir untung mba Den nyebutin diri yg pake blazer batik, kalo engga aku bingung ini guest lecturer nya manaa pada sepantaran semua …. 😀 *kabuuuuurr*

    1. Lha ngapain nangis Ran, lha wong cerita santai gini haha. Dasarnya milih tema ini karena ga terlalu berat buat mereka, bisa santai tapi serius. Dan siapa sih yang ga suka kalau berbicara tentang makanan. Bersyukurnya kuliner Indonesia beragam banget, dan beberapa mengandung filosofi juga dibaliknya. Jadi pas kalau memperkenalkan Indonesia dari ragam kuliner. Thanks ya Ran.
      hahahaha duh jadi pake helm nih kepala 😀

  8. Keren banget Den kegiatan e. Jadi biaa promosi negara kita tercinta. Dan ide bawa bumbu ke kelas itu beneran tak acungi jempol! Sakiki aku penasaran dengan presentasimu di muka kelas Den. Hihihi. Ga ono videonya ya?

    1. Iyo Dan, keren2 kegiatan volunteer pemerintah Den Haag iki. Sampek bingung aku milih, pengen tak ikuti kabeh haha. Terutama TWIYC iki, idenya keren. Aku juga seneng bisa kenal dengan volunteer2 yang lain dari berbagai macam negara. Nambah kenalan, nambah networking.
      Ide bawa bumbu iku yo tercetus seketika. Belajar dari Kelas Inspirasi, kalau bawa alat peraga kan lebih antusias ke siswa. Aku mikir kiro2 alat peraga opo yo sing gampang nyiapno. Akire bumbu2 ae wes tak gowo hahaha, kari ngangkut teko dapur. Suwun Dan, aku seneng bisa memperkenalkan Indonesia dari kacamata yang berbeda, maksudku bukan hanya dari sektor wisata saja.
      Nah iku, presentasine kan tak gawe nang powerpoint, aku ga paham carane menjadikan video *gaptek 😀 sakjane yo pengen tak insert nang kene. Menurutku kok keren hahah dipuji dewe. Tapi masih tak pakai buat next sekolah, engko lak kedetect lek tak deleh kene disikan. Ga surprise *halaahhhh 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.