Thorn – Kota Putih di Belanda

Thorn - Belanda

Sewaktu mencari tempat mau ke mana akan saya lalui pada hari ulangtahun, di mana hanya bisa di Belanda saja karena bukan hari libur, maka saya memutuskan ingin ke provinsi Limburg. Browsing sana sini, lalu saya tertarik untuk mengunjungi Thorn yang disebut sebagai kota putih. Membaca deskripsi dari berbagai sumber, saya semakin penasaran. Lalu saya utarakan hal ini ke suami, dia langsung mengiyakan dan ikut penasaran seperti apa Thorn itu karena memang belum pernah ke sana sebelumnya. Saya tidak terlalu berharap banyak cuaca akan cerah karena beberapa hari sebelumnya salju sempat turun di sekitar tempat tinggal kami. Tidak turun hujan saja sudah sangat saya syukuri. Sewaktu sampai di Thorn, suasananya sangat sepi dan langsung tampak bangunan dan rumah dengan cat putih sepanjang mata memandang. Hanya beberapa turis yang kami jumpai saat itu, memegang peta sambil mengamati beberapa bangunan yang ada dan sesekali membidikkan kamera untuk mengabadikan yang ada di depan mata. Tidak banyak foto yang saya dapatkan di sini, entah karena udara yang begitu dingin atau saya terlalu fokus dengan situasi di sana sehingga lebih menikmati suasana lalu menjadi agak malas untuk mengabadikannya. Hanya sempat merekam beberapa sudut kota ini dalam video.

Thorn - Belanda
Thorn – Belanda
Thorn - Belanda
Thorn – Belanda
Thorn - Belanda
Thorn – Belanda

Sekitar tahun 990, kota Thorn terbentuk karena banyaknya biarawan dari kalangan bangsawan. Setelahnya, kota ini berkembang menjadi kerajaan kecil. Menjelang abad ke-18 para wanita bangsawan yang ada di Thorn melarikan diri untuk menghindari orang Perancis. Lalu, sejumlah besar orang miskin datang untuk tinggal di kota ini. Orang Perancis menghitung pajak berdasarkan dimensi jendela rumah. Karena orang miskin tidak dapat membayar pajak, mereka lalu membuat jendela mereka lebih kecil dengan cara membakarnya. Rumah-rumah itu kemudian dicat putih untuk menyembunyikan perbedaan antara batu bata tua dan baru. Begitulah asal usul kota putih Thorn yang saya baca dari Wikipedia dan mengapa semua rumah di kota ini berwarna putih. Sampai saat ini, rumah di Thorn berpenghuni selayaknya rumah biasa. Selain rumah-rumah lama (dibangun sekitar tahun 1500an) yang masih bisa dilihat dengan kondisi bagus, ada gereja tua dan kapel yang masih terjaga dengan baik. Untuk mengetahui apa saja yang bisa dikunjungi di Thorn, di dekat gereja terdapat pusat informasi untuk turis, jadi kita bisa mendapatkan informasi sejelas mungkin di sana.

Thorn - Belanda
Thorn – Belanda
Thorn - Belanda
Thorn – Belanda
Thorn - Belanda
Thorn – Belanda
Thorn - Belanda
Thorn – Belanda

Thorn ini letaknya tidak terlalu jauh dari Roermond, salah satu Designer outlet yang terkenal di Belanda. Saat ini, Thorn merupakan salah satu kota tujuan wisata karena keunikan warna putihnya tersebut. Para wisatawan yang datang ke Roermond untuk berbelanja, menyempatkan diri untuk mengunjungi Thorn. Jadi jika ada yang sedang liburan ke Belanda dan salah satu tujuannya adalah berbelanja ke Roermond, tidak ada salahnya mampir ke Thorn sebagai alternatif tempat wisata yang tidak terlalu turistik. Tidak usah khawatir, di Thorn banyak dijumpai restaurant dan cafe.

 

-Nootdorp, 11 Oktober 2017-

 

Aplikasi Visa Schengen (Dengan Tujuan Utama Belanda) : Tipe Visa Undangan

Pada tahun 2017 ini, saya berkesempatan mengurus dokumen-dokumen sebagai syarat pengajuan aplikasi Visa Schengen dengan tujuan awal (dan tujuan utama) Belanda dan tipe visa adalah undangan. Tidak tanggung-tanggung, dalam setahun dua kali saya mengundang anggota keluarga, yaitu Ibu dan Adik karena mereka datang dalam waktu yang berbeda. Selaku pihak sponsor adalah Suami. Saya ingin berbagi informasi tentang pengurusan Visa Schengen dengan tipe Visa Undangan untuk Ibu dan Adik dengan catatan yang perlu digaris bawahi adalah kondisi mereka berbeda sehingga ada beberapa dokumen yang berbeda saat pengajuan. Adik saya statusnya bekerja dan pengajuan tinggal selama 30 hari (diantaranya berlibur ke Belgia dan Perancis) sedangkan Ibu saya statusnya pensiun dan pengajuan tinggal selama 90 hari.

Catatan : Ada beberapa dokumen yang dalam bahasa Indonesia, harus diterjemahkan dulu dalam salah satu bahasa ini : Perancis, Inggris, Belanda, atau Spanyol. Ibu dan Adik memilih menerjemahkan dalam bahasa Inggris melalui penerjemah tersumpah yang ada di Surabaya.

Pengajuan Aplikasi Visa Schengen yang dilakukan oleh Ibu dan Adik melalui kantor VFS Global yang ada di Surabaya. Syaratnya sangat mudah dipenuhi, secara jelas bisa dilihat di website VFS Global

 

  • Dokumen Yang Diperlukan : Bisa diunduh di sini. Checklist for a Visa Application. Visit to a Family/Friends
  1. Menuliskan Nama (Sesuai nama yang tertera di paspor). Untuk pengajuan visa, yang menjadi acuan adalah data yang terdapat di paspor, termasuk nama. Ibu saya mempunyai nama berbeda antara KTP dan Paspor karena Paspor sebelumnya dipergunakan untuk naik haji, jadi ada penambahan nama keluarga. Sedangkan di KTP, hanya ada dua suku kata nama tanpa ada nama keluarga. Ini tidak menjadi masalah karena yang akan menjadi acuan adalah nama di paspor.
  2. Menuliskan Kewarganegaraan
  3. Mengisi secara lengkap dan menandatangani formulis aplikasi visa Schengen (bisa diunduh di sini)
  4. Menyertakan Paspor yang asli (yang masih mempunyai masa berlaku minimal 3 bulan dari tanggal saat meninggalkan Schengen area, masih terdapat dua halaman kosong), fotokopi dari halaman di paspor yang ada keterangan detail data pemegang paspor, fotokopi semua visa sebelumnya dan stempel keluar masuk ke suatu negara (Ibu saya tidak menyertakan karena paspor sebelumnya hilang. Adik juga tidak menyertakan karena ini adalah paspor pertama yang dimiliki), fotokopi informasi detail dari visa dan paspor sebelumnya yang dimiliki (Ibu dan Adik tidak menyertakan).
  5. Bukti tinggal di negara tempat mengajukan aplikasi visa. Sebenarnya dengan menggunakan paspor saja sudah cukup karena negara pengajuan aplikasi visa sama dengan negara tinggal. Tetapi Adik dan Ibu pada poin ini melampirkan KTP yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris
  6. Bukti Ijin Kerja. Adik melampirkan bukti surat keterangan kerja dari kantornya (dalam bahasa Inggris), sedangkan Ibu tidak karena statusnya pensiun.
  7. Pas Foto yang sesuai dengan ketentuan paspor Belanda dan pengambilan fotonya tidak boleh melebihi 6 bulan dari waktu pengajuan visa. Ketentuannya bisa dilihat di sini.
  8. Menuliskan rincian perjalanan sejumlah total hari yang diminta. Karena Adik dan Ibu tinggal di rumah kami, jadi tidak perlu menyertakan bukti reservasi hotel hanya menuliskan rencananya mau kemana dan apa yang akan dilakukan selama hari tinggal. Saya membuatkan untuk Adik detail per hari selama 30 hari. Tetapi untuk Ibu karena memang rencananya hanya akan tinggal di rumah, jadi rinciannya secara garis besar saja.
  9. Menyertakan bukti booking tiket pesawat. Ini masih booking ya, belum beli. Ibu dan Adik menggunakan booking melalui KLM karena prosesnya gampang, tanpa harus membayar, dan ada bukti yang dikirimkan ke email. Jadi bisa disertakan saat pengajuan visa.
  10. Melampirkan surat undangan dari pihak sponsor. Surat undangan ini harus ditandatangani oleh Gemeente (pemerintah setempat di mana pihak sponsor tinggal). Surat undangannya adalah berupa formulir bisa diunduh di siniJika pihak sponsornya punya partner, maka mereka berdua harus datang ke Gemeente untuk tanda tangan di depan petugas (jadi jangan ditandatangani dari rumah). Untuk datang ke Gemeente, harus membuat janji terlebih dahulu. Ada yang bisa melalui online pengurusannya (misalkan di Amsterdam). Jadi cek website masing-masing Gemeente tempat tinggal. Untuk mendapatkan tanda tangan di surat undangan, kita harus membayar. Besarannya bervariasi antara satu Gemeente dengan lainnya. Di tempat tinggal kami, membayar €10.5.
  11. Bukti Fotokopi surat kontrak kerja pihak sponsor yang berlaku sampai minimal 12 bulan dari waktu pengajuan visa.
  12. Bukti gaji pihak sponsor tiga bulan terakhir atau bukti sumber pendapatan lainnya. Karena sudah ada bukti gaji dari pihak sponsor (dalam hal ini, bukti gaji suami), maka Ibu dan Adik tidak perlu lagi menyertakan bukti keuangan yang ada di tabungan selama tiga bulan terakhir karena dalam formulir aplikasi akan dinyatakan bahwa semua yang berhubungan dengan pengeluaran selama di Belanda akan menjadi tanggungan pihak sponsor.
  13. Dokumen yang membuktikan pihak yang mengajukan aplikasi akan kembali ke negaranya setelah melakukan perjalanan. Untuk Adik, menyertakan surat keterangan kerja yang menyatakan bahwa yang bersangkutan memang bekerja di sana dan SK kerja untuk memperkuat. Sedangkan untuk Ibu, menyertakan surat tanah atas nama Ibu yang membuktikan bahwa Ibu mempunyai properti di Indonesia. Surat-surat ini diterjemahkan dalam bahasa Inggris.
  14. Pembelian asuransi perjalanan. Ibu dan Adik menggunakan asuransi perjalanan Smart Traveller dari AXASesuai persyaratan yang tertera di checklist, asuransi harus tertera nama pihak yang mengajukan aplikasi, valid selama masa perjalanan dan di area Schengen, serta minimal €30.000 penggantian jika ada perawatan di RS, keadaan darurat, jika terjadi kecacatan bahkan jika terjadi kematian. Pembelian asuransi AXA ini online dan semua dokumen asuransi dikirim via email.
  15. Visa, paspor atau dokumen perjalanan lainnya yang memperlihatkan ijin untuk masuk ke negara tujuan akhir setelah dari area Schengen. Ibu dan Adik tidak menggunakan ini karena memang tujuan akhirnya Belanda.
  16. Biaya Visa yang dibayarkan secara tunai dan langsung pada saat hari pengajuan semua dokumen. Total biayanya = €60 (biaya visa) + €25 (biaya jasa VFS). Pembayarannya dalam bentuk Rupiah dengan kurs yang sudah ditentukan oleh VFS. Bisa di cek di sini untuk memastikan total yang harus dibayarkan dalam Rupiah berapa.

Tambahan : Ini sebenarnya tidak tertera dalam checklist, tapi selalu saya tambahkan ke dalam setiap pengajuan aplikasi. Siapa tahu membuat kemungkinan mendapatkan visa semakin besar. Suami selalu membuat surat undangan pribadi yang ditandatangani, ditujukan kepada pihak yang mengajukan aplikasi yang berisi tentang tujuan mengundang, rencana selama tinggal, dan menyatakan bahwa semua pengeluaran akan menjadi tanggungan suami sebagai pihak sponsor, termasuk tiket pesawat PP. Satu surat undangan pribadi ini disertakan dalam dokumen-dokumen yang diajukan.

Semua dokumen-dokumen tersebut disusun berurutan untuk memudahkan petugas melakukan pengecekan dan diperbanyak satu kali (plus satu kali untuk dokumen pribadi jika memang diperlukan). Jadi dibawa dua bundel dokumen. Tetapi dari pengalaman Adik dan Ibu, yang diminta hanya yang asli saja sedangkan yang fotokopi dikembalikan.

 

  • Pembuatan Janji Temu

Pembuatan janji temu dilakukan online di sini. Pilih kantor VFS yang terdekat dengan tempat tinggal. Langkah-langkahnya sudah jelas tertera pada tautan tersebut. Kalau kantor VFS di Surabaya, jadwalnya tidak perlu mengantri terlalu lama. Untuk pengajuan visa, maksimal 3 bulan sebelum tanggal keberangkatan yang diinginkan dan minimal 3 sampai 4 minggu sebelum waktu keberangkatan. Perlu diperhatikan juga untuk bulan-bulan liburan sehingga harus diantisipasi untuk membuat janji temu jauh hari guna menghindari antrian yang lama.

  • Pengambilan Data Biometrik

Sehubungan dengan adanya pengambilan data biometrik, maka pengajuan aplikasi visa harus datang sendiri tidak bisa diwakilkan, dengan membawa serta semua dokumen yang diperlukan. Kedatangan di kantor VFS tidak boleh lebih dari 15 menit dari waktu yang telah dipilih karena tidak akan bisa masuk ke ruangan dan menunggu di luar.

  • Waktu Proses Aplikasi

Jika merujuk yang tertera di website VFS, maka waktu proses aplikasi adalah 15 hari kerja. Tapi dari pengalaman Ibu dan Adik, dalam 5 hari kerja sudah ada berita yang dikirimkan lewat email kapan bisa mengambil paspornya atau bisa melacak status aplikasi di sini. Paspor bisa diambil sendiri atau bisa menggunakan jasa kurir yang disediakan oleh VFS dengan mengganti biaya kirim sesuai alamat pengiriman. Ibu menggunakan jasa kurir dengan membayar Rp 50.000 dan paspor langsung dikirim ke alamat yang sesuai tertera di paspor atau sesuai permintaan.

Ibu dan Adik mendapatkan lama tinggal sesuai dengan permintaan. Ibu mendapatkan lama tinggal selama 90 hari dengan tipe multiple entries, sedangkan Adik mendapatkan 30 hari juga multiple entries. Untuk tipe visa undangan sama dengan tipe visa turis, maksimal lama tinggal adalah 90 hari dalam periode waktu maksimal 180 hari. Bisa dilakukan perpanjangan, asal memenuhi syarat yang diajukan pemerintah Belanda. Ketentuannya bisa dilihat di sini pada bagian Further Application.

Dari pengalaman tiga kali mengurus visa Schengen ke Belanda dengan tipe undangan (satu kali untuk saya sendiri pada tahun 2014, meskipun saat itu melalui konsulat Belanda yang berada di Surabaya), jika semua dokumen yang diperlukan terpenuhi dan pihak sponsor juga bisa menyertakan bukti kuat dokumen yang diperlukan, maka kemungkinan untuk mendapatkan visa sangatlah besar. Apalagi sejak diambil alih oleh VFS sebagai pihak perantara dalam pengajuan aplikasi, jadi tidak ada lagi wawancara. Mereka hanya mengecek dokumen-dokumen tanpa bertanya secara detail. Berbeda ketika saya mengajukan melalui konsulat Belanda, wawancaranya sangatlah detail.

Begitulah informasi yang bisa saya bagikan sehubungan dengan pengajuan aplikasi visa Schengen dengan tujuan utama Belanda dan tipe visa adalah undangan. Semoga informasi ini bermanfaat.

-Nootdorp, 3 Oktober 2017-

Betah di Madurodam – Den Haag

Dalam waktu beberapa minggu kedepan (sudah berjalan seminggu ini juga sih) saya akan menjadi pemandu wisata pribadi adik yang sedang berlibur ke Belanda. Yap!! akhirnya saya bertemu juga dengan adik yang selama 2.5 tahun tidak pernah saling berjumpa muka. Walaupun diawali dengan drama pesawat dan imigrasi, akhirnya adik sampai dengan selamat di Belanda seminggu lalu dengan -tentu saja- membawa barang titipan saya yang jumlahnya tidak seberapa banyak. Barang titipan yang didominasi oleh buku-buku berbahasa Indonesia (lebih dari 20 buku). Sedangkan titipan makanan hanya beberapa saja, salah duanya yang tidak boleh lupa adalah petis madura dan keju Kraft. Jangan heran kalau saya minta Ibu untuk memasukkan keju Kraft ke koper adik karena sudah kangen makan keju itu sejak lama. Ibu saja sampai bingung kenapa saya yang tinggal di negara keju malah minta dibelikan keju Kraft. Yah, namanya selera lidah, saya tidak terlalu cocok dengan keju Belanda. Sudah mencoba beberapa jenis, yang cocok hanya keju asap. Untuk makanan yang lainnya, saya tidak terlalu kepingin. Oh iya, bandeng asap dan otak-otak bandeng juga tidak ketinggalan diangkut. Yummm, terpuaskan sudah keinginan makan bandeng asap dan otak-otak bandeng.

Nah, karena adik akan lumayan lama liburan di Belanda (dan nanti ke beberapa negara tetangga juga), maka saya sudah menyiapkan daftar tempat mana saja yang akan dikunjungi. Tentu saja saya ikut mengantar disesuaikan dengan jadwal kerja dan cuaca di Belanda. Beruntung juga kerja paruh waktu sehingga bisa menemani adik berkeliling ke beberapa tempat wisata. Tapi yang jadi agak hambatan adalah cuaca. Akhirnya kalau hujan sedangkan saya tidak jadwal kerja, kami hanya berdiam di rumah. Tapi berdiam di rumah akhirnya jadi ajang cerita seru, banyak bercerita yang terlewatkan selama 2.5 tahun tidak saling bertemu karena kalau cerita di telfon kan terbatas waktu.

Madurodam - Den Haag
Madurodam – Den Haag
Miniatur Schiphol lengkap dengan pesawat yang beroperasi
Miniatur Schiphol lengkap dengan pesawat yang beroperasi

Minggu lalu saya mengajak adik ke tempat kerja karena mumpung cuaca cerah jadi saya berencana ke tempat wisata yang selama ini saya ingin kunjungi tetapi malas kalau sendirian ke sana. Sedangkan suami tentu saja tidak mau ke sini karena menurut dia terlalu turistik. Suami bilang nanti saja kalau Adik dan Ibu ke Belanda, saya bisa pergi sama-sama ke sini. Jadi setelah selesai kerja, saya dan adik langsung ke tempat wisata yang nampaknya wajib dikunjungi kalau ke Belanda atau paling tidak kalau berkunjung ke Den Haag. Tempat ini tidak jauh dari rumah kami bahkan beberapa kali saya selalu melewati depan bangunannya kalau sedang bersepeda dengan suami ke arah pantai Scheveningen. Akhirnya ada kesempatan juga mengunjunginya.

Madurodam
Madurodam

Saya dan Adik mengunjungi Madurodam. Jadi tempat ini adalah lokasi yang memajang miniatur tempat-tempat dan bangunan-bangunan bersejarah dan terkenal di seluruh Belanda. Entah kenapa sejak pertama datang ke Belanda saya selalu penasaran dalamnya Madurodam itu seperti apa. Untuk mencapai Madurodam, dari Den Haag Centraal bisa ditempuh dengan menggunakan tram no.9 arah Scheveningen dan berhenti di halte Madurodam. Saran saya, untuk membeli tiket masuk Madurodam, lebih baik membeli secara online karena akan mendapat potongan harga sebesar €3 sekaligus tidak perlu lagi mengantri panjang apalagi kalau musim liburan sekolah atau sedang musim panas. Waktu kami ke sana, sedang musim liburan sekolah. Tak heran isinya anak-anak kecil di mana-mana. Tapi itu tidak mengurangi ke khusyukan saya mengelilingi area Madurodam meskipun tidak bisa semuanya karena cuaca yang sangat panas sekali. Tak kuat saya, lelah akhirnya menunggu adik yang berputar ke seluruh area sambil makan popcorn dan memperhatikan anak-anak kecil kegirangan melihat beberapa miniatur yang bisa bergerak jika ada koin yang dimasukkan.

Madurodam - Den Haag
Madurodam – Den Haag
Miniatur pabrik klompen yang bisa mengeluarkan mini klompen
Miniatur pabrik klompen yang bisa mengeluarkan mini klompen trus diangkut dengan mini truk. Gemes deh lihatnya.

Masuk ke Madurodam ini seperti membangkitkan kenangan masa kecil yang selalu kegirangan jika melihat mainan. Apalagi melihat miniatur bangunan yang saya bayangkan seperti mainan yang bisa digerakkan. Melihat miniatur bandara Schiphol dengan pesawat KLM yang bisa bergerak, pabrik klompen yang bisa mengeluarkan klompen sungguhan, pabrik coklat yang mengeluarkan coklat mini. Saya jadi tidak berhenti menyunggingkan senyum selama di sana. Entah kenapa, girangnya bukan main. Apalagi kalau melihat mini kereta api yang sedang melintas, senang bukan kepalang. Kalau tidak karena cuaca panas yang bikin saya gerah, mungkin selama 3 jam kami di sana, bisa berkeliling ke seluruh area. Adik saya yang mengelilingi seluruh area yang memang tidak terlalu luas, juga merasa senang dengan Madurodam. Fasilitas di dalam Madurodam juga sangat membuat pengunjungnya nyaman. Toilet bersih dan tidak bau (penting bagi saya) serta gratis, beberapa tempat makan, kursi-kursi yang nyaman untuk beristirahat, disediakan stroller gratis juga bagi yang punya anak kecil dan tidak membawa stroller. Jalan setapaknya juga ramah bagi penyandang disabilitas.

Jadi jika ada yang sedang berkunjung ke Den Haag dan tertarik melihat miniatur negara Belanda, bisa berkunjung ke Madurodam. Meskipun buat saya tiketnya terbilang tidak murah, tapi wajib saya kunjungi karena tinggal tidak jauh dari sini. Buat bahan cerita, gitu haha. Saya sampai mengirim foto di depan Madurodam ke teman jalan di Belanda dengan keterangan. “Sah jadi turis dan sah tinggal di Belanda karena sudah berkunjung ke Madurodam!!”

Yiaayyy!! Sudah sah jadi turis dan sah tinggal di Belanda 😅
Yiaayyy!! Sudah sah jadi turis dan sah tinggal di Belanda 😅 Muka mencureng karena silau kepanasan

-Nootdorp, 23 Juli 2017-

After the Dutch 2017 Election

When reading through the international comments on the Dutch parliament elections there is an international and general sense of relief and even happiness. The movement of “extreme right populism” as it recently gained victories in the UK (Brexit referendum) and the USA (President Trump’s election) seems to have be put to a halt in The Netherlands. The main reason for this optimism was the small rise in seats for Geert Wilder’s PVV (Party for Freedom, from 15 to 20) where until recently explosive growth was expected. Wilders’ PVV is now the second party in the Netherlands after Mark Rutte’s VVD (Popular Democratic Party). Rutte’s VVD lost a small number of seats (8) yet remains the biggest party in the Netherlands.

So Wilders gained a few seats but his role in the political arena is over after yesterday’s election results. Rutte already indicated that a collaboration between his VVD and Wilders’ PVV  would not be in question. In the Netherlands political parties have to seek collaborations to hold a majority (minimal 76 of the 150 seats) in the “Tweede Kamer” (the House of Parliament).

Wilders was remarkably absent in the recent campaign: a few TV shows, a few public appearances and not even a joint gathering of his PVV party members to watch the election results come in which is a common procedure for Dutch political parties. It is to guess why Wilders followed this strategy: did he think that social media would do for him what it had done for Trump? Where there issues surrounding his security? Or did he deliberately seek to fight his political arguments from the opposition ranks and was he scared his movement would become too big to handle? Although only Wilders himself could answer these questions, it becomes clear that Wilders will never lead a Dutch government administration. He is unfit to propose proper solutions for his sharp criticism of developments within Dutch society. He failed to bind influential figures of Dutch society to support his party and its policies.

The biggest loser yesterday was PvdA (The Labour Party). The party was decimated (from 38 to 9 seats) although it does not necessarily mean that its strong tentacles within the government, NGO’s and media now suddenly have disappeared. The seats that PvdA lost went to other left-wing and center parties like GroenLinks (Green Party), D66 (Democratic Party) and CDA (Christian Party). This means that PvdA lost its attractiveness to the voters, but it does not mean that their defeat will lead to radical changes in the political landscape.

So the conclusion is that the result of the election will be foremost a continuation of the status quo of Dutch “kartel parties” so called by new comer Forum voor Democratie (from 0 to 2 seats). ‘Kartel parties’  is the conglomerate of institutionalised parties that already reign over the Dutch politics in different combinations for many decades.

The large majority of the Dutch voters still seem to approve the current political situation. There is little interest in controversial subjects like abolishing the Euro or leaving the EU (Nexit). For now they seem to comfortably close their eyes for the big issues that sooner or later will be knocking at their doors: the high amounts of immigrants, the stability of the EU and Euro and last but not least, the internal stability of a segregated society where different populations hold their own ideas about their loyalty to the Netherlands. Last week events in the Netherlands surrounding the visit of Turkey’s ministers and the commotion it caused afterwards are strong indicators  about the current state of things and what is likely to be expected to happen more intensively and more often in the near future.

Other election events in 2017 (Germany, France) will give further indicators if citizens of those EU countries wish to continue the current direction of their political leaders or whether they are already prepared for more dramatic measures.

Den Haag, 16 maart 2017

A happy and healthy 2017!

As the final hours of 2016 here in the Netherlands are ticking away I wish all the readers of our blog a very happy and healthy 2017!

2017 will be a very important year for the people of the Netherlands and Indonesia.

In the Netherlands people feel more and more the (financial) stress of the situation from the unstable economic situation within the European Union and with the Euro. There are many uncertainties around the influx of immigrants from Syria and other Arabic and African countries that could lead to tensions with the Dutch citizens when it comes to social matters (like housing) and cultural differences. In March we will have elections in The Netherlands and I have recently become involved with a new and fresh political party so this promises to be a new and busy experience for me!

In Indonesia I feel worried about what I read in the press about the events concerning the Jakarte governor Mr. Ahok. It would be a very sad situation if religious circumstances would challenge the stability of Indonesia. Religion should not be a reason to silence opinions from individuals or groups in a society. I hope for 2017 that the situation in Indonesia stabilizes and the different religious groups can return to live peacefully and practice their religion with respect to the each other.

Nootdorp, 31 december 2016

Sehari Menjadi Turis di Edam, Volendam, dan Marken

Klompen yang sudah jadi

Saya kembali memeriksa isi tas dan memastikan tidak ada satu barangpun yang tertinggal, terutama dompet dan tiket kereta. Setelah berpamitan pada suami, kaki tergesa melangkah ke stasiun kereta dekat rumah. Saya berharap tidak tertinggal kereta karena tadi begitu sibuk menyiapkan beberapa pepes ikan asin peda dan sambel teri, pesanan dua orang teman. Ikan asin peda saya buat sendiri karena saat beli ikan di pasar ternyata jumlahnya terlalu banyak untuk dimakan sendiri, akhirnya saya punya ide kenapa tidak dibuat ikan asin saja, mumpung sinar matahari sedang berlimpah satu minggu ini pada bulan Agustus. Setelah menjadi ikan asin lalu saya buat pepes dan saya jual kepada dua orang teman yang sebelumnya sudah memesan sambal teri. Lumayan hasilnya bisa saya buat jalan-jalan. Aroma pepes dan sambel teri menguar dipangkuan saat saya sudah duduk di dalam kereta. Saya berharap aroma ini tidak sampai mengganggu penumpang lainnya. Cukup saya saja yang bisa menciumnya.

Setelah berganti kereta, saya mencari tempat duduk dekat jendela, tempat favorit. Masih jam delapan pagi dan aplikasi prakiraan cuaca mengatakan bahwa hari ini hujan tidak akan datang dan suhu berkisar 15 derajat. Untuk ukuran bulan Agustus, seharusnya suhu bisa lebih dari ini. Tapi dengan tidak hujan saja sudah lebih dari cukup, apalagi saya melihat semburat matahari. Bisa kacau rencana hari ini kalau sampai hujan turun. Melalui jendela kereta, saya menikmati suasana pagi sepanjang jalan. Sapi dan domba yang merumput, rumah-rumah mungil tertata rapi, area pertanian, gedung-gedung perkantoran, dan tak luput saya amati juga kegiatan penumpang yang di dalam kereta. Ada yang sibuk membaca buku, asyik mendengarkan musik, berbincang, dan ada yang menikmati sarapan paginya yaitu roti dan segelas kopi. Tiba-tiba saya kangen sarapan nasi pecel pakai peyek teri.

Jam 9 pagi, kereta sampai di Amsterdam Centraal. Saat kaki keluar dari kereta, kepala mulai menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok seorang teman. Ah, dia sudah berdiri di dekat papan pengumuman. Setelah berbincang sesaat, kami lalu bergegas ke kantor informasi turis (VVV) yang berada tepat di depan Stasiun Amsterdam. Ya, hari ini kami akan menjadi turis sehari dengan mengunjungi beberapa tempat tujuan favorit para turis kalau sedang berkunjung ke Belanda. Tempatnya tidak jauh dari Amsterdam. Dengan berbekal tiket bis terusan seharga €9 yang bisa dipakai selama 24 jam serta mempunyai fasilitas wifi gratis dan peta yang kami dapatkan dari VVV, kami akan mengunjungi tiga tempat yang menjadi bagian dari Waterland. Tempat yang akan kami kunjungi adalah Edam, Volendam, dan Marken. Sebenarnya tempat-tempat yang jadi bagian Waterland selain yang saya sebutkan tadi adalah Monickendam, Purmerend, Broek in Waterland, Middenbeemsteer, Graft-De Rijp, Hoorn, dan Landsmeer. Info lengkap tentang rute bus bisa dilihat langsung di website ini. Tiket bus selain bisa dibeli di kantor VVV, juga bisa dibeli online, dan dengan membeli langsung ke sopir di dalam bis. Tidak harus membeli tiket terusan jika memang tujuannya tidak mengunjungi semua tempat itu. Tapi kalau mengunjungi tiga tempat, seperti yang kami lakukan, lebih menghemat kalau membeli tiket terusan saja.

EDAM

Tentu saja saya sangat antusias dengan tujuan jalan-jalan kali ini. Saya sudah mengajak suami untuk mengunjungi beberapa tempat ini sejak setahun lalu, tapi dia nampak tidak antusias. Dia selalu beralasan kalau Volendam itu sangat ramai dengan turis. Tapi kan tidak afdol rasanya kalau saya tidak ikut berkunjung ke tempat yang menjadi daya tarik turis. Untung saja saya punya teman yang suka kelayapan juga, yang pernah saya ceritakan pada tulisan kunjungan ke Kinderdijk. Akhirnya kesampaian juga berkunjung ke Edam, Volendam, dan Marken. Bisa saja saya bepergian sendiri, tapi kalau ada teman yang sejiwa akan semakin seru.

Tujuan pertama kami adalah Edam. Kalau yang suka sekali dengan keju, pasti tidak asing dengan keju Edam. Ya, Edam adalah salah satu tempat penghasil keju di Belanda. Saya pernah menuliskan tempat lain penghasil keju di blog ini, yaitu Gouda. Edam adalah kota kecil yang ada sejak abad ke-12 saat petani dan nelayan mulai menetap di sepanjang sungai Ye. Kota kecil ini berkembang menjadi sebuah kota yang semakin makmur pada abad ke- 17. Kapal memainkan peranan yang penting dalam pertumbuhan ekonomi di Edam. Setelah membuat 33 kapal, Edam menghasilkan banyak kapal yang terkenal di dunia. Salah satunya adalah “Halve Man”, kapal milik orang Inggris Henry Hudson, yang berlayar pada tahun 1609 untuk mencari rute utara menuju Hindia Timur. Perjalanan yang sia-sia karena akhirnya dia berakhir di pulau Manhattan. Selain kapal, perdagangan juga memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi di Edam. Amsterdam, Hoorn, Enkhuizen, dan Edam adalah kota-kota komersil yang penting di Belanda.

Edam
Edam
Edam
Edam
Edam
Edam
jajaran-rumah-di-edam
jajaran-rumah-di-edam

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, asosiasi kata yang langsung muncul di kepala saat disebutkan Edam adalah keju. Selama berabad-abad keju Edam sudah tersohor di seluruh dunia. Edam juga terkenal dengan pasar keju yang ada setiap musim panas, setiap hari rabu. Pada saat kami ke sana, ada jadwal tambahan pasar keju. Sayangnya pasar keju tersebut baru dimulai jam 5 sore, jadi kami tidak bisa menyaksikan. Kami masuk ke salah satu toko keju dan saya memutuskan untuk membeli keju rasa pesto, oleh-oleh untuk suami. Sedangkan teman saya selain membeli keju rasa pesto juga membeli rasa yang lainnya. Dia mencoba contoh-contoh keju yang disediakan, menurutnya yang rasa daging asap juga enak, ada yang rasa cabai juga.

Edam
Edam
Tempat Pasar Keju
Tempat Pasar Keju
Timbangan Keju
Timbangan Keju
De Kaasdragers
De Kaasdragers

Kami bisa membayangkan bagaimana keadaan Edam berabad-abad lalu. Menyusuri rumah-rumah dan jalan-jalan tua di Edam, melewati sungai-sungai kecil, berhenti di depan gereja yang merupakan salah satu gereja terbesar di Belanda dan singgah ke beberapa toko yang ada hanya sekedar melihat saja, membuat waktu tak terasa berjalan cepat. Hampir dua jam kami habiskan di Edam. Tidak terlalu banyak turis yang berkunjung, jalanan tidak terlalu ramai, sehingga kami bisa menikmati Edam dengan leluasa.

Edam
Edam
Ngaso sejenak, nunggu tukang jualan tahu tek lewat :D
Ngaso sejenak, nunggu gerobak abang nasi goreng lewat 😀

VOLENDAM

Setelah dari Edam, kami melanjutkan perjalanan ke Volendam. Dari kota kecil yang tidak terlalu ramai, tiba di Volendam suasana langsung berubah, kontras berbeda. Volendam sangat terkenal di kalangan turis, sepertinya semua turis dari penjuru dunia tumplek blek di sini. Rame sekali. Tidak mengherankan karena ada yang mengatakan bahwa jika ingin melihat keindahan Belanda, pergilah ke Volendam. Desa nelayan ini terletak arah timur laut dari Amsterdam, terkenal dengan rumah berwarna warni dan kapal-kapal tua yang bersandar di pelabuhan. Selain itu, di Volendam juga ada pabrik keju. Kita bisa masuk dan melihat proses pengolahan keju, membeli hasil keju, atau masuk ke museum keju. Volendam ini adalah tempat favorit yang nampaknya wajib dikunjungi oleh turis dari Indonesia. Namun hari itu kami tidak bertemu satupun orang Indonesia.

Volendam
Volendam
Ramainya Volendam
Ramainya Volendam
Volendam
Volendam
Jajaran kapal tua, mengingatkan akan Sunda Kelapa
Jajaran kapal tua, mengingatkan akan Sunda Kelapa
Pabrik keju Volendam
Pabrik keju Volendam
Museum
Museum

Keju beraneka rasa di pabrik keju Volendam
Keju beraneka rasa di pabrik keju Volendam

Hal lainnya yang terkenal dari Volendam adalah pakaian tradisional Belanda. Kita bisa mengenakan pakaian tradisional Belanda lengkap dengan klompen serta latar belakang negeri Belanda dan mengabadikannya dalam foto di banyak studio foto di Volendam. Kami masuk ke salah satu studio foto dan melihat kisaran harganya. Salah satu pegawainya mengenali kalau kami berasal dari Indonesia. Dia lalu mengatakan bahwa 70% pengunjung studionya adalah orang Indonesia. Saya tidak bertanya lebih lanjut 70% tersebut dari total berapa pengunjung selama rentang waktu berapa lama. Tetapi dengan melihat beberapa wajah yang saya kenali lewat televisi terpampang di etalase semua studio foto, semakin meyakinkan saya bahwa Volendam memang salah satu tempat wajib dikunjungi oleh turis dari Indonesia. Teman saya sampai terbahak ketika melihat wajah Maya Rumantir dan bertanya tahun berapa foto tersebut sudah ada di sana karena wajah Maya Rumantir masih sangat muda. Dengan membayar €15 untuk satu kali jepret dengan ukuran standar (saya lupa berapa), maka kita sudah punya bukti pernah ke Volendam. Bagaimana dengan kami? Mungkin lain kali kami akan kembali ke Volendam, khusus untuk foto dengan pakaian tradisional Belanda.

Salah satu studio foto di Volendam
Salah satu studio foto di Volendam
Ada wajah yang dikenali?
Ada wajah yang dikenali?
Mungkin karena banyaknya turis Indonesia di Volendam, sampai dibuat tanda dalam bahasa Indonesia
Mungkin karena banyaknya turis Indonesia di Volendam, sampai dibuat tanda dalam bahasa Indonesia

Jadi, jangan lupa kalau ke Volendam untuk foto mengenakan pakaian tradisional Belanda, biar dikatakan sah pergi ke Belanda.

MARKEN

Kami menuju Marken menggunakan kapal dengan membayar €7.5 untuk sekali jalan dan tiketnya bisa langsung beli di tempat. Jika memilih pulang pergi maka harga kapal menjadi €9.95. Kami memilih untuk membeli tiket kapal sekali jalan karena kami tidak akan kembali lagi ke Volendam dan setelah dari Marken akan menggunakan Bus untuk melanjutkan perjalanan karena masih punya tiket terusan. Kapal berangkat setiap 30 menit. Jika ingin pergi menggunakan Bus dari Volendam ke Marken, juga bisa. Karena cuaca mendung dan angin lumayan kencang, saya menggigil kedinginan selama perjalanan 20 menit menuju Marken, ditambah lagi saya tidak membawa jaket. Bersyukurnya di tengah jalan tidak hujan.

Tempat kapal menuju ke Marken
Tempat kapal menuju ke Marken
Marken
Marken
Marken
Marken

Dari hiruk pikuk Volendam, sesampainya di Marken suasana kembali sunyi. Marken tidak terlalu banyak dikunjungi turis. Marken adalah sebuah desa bagian dari wilayah Waterland dengan jumlah penduduk 1.810 pada tahun 2012. Marken membentuk sebuah semenanjung di Markermeer dan sebelumnya sebuah pulau di Zuiderzee. Marken dipisahkan dari daratan setelah mengalami gelombang badai pada abad ke-13. Dulu mata pencaharian utama penduduk Marken adalah nelayan, sedangkan saat ini juga ditunjang dari sektor pariwisata. Dulu banjir kerap datang ke Marken, karenanya tipe rumah di Marken adalah rumah panggung. Kita akan menemui banyak jembatan di Marken dan uniknya jembatan-jembatan ini diberi nama dari nama-nama anggota keluarga kerajaan seperti Maxima, Beatrix, Amalia, dll.

Marken
Marken
Marken
Marken
Marken
Marken
Jembatan-jembatan di Marken diberi nama anggota keluarga kerajaan
Jembatan-jembatan di Marken diberi nama anggota keluarga kerajaan

Suasana di Marken sangat tenang. Menyusuri setiap sudutnya, mata dimanjakan oleh tata letak rumah yang sangat rapi dan berwarna nyaris seragam yaitu hijau. Saking sepinya Marken, saya sampai bilang tidak mungkin ada orang Indonesia yang tinggal di sini. Ternyata dugaan saya salah besar. Dari salah satu rumah, saya mendengar ada yang berbicara menggunakan Bahasa Indonesia (dengan logat Jawa). Ketika kami mengintip dari sela-sela pagarnya ternyata memang ada beberapa orang Indonesia di sana. Kami sampai mengikik, tidak menyangka ada orang Indonesia yang tinggal di Marken.

Marken
Marken
Toko dan tempat pembuatan klompen
Toko dan tempat pembuatan klompen
Tempat pembuatan klompen
Tempat pembuatan klompen. Yang diatas itu klompen yang sudah dibentuk tetapi belum dipercantik.

Jika berkesempatan mengunjungi Marken, jangan lewatkan untuk mampir ke tempat pembuatan klompen. Selain bisa menyaksikan langsung bagaimana klompen dibuat, kita juga bisa langsung membeli klompen dengan berbagai ukuran dan beraneka rupa warna. Selain sebagai oleh-oleh, klompen yang berada di sana juga bisa digunakan sebagaimana fungsi klompen yaitu sebagai alas kaki. Sayang sewaktu kami ke sana, proses pembuatannya sedang tidak berlangsung. Saya mengincar klompen kecil, rasanya ingin kalap membeli kalau tidak ingat harganya yang sudah disesuaikan dengan harga turis.

Klompen yang sudah jadi
Klompen-klompen yang sudah jadi

Perjalanan kami menyusuri Edam, Volendam, dan Marken berakhir saat jam menunjukkan angka lima disore hari. Perjalanan yang menyenangkan karena akhirnya tahu tempat-tempat yang menjadi favorit turis jika datang ke Belanda. Sehari menjadi turis di tempat yang turistik. Kami bergegas menuju halte bus yang akan membawa kami menuju ke Amsterdam Centraal. Sepanjang jalan perut kami keruyukan mencium aroma pepes dan sambal teri. Ingin segera rasanya sampai di rumah seorang teman yang sudah siap menyambut kedatangan kami dengan beraneka ragam masakan Indonesia. Sabtu kami ditutup dengan perbincangan dan gelak tawa sembari menikmati hangatnya nasi, tempe tahu goreng, balado terong, sambel terasi, ikan goreng, dan oseng ikan asin.

Marken
Marken

Jika suatu saat ada kesempatan ke Belanda, kalian ingin berkunjung kemana?

Sumber : Edam , Marken , Volendam

-Den Haag, 2 November 2016-

Semua foto dokumentasi pribadi

Keindahan Naarden, Kota di Dalam Benteng

Het Arsenaal Restaurant

Naarden adalah kota dan kotamadya yang terletak di provinsi Noord Holland, dimana kotanya berbentuk menyerupai bentuk bintang. Naarden terletak 24 km atau sekitar 30 menit berkendara dari Amsterdam. Kota kecil ini dikelilingi oleh benteng dan menjadi contoh yang terkenal di Eropa selama abad ke-16. Benteng di Naarden yang berbentuk bintang, lengkap dengan dinding berlapis dan parit di sekelilingnya. Kondisi benteng ini masih sebagus saat pertama kali dibangun, yaitu 5 abad yang lalu, meskipun pernah mengalami renovasi pada beberapa bagian. Bahkan sampai saat ini, Naarden adalah salah satu kota yang mempunyai benteng terbaik di Eropa

Naarden dilihat dari atas (Sumber : https://nl.pinterest.com/vestingmuseum/naarden-vesting/)
Naarden dilihat dari atas (Sumber : https://nl.pinterest.com/vestingmuseum/naarden-vesting/)

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk berkunjung ke Naarden. Bukan kunjungan yang disengaja untuk jalan-jalan karena saya ikut suami yang sedang ada keperluan kerja di Naarden. Kami berdua baru pertama kali ke sini. Beberapa jam sebelum berangkat, suami sempat mencari informasi apa saja yang bisa dilihat di sana, supaya saya bisa jalan-jalan sendiri sementara dia menyelesaikan urusannya. Ternyata dia menemukan beberapa fakta yang menarik tentang kota di dalam benteng ini.

Berjalan di atas bangunan benteng
Berjalan di atas bangunan benteng
Sungai kecil yang mengelilingi Naarden
Sungai yang mengelilingi Naarden
Salah satu taman di Naarden
Salah satu taman di Naarden
Sungai kecil yang mengelilingi Naarden
Sungai yang mengelilingi Naarden

Pada abad ke-17 saat Raja Perancis Louis XIV dengan bantuan sekutu-sekutunya : Inggris, Cologne, dan Munster, menyerbu Belanda, Naarden dapat diambil alih dengan mudah. Pada saat itu, Belanda merupakan negara yang penting di Eropa Barat karena kekuatan ekonomi dan politik yang dimilikinya. Mereka menguasai Utrecht dan menjadikan kota ini sebagai basis untuk menguasai seluruh Belanda. Sangat disayangkan niat mereka tidak terlaksanakan dengan baik karena beberapa saat kemudian Belanda mengalami tragedi banjir yang sangat besar sehingga menyebabkan mereka susah untuk bergerak. Pada tahun 1673, Naarden kembali ke tangan Belanda dan setelahnya mengalami renovasi di beberapa bagian dengan standar modern.

Naarden
Naarden
Hotel de Ville
Hotel de Ville
De Grote Kerk (Gereja)
De Grote Kerk (Gereja Besar). Kita bisa melihat sekeliling Naarden dari tower di dalam Gereja ini. Sayang waktu kami ke sana bukan jadwal tower ini buka.
Het Spaanse Huis
Het Spaanse Huis

Menyusuri pusat kota Naarden saat jam kerja mungkin pilihan yang tepat karena jalanan sangat sepi. Atau memang keseharian di kota ini juga sepi, saya juga tidak tahu pasti. Tetapi ada untungnya juga kalau suasana sepi seperti ini. Saya bisa mengamati perlahan setiap bangunan yang saya lalui. Merasakan lengangnya jalanan utama, melihat restoran yang menampakkan geliat aktifitasnya saat jam menunjukkan pukul satu siang, dan beberapa toko yang masih tutup, tidak ada tanda-tanda akan membukakan pintu untuk pelanggan yang akan berkunjung. Kota ini tidak terlalu populer dikalangan turis nampaknya. Saat saya datang ke kantor informasi turis, hanya ada dua orang yang memegang peta kota Naarden, yang bisa didapatkan secara gratis di kantor ini. Dan mereka berbincang menggunakan bahasa Belanda.

Naarden
Naarden
Het Arsenaal. Tempat ini dulunya adalah gudang untuk peralatan militer, khususnya senjata dan amunisi. Pada tahun 195 terjadi kebakaran hebat. Ada beberapa bagian dari gedung yang bisa terselamatkan. Sampai tahun 19, gedung ini menajdi milik militer. Saat ini Het Arsenaal meruakan kantor dari arsitek ternama di Belanda yaitu Jan Des Bouvrie
Het Arsenaal  (=gudang). Tempat ini dulunya adalah gudang untuk peralatan militer, khususnya senjata dan amunisi. Pada tahun 1954 terjadi kebakaran hebat. Ada beberapa bagian dari gedung yang bisa terselamatkan. Sampai tahun 1987, gedung ini menjadi milik militer. Saat ini Het Arsenaal merupakan kantor dari arsitek ternama di Belanda yaitu Jan Des Bouvrie.
Het Arsenaal
Het Arsenaal
Het Arsenaal Restaurant
Arsenaal Restaurants
Dinding yang bertuliskan puisi. Mengingatkan akan Leiden yang mempunyai banyak dinding yang ditulis puisi dari penyair-penyair dunia, termasuk Chairil Anwar
Dinding yang bertuliskan puisi. Mengingatkan akan Leiden yang mempunyai banyak dinding yang ditulis puisi dari penyair-penyair dunia, termasuk Chairil Anwar

Meskipun tidak sampai dua jam singgah di Naarden, kota ini meninggalkan kesan yang tersendiri untuk saya. Bukan hanya karena  sejarahnya dan tata kotanya yang unik, tetapi juga saya bisa melihat secara langsung satu-satunya benteng di Eropa yang mempunyai dinding ganda dan parit (Sumber : Amusing Planet). Selain itu, ada alasan lainnya yaitu karena saya selalu tertarik dengan kota-kota kecil dan tidak terlalu ramai turis.

Jika ingin mengetahui sejarah tentang Naarden, bisa mengunjungi Nederlands Vesting Museum
Jika ingin mengetahui sejarah tentang Naarden, bisa mengunjungi Nederlands Vesting Museum
Kantor informasi turis (VVV)
Kantor informasi turis (VVV)
Utrechtse Poort (Gerbang ke Utrecht)
Utrechtse Poort (Gerbang ke Utrecht)

Di kota sekecil ini, ada restoran yang menyediakan makanan Indonesia
Di kota sekecil ini, ada restoran yang menyediakan makanan Indonesia
Naarden
Naarden

Jika sedang berkunjung ke Belanda atau ada rencana ke Belanda, Naarden bisa dijadikan pilihan kota untuk disinggahi. Mencari suasana lain, menepi dari ramainya kota-kota turistik yang ada di Belanda.

-Den Haag, 30 Oktober 2016-

Semua foto adalah dokumentasi pribadi

Thierry Baudet: about national identity and political reforms

October 18th I attended a presentation of Thierry Baudet, a Dutch intellectual and since recently aspiring a political career. Baudet is in the Netherlands known as one of the initiators of the ‘Ukraine referendum’ from April 2016.  Dutch citizens could vote in favor or against a trade association between the Ukraine and the EU. The referendum resulted in a strong ‘against’. Afterwards the Dutch government struggled -and failed so far- to find a clear and decisive response to other EU members concerning the verdict of the Dutch referendum. The referendum was unique: it was the first of its kind based on new legislation that allowed Dutch citizens to organize a referendum for new bills that had passed both chambers of the parliament.

The April referendum sparkled interest from the Dutch public in the affairs of politics, the first time since the rise of Pim Fortuyn’s LPF party in 2001. After Fortuyn’s was brutally murdered in May 2002 the interest of the Dutch in political affairs gradually waned over the years. In his presentation Baudet outlined that the success of the Ukraine referendum called for more permanent referenda: not only for new bills but also the possibility to organize referenda to re-evaluate existing bills. This raised the question from the audience if ‘referenda activists’ could frustrate the democratic process and make any kind of legislation impossible or questionable by provoking referenda.

Through a series of books Baudet’s intellectual baggage and ideas about politics gradually evolved. He concluded that for citizens of a country it is important to have a national identity. Baudet considers this national identity essential for a democratic process within the nation. Yet in his opinion a small, powerful elite in Dutch society acts reversely as they consider a national Dutch identity to be a burden from the past. A past when the Dutch nation gathered much of its wealth as a colonizing nation, slave transporter and introducing ‘racist’ phenomena like Zwarte Piet (the assistant of Sinterklaas). This elite, though small in numbers, has its tentacles in all important Dutch social and political institutions. It controls education facilities (from kindergarten to university), traditional media (radio, television, papers) and has a strong presence in all levels of civil administration and subsidized non-governmental institutions The most conspicuous manner to undermine the national identity and to replace it with a new one is their strive for a new multicultural European identity. The introduction of the Euro as a common currency was a remarkable exponent to aim for such a shared European identity. The allowance of mass immigration is another key policy in undermining the belief in a national identity.

According to Baudet most citizens from an individual perspective have a very good intuition about what is ‘wrong’  or ‘right’ to contain the stability of the nation and to keep their national identity. Yet the Dutch citizens have no platform or means to express their intuition. On contrary, they are often being marginalized or criminalized by the elite for expressing challenging opinions. On a personal level Baudet notes that for him and other intellectuals it became impossible to express their opinion through traditional media outlets. Baudet told he became an outcast in the world of Dutch universities, while universities should be the ultimate place for debate on social and political matters from all points of view.

From intellectuals educated in Dutch universities, again according to Baudet, no miracles could be be expected to oppose the views of the elite. These intellectuals are educated in the universities and think along the lines developed by their teachers in the 60’s and 70’s. They want to invent, plan, regulate and control every aspect of social and economic life. For them the unpredictability of the free market consisting of its small and autonomous parts is a horrendous thought.

Baudet explained his decision to join with his Forum voor Democratie next year’s Dutch parliament elections. In the past he was not interested in becoming involved in the field of politics. The inability of Dutch politicians to renew and reform within made him change his mind. His Forum voor Democratie now wants to join the political world in order to reform and break out from within the political system. Besides expanding the possibilities of referenda other targets included an elected mayor. Mayors for Dutch cities are nowadays chosen from the small political elite. Dutch citizens should directly influence politics through the use of digital technology: a dashboard should indicates the current status and opinions of important political subjects.

Baudet’s ideas are interesting and at the same time they leave one wondering about consistency and practicality of his ideas. His thoughts about the nation state and national identity are applicable to many nations within the Western hemisphere and do not particularly apply to the Dutch situation alone. So this might need to further investigation why they face similar tendencies as in the Netherlands.

Personally my belief is that the nation state as an instrument of identity will become less relevant in a not too distant future. As the world opens up, physically and virtually people will adapt themselves to new identities from completely different perspectives and for example adapt to virtual identities (something we already can witness with the growth of social media groups). As people consider the world a commonplace to work and live in, new identities will arise from those perspectives too. The combination of the continuation of the importance of an identification with the nation state in comparison to a rapidly changing world through digital innovation seems to me a bit weird. I do agree though with Baudet it is silly to keep the processes of democracy embedded in a 19th century world when many of the nation states emerged. The same digital innovations open up completely new ways to improve the democratic process.

A second thought was if Baudet’s ideas will really appeal to an already lukewarm audience or will they die in theoretical and idealistic beauty? Participating in daily political affairs opens an opportunity to realize reforms, but within the crowded Dutch political landscape with its many political parties there is a big risk that ideas will get lost in watery compromises. There is the famous example of D66, a political party started 50 years ago with similar and radical plans to reform politics from within the system. Nothing substantial from their original revolutionary ideas ever materialized. D66 is nowadays considered to be part of the Dutch political elite, having dropped all of its initial principles.

-Den Haag, 19 Oktober 2016-

What about this ‘Brexit’?

As you will have noticed news about the ‘Brexit’ (an acronym of Britain and exit) has been flooding the (social) media since the result of the referendum became clear and more or less surprisingly a majority of the British population voted for a ‘leave’. As Deny asked me about this, we discussed it might be a good idea to give some informations about the background, motives and consequences of the Brexit. It might contribute to understanding the current situation in Europe.

As a consequence of the Second World War large parts of Europe were in shambles and this war caused an extremely high number of casualties. Among them were millions of innocent civilians killed in bombardments of the European cities or in concentration camps. After the war there was a sentiment that a repetition of such events should be prevented at all cost. The most obvious way to prevent these events should be accomplished by an intensive collaboration between the countries of Europe, so the urge to go to war to settle conflicts would faint. This was actually easier said then done, because right after the war Europe became divided into two large spheres of influences: the capitalist Western-Europe with countries liberated by the Allied forces (mostly Americans, Canadians and English) and a communist Eastern-Europe with countries liberated by the Soviet-Union (nowadays Russia). In this image you can see which countries belonged to which side. Germany and its capital Berlin were split in two: one side controlled by the Allied forces and one side by the Soviet-Union.

Unit11_map_Cold_War_Europe_1
Europe divided between East and West after World War II Source: fasttrackingteaching.com

This divide meant that in the West and East separate initiatives were taken to come to a more intensive collaboration. In the 1950s Western-Europe made progress with collaboration on economical matters like abolishing import duties between its member states. The group of collaborating countries was gradually expanded and among those new countries was the United Kingdom joining in 1973. The collaboration between the United Kingdom and the other members would however always remain stressful, mainly because the United Kingdom objected the height of their contribution to the collaborative efforts.

In the 1990s important events happened for the collaborative efforts of the European countries. One was among the collaborating countries from Western-Europe itself. Besides the economic aspect there was an urge to pursue a tighter social and political integration between the countries. The collaborative effort would now take place within the European Union (EU), the official name since 1992. Border controls would be largely removed (the Schengen treaty) and political institutions like the parliament that already had been established since the 1970s would become more influential. The European Union would design its own laws on a number of subjects and these laws would prevail over national laws of the individual member countries. Brussels would become the center were the main political institutions of the European Union were established. This centralization of power led to a sharp increase of people who would be working for the European Union. For many politicians from the individual member states a career in Brussels would become the highest fulfilment of their political ambitions and lucrative from a financial perspective (high salary and many other benefits).

Another important development in Europe was the implosion of the Soviet-Union. This implosion would lead to the disappearance of the Eastern sphere of influence. The reunification of Germany and independence for a big number of countries that previously had been occupied by the Soviet-Union came out as a result of these developments. Many of these countries would eventually join the European Union. By 2016 the European Union already consisted of 28 countries as can be seen in this image.

EU Map
The 28 members of the European Union. Source: BBC

Without any doubt one of the biggest achievement of the European collaboration was the introduction of the Euro in 2002. This would mean that participating countries would give up their national currencies (for example Germany its Mark, Netherlands its gulden, Frankrijk its franc, Italy its lire). You could now use the same Euro currency in large parts of Europe. The United Kingdom did not join the Euro project and kept its own currency, the pound sterling.

Despite these great advancements and achievements over time it became obvious that the European Union also had its darker side. The expansion with so many new countries led to an imbalance within the European Union. In the Northern part there were countries like Germany and Netherlands with an abundant economical growth that paid ever increasing contributions to the Union and in the Southern and Eastern part of the EU there were countries that would become heavily relying on the contribution of their wealthy neighbors but did not achieve the same kind of economic growth and prospect.

The most striking example of the financial trouble developed in Greece. The Greeks joined the EU and the Euro on base of manipulated figures considering their economic position and prospects. A big disadvantage of one currency for members with economies of different strengths now became apparent. In the past a nation could devaluate their currency to give its local economy a push, but now there was no other way than the rich countries handing over large amounts of money to support a weaker member nation. This would ultimately lead to disproportional financial support from the Northern countries, almost bringing the Euro currency to its knees. It would lead to a very negative impact on the public opinion within the northern EU countries (‘Why do we pay so much and will we ever benefit from these payments?’ many citizens started to ask). In this image you see how the money flows within the European Union and which countries are net contributors or net receivers.

Net contributors versus net receivers. Source: BBC

 

The situation in Greece spiralled almost out of control and the term Grexit was circulating: the Greeks could be forced to leave the European Union and be expelled from the Euro currency. This Grexit however until today never became a reality. The Greek government complied to a package of severe economic measures from the European Union (and other sponsors like the IMF).

Another development for the European Union was that the public opinion became very negative because of many reports in the press about the undemocratic, uncontrollable and incompetent way that many of the institutions worked. Where should the EU project stop? Would ultimately the individuality of nations disappear and would a United States of Europe (like the USA) become the result of the collaborative efforts?
Stories in the media started to appear about ongoing financial fraud and money waisting. A famous example of money waisting  is a deal between Germany and France implicating that the parliament is some days in the month residing in Strasbourg and on other days in Brussels. This means that an enormous transport of people, documents and belongings is taking place a few times per month.

 

If these developments were not bad enough already in the 2010s it became clear that the European Union was confronted with a new and immense problem to which it never could develop a clear and united answer. A wave of mass immigration started, first people travelling from Africa to Italy and Spain by boat, but in 2015 a new route started to cause even bigger challenges to the EU member states. Through Turkey immigrants from Syria, Afghanistan, Iraq, Iran and as far as Pakistan and Eritrea travelled from Turkey to Greece (only a small boat trip) and from there travelled further, mainly to the richer countries in the European Union. These events led to big irritation and quarrelling between the EU members on how to cope with handling these migrants and refugees.

In the United Kingdom it was president David Cameron who promised its citizens that they could express their opinion through a referendum if the United Kingdom should remain a member of the European Union or it should opt for an independent course and leave the EU. We all know since June 23th that the people from the United Kingdom have opted to leave the European Union. As soon as the result of the referendum became clear the impact was widely felt. A period of uncertainties is now starting: how will the leave of the United Kingdom take place? What are the economic implications? Will this mean the European Union might collapse because other member states also want to leave?

These uncertainties are already reflected in the economical developments: the stock markets worldwide collapsed after the result of the referendum and there is doubt if the United Kingdom can be the same strong economy outside of the EU as within the EU. London is one of the most important financial markets and there is a fear that many institutions might relocate to cities like Frankfurt and Amsterdam. There is some awareness arising within the European Union that its institutions should be reformed in order to give a solid impression to the populations of the member states or there could be a real risk other countries leave the EU.
And if big other net contributors like France or the Netherlands would leave the whole system could collapse, just like the Soviet Union did in the late 1980s. Because the European Union is such a bureaucratic and inert system it remains to be seen that it can adequately and timely react to the events that are taking place now. Looking at the inability to respond to the immigrant crisis the chances for swift and affirmative action to keep the current EU stay afloat do not stem too hopeful.

What will happen to the United Kingdom and London needs to be seen. There are countries in Europe that never joined the EU, like Switzerland and still have a strong economy and its citizens living prosperous lives. So in the long run the United Kingdom and London could be fine and find a new and reinvented place within Europe and the world. The real issue for the EU becomes to reform and show that it has serious and beneficial future perspective for all its members. If not then other countries might follow the example of the United Kingdom.

-Den Haag, June 25th 2016-

Cerita Toko Buku di Belanda

Paagman Den Haag. Bagaimana tidak betah di toko buku, kursinya saja kece seperti itu

Saya sejak kecil memang sudah suka membaca, mungkin karena melihat Bapak dan Ibu yang juga suka membaca. Ibu sering membawa pulang hasil kliping murid-muridnya karena memang Ibu guru Bahasa Indonesia. Senang rasanya kalau Ibu sudah membawa pulang kliping-kliping tersebut, saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di kamar untuk melahap cerita-cerita yang ada dalam kliping. Sewaktu saya dan adik-adik masih kecil, Bapak dan Ibu berlangganan majalah Kuncup, Bobo, Donal Bebek, dan Asterix, berharapnya kami menjadi gemar membaca. Sayangnya, sampai beranjak besar, yang masih bertahan gemar membaca hanya saya, sedangkan adik-adik saya tidak ada yang mempunyai kegemaran membaca. Karena langganan Donal Bebek tersebutlah saya jadi suka dengan karakter Donal Bebek, sampai email pertama saya ada unsur “denald”, cerita lengkap tentang asal usul nama denald bisa dibaca disini.

Ada satu kebiasaan yang saya tidak bisa hilangkan sampai sekarang yang berhubungan dengan kesukaan membaca yaitu kalau makan saya harus ada yang dibaca. Jadi kalau makan tidak ada sesuatu yang bisa dibaca, saya akan mencari-cari dulu bahan bacaan. Hal ini tidak berlaku kalau saya sedang makan rame-rame atau berdua dengan suami. Eh, tapi kalau sedang makan di rumah, kami juga seringnya sibuk dengan bacaan masing-masing. Bacaan disini maksudnya adalah buku, majalah, koran, bukan membaca dari telefon pintar.

Saya tidak tahu apakah karena kegemaran membaca disembarang tempat, bahkan membaca dalam keadaan sedang rebahan dengan cahaya yang tidak bagus yang menyebabkan mata mulai bermasalah sejak SD dan resmi menggunakan kacamata ketika SMP. Sampai saat ini kedua mata saya bermasalah dengan minus 3 dan silinder 2.5. Ibu dulu rajin memberikan air wortel yang dicampur dengan madu untuk membantu menurunkan minus, tetapi tidak berhasil.

Pengeluaran terbesar saya selama ini adalah untuk beli buku. Ada yang bertanya kenapa harus membeli buku dalam bentuk nyata, kenapa tidak dalam bentuk e-book saja. Jawaban saya sederhana, karena sensasi membalik kertas, bunyi kertas, aroma kertas itu tidak bisa terganti. Untuk baju, sepatu, tas, ataupun yang lainnya saya sangat bisa hemat, tetapi tidak untuk buku. Ketika keluar rumah, di dalam tas bisa dipastikan ada satu buku. Saya sering ketinggalan Hp dan rasanya biasa saja, tetapi ketinggalan buku rasanya ada yang hilang, ganjil. Terkesan agak berlebihan ya, tetapi memang itu kenyataannya.

Bertemu suami yang mempunyai kegemaran membaca juga rasanya sangat menyenangkan. Walaupun jenis buku yang kami baca hampir berbeda 180 derajat, tetapi satu sama lain menjadi saling memahami kalau salah satu diantara kami sedang kalap membeli buku atau sedang sibuk dan tidak mau diganggu ketika asyik membaca buku. Jenis buku yang saya baca sebenarnya sangat beragam, tidak khusus pada satu topik saja, yang menarik minat. Sedangkan suami lebih suka membaca buku yang berhubungan dengan sejarah terutama sejarah Romawi. Saya kalau membaca sekilas buku-buku dia mendadak pusing, bukan hanya karena kendala bahasa, tetapi isinya juga tidak seberapa paham meskipun dia sudah mencoba menjelaskan berkali-kali. Saya memang lemah disejarah, tetapi masih ada rasa tertarik untuk hal-hal tertentu yang berhubungan dengan sejarah.

Salah satu tempat kencan favorit kami adalah tempat yang berhubungan dengan buku yaitu perpustakaan, bazar yang juga menjual buku bekas, dan toko buku. Kalau sedang jalan-jalan, kami hampir selalu menyempatkan untuk mampir ke toko buku. Sebenarnya ketika sedang ke toko buku kami tidak sepenuhnya selalu membeli, seringnya hanya membaca saja karena memang suasana toko buku di Belanda memungkinkan untuk membaca buku dalam waktu yang lama. Saya ingat ketika di Indonesia, kalau membaca buku agak lama pasti terkena tegur dari petugas toko buku tersebut. Saya sampai pindah tempat beberapa kali untuk menghindari teguran, belum lagi tempat duduk yang disediakan juga cenderung tidak nyaman. Tapi yang saya bicarakan ini adalah kondisi toko buku “besar” sebelum saya pindah ke Belanda ya. Kalau sekarang mudah-mudahan ada perbaikan dan saya lihat sudah banyak toko buku yang tempatnya nyaman. Sedangkan di Belanda, terkena tegur tidak pernah saya alami jika membaca buku dalam waktu lama, bahkan disediakan tempat duduk yang nyaman. Di beberapa toko buku juga jadi satu dengan kafe. Meskipun menjadi satu dengan kafe tetapi suasananya tetap nyaman, tidak ramai yang berisik.

Van Stockum Den Haag
Van Stockum Den Haag, ada rak khusus tentang Indonesia
Disediakan kursi untuk membaca. Saya pernah nyaris ketiduran di kursi ini karena suasana toko bukunya yang nyama, kursinya empuk, dan saya memang sedang mengantuk :p
Disediakan kursi untuk membaca. Saya pernah nyaris ketiduran di kursi ini karena suasana toko bukunya yang nyama, kursinya empuk, dan saya memang sedang mengantuk :p

Selain toko buku yang menjual buku-buku baru, kami juga rajin mendatangi toko buku yang menjual buku-buku bekas. Biasanya kami datang ke tempat ini kalau ingin mencari buku-buku yang sudah lama, selain tentu saja untuk mendapatkan buku dengan harga murah. Saya pernah membeli buku tentang traveling dan beberapa novel, 6 buah buku seharga 5 euro padahal bukunya tebal-tebal. Jangan membayangkan toko buku bekas dengan keadaan yang kotor, pengap dan sempit karena seperti yang terlihat pada foto-foto di bawah, suasana dalam tokonya rapi dan sangat nyaman. Karena itulah kami betah berlama-lama di sini. Kalau membicarakan toko buku bekas, saya teringat Blauran dan Jalan Semarang di Surabaya, dulu tempat berburu buku kuliah. Dan ketika saya kerja di Jakarta, penasaran dengan Kwitang karena AADC. Kalau ke TIM, saya pasti mampir ke toko buku milik Jose Rizal Manua.

Paagman Den Haag
Paagman Den Haag. Yang ada di rak-rak tersebut adalah buku bekas
Paagman Den Haag. Bagaimana tidak betah di toko buku, kursinya saja kece seperti itu
Paagman Den Haag. Di lantai 1 khusus untuk buku-buku baru. Bagaimana tidak betah di toko buku, kursinya saja kece seperti itu
Toko buku bekas di Delft
Toko buku bekas di Delft

IMG_9264

Toko buku bekas di Delft
Toko buku bekas di Delft

Alasan lain mengunjungi toko buku selain karena suasananya yang nyaman serta untuk mencari dan membaca buku, interior yang unik dalam toko buku juga serta sejarah dibaliknya menjadi daya tarik tersendiri. Selexyz Dominicanen yang terletak di Maastricht mendapatkan julukan salah satu toko buku yang terindah di dunia. Lihat saja interiornya, membuat yang berkunjung kesini menjadi betah. Toko buku ini awalnya adalah gereja yang didirikan tahun 1294 oleh St. Dominic. Gereja dengan arsitektur gothic tersebut sejak tahun 1794 tidak lagi berfungsi sebagai tempat menyelenggarakan kegiatan keagamaan ketika tentara Napoleon mengambil alih (menyita) yang kemudian digunakan untuk tujuan militer. Sejak saat itu, ruangan yang ada di dalam gereja ini digunakan sebagai tempat menyimpan arsip kota, gudang, bahkan untuk tempat menyimpan sepeda. Pada tahun 2005, Boekhandels Groep Nederland (BGN) memutuskan untuk memberdayakan bangunan yang dulunya adalah gereja tersebut menjadi toko buku (sumber). Tidak berlebihan kalau akhirnya Selexyz Dominicanen disebut sebagai salah satu toko buku yang tercantik di dunia karena arsitekturnya yang memukau. Didalam toko buku ini juga ada kafe. Sewaktu saya berkesempatan mengunjungi Maastricht bersama beberapa orang teman 4 bulan lalu, datang ke toko buku ini menjadi sebuah keharusan.

Dominicanen di Maastricht
Selexyz Dominicanen di Maastricht
Dominicane di Maastricht
Selexyz Dominicane di Maastricht
Cafe di Dominicanen Masstricht
Cafe di Selexyz Dominicanen Maastricht.

Sejak awal saya mulai sering melakukan perjalanan, salah satu tempat yang sebisa mungkin untuk dikunjungi adalah toko buku di negara atau kota yang saya datangi. Kalau orang lain mungkin berburu pernak pernik atau hiasan khas suatu kota ketika bepergian, saya berburu buku. Pulang ke rumah seringnya ada saja buku baru yang saya tenteng. Kegiatan tersebut sampai sekarang masih saya lakukan bersama suami. Kalau sedang tidak diburu waktu, dimanapun apakah di Belanda ataukah saat di luar Belanda, toko buku sebisa mungkin untuk kami kunjungi. Kami mempunyai impian bisa mengunjungi toko-toko buku yang mempunyai sejarah menarik maupun arsitektur yang indah di seluruh belahan bumi ini.

Kalau kalian apakah suka membaca? punya cerita menarik seputar toko buku yang pernah dikunjungi? Sekarang sedang membaca buku apa? Saya sedang membaca buku Anthony Bourdain yang berjudul A cook’s tour.

Selamat berakhir pekan

-Den Haag, 16 Juni 2016-

Semua foto adalah dokumentasi pribadi.