Kinderdijk dan Cerita Seorang Teman

Kinderdijk

Saya mengenal dia, panggil saja namanya begitu, berawal dari Facebook. Waktu itu kami masih sama-sama menjadi pejuang cinta, bedanya saya sudah mendapatkan visa, dia masih dalam tahap akan ujian. Saya yang memulai menyapanya karena kami ada beberapa persamaan latar belakang. Waktu bergulir, dia masih berjuang di sana, saya sudah tinggal di Belanda untuk memulai perjuangan yang lainnya. Kami masih saling berkomunikasi meskipun sama sekali belum pernah bertemu muka. Pertengahan tahun kemarin, untuk pertama kalinya kami bertemu karena akhirnya dia memulai lembaran baru dalam hidupnya di negara ini. Kami tinggal di kota yang terhitung jauh satu sama lain.

Setelahnya beberapa kali kami bertemu kembali di beberapa acara. Kami memang jarang berkirim kabar melalui aplikasi whatsapp, seperlunya saja. Sudah tiga kali kami pergi bersama untuk jalan-jalan keliling Belanda, memanfaatkan tiket murah kereta dan memberi ruang kepada suami di rumah juga kami sendiri untuk sejenak meninggalkan rutinitas, melakukan kegiatan yang kami suka. Me time, begitu bahasa kerennya. Kami pernah mengunjungi Maastricht dan Groningen. Suatu hari saya menerima pesan dari dia, ajakan untuk kembali berjalan menyusuri tempat yang lain. Saya mengusulkan Kinderdijk, dan dia langsung mengiyakan.

Sejak lama saya penasaran dengan Kinderdijk. Meskipun tempatnya tidak terlalu jauh dari tempat saya tinggal, tetapi ada saja halangan untuk datang ke tempat ini. Begitu ada kesempatan, tidak saya sia-siakan. Sejak tahun 1997, Kinderdijk termasuk dalam Unesco World Heritage. Di dalam kompleks Kinderdijk ini terdapat 19 kincir angin, satu kincir angin pertama dibuka untuk umum sebagai museum yaitu Museummill Nederwaard dan kincir angin setelahnya yaitu Blokweer juga bisa dikunjungi, tetapi tidak terlalu banyak turis datang ke kincir angin yang terakhir karena memang bentuknya lebih modern dan letaknya lebih jauh dari gerbang utama. Kinderdijk terletak sekitar 16 km disebelah barat Rotterdam.

Bersepeda di kawasan Kinderdijk diantara kabut
Bersepeda di kawasan Kinderdijk diantara kabut
Berkabut
Berkabut
Kinderdijk
Kinderdijk

Tiket masuk Kinderdijk bisa dibeli melalui websitenya (Ada potongan harga 10%, sudah termasuk mengunjungi dua museum) maupun langsung beli di tempat. Area Kinderdijk ini buka 24 jam, tapi kalau untuk masuk ke museum paling lambat jam 5 sore. Banyak cara untuk bisa menikmati Kinderdijk : dengan berjalan kaki, menggunakan sepeda, ataupun menyusuri sungai menggunakan waterbus. Jika menyewa sepeda tarifnya €3/jam. Kami memilih untuk berjalan kaki, tidak ada alasan khusus, hanya ingin menikmati suasana dengan lebih leluasa.

Sehari sebelumnya, saya mendengar ramalan cuaca di radio yang menginformasikan akan ada hujan es pada hari sabtu tengah hari. Saya mulai panik dan menginformasikan ke dia apakah rencana ke Kinderdijk tetap diteruskan. Kami nekat karena memang tidak ada waktu lainnya, tiket kereta saya habis masa berlakunya akhir pekan ini. Seringkali memang hidup butuh nekat, karena kita tidak tahu apa yang sudah menunggu kita didepan sama. Sabtu sebelum berangkat, saya kembali melihat ramalan cuaca, dan tetap terlihat bahwa tengah hari akan ada hujan deras disekitar Kinderdijk. Kabut juga terlihat pekat disekitar tempat tinggal saya. Ya sudahlah, saya pasrah dengan membawa perlengkapan pelindung dari gempuran hujan es. Sesampainya kami di sana, kabut terlihat menyelimuti area Kinderdijk, jadi terlihat misterius. Meskipun berkabut, tetapi udara tidak terlalu dingin, saya hanya menggunakan kaos tidak terlalu tebal dan rok, maklum saja suhu sekitar 25 derajat, terasa gerah. Saya menyimpan perlengkapan “perang” dalam tas ransel. Ternyata sampai kami meninggalkan Kinderdijk, hujan es tidak datang, bahkan cuaca semakin menghangat. Ramalan cuaca tidak selalu benar.

Melihat kincir angin dari dalam museum
Melihat kincir angin dari dalam museum. Didalam Museummill Nederwaard bisa dilihat sejarah sejak awal berdirinya Kinderdijk sampai ditetapkan menjadi Unesco World Heritage dan keadaannya sampai sekarang, juga bisa mendengarkan penjelasan cara kerja kincir angin juga sejarah kehidupan keluarga yang tinggal didalam kincir angin.
Mengobrol dengan Bapak penjaga museum
Mengobrol dengan Bapak penjaga museum
Ibu saya masih punya lho mesin jahit Singer di rumah :D
Ibu saya masih punya lho mesin jahit Singer di rumah 😀

Sepanjang perjalanan menyusuri Kinderdijk kami bercerita banyak hal, selalu begitu saat ada kesempatan bertemu. Salah satu yang menjadi bahan perbincangan kami akhir-akhir ini apalagi kalau bukan tentang ujian bahasa Belanda, karena saya sudah lulus B1, meskipun masih ada sisa ujian yang belum terlaksana untuk keseluruhan ujian integrasi. Tetapi yang pasti, kami menghindari perbincangan menggosipkan orang. Hidup sudah terlalu sibuk bagi kami berdua, jadi memang tidak ada waktu untuk mengurusi hidup orang lain dengan membicarakan di belakang. Apalagi sejak saya memutuskan menghilang sejenak dari Facebook (juga Instagram) sejak tahun kemarin, rasanya memang lingkup pengetahuan saya akan “berita” orang Indonesia yang tinggal di Belanda jauh lebih berkurang, sangat minimal. Tidak mengapa, lebih baik juga untuk hidup saya.

Kami tidak hanya sibuk berbincang satu sama lain, kami juga menyempatkan diri berbincang dengan beberapa orang yang kami temui, salah satunya Bapak penjaga museum. Orang-orang yang kami temui di jalan juga dengan ramah saling menyapa, dari yang berjalan kaki, menggunakan sepeda, bahkan yang menggunakan kapal kecil, menyapa penuh gembira. Bahkan beberapa kali kami diminta tolong untuk memfotokan orang-orang yang kami temui, lalu berbincang sebentar sekedar bertanya mereka berasal dari mana atau sebaliknya mereka yang bertanya pada kami. Selalu senang jika bertemu dengan mereka yang sedang menikmati hari untuk berlibur, aura bahagianya menular, bahkan hanya dari sebuah senyuman. Apalagi menjelang siang, cuaca semakin cerah. Semakin banyak orang berdatangan ke Kinderdijk tidak hanya sekedar menyusuri area ini, tetapi juga melakukan aktifitas lainnya yaitu memancing, ataupun berpiknik di pinggir sungai.

Salah satunya yang berpiknik adalah kami. Saya yang mengusulkan untuk membawa bekal dengan membagi tugas siapa membawa apa. Walaupun belum tahu akan makan dimana, tapi saya yakin akan banyak bangku disepanjang jalan. Ternyata di museum Blokweer ada kebun yang memang disediakan untuk pengunjung berpiknik ataupun sekedar duduk-duduk santai. Disinilah kami piknik menikmati bekal yang kami bawa sembari melihat kincir angin yang berjejer, perahu kecil yang lewat di sungai depan, dan setelahnya kami duduk santai di dek dan berkeliling melihat tanaman yang ada di kebun tersebut.

Makan siang dengan botok tempe kemangi pete, sambel teri super pedes, dan sayuran.
Makan siang dengan botok tempe kemangi pete, sambel teri super pedes, dan sayuran. Nikmatnya, serasa leyeh-leyeh di pinggir sawah.
Kreatif ya, ember bisa dijadikan meja
Kreatif ya, ember bisa dijadikan meja. Di kebun ini saya melihat beberapa keluarga berpiknik dengan anak-anak mereka yang masih kecil. Anak-anak bisa dengan leluasa bermain disini bersama beberapa hewan yang ada didalam kandang. Toilet yang disediakan juga bersih, ada kantin kecil juga yang menjual beberapa minuman dan makanan juga buah tangan.

Perjalanan terus berlanjut, kami menyusuri jalan setapak yang tidak banyak dilalui orang, tetapi mempunyai pemandangan yang lebih indah dibandingkan jalan sebelahnya. Seperti halnya hidup, terkadang kita harus menepi sesaat dari keramaian, mencari jalan alternatif yang lebih sunyi tetapi mendapatkan pembelajaran hidup yang berbeda, yang mungkin jauh lebih baik meskipun mengarah pada tujuan yang sama.

Keseruan lainnya yang kami lalui di Kinderdijk karena saya mempunyai “mainan” baru. Mainan itu bernama tongsis. Ya, betul sekali, pada akhirnya saya punya tongsis pertama kali karena mendapatkan hadiah dari tempat saya bekerja. Karena belum pernah memakai tongsis sebelumnya, dan saya baru mendapatkan dua minggu lalu, jadi kami heboh sendiri mengoperasikan alat ini. Maklum karena masih baru, ada saja kelucuan yang timbul karena gagap bertongsis. Hampir saja alat ini nyemplung ke sungai pada saat kami bertongsis ria diatas jembatan yang sepi orang. Hal-hal yang menimbulkan kelucuan seperti ini bisa membuat kami tertawa tiada henti.

Bukan itu saja yang membuat kami tertawa terpingkal. Saat duduk-duduk dibangku pinggir jalan dekat museum, kami membayangkan ada tukang bakso lewat atau rombong lontong balap lalu kami memesan satu mangkok atau piring dengan minum es degan atau es teh sambil mendengarkan musik dangdut dari rombong penjualnya, yang dilanjutkan makan gorengan plus lombok dan petis udang. Hanya membayangkan saja sudah membuat kami gembira, apalagi bisa jadi nyata ya.

Semakin sore, semakin banyak rombongan turis yang datang. Kami perlahan meninggalkan Kinderdijk dengan mampir sebentar ke bagian depan untuk membeli es krim. Cuaca sore hari sangat terik, kami butuh sesuatu yang menyegarkan. Seperti pengalaman hari itu yang menyegarkan raga kami dengan berbincang dan bercanda tanpa henti sepanjang hari. Dia, yang dulu adalah seorang kenalan, dengan berjalannya waktu berganti menjadi seorang teman.

Sebelum ada telefon sebagai alat komunikasi, peletakan kincir angin ini mempunyai masing-masing arti. Ada 6 bertanda untuk mengabarkan berita duka, berita bahagia, keadaan darurat, sedang tidak beroperasi dalam jangka pendek atau panjang, dan sedang berlangsung perayaan khusus.
Sebelum ada telefon sebagai alat komunikasi, peletakan kincir angin ini mempunyai masing-masing arti. Ada 6 bertanda untuk mengabarkan berita duka, berita bahagia, keadaan darurat, sedang tidak beroperasi dalam jangka pendek atau panjang, dan sedang berlangsung perayaan khusus.

Untuk seseorang yang “sulit” bergaul seperti saya, tidak terlalu banyak teman bukanlah suatu masalah besar. Bahkan sejak kecil saya selalu tidak merasa nyaman jika berada dalam situasi yang bergerombol, berteman dengan banyak orang. Satu teman tetapi berlaku sebenarnya teman jauh lebih cukup buat saya, dibandingkan beberapa orang yang mengaku teman tetapi menikam di belakang. Semoga pertemanan saya dan dia tetap baik-baik saja, semoga, meskipun ada saatnya waktu yang akan menguji semua.

Het was een gezellig dag
Het was een gezellige dag! Tot volgende keer als we samen reizen! (Sebelum ada yang nanya-GR-, ini adalah saya yang ada di foto :D)

Friendship is a natural bond between good people, reciprocal and without ulterior motives -Socrates-

-Den Haag, 29 Mei 2016-

Bersepeda Menyusuri Keindahan Ladang Tulip di Belanda

Ladang Tulip

Memasuki musim semi artinya bunga-bunga mulai menunjukkan keindahan warnanya. Tidak hanya bunga, pepohonan pun mulai berwarna warni dengan indahnya. Sejak pindah ke Belanda, saya menjadi seseorang yang menyukai bunga. Dulu saya tidak terlalu memperhatikan aneka rupa bunga, tetapi sejak tahun lalu, salah satu kesenangan saya adalah berlama-lama di pusat penjualan bunga dan pernak perniknya karena memang lokasinya dekat dengan rumah. Kalau tidak mengingat dirumah tidak terlalu banyak tempat untuk menaruh bunga, pasti pulang dari sana saya selalu menenteng pot bunga. Salah satu bunga yang sukai saat musim semi adalah tulip.

Tulip merupakan salah satu ikon negara Belanda. Tempat yang terkenal dengan beraneka macam tulip dan segala jenis bunga lainnya adalah Keukenhof, yang mampu menyedot turis dari segala penjuru dunia sejak pertengahan maret sampai pertengahan mei setiap tahunnya. Pesona Keukenhof pula yang membuat saya ingin mengunjungi Belanda, melihat tulip dalam wujud nyata, tidak hanya dari majalah Colours setiap saya naik Garuda ketika sedang ada urusan kerja. Dulu saya membayangkan bagaimana rasanya berada diantara jutaan tulip dan bunga-bunga lainnya. Bersyukur pada tahun 2014 akhirnya semesta mewujudkan hal yang selama ini menjadi impian, langkah kaki sampai juga ke Keukenhof. Saya pernah menuliskan pengalaman mengunjungi Keukenhof disini. Ada yang membuat saya penasaran ketika sedang didalam Keukenhof, mata saya tidak lepas memandang ladang tulip diluar area Keukenhof. Warna warni tulip berjejer rapi membentuk bentangan indah selayak karpet alami. Saat itu saya hanya berkata dalam hati, suatu saat ingin mengunjungi ladang tulip tersebut.

Dua tahun berselang, tepatnya satu bulan lalu, saya kembali teringat apa yang saya batin. Saya kemudian mengutarakan ide ke suami tentang mengunjungi ladang tulip. Suami sangat setuju. Akhirnya diputuskan pada akhir pekan pertengahan April kami berpetualang menyusuri ladang tulip dengan bersepeda. Ya, kami berangkat dari rumah di Den Haag menuju area ladang tulip disekitar Lisse, Sassenheim, Noordwijk, dan Noordwijkerhout. Yang saya sebutkan tadi adalah nama kota-kota yang masuk area Duin en Bollenstreek, yang merupakan wilayah pesisir antara Wassenaar dan Haarlem yang memiliki bukit pasir dan budidaya umbi bunga. Kombinasi pantai, bukit, ladang bunga, sejarah peternakan, danau, istana dan perkebunan membuat daerah ini sangat menarik untuk dikunjungi.

Jam 11 siang kami memulai petualangan satu hari bersepeda. Saya sebenarnya agak tidak terlalu yakin apakah sanggup bersepeda dengan radius lebih dari 50km, tapi rasa penasaran akan keindahan ladang tulip mengalahkan rasa tidak yakin tersebut. Senangnya kalau bersepeda adalah kami bisa berhenti ditempat-tempat yang diinginkan sewaktu-waktu. Jadi kalau merasa capek, ya berhenti dulu sambil foto sana sini. Kalau haus, tinggal cari kran air dan langsung minum air langsung dari sana. Kalau melihat tempat wisata seperti danau atau kebun yang penuh burung, langsung masuk tanpa dipungut biaya. Dan suguhan pemandangan selama perjalanan sangat menyenangkan, selain alamnya juga bisa melihat domba, sapi, kuda dimana-mana.

Sapi sedang merumput
Sapi sedang merumput
Domba
Domba
Memotret sambil bersepeda. Tangan kanan memegang stang sepeda, tangan kiri memegang Hp, kaki mengayuh, mata memandang kedepan supaya tetap fokus ke jalan dan tidak tiba-tiba nubruk :D
Memotret sambil bersepeda. Tangan kanan memegang stang sepeda, tangan kiri memegang Hp, kaki mengayuh, mata memandang kedepan supaya tetap fokus ke jalan dan tidak tiba-tiba nubruk 😀
Kalau ditengah perjalanan haus, tidak usah khawatir. Di beberapa ruas jalan ada keran bisa langsung minum air dari sini.
Kalau ditengah perjalanan haus, tidak usah khawatir. Di beberapa ruas jalan ada keran bisa langsung minum air dari sini.

Dari Den Haag, kami menuju Leiden terlebih dahulu. Karena suami sudah hafal luar kepala jalur bersepeda menuju Leiden, kami tidak menggunakan peta atau aplikasi Fietsknoop. Sebenarnya tanpa menggunakan aplikasi ataupun peta juga bisa karena disetiap titik jalur bersepeda selalu tersedia peta dan bisa dilihat kita sedang dititik nomer berapa kemudian melihat pada peta kita ingin ke titik nomer berapa. Petunjuknya sangat jelas, dan mudah-mudahan meminimalisir tingkat tersasar khususnya untuk orang seperti saya yang memang gampang sekali kesasar. Ditengah perjalanan, tanpa sengaja kami melewati kantor VVV di Teylingen. Jadi VVV ini adalah kantor pusat informasi tentang tempat wisata, rute bersepeda (fietsen), rute berjalan kaki (wandelen), museum, taman, dan tempat wisata lainnya yang ingin dikunjungi. Ada banyak brosur yang tersedia disini, kebanyakan gratis tapi ada beberapa yang harus beli, contohnya peta rute bersepeda ini kami beli seharga €1,20. Kalau rute jalan kaki disediakan gratis. Disini kita bisa bertanya apapun yang ingin kita ketahui tentang yang berhubungan dengan tempat wisata. VVV ini ada disetiap provinsi di Belanda. Bagi turis yang ingin bersepeda, bisa menyewa sepeda OV (OV Bicycle) di stasiun. Keterangan lebih lengkapnya bisa dilihat di website resmi mereka atau menyewa di area Keukenhof, hanya saya kurang jelas harga sewa sepedanya berapa.

Peta yang kami gunakan.
Peta yang kami gunakan.
Tanda bersepeda dan peta didepan sana yang menunjukkan pemberhentian dititik nomer berapa.
Tanda bersepeda dan peta didepan sana yang menunjukkan pemberhentian dititik nomer berapa.

Hal seru yang kami rasakan saat bersepeda adalah ketika bertemu sesama rombongan bersepeda lainnya dan kami saling bertegur sapa, saling melemparkan kata “Halo” atau “Hai” atau “Hoi.” Ada saatnya kami menolong keluarga yang nampak kebingungan harus menuju arah mana, ada saatnya kami berbincang dengan mahasiswa-mahasiswa dari Universitas Leiden yang sedang beristirahat. Hal lain yang tidak kalah menyenangkan yaitu kami membawa bekal makan siang dan beberapa makanan ringan lainnya, jadi semacam piknik. Saya yang tidak mau repot memasak, hanya membuat sushi. Kalau menuruti rasa ingin, harapannya bisa membawa nasi bakar, lalapan, ikan asin, tahu dan tempe goreng. Tapi karena rasa malas memasak sedang datang, sushi saja sudah cukup. Sebenarnya kami membawa tikar juga, tetapi karena menemukan bangku yang nyaman untuk tempat makan, maka rencana makan lesehan beralaskan tikar kami simpan dahulu. Makan siang dengan pemandangan serba hijau dan didekat kincir angin ditemani angin yang super kencang menjadi pengalaman tidak terlupakan.

Istirahat sembari menikmati bekal makan siang
Istirahat sembari menikmati bekal makan siang
Bekalnya Sushi
Bekalnya Sushi

Setelah beberapa jam bersepeda melintasi desa, akhirnya satu persatu ladang tulip bisa kami jumpai. Girang bukan kepalang saya rasakan. Ingin loncat-loncat saja rasanya melihat secara dekat hamparan warna warni tulip dan bunga lainnya yang dahulu saya lihat dari dalam Keukenhof. Sekarang saya bisa masuk kedalam ladang tulip secara langsung. Ladang-ladang tulip yang kami lalui ini sebagin besar berada pada jalur rute bersepeda maupun rute berjalan kaki. Jadi terkadang tersembunyi dari jalan besar yang dilalui mobil.

Tulip kuning. Gemes!
Tulip kuning. Gemes!
Tulip ungu
Tulip ungu
Semburat kuning dan oranye
Semburat kuning dan oranye

Secara tidak terduga, ditengah perjalanan kami menjumpai parade bunga. Kami lalu menghentikan laju sepeda dan memarkirnya untuk sesaat larut dalam kemeriahan iring-iringan parade bunga. Kalau dua tahun lalu saya harus berdesakan untuk melihat parade bunga ini di Keukonhof, namun kali ini saya berada dibarisan pertama tanpa harus berdesakan dengan penonton lainnya. Bahkan suami menonton parade bunga sembari duduk di rerumputan. Hanya sekitar 30 menit kami melihat parade ini dan kembali mengayuh sepeda untuk melanjutkan perjalanan. Informasi parade bunga atau dalam bahasa Belanda adalah Bloemencorso bisa dilihat pada website resmi mereka di Bloemencorso Bollenstreek.

Bloemencorso Bollenstreek
Bloemencorso Bollenstreek
Bloemencorso Bollenstreek
Bloemencorso Bollenstreek

Kalau melihat ladang bunga seperti ini, serta merta ingatan saya langsung tertuju pada berita rusaknya kebun bunga Amaryllis di Jogjakarta. Karena hasrat eksistensi diri atau hasrat ingin mengunggah foto di media sosial, harus dibayar dengan merusak keindahan bunga dikebun tersebut. Selama mengunjungi beberapa ladang tulip, saya melihat pengunjung lainnya bersikap santun, tidak merusak, tidak menginjak-nginjak ataupun tidur gegoleran hanya untuk mengikuti nafsu mengunggah foto diri di media sosial. Kalaupun ingin mengambil foto diantara tulip-tulip, maka mereka berjalan sangat hati-hati, memastikan bahwa kaki mereka tidak menginjak satupun bunga. Mudah-mudahan sikap seperti ini juga bisa ditiru di Indonesia. Menikmati keindahan dengan cara yang wajar dan santun, tidak hanya memuaskan hasrat eksistensi tetapi tidak mengindahkan etika dan tata krama.

Menikmati tulip melalui lensa kamera
Menikmati tulip melalui lensa kamera
Hamparan tulip
Hamparan tulip
Terpesona
Terpesona
Hyacinth
Hyacinth

Saya sudah bercerita beberapa kali melalui tulisan-tulisan terdahulu bahwa cuaca di Belanda itu sangat cepat berganti dalam satu hari, karenanya melihat prakiraan cuaca sangatlah dibutuhkan disini karena tingkat keakuratan yang tinggi. Sampai ada yang menyebut bahwa dalam satu hari bisa terjadi 4 musim. Hal ini kami buktikan selama bersepeda sabtu kemarin. Dalam satu hari melintasi kota dan desa kami harus berjuang dengan segala cuaca. Di satu kota cuaca hangat  dengan matahari bersinar cerah, kemudian di kota sebelahnya mendung gelap, hujan dan angin sangat kencang sampai saya nyaris jatuh dari sepeda beberapa kali karena tidak sanggup menahan laju angin. Setelahnya panas kembali, lalu tiba-tiba hujan es. Iya, dimusim semi seperti ini masih saja hujan es. Malah saya mendengar siaran berita dibeberapa kota dibagian utara turun salju. Pada hari minggu saat saya menulis postingan ini, hujan es tidak berhenti turun ke bumi. Tetapi dengan melalui beberapa cuaca dalam satu hari kemudian melihat pelangi muncul di ladang tulip paling akhir yang kami kunjungi, rasanya lengkap sudah petualangan satu hari bersepeda menyusuri keindahan ladang tulip. Kami berhitung sampai 3 kali melihat pelangi selama perjalanan pulang, sampai suami berseloroh ada kabar gembira apa yang sudah menunggu dengan pertanda 3 pelangi tersebut.

Pelangi di ladang tulip.
Pelangi di ladang tulip.

Belum semua tempat bisa kami kunjungi, mungkin tahun depan kami akan kembali lagi kesini, tidak melalui rute sepeda, mungkin melalui rute jalan kaki. Kami sudah rindu rasanya menghirup aroma wangi bunga yang menguar selama perjalanan, berjumpa gadis kecil yang menunggu tulip untuk dijual, ataupun membeli bunga tulip di kios tanpa penjaga dan cukup menaruh uang sesuai harga yang tertera pada kotak yang sudah tersedia. Kunjungan selanjutnya kami ingin menyusuri pantai, menyaksikan matahari terbenam dan tetap melintasi ladang tulip melewati rute lainnya. Jam 10 malam kami tiba dirumah setelah menempuh 90 km bersepeda sejak jam 11 pagi. Rasa capek terbayarkan dengan melihat kembali foto-foto selama bersepeda yang beberapa kami bagikan melalui cerita di blog ini.

Jika ada yang tertarik untuk melihat keindahan tulip, kami sarankan untuk datang pertengahan april sampai akhir april karena itu adalah waktu terbaik saat tulip sedang mekar-mekarnya. Sampai bertemu di cerita tulip selanjutnya, dan kami menunggu cerita tulip versi kalian 🙂

Taun depan kami akan mengunjungi kalian kembali wahai tulip-tulip yang indah
Tahun depan kami akan mengunjungi kalian kembali wahai tulip-tulip yang indah

-Den Haag, 24 April 2016-

Semua foto adalah dokumentasi pribadi

Berkeliling Texel Dalam Satu Hari

Vuurtoren Texel. Vuurtoren = Mercusuar.

Texel, nama tempat yang asing ditelinga saya saat pertama kali mendengarnya. Tetapi karena membaca pengalaman beberapa blogger yang tinggal di Belanda dan sudah pernah ke Texel, akhirnya penasaran juga untuk menelusuri seperti apa sebenarnya Texel ini. Berbekal dari informasi yang didapat melalui google, saya jadi tertarik untuk datang kesini. Saat itu bertepatan kami akan merayakan satu tahun perkawinan (jadi ini ceritanya pada Agustus 2015).

Kami berangkat dari Den Haag hari Jumat, menunggu suami pulang kerja. Beruntungnya pada bulan Agustus matahari sedang nyentrong padahal beberapa hari sebelumnya, seperti biasa cuaca di Belanda sedang tidak menentu, kalau tidak hujan ya mendung (padahal sedang musim panas). Sesampainya di Den Helder, antrian kendaraan yang akan menyeberang sudah panjang mengular. Kami harus menunggu kapal selanjutnya datang, sehingga kami memanfaatkan waktu dengan menikmati pelabuhan sembari berjemur dibawah sinar matahari, hitung-hitung mengumpulkan vitamin D :D. Kalau ke Texel tidak membawa kendaraan sendiri, bisa juga ditempuh dengan transportasi umum. Dengan kereta menuju Den Helder setelahnya bisa ditempuh dengan Ferry dan bus Texelhopper dengan total harga tiket €5.5. Menyeberang ke Texel tidak membutuhkan waktu lama, sekitar 20 menit saja.

Menyeberang ke Texel
Menyeberang ke Texel. Sepanjang perjalanan menyeberang sangat menyenangkan karena ditemani banyak burung. Anginnya kencang, tapi masih dalam taraf yang normal.

Lho, terletak dimana sih Texel ini kok pakai acara menyeberang segala? Texel adalah pulau terbesar milik Belanda, letaknya disebelah utara Belanda dan masuk provinsi Noord-Holland. Ada beberapa desa yang berada di Texel. Desa terbesar di Texel bernama Den Burg. Sedangkan 6 desa besar lainnya yaitu Den Hoorn, Oudeschild, De Waal, Oosterend, De Cocksdorp, dan De Koog. Selebihnya desa kecil-kecil saja.

Sumber : welt-atlas.de
Sumber : welt-atlas.de

Kami sampai di Texel sudah sore menjelang malam tetapi matahari masih bersinar terang, maklum saja musim panas dimana matahari baru tenggelam antara jam 9 atau 9.30 malam. Kami langsung menuju Bed and Breakfast (B&B), tempat kami menginap dua malam selama di Texel, tepatnya didesa Spangerweg yang terletak antara Den Burg dan Oosterend. Rumahnya menyenangkan, letaknya tepat didepan padang rumput yang pada saat kami datang penuh dengan domba yang sedang merumput. Sayang saya lupa mengabadikan. Selain B&B, pilihan hotel untuk tempat menginap di Texel juga banyak jumlahnya. Jika tidak ingin menginap di Hotel maupun B&B, pilihan menginap ditenda juga memungkinkan karena ada beberapa tempat yang menyediakan persewaan tenda atau mungkin mau bawa sendiri juga bisa. Saya juga melihat banyak camper van dibeberapa area.

Domba yang tinggal sedikit karena sudah menjelang malam.
Domba yang tinggal sedikit karena sudah menjelang malam.
Menginap ditenda
Menginap ditenda

Keesokan harinya setelah sarapan, kami menuju tempat penyewaan sepeda yang berjarak sekitar 20 menit berjalan kaki (adanya didesa sebelah). Untuk menjelajah seluruh pulau Texel menurut kami memang yang paling ideal adalah dengan menggunakan sepeda karena lebih leluasa untuk berhenti dimanapun bahkan sampai masuk desa-desa kecilnya. Jika tidak membawa sepeda sendiri, jangan khawatir di Texel banyak sekali tempat yang menyewakan sepeda. Kami menyewa sepeda jenis tandem seharga €15 untuk 24 jam. Lumayan murah kan, tinggal modal betis dan kaki kuat buat ngontel biar ga sengklek seharian berkeliling Texel.

Sepeda tandem
Sepeda tandem

Sepeda sudah didapat, saatnya petualanganpun dimulai tepat jam 8 pagi. Cuaca sangat mendukung karena sangat cerah. Matahari bersinar terik sehingga hangatnya sangat terasa dikulit. Banyak pemberhentian yang bisa dikunjungi di Texel. Jangan takut kesasar karena dibeberapa tempat strategis ada peta yang ditempel pada semacam papan pengumuman dan juga ada seperti patokan sekarang kita ada dititik nomer berapa. Beruntungnya kami diberi pinjaman peta oleh pemilik B&B.

Membaca peta yang gampang ditemu dimana-mana
Membaca peta yang gampang ditemu dimana-mana

Sembari mengayuh sepeda, kami membicarakan banyak hal. Salah satunya topik yang tidak pernah bosan menjadi bahan obrolan, yaitu bagaimana kami bertemu sampai menikah. Jodoh, maut, rejeki memang sudah ada yang mengatur dan tidak akan pernah tertukar. Meskipun proses menujunya kadang ada yang mulus, kadang ada berliku dan berkelok, tetapi kalau sudah jalannya, ya akan kejadian juga. Saya ingat sekali sewaktu kaki saya mulai sakit saat mengayuh, suami menyuruh saya untuk mengistirahatkan kaki dan dia yang mengayuh sepeda sendiri. Kemudian dia berkata kepada saya, “mengayuh sepeda tandem begini ibaratnya seperti rumah tangga kita. Ada saatnya semua dikerjakan bersama, ada saatnya hanya satu orang saja yang mengerjakan yang lainnya istirahat. Tetapi sebuah rumah tangga tanggungjawabnya milik bersama, bukan hanya dibebankan pada satu orang saja. Apapun yang diputuskan, semua sudah melalui kesepakatan hasil pembicaraan, bukan karena keterpaksaan. Semua bisa berjalan kalau segala sesuatunya dibicarakan bersama. Kalau ada masalah ya diselesaikan bersama. “ Ketika pada satu tempat dia kecapaian, saya menggantikan posisinya didepan, mengayuh sepeda untuk kami berdua. Kalau kami berdua sama-sama capek, kami berhenti sejenak, menghela nafas dan menikmati pemandangan yang ada.

Duduk-duduk disini sambil mengamati burung di Natuurmonumenten
Duduk-duduk disini sambil mengamati burung di Natuurmonumenten
Capek sepedahan, istirahat lihat pemandangan seperti ini
Capek sepedahan, istirahat lihat pemandangan seperti ini

Kebetulan yang sangat menyenangkan adalah pada saat kami ke Texel, rupanya sedang ada festival laut yang diadakan di Oudeschild, pelabuhan satu-satunya yang bisa digunakan pada sisi timur pulau Texel. Ketika kami sampai disana, pas dengan waktu makan siang. Walhasil kami berkeliling dari satu stan ke stan lainnya yang banyak menyediakan makanan laut gratis. Cerita tentang festival laut ini sudah pernah saya tulis disini.

Oudeschild
Oudeschild

Texel terkenal dengan domba, sapi, dan bir. Tidak mengherankan kalau sepanjang mata memandang sapi dan domba ada dimana-mana. Jika ingin mencicipi bir Texels secara langsung, bisa langsung datang ke pabriknya karena dibelakang pabrik ada cafe dengan interior klasik.

Pabrik Bir Texel
Pabrik Bir Texels

Menyusuri desa-desa yang ada di Texel juga tidak kalah seru. Banyak hal tidak terduga yang menyenangkan bisa dijumpai. Seperti dibeberapa rumah menjual selai buatan sendiri, atau gereja yang sudah ada sejak tahun 1700an dan dihalaman belakangnya ada kuburan yang bagus-bagus dan masih terawat rapi atau tiba-tiba melihat jemuran melintas diatas jalan dan masih banyak kejutan unik yang bisa ditemukan di desa-desa ini.

Desanya apik dan bersih
Desanya apik dan bersih
Kami waktu itu bertanya-tanya sendiri, ini jemuran betulan atau semacam simbol apa gitu? entahlah
Kami waktu itu bertanya-tanya sendiri, ini jemuran betulan atau semacam simbol apa gitu? entahlah
Gereja disalah satu desa di Texel
Gereja disalah satu desa di Texel

Jangan lupa kalau sudah di Texel untuk mengunjungi mercusuarnya. Kita bisa naik dan melihat sekeliling pantai Texel dari atas mercusuar. Untuk bisa naik ke mercusuar, diwajibkan untuk membeli tiket dulu (lupa berapa harganya). Selain mercusuar, taman nasional juga menjadi daya tarik sendiri untuk dikunjungi karena didalam taman nasional ada hutan, bukit pasir dan pantai dalam satu kawasan. Unik dan menarik.

Vuurtoren Texel
Vuurtoren Texel
Bukit pasir
Bukit pasir
Pemandangan dari atas bukit pasir
Pemandangan dari atas bukit pasir

Akhir dari bersepeda selama 13 jam dan sepanjang 90 km (mampir kesana sini dan beberapa kali berhenti), kami memutuskan untuk menunggu matahari terbenam dipantai sembari bermain dengan beberapa burung yang mendekat. Ketika bangun tidur hari berikutnya, lutut saya nyeri sekali, rasanya ngilu buat berjalan. Tidak terbiasa bersepeda sepanjang 90 km. Sedangkan suami malah mengajak latihan lari.

IMG_3964

Tuntas sudah berkeliling Texel dalam satu hari dan kami bisa mendatangi semua tempat yang ada dipeta ditambah bonus  mengunjungi festival laut. Keesokan harinya kami pulang kembali ke Den Haag tepat pada ulang tahun perkawinan kami yang pertama. Pada saat sedang dikapal untuk menyeberang, secara tidak sengaja saya memotret dua buah burung yang terbang saling berjajar. Hadiah ulang tahun dari alam, begitu kami menyebutnya.

Semacam hadiah dari alam? :)
Semacam hadiah dari alam? 🙂

Tertarik untuk mengunjungi Texel?

-Andolsheim, 27 Maret 2016-

Semua foto adalah dokumen pribadi.

Pengalaman Menjadi Sukarelawan di Den Haag

Vrijwilliger = Sukarelawan

Menjadi sukarelawan bukanlah hal yang baru buat saya karena pada dasarnya saya adalah tipe orang yang cepat bosan jika tidak melakukan kegiatan jika ada waktu senggang yang banyak. Maksudnya kegiatan disini adalah yang bertemu dengan beberapa atau banyak orang dan melakukan sesuatu yang baru sesuai minat. Dengan menjadi sukarelawan banyak hal baru yang bisa saya dapat dan membuat semakin bertambah ilmu juga pengalaman. Dari masing-masing kegiatan sukarelawan yang pernah saya ikuti, suka dukanya juga berbeda-beda, ilmu dan pengalaman yang didapat pastinya juga berbeda. Tetapi sejauh ini, saya selalu menikmati kegiatan sukarelawan yang sesuai dengan minat serta disesuaikan dengan waktu yang tersedia. Sewaktu kerja di Jakarta, jika sedang tidak ada tugas kantor keluar kota pada akhir pekan, saya selalu menyempatkan diri untuk mengikuti beberapa kegiatan sukarelawan yang memang tidak jauh-jauh dari kegiatan mengajar dan bercerita karena memang saya suka dua hal tersebut. Beberapa kegiatan sukarelawan di Jakarta yang pernah saya ikuti adalah Indonesia Bercerita, Shoebox project, dan mendongeng disebuah rumah baca. Sedangkan ketika kembali kuliah di Surabaya, saya mengikuti Kelas Inspirasi (ceritanya disini). Senang bertemu kenalan baru, berbagi pengalaman dengan mereka, melatih kesabaran ketika bertemu dengan anak-anak, bahkan sering menangis terharu melihat kepolosan serta mimpi-mimpi yang sering diutarakan oleh anak-anak ini saat saya berinteraksi langsung dengan mereka. Pengalaman hidup yang tidak akan terlupakan.

Ketika pindah ke Den Haag, beberapa kenalan memberikan saran untuk mengikuti kegiatan sukarelawan sebagai sarana melatih berbicara bahasa Belanda dan untuk bersosialisasi dengan lingkungan di Belanda. Mama mertua dan suami juga menyarankan hal serupa. Pada bulan kelima sejak datang, saya mulai memberanikan diri untuk membaca dibeberapa website tentang kegiatan sukarela yang ada. Tetapi kebanyakan membutuhkan kemampuan bahasa Belanda. Saya nekat untuk mencoba melamar beberapa dan seperti sudah diduga, lamaran saya ditolak semua karena memang yang mereka butuhkan yang bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Belanda (yang saya lamar memang organisasi yang membutuhkan kemampuan bahasa Belanda selain bahasa Inggris). Sampai pada akhirnya bulan Oktober 2015, ketika guru disekolah bahasa Belanda mengatakan bahwa kemampuan berbicara saya sudah lumayan bagus (dibandingkan ketika baru masuk yang bisanya cuma hitungan dan beberapa kalimat pendek dengan tata bahasa yang acak adut) dan beliau memberikan alamat website organisasi yang mengkoordinasi sukarelawan di Den Haag, barulah saya mempunyai kepercayaan diri untuk mulai mencoba melamar lagi. Setelah memilih dan memilah, akhirnya beberapa lamaran saya kirimkan. Dibawah ini adalah beberapa pengalaman saya menjadi sukarelawan di Den Haag :

Guru Tamu di The World In Your Classroom (The World In Your Classroom)

Saya pernah menuliskan cerita sebagai guru tamu untuk kegiatan TWIYC ini pada tulisan sebelumnya disini. TWIYC adalah sebuah proyek atau kegiatan sukarela yang diprakarsai oleh pemerintah kota (Gemeente) Den Haag yang bekerjasama oleh ACCESS, PEP, The Bridge Hague, Holland Times serta AngloInfo sebagai media partner. The Hague atau yang dikenal dengan Den Haag adalah kota Internasional yang banyak sekali pendatang dari segala penjuru dunia dengan tujuan menetap ataupun bekerja. Pemerintah kota Den Haag melihat sebuah peluang dari keberagaman pendatang tersebut yang bisa dijadikan sebagai sebuah kerja sukarela (vrijwilligerswerk) sebagai sukarelawan (volunteer atau dalam bahasa Belanda disebut vrijwilliger), maka didirikanlah TWIYC. Kegiatan dalam TWIYC ini bertujuan memberikan kesempatan kepada para pendatang untuk menjadi Guest Lecturer dalam waktu satu jam pada siswa berusia 12 sampai 16 tahun disekolah menengah (Middelbare School) diseluruh Den Haag.

Presentasi tentang Indonesia disalah satu sekolah di Voorburg - Belanda
Presentasi tentang Indonesia disalah satu sekolah di Voorburg – Belanda

Sampai pada saat ini saya sudah mendatangi 4 sekolah di Den Haag untuk mempresentasikan tentang Indonesia (dengan tema keragaman kuliner tradisional di Indonesia). Saya senang dengan kegiatan ini karena bisa berinteraksi langsung dengan murid-murid dan guru serta seringkali mendapatkan kejutan-kejutan menyenangkan dari pertanyaan-pertanyaan yang terlontarkan. Senang mendapati mereka sangat antusias untuk mengetahui Indonesia. Seringnya karena terlalu banyak yang bertanya tetapi waktu yang tersedia hanya maksimal satu jam, guru yang berada dikelas membatasi pertanyaan dan murid-murid tetap berebut bertanya. Pada dua sekolah terakhir saya mempresentasikan penuh dalam bahasa Belanda karena murid-muridnya kesulitan mengerti jika saya menyampaikan semua materi dalam bahasa Inggris. Ini menjadi tantangan tersendiri untuk saya karena terus terang bahasa Belanda saya juga masih pas-pasan. Beruntungnya saya dibantu oleh guru jika ada kesulitan dengan beberapa kata.

Sukarelawan di Yayasan untuk anak-anak Difabel (Middin)

Middin adalah yayasan yang bergerak fokus untuk anak-anak difabel (differently abled yaitu anak-anak yang mempunyai perbedaan level fungsi jasmani dan atau rohani). Middin ini ada dibeberapa tempat di Den Haag. Anak-anak yang ada di Middin tinggal disana selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Sewaktu saya melamar, mereka sedang membutuhkan orang untuk membantu didapur sebagai tukang masak, menyiapkan makan malam untuk anak-anak ini serta menemani mereka makan. Karena suka masak, maka saya memberanikan diri untuk melamar. Ternyata pertanyaan pertama dari mereka adalah apakah saya suka memasak dan bisa memasak. Setelah wawancara, saya disuruh datang minggu depannya langsung bekerja untuk masa percobaan.

Berada didapur dengan kolega yang kesemuanya menggunakan bahasa Belanda membuat saya sempat kaget karena tidak bisa mengikuti alurnya. Mereka berbicara cepat sekali, saya sampai terbengong tidak paham yang diterangkan. Tapi hal tersebut tidak berlangsung lama. Setelah beberapa saat, saya sudah menyatu dengan suasana dapur. Memasak untuk anak-anak difabel tidak bisa sembarangan karena mereka mempunyai diet makanan dan minuman. Jadi sudah ada posnya siapa menyiapkan untuk anak difabel yang mana. Dan masing-masing menu harus dibaca dengan sungguh-sungguh supaya tidak ada salah. Disini saya belajar bekerjasama dan dituntut belajar dengan cepat serta konsentrasi yang tinggi. Saat mendampingi anak-anak tersebut makan juga menimbulkan perasaan haru untuk saya. Karena jadwal dari Middin tidak cocok dengan jadwal saya, akhirnya saya hanya bisa datang dua kali dan setelahnya tidak bisa melanjutkan lagi.

Sukarelawan dirumah perawatan untuk orang tua (WoonZorgcentra Haaglanden)

WoonZorgcentra Haaglanden (selanjutnya saya singkat menjadi WZH) adalah yayasan yang menangani orang tua dirumah perawatan (disebut verpleeghuis) yang ada di Den Haag tersebar dibeberapa cabang. Jadi mereka yang tinggal di verpleeghuis karena ada masalah dengan kesehatan (kesehatan badan dan atau daya ingat) tetapi dalam kondisi yang tidak parah. Berdasarkan dari informasi supervisor saya, mereka tinggal disini bisa jadi dalam jangka waktu tertentu atau dalam jangka waktu yang tidak ditentukan. Contohnya : misalkan ada orang tua yang tidak bisa berjalan dengan baik sehingga menggunakan kursi roda tetapi daya ingatnya masih baik dan tidak mempunyai masalah kesehatan yang lainnya, maka beliau tinggal disini dalam jangka waktu tertentu yang nantinya akan ditinjau ulang berdasarkan keadaan yang ada.

Mereka ada yang masih mempunyai keluarga sehingga mendapatkan kunjungan misalkan setiap minggu sekali ataupun dua minggu sekali bahkan bisa sebulan sekali. Tetapi beberapa juga sudah tidak mempunyai keluarga lagi. Untuk tinggal disini, mereka harus membayar yang diambil dari uang tunjangan.

Saya menjadi sukarelawan di WZH dengan waktu kerja dua kali dalam seminggu sejak jam 8 pagi sampai jam 3 sore. Proses menjadi sukarelawan disini sama dengan di Middin yang melewati  wawancara dan masa percobaan. Diawal ditanyakan motivasi menjadi sukarelawan apa, yang saya jawab untuk memperlancar bahasa Belanda dan untuk bersosialisasi dengan lingkungan di Belanda. Dua minggu kemudian ada kontrak kerja yang harus ditandatangani sebagai sukarelawan yang mencantumkan hak dan kewajiban saya serta diberikan tanda pengenal sebagai sukarelawan disana. Oh iya, sebelumnya saya harus mengajukan permohonan verklaring omtrent het gedrag certificate of conduct (ini semacam surat keterangan berkelakuan baik) ke Ministerie van Veiligheid en Justitie (Ministry of Security and Justice) yang biayanya ditanggung oleh WZH.

Vrijwilliger = Sukarelawan
Vrijwilliger = Sukarelawan

Apa yang saya kerjakan disini? Saya mempersiapkan makan pagi dan makan siang untuk 10 orang tua. Sebelumnya saya jelaskan dulu bahwa WZH ini ada digedung yang besar terdiri dari beberapa lantai dan tiap lantai ada beberapa bagian (afdeling). Saya ada disalah satu afdeling. Satu afdeling terdiri sekitar 20 pasien. Nah saya bertanggungjawab mempersiapkan sarapan dan makan siang hanya untuk 10 orang tua. Ada orang tua yang bisa makan diruang makan, ada yang tidak mau. Untuk yang tidak mau, saya mengantarkan makanan ke kamarnya dan mereka akan makan sendiri disana. Ada yang bisa makan diruang makan dan makan sendiri. Ada yang bisa makan diruang makan dan perlu bantuan untuk disuapi. Saya akan menyediakan makanan dulu untuk mereka yang bisa makan sendiri kemudian melanjutkan menyiapkan makanan dan menyuapi bagi yang tidak bisa makan sendiri. Ada pasien yang memang tidak bisa makan dan membutuhkan peralatan tertentu, ini yang melakukan adalah perawat.

Dalam menyiapkan makanan disini saya juga harus berhati-hati. Ada orang tua tertentu yang tidak ada daftar dietnya (jadi tidak ada masalah dengan makanan), tetapi yang lainnya ada daftar dietnya. Saya harus pelan-pelan membacanya supaya tidak salah. Diawal-awal saya harus beberapa kali membuka kamus bahkan bertanya pada kolega kalau ada kata-kata atau instruksi pada daftar diet yang saya tidak mengerti.

Selain menyiapkan makanan, tugas saya lainnya adalah bertanggungjawab terhadap kebersihan ruang makan, menemani para orang tua misalkan : ke fisioterapi, dokter gigi, ke salon, membacakan cerita jika mereka menginginkan, menemani berbicara sambil minum kopi atau teh (bagi mereka yang diperbolehkan mengkonsumsi teh dan kopi).

Kolega saya adalah dokter, perawat, murid-murid yang sedang magang, mereka yang bekerja paruh waktu, koki, mereka yang membantu membersihkan ruangan pasien. Yang menyenangkan adalah saya dikirim dua kali kursus tentang bagaimana cara merawat orang tua dan seluk beluk bekerja dibagian perawatan. Beberapa bulan kemudian saya mendapatkan tawaran untuk bekerja paruh waktu di WZH.

Keuntungan menjadi sukarelawan :

  • Tujuan saya bisa tercapai yaitu memperlancar bahasa Belanda dan terjun langsung ke lapangan bekerja dan bersosialisasi dengan lingkungan di Belanda. Hal ini saya rasakan sekali manfaatnya terutama saat saya ujian Kennis Nederlandse Maatschappij (ujian kemasyarakatan Belanda) ataupun ujian integrasi lainnya (ujian bahasa Belanda inti dan ONA). Kenapa kesannya saya selalu menuliskan untuk belajar langsung (praktik) untuk memperlancar bahasa Belanda? karena sadar kemampuan berbahasa saya yang tidak bisa cepat jika tidak diiringi dengan praktik langsung. Berbicara dengan suami dirumah menggunakan bahasa Belanda tidak cukup untuk saya. Karenanya saya membutuhkan media lain supaya saya bisa mendengarkan bermacam aksen dan telinga saya terbiasakan dengan obrolan bahasa Belanda.
  • Bisa menjadi referensi yang positif saat mencantumkan di CV ketika mengirimkan lamaran kerja.
  • Bisa mengisi waktu luang lebih bermanfaat terutama buat saya yang baru setahun lebih sedikit tinggal di Den Haag supaya mempunyai kegiatan diluar rumah.
  • Di Den Haag, para sukarelawan setiap sebulan sekali, paling lama dua bulan sekali mendapatkan undangan untuk menghadiri semacam acara kumpul bulanan. Jadi saya bisa bertemu dengan sukarelawan lain diseluruh Den Haag serta beberapa pihak dan organisasi yang terkait didalamnya. Hal ini bagus untuk melakukan networking. Selain itu, disetiap pertemuan juga selalu ada materi atau pembicara professional dan pakar dibidangnya yang dihadirkan : misalkan membahas bagaimana strategi untuk mencari kerja di Belanda. Selama ini saya sudah menghadiri dua pertemuan tersebut.
  • Meskipun namanya adalah kerja sukarela, tetapi untuk beberapa jenis pekerjaan, misalkan untuk saya pada Middin dan WZH, ongkos perjalanan diganti. Jadi akan dihitung jarak dari rumah ke tempat kerja kemudian mereka akan mengganti uang transportasinya yang dibayar setiap tiga bulan sekali. Selain itu saya diberikan kontrak kerja sehingga tahu hak dan kewajibannya apa. Satu lagi yang menyenangkan adalah dikursuskan berarti menambah ilmu baru.
  • Belajar banyak hal baru yang berbeda dengan pengalaman kerja maupun latar belakang pendidikan saya di Indonesia. Mendapatkan ilmu baru contohnya saya yang dikirim kursus seperti yang saya ceritakan diatas pada bagian menjadi sukarelawan di WZH. Selain saya mendapatkan manfaatnya, saya juga bisa membantu orang lain juga.
  • Banyak belajar pengalaman hidup, ini saya dapatkan ketika berbicara dengan para orang tua. Mereka akan bercerita tentang banyak hal tentang kehidupan. Membuat saya lebih banyak bersyukur dengan yang saya miliki saat ini. Tidak hanya itu saja, bahkan saya juga bisa belajar sejarah karena mereka sering bercerita tentang sejarah negara tertentu termasuk Belanda.

Saya merasakan ada perbedaannya menjadi sukarelawan di Indonesia dan di Den Haag. Kalau di Indonesia berdasarkan pengalaman saya, organisasi atau wadah atau tempat yang membutuhkan sukarelawan berdiri sendiri-sendiri jadi tidak ada payung besarnya untuk mengkoordinasi (mohon koreksinya jika saya salah). Sedangkan yang saya rasakan di Den Haag, untuk menjadi sukarelawan bisa mendaftar melalui “payung besarnya” atau bisa disebut ada yang mengkoordinasi. Jadi organisasi atau yayasan atau tempat-tempat yang menerima sukarelawan tidak berdiri sendiri, melalui satu jalur koordinasinya.

Bagaimana cara mendaftar untuk bisa menjadi sukarelawan di Den Haag? Kalau saya sejak awal mendaftar lewat DenHaagDoet.nl. Disana banyak sekali pilihan kerja sukarela yang sesuai dengan minat serta beberapa website vrijwilligerswerk yang lain. Untuk pendatang baru di Belanda seperti saya yang memang tujuan jangka panjangnya adalah tinggal disini, jika memang belum ada kegiatan, saya sarankan untuk mengikuti kerja sukarela. Keluar rumah dan melakukan kegiatan yang bermanfaat sangat berguna untuk mengusir rasa kangen kepada keluarga di Indonesia, supaya tidak ngelangut dalam bahasa Jawa. Selain itu, juga bagus untuk melatih kemampuan berkomunikasi menggunakan bahasa Belanda dan bersosialisasi dengan lingkungan di Belanda.

Tulisan ini terinspirasi oleh pengalaman Ailsa menjadi sukarelawan di Irlandia.

Ada yang mempunyai pengalaman menjadi sukarelawan?

-Den Haag, 20 Maret 2016-

Menjelajahi Keindahan Zaanse Schans

Zaanse Schanse. Seandainya cuaca cerah, pasti langitnya bagus sekali

Sejak malam hari, hujan tidak berhenti mengguyur Leeuwarden. Tidak hanya hujan, angin kencang dan sesekali  disertai suara gemuruh dari langit jelas terdengar dari kamar tempat kami menginap. Malam itu kami mengisi waktu dengan berbincang mengenai beberapa hal, termasuk tentang keindahan Giethoorn yang kami kunjungi dipagi hari. Maklum saja, saya masih sangat terpesona dengan desa kecil yang mempunyai 180 jembatan dan rumah-rumah yang unik seperti yang sering saya bayangkan, seperti dinegeri dongeng begitu saya menyebutnya. Tidak heran kalau Giethoorn disebut sebagai Venice-nya Belanda karena serupa dilihat dari banyaknya jembatan yang melintasi sungai didesa tersebut. Cerita kami pergi ke Giethoorn pernah saya tulis disini. Jalan-jalan pada saat itu dalam rangka untuk merayakan ulangtahun saya. Selain Giethoorn kami ingin mengunjungi beberapa tempat lainnya, salah satunya adalah Zaanse Schans.

Pagi tepat pada hari ulangtahun saya, hujan belum juga berhenti malah suara angin terdengar semakin kencang. Saya mengatakan kepada suami untuk dibatalkan saja rencana ke Zaanse Schans. Suami mengatakan, “kita lihat saja nanti,” karena kami akan mampir dahulu ke rumah kenalan dan satu museum. Kami berharap cuaca akan cerah saat tiba di Zaanse Schans. Namun harapan bertepuk sebelah tangan dengan kenyataan karena sesampainya disana, angin semakin kencang dan hujan semakin deras. Kami harus menunggu sesaat dimobil sebelum memutuskan untuk nekat menerobos cuaca buruk tersebut. Akhirnya kesampaian juga saya melihat wilayah yang lengkap dengan beberapa ikon Belanda, salah satunya kincir angin.

Zaanse Schans adalah sebuah kawasan wisata dan museum terbuka yang masih berpenduduk yang terletak tidak jauh dari Amsterdam, masuk diwilayah Zaandam. Jika ingin ke Zaanse Schans dari Amsterdam Centraal (Stasiun Amsterdam) bisa ditempuh dengan dua cara. Pertama, bisa dengan menggunakan bis nomer 391 dan turun dihalte Zaanse Schans. Cara kedua adalah dengan menggunakan kereta kemudian turun distasiun Koog-Zaandijk. Perjalanan dengan menggunakan kereta memakan waktu sekitar 18 menit dilanjutkan berjalan kaki sekitar 17 menit untuk menuju ke lokasi.

Zaanse Schanse. Seandainya cuaca cerah, pasti langitnya bagus sekali
Zaanse Schanse. Seandainya cuaca cerah, pasti langitnya bagus sekali

Menurut sumber yang saya baca (disini), pada abad 18 dan 19 diwilayah Zaan ada sekitar 600 kincir angin aktif. Wilayah ini dikenal sebagai kawasan industri tertua di Eropa barat. Didalam kawasan industri ini dilakukan beberapa pekerjaan industri seperti memproduksi rak, cat, mustar, minyak untuk makanan dan cat, produksi kertas, semua jenis kain, bunga, dan masih banyak lainnya. Pada masa sekarang, kita bisa menikmati keindahan kincir-kincir angin tersebut dengan menggunakan perahu menyusuri sungai Zaan. Sayang pada saat kami kesana perahu-perahu tersebut tidak ada yang beroperasi karena cuaca buruk. Bagaimana tidak, berjalan kaki untuk berkeliling disekitar Zaanse Schans saja susah karena angin yang super kencang, apalagi kalau naik perahu, bisa-bisa nyemplung ditengah sungai.

IMG_1260

IMG_1262

Kincir angin merupakan salah satu ikon dari Belanda selain bunga tulip, sepeda, keju, klompen, ehmm apa lagi ya. Karenanya Belanda juga dikenal sebagai negara kincir angin. Di Zaanse Schans kita bisa masuk ke beberapa kincir angin yang ada dengan membayar (saya lupa berapa) dan mengetahui proses kincir angin berputar serta sejarahnya. Tetapi untuk masuk ke wilayah Zaanse Schanse sendiri, gratis. Saat ini di Zaanse Schans ada 6 kincir besar yang memiliki nama dan fungsi yang berbeda. De Gekroonde Poelenburg, Het Jonge Schaap, De Zoeker & De Bonte Hen (pembuatan minyak), De Huisman (penggilingan rempah), dan De Kat (pembuatan cat). Masih ada beberapa beberapa kincir angin kecil lainnya diwilayah ini. Pada saat itu kami masuk ke dua kincir angin, kalau tidak salah kincir angin yang berfungsi untuk menggerus kapur dan satu lagi untuk menggerus rempah (mudah-mudahan tidak salah ingat karena sudah setahun yang lalu).

IMG_1271
Roda yang berfungsi untuk menggerus.

IMG_1270

IMG_1272

Rempah-rempah. Sewaktu disini ada pengunjung dari Jerman yang bertanya kepada saya "bedanya ketumbar sama merica apa?" berasa lagi dites sama calon mertua :D
Rempah-rempah. Sewaktu disini ada pengunjung dari Jerman yang bertanya kepada saya “bedanya ketumbar sama merica apa?” berasa lagi dites sama calon mertua 😀

Mengelilingi Zaanse Schans kita seperti diajak untuk bisa merasakan pengalaman hidup masyarakat Belanda pada abad ke 18 dan 19. Di tempat ini ada rumah-rumah tradisional asli Belanda, pabrik pembuatan keju dan susu, galangan kapal bersejarah, pabrik timah, toko kelontong berusia ratusan tahun, demonstrasi pembuatan klompen, dan yang menjadi daya tarik utama banyak turis datang kesini tentu saja kincir angin.

Roda didalam rumah kincir angin yang menggerus kapur
Roda didalam rumah kincir angin

IMG_1304

Tangga menuju ke balkon
Tangga menuju ke balkon

Saya beberapa kali mengatakan kalau pada hari dimana ke Zaanse Schans cuaca sangat buruk. Saya melihat dengan mata kepala sendiri ada beberapa turis (ibu-ibu) sampai jatuh dan nyungsep saking tidak kuat menahan angin. Sewaktu kami sedang berada dibalkon rumah kincir angin, maksud hati ingin foto bersama, ternyata kami malah ketakutan sambil menahan badan supaya tidak terseret angin. Kan ga lucu kalau kecemplung ke kali :D.

Foto dari atas balkon
Foto dari atas balkon
Senyum sambil menahan badan supaya tidak terseret angin kebelakang. Demi eksistensi :p
Senyum sambil menahan badan supaya tidak terseret angin kebelakang. Rok sampai berkibar dan suami menahan saya supaya tidak kecemplung. Demi eksistensi ini :p

Ada beberapa tempat lagi yang kami kunjungi. Yaitu museum Albert Heijn (Supermarket di Belanda), tempat pembuatan coklat dan tempat pembuatan keju serta beberapa museum lainnya.

Museum Coklat
Tempat pembuatan coklat
Ada uleg-uleg!
Ada uleg-uleg!
Bentuk coklatnya lucu ya. Nampak seperti asli.
Bentuk coklatnya lucu ya. Nampak seperti asli.
Pabrik pembuatan keju
Tempat pembuatan keju
Pabrik pembuatan keju
Tempat pembuatan keju
Surga keju! Berbagai jenis keju dijual disini
Surga keju! Berbagai jenis keju dijual disini
Mau pilih keju yang mana?
Mau pilih keju yang mana?
Boleh dicicipi dulu sebelum dibeli. Saya sampai kenyang lho cicip sana sini sambil diolesin yang dibotol-botol itu. Rasa kejunya bermacam-macam. Sampai ada keju pedas segala.
Boleh dicicipi dulu sebelum dibeli. Saya sampai kenyang lho cicip sana sini sambil diolesin yang dibotol-botol itu. Rasa kejunya bermacam-macam. Sampai ada keju pedas segala.
Sepanjang meja itu keju-keju yang disediakan untuk dicicipi kalau akan membeli (atau sekedar ingin mencicipi saja)
Sepanjang meja itu keju-keju yang disediakan untuk dicicipi kalau akan membeli (atau sekedar ingin mencicipi saja).

Sayang sekali waktu itu langit sedang tidak bersahabat menampakkan warna birunya sehingga foto-foto yang dihasilkan juga bernuansa abu-abu. Tetapi hal tersebut tidak mengurangi rasa senang saya karena menyaksikan secara langsung keindahan Zaanse Schans dan beberapa hal yang berkaitan dengan ikon-ikon yang ada di Belanda salah satunya adalah kincir angin. Jadi jika ingin melihat dan merasakan tempat yang sangat “Belanda”, datang saja ke Zaanse Schans yang dibuka sepanjang tahun, tetapi waktu yang baik adalah saat musim panas dan musim semi.

Rumah-rumah asli Belanda
Rumah-rumah asli Belanda
Rumah-rumah asli Belanda
Rumah-rumah asli Belanda

IMG_1310

Selamat berakhir pekan!

-Den Haag, 17 Maret 2016-

Semua foto adalah dokumen pribadi

Perayaan Tahun Baru Cina 2016 di Den Haag

Sabtu 13 Februari 2016, kami berkesempatan untuk menyaksikan kemeriahan perayaan Tahun Baru Cina 2016 di pusat (centrum) kota Den Haag. Acara ini berlangsung dari jam 11 siang sampai jam 5 sore. Meskipun paginya sempat mendung, tapi menjelang tengah hari langit berangsur cerah, padahal beberapa hari sebelumnya hujan setia mengguyur kota ini. Saya sempat mbatin, wah, pawang hujannya ciamik nih, namun akhirnya saya sadar masak iya disini ada pawang hujan. Walaupun udara tetap saja dingin menggigit (1 derajat celcius), sampai badan saya menggembung karena harus dobel-dobel memakai baju, jaket tebal juga syal dan sarung tangan, tetapi tak menyurutkan kayuhan sepeda kami menuju centrum.

Rupanya kami terlambat karena sesampainya di Stadhuis (Balai Kota), atraksi Barongsai sudah selesai. Jadi Perayaan Tahun Baru Cina disini menyebar diberbagai tempat tetapi masih disekitar pusat kota. Nah, perayaan utamanya (panggung utama, undangan-undangan penting yang hadir, pameran, hiburan) bertempat di Stadhuis.

Stadhuis Den Haag
Stadhuis Den Haag
Teh gratis
Teh gratis
Salah satu sudut di Stadhuis
Salah satu sudut di Stadhuis

DSC00328_1

Ada untungnya juga punya badan mungil seperti saya ini. Awalnya yang terhalang orang-orang yang tingginya menjulang, tetapi karena melihat kerumunan tidak terlalu rapat, akhirnya saya bisa merangsek pelan-pelan kearah dekat panggung. Nah, begitu saya melirik kearah kiri, kok melihat anak-anak kecil dan beberapa orang dengan kamera yang lensanya semacam teropong saking gedenya, gelesotan dilantai arah depan panggung persis, dan mereka menyandar meja. Akhirnya saya ikutan duduk lesehan dilantai. Awalnya anak-anak kecil itu melihat saya dengan pandangan semacam “Hoi, kamu sudah gede kok ikutan gaul sama anak-anak kecil” tetapi tidak berapa lama kemudian mereka mulai menyapa saya. Senang mendengarkan mereka berbicara karena anak-anak ini multi bangsa. Jadi kalau mereka saling berbincang menggunakan bahasa Belanda, trus kalau berbicara dengan orangtuanya ada yang menggunakan bahasa Mandarin, ada yang menggunakan bahasa Arab *hasil nguping. Iri deh melihat mereka lancar sekali berbahasa Belanda. Sementara sewaktu mereka mengajak saya ngobrol pandangannya semacam “Mbak iki ngomong opo sih kok aku ga paham.” (kok saya jadi suudzon ya :D).

Ini beberapa hiburan yang ada dipanggung utama. Saya tidak sampai selesai acara disini. Sementara suami sudah sejak awal melipir ketempat lain, maklum dia tidak suka acara yang ada suara kencang seperti ini. Jadinya kami berpisah mencari hiburan sesuai kesenangan masing-masing.

DSC00348_1

DSC00358_1

Duh anak-anak ini menggemaskan sekali main biola. Iri ingin bisa main biola juga
Duh anak-anak ini menggemaskan sekali main biola. Ingin bisa main biola juga *gampang kepengen

DSC00379_1

DSC00380_1

Puas menyaksikan hiburan di Stadhuis, saya melangkah ke Chinatown. Ternyata disebelahnya ada bazar makanan. Saya mampir sebentar, eh ketemu suami disana. Dia sedang keliling menelisik kemungkinan mendapatkan tester makanan. Dasar!

DSC00402_1

DSC00408_1

Sepertinya enak gorengan ini, tapi tidak tahu apa
Sepertinya enak gorengan ini, tapi tidak tahu apa

Dari kejauhan terdengar suara tabuhan dan petasan rencengan, bergegas kami menuju sumber suara. Ternyata sedang berlangsung pertunjukan Barongsai. Sayangnya saya benar-benar tidak bisa menerobos kerumunan yang benar-benar padat. Pawai ini diadakan beberapa kali dibeberapa tempat sampai jam 5 sore. Nampak sekali antusias yang menonton karena setiap pawai selalu padat pengunjung dari orang-orang yang kebetulan sedang melintas ataupun mereka yang sengaja menunggu.

DSC00409_1

image1-12

Selesai jalan-jalan sebentar ke beberapa toko, saya berbelanja sayur ke toko Amazing Oriental sementara suami belanja ke toko sebelah. Belum lama memegang tas belanja, saya mendengar suara tabuhan dekat sekali. Ternyata didepan toko ini sedang ada pertunjukan barongsai. Saya langsung lari keluar dan tas belanja saya letakkan dipinggir. Jadi ada 2 barongsai, merah dan hijau, mereka akan masuk kedalam toko. Kemudian ada satu orang seperti sedang berdoa didepan dua barongsai ini lalu memberikan sayur seperti kubis untuk dimakan kedua barongsai ini. Kedua barongsai diiringi tabuhan memasuki toko dan berjalan dengan gerakan barongsai yang meliuk-liuk kesetiap lorong didalam toko. Jadi saya menebak seperti upacara supaya rejeki lancar setahun kedepan mungkin ya. Seru sekali melihatnya. Ketika barongsai sudah keluar dari toko, eh ada yang bagi-bagi angpao dan coklat. Saya kebagian 3 amplop Angpao. Wah rejeki ya, mau belanja malah dikasih uang.

Salah satu Barongsai didepan toko
Salah satu Barongsai didepan toko

DSC00420_1

DSC00424_1

Bagi Angpao
Bagi Angpao
Dapat 3 Angpao. Rejeki tahun monyet api.
Dapat 3 Angpao. Rejeki tahun monyet api.

Sepulangnya dari centrum, kami makan malam direstoran Indonesia yang baru buka dekat rumah. Saya sejak beberapa minggu ini ingin sekali makan gudeg. Akhirnya keturutan juga makan gudeg direstoran ini. Kan sudah dapat Angpao, makanya makan-makan 😀

Es campur, Nasi Gudeg komplit, bakmi goreng sate kambing.
Es campur, Nasi Gudeg komplit, dan bakmi goreng sate kambing.

Senang sekali akhirnya tahun ini bisa menyaksikan kemeriahan perayaan tahun baru Cina 2016. Sepertinya baru kali ini saya menyaksikan perayaan ini, di Indonesia belum pernah melihat secara langsung, hanya menyaksikan liputan di TV.

 -Den Haag, 14 Februari 2016-

Semua foto adalah dokumentasi pribadi

Berkunjung ke Pusat Kota Gouda

Pasar Keju Gouda

Jika mendengar kata Gouda, apa yang ada dipikiran? Yap, Keju! Meskipun bukan penyuka keju, tetapi sejak tinggal di Indonesia saya sudah familiar dengan Gouda karena saat menyusuri lorong susu dan keju di supermarket, keju Gouda dengan mudah dapat ditemukan. Di Belanda, tiga kota penghasil keju yang terkenal adalah Gouda, Edam, dan Alkmaar. Gouda menyumbang sekitar 60% produksi keju di Belanda. Meskipun Gouda lekat dengan keju, sesungguhnya ada sisi menarik lain dari kota Gouda. Ketika berkunjung ke pusat kota Gouda, maka akan terlihat beberapa bangunan bersejarah dengan bentuk yang menawan, kanal dengan undakan, maupun taman disudut kota.

Balai Kota (Stadhuis) Gouda
Balai Kota (Stadhuis) Gouda

Gouda terletak diprovinsi Zuid Holland. Selain terkenal dengan keju, kota ini juga dikenal sebagai penghasil stroopwafel dan lilin. Ada beberapa acara terkenal di Gouda yang seringkali menarik perhatian wisatawan untuk berkunjung, salah satunya adalah Pasar Keju Gouda. Pada awal April sampai akhir Agustus setiap tahun, tepatnya hari kamis pukul 10.00 – 12.30 salah satu pasar keju tradisional di Belanda digelar di Gouda. Kenapa disebut tradisional? Karena petani membawa langsung keju ke pasar (yang terletak disekitar Stadhuis) dengan menggunakan gerobak yang disebut brik, proses uji kualitas, ditimbang digedung timbang, diberi harga, kemudian dijual. Menyenangkan jika berada dipasar seperti ini adalah bisa mencicipi keju secara gratis. Sayang sekali tahun kemarin saya tidak bisa menyaksikan secara langsung pasar keju ini karena hari dan jamnya bertepatan dengan saya sekolah. Beruntungnya saya mendapatkan salah satu foto dari Rurie.

Pasar Keju Gouda
Pasar Keju Gouda. Foto : Rurie

Saya mengenal Rurie dari Melly yang tinggal di Jerman. Beruntung akhirnya saya kenal dengan Rurie, jadi punya alasan untuk berkunjung ke Gouda. Maklum, Gouda dan Den Haag jaraknya tidak terlalu jauh, secara psikologis biasanya kalau tempat yang dekat dikunjunginya menyusul dikemudian hari, justru tempat yang jauh didatangi lebih dahulu. Rurie punya usaha katering spesialis makanan Indonesia bernama Kios Kana. Kios Kana ini menerima pesanan dan pengiriman dari dan ke seluruh Eropa. Saya beberapa kali pesan ke Kios Kana untuk makanan yang tidak bisa (belum bisa lebih tepatnya) saya buat sendiri, contohnya baso ikan, ikan asin, cumi asin, pempek, dan lumpia semarang isi tahu. Saya ketagihan dengan Ikan asin dan cumi asin buatannya, oh iya baso ikannya juga enak sekali. Kios Kana ini kios serba ada, tidak hanya menyediakan beragam masakan Indonesia, tetapi juga beberapa barang atau bumbu yang berhubungan dengan Indonesia, semuanya (diusahakan) ada. Selain usaha Katering, Rurie juga seorang fotografer dan mempunyai usaha fotografi bernama Rurie van Sark Photography.

Saya kerumah Rurie dalam rangka menjaga putrinya yang masih bayi. Akhirnya Rurie mengajak saya untuk berkeliling ke pusat kota Gouda. Karena saat itu cuaca sedang panas dan bertepatan dengan bulan Ramadan yang 19 jam jadinya saya tidak mau uji nyali berkeliling terlalu lama, menghemat energi menuju buka puasa jam 10 malam. Beberapa tempat dibawah ini yang saya datangi :

De Waag atau gedung timbang selain menjadi tempat untuk penimbangan keju ketika pasar keju dilaksanakan, juga berfungsi sebagai museum keju dan beberapa kerajinan tangan dipajang disana.

De Waag
De Waag
Timbangan Keju
Timbangan Keju
Keju Gouda
Keju Gouda

 

Salah satu sudut De Waag
Salah satu sudut De Waag

Balai kota atau dalam bahasa Belanda adalah Stadhuis selain menjadi tempat kantor pemerintahan juga sebagai pelaksanaan pernikahan. Stadhuis Gouda ini dibangun pada tahun 1450. Pada saat saya sedang kesana, sedang berlangsung satu pernikahan.

Stadhuis Gouda
Stadhuis Gouda
Stadhuis dimalam hari. Foto : Rurie
Stadhuis dimalam hari. Foto : Rurie

Sint Janskerk adalah adalah gereja dengan tinggi 123meter yang menjadikan gereja tertinggi di Belanda dan terkenal didunia karena kemegahan 72 jendela kaca patri.Gereja ini pernah mengalami kebakaran hebat pada tahun 1552.

Sint Janskerk
Sint Janskerk
Bagian dalam Sint Janskerk. Sumber : http://www.sintjan.com/
Bagian dalam Sint Janskerk. Sumber : http://www.sintjan.com/

Selain bangunannya, taman dan kanal-kanal di Gouda juga sangat menarik. Berjalan diseputar pusat kota (centrum) Gouda tidak akan membosankan Saya lupa untuk memotret pusat perbelanjaan di Gouda.

Kanal di Gouda
Kanal di Gouda
Salah satu taman di Gouda
Salah satu taman di Gouda

Selain terkenal dengan pasar keju, setiap bulan Desember di Gouda ada festival cahaya atau disebut Kunslicht. Puncak acaranya ketika ribuan lilin dinyalakan serentak (yang disebut Kaarstlicht) di Markt Square diiringi oleh paduan suara Natal.

Kunslicht. Foto : Rurie
Kunslicht. Foto : Rurie
Kunslicht. Foto : Rurie
Kunslicht. Foto : Rurie

Setelah saya ajak berkeliling ke Pusat Kota Gouda melalui tulisan ini, tertarik untuk mengunjungi Gouda? Info tentang Gouda bisa didapat langsung pada website resmi kota Gouda.

-Den Haag, 10 Januari 2016-

Semua foto yang tidak ada keterangan sumbernya adalah dokumentasi pribadi.

Memperkenalkan Indonesia Melalui The World In Your Classroom Den Haag

The World In Your Classroom (TWIYC) adalah sebuah proyek atau kegiatan sukarela yang diprakarsai oleh pemerintah kota (Gemeente) Den Haag yang bekerjasama oleh ACCESS, PEP, The Bridge Hague, Holland Times serta AngloInfo sebagai media partner. The Hague atau yang dikenal dengan Den Haag adalah kota Internasional yang banyak sekali pendatang dari segala penjuru dunia dengan tujuan menetap ataupun bekerja. Pemerintah kota Den Haag melihat sebuah peluang dari keberagaman pendatang tersebut yang bisa dijadikan sebagai sebuah kegiatan sukarela (volunteer atau dalam bahasa Belanda disebut vrijwilliger), maka didirikanlah TWIYC. Kegiatan dalam TWIYC ini bertujuan memberikan kesempatan kepada para pendatang untuk menjadi Guest Lecturer dalam waktu satu jam pada siswa berusia 12 sampai 16 tahun disekolah menengah (Middelbare school) diseluruh Den Haag.

Para sukarelawan dapat memperkenalkan dan bercerita apapun tentang negara asal mereka dari segi sejarah, budaya, ekonomi, geografi, ataupun politik. Mereka diberikan waktu satu jam, mengambil jam pelajaran bahasa Inggris, bahasa Perancis, bahasa Jerman, Geografi, atau Sejarah. Para sukarelawan diberikan kesempatan menyampaikan topik yang telah dipilih dalam bahasa Inggris, bahasa Perancis, atau bahasa Jerman. Tetapi tidak menutup kemungkinan juga bisa menyampaikan dalam bahasa Belanda. Manfaat yang didapat oleh para sukarelawan tentu saja bisa langsung berinteraksi dengan siswa dan guru yang bertanggungjawab serta dapat menyampaikan hal-hal yang berhubungan dengan negara mereka. Sedangkan manfaat yang didapatkan oleh siswa adalah mereka mendapatkan kesempatan untuk berlatih keterampilan bahasa mereka, diluar bahasa Belanda (karena selain bahasa Inggris, mereka juga belajar bahasa lainnya seperti Perancis, atau Jerman) dan memperluas pengetahuan mereka tentang dunia. Beberapa bahkan mungkin terinspirasi belajar atau bekerja di luar negeri pada satu hari nanti.

Awal saya bergabung dengan TWICY karena pada saat itu sedang mencari kegiatan volunteer disekitar kota Den Haag untuk mempraktekkan bahasa Belanda agar lebih lancar. Sehari-hari saya memang sudah berbicara menggunakan bahasa Belanda dengan suami, keluarga, maupun ketika berbincang dengan orang-orang yang saya temui dipasar, supermarket maupun tetangga rumah. Bahkan saya sudah lihai melakukan tawar menawar dipasar supaya mendapatkan cabe rawit dengan harga murah perkilogramnya. Bangga beli cabe dengan harga murah. Jangan dibayangkan saya sudah cas cis cus lancar sekali berbahasa Belanda. Memang sudah cukup bagus kata guru saya untuk ukuran 10 bulan tinggal di Belanda, tapi menurut saya belum terlalu lancar dan saya belum puas. Justru karena itu, saya ingin lebih lancar lagi, tidak hanya berbicara dengan orang-orang yang saya sebut diatas, tapi saya juga ingin mencari pengalaman lain yang langsung terjun dalam sebuah kegiatan. Akhirnya suatu hari guru sekolah saya memberitahukan salah satu website yang memberikan informasi tentang kegiatan volunteer apa saja yang ada di kota Den Haag. Setelah membaca satu persatu sesuai minat, akhirnya saya memilih beberapa, salah satunya TWIYC ini.

Setelah mendaftar (saya mendaftar 2 hari menjelang tanggal penutupan), saya menerima email yang memberitahukan akan ada training sebelum langsung terjun ke sekolah yang ditunjuk. Singkat cerita pada tanggal 7 Oktober 2015 saya datang ke tempat training. Saya bertemu dengan 20 volunteer lainnya. Training ternyata dibagi 4 gelombang karena akan ada sekitar 80 volunteer (saya satu-satunya dari Indonesia). Pada training ini kami diberikan pengarahan cara menyampaikan materi dan memanfaatkan waktu 1 jam secara efektif dan efisien. Materi training diberikan oleh Irish dan didampingi oleh Lucie sebagai Koordinator TWICY. Ketika training berlangsung, saya langsung teringat ketika mengikuti Kelas Inspirasi. Bedanya Kelas Inspirasi memperkenalkan profesi sukarelawan, sementara TWICY  memperkenalkan negara asal sukarelawan.

Screen-Shot-2014-11-20-at-12.38.23-pm

Pada saat training, sukarelawan diharapkan sudah mempunyai ide topik yang akan dijadikan materi ketika menjadi Guest Lecturer. Terus terang saya masih belum ada ide ketika datang ke training tersebut. Indonesia sangat luas dan kaya akan segalanya, saya harus fokus pada satu topik. Tentunya topik tersebut yang saya senangi dan gampang ketika menyampaikan. Pada saat sesi brainstorming dengan semua sukarelawan, tiba-tiba saya mendapatkan ide cemerlang. Saya mantap mengatakan bahwa topik yang akan disampaikan adalah tentang ragam makanan di Indonesia., ragam kuliner Indonesia. Lucie mengatakan ide saya cemerlang karena menurutnya baru kali ini ada sukarelawan yang menyampaikan topik tentang ragam makanan suatu negara. Simpel saja sebenarnya kenapa saya tiba-tiba tercetus ide itu : Siapa yang tidak suka dengan obrolan tentang makanan. Saya juga mengatakan akan membawa alat peraga yaitu beberapa macam bumbu dan rempah yang digunakan dalam masakan Indonesia. Nantinya para siswa akan saya beri kesempatan untuk menyentuh dan mencium rempah dan bumbu yang akan saya bawa, jadi mereka mengetahui bumbu dan rempah seperti apa yang digunakan sehingga tercipta makanan Indonesia yang super lezat.

Sumber : http://www.theworldinyourclassroom.nl/
Sumber : http://www.theworldinyourclassroom.nl/

Training Didact 7 October

Beberapa waktu kemudian, saya menerima email dari Lucie yang mengatakan saya akan menjadi Guest Lecturer di Edith Stein College pada kelas ISK pada tanggal 24 November 2015 jam 11:20 – 12:20. Kelas ISK ini adalah kelas khusus untuk siswa yang baru datang ke Belanda, maksimal 2 tahun. Mereka belajar bahasa Belanda, bahasa Inggris dan Matematika dikelas tersebut. Siswanya berasal dari Indonesia, Polandia, Etopia, Syria, Afghanistan, Filipina, Spanyol, Brasilia, Bulgaria, China, Pakistan, Yunani, India, Portugal, Turki, dan Hungaria. Satu kelas terdiri dari 23 siswa. Kelas ISK ini semacam kelas Internasional. Saya senang sekali ada satu siswa dari Indonesia. Jadi saya bisa meminta dia untuk memberikan testimoni langsung tentang makanan Indonesia. Sebelum hari H, saya mengirim email ke Sytske yang merupakan guru bahasa Inggris di kelas ISK juga sebagai perwakilan sekolah pada saat saya menjadi Guest Lecturer di Edith Stein College, menanyakan beberapa hal salah satunya apakah ada murid yang mempunyai alergi ketika mencium bau tertentu. Beruntungnya tidak ada. Semua yang berkaitan dengan kegiatan TWIYC saya koordinasikan melalui email dengan Sytske. Saya juga membuat materi presentasi semenarik dan sesingkat mungkin karena waktunya hanya satu jam. IMG_6598

Selasa, 24 November 2015, sekitar jam 10.30 saya berangkat dari rumah. Hari itu, hujan deras mengguyur Den Haag, dingin dan angin kencang. Suhu udara 3 derajat celcius. Jarak antara rumah dan sekolah tidak terlalu jauh. Setelah sampai di Den Haag Centraal saya langsung menyalakan google maps menuju lokasi sekolah yang ternyata hanya 20 menit berjalan kaki. Sesampainya di sekolah, saya langsung menemui Sytske diruang guru. Menariknya adalah Sytske sudah 3 kali backpakeran ke Indonesia, tepatnya ke Tanjung Puting, Manado, Lombok, Flores, Jakarta, Bali, Sumbawa, Maluku, dan Raja Ampat. Saya malu hati dia sudah menjelajah beberapa tempat yang belum pernah saya datangi. Bahkan dia pernah backpackeran sendiri dalam keadaan hamil 6 bulan, menggendong tas ransel 50L. Setelah berbincang beberapa saat tentang teknis pelaksanaan, saya kemudian diperkenalkan dengan siswa asal Indonesia. Dia baru satu tahun di Belanda, tapi bahasa Belandanya sudah lancar sekali. Kami lalu menuju kelas untuk memulai sesi presentasi.

Siswa saat melihat video, bagian dari presentasi saya.
Siswa saat melihat video, bagian dari presentasi saya.
Saya saat berada didepan kelas.
Saya saat berada didepan kelas.

Saya lalu memperkenalkan diri kepada seluruh siswa. Kemudian saya bertanya kepada Sytske apakah pihak sekolah mengijinkan jika saya akan mendokumentasikan dalam bentuk foto selama kegiatan berlangsung dan akan saya taruh pada blog. Sytske mengijinkan sebagai perwakilan dari sekolah karena sekolah ini sudah terbiasa mendapatkan kunjungan. Kemudian saya bertanya kepada siswa apakah ada yang keberatan dengan hal tersebut, mereka menjawab serempak kalau mereka tidak keberatan. Jadi semua foto yang saya unggah disini sudah melalui persetujuan pihak sekolah maupun para siswa. Kemudian saya bertanya kepada mereka, apa yang mereka ketahui tentang Indonesia. Ada yang menjawab tarian, bakmi goreng, nasi goreng, Bali, bahkan ada yang menjawab cabe. Yang menjawab ini bukan siswa dari Indonesia. Dia sih diam saja, memberikan kesempatan pada yang lain untuk menjawab. Saya tersenyum dengan jawaban mereka. Ternyata ada yang tahu ya kalau mayoritas makanan Indonesia itu tidak jauh dari cabe :).

Presentasi saya buka dengan memutarkan video dari Good News From Indonesia yang saya dapat dari Youtube. Kemudian dilanjutkan ke slide berikutnya diantaranya saya menerangkan sekilas tentang sejarah rempah dan beberapa makanan Indonesia yang mendapatkan pengaruh dari beberapa negara yang pernah datang ke Indonesia, termasuk Belanda. Kemudian saya juga menceritakan kedekatan orang Indonesia dengan makanan Indonesia. Dimanapun orang Indonesia tinggal diseluruh penjuru dunia, mereka akan dengan suka cita menyambut topik pembicaraan tentang makanan Indonesia. Selain itu, saya juga menginformasikan bahwa makanan Indonesia itu jumlahnya ribuan (sesuai keterangan didalam video pada link diatas) karena masing-masing suku, masing-masing kota mempunyai jenis makanan sendiri. Lalu saya juga menerangkan tentang makanan yang berhubungan dengan perayaan atau hari besar keagamaan, misalkan tumpeng dan filosofi tumpeng. Selanjutnya juga saya jelaskan tentang waktu makan orang Indonesia dan jenis makanan yang biasanya dimakan, yang sebenarnya tidak pernah ada bedanya dari segi porsi ketika makan pagi, makan siang atau makan malam. Semua porsinya besar dan tidak ada pakem makanan tertentu dimakan pada saat tertentu. Satu lagi yang tidak kalah menarik, saya juga menginformasikan bahwa Rendang dan Nasi Goreng pernah dinobatkan menjadi makanan paling enak nomer 1 dan 2 didunia versi CNN Traveling pada tahun 2011. Terakhirnya saya tutup presentasi dengan video mencoba makanan Indonesia. Total slide presentasi saya sebanyak 16. Ditengah-tengah presentasi tersebut, saya ajak mereka untuk melihat dan mencium aroma dari rempah dan bumbu Indonesia.

Rempah dan bumbu yang saya bawa : kemiri, sereh, ketumbar, kayu manis, cengkeh, jahe, kunyit, daun jeruk, cabe, kencur, kunci, kluwek,
Rempah dan bumbu yang saya bawa : kemiri, sereh, ketumbar, kayu manis, cengkeh, jahe, kunyit, daun jeruk, cabe, kencur, kunci, kluwek, pala, bawang merah, bawang putih, dan asem kandis . Saya membuat 3 paket jadi kerumunan tidak berpusat disatu tempat. Semua rempah tersebut yang ada didapur saya, jadi tinggal angkut.

Para siswa sangat antusias menyimak selama saya memberikan presentasi. Banyak sekali pertanyaan dari mereka misalkan kenapa makanan Indonesia bumbunya banyak, kenapa rendang memasaknya lama,  Apa daging rendang tidak menjadi bubur setelah dimasak berjam-jam, kalau di Indonesia makan dipinggir jalan apa tidak sakit perut, kalau makan dengan tangan kosong (tidak menggunakan sendok atau garpu) apakah sehat, bahkan ada yang bertanya rasanya nasi goreng seperti apa. Saya membuat presentasi semenarik mungkin supaya para siswa tersebut merasa senang dan ada sesuatu yang baru yang mereka dapatkan. Pastinya banyak sekali foto makanan Indonesia didalamnya misalkan rendang, soto ayam, rendang, pempek, tumpeng, nasi goreng, sate padang, nasi bali, bebek betutu, bubur tinutuan dan masih banyak lainnya yang saya pinjam dari google, otomatis saya sertakan juga sumbernya. Saya juga meminjam beberapa foto makanan dari blog Melly dan Beth. Lucunya lagi, karena jam presentasi adalah jam menjelang makan siang, tentu saja foto-foto makanan tersebut membuat mereka lapar, sampai ada yang bilang “Stop, aku sangat lapar sekali.” Lalu ada yang curi-curi makan roti. Jangankan mereka, saya saja ikut-ikutan lapar ketika memperlihatkan satu persatu slide yang berisi makanan Indonesia tersebut.

Salah satu siswa sedang mencoba rasanya cabe :D
Salah satu siswa sedang mencoba rasanya cabe 😀
Ekspresi saat mereka mencium rempah.
Ekspresi saat mereka mencium rempah.

Selama sesi Guest Lecturer tersebut hampir seluruhnya saya menggunakan bahasa Inggris. Selebihnya, di 15 menit terakhir saya menggunakan bahasa Belanda. Hal tersebut yang menjadi kesepakatan saya dan siswa diawal. Saat menggunakan bahasa Belanda, hanya satu yang saya fikirkan, “Semoga saya tidak menyesatkan mereka dengan bahasa Belanda yang pas-pasan.” Mereka juga sedang belajar bahasa Belanda, jadi posisinya antara saya dengan para siswa tersebut juga sedang sama-sama belajar bahasa Belanda. Secara keseluruhan saya senang sekali mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan TWIYC. Saya bangga memperkenalkan Indonesia melalui program ini. Dan saya juga bahagia ketika para siswa merasa senang dengan materi yang saya sampaikan karena mereka bilang bahwa ini adalah pengetahuan baru yang mereka dapatkan juga mendapatkan pengalaman untuk mengerti bahan-bahan yang digunakan memasak makanan Indonesia. Ada siswa yang menyelutuk “Saya mau makan di Restoran Indonesia. Saya ingin makan Rendang.” Wah, senangnya bisa membuat mereka tertarik untuk langsung merasakan masaka Indonesia. Diakhir sesi kami berfoto bersama, dan saya diberi buket bunga oleh pihak sekolah. Rabu besok dan bulan depan saya kembali akan mendatangi sekolah berbeda, materi yang saya sampaikan tetap sama. TWIYC adalah pengalaman sukarelawan pertama yang saya ikuti di Den Haag. Saya juga jadi mengenal orang-orang baru, para volunteer lainnya dari negara yang berbeda-beda. Ada beberapa program volunteer lainnya yang saya ikuti. Akan saya ceritakan pada tulisan terpisah. Saya meninggalkan sekolah dengan perasaan bahagia luar biasa. Pengalaman pertama saya terjun langsung dalam kegiatan di Den Haag memperkenalkan Indonesia. Berbagi itu selalu membuat senang hati, apalagi berbagi cerita tentang keragaman negara sendiri.

Foto bersama. Saya menggunakan blazer batik.
Foto bersama. Saya menggunakan blazer batik.

Dibawah ini adalah video yang menerangkan apa sebenarnya TWIYC itu.

-Den Haag, 6 Desember 2015-

Semua foto adalah dokumentasi pribadi.

Berkunjung ke Arnhem

Ketika membaca postingan Mbak Yoyen tentang Sonsbeekmarkt pada bulan Maret lalu, saya langsung terpana dengan jajaran pemandangan makanan dipostingan tersebut. Langsung saya menunjukkan tulisan Mbak Yo tersebut ke suami untuk dibaca. Dia juga terpana karena belum pernah mendengar Sonsbeekmarkt sebelumnya. Akhirnya kami sepakat untuk mengunjungi Arnhem pada bulan Juni. Iya, saya suka latah kalau ada postingan yang berhubungan dengan makanan, padahal kalau sudah sampai tempatnya ya tidak terlalu banyak makan. Selain akan ke Sonsbeekmarkt, saya bertanya pada Mbak Yo tempat manalagi yang bisa dikunjungi. Mbak Yo yang memang tinggal di Arnhem menyarankan untuk ke Openluchtmuseum dan Museum Bronbeek. Tentu saja suami memilih untuk ke Museum Bronbeek dibanding Openluchtmuseum. Padahal saya ingin sekali ke Openluchtmuseum. Kenapa tidak bisa langsung langsung tiga tempat dalam satu hari? Karena pak suami pasti lama sekali kalau sudah masuk museum. Waktu ke Museum Bronbeek saja sampai hampir tutup museumnya kami masih didalam. Satu persatu dibaca, sementara saya membaca juga tapi cuma sekilas saja. Maklum, kami memang beda keyakinan kalau masalah yang satu ini.

Singkat cerita, setelah mendapatkan tiket kereta dagkaart kami langsung memutuskan kapan akan pergi. Kalau memakai dagkaart bisa lebih mengirit untuk bepergian jarak jauh. Jarak tempuh dari Den Haag – Arnhem antara 1.5 jam sampai 2 jam. Tergantung waktu datang kereta saat transit. Waktu itu saya mendapatkan seharga €14 bisa dipakai seharian. Ternyata waktu di Arnhem bisa juga dipakai untuk naik bis, asal perusahaan transportasinya sesuai dengan yang tertera ditiket. Dagkaart bisa dipakai ke seluruh Belanda dalam waktu satu hari. Dagkaart ini ada yang hanya bisa dipakai senin-jumat, ada yang bisa dipakai hanya sabtu-minggu, ada yang bisa dipakai seluruh hari. Dagkaart dijual di HEMA, Kruidvart, Blokker, dan Albert Heijn (AH). Untuk mengetahui promosi ini bisa dicek ke website Treinreizeger.

SONSBEEKMARKT

Sonsbeekmarkt ini adanya setiap hari minggu pada minggu pertama setiap bulan sejak bulan Maret sampai Desember setiap tahunnya. Jadi hari minggu besok adalah yang terakhir pada tahun ini. Sonsbeekmarkt bertempat di Sonsbeekpark. Kalau ke Arnhem naik kereta, maka lokasi Sonsbeekpark ini tidak jauh dari Arnhem Centraal, penunjuk jalannya jelas, bisa dijangkau sekitar 10 menit jalan kaki. Saya sendiri terpesona dengan Sonsbeekpark yang luas dan sejuk, sepanjang mata memandang hamparan rumput hijau dan pohon-pohon. Selain itu, diarea ini juga terdapat hutan. Lengkap mata dimanjakan oleh pemandangan yang menyegarkan. Ditengah-tengah Sonsbeekpark ada gedung putih atau yang dikenal sebagai De Witte Villa. Gedung ini berfungsi selain sebagai restaurant juga cafe, juga sebagai tempat pertemuan atau tempat mengadakan pesta yang berkapasitas sampai 600 orang. De Witte Villa dibangun pada tahun 1744 dan direnovasi pada tahun 2014.

IMG_2360

IMG_2367

IMG_2507

IMG_2993

Sonsbeekmarkt sudah ada sejak tahun 2012. Markt sendiri adalah bahasa Belanda yang artinya pasar. Yang menyenangkan di Sonsbeekmarkt adalah tidak hanya makanan dan minuman saja yang dijual, tetapi segala jenis barang ada. Makanan dan minumannya fresh, bahkan rotinya homemade. Produk yang dijual kebanyakan adalah produk lokal. Jadi terbayang kan pengalaman merasakan langsung produk lokal. Tidak hanya itu saja, penjualnya juga senang menerangkan dengan ramah tentang apa yang dijual. Saking senangnya mereka bercerita, saya sampai takjub mendengarkan ada satu stand yang menjual roti menerangkan proses pembuatan roti yang dia jual. Di stand lain yang menjual Sate, saya malah diajak berbincang karena yang menjual bisa dengan lancar berbicara bahasa Indonesia dan dia bilang kalau pernah bekerja selama 2 tahun di Jakarta, tetapi harus meninggalkan pekerjaannya tersebut dan memilih pulang ke Belanda untuk membantu usaha keluarganya tersebut. Awal mula dia mengajak berbincang karena saya celingak celinguk didepan stand tersebut, lalu dia menyapa “Hai, kami berjualan sate ayam biasanya, tapi kali ini kami hanya membawa sate babi, jadi kamu tidak bisa makan karena ini tidak boleh buat kamu.”Saya jadi terharu.

IMG_2391

Ikan siap dipanggang
Ikan siap dipanggang

 

Homemade bread dengan berbagai macam rasa.
Homemade bread dengan berbagai macam rasa.
Pizza
Pizza
Jus buah
Jus buah

IMG_2411

IMG_2384

Bapak yang sedang nggipasin sate pakai blankon
Bapak yang sedang ngipasin sate pakai blankon
Taplaknya batik. Mas yang disana yang fasih berbahasa Indonesia. Yang pakai blankon tadi bapaknya.
Taplaknya batik. Mas yang disana yang fasih berbahasa Indonesia. Yang pakai blankon tadi bapaknya.
Saya makan Oyster dikucuri jeruk nipis. Segar sekali
Saya makan Oyster dikucuri lemon. Segar sekali

Hampir disetiap stand makanan ada testernya. Jadi kami berkeliling sambil icip-icip gratis. Lama-lama kenyang juga. Akhirnya setelah berputar mencari makanan apa yang cocok untuk makan siang, suami mengajak makan gado-gado distand makanan Indonesia yang punya ibu dari Suriname. Suami ini memang kalau makan diluar menunya cuma dua, kalau tidak soto ya gado-gado. Awalnya saya tidak tahu kalau Ibu ini bisa bahasa Indonesia. Begitu saya mengucapkan terima kasih, malah diajak ngobrol bahasa Jawa. Saya lupa kalau Suriname banyak orang Jawanya. Akhirnya kami mengobrol menggunakan bahasa Jawa.

IMG_2422

Ujung-ujungnya makan gado-gado
Ujung-ujungnya makan gado-gado

MUSEUM BRONBEEK

Museum Bronbeek ini museum tentang KNIL (Koninklijk Nederlands-Indie Leger). Walaupun saya tidak setekun suami untuk membaca semua informasi didalamnya, yang saya rasakan setelah keluar dari museum ini sedih sekali, entah kenapa. Jangan bertanya lebih lanjut tentang sejarah pada saya. Kalau ingin tahu  apa saja yang ada didalam museum ini, saya rekomendasikan untuk langsung membaca tulisan Crystal tentang Museum Bronbeek. Saya saja baru paham ketika membaca tulisan dia, padahal saya yang lebih dulu ke museum ini. Dibelakang museum ada restoran Indonesia yang bernama Kumpulan juga ada rumah untuk para veteran. Sewaktu saya kesana, ada satu veteran yang sedang bertandang ke Museum. Beliau bercerita tentang sejarah pada saat ada di Jakarta. Saya yang waktu itu masih belum terlalu paham bahasa Belanda, ya agak sepotong-sepotong menangkap isi ceritanya. Sedangkan suami jangan ditanya, seperti punya dunia sendiri kalau sudah masuk museum, tidak bisa diganggu gugat, menekuri satu persatu seluruh bagian museum. Saya lupa tiket masuk museum ini berapa. Kalau yang suka sekali berkunjung ke museum, lebih baik membeli museumkaart. Kartu ini bisa digunakan ke seluruh museum di Belanda (yang jumlahnya lebih dari 400) dalam waktu satu tahun, cukup dengan membayar €55. Ini sangat menghemat jika setiap minggu pergi ke museum dan tiket masuknya anggap saja satu kali masuk €10. Bisa dihitung sendiri hematnya berapa.

IMG_2439

IMG_2444

IMG_2447

Sementara suami tekun membaca, saya tekun foto-foto saja :)
Sementara suami tekun membaca, saya tekun foto-foto saja 🙂

IMG_2452

Ini ruangan favorit saya, bisa duduk sambil melihat film. Adem ruangannya. Tempat memutar film itu adalah ranjang.
Ini ruangan favorit saya, bisa duduk sambil melihat film. Adem ruangannya. Tempat memutar film itu adalah ranjang.

IMG_2466

IMG_2469

IMG_2477

Kantin
Kantin

IMG_2489

Semacam mesra berpegangan tangan :D
Semacam mesra berpegangan tangan 😀
200 tahun Waterloo
200 tahun Waterloo

Beruntung sekali sewaktu ke Arnhem cuaca cerah cenderung panas. Padahal berhari-hari sebelumnya selalu turun hujan dan cuaca seperti ini khas Belanda : sebentar hujan, sebentar ada matahari, angin kencang muncul, hujan lagi dan seterusnya. Saya senang dengan Arnhem. Tidak sehiruk pikuk Den Haag. Jalan yang kami lalui tenang dan lengang. Mudah-mudahan suatu saat bisa berkunjung kembali ke Arnhmen. Ada beberapa tempat lagi yang ingin kami datangi.

Kelihatannya njomplang ya, padahal...memang iya :D Tapi saya tidak semungil itu kok, beda sudut mengambilnya saja *pembelaan
Kelihatannya njomplang ya, padahal…memang iya 😀 Tapi saya tidak semungil itu kok, beda sudut mengambilnya saja *pembelaan

-Den Haag, 2 Desember 2015-

Semua foto adalah dokumentasi pribadi.