Menyusuri Giethoorn – Desa Unik di Belanda

Ini tulisan yang tertunda untuk diposting. Menjelang hari ulang tahun akhir Maret 2015, Suami terus-terusan bertanya ulang tahun maunya apa, dirayakan dimana, dan mau hadiah apa. Saya sebenarnya ingin ini itu (ngelunjak), tapi waktu itu suasana masih berduka setelah Papa meninggal, akhirnya saya memutuskan seminggu sebelum ulang tahun ingin pergi jalan-jalan yang dekat saja, sekalian untuk menghibur suami juga, dan tidak enak rasanya kalau ingin makan-makan dengan keluarga besar karena masih dalam suasana berduka.

Ketika masih di Surabaya, saya pernah melihat beberapa kali postingan di Instagram tentang desa seperti di Venice-Italia (Saya melihat dimajalah dan TV) yang banyak jembatan dan perahunya, yang ada di Belanda. Saya bertanya ke Suami apakah tempatnya jauh, karena ingin pergi kesana. Kata suami tidak terlalu jauh, 2 jam naik mobil dari Den Haag. Akhirnya diputuskan Jumat malam 26 Maret 2015 berangkat dengan menyewa mobil, karena mobil Suami rusak dan berencana dijual juga 😀 *sekalian iklan. Suami sudah reservasi Bed&Breakfast. Setelah menempuh 2 jam perjalanan, ditambah berhenti sebentar untuk istirahat, akhirnya kami sampai ke Steenwijk, berputar mencari alamat rumahnya ternyata belum ketemu juga. Singkat cerita kami memutuskan untuk menginap dihotel saja karena Suami juga mendapatkan email dari pemilik rumah kalau kami terlalu malam sampainya sehingga tidak bisa lagi untuk check in.

Akhirnya kami menginap di Hotel De Harmonie. Harga semalamnya 97 euro sudah termasuk sarapan. Kamarnya bersih, rapi, dan pelayanan dihotel lumayan bagus. Keesokan harinya kami bangun pagi karena melihat matahari lumayan bersinar terang. Cepat-cepat kami berjalan kaki ke desanya, hanya sekitar 10 menit dari hotel. Jadi Giethoorn ini terletak di Steenwijk, Overijssel. Konon katanya kalau saya membaca dari beberapa artikel, Giethoorn yang dikenal dengan Venice-nya Belanda ini mempunyai 180 jembatan dan rumah-rumah yang unik. Tetapi hati-hati kalau terlalu asyik foto-foto dan tidak memperhatikan tanda, bisa kesasar ke halaman rumah orang karena beberapa rumah ada tanda didepan pintunya tidak ingin dikunjungi.

Karena akhir Maret cuaca masih tidak menentu, maka kami juga tidak menaruh harapan tinggi cuaca akan terang sepanjang hari. Diatas jam 10 pagi, mendung mulai pekat dan tidak berapa lama hujan turun dengan suhu 5 derajat celcius, dingin sekali. Jadi kami berjalan kaki sepanjang desa dengan menggunakan payung. Kami juga tidak mencoba jasa perahu yang harganya 15 euro per 55 menit karena sudah bisa menyusuri sepanjang desa dengan berjalan kaki. Kalau cuaca cerah dan langitnya bagus, mungkin kami akan menyewa perahu agar bisa menyusuri danaunya juga. Kesan yang saya dapat setelah menyusuri Giethoorn : menyenangkan karena sepi (mungkin karena belum musim liburan sehingga tidak banyak turis. Saya membayangkan kalau musim panas pasti ramai sekali desa ini oleh turis), dan rumah-rumahnya juga unik dengan warna warni dan bentuknya yang bagus. Suami sempat berujar kalau rumah-rumah yang ada di Giethoorn mengingatkan pada cerita dongeng-dongeng. Dan satu lagi, sewaktu berjalan kaki sepanjang Giethoorn, saya merasa suasananya romantis, cocok untuk tempat bulan madu, atau pacaran dengan suami. Saya sempat bilang ke Suami pada saat berjalan “Saya kok merasa makin jatuh cinta ya sama kamu disini,” dan suamipun hidungnya kembang kempis :p.

Selamat berakhir pekan bersama keluarga, pasangan, dan teman-teman tersayang

-Den Haag, 17 April 2015-

Semua foto adalah dokumentasi pribadi

Giethoorn

        

 

Bentuk rumah yang unik

       

   

        

Turis yang naik perahu dan kehujanan menggunakan payung. Padahal hujan deras dan dingin sekali.

31 thoughts on “Menyusuri Giethoorn – Desa Unik di Belanda

    1. Sama-sama Kei. Kalau mau kesini, bagusnya spring mendekati summer, meskipun ga jaminan juga Belanda ga hujan ya haha karena cuaca disini gampang banget hujan

  1. Paling suka rayuan mautmu buat Kakangmasmu itu Den, haha.. Ajib lah!
    Den, Semarang mungkin dulu pernah mo dibikin kanal2 gini ama org Belanda, sayangnya kanal raksasa itu malah sekarang ditutupi beton. Wes deh, nek hujan jalannya yg jadi kanal..

    1. Hahaha suwun Za, ancene aku seneng nggudo Masku. Soale de’e lempeng wonge. Dadi aku sing pecicilan. Iyaa, Semarang kan letaknya dibawah ya. Makanya lek hujan banjir. Bojoku seneng pas nang Semarang. Kan soale banyak bangunan Belanda. Opo maneh pas dikota tua. Trus ada cafe kenari itu, isine barang2 antik jaman Belanda. Betah dia disana.

    1. Aku rasane pengen bkar ikan bawa sambel trasi gelar tiker pinggil kalinya Mel hahaha ndeso nemen yo. Trus angin silir2, ngantuk deh

  2. cantik banget desanya,,,macam di film2 romantis :-D, kalau suhu sudah mulai bersahabat kayak sekarang ini kayaknya enak tuh dipake naek perahu menyusuri sungai yg cantik itu.

    1. Iyaaa… kalau cuaca lagi panas enak banget naik perahu pastinya. Lihat danaunya juga asyik. Kalau dingin dan hujan ahh ogahhh haha

    1. Iya Dit, jauh emang tempatnya dari tempatku. Mudah-mudahan ada kesempatan lagi yaaa nanti kembali ke Belanda. Meskipun kita ga sempet ketemu di Bekasi, siapa tahu rejeki bisa ketemu di Belanda. Sama-sama berhuruf B heheh. Semangat!!

  3. Cantik desanya. Bisa dpt banyak ilham bila tinggal disana.

    btw. Mba…reply via mobile knp kotak reply nya sering tdk muncul ya, hanya kode2 jetpack….jd sulit reply..;)

    1. Iya, ngebayangin kalau aku tingga disana sepertinya dapat ilham banyak hehe
      kayaknya memang ga bisa kalau reply via mobile ya atau bisa tapi untung2an hehe. Atau karena aku pakai wp.org ya ngaruhnya disitu. Aku juga ga paham. Tapi aku settingnya juga biasa2 saja. Memang blog ini sudah menuai beragam komplain ini itu 🙂

    1. Iyaaa Allisa, romantisss banget suasananya. Kebetulan kesana pas belum musim liburan, jadi masih tenang 🙂

    1. Kayaknya kalau cuman tangan yang dicemplungin gpp ya. Tapi aku juga belum pernah lihat yang nyemplungin tangan, mungkin pas aku ga lihat. Sungai di Belanda ini sepenglihatanku emang bersih-bersih. Aku lihat sungai deket rumah seminggu sekali ada petugas yang ngebersihin

  4. Huaaa, ternyata beneran sepi banget ya di bulan Maret. Dulu aku kesana di bulan Juli tahun 2011 dan RAME BANGET!!! Hahaha 😆 . Dulu aku sama teman-teman naik kereta ke Steenwijk dan kemudian kami menyewa sepeda dari sana ke Giethoorn, hehe 😀 . Dan waktu itu kami juga menyewa perahu karena cuacanya juga sedang oke banget. Seru lho naik perahunya. Apalagi karena ramai jadi nabrak sana nabrak sini gitu deh, haha 😆

    1. Iyaaa Zilko, sepiii banget. Cuman ada segelintir turis. Mana hujan dan angin juga dingiiinn sekali. Jadi ga terlalu laku lah itu perahu-perahu. Padahal aku juga pengen naik perahu. Waaahh pasti seruuu ya sampai tabrakan2 gitu perahunya hahaha. Dan yang pasti langitnya bagus banget kalau pas panas gitu

  5. Aku juga jatuh cinta dengan tempatnya.
    Ternyata oh ternyata rumah rumah itu ada penduduknya aku kira cuma pajangan aja.

    Say aku komen di blog kamu angel buanget nek lewat HP.

    1. Aku pikir awalnya juga ga ada orangnya itu rumah. Ternyata begitu keasyikan foto-foto, ada yang muncul dari rumah itu haha. Lek langsung dari hape koyok ane memang angel Ria, menurut complain beberapa orang. Soale musti langsung ke blog ya, ga bisa lewat aplikasi WP. Aku ga pake wp.com ini, pakenya wp.org 🙂

  6. mba deny..suka sama postingan yang ini. Bersih, tenang, desa yang sempurna..
    Beruntung sekali mba deny bisa ke sini… saya sering liat foto – fotonya aja di go**le

Thank you for your comment(s)