Lupa Bahasa Ibu, Apakah Mungkin?

Tulisan semacam ini sudah ada beberapa blogger yang membahas. Karena saya mempunyai pengalaman sendiri, maka saya juga (ikut) membahas disini.

Beberapa hari lalu, seseorang menyapa saya ketika sedang berbelanja disalah satu Supermarket dekat rumah. Lalu kami berbincang sebentar setelah memperkenalkan diri satu sama lain. Saya tinggal di Den Haag sehingga bertemu dengan orang Indonesia bukan sesuatu yang luar biasa disini karena banyak Imigran dari Indonesia. Jadi tidak mengherankan kalau tiba-tiba saya sering disapa sesama imigran dari Indonesia juga. Kalau saya memang jarang menyapa terlebih dahulu orang yang tidak saya kenal :). Singkat cerita ditengah pembicaraan, Mbak Z, sebut saja begitu namanya, melontarkan ucapan “Mbak, dari Jawa Timur ya? Medhok Surabayanya kelihatan.” Saya spontan tertawa sambil menjawab “Darah yang mengalir ditubuh saya ini darah Jawa Timur, jadi sampai kapanpun lidah tidak akan mungkin bisa hilang logat asal.”

Pembicaraan tersebut melemparkan kembali ingatan pada memori satu tahun lalu. Bulan Mei 2014 pertama kali saya menginjakkan kaki di Belanda untuk berkunjung selama dua minggu. Disuatu sore saya berbelanja sendiri di Supermarket yang sama. Tiba-tiba ada yang menepuk pundak dan bertanya apakah saya berasal dari Indonesia, tapi bertanya dengan menggunakan Bahasa Inggris. Pada saat itu saya berpikir dia berasal dari Malaysia atau Vietnam atau Thailand atau negara Asia lainnya. Saya kembali bertanya dengan menggunakan Bahasa Inggris juga darimana asalnya. Ternyata dia dari Indonesia juga. Pada saat itu saya senang sekali karena (awalnya berpikir) bisa berbincang menggunakan Bahasa Indonesia dengan dia. Tapi saya cegek (apa ya Bahasa Indonesianya cegek ini, ungkapan Jawa Timuran) ketika dia mengatakan sudah tidak lancar lagi dan agak lupa berbicara menggunakan Bahasa Indonesia. Kembali saya bertanya sudah berapa lama tinggal di Belanda, saya berpikir pasti sudah puluhan tahun, meskipun dari segi penampakan usianya sepertinya tidak jauh berbeda dengan saya. Dia menjawab sejak 2 tahun menikah dengan Nederlander. Hah?? Saya ternganga tidak percaya. Apa benar 2 tahun tinggal di Belanda menjadi lupa Bahasa Indonesia. Tingkat keingintahuan bertambah, saya bertanya lagi asalnya darimana. Ternyata sama-sama Jawa Timur. Oh iya, sejak tahu dia dari Indonesia, saya langsung menggunakan Bahasa Indonesia, dan dia tetep kekeuh menggunakan Bahasa Inggris (yang menurut saya samalah tingkatannya dengan saya, Bahasa Inggris standar). Satu yang saya tidak suka ketika dia berujar (ini sudah saya terjemahkan) “Kita ngobrol pakai Bahasa Inggris saja ya, saya sudah tidak lancar lagi dan agak lupa ngomong Bahasa Indonesia karena dirumah berbicara dengan suami seringnya pakai Bahasa Belanda dan sesekali Bahasa Inggris. Kamu kan pasti belum bisa Bahasa Belanda, jadi kita ngobrol inggrisan aja.” Duh rasanya saya kesal sekali. Saya memang pada saat itu belum bisa sama sekali Bahasa Belanda (dan pada saat ini juga masih dalam taraf belajar lebih lanjut), tetapi tidak elok juga asal menuduh seperti itu. Kebetulan saja tuduhannya benar, kalau ternyata saya sudah lancar Bahasa Belanda, kan bisa senjata makan tuan untuk dia.

Pada saat itu saya masih mempunyai pikiran positif. Mungkin saja dia sudah lama tidak tinggal di Indonesia sehingga beberapa kata dalam Bahasa Indonesia lupa. Saya bertanya kembali sebelum tinggal di Belanda dia tinggalnya dimana. Jawabannya sungguh mencengangkan, ternyata dia tidak pernah kemana-mana sebelumnya. Tinggal hanya seputaran Jawa Timur saja, kemudian pindah ke Belanda. Saya akhirnya mengajak berbicara memakai Bahasa Jawa, ya mungkin saja memang dia tidak lancar menggunakan Bahasa Indonesia sejak di Indonesia. Dia bilang kalau Bahasa Jawa juga sudah lupa. Ok, saya langsung angkat tangan. Saya merasa tidak nyaman bertemu orang Indonesia, sama-sama Jawa Timur dan harus berbicara sepanjang waktu menggunakan Bahasa Inggris.

Saya juga pernah bertemu seseorang dari Indonesia dalam sebuah acara. Kami berbicara santai, tapi dia bicaranya campur-campur dengan menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Belanda. Jadi terlihat sekali kesulitan dalam memilah memilih kata. Kemudian saya dengan kalem berujar “Mbak, pakai Bahasa Indonesia saja yuk ngobrolnya, biar enakan. Kalau campur-campur saya jadi bingung, mbak juga jadi ga lancar ngobrolnya,” dimana beberapa menit kemudian saya tahu kalau dia baru beberapa bulan tinggal di Belanda, tetapi sudah sangat susah berbicara Bahasa Indonesia, asalnya dari Jakarta.

Satu lagi selingan cerita (bisa juga dibuat sebagai pembanding). Mama mertua yang memang berdarah Belanda (kedua orangtua Beliau asli Belanda), lahir di Jakarta dan tinggal sampai umur 15 tahun, kemudian baru pindah ke Belanda. Ceritanya pernah saya tulis disini. Sampai sekarang Beliau masih ingat kata-kata dan masih bisa berbicara lancar menggunakan Bahasa Indonesia ketika sesekali berbincang dengan saya. Padahal itu sudah berpuluh tahun lalu aktif menggunakan Bahasa Indonesia. Mama masih mengingat Bahasa Indonesia karena pada saat itu diasuh oleh Ibu sambung yang memang asli Indonesia, dan sehari-hari berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia sejak kecil sampai umur 15 tahun.

Saya kelahiran Jember, dari Bapak yang berasal dari Jember dan Ibu dari Nganjuk. Tetapi sejak kecil saya tinggal di Situbondo, 6 tahun tinggal di Jakarta, dan 13 tahun tinggal di Surabaya. Ibu dan Bapak sehari-hari menggunakan Bahasa Jawa kepada anak-anaknya. Lingkungan Situbondo mayoritas suku Madura, sehingga saya menjadi lancar juga berbicara Bahasa Madura karena selalu menggunakannya diluar rumah untuk berbicara dengan teman-teman maupun tetangga. Bahasa Indonesia saya pelajari disekolah. Jadi, buat saya sampai kapanpun tidak pernah akan lupa Bahasa Jawa, Bahasa Madura, dan Bahasa Indonesia karena sampai detik ini dan sampai nanti saya akan selalu menggunakannya ketika berbicara dengan saudara-saudara, Ibu, dan adik-adik yang ada di Indonesia. Bagaimana mungkin akan lupa, kalau setiap berbicara ditelepon dengan Ibu, adik-adik, dan tetangga saya masih menggunakan Bahasa Jawa dan Bahasa Madura. Dan yang pasti, logat saya masih medhok Jawa, bahkan ada seorang kawan menyebutkan seperti logat Bungurasih, saking mendhoknya (Bungurasih ini nama terminal di Surabaya).

Tulisan ini juga akan menjadi pengingat saya ketika mungkin nanti (berencana sok-sok akan) lupa menggunakan tiga bahasa yang saya sebutkan sebelumnya.

Saya tidak mau menuduh, hanya heran sekaligus bertanya saja apakah mungkin seseorang akan lupa dengan Bahasa Ibu?

CaMbah (Catatan tambahan, iya ini mengarang singkatan) = Sebenarnya pertanyaan diatas sudah terpatahkan oleh pengalaman saya ketika Kopdar dengan Mbak Yoyen yang tinggal 20 tahun di Belanda dan Indah yang tinggal sekitar 10 tahunan di Belanda (mohon koreksinya kalau salah). Mbak Yoyen, seorang yang Multilingual (Bahasa Inggris, Belanda, Perancis, Spanyol juga ya Mbak, apalagi ya?) dan Indah yang juga pasti sangat fasih berbahasa Belanda, Inggris, tetapi mereka masih sangat lancar menggunakan Bahasa Indonesia ketika berbicara dengan kami yang hadir dikopdar waktu itu. Bahkan Mbak Yo beberapa kali menimpali  obrolan dengan menggunakan Bahasa Jawa. Saya tidak terlalu punya banyak kenalan yang tinggal diluar negeri dalam waktu yang lama. Tapi mengenal Mbak Yoyen dan Indah, sudah sangat cukup untuk menjawab pertanyan retorika yang saya tuliskan sendiri diatas.

Ada tulisan Mbak Yoyen yang sangat bagus untuk disimak, direnungi, dan diresapi : Berbahasa Satu dan Bahasa Ibu

Bahasa Ibu
Bahasa Ibu

-Den Haag, 15 April 2015-

Gambar dipinjam dari sini

61 thoughts on “Lupa Bahasa Ibu, Apakah Mungkin?

  1. maklumin den… kasihan itu mah…

    itu biasanya karena low-self-esteem (ngga tau terjemahannya) engga suka dengan identitas diri sendiri (identitas sebelumnya), bawah sadarnya menganggap identitas sebelumnya itu ngga baik, yg baru lebih keren, lebih berarti…

    1. Antara maklum dan gregetan sih ikiii. Tapi lama2 yo tak maklumi, lha wong ga tau ketemu maneh haha. Iya, aku juga berpikirnya seperti itu. Menduga apakah ada sesuatu yang buruk pernah terjadi dimasa lalunya dengan Indonesia.

  2. ada lho temen aku yang lagi mbelajari ngomong balitanya dengan bahasa Inggris, dan dia agak sedih gitu ketika anaknya nggak nyantol-nyantol bahasa Inggrisnya dan sedih juga anaknya dianggap telat bicara. Lha hambok ya ngomong bahasa Indonesia aja dulu, wong lingkungannya di Indonesia, yang ngasuh paling ya orang Indonesia, bukan bule.

    1. Ya ampun Mbak Dev, lha piye iku maksude kok nang Indonesia dengan lingkungan orang Indonesia tapi malah diajari bahasa Inggris. Lha nanti dia bergaul sama teman-temannya pakai bahasa opo. Kasihan dan miris aku bacanya. Lagian bahasa Inggris kan nanti dapat dari sekolah. Mungkin orangtuanya pengen anaknya jadi presiden Amerika 😀

  3. Deniiii, aku barusan mau nulis ini juga! Iya, aku juga heran ama orang2 Indonesia yang tiba2 bilang ‘Saya sudah tidak lancar lagi berbahasa Indonesia’, padahal tinggal di Jerman juga baru 3 tahun misalnya. Kalau lupa vocabulary mungkin, jadi bahasanya ya mixed, tapi kalau lupa jujur aja saya bilang gak mungkin kecuali dia lahir hanya di Indonesia, dan besar di Belanda misal, naah itu lain!. Pastilah ya nggak nyaman kalau sesama bangsa sendiri apalagi dengan alasan lupa pake bahsa lain. Aku kuliah jurusan bahasa Inggris Den, dan kalau ketemu ama temen2 kuliah yang ternyata juga hijrah ke Jerman, kalau pas ketemu kita pake bahasa Inggris kadang, hehe, tapi bukan sok, itu karena kita sesama angkatan jurusan Bahasa Inggris dan suka ama ini bahasa, tapi toh kita gak sepanjang waktu pake Inggris daaaan nggak lupa ama bahasa Indonesia. Ngomongin bahasa ya, aku ama anakku pake Bahasa Indonesia, dan suami Jerman, dengan harapan dia juga bisa bahasa Indonesia, wong dia dual citizenship kan.

    1. Nah, ini aku banget yang lupa kata. Asli isi kepalaku ini campur baur sekarang isinya 5 bahasa, Jawa, Madura, Inggris, Indonesia dan Belanda. Susaaaahh banget switchnya karena belum terbiasa. Ada kata2 yang lupa trus ingat dalam bahasa lainnya. Awalnya aku stress parah kenapa kosakata jadi acakadut gini, tapi lama2 akhirnya menerima kenytaaan bahwa memang ini bisa saja terjadi kalau diusia seperti aku baru belajar bahasa baru.
      Aku juga belajar banyak dari teman2 di Belanda tentang pengajaran bahasa ke anaknya. Disuruh belajar banyak dulu tentang anak sama Allah sebelum bener2 dikasih anak 😀

  4. mungkin kepalanya kepentok portal jadi amnesia sama bahasa indonesah…heh heh heh…banyak den yg model macam gini, kalo ketemu satu bijik, aku mah melipir ajaaah hihihi :p

    1. Hahaha emang iya Oppie, ngeselin. Kayaknya dia mabok kebanyakan minum jamu trus mendadak lupa akarnya :))) Iya, sekarang aku bener-bener berhati-hati sekali kalo nemu yang macam begini

      1. ‘Lupa akar’ itu kata yang tepat, atau ‘sok senior’ jujur bukan nuduh juga, tapi coba tanyakan langsung kemereka ‘kenapa kok bisa lupa? emang gak pernah ngomong ama keluarga di Indonesia?’. Yang baru tinggal dua tahun itu yang bilang lupa yang bikin kesel hehe. Aaaah jadi gemes hehe

      2. Nambahin Den: Kasus2 tertentu emang bisa bikin orang lupa bahasa nativenya, makanya harus ditanya kenapa dia lupa. Kalu baru di luar negeri 2 tahun lupa itu yang bikin ketawa, naah kalu kasus misal dia sampe umur 5 di Indonesia, terus pindah Belanda, terus dia gak ada kontak orang Indonesia, misal ortunya aja gak bahasa indonesia,ya bisa lupa. Banyak faktor juga sih yang bisa bikin first language hilang.

        1. Makanya ditulisan ini aku kan korek2 lebih dalam kenapa kok dia nampaknya enggan berbahasa Indonesia dengan dalih lupa.

  5. Haha… gak mungkin banget lupa bahasa ibu hanya setelah beberapa tahun hidup di luar negeri… Kakean gaya ae iku 😛 Tapi ya emang ada aja orang kayak gitu. Aku juga pernah ketemu cewek Indonesia pas di Prancis. Ngomong bahasa Indonesianya keliatan susah banget, aksennya bule gitu. Katanya udah gak bisa ngomong bahasa Indonesia, makan makanan Indonesia sakit perut…. Kirain udah belasan taun lah di Prancis, hee… tibakno baru 2 taun. Pas ngomong bahasa Prancis grathul2, salah semua lagi! Weleeeeh…..

    1. hahaha, lha iyo Citra, kalau bahasa barunya lebih fasih kita mungkin akan ada permakluman ya. Tapi lek sik grathul grathul yo mbok jangan bilang kalau lupa gitu. Bilang aja ada beberapa kata yang sudah ga ingat. Nggawe bahasa Indonesia lak yo sik enak sebenarnya

  6. Salam kenal mba… hehehe lucu juga ya orang itu. Indonesia aja kok bisa-bisa’an mintanya inggrisan. Mungkin dia mau pamer kali yaa enggresnya jago bangeth, apalagi bahasa belanda, yang mana dirimu (menurut dia) ga bisa hahaha. Sebenernya jawa timurannya pasti lebih medok dari dirimu haha.

    Menurutku sih ga mungkin aahh lupa bahasa indonesia. Kecuali emang dari kecil ga di indo ya.. kalo baru nikah baru kesana, dgn jarak 5-10 tahun aja pasti masih inget. Menurutku sih yaaa hehehe

    1. Hai Mbak Chica, salam kenal juga. Terima kasih sudah mampir. Aku juga selalu bertanya2 motifnya apa orang berbuat seperti ini. Mudah2an memang berguna buat dia, buat kebaikannya 🙂

  7. enggak banget denger alasannya ya mbak 🙂 mungkin secara tidak langsung ingin ‘menaikan’ harga diri dengan ngomong udah gak lancar lagi bahasa indonesianya karena udah tinggal di belanda. aq berfikiran sama tadi degnan pikirannya mbak deny (1). dia udah tinggal puluhan taun di belanda atau (2) pernah tinggal puluhan tahun di luarnegeri sebelum di belanda :-). ternyata oh ternyata……..

  8. Mbak Deny, itu beneran ada yang lupa bahasa ibu, kok gak mungkin banget ya, disini banyak orang2 indonesia (ketemu di acara2 KBRI) yang tinggal lebih dari 10 tahun dan masih sangat lancar berbahasa indonesia dan yang ada malah suami2 mereka juga bisa bahasa indonesia 😀

  9. Aku pikir kalok Bahasa Ibu ngga mungkin bisa lupa Mbak, karena uda tertanam dalam alam bawah sadar.. Berhubung aku kuliah di jurusan bahasa, dosen ku selalu menekankan untuk mengingat Bahasa Indonesia dan Bahasa daerah masing-masing sebagai ciri khas dan bentuk nasionalis..

    Sedih ya kalok sampek ngga sukak sama bahasa sendiri.. 🙁

    1. Nah, pas nih kamu kuliah di jurusan Bahasa. Bahasa apa kalau boleh tahu? Iya, ini menjadi pengingat ke aku juga supaya tidak melupakan akar darimana aku berasal

  10. katanya emang banyak orang indonesia yang kaya gini ya…

    Beda banget sama orang luar yang di indonesia tetap beringgris ria… kita yang ngikut mereka.

    Orang korea juga gitu… 4 tahun di indonesia, bahasa indonesianya masih pletak pletok ga jelas.

    1. Aku juga dulu sebatas dengar katanya. Begitu membuktikan sendiri, jadi mules males heheh. Ternyata memang nyata Firsty 🙂

  11. Hi mbak salam kenal, aku biasa jadi silent reader aja. Tapi ngebaca topik yg ini jadi pengen ikutan nyinyir.
    Teman ku ada yg model begitu mbak, kan kami orang Palembang terus merantaulah ke Jakarta buat kuliah. Dia waktu itu vakum 2 tahun baru kuliah. Pas ketemu aku mbak, astaga baru seminggu dia di Jakarta ngomongnya udah pake bahasa Jakarta, ampun deh mbak. Aku ya cuek aja, kutimpalin aja pake bahasa Palembang, kekeh lho dijawab pake bahasa Jakarta sama dia. Sampe akhirnya aku gedeg sendiri, aku bilangin aja, ngomongnya pake bahasa Palembang ajalah ga usah gaya-gaya an pake bahasa Jakarta! Jadi males ngobrol sama dia mbak. Aku ga abis pikir sama orang-orang kayak gitu, apa sebenernya yg ada dipikirannya ya? Jadi panjang nyinyiran ku mbak. Hahahahaha

    1. Hai Wulan, salam kenal juga 🙂 haha aku juga punya teman macam gini. Kami sesama perantau di Jakarta, lama tidak saling ketemu. Trus begitu ketemu lagi, dia beneran ga mau pakai bahasa jawa. Ishh aku gedeg banget. Aku juga ga paha Wulan rumusnya darimana orang-orang yang macam begini. Biarkan saja mereka yang tahu 😀

  12. aduh mbk….gemes ya baca ceritanya. jadi ingat waktu aku kecil ada tetangga kerja di Malaysia waktu pulang jd bahasanya melayu gitu tak ajak ngomong bahasa jawa jawabnya melayu terus. katanya sudah lupa. karena belum pernah ngalamin ga berani ngejudge,
    tapi setelah 6 thn tinggal di Jakarta dan ternyata aku masih bisa krama inggil…jd aku sependapat ama postingan sampean ini…emang kadang orang2 itu suka sok dan lupa akar….

    1. Hahaha cegek yo kan jadinya Ratih, apalagi tetangga. Rasanya piyeee gitu. Semoga kalo kamu sudah pindah kesini tidak mengalami kejadia serupa yaaa hehehe

      1. nanti kita ngomong pakai bahasa belanda aja ya mbk..aku udah lupa #eaaaa *joking*

        iya mbk…amin….paling aku bengong klo ada yg gt..klo ga mlengos malah hahaha

  13. Barangkali si mbak perlu diajarkan ngeblog di wp. Pasti ga lupa bahasa ibu. Wkwk..

    Lupa bahasa sama sekali, aplg bhs ibu, ga mgkn ya..tp yes semua manusia punya kemampuan untuk “melupakan” sesuatu yg ia benar2 tdk ingin kenang. Spt halnya anak kecil yg bisa lupa akn hal yg benar2 traumatik dan hny muncul sesekali di alam bwh sadar. Pikiran manusia bisa sehebat itu. Mgkn itu juga yg dialami si mbak tersebut.Hanya dia yg paham alasannya.

    1. Iya bener, aku juga dari awal mencoba berhusnudzon, hanya masih kesal saja karena aku dituduh belum bisa bahasa Belanda tanpa bertanya terlebih dahulu dan dia juga bilang lupa bahasa Ibu. Selebihnya mencoba berbaik sangka, semoga ada alasan rasional dibalik perkataan dia 🙂

  14. Parah banget.
    Walah ngak usah jauh jauh disana, di indo loe maap maap ya istri istri yang suaminya expart kalau ngobrol ma kita kita pakai inggris keren kan.
    Wah say besok kalau kita ketemuan disana aku ngak mau pakai bahasa indonesia cos ngak lancar jadi ngobrolnya pakai bahasa jowo wae yo..
    😉

    1. Seriusaann Riaaa?? Waahhh paraaahh sih kalo itu. Kebangetan di negara sendiri ketemu temen ngobrol Inggris. Kalo hanya selingan sih ga masalah, atau kalau untuk urusan kerja. Iyooo lek ketemu kita jowoan ae 😀

  15. Mbak Den, akhirnya aku bisa mampir ke blognya.. Tapi harus pake laptop kalo pake wp di hp nggak bisa comment.
    Hmm gini, menurutku itu nggak wajar yaa bisa sampe lupa bahasa ibu. Menurut ilmu linguistik pun yaa, justru sampai kapanpun bahasa ibu itu akan lekat dan menjadi frame dia buat belajar bahasa lain juga. Kan sejak dia belajar ngomong dan mengenal bahasa sebagai media komunikasi yang dia pakai ya bahasa ibu, lain halnya kalau dia sudah bilingual atau trilingual dari dia lahir yaa. Ini kasusnya kan baru 2 tahun, rasanya nggak wajar banget deh. Sorry to say, njelehi mergo keakehan nggaya thok. Lupa beberapa kosakata atau susah mengingat beberapa kosakata wajar karena mungkin kan jarang dipakai lagi untuk berkomunikasi, tapi kalau sampai lupa total semua itu nggak mungkin. Nah sekarang yang dia maksud nggak bisa dan lupa bahasa indonesia atau bahasa jawa itu, lupa apanya? lupa kosakatanya? seberapa banyak dia lupa? Lupa tata bahasanya iki ra mungkin ngoroku. Kok aku jadi melu2 gemes tho hahahaha

    1. Iya Nggi, maafkan memang blog kami ini agak merepotkan. Musti langsung komen langsung diblognya hehe. Suwun wes mampir.
      Thanks for sharingnya Nggi tentang ilmu linguistik. iyoo njelehi nemen. Lha iku tak ajak ngobrol pakai Bahasa Jawa pun dia ga mau. Mosok iyo sih jawa timuran lali blass gadaass ga ingat sekata dua kata. Ngguaya kok kebangetan. Aku yo saiki dadi gemeshhh nemen. padahal kejadian wes setahun lalu haha

  16. Kalau lupa sama sekali sampai nggak bisa ngomong menurutku kok agak “aneh” ya? 😆 Kalau sekedar lupa satu atau dua kata atau keceplosan ngomong pakai bahasa lain, satu atau dua kata, masih wajar lah menurutku 🙂 .

    1. Betuulll, kalau lupa kosakata sih wajar memang, karena aku yang memang tinggalnya di Indonesia sebelum pindah kesini, masih suka lupa padanan kata dari jawa ke Bahasa Indonesia, apalagi yang tinggal diLN yaa. Tapi kalau lupa sama sekali cara merangkai kalimat Bahasa Indonesia kok ya kebangetan pengen jitak rasanya 🙂 kalo gaya2an, kok ya keterlaluan gayanya 😀

    1. hahaha iya Em, ternyata memang ditiap negara ada manusia macam ini. Nylekit banget rasanya masih kerasa sampai sekarang ketemu orang yang lupa bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa padahal baru 2 tahun tinggal diLN. Ishhhh pengen kujitak rasanya

  17. Ngga mungkin Den seperti waktu itu kita bahas. Yang mungkin adalah: ngga fasih lagi, ngga tahu kata-kata baru tapi untuk lupa sama sekali itu ngga mungkin.

    Apalagi yang baru 2 tahun bahkan bulanan tinggal di luar Indonesia dan ngaku udah lupa bahasa ibunya (bahasa Indonesia atau bahasa daerah), ini bullshit banget (sorry my word, saking gemesnya ini).

    Dugaanku sih ada beberapa hal: orang seperti ini eagerly mau integrasi di tempat tinggal barunya dan menurut mereka cara paling cepat adalah ‘melupakan kultur mereka sendiri’, hasilnya malah bukan integrasi tapi asimilasi.

    Atau mungkin mereka malu diidentifikasi sebagai orang Indonesia oleh sebab yang kita ngga tahu. Ini walahualam ya. Yang pasti aku rasa ini onzin besar orang lupa bahasa ibunya sendiri.

    1. Sebelum ketemu Mbak Yoyen dan Indah secara langsung, aku masih suka bertanya-tanya sendiri, bahkan pernah aku diskusikan sama suami tentang kemungkinan lupa bahasa Ibu setelah tinggal di LN. Karena aku tidak punya kenalan yang tinggal lama diLN, maka pertanyaan itu masih belum terjawab. Tapi setelah kopdaran, pertanyaanku itu terjawab bahwa bahasa Ibu tidak mungkin dilupakan. Dengan mata kepala sendiri sudah kubuktikan kalau Mbak Yo dan Indah masih lancar dan fasih berbahasa Indonesia bahkan Mbak Yo bisa bahasa Jawa (yang bikin aku terharu dan kagum waktu itu :D). Mudah2an si Mbak itu nanti pas aku ketemu lagi sudah lulus NT2 programma II, kan lupa Bahasa Indonesia, mustinya dah canggih banget bahasa Belandanya. Masak iya ngaku lupa Bahasa Indonesia trus ambilnya A2 *sarkastis

      Oh iya, diatas sudah kukasih catatan tambahan tentang aku ketemu Mbak Yo dan Indah. Terima kasih juga untuk ijin nge-Link ke tulisan Mbak Yo 🙂

  18. Tadi udah nulis komen panjang, internet ke reset… wkwkwkwkwkk… Bilangin dia Mba Den “Masa situ kalah sama Obama, Obama aja masih paham beberapa arti dari bahasa Indonesia loh :p”

    Normalnya orang sampe puluhan tahun pasti inget bahasa yang pernah dia pake, apalagi kalo itu bahasa ibu atau bahasa dari dia baru brojol dan bahasa yang dia gunakan ketika mulai bicara, jadi rasanya itu hanya gaya – gayaan aja. Lol haaha

    1. Obama kayak Mama mertuaku, tinggal di Jakarta cuman sebentar tapi masih ingat lho Bahasa Indonesia. Ntar kalau aku ketemu Mbak itu lagi pengen kuomongin “Jangan banyakan gaya deh Mbak, Obama aja ga banyak gaya jadi Presiden” hahaha thanks idenya Ji

  19. Sorry, yang begini ini langsung aku putuskan kebanyakan gaya.

    Aku tinggal 9 tahun di Denmark yang sehari2nya pake bhs Danish (di kantor) dan Inggris (dengan teman2). Jarang banget pake bahasa Indonesia untuk urusan sehari2 karena memang minim punya teman orang Indonesia. Sampe sekarang ya lancar bahasa Indonesia, termasuk Suroboyoan. Memang ada kata2 tertentu yang nggak ingat lagi – tapi kalau disuruh ngobrol ya masih lancar.

    Kegayaan aja pake sok kaya gitu. Sempet juga waktu pertama2 disini kenal sama orang Indonesia yang modelnya kaya gitu juga. Ngajak pake bhs Danish (secara dulu emang masih awal2 disini) karena bhs Indonesia udah ga lancar katanya. Langsung aku males ngobrol sama dia lagi.

    1. Dengan pengalaman beberapa teman blogger disini, termasuk kamu Va yang sudah tinggal lama diluar negeri, memang benar adanya kalau bahasa Ibu itu mustahil dilupakan. Belajar dari pengalaman mertuaku juga. Kalau aku kan memang baru kali ini tinggal diluar Indonesia. Mangkane heran, mosok iyoo wong Jawa Timur ga isok ngomong jowoan maneh. Ishhh gemesh aku. Lek suatu hari ketemu maneh, pengen tak sopo “ojok kakehan gaya Mbak!” hehe

  20. Aku ketemu orang Indonesia di tempat kursus. Seneng banget pas lihat kamus Indonesia Jerman tegeetak diatas meja, langsung ku tembak ngobrolbhs Indonesia dong. Ternyata sampai seminggu an dia ngobrol/jawab bhs jerman melulu. Sempat sebel sih, masah aku dirumah sdh bhs jerman, keluar rumah ngomong jerman, ketemu orang satu bangsa juga ngomong jerman. Tiap kali temanku bicara bhs jerman selalu kujawab bhs indonesia 😀 . Sama anakku, sejak dia lahir smp 9 bln nih pakai bhs indonesia. Pokoknya aku bangga berbahasa indonesa 😉

    1. Waahh, keren Nella sama Ben ngobrol pakai Bahasa Indonesia yaa. Top Banget. Justru aku dari awal ga mau ada orang Indonesia di tempat kursus ku. Bisa bisa belajar Bahasa Belanda secara maksimal aku, nanti kalau ngobrol Bahasa Indonesia ngerumpi ga selesai2 hahaha

  21. Halaaaaahhh banyaak bgt kok yang sok2an gini. I am sorry tapi menurutku agak impossible deh. Bule2 yg cmn 2 thn di Indo aja masih pada bisa bahasa Indonesia sesuai kemampuan mereka apalagi yang kayak gini. Memang jujur kadang kita suka lupa beberapa istilah yang jarang kita pake dalam pembicaraan umum, ini pernah aku alami sebelumnya waktu di Amrik tapi gak mungkin lupa sama sekali deh. Pengen dijitak deh.

    1. Iya, ketemu Mbak Yoyen yang bisa macem2 bahasa dan tinggal 20 tahun di Belanda aja masih bisa bahasa Jawa. Makanya sekarang aku suka celingak celinguk nyariin Mbak itu kalo lagi belanja di Supermarket, pengen ngajak ngobrol bahasa Belanda juga, meskipun aku masih merangkak sih ngomongnya hahaha. Masak iya lupa Bahasa Ibunya *jitak

  22. Ada adik ketemu gede, dia selama 2 thn di Jerman sama sekali ngga mau gaul sama orang Indonesia, krn pengen bhs Jermannya bagus, dan dia tinggal dgn keluarga Jerman, beneraaan dia ngaku, susaaah pake bhs Indonesia lhooo…tapi lancar berbahasa Jawa, krn dia berkomunikasi pakai bahasa Jawa dgn keluarganya..:)

    Tapi jujur teteh akui, kadang ada bbrp istilah yg kadang teteh lupa bhs Indonesianya apa..huhuhu malu-maluin *getok2 kepala*

    Pernah ketemu yg spt Deni ceritakan, lupa bhs Indonesia katanya, tp selama dia menguasai bahasa ibunya, teteh mah bisa memaklumi, karena teteh juga kadang lebih senang berbahasa Sunda, jd ndak aneh kalau ketemu, logat Sunda teteh kental sekali hehe

    Kalau di Indonesia, teteh suka bilang “maaf saya ndak pinter ngobrol pakai bhs Indonesia, jd kalau mau ya bhs Sunda atau Jerman” huahahaaa..ngomong begini sih sama sobat2 dekat yg tau sekali kalau teteh suka becanda

    1. Iya teh, makanya yang aku bahas disini Bahasa Ibu. Dan yang tahun lalu aku temuin itu sampai detail kutanyakan ke Bahasa Jawa juga dia mengaku sudah lupa padahal asli jawa timur. Aku sudah mencoba berhusnudzon, tapi apa iya sampai Bahasa Jawa saja lupa. Dan seperti Mama mertua, meskipun asli Belanda tetapi bahasa yang pertama dikenal Bahasa Indonesia karena sejak kecil diasuh oleh Ibu dari Indonesia. Nah, aku hanya bertanya-tanya saja sendiri, apa benar kita bisa melupakan Bahasa Ibu begitu saja? karena Bahasa Ibu bukan merujuk ke Bahasa Indonesia saja

    1. Aku sampe niat pengen ketemu dia lagi Fe. Kalau ke Supermarket suka celingak celinguk nyariin, karena waktu itu dia bilang rumahnya deket sini. Cuman pengen nanya, dia sudah lulus apa belum inburgeringsexamen atau Staatexamen. Biar aku tahu sepadan apa nggak sama yang diomongin waktu itu. Ishhh sebel banget deh sampe sekarang kalo diinget2.

      1. gak usah dicari Den, bikin gedeg aja ntar hahaaaa
        kakak perempuan aku 32 tahun di Belanda, masih lancar jaya bahasa ibu nya, kecuali bahasa baru nah baru deh bolak baliik dia nanya apaan artinya :-))

          1. ada juga oom ku di Assen yang usia nya sudah 90 tahun bersama istrinya yg juga sudah jompo, kalau ketemu ngobrol ya pakai bahasa Indonesia kok secara dia lahir di Jawa sih yah, mereka nyampai di Belanda tahun 1950an…

            Haduhh yg baru 2 taon disini xixixixi

            1. Tuhhh kaann malah banyak banget contoh nyata dikeluargamu. Sudah tinggal lama diLN tapi masih ingat akar bahasanya. Perlu ditemuin sama kakakmu yang sudah 32 tahun tinggal di Belanda kayaknya Fe, biar diajarin bersikap yang benar haha sama dijitak sekalian. sok gaya2an lupa segala baru juga 2 tahun disini. Lha emang dia sudah ga punya keluarga lagi apa di Indonesia, ngobrolnya gimana?. Bikin gedeg aja si Mbak itu, pakai ngatain aku belum bisa Bahasa Belanda. Ya emang belum bisa waktu itu, tapi kan ga usah ngatain *lahhh jadinya aku merepet disini hahaha

Thank you for your comment(s)