Sehari Menjadi Turis di Edam, Volendam, dan Marken

Saya kembali memeriksa isi tas dan memastikan tidak ada satu barangpun yang tertinggal, terutama dompet dan tiket kereta. Setelah berpamitan pada suami, kaki tergesa melangkah ke stasiun kereta dekat rumah. Saya berharap tidak tertinggal kereta karena tadi begitu sibuk menyiapkan beberapa pepes ikan asin peda dan sambel teri, pesanan dua orang teman. Ikan asin peda saya buat sendiri karena saat beli ikan di pasar ternyata jumlahnya terlalu banyak untuk dimakan sendiri, akhirnya saya punya ide kenapa tidak dibuat ikan asin saja, mumpung sinar matahari sedang berlimpah satu minggu ini pada bulan Agustus. Setelah menjadi ikan asin lalu saya buat pepes dan saya jual kepada dua orang teman yang sebelumnya sudah memesan sambal teri. Lumayan hasilnya bisa saya buat jalan-jalan. Aroma pepes dan sambel teri menguar dipangkuan saat saya sudah duduk di dalam kereta. Saya berharap aroma ini tidak sampai mengganggu penumpang lainnya. Cukup saya saja yang bisa menciumnya.

Setelah berganti kereta, saya mencari tempat duduk dekat jendela, tempat favorit. Masih jam delapan pagi dan aplikasi prakiraan cuaca mengatakan bahwa hari ini hujan tidak akan datang dan suhu berkisar 15 derajat. Untuk ukuran bulan Agustus, seharusnya suhu bisa lebih dari ini. Tapi dengan tidak hujan saja sudah lebih dari cukup, apalagi saya melihat semburat matahari. Bisa kacau rencana hari ini kalau sampai hujan turun. Melalui jendela kereta, saya menikmati suasana pagi sepanjang jalan. Sapi dan domba yang merumput, rumah-rumah mungil tertata rapi, area pertanian, gedung-gedung perkantoran, dan tak luput saya amati juga kegiatan penumpang yang di dalam kereta. Ada yang sibuk membaca buku, asyik mendengarkan musik, berbincang, dan ada yang menikmati sarapan paginya yaitu roti dan segelas kopi. Tiba-tiba saya kangen sarapan nasi pecel pakai peyek teri.

Jam 9 pagi, kereta sampai di Amsterdam Centraal. Saat kaki keluar dari kereta, kepala mulai menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok seorang teman. Ah, dia sudah berdiri di dekat papan pengumuman. Setelah berbincang sesaat, kami lalu bergegas ke kantor informasi turis (VVV) yang berada tepat di depan Stasiun Amsterdam. Ya, hari ini kami akan menjadi turis sehari dengan mengunjungi beberapa tempat tujuan favorit para turis kalau sedang berkunjung ke Belanda. Tempatnya tidak jauh dari Amsterdam. Dengan berbekal tiket bis terusan seharga €9 yang bisa dipakai selama 24 jam serta mempunyai fasilitas wifi gratis dan peta yang kami dapatkan dari VVV, kami akan mengunjungi tiga tempat yang menjadi bagian dari Waterland. Tempat yang akan kami kunjungi adalah Edam, Volendam, dan Marken. Sebenarnya tempat-tempat yang jadi bagian Waterland selain yang saya sebutkan tadi adalah Monickendam, Purmerend, Broek in Waterland, Middenbeemsteer, Graft-De Rijp, Hoorn, dan Landsmeer. Info lengkap tentang rute bus bisa dilihat langsung di website ini. Tiket bus selain bisa dibeli di kantor VVV, juga bisa dibeli online, dan dengan membeli langsung ke sopir di dalam bis. Tidak harus membeli tiket terusan jika memang tujuannya tidak mengunjungi semua tempat itu. Tapi kalau mengunjungi tiga tempat, seperti yang kami lakukan, lebih menghemat kalau membeli tiket terusan saja.

EDAM

Tentu saja saya sangat antusias dengan tujuan jalan-jalan kali ini. Saya sudah mengajak suami untuk mengunjungi beberapa tempat ini sejak setahun lalu, tapi dia nampak tidak antusias. Dia selalu beralasan kalau Volendam itu sangat ramai dengan turis. Tapi kan tidak afdol rasanya kalau saya tidak ikut berkunjung ke tempat yang menjadi daya tarik turis. Untung saja saya punya teman yang suka kelayapan juga, yang pernah saya ceritakan pada tulisan kunjungan ke Kinderdijk. Akhirnya kesampaian juga berkunjung ke Edam, Volendam, dan Marken. Bisa saja saya bepergian sendiri, tapi kalau ada teman yang sejiwa akan semakin seru.

Tujuan pertama kami adalah Edam. Kalau yang suka sekali dengan keju, pasti tidak asing dengan keju Edam. Ya, Edam adalah salah satu tempat penghasil keju di Belanda. Saya pernah menuliskan tempat lain penghasil keju di blog ini, yaitu Gouda. Edam adalah kota kecil yang ada sejak abad ke-12 saat petani dan nelayan mulai menetap di sepanjang sungai Ye. Kota kecil ini berkembang menjadi sebuah kota yang semakin makmur pada abad ke- 17. Kapal memainkan peranan yang penting dalam pertumbuhan ekonomi di Edam. Setelah membuat 33 kapal, Edam menghasilkan banyak kapal yang terkenal di dunia. Salah satunya adalah “Halve Man”, kapal milik orang Inggris Henry Hudson, yang berlayar pada tahun 1609 untuk mencari rute utara menuju Hindia Timur. Perjalanan yang sia-sia karena akhirnya dia berakhir di pulau Manhattan. Selain kapal, perdagangan juga memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi di Edam. Amsterdam, Hoorn, Enkhuizen, dan Edam adalah kota-kota komersil yang penting di Belanda.

Edam
Edam
Edam
Edam
Edam
Edam
jajaran-rumah-di-edam
jajaran-rumah-di-edam

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, asosiasi kata yang langsung muncul di kepala saat disebutkan Edam adalah keju. Selama berabad-abad keju Edam sudah tersohor di seluruh dunia. Edam juga terkenal dengan pasar keju yang ada setiap musim panas, setiap hari rabu. Pada saat kami ke sana, ada jadwal tambahan pasar keju. Sayangnya pasar keju tersebut baru dimulai jam 5 sore, jadi kami tidak bisa menyaksikan. Kami masuk ke salah satu toko keju dan saya memutuskan untuk membeli keju rasa pesto, oleh-oleh untuk suami. Sedangkan teman saya selain membeli keju rasa pesto juga membeli rasa yang lainnya. Dia mencoba contoh-contoh keju yang disediakan, menurutnya yang rasa daging asap juga enak, ada yang rasa cabai juga.

Edam
Edam
Tempat Pasar Keju
Tempat Pasar Keju
Timbangan Keju
Timbangan Keju
De Kaasdragers
De Kaasdragers

Kami bisa membayangkan bagaimana keadaan Edam berabad-abad lalu. Menyusuri rumah-rumah dan jalan-jalan tua di Edam, melewati sungai-sungai kecil, berhenti di depan gereja yang merupakan salah satu gereja terbesar di Belanda dan singgah ke beberapa toko yang ada hanya sekedar melihat saja, membuat waktu tak terasa berjalan cepat. Hampir dua jam kami habiskan di Edam. Tidak terlalu banyak turis yang berkunjung, jalanan tidak terlalu ramai, sehingga kami bisa menikmati Edam dengan leluasa.

Edam
Edam
Ngaso sejenak, nunggu tukang jualan tahu tek lewat :D
Ngaso sejenak, nunggu gerobak abang nasi goreng lewat 😀

VOLENDAM

Setelah dari Edam, kami melanjutkan perjalanan ke Volendam. Dari kota kecil yang tidak terlalu ramai, tiba di Volendam suasana langsung berubah, kontras berbeda. Volendam sangat terkenal di kalangan turis, sepertinya semua turis dari penjuru dunia tumplek blek di sini. Rame sekali. Tidak mengherankan karena ada yang mengatakan bahwa jika ingin melihat keindahan Belanda, pergilah ke Volendam. Desa nelayan ini terletak arah timur laut dari Amsterdam, terkenal dengan rumah berwarna warni dan kapal-kapal tua yang bersandar di pelabuhan. Selain itu, di Volendam juga ada pabrik keju. Kita bisa masuk dan melihat proses pengolahan keju, membeli hasil keju, atau masuk ke museum keju. Volendam ini adalah tempat favorit yang nampaknya wajib dikunjungi oleh turis dari Indonesia. Namun hari itu kami tidak bertemu satupun orang Indonesia.

Volendam
Volendam
Ramainya Volendam
Ramainya Volendam
Volendam
Volendam
Jajaran kapal tua, mengingatkan akan Sunda Kelapa
Jajaran kapal tua, mengingatkan akan Sunda Kelapa
Pabrik keju Volendam
Pabrik keju Volendam
Museum
Museum

Keju beraneka rasa di pabrik keju Volendam
Keju beraneka rasa di pabrik keju Volendam

Hal lainnya yang terkenal dari Volendam adalah pakaian tradisional Belanda. Kita bisa mengenakan pakaian tradisional Belanda lengkap dengan klompen serta latar belakang negeri Belanda dan mengabadikannya dalam foto di banyak studio foto di Volendam. Kami masuk ke salah satu studio foto dan melihat kisaran harganya. Salah satu pegawainya mengenali kalau kami berasal dari Indonesia. Dia lalu mengatakan bahwa 70% pengunjung studionya adalah orang Indonesia. Saya tidak bertanya lebih lanjut 70% tersebut dari total berapa pengunjung selama rentang waktu berapa lama. Tetapi dengan melihat beberapa wajah yang saya kenali lewat televisi terpampang di etalase semua studio foto, semakin meyakinkan saya bahwa Volendam memang salah satu tempat wajib dikunjungi oleh turis dari Indonesia. Teman saya sampai terbahak ketika melihat wajah Maya Rumantir dan bertanya tahun berapa foto tersebut sudah ada di sana karena wajah Maya Rumantir masih sangat muda. Dengan membayar €15 untuk satu kali jepret dengan ukuran standar (saya lupa berapa), maka kita sudah punya bukti pernah ke Volendam. Bagaimana dengan kami? Mungkin lain kali kami akan kembali ke Volendam, khusus untuk foto dengan pakaian tradisional Belanda.

Salah satu studio foto di Volendam
Salah satu studio foto di Volendam
Ada wajah yang dikenali?
Ada wajah yang dikenali?
Mungkin karena banyaknya turis Indonesia di Volendam, sampai dibuat tanda dalam bahasa Indonesia
Mungkin karena banyaknya turis Indonesia di Volendam, sampai dibuat tanda dalam bahasa Indonesia

Jadi, jangan lupa kalau ke Volendam untuk foto mengenakan pakaian tradisional Belanda, biar dikatakan sah pergi ke Belanda.

MARKEN

Kami menuju Marken menggunakan kapal dengan membayar €7.5 untuk sekali jalan dan tiketnya bisa langsung beli di tempat. Jika memilih pulang pergi maka harga kapal menjadi €9.95. Kami memilih untuk membeli tiket kapal sekali jalan karena kami tidak akan kembali lagi ke Volendam dan setelah dari Marken akan menggunakan Bus untuk melanjutkan perjalanan karena masih punya tiket terusan. Kapal berangkat setiap 30 menit. Jika ingin pergi menggunakan Bus dari Volendam ke Marken, juga bisa. Karena cuaca mendung dan angin lumayan kencang, saya menggigil kedinginan selama perjalanan 20 menit menuju Marken, ditambah lagi saya tidak membawa jaket. Bersyukurnya di tengah jalan tidak hujan.

Tempat kapal menuju ke Marken
Tempat kapal menuju ke Marken
Marken
Marken
Marken
Marken

Dari hiruk pikuk Volendam, sesampainya di Marken suasana kembali sunyi. Marken tidak terlalu banyak dikunjungi turis. Marken adalah sebuah desa bagian dari wilayah Waterland dengan jumlah penduduk 1.810 pada tahun 2012. Marken membentuk sebuah semenanjung di Markermeer dan sebelumnya sebuah pulau di Zuiderzee. Marken dipisahkan dari daratan setelah mengalami gelombang badai pada abad ke-13. Dulu mata pencaharian utama penduduk Marken adalah nelayan, sedangkan saat ini juga ditunjang dari sektor pariwisata. Dulu banjir kerap datang ke Marken, karenanya tipe rumah di Marken adalah rumah panggung. Kita akan menemui banyak jembatan di Marken dan uniknya jembatan-jembatan ini diberi nama dari nama-nama anggota keluarga kerajaan seperti Maxima, Beatrix, Amalia, dll.

Marken
Marken
Marken
Marken
Marken
Marken
Jembatan-jembatan di Marken diberi nama anggota keluarga kerajaan
Jembatan-jembatan di Marken diberi nama anggota keluarga kerajaan

Suasana di Marken sangat tenang. Menyusuri setiap sudutnya, mata dimanjakan oleh tata letak rumah yang sangat rapi dan berwarna nyaris seragam yaitu hijau. Saking sepinya Marken, saya sampai bilang tidak mungkin ada orang Indonesia yang tinggal di sini. Ternyata dugaan saya salah besar. Dari salah satu rumah, saya mendengar ada yang berbicara menggunakan Bahasa Indonesia (dengan logat Jawa). Ketika kami mengintip dari sela-sela pagarnya ternyata memang ada beberapa orang Indonesia di sana. Kami sampai mengikik, tidak menyangka ada orang Indonesia yang tinggal di Marken.

Marken
Marken
Toko dan tempat pembuatan klompen
Toko dan tempat pembuatan klompen
Tempat pembuatan klompen
Tempat pembuatan klompen. Yang diatas itu klompen yang sudah dibentuk tetapi belum dipercantik.

Jika berkesempatan mengunjungi Marken, jangan lewatkan untuk mampir ke tempat pembuatan klompen. Selain bisa menyaksikan langsung bagaimana klompen dibuat, kita juga bisa langsung membeli klompen dengan berbagai ukuran dan beraneka rupa warna. Selain sebagai oleh-oleh, klompen yang berada di sana juga bisa digunakan sebagaimana fungsi klompen yaitu sebagai alas kaki. Sayang sewaktu kami ke sana, proses pembuatannya sedang tidak berlangsung. Saya mengincar klompen kecil, rasanya ingin kalap membeli kalau tidak ingat harganya yang sudah disesuaikan dengan harga turis.

Klompen yang sudah jadi
Klompen-klompen yang sudah jadi

Perjalanan kami menyusuri Edam, Volendam, dan Marken berakhir saat jam menunjukkan angka lima disore hari. Perjalanan yang menyenangkan karena akhirnya tahu tempat-tempat yang menjadi favorit turis jika datang ke Belanda. Sehari menjadi turis di tempat yang turistik. Kami bergegas menuju halte bus yang akan membawa kami menuju ke Amsterdam Centraal. Sepanjang jalan perut kami keruyukan mencium aroma pepes dan sambal teri. Ingin segera rasanya sampai di rumah seorang teman yang sudah siap menyambut kedatangan kami dengan beraneka ragam masakan Indonesia. Sabtu kami ditutup dengan perbincangan dan gelak tawa sembari menikmati hangatnya nasi, tempe tahu goreng, balado terong, sambel terasi, ikan goreng, dan oseng ikan asin.

Marken
Marken

Jika suatu saat ada kesempatan ke Belanda, kalian ingin berkunjung kemana?

Sumber : Edam , Marken , Volendam

-Den Haag, 2 November 2016-

Semua foto dokumentasi pribadi

69 thoughts on “Sehari Menjadi Turis di Edam, Volendam, dan Marken

  1. Keren banget bisa tiga tempat satu hari Den. Cantik-cantik jepretanmu, yang udah ke sana pengen balik lagi. Haha.
    Kita pengen terusin ke Marken tapi nggak jadi Den, hujan. Semoga bisa balik lagi menjelajah.

    1. Terima kasih Kei. Bisa tiga tempat karena mulainy jam 9 pagi haha. Memang niat kami jalan ke 3 tempat itu.

  2. Lha, kok aku malah ngiler pas baca paragraf tentang tahu, tempe, dan teman-temannya itu 😀 Hm, kalau suatu hari bisa berkunjung ke Belanda (Aamiin), pastinya aku pertama-tama pengen banget tuh ke Volendam untuk foto dengan baju tradisional Belanda dan sandal klompennya 🙂

    1. Hahaha makanan memang gampang mengalihkan perhatian yaa :))) Amiinnn semoga bisa ke Belanda, trus kita kopdaran 🙂

    1. Kalau tentang keju, jangan khawatir. Disetiap pojokannya Belanda toko2 pada jualan keju yang menggiurkan semua Ge :))

  3. waah Deni iseng ngintip rumah orang Indonesia ha.. ha…
    toko foto yang di Volendam itu kayaknya tempatku foto juga deh.., ingat komentar yang sama soal foto Maya Rumantir ..
    sayangnya nggak dikasih kesempatan keliling desanya …,
    tapi malah diajak ke studio tempat kita nonton film tentang sejarah pembuatan dam

    1. Hahaha Mbak, bukan ngintip2 yang niat gitu. Sambil lalu jalan sambil ngintip2 wah seru itu mbak malah bisa nonton dokumenter pembuatan Dam. Aku incip2 keju di pabrik keju, gratisan haha.

    1. Aduuuhh Kak Cum, aku langsung ngiler bayangin botok tempe teri pakai kemangi. Yummm. Males masaknya kalo ga mood. Makanya kangen warteg kalo gini :)))

  4. Mau ketiga2 nya Den 🙂 btw aku kan udah pernah ke Belanda jaman kecil sama keluarga, pas baca tulisan2 kamu tentang Belanda tuh ngga ada yang inget, kecuali pas baca Volendam.. aku yakin banget udah pernah kesana hahaha.. khas turis banget sih ya 😀

    1. Haha iya Volendam ini wajib kunjung turis. Soalnya dekat dengan Amsterdam. Semoga bisa euro trip dan mampir Belanda nanti sama R ya Chris 🙂

  5. Ahhh Marken aku suka. Lebih tenang. Dan si klompen itu ahhhh lempar Den ke Dalarna hahaha. Gemyessss. Volendam juga, pengen foto. Jd ingat pernah foto berdua suami dengan baju ala ala tahun 1800 an dan sukses hasilnya muka kami berdua kocak abis. Serius bgt mimiknya . Semoga nanti bisa ke Belanda ya

    1. Iya, aku juga cocok sama Marken. Ga terlalu banyak orang. Jadi bisa santai leyeh2 nikmatin pemandangan. Kalo klompen sih harganya jauuuuhhh lebih murah dari Dalarna horse Helena haha. Kapan2 ya ntar kulempar ke Dalarna. Hahaha emang seruuu ya kalau bisa foto pakai pakaian tradisional. Jadi tahu penampakan kita gimana. Makanya aku ga foto, nanti aja ngajak suami balik ke sini, khusus untuk foto haha. Semogaaa Helena bisa ke Belanda. Banyak tempat2 sepi yg bisa dikunjungi di sini selain tempat2 turistiknya.

  6. Suasananya Belanda sekali ya mbak Den. Andai mbak Den tahu betapa inginnya aku mengunjungi negeri kincir angin ini haha, mudah-mudahan nanti ada rezeki dan kesempatan.

    Btw, fotonya emang sengaja disettting miring, kah?

    1. Om, komennya masuk Spam haha. Entah kenapa. Aku selalu mengamini doamu untuk ke Belanda Om. Insya Allah semesta mendukung. Jangan lupa kabari ya kalau sudah ada rencana ke Belanda. Siapa tahu aku bisa bantu apaaa gitu 🙂
      Foto ga miring kalo dibuka dari laptop atau tablet. Tapi kalo dibuka lewat Hp jadi miring, entah kenapa padahal ga di setting miring haha.

      1. Mbak Den, abis nulis tentang Volendam aku iseng googling blog lain yang nulis tentang itu. Dan ketemu lagi tulisan ini dan pas baca komenku di 2016 ini rasa gak percaya 2 tahun kemudian aku bisa beneran ke sana 😀 alhamdulillah.

        1. Aku barusan sampai baca2 lagi komen2 di postingan itu. Waahh iya lho beneran kejadian 2 tahun kemudian ke sini. Beneran ya, memang ga ada yang mustahil di dunia ini. Jalannya penuh misteri. Ayookkk langsung diangan2 mau ke mana lagi ini, biar nanti bisa kesampaian. Ke Alaska mungkin 🙂 *ini aku yang pengen haha.
          Duh baca komen2, lalu ada komen Kak Cumi. Jadi sedih *Alfatehah

          1. Iya mbak Deny, ini lagi mengafirmasi biar bisa ke US haha. Aminn amiiin.

            Btw, rindu juga dengan om Cumi dengan segala keceriaannya 🙂

  7. Ah, Mbak Deni, bikin saya kangen Belanda aja deh! Hehehe.. Klo berkesempatan ke Belanda lagi, saya pengen mengunjungi Gouda dan Edam, pengen icip-icip keju. Hehe.. Terus pengen ke Rotterdam, penasaran sama cube house itu loh Mbak, hehe..

    1. Kalau suka keju, wajib berarti datang ke kota2 pemroduksi Keju. Biar dapat suasananya. Eh iya, aku sampai sekarang belum pernah ke Cube house sama Erasmus yang dulu kamu pernah cerita. Aku jarang banget ke Rotterdam, padahal ga terlalu jauh. Semogaa kamu ada kesempatan lagi ke Belanda yaa 🙂

    1. Iya Non, rame banget Volendam pas aku kesana. Summer dan musim liburan pula. Semoga ada rejeki bisa jalan2 lagi ke Belanda ya 🙂

    1. Wah aku malah belum pernah ke Madurodam padahal kalau ke Scheveningen selalu ngelewati haha. Jadi menginspirasi untuk ke Madurodam 🙂 Amiiinn semoga nanti kalau ke Belanda lagi bisa mampir yaa ke Volendam.

    1. Aku malah ga tahu berapa jenis keju Belanda ini. Barusan coba googling jenis keju utama sekitar 10. Entah yang jenis dan varian yang lain ga tersebut. Wah, perancis banyak juga ya jenis2 kejunya. Sampai 300 gitu.

  8. Fotonya kaya di negeri dongeng Mba. Aku ga terlalu suka ikan asin peda (ya tapi kalo ada di makan juga) hehehe. Tapi kalo ikan asin gabus goreng kering. Suka banget

    1. Dimasukkan ke list Ji 🙂 aku suka sama semua jenis ikan asin Ji. Apalagi kalau tinggal makan ga perlu bikin sendiri haha. Ikan asin makan pakai nasi anget, sambel trasi, lalapan, tempe goreng. Wah, suami manggil ga kedengeran haha!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.