Warna Warni Burano dan Murano

Setiap hari sekarang langitnya berwarna abu abu, hujan, dan ditambah suhu sudah sekitar -1ºC di pagi hari sehingga kalau ada jadwal kerja dan berangkat naik sepeda dinginnya minta ampun. Belum lagi kalau angin kencang, rasanya saya ingin marah-marah sama anginnya (ojok ditiru :D). Tapi masih bersyukur belum (tidak) ada salju sementara beberapa negara di Eropa seperti Swedia, Austria, Jerman, sudah turun salju. Daripada muram merasakan dingin, saya mau menuliskan sesuatu yang membuat hati bahagia saja. Ini adalah catatan perjalanan ketika kami sedang bepergian ke Italia beberapa bulan lalu. Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah Venice. Kota yang tersohor ini tidak luput kami kunjungi karena ingin melihat sendiri kanal-kanalnya, grand canal, gondola, pulau-pulau disekitarnya, air berwarna tosca, dan beberapa bangunan yang menjadi ikon Venice. Kalau tahun lalu kami mengunjungi Venice-nya Belanda yang bernama Giethoorn, siapa sangka tahun ini saya bisa mengunjungi Venice yang asli (kalau suami sudah dua kali ini ke Venice). Cerita Venice saya tuliskan lain waktu karena kali ini saya akan berbagi cerita tentang dua pulau yang kami kunjungi yang termasuk wilayah Venice, yaitu Murano dan Burano.

Ketika sedang menyusun rencana perjalanan ke Venice, banyak informasi yang saya dapat menuliskan untuk mengunjungi juga pulau-pulau yang berada di sekitar Venice. Ada beberapa pulau, sebut saja : Murano, Burano, Torcello, Punta Sabbioni, dan beberapa pulau kecil lainnya. Akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi beberapa tempat tersebut, tergantung dari kecukupan waktu. Kami sampai di Venice dari Marghera, kota tempat kami menginap selama dua malam, sekitar pukul 8 pagi. Masih tidak terlalu banyak pengunjung. Kami lalu menuju loket pembelian Tourist Travel Card dan memilih kartu yang berlaku selama 24 jam seharga €20 per orang. Kartu ini bisa digunakan untuk naik perahu (ACTV Vaporetto) dan naik bis tujuan kota-kota sekitar Venice, asalkan masih dalam waktu 24 jam. Kami membeli kartu ini karena memang niat untuk naik perahu sepanjang Grand Canal dan menuju pulau-pulau di sekitar Venice.

Setelah puas menyusuri setiap lorong Venice dengan berjalan kaki dan mengunjungi beberapa bangunan yang ada, perjalanan kami lanjutkan dengan menggunakan perahu. Ada banyak halte (sebut saja namanya halte, tempat penumpang menunggu) perahu yang sesuai dengan tujuan perahu. Jadi sebelum masuk ke halte tersebut, cek terlebih dahulu perahu yang singgah di sana akan menuju ke mana. Dan lihat juga rute yang terpampang di bagian depan halte. Jika tidak mengerti, bisa bertanya ke petugas perahu sebelum kita naik ke perahu, untuk memastikan. Perhatikan juga jam keberangkatan. Untuk tujuan tertentu (misalnya Burano, yang jaraknya jauh dari Venice), kita harus transit dahulu di beberapa pemberhentian untuk ganti perahu.

Murano
Murano
Murano
Murano
Murano
Murano

Karena jumlah perahunya banyak dan selalu tepat waktu, jadi meskipun pada saat kami ke sana puncak turis datang yaitu musim panas, kami tidak terlalu berdesakan di dalam perahu. Jadi kita bisa memilih duduk di dalam atau berdiri di bagian luar. Tujuan pertama kami adalah Murano. Letak Murano sendiri tidak terlalu jauh dari Venice, hanya beberapa menit saja kami sudah sampai. Dari kejauhan tampak rumah berderet dengan warna warni yang mencolok. Murano dikenal sebagai pulau yang menghasilkan barang pecah belah. Jika ingin ikut menyaksikan cara pembuatannya, bisa mendaftar yang informasinya bisa ditemukan online atau langsung bertanya ke toko-toko pecah belah yang ada di sana. Pada saat kami ke Murano, ada pabrik yang sedang mengadakan pelatihan dan mempertunjukkan proses pembuatannya, tapi kami tidak tertarik untuk melihat karena saat kuliah saya pernah masuk ke pabrik pecah belah yang ada di Surabaya dan menyaksikan proses pembuatannya. Jadi saya pikir akan sama saja. Ada juga Museum yang berisikan barang pecah belah dan sejarah yang menceritakan bagaimana Murano terkenal dengan kerajinan pecah belahnya.

Awalnya saya berpikir Murano tidak akan terlalu banyak dikunjungi turis. Ternyata saya salah, turis penuh di pulau ini. Karena pulaunya lumayan besar, jadi ada beberapa sudut yang tidak dipenuhi pengunjung. Lumayan untuk memotret. Lalu saya bilang ke suami kalau Burano akan lebih sepi dari Murano, begitu yang saya baca di beberapa artikel. Setelah puas berkeliling Murano dan duduk-duduk di pinggir kanalnya sambil menikmati roti dan minuman, kami melanjutkan perjalanan ke Burano. Cuaca yang sangat panas hari itu (sekitar 39ºC) membuat kami harus sering minum. Padahal sewaktu di Surabaya dengan suhu yang sama saya merasa baik-baik saja, sewaktu liburan ke Italia dengan suhu segitu saya rasanya mau dadah dadah ke kamera. Sudah terbiasa digempur dengan dingin dan hujan selama di Belanda jadi begitu merasakan cuaca panas langsung terasa bedanya.

Burano
Burano
Burano
Burano
Burano
Burano
Burano
Burano

Burano selain terkenal dengan rumah yang berwarna warni dan kanal-kanalnya yang indah, juga dikenal dengan pembuatan renda. Akan banyak ditemui toko-toko yang menjual beraneka bentuk renda, tapi pastikan sebelum membeli bahwa yang dijual tersebut adalah buatan tangan, bukan mesin yang memproduksi dalam jumlah yang banyak. Jika ingin tahu lebih lanjut tentang tradisi pembuatan renda, bisa mengunjungi Museum Lace. Awalnya saya menduga Burano akan lebih sepi dari Murano, ternyata salah besar. Burano lebih ramai dikunjungi turis. Saya yang suka memperhatikan tingkah turis dimanapun berada, jadi keasyikan sendiri melihat ada yang selfie dipinggir kanal dengan raut muka yang dibentuk sedemikian rupa, ada yang sibuk berputar-putar dengan tongsisnya, ada yang semacam foto prewed di depan rumah warna warni lengkap dengan busana yang apik, ada yang bergerombol berbicara dengan kencang, dan ada yang tertegun memperhatikan sekitar (iya, ini saya :D).

Warna warni rumah di Burano lebih berani dan lebih menyala dibandingkan Murano, begitu yang saya lihat. Satu rumah dengan lainnya mempunyai warna yang berbeda sehingga rumah-rumah yang berjajar tersebut terlihat kontras dengan sapuan warna stabilo, menyala, dan eye catching. Melihatnya sangat menggemaskan apalagi kami menemui beberapa rumah dicat dengan pola-pola tertentu. Pengecatan rumah ini dilakukan setiap dua tahun sekali dan jika ada penduduk yang ingin memperbarui warna catnya, harus mendapatkan persetujuan dahulu dari pemerintah. Bukan hanya mata saja yang terasa dimanjakan melihat kemeriahan warna di Burano, hati juga ikut gembira rasanya.

Burano
Burano
Burano
Burano
Salah satu tembok yang dicat berwarna warni di Burano
Salah satu tembok yang dicat berwarna warni di Burano

Saat kami sedang berfoto bergantian dengan latar belakang tembok yang berwarna warni (foto di atas), ada satu keluarga yang sedang melintas dan ketika mendengarkan saya dan suami berbicara menggunakan bahasa Belanda, salah satu diantara mereka menawarkan untuk mengambil pose kami berdua. Rupanya mereka keluarga yang berasal dari Belgia. Jadilah kami semua berbicara menggunakan bahasa Belanda dan berbincang-bincang sebentar. Ketika kami menawarkan untuk bergantian memotret, mereka menolak karena ingin segera makan di restoran tidak jauh dari tempat ini. Senangnya punya foto berdua suami di Burano, dengan kebaikan tawaran dari mereka.

Ada satu lagi kesamaan antara Murano dan Burano selain warna warni rumahnya yaitu jemuran ada dimana-mana, di setiap gang ataupun jalan utama. Melihat jemuran di sini nampak enak dilihat mata, tertata dan tidak semrawut. Jadinya jemuran pun mempunyai daya tarik tersendiri.

Burano
Burano
Jemuran di Burano
Jemuran di Burano
Burano
Burano

Setelah dari Burano, niatnya kami ingin mengunjungi pulau yang lainnya yaitu Torcello. Tapi setelah menghitung waktu, nampaknya tidak cukup karena kami ingin menyusuri Grand Canal menjelang matahari terbenam sambil melihat orang-orang yang menaiki gondola diiringi alunan suara dari yang mendayung gondola (tapi saya cuma menjumpai beberapa yang bernyanyi). Puas rasanya bisa mengunjungi dua dari tiga pulau yang terkenal disekitar Venice. Melihat secara langsung keindahan warna warni rumah dan menepi sesaat dari pikuknya Venice. Jika ingin membeli cinderamata, saya melihat banyak toko menjual beraneka bentuk topeng. Saya menduganya ini adalah cinderamata khas Venice.

Souvenir Venice
Souvenir Venice
Burano
Burano
Burano
Burano

Jadi terinspirasi ingin mengecat rumah dengan warna yang ngejreng?

-Den Haag, 9 November 2016-

Semua foto dokumentasi pribadi

37 thoughts on “Warna Warni Burano dan Murano

  1. Wah, benar-benar kaya Venice konsepnya ya Den… rumah-rumahnya itu, jembatan nya, sampai tower nya mirip piazza san marco…. keren! Dan yang paling saya suka adalah menyusuri gang-gang sempit nya. Kalo mau bandingin, di sini bangunan nya lebih bagus, karena masih lebih baru ya

    1. Sebenarnya menurutku bangunannya ga baru2 banget Kei, hanya berwarna warni itu jadinya kesannya baru. Lebih seger dibandingkan yang Venice

  2. Seru banget, Mbak Deni. Aku juga baru tahu ttg Burano dan Murano, hehe. Kalau lihat bangunan dengan cat warna-warni gitu suka inget iklan cat. :p Pengen juga sih ngecat beberapa ruangan di rumah dengan warna yg berbeda. 😀
    Oh iyaa.. beberapa negara di Eropa udah bersalju ya. Early winter nih kayaknya, Mbak. Stay warm and healthy ya Mbak Deni. 🙂

    1. Hai Cha, lama ga baca tulisannya. Semoga kamu sehat selalu ya.
      Kalau berjiwa seni, tabrakan warna di rumah makin bikin kreatifitas numbuh ya, soalnya bikin semangat. Kalo rumah kami ga bakalan bisa. Suami maunya cuma warna putih, sementara aku juga pengennya ngecat warna warni haha.
      Terima kasih Icha, Den Haag beberapa hari lalu ada salju tipis tipis. Dinginnya sudah lumayan banget inj untuk ukuran musim gugur. Terima kasih 🙂

  3. Apik ya Den, sayang kemarin nggak mampir ke sana padahal udah deket. Sepertinya aku bakalan lebih enjoy di sini dari pada di Venice.

    1. Iya Beth, apik, menyegarkan mata dan ga uwel uwelan kayak di Venice nya. Meskipun sebenarnya di Venice itu yg uwel2an pas bagian ditengah2nya. Pas kami menyusuri gang gangnya ya sepi ga terlalu rame bahkan bisa tahu ada bangunan2 menarik lainnya.

    1. Mungkin salah satu tujuannya setiap dua tahun sekali mereka ganti cat rumah dan sebelumnya harus lapor dulu ke pemerintah, untuk melihat harmonisasi warnanya. Mungkin ya mbak, nebak2 sendiri akunya hehe.

  4. Denyy, melihat rumah warna warni di Burano aku jadi teringat rumah pantai warna warni di Brighton Beach disiniiiii . Aku lihat fotomu sampe megap2 Den saking cantiknya, terus jemuran selaweran (((SELAWERAN))), itu kok nggak mengganggu di mataku ya? Kok aku diskriminasi gini sama jemuran2 lain di belakah dunia nun jauh disana *uncali tali jemuran*. Senangnyaaa Den, menunggu cerita Venice lainnya yaaaa 😉

    1. Hahaha megap2. Warna warni tabrak sana sini gonjreng ternyata apik ya. Waahh asyik Dil pantai dengan warna warni rumah pantainya. Apik mestine. Monggo dijadikan bahan tulisan nang blog (huahaha mesti ujung2nya nulis blog). Seri Venice akan ditulis kalo yg punya blog lagi mood :))) *susah ancene sing nduwe blog nulis tema berdasarkan mood haha. Ditunggu Dil!

      1. Den, syedih aku.. tiba’ e comment balasan ini nggak muncul di WP apps ku (aku memang kalo comment ke blog mu harus via browser). Hahahahaha gak2, ora syedih koook.. tinggal di tengok aja kesini skalian main2 lagi 😉

        1. Owhhhh gitu, opo o ya ga muncul di App. Tak pikir selama ini kalo aku jawab2 selalu muncul di App. Soalnya ada beberapa yg langsung jawab. Iyo Dil, sambil silaturrahmi maya haha.

  5. Mba Den foto-fotonya ceria sekali. Banyak rumah bercat cerah. Disana bukannya juga terkenal dengan pembuatan kaca yang dihias bukan? Kalau di Indonesia mungkin karena sudah tropik ya kalau rumahnya warna gonjreng malah menyolok haha…makasih sudah share kisah..

    1. Iya betul. Yang aku maksud pecah belah itu salah satunya kaca yang dihias dan dibentuk2 dengan cantiknya. Aku kemarin pas nulis bingung cari kata yg tepat. Terima kasih infonya. Sama2 🙂

    1. Soalnya yang di Burano Murano ini rumahnya mepet2 satu dengan lainnya ya San, jadi kelihatan gonjrengnya. Wah, clustermu keren juga berarti San, warna warni meriah.

  6. Wah ribet juga klo mesti ijin dulu kalau mau ngecat rumah. Mungkin rumah yg warna-warni sudah jadi ciri khas kali ya, jadi pemerintahnya mau mempertahankan ciri tersebut supaya menarik lebih banyak turis.

    1. Iya, salah satu yang unik dan daya tarik Burano Murano warna warni rumahnya. Jadi untuk melestarikannya, pemerintah ikut berperan serta.

  7. Waaaa pingin banget ke Murano ama Burano ini soalnya saya suka banget liat rumah warna warni hehehe. Katanya barang pecah belahnya juga cantik2 ya mbak. Kadang musim panas di Eropa itu lbh panas dr di Indonesia karena kering kali ya, jadi ngos2an dan haus terus. Kalau di Indonesia kan plg gak ada es campur, es teler, es dawet 😀

    1. Mudah2an suatu saat nanti kesampaian Aggy keinginannya. Iya, pecah belahnya unik unik bentuknya. Kami sempet masuk ke beberapa toko buat liat2 aja, mau ambil foto takut ditegor soalnya sepi takut ketahuan. Aku juga ga tahu sih boleh difoto atau ga, cari aman aja ga moto haha. Bentuknya yg sampai meliuk2 gitu. Bener bagus. Iya aku juga heran, padahal Surabaya panasnya ampun dije, aku baik2 saja. Bener analisamu, karena di Indonesia ada segala macam es haha. Duh jadi pengen es dawet

  8. itu perumahannya rumah penduduk, gitu kah mbak? warnanya ngejreng ya. 😀 seru sih kalau sekompleks, kalau sendiri rasanya, hmm mikir- mikir ulang. hehe

    1. Iya ini rumah penduduk yang memang tinggal di pulau2 ini. Ditempati seperti biasa. Dan mereka santai2 aja rumahnya dipotret2 gitu. Sudah terbiasa pastinya. Dan rumah2 ini aku mikirnya memang sengaja dibikin cantik dengan pernak pernik di depannya. Kalo sendiri jadi makin terkenal, gampang nyarinya haha.

    1. Wah, kartuposnya nyasar kemana ya Mayang. Beberapa orang juga ga ngabari apakah kartuposnya sampai atau ga. Ini sudah 3 bulan lebih, hampir 4 bulan malahan. Kalau memang ga sampai, diikhlaskan aja Mayang.

    1. Iya Non, ada yang dijembreng tengah2 jalan, ada yang ditempelkan deket tembok, ada yang depan rumah. Jemuran dimana2 pokoknya haha.

  9. Tinggal ke Venice of the north dong nih kamu, atau udah pernah ya?

    Ke area Venice cs ini emang ribet ama urusan cuaca deh, maunya summer biar foto bagus karena langit cerah, apa daya peak season ama turis. Giliran winter yg agak sepian turis, cuacanya yg kacrut, kadang malah banjir juga 🙂

    But wont mind to return there again for the 3rd time or 4th 🙂

    1. Venice of the north itu Stockholm ya Fe? Aku barusan googling soalnya ga ngerti haha. Keluarnya Giethoorn sama Stockholm. Kalau Giethoorn sudah pernah tahun kemaren, kalau Stockholm yang belum. Iya sesuai yang kamu bilang, summer beuuhhhh padat merayap. Untung datang pagi, jadi pas mau masuk ke gereja apa itu lupa namanya ga sampai antri. Siangan dikit, antrinya mengular. Pas naik tower depannya gereja juga gitu, siangan dikit antrinya dah berkelok2. Kami siang sudah melipir. Hahaha iya, emang asik Venice ini, suka aku blusukan di gang2nya sama bagian naik kapal :)))

        1. Owalaahh haha Thanks infonya Fe. Lha googling yang keluar Stockholm sama Giethoorn :))). Pengakuan : sampai detik ini belum pernah ke Belgia sama sekali haha. Eh pernah sih, waktu ke perancis, lewat jalan tolnya aja.

  10. apa yg menyebabkan suhu sama dengan surabaya tapi ngak kuat panas nya ??? Mungkin karena sudah sering merasakan suhu -1 derajat itu yaa jd begitu kena panas yg sama dengan di indo sudah ngak kuat

    1. Mungkin ya Kak Cum, karena badan sudah beradaptasi dengan cuaca dingin, begitu ke negara yang ampun panas banget, jadi musti adaptasi lagi. Yang ada musti banyak banget minum biar ga dehidrasi.

    1. Iya Pak Alris, di Indonesia musim hujan juga ya. Jakarta sama Bandung sampai banjir di beberapa bagian. Di rumah orangtua juga nyaris banjir. Semoga tempat Pak Alris aman2 saja. Bener Warna cerah bikin hati ceria :)))

Thank you for your comment(s)