Mengurangi Konsumsi Nasi Putih, Garam, dan Penggunaan Minyak Goreng Untuk Hidup Lebih Sehat

Beberapa waktu lalu saya dan beberapa teman dekat di grup whatsapp membicarakan susahnya menurunkan berat badan seiring dengan bertambahnya usia. Dulu pada saat rentang usia 20an, gampang sekali menguruskan jika kami rasa badan agak berisi. Disamping karena kami adalah anak kos-an yang memang uang pas pasan untuk makan, makanya badan kami juga mengikuti ketersediaan uang. Lumayan berisi pada awal bulan karena cadangan dana masih menggembul dan menjadi lebih langsing menjelang akhir bulan, karena saatnya koret koret recehan untuk makan. Disamping itu juga ada senjata andalan lainnya, yaitu berhutang diantara agar kami tetap bisa makan. Karenanya kami selalu menyebut hutang diantara kami itu seperti lingkaran setan, karena tidak ada putusnya. Kami selalu terbahak-bahak kalau mengingat bagaimana kami berteman sejak 17 tahun lalu. Mungkin itulah yang membuat kami awet berteman sampai sekarang, karena yang dibicarakan selalu hal-hal ringan dan receh :))).

Ok, kembali lagi ke masalah berat badan. Salah satu diantara kami lalu menyelutuk, kalau metabolisme tubuh akan melambat seiring bertambahnya usia. Saya juga sering mendengar tentang itu. Lalu saya mulai mencari informasi tentang apa sih sebenarnya metabolisme tubuh ini dan kenapa bisa menjadi lambat kalau kita bertambah usia. Dari beberapa informasi yang saya baca, metabolisme adalah suatu proses biokimia kompleks dimana tubuh akan mengubah apapun yang dimakan menjadi energi. Selama proses ini, kalori dalam makanan dan minuman akan digabungkan dengan oksigen, lalu dilepaskan menjadi energi yang dibutuhkan oleh tubuh. Bisa juga berat badan tidak turun atau bahkan naik disebabkan asupan makanan menjadi otot karena faktor olahraga, dan hal ini bagus.

Ada beberapa hal yang ingin saya kurangi dan saya ganti dengan yang lainnya untuk tujuan hidup lebih sehat dan sesuai dengan kondisi saya saat ini. Kalau untuk meniadakan sama sekali, saya masih belum bisa.

MENGURANGI KONSUMSI NASI DAN MEMVARIASIKAN SUMBER KARBOHIDRAT

Mengurangi konsumsi nasi ketika saya sudah tinggal di Belanda sebenarnya tidak direncanakan sama sekali. Walaupun sejak kuliah lagi (tahun 2012), saya sudah mulai mengurangi konsumi nasi menjadi satu kali per hari, tetapi mengurangi konsumsi nasi yang akan saya ceritakan kali ini berbeda dengan kondisi pada saat saya masih di Surabaya. Awalnya sekitar bulan Maret 2016, ketika saya dan suami bepergian ke Prancis utara selama 8 hari (cerita perjalanan kami pernah saya tulis di sini), selama kurun waktu tersebut saya tidak makan nasi sama sekali. Sebelum kami berangkat, suami bertanya apakah saya akan baik-baik saja (baca:tidak cranky) kalau misalkan tidak makan nasi selama liburan. Saya sebenarnya ragu, apakah bisa. Tetapi saya juga ingin merasakan makanan lokal saat liburan. Bukan berarti di Prancis tidak ada nasi ya. Mungkin menu nasi tidak segampang ditemui dibandingkan Belanda (ini saya main asumsi ya, karena memang selama di Prancis saya tidak secara khusus mencari restoran yang menjual menu ada nasinya). Saya juga tidak mau repot-repot membawa beras atau penanak nasi. Saya kan mau liburan dan saya yakin di tempat yang kami kunjungi pasti ada restoran yang menjual menu halal (dan ternyata memang banyak). Nah, setelah melewati 8 hari tanpa makan nasi sama sekali dan mengganti asupan karbohidrat dari sumber yang lain (roti atau pasta), saya lalu berpikir wah ternyata bisa juga. Sejak saat itu sampai sekarang saya sudah terbiasa memvariasikan asupan karbohidrat tidak hanya tergantung pada nasi putih. Bahkan saya pernah tidak mengkonsumsi nasi putih sama sekali selama 3 bulan. Lalu kalau tidak makan nasi putih, sumber karbohidratnya darimana? Jawabannya : banyak sekali. Dulu sewaktu masih punya IG saya rajin memposting makanan dengan variasi karbohidrat. Sumber karbohidrat pengganti nasi putih yang saya konsumsi selama ini adalah : ubi, singkong, couscous, quinoa merah, nasi coklat dengan biji-bijian, kentang, jagung. Beberapa kali juga saya makan pasta, tapi tidak sering. Mie juga saya konsumsi tapi juga tidak sering. Yang sering ya yang saya sebutkan sebelumnya. Nasi putih saya konsumsi kalau sedang makan Sushi dan kalau saya ingin nasi goreng, oh beberapa waktu juga saat saya membuat nasi kuning. Oh ya, saya mencampur karbohidrat dengan protein hewani saat akhir pekan saja karena itu waktu saya cheating dari Food Combining. Kalau hari biasa, saya taat untuk tidak mencampur protein hewani dengan karbohidrat. Protein hewani yang saya konsumsi adalah ikan, telur (keju dan es krim termasuk ga ya?). Selebihnya saya makan tahu tempe untuk lauk.

Rawon sayuran dimakan dengan couscous
Rawon sayuran dimakan dengan couscous
Urapan dimakan dengan ubi
Urapan dimakan dengan ubi

Kalau menu yang sudah ada karbohidratnya, saya tidak tambahi makan nasi. Jadi tidak double karbohidrat. Misal : kalau di sop sayuran sudah ada kentang, saya tidak memakan dengan nasi. Atau kalau misalkan di sop sudah ada jagung, saya tidak makan dengan nasi. Karbohidratnya sudah saya dapat dari jagung. Padahal enak kan ya makan mie dengan nasi plus telor ceplok :)))

Bagaimana rasanya tidak mengkonsumsi nasi putih? saya merasa enak di badan. Lebih segar dan tidak gampang mengantuk. Perut rasanya lebih enak dan tidak gampang lemas. Karena usia saya yang sudah diatas 35 tahun, mulai menjaga asupan makanan salah satunya menjaga seberapa banyak karbohidrat yang masuk dalam tubuh, untuk saya sangat penting. Buat kondisi tubuh saya, jumlah karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh tidak teralu banyak. Saya lebih fokus pada memperbanyak protein dimana sumber protein ini lebih banyak saya dapatkan dari protein nabati dibandingkan protein hewani karena saya batasi mengkonsumsi ikan maksimal 3 kali seminggu (untuk saat ini). Dan memvariasikan karbohidrat ini terasa manfaatnya saat jalan-jalan, tidak kebingungan cari nasi putih. Makan apa saja hayuk aja, tidak tergantung dengan nasi putih. Bisa merasakan makanan lokal yang masih bisa saya makan. Selain itu, dilihat dari segi kesehatan, nasi putih kandungan gulanya tinggi.

MENGURANGI GARAM

Nah, PR yang selama ini susah sekali rasanya dijalankan adalah mengurangi penggunaan garam dalam masakan.Teman-teman yang kenal saya secara dekat pasti tahu bagaimana tergantungnya saya dengan garam. Bersyukurnya sejak beberapa bulan ini niat untuk mengurangi garam sudah saya lakukan secara rutin. Bahkan sudah dua minggu ini saya memasak tanpa garam sama sekali. Sebelum suami mengenal saya, dia kalau masak tanpa menggunakan garam. Makanya dulu sewaktu awal saya datang ke Belanda dan mau memasak, saya panik karena tidak tersedia garam di rumah. Dulu saya berpikir, mustahil nih kalau hidup tanpa garam. Ternyata ketika secara perlahan dan secara sadar ingin menguranginya, ternyata bisa. Rasa masakannya bagaimana? ya baik-baik saja, tetap enak dikonsumsi. Misalkan memasak sayur sop. Rasa kuahnya saya dapatkan dari wortel (rasa manis), aroma seledri, rasa kentang dan buncis, merica dan bawang putih. Saya tidak menggunakan pengganti garam sama sekali. Biasanya saya mencari ide memasak tanpa garam ini dari youtube. Terlalu banyak garam tidak baik untuk ginjal (sekarang bisa ngomong gini, kemana aja dulu Mbak :D). Tapi kondisi ini bisa saya terapkan kalau saya sedang di rumah dan bisa mengontrol yang saya masak. Kalau lagi ada undangan makan atau sedang makan di luar sama suami, ya kan tidak mungkin makan makanan yang tanpa garam kecuali makannya di restoran khusus. Atau ketika liburan, kan sama saja cari perkara kalau harus cari makanan yang tanpa mengandung garam, kecuali bawa bekal sendiri. Liburan saatnya makan makanan lokal.

Sup labu tanpa garam karena rasanya sudah terwakili dari labu, jahe, merica, bawang putih, jeruk nipis dan bawang bombay. Seger.
Sup labu tanpa garam karena rasanya sudah terwakili dari labu, jahe, merica, bawang putih, jeruk nipis dan bawang bombay. Seger.
Sop sayuran tanpa garam. Bumbunya seperti membuat sop biasa kecuali garam dan kaldu ayam.
Sop sayuran tanpa garam. Bumbunya seperti membuat sop biasa kecuali garam dan kaldu ayam.

MENGURANGI PENGGUNAAN MINYAK GORENG

Saat ini, memang saya ingin mengurangi goreng-gorengan. Lebih kepada saya males menggoreng karena males membersihkan cipratan minyaknya yang kemana-mana. Alasannya cetek sekali ya haha! Tapi ternyata mengurangi gorengan bagus lho untuk tubuh saya. Minyak goreng 1L yang saya beli selama 4 bulan ini masih ada. Kalau tidak menggoreng lalu bagaimana? Saya masukkan ke oven. Lebih praktis dan saya bisa mengerjakan hal-hal lain. Saya sudah jarang tumis menumis. Sayur dan lauk untuk makan siang suami saya masukkan ke oven dan saya lebih memilih makan siang dengan sayur rebus. Sedangkan makan malam kami adalah sayuran mentah. Terdengar membosankan? sesungguhnya tidak, karena kami sangat menikmatinya. Kami lebih bisa berkreasi memadupadankan sayuran. Sekarang kalaupun ingin menggoreng, saya lebih memilih menggunakan minyak kelapa. Selain itu setiap hari saya juga meminum minyak kelapa sebanyak satu sendok. Tubuh saya sedang membutuhkan asupan minyak kelapa.

Sop kepiting jagung, asparagus, kacang hitam, wortel, batang seledri, bawang bombay. Bumbunya bawang putih, merica, tanpa garam, dikentalkan pakai maizena. Tinggal cemplung2 tanpa digongso. Rasa kuahnya dapat dari rasa sayurannya.
Sop kepiting jagung, asparagus, kacang hitam, wortel, batang seledri, bawang bombay. Bumbunya bawang putih, merica, tanpa garam, dikentalkan pakai maizena. Tinggal cemplung2 tanpa digongso. Rasa kuahnya dapat dari rasa sayurannya.
Kale direndem air panas (bukan direbus. Direndem sekitar 2 menit saja), tempe di oven, sambel trasi mentah tanpa garam soalnya terasinya sudah asin dimakan pakai nasi campur biji2an
Kale direndem air panas (bukan direbus. Direndem sekitar 2 menit saja), tempe di oven, sambel trasi mentah tanpa garam soalnya terasinya sudah asin dimakan pakai nasi campur biji2an

BAGAIMANA DENGAN GULA?

Beruntungnya saya memang tidak suka rasa manis. Jadi saya tidak terlalu suka baking ataupun membeli kue dan camilan manis. Jadi kalau untuk gula, memang tidak perlu dikurangi karena memang tidak terlalu banyak makan yang mengandung gula kecuali asupan gula yang saya dapat selama ini langsung dari buah yang saya konsumsi ketika sarapan.

MENGURANGI APA LAGI?

  • Sambal

Dalam dua minggu ini saya juga sedang mengurangi makan sambal. Selain dulu tergantung dengan garam, saya juga rasanya tidak bisa makan dengan sambal. Saat selama di Prancis, saya tetap hidup walaupun tidak makan dengan sambal. Dan memang ada kondisi yang tidak memungkinkan saya makan sambal saat ini. Hitung-hitung sambil membersihkan badan.

  • Mengurangi Olahraga Berat

Sejak awal bulan ini saya mulai mengalihkan jenis olahraga yang saya tekuni selama ini yaitu : lari, freelactic dan gym menjadi ke Yoga (ikut kelas 2 kali seminggu dan meditasi serta yoga sendiri di rumah) dan jalan kaki selama 1-2 jam setiap sore. Tentang pengkategorian olahraga berat ini hanya opini pribadi saya saja ya. Bukan berarti Yoga adalah olahraga ringan, tidak sama sekali. Justru saat-saat awal seperti ini saya belajar yoga, berat juga rasanya karena butuh konsentrasi dan sabar. Biasanya gerakan yang saya lakukan untuk olahraga kan cepat, sekarang saya memilih kelas yoga yang santai tetapi tetap menggerakkan seluruh anggota badan. Kata suami, saya pensiun dini berlari sebelum mencicipi Half Marathon :))) Ya nanti kalau kondisinya sudah memungkinkan, saya pasti akan kembali lagi berlari. Bersepeda tetap saya lakukan sehari-hari apalagi kalau ada jadwal kerja saya bersepeda PP 23km. Yang penting badan konsisten bergerak setiap hari.

  • Mengurangi Makan Mie Instan

Duh, godaan makan mie instan itu susah sekali untuk dihindarkan. Rasanya ingin setiap malam makan mie instant dengan merek yang sudah melegenda di hati :))). Tapi selama dua bulan ini saya sudah bisa mengendalikan hasrat untuk nge-mie. Kalau sedang niat bersih-bersih badan, langsung total saja. Kalau setengah-setengah nanti tergoda kembali ke titik awal. Apakah saya tidak mau makan mie instan seterusnya? Ya tidak lah. Lidah juga pasti kangen incip-incip mie goreng, tapi tidak sekarang. Nanti tunggu waktu yang tepat. Mumpung lagi niat ini, jadi ditahan-tahan saja meskipun kangen juga :D.

Kangen sih makan mie jamur bikinan sendiri seperti ini yang dimakan pakai kuah anget sama pangsit isinya sayuran
Kangen sih makan mie jamur bikinan sendiri seperti ini yang dimakan pakai kuah anget sama pangsit isinya sayuran
Kangen juga makan soto pakai sambel super pedas
Kangen juga makan soto pakai sambel super pedas
  • Mengurangi Berpikir Terlalu Berat

Apa yang kita pikirkan dan yang ada dalam pikiran kita juga akan berpengaruh terhadap kesehatan badan. Jadi sesuai ambisi saya di tahun ini yaitu hidup secara sederhana, maka saya perlu juga menyederhanakan yang ada di pikiran, menyederhanakan apa yang ada di hati dan mulai melakukan banyak hal baru, belajar banyak ilmu baru, melakukan tantangan-tantangan baru yang bisa membuat hati dan pikiran saya senang. Saya mulai fokus pada diri sendiri. Mengikuti kata hati ingin melakukan apa dan selalu bertanya ke diri sendiri apakah saya bahagia ketika melakukan itu. Saya sekarang lebih ingin menjadi diri sendiri bukan menjadi apa yang orang lain lihat. Mulai memperbanyak membaca buku supaya perbendaharaan kata semakin banyak dan wawasan semakin luas. Memperbanyak belajar Agama. Belajar keterampilan baru misalnya menggambar atau merajut atau bermain piano.

MENGAPA HARUS MELAKUKAN ITU SEMUA?

Saat menyadari bahwa bilangan angka usia sudah beranjak menjadi banyak, disaat itulah saya juga mulai sadar bahwa waktu untuk hidup di dunia semakin berkurang. Selama ini saya selalu “menyiksa” badan dengan makanan-makanan yang memberatkan kerja pencernaan dan tidak memikirkan akibatnya di masa depan. Saya telah mengikuti pola makan Food Combining lebih dari 8 tahun dan sudah cocok dengan badan saya, yang salah satu hasilnya saya tidak ingat kapan terakhir kali flu. Padahal dulu rasanya setiap bulan selalu saja flu. Sejak ber FC diimbangi dengan olahraga, bersyukurnya flu tidak pernah bertamu lagi bahkan di saat musim dingin yang aduhai semriwing hawanya tidak menentu. Inginnya, kalau diberikan kesempatan untuk lama tinggal di dunia, saya ingin hidup lama dengan sehat. Nah, kalau tidak dimulai dari sekarang, lalu kapan lagi. Sekarang saya mengubah cara berpikir dari yang dulunya saya berpikir tidak bisa bahkan mustahil bisa dilakukan, ternyata setelah dijalani secara perlahan, bisa kok mengubah pola makan menjadi lebih sehat. Hanya tergantung niat dan cara kita berpikir.

Mendengarkan kebutuhan tubuh dan mengurangi menyenangkan keinginan lidah. Mungkin seperti itu tepatnya yang saya lakukan sekarang. Lha kan hidup di dunia cuma sekali, ngapain musti menyiksa diri dengan makan-makanan yang tidak ada rasanya. Mungkin ada yang berpikir seperti itu. Saya tetap memanjakan lidah dengan rasa makanan yang luar biasa enaknya. Tapi sekarang porsinya saya kurangi. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya cheating kalau akhir pekan saja. Hari biasa, saya taat aturan. Hidup memang cuma sekali di dunia, karenanya saya ingin memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tubuh ini kan juga titipan, jadi saya juga ingin merawat sebaik mungkin apa yang sudah dititipkan sehingga kalau saatnya diambil pemiliknya, tubuh ini kembali dalam keadaan yang terawat.

Semua hanyalah tentang bagaimana kita melatih apa yang ada di pikiran kita. Bisa atau tidaknya memang tergantung niat dan kesadaran diri sendiri untuk berubah ke arah lebih baik. Dengarkan kebutuhan tubuh karena kondisi masing-masing orang berbeda. Apa yang saya tuliskan di sini adalah sesuai dengan kondisi saya saat ini dan yang saya inginkan kedepannya. Dan tujuan saya melakukan ini semua adalah hidup sehat. Berat badan itu hanyalah bonus meskipun tidak memungkiri ketika konsisten menerapkan pola makan yang seimbang diiringi dengan olahraga yang rutin akan membuat badan mencari berat idealnya sendiri. Tidur lebih nyenyak dan bangun tidur dengan suasana hati lebih nyaman. Buat saya, tidak ada yang namanya instan di dunia ini. Bahkan mie instan pun butuh waktu untuk memasaknya apalagi tentang kesehatan. Semua dimulai dari pola hidup. Kalau ingin hidup sehat tapi asupan makanan yang masuk ke tubuh tidak dipikirkan dan juga tidak berolahraga, ya jangan harap kedepannya akan sesuai dengan yang diinginkan. Begitupun dengan melakukan cara-cara instan seperti mengkonsumsi pil atau diet mati-matian, maka kasihan ke tubuh juga akan kaget dan kalau diet tidak sehatnya berhenti di tengah jalan, nanti hasil yang diinginkan juga tidak sesuai. Yang lebih penting adalah kerjakan secara pelan-pelan tapi konsisten, mendengarkan kebutuhan tubuh seperti apa karena kondisi masing-masing orang berbeda. Jangan hanya karena ingin seperti si A terus mengikuti apa yang orang lain kerjakan. Menjadi inspirasi boleh saja, tetapi kembali lagi, sesuaikan dengan kondisi tubuh kita. Saya juga mencari referensi tentang makanan sehat dan olahraga dari banyak membaca dan mempelajari pengalaman orang lain.

Intinya saya ingin hidup yang seimbang. Kalau ingin makan yang bersantan dan asin dan pedes, ya saya makan tapi setelahnya saya akan hajar dengan makanan yang lebih sehat. Lalu saya imbangi dengan olahraga, minum air putih sesuai kebutuhan badan dan berpikir positif. Tidak lupa juga banyak tersenyum, karena tersenyum membuat hati saya gembira 🙂

Semoga saya juga konsisten menjalankan apa yang sudah saya lakukan selama ini dan saya juga tidak berhenti belajar untuk mengenali anggota tubuh dan kebutuhan tubuh supaya kedepannya makin lebih sehat lagi.

Sesekali makan yang bersantan juga tidak apa-apa. Gule daun kale cumi tahu dimakan pakai lontong dan sate lilit
Sesekali makan yang bersantan juga tidak apa-apa. Gule daun kale cumi tahu dimakan pakai lontong dan sate lilit

Kalau kalian, rencana dalam bidang kesehatan di tahun 2017 ini seperti apa? Saya sedang senang belajar tentang kesehatan yang berawal dari hal-hal simpel seperti makanan dan kehidupan sehari-hari. Jadi, saya akan senang membaca cerita kalian.

-Nootdorp, 26 Januari 2017-

52 thoughts on “Mengurangi Konsumsi Nasi Putih, Garam, dan Penggunaan Minyak Goreng Untuk Hidup Lebih Sehat

  1. Hidup sehat memang butuh niat yg kuat serta keadaan yg mendukung, misalnya saya waktu tinggal di italy semua bisa di hindari (dibaca: makanan indonesia yg berlemak dan bersantan), karena ya gak ada, klo mau harus bikin sendiri. Tapi sejak pindah ke indonesia lagi semuanya jadi lebih mudah didapat, apa2 tinggal beli maka hancur sudah gaya hidup sehat yg diterapkan selama di italy, hehe

    1. Iya bener Adhya, lingkungan juga mendukung. Tapi berdasarkan pengalamanku, memang niat itu butuh yang kuat banget, kita bisa menghindari kalau memang sudah niat. Karena aku mulai Food Combining kan sejak kerja di Jakarta dimana kerjaanku dulu itu godaan makan enaknya tinggi banget apalagi aku sering ditugaskan ke daerah2 dan pastinya diajak makan sama orang lokal. Tapi aku tetep kekeuh pegang prinsip2 FC di hari kerja, nah kalau weekend bisa cheating tapi karena sudh terbiasa makan terkontrol, cheating pun bukan yang ugal2an, masih yg terkontrol. Jadi memang semuanya akan balik ke diri sendiri mau milih pola hidup yang bagaimana.

    1. kurang kurangin Yu makannya ben sehat hihihi aku kudu mbalesi komen piye iki. Tapi karena awakmu mangane akeh akhire menghasilkan foto2 ciamik sing menghibur pembaca, pahala pisan iku Yu *komenku mbulet haha.

  2. Deeeeen, keren ih sehat bgt itu pola makannya. Aku msh blom total sih, semuanya serba dikurangi tentu saja (makan nasi, goreng2an, etc), kalo olahraga bbrp bulan ini memang cuma fokus di yoga. mudah2an kita sehat2 selalu ya, Aamiin

    1. Aku juga belum kuat iman untuk total banget Rin, jalani yang aku bisa saja yang penting seimbang dan mendengarkan kebutuhan badan. Semangat Rin untuk selalu hidup sehat! Amiinnn

  3. yang blm pernah aku coba masak tanpa garam, aku akuin taste ke asinan kami udah sangat rendah sekali artinya, kl makan di restoran atau tempat org lain sering merasa makanan mereka terlalu asin untuk lidahku, terutama utk masakan eropa yg minim bumbu hehe cuma lada dan garam aja,, untuk masakan yg syarat bumbu dan aroma bisa aku bayangin bhw garam sudah ngga terlalu mutlak lagi, kalo nasi dan mie instant memang ngga masalah utk dikurangin sama sekali karena untungnya dari dulu aku ngga hrs mkn nasi tiap hari, dan kebiasaan makan 1 kali warm disini menurut ku sangat bagus, dibanding sewaktu di indonesia 3x makan nasi beserta lauk pauknya, hehe

    1. Iya bener Mbak, sejak mengurangi penggunaan garam, aku ngerasa waktu makan mie di warug mie kok berasa asin banget mie racikan mereka padahal aku sudah minta ga pakai kecap asin. Berarti kadar asinku juga sudah mulai berkurang haha. Nah, memvariasikan karbohidrat ini juga aku culik ilmu dari Mbak Dian sewaktu sharing di grup. Semangat untuk kita Mbak selalu menjaga kesehatan!

  4. Deny, thank you ya selipan resepnya! Aku masih bertahan alhamdulillah seminggu 3x no salt and nasi putih.. btw beneran lho Den, resep2mu menggugah hatiiii :9. Aku nggak bisa makan asparagus kalo gak di masak, biasanya kupanggang diatas pan kasih sedikit canola spray huhu. Terus satu lagi, sambelllll.. omg hahahaha. Aku masih masak sambel konvensional bgt. Terus kalo udah kena sambel makan nasinya lebay lagi deh *tutup muka*. Semangat ya, Den!

    Thanks for sharing

    1. Sama2 Dila. Ayokk nulis yg versimu
      Ini asparagus yg masih muda Dil. Rasanya enak seger krenyes2 meskipun ga dipanggang. Kayak makan timun gitu, seger. Hahaha sambel kan sohiban sama nasi putih ngepul ya, mana bisa terpisah ini sudah sebulan lho aku ga makan sambel, dan aku survive! suami sampe bingung ini istrinya kesambet apa tiba2 bilang “ok, aku mau coba ga makan sambel sama sekali”

  5. Aku juga mau ngurangi nasi, dan mie..susaaah..apalagi kalau liat youtube trus ada postingan makanan..huaaa jadi kepengan..apalagi postingan mie 😀

    Makan sop kepiting sama asparagus enak kah Den? Aku suka banget asparagus …

    1. Iyaaa, godaan terbesar itu kalau nonton youtube isinya kulineran nusantara, duhh ga kuat iman haha. Kebayang enak banget kalau makan mie goreng pakai nasi plus telor ceplok :)))

      Asparagusnya mentah soalnya masih baby. Enak Dew, seger krenyes2.

  6. Aku sama dengan Mariska, everything in moderation is ok. Aku selalu ga perna berhasil utk diet, bukannya kurus, malah jadi sakit (maag dan diare) dan cranky. So, aku berenti diet. Aku masih makan nasi, tapi potsinya aku kurangin. Dan kalau siang aku uda makan nasi or carbo lainnya, dinner aku ga makan nasi/carbo lagi. Terus, kalo week end aku makan apa aza yg aku suka.

    Menurut aku, as long as we keep fit dengan olah raga, dan makan makanan yg sehat dan bergizi, once a while it’s okay to be naughty And, I love food!

    1. Sama Ria! Aku kalau weekend juga waktunya makan bebasss. Tapi sebebas2nya masih pilih pilih hahaha. I Love Food too! Makanya agak berat ngurangin garam. Tapi mengingat kegilaanku sama garam yg ga wajar dan demi kesehatan masa depan, makanya niat mengurangi, bukan meniadakan.
      Semangat hidup sehat!

        1. Intinya kalau berlebihan ga bagus Ria, termasuk sea salt. Aku kan suka ga normal kalo make garam haha. Di rumah pakai sea salt sama himalayan salt. Sudah sebulan lebih nih minim penggunaan garam dan aku ga cranky. Ternyata kalau dijalani biasa aja ya. Dulu ketakutan dan mikirnya ga bisa nih kalau makan ga asin. Ternyata ya bisa kalau niat. yang penting ga maksa badan. Kalau memang ingin makan yg asin ya makan, cuma memang dibatasi aja.

  7. Dulu, saya pernah nih extreme bgt untuk diet, langsung setiap hari hanya makan sayuran, dan kentang. Tanpa makan nasi, terus sepulang kerja sampai jam 1 malam itu saya workout, alhasil berat badan turun 12kg selama 2 minggu. tapi sebagai bayarannya saya terkena radang usus -_-“. jadi saran saya kalau mau diet bertahap aja dulu dan jangan lupa asupan yang seimbang.

    1. Iya betul, kalau diet ekstrim memang hasilnya tidak bagus karena tubuh bisa kaget. Menurut saya sebenarnya yang baik itu adalah menerapkan pola hidup sehat yang seimbang dan dilakukan secara bertahab dan konsisten

  8. Den…, aku keterusan cheating …, bener jadi gampang capek, lutut pun mulai sakit..
    kalau nemu ikan bakar kok rugi rasanya nggak pakai nasi sama sambel , hadeeeh..
    mau mulai tertib lagi deh..
    Deny aja yang jauh lebih muda bisa tertib FC, aku nggak mau kalah ah

    1. Ihhh bener banget Mbaakkk. Mana enak ya makan ikan bakar ga pakai nasi ngepul dan pulen plus sambel trus makan pakai oseng kangkung haha. Sesekali masih bisa lah Mbak, tinggal diatur saja. Semangat Mbak Monda!

  9. Sejak ga tinggal di tanah air aku sdh ga makan nasi tiap hari, gantinya jadi menu olahan kentang dan mie. Gula sdh bbrp tahun terakhir ganti pakai madu misal klo bikin kopi atau teh. Klo goreng2 nyebelin banget Den kotor deh dapur minyak nyiprat kemana-mana, bakalan berat bersihkan dinding dapur klo kita pindahan hehe. Klo males goreng2 ya spt kamu kumasukin ke oven aja daging sapi atau ayamnya, trus biar rasanya enak kasih lada, potongan aneka bawang dan kecap, malah lebih enak gitu buatku sih, irit pengeluaran beli minyak juga.

    1. Dulu di Indonesia kok ga kepikiran ya kalau goreng2 itu nyebelin haha. Begitu sudah punya dapur sendiri, duhh males banget lihat cipratan minyaknya. Iya bener Nel, jadi irit banget pegeluaran beli minyak haha.

  10. Wah nasi dan mie tu memang susah yah dikurangi, apalagi saat musim dingin. Nasi yang berkepul dengan sedikit nori, atau telur tuh berasa nyaman sekali. Sebenernya sih bisa banget nggak makan nasi, tapi akhir akhir ini ntah kenapa susah. Coba lagi deh… thanks for the reminder yah Den.

    1. Bener Ndine, mie itu susah banget. Apalagi di Den Haag ini ada warung mie yang enaakk banget. Jadi nahan2 deh beli, lumayan irit juga jadinya haha. Ansi ngepul, pakai telur ceplok plus kecap, duh surga ini :)))
      Sama2 Ndine, semoga konsisten buat kita untuk selalu hidup sehat.

  11. Bener banget, ngurangin makan nasi bisa bikin badan lebih enteng. Dulu sebelum hamil anak kedua, aku nggak makan nasi selama 1 tahun tapi masih makan mie dan kentang… Begitu hamil dan melahirkan pola makan kembali makan nasi sampai sekarang.. Duh belum mulai lagi nih makan sehat. Gorengan bisalah diskip ganti rebusan.

    Kalau gula masih belum bisa ninggalin eui, secara lidah Jawa sukanya yang manis2. So far mulai diganti madu untuk minuman, tapi kalau masakan tetep judulnya harus manis.. and bcoz i love dessert soooo much….

    1. Waahhh kereenn Shinta bisa ga makan nasi selama 1 tahun. Aku masih timbul tenggelam untuk yang nasi putih. Apalagi kalau pengen makan ikan pakai sambel haha.
      Aku juga jawa tulen, tapi karena tumbuh di lingkungan Madura, akhirnya lebih suka asin daripada manis. Semangat hidup sehat Shin!

      1. Naaah kalau makan lauk pake sambel emang godaan buat nambah nasi panas kimpul2… aku ngakalinnya dibanyakin lalapan timun, daun slada sama tempe (bacem) Dicocol makan tambah lagi cocol makan tambah lagi. Gitu terus sampe kenyang. Lupa deh sm nasinya hahahaha….

        1. Iyaa sama Shinta, aku juga akhirnya ngakalinnya gitu. Taruh aja sayuran yang banyak. Ntar juga kenyang haha. Cuma pas awal2 makan mikirnya “ini enak nih kalau pakai nasi putih anget” haha

  12. Aku masak nasi kadang sebulan sekali klo nggak dua kali. Bukan ingin mengurangin, tapi emang males. Lebih gampang masak pake kentang atau pasta, karena aku orangnya pemalas banget ya. Macam sop2an gitu aku selalu makan tanpa nasi. Mi instan itu juga jarang sebetulnya, kadang kalau pas kepengen banget baru bikin, tapi soal mie, mending kamu bikin sendiri, kan ga terlalu susah? Tinggal beli pasta machine aja 🙂 Yang jelas pasti lebih sehat daripada beli mi instan.

    1. Iya, sudah lama terpikir untuk bikin mie sendiri. tapi masih ngumpulin niat (dan duit buat beli alatnya :))) Harus segera dibulatkan niat ini biar bisa makan mie dengan sehat

    1. Seperti yang aku tulis diatas Ulfa bahwa kalau kita menerapkan pola hidup sehat yang seimbang dan olahraga, badan akan mencari berat idealnya. Aku ga bisa kasih jawaban kalau ga makan nasi apakah bisa gemuk karena beratku stabil2 di 50kg. Jadi kalau kamu sudah menjalankan hidup sehat dan olahraga dan kamu beratnya segitu, mungkin itu adalah berat idealmu

  13. Mba Deny, total udah 8 tahun food combining lama juga ya. Kalo aku rencana kesehatan tahun ini pengen juga coba ga makan nasi, kalo sehari atau dua hari aku bisa tahan, tapi hari ketiga biasanya makan nasi lagi hehe.. Lalu, paling ga bisa nolak nasi kalo temennya itu sambel 😀 Nasi sama sambel tuh maknyus banget rasanya.

    1. Iya Ji, dulu mulainya pas awal2 di Jkt. Kebanyakan makan enak kalau pas visit ke daerah. Trus mikir bahaya juga nih kalau diterusin. Akhirnya belajar FC, aku terapin dan cocok. Keterusan sampai sekarang. Hahaha beneerrr Ji. Sambel kan pasangannya nasi putih ngepul ya trus makan deh pakai lalapan dan ikan. Wisshhh lupa noleh kiri kanan haha! Makanya aku juga sudah diet sambel nih. Udah sebulan ga makan sambel. Suamiku sampai heran. Dipikir aku kesurupan haha karena biasanya ga pernah ga makan tanpa sambel. Semangat hidup sehat Ji!

  14. Bagus postingannya Den! Jujur aja masalah menjaga pola makan tuh beraaaaat banget buat aku. Jadi aku mencoba menyesuaikan dengan gaya hidup aku sendiri — everything in moderation. Iya aku makan KFC. Tapi nggak tiap hari. Sebulan sekali kek gitu. Nasi putih makan, tapi porsinya di piring lebih sedikit dari porsi sayurannya (dan karboku gak selalu harus nasi, bisa ubi atau kentang yang dioven, pasta, nasi merah, roti, atau roti pita misalnya), mencoba mengurangi minyak juga jadi kalau makan di rumah nggak pernah goreng-goreng hanya tumis saja. Ngurangin garam nih yang susah. Konon kalau pernah kerja jadi chef pasti kena urusan kebanyakan garam ini, hahaha. Aku pernah tahun kemarin ke ahli gizi, terus buanyak banget pantangannya terus akunya jadi bener-bener nggak menikmati hidup. Jadinya ya aku balik makan nggak pantang tapi dengan pola dan porsi yang lebih seimbang. Rasanya memang lebih nggak cepet capek! Untung aku gak doyan gula dan makanan manis jadi kurangin PR deh nggak usah ngurusin ngurangin itu 🙂
    Katanya orang yang punya penyakit PCOS seperti aku (sejenis penyakit hormon kandungan) harus makan Low-GI diet. Ini saran temenku yang ahli gizi. Sebisa mungkin aku coba terapkan, walau belum 100%, karena belum ada program anak (kalau mau program harus ketat katanya).
    Tahun 2017 ini goal-ku sederhana saja. Aku mau live by the moment, lebih menikmati hidup, nggak banyak berpikiran negatif atau takut hal-hal ke depan.
    Komenku jadi panjang nih Den! Salam ya dari Auckland 🙂

      1. Teria kasih Mar. Resepnya kayak gule biasa : bamer baput, merica, lengkuas, kunyit, garam, cabe, ketumbar, jintan sedikit kalau ada), jahe. Bumbu2 itu dihaluskan trus ditumis bareng sereh, dau salam, dan daun jeruk. Kalau sudah harum masukkan santan (kekentalan disesuaikan selera), lalu masukkan daun kalenya (di sini ada yg sudah dipotong kecil2 jadi tinggal masukkan saja). Koreksi rasa, lalu sajikan. Kalau mau ditambahi teri goreng juga bisa. Yang difoto ini, aku tambahi cumi asin. Selamat masak Mar!

    1. Mar aku pernah baca buku judulnya The Infertility Diet. Bagus deh buku ini, ga hanya bahas tentang makanan untuk mengurangi infertility, tapi membahas dan mengupas dasar2 tentang makanan itu sendiri. Tentang karbohidrat yang baik itu yang bagaimana, tentang protein yang baik itu seperti apa, tentag lemak yang harus dikonsumsi itu apa dll. Banyak banget ilmu baru tentang makanan yang selama ini aku ga tau. termasuk tentang PCOS juga di bahas di sini. Jadi aku akhirnya sedikit banyak tahu tentang PCOS ya dari buku ini dan jadi tahu makanan apa yang baik untuk yang punya PCOS. Aku “tergugah” pikiran untuk memperbaiki makan salah satunya karena buku ini, lebih karena mikir jangka panjangnya supaya tubuh dirawat.

      1. Makasih banyak Den infonya — nanti aku cari ah bukunya, berguna banget! Ngomong2 Den lagi nggak boleh makan pedes sama olahraga berat apa sedang sakit? Kalo iya cepet pulihnya ya! Tahun lalu aku kan sempat sakit lumayan berat juga, jadi asupan makanan harus hati-hati kalau nggak langsung mual2 gitu, sekarang masih lumayan makanya makanku usaha dijaga. Garam nih PR yg berat banget.

          1. Oh Maaf salah judul haha. Judulnya The Fertility Diet karangan Jorge E. Chavarro, MD dan Walter C. Willett, MD. Sampulnya ada gambar kayak kacang polong.

  15. Diakhir tahun aku sudah belajar menghilangkan kebiasaan minum kopi dan ini sudah mau masuk 3 bulan sudah berhenti minum kopi. Kalau nasi juga sudah ngurangin banyak bangat. Sekarang yang masih pr itu gula dan makanan manis. Hiksss…

    1. Waahh, untuk penggemar kopi,pasti susah ya Lin ngurangi kopi. Kebayang perjuangannya. Semangaatt! Pelan2 aja ngurangi makanan manis.

  16. Saya 40 th, konsisten lari dan sudah lari half marathon dengan waktu 2 jam 18 menit.

    Olahraga angkat beban circuit training untuk bangun otot.Kalo jadwal olahraga saya lari seminggu 2-4 kali, jarak jauh kalo weekend, satu kali intervals, dan jarak pendek.
    Usia bukan halangan untuk tetap aktif, justru sekarang ngerasa lebih kuat dibanding saat usia 20 th. Kalo sekarang beli beras 20 kg diangkat sendiri tanpa masalah.

    Kalo makanan tidak ada diet khusus, hanya seimbang. Bb tidak permasalahkan karena aku lumayan berotot. Ukuran baju malah jadi lebih kecil. Fit, toned and strong is the new sexy

  17. Aku memang sudah kurangi nasi Den. Lumayan turun 5 kg. Awalnya memang mau nurunin berat badan yang makin mengerikan bobotnya. Kalau yang manis, entah mengapa aku semakin hari makin ga kuat, otomatis aja gt terjadi. Aku lagi usahakan makan makanan berserat banyak ini. Kmrn baru cek ke dokter. Dokter uda ultimatum harus makan serat tinggi. Dan jalan kaki juga jarus dibiasakan teratur kata si dokter. Semoga sehat sehat terus ya kita. Amin

    1. Waah kece, 5kg! Jalan kaki memang paling gampang Helena untuk dilakukan. Meskipun udara dingin, selama ga hujan, aku selalu paksakan untuk jalan kaki minimal satu jam. Dan efeknya selain ke tubuh juga segar, ke pikiran juga lebih rileks. Gara2 sebulanan ini pindah dari lari ke jalan kaki, aku punya kenalan oma opa yang sering ketemu di danau atau hutan kalau papasan pas jalan kaki. Nah, oma opa aja badannya bergerak terus, masa yg muda2 males, kan malu akunya hehe. Semangat hidup sehat buat kita Helena!

Thank you for your comment(s)