Gelar Akademis di Undangan Pernikahan

Minggu lalu, tanpa angin tanpa hujan, tiba-tiba saya menanyakan di grup wa yang isinya teman-teman dekat perihal apakah mereka akan mencantumkan gelar akademis di undangan pernikahan. Setelahnya kami terlibat diskusi yang malah berujung saya teringat dengan pengalaman tidak mengenakkan di masa lalu menyangkut gelar akademis ini. Pengalaman tidak mengenakkan disingkirkan dulu karena sudah menjadi masa lalu karena yang menarik perhatian saya tentang pencantuman gelar akademis di undangan pernikahan. Saya dan suami tidak mencantumkan gelar di undangan pernikahan, terus terang saya lupa alasannya apa. Yang pasti jauh sebelum menikah saya memang punya angan-angan tidak akan mencantumkan gelar akademis pada undangan. Tidak ada alasan khusus hanya memang tidak ingin saja. Bersyukurnya memang Ibu tidak ikut campur banyak pada konsep perkawinan kami termasuk undangan dari segi desain, kata-kata, bahkan sampai pada pencantuman gelar. Semua diserahkan pada kami.

Tidak adanya intervensi dari Ibu masalah undangan pernikahan ini juga terlihat pada undangan pernikahan adik yang menikah setahun sebelum saya. Adik dan suaminya mencantumkan gelar akademis pada undangan pernikahan mereka, saya juga tidak tahu pasti alasannya kenapa. Mencantumkan atau tidak mencantumkan pasti punya alasan masing-masing, tidak ada yang salah dan ini tentang selera. Ibu dan keluarga saya juga tidak pernah mempermasalahkan dan mudah-mudahan tidak ada rasan-rasan di luar sana.

Undangan pernikahan saya dan suami cukup sederhana kalau dilihat dari desainnya. Saya meminta tolong adik teman yang sudah saya kenal baik dan lulusan dari desain produk untuk membuat desain undangan. Awalnya tentu saja saya mencari ide undangan di internet. Ingin ini dan itu, pokoknya banyak inginnya lama-lama pusing sendiri. Waktu itu saya juga tidak punya waktu banyak untuk berpikir terlalu njlimet karena saya sudah kena tegur dosen pembimbing gara-gara telat mengerjakan revisi tesis. Suami membuat desain awal undangan. Kami bertukar ide lewat email juga whatsapp. Maklum ya waktu itu belum ada telefon gratisan di wa dan juga kami tidak suka skype-an, jadi ya membicarakan tentang pernikahan lewat wa atau email karena suami menelepon setiap dua minggu sekali. Setelah tahu apa yang kami inginkan, lalu saya menyampaikan gagasan kami kepada kenalan tersebut dan dia merangkumnya dalam desain undangan yang kami revisi beberapa kali sampai hasil final. Kami sangat senang dengan hasil akhirnya yang memang semua idenya dari kami ditambah beberapa masukan dari yang membuat. Jadi sentuhan personalnya ada. Tetapi karena kami hanya memesan sebanyak 110 undangan (kami mengundang hanya 100 orang di Indonesia dan mengirim untuk keluarga dan teman-teman suami sebanyak 10 orang sebagai pemberitahuan), maka biaya produksinya lumayan membengkak karena kalau membuat undangan kan ada jumlah minimalnya sedangkan kami kurang dari jumlah minimal. Kami pikir, ya sudah lah tidak apa-apa, karena memang sudah sepakat dengan keluarga kalau kami mengundang yang dekat saja, jadi 100 undangan sudah cukup.

Jadi undangan pernikahan kami menggunakan dua bahasa yaitu Indonesia dan Inggris tetapi tetap di dalam satu undangan. Bagian luarnya ada amplopnya tetapi tidak menutup secara keseluruhan undangan intinya. Seperti ini penampakannya. Ini foto tahun 2014 ketika saya kirimkan ke suami tentang hasil akhirnya.

Ini tampak depan undangan dan amplopnya. Isi undangannya mecungul sedikit karena memang amplopnya tidak menutup menyeluruh
Ini tampak depan undangan dan amplopnya. Isi undangannya mecungul sedikit karena memang amplopnya tidak menutup menyeluruh. Ada kesalahan tulisan pada “you’re invited” yang akhirnya saya koreksi satu persatu. Untung cuma 110 (masih untung :D)
Tampak belakang sampul undangan menyertakan nama kedua orang tua.
Tampak belakang sampul undangan menyertakan nama kedua orang tua.
Tampak luar depan undangan intinya. Maksudnya menggabungkan dua hal yaitu Jawa dan Belanda. Lho Jawanya darimana? Bentuk yang warna merah itu seperti bentuk yang di wayang-wayang (lupa namanya). Sedangkan bunga tulip ya mewakil Belanda. Kenapa warna merah? Karena saya suka warna merah :D *jawaban simpel
Tampak luar depan undangan intinya. Maksudnya ingin menggabungkan dua hal yaitu Jawa (saya) dan Belanda (suami). Lho Jawanya darimana? Bentuk yang warna merah itu terinspirasi dari bentuk yang di wayang-wayang (lupa namanya). Sedangkan bunga tulip ya mewakil Belanda. Kenapa warna merah? Karena saya suka warna merah 😀 *jawaban simpel. Kata-katanya saya lupa siapa yang membuat, apakah saya ataukah suami.
Ini untuk membuka ke isi undangannya. Maksudnya kayak membuka pagar, yang diumpamakan kami akan memasuki babak baru dalam kehidupan jadi seperti masuk ke dalam kehidupan yang akan kami jalani berdua dengan dibuka oleh pernikahan
Ini untuk membuka ke isi undangannya. Maksudnya kayak membuka pagar, yang diumpamakan kami akan memasuki babak baru dalam kehidupan jadi seperti masuk ke dalam kehidupan yang akan kami jalani berdua dengan dibuka oleh pernikahan.

Isi undangannya tidak saya sertakan ya karena akan banyak hal perlu di tutup dan saya malas mengeditnya *alasan opooo iki :))). Halaman awal undangan berbahasa Indonesia, lalu kalau diangkat kertasnya, ada halaman dibawahnya yang untuk bahasa Inggris. Kalau ada yang bertanya kenapa menyertakan gambar bagian bawah tubuh yang menyorot saya memakai rok dan menggunakan converse dan suami menggunakan converse juga? Karena seperti itulah saat kami pertama bertemu. Saya menggunakan rok dan memakai converse warna merah(meskipun di undangan warnanya tidak merah), sedangkan suami memakai converse warna hitam. Itu ide dan desain awal gambarnya dari suami yang disempurnakan oleh pembuat undangan. Cerita tentang sepatu juga beberapa kali saya sertakan linknya di beberapa tulisan. Sekarang saya sertakan lagi dan bisa dibaca di sini.

Lho kok malah berpanjang lebar pembukaannya pamer undangan kami :))). Kembali lagi ke topik. Jadi, dari hasil ngobrol dengan teman-teman dekat di grup wa yang tentu saja diselingi guyonan receh ala kami, ada beberapa hal kenapa orang mencantumkan atau tidak mencantumkan gelar akademis di undangan pernikahan mereka (kami tentu saja membicarakan tentang undangan pernikahan di Indonesia karena tidak terlalu mengerti tentang undangan pernikahan di luar negeri) :

  • Mencantumkan Gelar Akademis = Kebanggaan

Bisa dipahami karena semakin banyak gelarnya maka orang semakin tahu pendidikannya sampai setinggi apa. Tentu tidak ada yang salah dengan hal ini karena bisa memberi tahu orang lain (undangan) bahwa kedua pasangan ini lulusan dari fakultas apa (kalau misalkan ada yang mikir ini gelarnya dari fakultas apa), lulusan dalam negeri atau luar negeri, dan itu memang memberikan rasa bangga tersendiri. Tidak munafik juga kalau ada yang bertanya saya lulusan apa darimana ya saya beritahu dan saya bangga, bahkan saya pernah menulis postingan di blog ini. Tapi kalau tidak ada yang bertanya ya saya diam saja.

  • Mencantumkan Gelar Akademis Karena Permintaan Orangtua

Meskipun pasangan calon pengantin tidak ingin mencantumkan gelar, tapi karena orangtua menginginkannya, maka demi membahagiakan orangtua mereka memenuhi permintaan dengan mencantumkan gelar akademis pada undangan pernikahan. Atau mungkin dengan mengambil jalan tengah, membuat dua macam undangan yang berbeda. Satu mencantumkan yang undangannya diberikan untuk teman-teman pengantin sedangkan yang menggunakan gelar diberikan kepada teman-teman kedua orangtua. Ingat, pernikahan di Indonesia kebanyakan adalah hajat orangtua juga sehingga orangtua juga mempunyai andil besar untuk menentukan ini dan itu.

  • Mencantumkan Gelar Akademis Tanpa Alasan Tertentu

Ini seperti adik saya, mencantumkan gelar akademis tanpa ada alasan khusus. Mereka melihat lumrahnya undangan pada umumnya, jadi mereka ya ikut mencantumkan juga.

  • Mencantumkan Gelar Akademis Siapa Tahu Membuka Jalan Rejeki

Namanya rejeki tidak ada yang tahu kan datangnya darimana. Siapa tahu dengan mencantumkan gelar akademis maka terbuka juga pintu rejeki yang lebih baik. Jadi misalkan ada teman dari salah satu orangtua begitu mengetahui pengantinnya bergelar misalkan Teknik Mesin, lalu ternyata Beliau sedang membutuhkan lulusan Teknik Mesin di kantornya, nah siapa tahu beliau menawarkan untuk menginterview pengantin yang bergelar Sarjana Teknik untuk bekerja di kantornya dengan gaji lebih besar dan posisi lebih baik dari sebelumnya. Ini permisalan saja ya.

  • Tidak Mencantumkan Gelar Akademis Karena Kedua Mempelai Gelarnya Tidak Satu Tingkat

Ada yang memang seperti ini. Karena calon pengantin gelarnya tidak satu tingkat (misalkan Sarjana dengan Ahli Madya atau Sarjana dengan Master atau lulusan SMA dengan Master, dsb), maka lebih baik tidak mencantumkan saja. Misalkan gelar akademis pengantin wanita lebih tinggi dibandingkan gelar pengantin pria, atau sebaliknya, daripada menjadi bahan pembicaraan diantara para undangan atau tetangga, maka gelar akademis tidak disertakan pada undangan. Kalau kata teman saya, “Masyarakat kita ini kan selo selo hidupnya. Gelar akademis yang tidak sama saja bisa jadi bahan gunjingan.” Atau ada kemungkinan lain misalkan salah satu calon pengantin merasa tidak nyaman karena gelar antara keduanya tidak satu tingkat (atau tidak satu level), jadi diambil jalan tengah tidak usah mencantumkan saja.

  • Tidak Mencantumkan Gelar Akademis Karena Undangan Pernikahan Bukan CV

Kalau ini jawaban suami ketika saya tanya dua hari lalu. Saya bertanya kenapa ya waktu itu kok dia tidak meminta untuk mencantumkan gelar pada undangan pernikahan kami. Dia malah kaget kenapa harus dicantumkan karena undangan pernikahan kan bukan CV (Curriculum Vitae). Dia bilang, “Lho kita kan akan menikah bukan mau melamar pekerjaan. Kenapa harus mencantumkan gelar akademis?” Dan ternyata dia baru tahu kalau di Indonesia mencantumkan gelar akademis di undangan pernikahan itu sudah biasa, maksudnya bukan hal baru lagi. Dia hanya senyum-senyum saja.

  • Tidak Mencantumkan Gelar Akademis Tanpa Alasan Tertentu

Tanpa alasan tertentu ini seperti yang saya lakukan. Karena saya tidak mempunyai alasan yang kuat kenapa saya harus menyertakan gelar akademis pada undangan pernikahan kami, makanya saya tidak menyertakan. Rasanya lebih nyaman mencantumkan nama asli saya dan suami tanpa ada gelar akademis ataupun gelar akademis kedua orangtua atau misalkan gelar haji ataupun hajjah jika ada yang punya.

Tapi kembali lagi ya karena memang ini sudah biasa di Indonesia maka tidak ada yang salah tentang pencantuman ataupun tidak mencantumkan gelar akademis ataupun gelar-gelar lainnya (misalkan gelar di suku Jawa atau gelar suku lainnya). Semuanya sah-sah saja karena kembali lagi sesuai dengan tingkat kepentingan dan selera. Yang memasang gelar tidak akan didenda, yang tidak memasang pun juga tidak akan masuk penjara, begitu kira-kira permisalannya.

Nah, tapi saya tetap penasaran nih ingin bertanya kepada yang membaca tulisan ini. Kalau yang sudah menikah apakah dulu menyertakan gelar akademis (atau gelar lainnya) pada undangan pernikahan dan pertimbangannya apa. Kalau yang belum menikah, sudah mempunyai rencana nanti ingin mencantumkan atau tidak gelar akademis (dan gelar lainnya) pada undangan pernikahan dan kalau boleh tau pertimbangannya apa. Atau kalau yang mempunyai pendapat lain, monggo lho bisa dituliskan pada kolom komentar. Saya sangat tertarik membaca dan mengetahui pendapat kalian.

-Nootdorp, 10 Januari 2017-

82 thoughts on “Gelar Akademis di Undangan Pernikahan

  1. Kami sarjana, tp dulu tdk pakai gelar krn menurut saya kesannya pamer (iya apa iya?) Dan sy berkeyakinan, dulu sy lahir dikasih nama seperti itu sama orang tua. Simple.terimakasih

  2. Aku termasuk yg nggak mencantumkan Den, krn ngerasa ga penting aja sih, toh yg menikah ini dua individu manusia, bukan gelar yg dimilikinya *tsaaaah* hahahaha.

    Btw desain undangan lucu ih

  3. Horeeee akhirnya setelah sekian lama bisa comment lewat HP di blognya Deny yang ngangeni (maklum jarang buka2 dr komputer)! Bagus Den undangannya. Kalau aku pribadi nggak mau mencantumkan gelar akademis di undangan nikah krn buat aku, yang nikah orangnya, bukan gelarnya hehehe

    1. Awww!! Terima kasih Mar. Wah senangnyaa blog ku bisa dikomen dari Hp. Mudah2an ga angot2an ini blog. Aku juga baru buka laptop nih jadi baru bisa bales2in komen dan nulis.
      Bener juga yang kamu bilang Mar *jadi ngebayangin yang nikah gelar :)))

  4. Jujur karena aku bangga ama suamiku, dan aku bisa sekolah sampe selesai, mengingat dulu pas bapak mau pensiun mpot2an bayarin uang kuliah yamg per SKS juga mahal:(( awal2 kan masih dibayarin ortu. Ortu juga maunya gitu kasih gelar, aku nurut juga mengingat perjuangan mereka bayarin kuliah aku, mereka tentunya bangga. Nah kalau gelarku dicantumin, biar gak jomplang suami juga dan gak keberatan juga. Nice topic Deny! btw undangannya lucu! undangan kita juga dulu design sendiri, cetak sendiri wong cuma 50:)

    1. Terima kasih Lu 🙂 Iya masing-masing orang berbeda opini tentang pencantuman gelar ini dan apapun keputusannya memang disesuaikan dengan kondisi masing-masing karena yang menjalaninya yang tahu. Ga ada salah atau yang benar tentang hal ini karena tentang kebiasaan saja dan semakin ke sini memang trennya agak berbeda dengan alasan yang beragam juga. Thanks sharingnya Lulu.

  5. Sebaiknya memang mengikuti apa yang mempelai (dan keluarga) maui ya. Kalau memikirkan omongan di luar sana mah susah. Mau ditulis atau engga sama-sama bisa dipergunjingkan semua, hahaha 😛 .

  6. Pernah punya kerabat yang waktu nikah, gelar ditulis di undangan. Lebih banyak/panjang gelar akademis perempuan daripada laki-laki. Tapi berhubung yang laki udah lama tinggal di LN ya dia cuek aja mbak, nggak ngerasa inferior atau gimana. Toh yang dinikahi kan orangnya bukan gelarnya 😀 Yang penting sama2 berusaha mempertahankan pernikahan sampe maut memisahkan saja.

    Kalo aku sendiri, duh pake gak ya 🙂 Pengennya sih gak pake tp kalo ortu mau pake, ya stralah. Mgkn akan diambil jalan tengahnya spt yg mbak Deny bilang diatas: Untuk teman2ku gausah pake gelar, utk teman2 ortu pake gelar aja. Baru kepikiran juga yg ttg ‘membuka pintu rezeki’

    1. Mau pakai atau nggak sebenarnya ga masalah ya Ge. Yang penting langgeng pernikahannya sampai maut memisahkan. Menyenangkan orangtua juga perlu, bikin kita seneng juga perlu.

  7. Aku dulu nggak nyantumin, Den.. baik mempelai maupun ortu. Alhamdulillah kedua belah pihak ortu setuju.. ya harus dong ah, wong tamunya ortu juga seimbang sama tamu anak2nya *lho*, gojek ya Den hihihi.. cuma aku dulu sempet dirasani tetangga, katanya suaminya D3. Ya nggak masalah sih rapopo, gak perlu klarifikasi juga.. terus ada kerabatku yang kasak kusuk juga karena katanya sudah disekolahin tinggi kok gelarnya nggak dicantumin. Alhamdulillah orang tua kami asik2 ajaaaa..

    Btw undanganmu cakep lho Den ;).

    1. Suwun Dil 🙂
      Dulu dirasani D3, sekarang wes S2 nang Melb, wuiihh piye iku sing ngerasani hahaha. Dibuktikan dengan hal-hal nyata yo Dil.

  8. Hehehe pernah juga sempet ngobrolin ini sama calon dan kami sama sama sepakat nggak usah nyantumin hal yang begitu di undangan, Setuju sama state “karena ini bukan CV”
    hahaha
    Tapi kalau misalnya ada campur orang tua, kita mah bisa apa yah.. Biar mereka seneng aja lah ikut aja.
    Tapi semoga orang tua gak papa kalau gak usah nyantumin gelar akademis.

    Btw undangannya keren karena khas. Sampe ada alasannya kenapa milih design seperti itu, padahal kalau undangan di Indonesia milih design aja yang penting … Terus di isi deh sebagaimana mestinya undangan umumnya.

    1. Terima kasih 🙂 iya kami ingin pernikahan ini jadi spesial bahkan untuk undangan sekalipun karena hampir semua kami yang mempersiapkan sendiri. Ibu ikut mempersiapkan tapi bukan hal yang besar. Bukan waktunya lagi Ibu repot mengurusi pernikahan kami karena Beliau sudah sepuh jadi lebih baik santai saja.
      Iya, jika dirundingkan dan ternyata orangtua ingin, ya diikuti saja. Ga ada salah dan benar tentang pencantuman ini. Menyenangkan hati orangtua juga bikin berkah langkah

  9. Wahh undanganmu kece Den.. Simple dan penuh makna yaaa… Anyway, dulu aku punya temen yang bahkan belum lulus dah married, masih nunggu sidang, tapi dah pake gelar pas married, sampe jadi omongan banget dikalangan temen2..

    1. Terima kasih Inly 🙂
      Hahaha untung akhirnya lulus ya :))) itu juga dulu yang diusulkan salah satu temanku. Soalnya pas aku nikah kan pas tengah2 kuliah. Dibilang cantumin aja gelarmu meskipun belum lulus. Lah gimana, kacau hahaha!

        1. Di daerah juga, apalagi kalau kota kecil. Semakin berntet gelarnya semakin punya nama. Cuma karena keluargaku cuek, mau pakai gelar atau nggak ga terlalu pusing, apalagi Ibuku, untuk urusan gelar2an mah ga terlalu ribet haha.

  10. Undangannya cantik & unik mba 🙂 dulu aku ngga nyamtumin gelar di undangan pernikahan.. tapi waktu ngunduh mantu, mertua maksa harus dicantumin.. ya itu gegara buat kebanggaan buat mereka.. ya wis lah, pasrah aja.. yang penting mertua senang 😀

    1. Terima kasih Sandra 🙂
      Iya, menyenangkan orangtua juga salah satu cara supaya hidup berkah ya. Lagipula memang tidak ada salahnya mencantumkan maupun tidak

    1. Oh iya ya kayak buku hahaha. Itu juga ukurannya gede lho ga kayak undangan pada umumnya yang. Iya, ini memang bikin desain undangan dipikirin banget konsepnya, ampe tesis ga dipikirin hahaha.

  11. Waaa, tema posting yang menarik nih, Mbak Deny…Kalau boleh berandai-andai (Karena saya belum menikah), karena rencananya saya cuma mau bikin pesta kecil dengan undangan orang-orang terdekat antara 50-100 orang, rencananya sih di undangannya gak mau dikasih gelar. Alasan pertama, saya nikah kan bukan pakai gelar. Alasan kedua, karena yang diundang orang-orang terdekat, mereka sudah tahulah gelar dan pekerjaan saya apa 🙂

    1. Amiiinn. Semoga nanti kalau sudah bertemu jodohnya bisa terlaksana ya Inong. Semoga yang diinginkan diberikan kemudahan olehNya untuk terwujud 🙂

  12. Aku ngga bakal pake Den, atas alasan kayak suamimu… undangan pernikahan bukan CV hihihihi.. anyway di CV aku juga ngga ditaro sih, adanya di riwayat pendidikan aja :))))))

    Btw aku suka sekali undanganmu simpel tapi manis.. dan karikaturnya bagus deh Den 🙂

    1. Oh iyaaa bener. Di CV pun ga dicantumin gelar ya hahaha. Ngisi formulir lamaran pekerjaan juga ga ada pertanyaan gelar.
      Terima kasih Christa. Niat banget nih kami bikin desain undangan, sampai nyari2 anak desain segala haha.

  13. Jadi inget kalau ditanyain temen kenapa nerusin S2, aku suka asal jawab, “Biar ntar di undangan nikahan terlihat keren.”

    Dangkal banget jawabannya. :))))

    (Padahal ya emang pengen nyari ilmu sih)

    1. Tau ga Chika, aku dulu sempet tergoda untuk nyantumin elar pas kuliah S2. Aku pikir “keren juga nih nikah kalau ada gelar S2 nya” hahaha. Untung saja niatan cetek itu tak terlaksana karena pas kawin belum lulus kuliah :)))) *niat tak didukung semesta

  14. Saya gak nyantumin gelar akademis di undangan pernikan waktu nikah dulu. Bagi saya sederhana saja, yang mau nikah itu saya dan calon istri, bukan gelar, 🙂 Lagian hari gini masih mencantumkan gelar akademis untuk hal yang tak ada hubungannya? Norak aja menurut saya.

    Saya pernah liat undangan pernikahan mencantumkan ini : turut mengundang –> paman, pak lurah, pak rt, pak rw, ketua persatuan anu, jawara, ketua kampung, dokter puskesmas anu, Masing-masing disebutkan namanya. Pokoknya rame, hehehe…

    1. Hahaha Epic banget itu Pak sampai dokter puskesmas pun disebutkan :))))
      Tapiii di kota saya memang seperti itu Pak kalau yang suku Madura. Didalam undangannya disebutkan turut mengundang dan banyaaakkk banget isinya. Dari paman, pakde, kakek, buyut dll. Jadi lebih panjang turut yang mengundang dibandingkan isi undangannya.

  15. Kita nyantumin Den..permintaan orang tua soalnya. Dan di daerahku undangan tanpa titel sering kayak diremehin gitu loh…duh kadang gemes dengar kata2nya..padahal belum tentu juga..bisa jadi ya karena males nyantumin kan ya..

    Undangan kalian cute banget…undangan ktia simpel..cover depanny rumah adat batak 😀 ha ha ha

    1. Terima kasih!
      Oh iya bener, kalau di daerah memang rawan jadi pembicaraan ya Dew. Di daerahku juga sebenarnya. Tapi aku baru kepikirannya sekarang haha. Lha soalnya Ibuku dulu ga komentar apa2 waktu aku sodorin desain Undangannya. Iya-iya aja. Jangan2 Ibuku juga ga tau kebiasaan di daerah kami. Maklum kami pendatang di sana :)))
      Wah, kereeenn Dew pakai rumah adat batak sebagai cover.

  16. Eee, undanganmu kok lucuuuuk mba hihihi 😀 uniiiik.

    Btw, kalau masukin gelar akademis di undangan gitu nanti kepanjangan banget ga sih? coba kalau aku ya, Prof Dr Febri Dwi Cahya Gumilar ST, M.Eng. Ph.D. McD Delivery Service. Panjang 🙁 *PADAHAL GELARNYA PALING CUMA ST DOANG AKU MAH :(*

    1. Ya samalah Feb kayak yang punya, unik hahaha. Dibicarakan lagi sama Nanda mau dicantumin nggak nanti gelarnya *cihuuyy :)))

  17. undanganku pake gelar, ngikut kebiasaan aja sih
    bentuk, warna dan font minimalis banget deh, nggak sempat mikir2 desain,
    aku di daerah sih, banyakan ibuku yang sibuk sana sini…, aku pasrah ajalah terima beres wk.. wk..

    1. Sama kayak adikku Mbak, kayaknya dulu nikahan banyak dibantu Ibu prosesnya. Jadi ngikut yang umum aja, template undangan haha.

  18. undangannya simpel tapi bermakna ya mbak 🙂

    kalau saya sih pengennya, kalau nikah gak pake gelar sih. tapi tergantung ortu juga. kalo ortu keukeuh mau masukin gelar ya apa boleh buat 😀

    1. Bener Mayang, simpel tapi sangat berkesan karena ide-idenya dari kami dan proses bikinnya pun kami memantau.
      Iya, semua bisa dibicarakan dengan orangtua. Toh pasang gelar juga bukan hal yang buruk

  19. Pas banget ini tulisannya dengan obrolanku dengan ibu beberapa hari lalu. Saat itu anak tetangga depan rumah menikah, ibu nyeletuk, “Itu istrinya si S gak sarjana ya kayaknya?” | “Kok tahu?” | “Soalnya di undangan gak ada gelar”

    Aku dan adek langsung nyeletuk, “Pasti sarjanalah, wong mereka sekantor. Mana bisa kerja di situ kalo gak ada gelar akademis. Hari gini kasih gelar di undangan emang udah nggak musim (((musim))) bu,” jawabku hahaha.

    Tapi emang dilema, di sisi lain pasti ada kebanggaan dari orang tua yang sudah berhasil menyekolahkan anak. Di akhir perbincangan tsb, aku lantas mikir kelak jika menikah akan gimana. Aku pribadi berharap gak mau ada gelar di undangan. Calon istri bisa jadi setuju. Orang tua yang gak setuju bisa diakalin, lha calon mertua? hihihi.

    Mbak Deny, aku kirim DM di twitter. Tolong dicek ya 🙂 makasih

    1. Hahaha karena ga pasang gelar jadinya dipikir bukan lulusan kuliahan ya. Ibukku dulu juga pernah kayak gitu Om nanya pas ada tetangga yg nikahin anaknya “kayaknya anaknya baru wisuda, kok gelarnya ga ada ya. Apa ga jadi wisuda?” haha.
      Semua bisa dibicarakan itu Om. Menyenangkan hati orangtua di hari bahagia tidak ada salahnya. Benar, gelar itu juga salah satu kebanggan orangtua. Kalau orangtua memberi kebebasan, ya berkah berarti 🙂
      Aku sudah email2an dengan Mbak Fe. Gila, rute jalan2nya bikin puyeng, saking banyak dan aku jadi pengen haha.Thanks Om

  20. Halo mbak deny. Saya pembaca baru blog ini salam kenal hehe.
    Di indonesia macam dipamerin gt kali ya. Tp ya udah jd kebiasaan kan.. dulu mas gibran anak pak jokowi itu ga nyantumin gelar aja dibahas sm media dan di puji2
    Meskipun saya belum ada rencana menikah, sy punya cita2 nggak nampilin gelar akademis. Alasannya… Kan gawajib. Toh mau ngundang kerabat deket bgt aja mrk jg bakal tau
    Tp gatau deh ibu sy udah wanti2 sptnya beliau masih suka traditiona way.

    1. Hai Berliaan terima kasih sudah mampir ke blog kami dan membaca tulisan ini 🙂
      Menurutku bukan dipamerin, lebih ke arah rasa bangga ya karena seperti pencapaian dalam hidup. Bukan hanya rasa bangga dari pihak orangtua, tetapi rasa bangga dari pengantinnya juga. Dan benar, ada faktor ke-umum-an juga karenamemang sudah biasa. Bisa dibicarakan nanti dengan Ibu dan semoga bisa mendapatkan solusi yang terbaik 🙂

  21. Den, photo kaki dengan celana, rok panjang bunga bunga, sepatu itu aku suka bgt, beneran. Kayak komik. Terkesan imut. Ternyata itu ada di undangan nikah kalian ya. Btwy, aku nikah ga pake undangan. Di Swedia nikahan biasanya cuma dihadiri keluarga inti, malah ada yang cuma penganten doang. Apalagi kalau di desa kecil kaya tempat aku. Kemaren dengan undangan mencapai 50 orang saja menurut orang di desa aku uda pesta besar hahaha. Gimana di acara batak yang ampe ribuan yakkk. Tp menurutku dicantumkan atau tidak gelar itu ga menjadi masalah. Hak setiap orang saja. Dicantumkan pun dengan alasan apapun kita anggap saja gelar pendidikan sebuah prestasi yang mulia yang butuh waktu dan perjuangan mendapatkannya. Tp memang sudah byk ya sekarang yang tidak memcantumkannya lagi di undangan.

    1. Terima kasih Helena. Waktu itu idenya kami ingin bikin undangan yang benar-benar merepresentasikan tentang kami, ga terlalu formal tapi masih sopan dan beda sama yang lain hehe. Untungnya yang bikin desain canggih dan karena sudah kenal dekat jadi lebih mudah menyampaikan keinginan kami.
      Kalau nikahan ga pakai undangan memang lebih enak sih ya, apalagi kalau dilihat dari segi budget, lebih bisa ngirit. Wah 50 undangan aja sudah banyak ya hahaha, iyaa kalau dibandingin dengan acara Batak yang undangan ribuan dan berhari2 :))) *mantan2 orang Batak soalnya, jadi sedikit tahu acara nikahan Batak.
      Iya bener, aku juga berpikirnya mau dicantumin atau nggak adalah hak setiap orang. Kembali lagi ke tingkat kepentingan dan selera.

  22. kalo kami nulis gelar den, alasannya sungguh deh, bener2 lupa, kayaknya sama deh kayak adekmu, ga ada alesan apa2 hehehe

    yang aku mau cerita, ttg temenku, jaman dulu kan sarjana tehnik kan gelarnya “Ir.” tapi sekarang kan semua sarjana tehnik itu gelarnya “ST”, nah si orangtua temenku itu maunya di undangan ada gelar anaknya, ya mungkin karena kebanggaan kali ya, tapi maunya ditulis ” Ir ” ga boleh ST, katanya, orang2 tua yang diundang banyak yg ga tau gelar apa itu ST, klo Ir kan udah jelas tuh “tukang insinyur” hehehe

    Banyak juga yang bertanya2 ttg undangan itu, “eh si H kawin ama tante2 ya? kok gelarnya masih Ir, bukan ST” hahaha, biasalaaah.. banyak mulut banyak gosyip :p

    1. Hahaha Fey, aku ngikik baca ceritamu. Dilema ya karena yang diundang kan juga teman2 orangtua, jadi mereka lebih taunya Ir. Nah yang generasi muda taunya Ir. itu gelar jaman dulu hahaha jadinya dipikir nikah sama generasi yang dulu :))))

    1. Gpp Wien. Kalau kata temanku “it’s not a big deal” walaupun terlihat sepele hanya pencantuman gelar toh bikin orangtua bahagia kan. Anak dapat berkah.

    1. Soalnya bukan hal yang terlalu krusial juga ya mau nyantumin atau nggak. Bikin orangtua bahagia toh juga bikin berkah. Masa gara2 kita ngotot ga nyantumin bikin bertengkar sama orangtua haha. Kebanggan orangtua juga.

  23. kebetulan tahun ini baru mau sebar undangan mbak heheh mohon doa nya..dan saya udah sepakat sama calon suami kalo gak akan nyantumin gelar di undangan kita, gak ada alasan khusus sih..cuma gak pengen aja toh orang2 yang akan di undang tau kita kerja nya apa 🙂

  24. aku dulu ga nyantumin gelar. bahkan bisa dibilang tetek bengek nikahan semua muanya diurusin tanteku. mulai dari pemilihan undangan, pemilihan make up, baju, sampe konsep acara pun tante yang atur. daaan….aku ngundang temen cuma dikiiittt..sisanya sodara sama temen temennya kakekku. hahaha ini asline sing nikah sopo toh yoo :)))

    Bahkan kalo boleh ngulang ke waktu itu, sebenernya aku ga pingin nikah rame2. mending duitnya kupake buat beli rumah aja.tapii…ini tapii lho ya, kultur masyarakat kita kebanyakan suka gede-gedean kalo nikah.bukankah yang diliat orang adalah kehidupan pengantin setelah menikah, kalo pestanya meriah banget, palingan orang cuman inget sehari dua hari doank.. Hahha curhaaatnya kepanjangan. Bisa dibikin post nih :))

    Btw, ada temenku yang cantumin gelar di undangannya. plus jabatan kedua ortu mempelai 🙂

      1. Hahaha suwun Na. Dulu bikin juga dengan pemikiran “ben ga dikembari, nggawe sing bedo ae” :)) Sok2an ben ketok unik haha.

    1. Hahaha gpp Na, curhat ben lepasss kabeh :))) Iya, masing2 keluarga beda2 Na menmandang pernikahan. Karena banyak keluarga juga merasa bangga kalau bisa merayakan pernikahan anaknya secara besar2an. Awal2 aku menyampaikan ide kalau aku ingin menikah secara sederhana dan diselenggarakan di halaman rumah juga bukan dalam waktu singkat. Aku melontarkan ide itu sejak jaman SMA. Awalnya Bapak Ibu menolak, lah piye anak wedok pertama kok kawin sepi2 ae. Apa kata orang. Tapi karena aku selalu bilang berkali2 sampai ketemu sama suamiku ini, dan Bapak sudah meninggal plus karena setahun sebelumnya adikku menikah pestanya memang besar2an (total undangan lebih dari 1000), jadinya konsep sederhana dan mengurus semua sendiri akhirnya diterima. Sik kekeselen paling ibukku setelah ngurusi kawinane adikku sing ngalah2i artis sinetron hahaha.
      Wohooo!! Jabatan kedua orangtua. Kereennn 🙂

  25. Aku suka banget sama gambar pembukaan isi undangannya. Very personal! Apropos gelas di undangan… aku belum kepikiran untuk menikah dalam waktu dekat, tapi kayaknya aku nggak akan pasang gelar deh. Soalnya kan nanti yang kuundang teman dekat dan keluarga – dan mereka toh sudah tahu aku kerjanya apa. Malah jadi aneh kalau ada gelar menurutku.

    1. Terima kasih Steph 🙂
      Iya, kalau yang diundang teman2 dan keluarga dekat, memang jadinya aneh ya kalau nyantumin gelar karena jadinya ga umum, meskipun balik lagi dilihat ke kultur negara atau daerah setempat.

  26. Gelar akademis di surat undangan ya. Nyantumin gak ya….lupa! Buahahahahak..
    Mungkin nyantumin alasan ya utk menyenangkan ortu. Juga karena keumuman. Masyarakat kita masih lihat gelar. Tapi salut dg dosen2 Jepang. Untuk hal2 umum mereka jrg pamer gelar akademis.Katanya malu punya bnyk gelar tapi yg dikontribusi utk masyarakat jauh lebih sedikit.Kalau mereka nikahan mungkin cuma pakai nama saja ya. Hahaha…

    1. Karena sudah lama ya mangkanya agak samar2 ingat hahaha. Kalau yang masih baru2 gini ingat mulu :)))
      Iya, tidak dapat dipungkiri masyarakat kita memang masih melohat gelar karena memang umumnya seperti itu which is ga ada yang salah.
      Aku lihat orang Belanda ini juga nyaris ga pernah nyantumin gelar, bahkan untuk urusan politik sampai urusan pemerintahan. Minister presidennya pun ga nyantumin gelar sampai karena aku suka penasaran orang2 itu lulusan mana, suka googling sendiri :))) *saking keponya

  27. Aku ga pake undangan cetak, karena ga ngundang banyak orang. Cuma tetangga di kampung ga sampe 50 org, temen kantor yang cuma 10an orang, dan teman ngajar ibuku 10an orang juga. Ga tahu, jadi omongan orang apa ga. Yg nyebelin tuh pas mau akad nikah, pak penghulunya membacakan data2 diri kami lengkap kap pake pengeras suara. Yang resepsi di Turki, undangannya ga pake gelar akademis, suami sendiri yg bikin desainnya.

    1. Bisa mengurangi budget ya kalau ga nyetak undangan. Bisa dialokasikan ke yang lain. Oh di kotaku, kalau yang nikah suku Madura (karena kotaku mayoritas Madura), biasanya pas akad nikah juga semua prosesnya disiarkan secara luas pakai pengeras suara. Tujuannya biar yang ga bisa datang tahu kalau ada pernikahan. Jadinya kalau di tetangga ada yang menikah, kami jadi tau semua identitas dan prosesnya hehehe. Tapi waktu aku nggak, karena kami keluarga Jawa dan biasanya memang ga perlu disiarkan, jadinya ya tanpa pengeras suara

  28. Kayaknya saya prefer ke nggak usah cantumin deh. Nggak kenapa2 sih…. Pingin gitu aja. Nggak tahu lagi klo pasangan saya ntar minta dicantumin, kayaknya saya bakalan ngalah deh he he he…..

Thank you for your comment(s)