Kebiasaan Saat Makan

Meskipun saya bukan tipe orang yang terlalu rewel dalam urusan makan, tetapi kadang juga termasuk tipe pemilih. Ada beberapa hal yang tidak bisa ditawar atau menjadi kebiasaan saat makan. Kebiasaan ini ada yang masih berlangsung sampai saat ini tapi juga ada yang perlahan bisa dihilangkan.

  • Kuah Pisah

Saya paling tidak bisa kalau makan yang berkuah terus dicampur dengan nasinya. Jadi, nasi harus dipisah dengan kuah. Tapi kalau kuah dimakan dengan lontong, masih bisa. Entah kenapa rasanya geli kalau makan yang berkuah ada nasinya. Melihat nasi mengambang atau ada di dalam kuah itu, entahlah rasanya tidak bisa dijelaskan. Geli lihatnya haha. Jadi saya tim kuah pisah dengan nasi :))))

  • Lebih Suka Makan Pakai Sendok

Meskipun dari kecil kebiasaan melihat Ibu dan hampir seluruh keluarga besar kalau makan pakai tangan (tidak menggunakan sendok) dan saya biasa disuapin dengan tidak menggunakan sendok, tetapi saya tumbuh besar mempunyai kebiasaan makan dengan menggunakan sendok. Pada dasarnya saya ini memang orang yang suka geli-an. Geli di sini maksudnya agak jijik an, jadi kalau makan tanpa menggunakan sendok, saya geli saat lihat tangan sendiri kotor. Duh, sok ratu banget ya saya haha. Tapi memang begitulah kenyataannya. Tetapi lama kelamaan akhirnya saya belajar supaya tidak geli sendiri, belajar makan tanpa menggunakan sendok. Sudah lumayan sering sih, meskipun frekuensinya ya tidak sangat sering. Minimal sudah bisa meredam ke-geli-an saya kalau lihat tangan kotor. Ngomong tentang kotor, saya juga paling tidak suka kalau hujan terus kaki saya kecipratan air hujan dari jalanan trus akhirnya kaki saya kotor. Pasti langsung saya bersihkan, tidak bisa berlama-lama. Saya lebih suka pakai sandal dibandingkan sepatu, tapi tidak suka kalau kaki kotor *rewel :))))

  • Durasi Makan Lama

Kalau yang ini, tidak diragukan lagi. Lamanya tidak ketulungan, sampai suami saya selalu geregetan kalau makan bareng. Kalau saya pikir-pikir lagi, ini awalnya mungkin karena sejak kecil (sampai sekarang) makan selalu sambil baca buku. Jadi konsentrasi makan terpecah antara makan dan baca buku. Saya makan bisa lebih dari setengah jam. Makanya, saya paling benci kalau makan diburu-buru. Saya ingat sekali pernah membentak teman kuliah waktu makan bakso di kampus karena dia buru-buru mau masuk kelas. Dia sampai kaget saya bentak hanya perkara makan yang super pelan haha. Tapi sekarang saya mulai belajar makan dengan tempo yang lebih cepat. Mulai membiasakan makan tidak baca buku, tapi tetap saja agak lama karena makan sambil ngelamun haha. Saya dan adik-adik sama saja, kami makannya lama. Padahal Ibu Bapak kalau makan cepet. Selama adik di Belanda, suami suka ngeledekin, “siapa nih yang menang, makan terlama” 😅

  • Suka Makan Sayur Kecuali ….

Meskipun Ibu adalah wanita pekerja dan di rumah ada pembantu, tetapi untuk urusan makan Ibu selalu memasak sendiri untuk semuanya. Jadi Ibu selalu bangun sebelum adzan subuh lalu mulai menyiapkan semuanya untuk memasak dari memasak nasi, lauk pauk dan sayur. Jam setengah tujuh pagi, Ibu sudah berangkat mengajar. Satu yang tidak pernah absen adalah sayur hijau harus selalu ada di meja makan. Jadi semacam sayur rebus gitu atau lalapan mentah. Meskipun kadang Ibu membuat sop sayur, tetapi tetap disediakan sayuran hijau. Akhirnya saya terbiasa sejak kecil makan sayur atau lalapan. Semua sayuran saya suka, kecuali kacang panjang. Saya kalau melihat kacang panjang seperti melihat ulat haha. Entah kenapa imajinasinya seperti itu. Karenanya, sayuran seenak apapun, tidak akan saya sentuh kalau ada kacang panjangnya. Tidak ingat pasti sejak kapan saya akhirnya mulai bisa makan kacang panjang. Kalau lodeh dikasih campuran kacang panjang, saya akhirnya bisa makan. Meskipun masih agak PR kalau mau makan lalapan kacang panjang.

  • Nasi Dikepel

Saya di masa kecil tumbuh jadi anak yang biasa disuapin. Ya sampai umur sebelum masuk TK. Nah, saya paling suka kalau disuapi nasi yang dikepel dengan lauknya. Dan favorit saya adalah nasi hangat yang dikepel dengan perkedel. Semakin besar, bertambah lagi kesukaan saya makan nasi dikepel dengan kuning telur ditambah sambel buje cabbi (sambelnya orang Madura, cabe dengan garam saja). Sampai sekarang, kalau saya sedang malas makan, ya akhirnya makan nasi dikepel kalau tidak dengan perkedel ya dengan kuning telur pakai sambel cabe garam.

  • Tidak Suka Bubur, Kecuali ….

Jika banyak orang suka sekali dengan yang namanya bubur ayam, tidak demikian dengan saya. Bahkan jauh dari Indonesia seperti ini, tidak membuat saya menjadi orang yang ingin sekali makan bubur ayam. Biasa saja. Sebenarnya secara keseluruhan saya memang bukan penggemar bubur. Meskipun bukan penggemar bubur, tetapi ada satu jenis bubur yang saya suka yaitu Tajin Palappa. Ini bubur khas Madura. Wah kalau bubur ini, saya doyan sekali. Saya pernah menjelaskan tentang Tajin Palappa di tulisan yang ini.

Tajin Palappa pakai hongkong (ote ote). Kalau di rumah Orangtua, setiap pagi saya bisa sarapan ini. Sumber foto http://kooliner.com/blog/main-ke-baluran-nikmati-tajin-palappa-situbondo/
Tajin Palappa pakai hongkong (ote ote). Kalau di rumah Orangtua, setiap pagi saya bisa sarapan ini. Sumber foto http://kooliner.com/blog/main-ke-baluran-nikmati-tajin-palappa-situbondo/

  • Tidak Harus Pakai Kerupuk Dan Sambal

Saya punya teman, kalau makan harus ada kerupuk dan sambal. Tanpa dua pelengkap tersebut terutama kerupuk, dia tidak bisa mulai makan. Jadi harus ada kerupuk disetiap dia makan. Kata dia, bukan orang Indonesia kalau makan tidak ada kerupuknya. Wah, berarti saya bukan orang Indonesia donk ya haha karena bisa makan tanpa kerupuk. Saya kalau makan tidak terbiasa dengan kerupuk berbarengan dengan makanan utama. Jika tidak makan kerupuknya di awal, pasti di akhir. Kalau makan berbarengan gitu, agak ribet buat saya. Tapi paling enak kalau makan soto atau rawon, atau bakso, kerupuknya dicelup di kuah. Ehhmm, Lekker! Sambel pun tidak harus ada sekarang. Jadi makan tanpa sambel pun tak mengapa. Sama seperti saya sekarang tidak harus makan nasi. Tapi yang pasti sehari harus ada karbohidrat satu kali yang saya konsumsi.

  • Lebih Baik Asin Daripada Manis

Nah ini, masalah rasa. Walaupun saya Jawa tulen, tapi saya tidak terlalu suka makan yang rasanya manis. Jelas ini terpengaruh dari lingkungan tinggal karena saya dari Jawa Timur apalagi lingkungan saya tumbuh besar yang memang mayoritas orang Madura. Terbiasalah saya mengkonsumsi makanan asin dibanding makanan manis. Sampai saya membuat perumpamaan : bisa hidup tanpa gula tapi susah kalau tanpa garam. Saya tidak terlalu suka kue yang rasanya manis. Mending makan dadar jagung yang rasanya asin haha perbandingannya jomplang banget. Saya tidak terlalu suka makan trus dicampur kecap. Tapi kalau nasi hangat dikasih kecap makan dengan telor ceplok, wah itu susah ditolak :))) Saya ingat punya teman kuliah yang kemana-mana (di dalam tasnya) bawa kecap. Makanan apapun pasti dikecapin sama dia. Sampai pernah dia makan sayur asem dikecapin juga. Untung sewaktu makan rawon tidak dikecapin juga haha.

  • Makan Jangan Dicampur

Ini masih lanjutan dengan rasa geli. Saya tidak bisa makan kalau isinya diaduk atau dicampur-campur. Contohnya : kalau makan nasi padang, selain saya tidak suka kalau nasi diguyur kuahnya, saya juga tidak suka kalau semua nasinya diaduk dengan kuah atau sayuran lainnya (nangka atau rebusan daun singkong). Kalau dibungkus pun, sebisa mungkin saya minta dipisah antara nasi dan lauknya biar tidak bersatu *terpisah sesaat :))). Sama saja dengan makan bubur, tidak bisa kalau saat makan harus diaduk campur semua. Makan mie ayam juga begitu, mienya dimakan sendiri tidak dicampur dengan kuahnya. Mienya harus bebas kuah. Intinya makan tidak diaduk dan dicampur. Btw, disaat banyak orang mengidolakan nasi padang, saya malah biasa saja dengan nasi padang. Entah kenapa, mungkin karena bersantan ya dan ada kuah kentalnya (padahal ya bisa saja pesan menu lainnya) . Saya kalau beli di restoran padang pasti menunya sama : ikan bakar dan sambel hijau plus sayur daun singkong. Sudah itu saja, tidak tertarik dengan menu lainnya.

  • Tidak Bersuara

Sejak kecil diajari oleh Bapak kalau makan mulut harus tertutup, tidak boleh mengeluarkan bunyi apapun, tidak boleh bersendawa. Jadi sampai sekarang terbiasa makan tidak berbunyi. Makanya paling tidak suka mendengar orang makan yang berbunyi dan bersendawa. Padahal untuk hal ini, masing-masing tempat berbeda ya. Ada yang kalau bersendawa atau makan berbunyi artinya pujian kepada yang masak dan artinya masakannya enak. Walaupun tetap saja, telinga agak risih kalau dengar orang makan berbunyi dan bersendawa. Cuma ya ditahan-tahan saja, kalau ga kenal ya masak langsung nyolot :)))) kalau adik saya sih ya langsung saya tegur.

Duh, rewel sekali ya kebiasaan makan saya. Untung dapat suami yang tabah haha. Tapi kalau dalam keadaan yang kepepet sekali, entah kenapa saya jadi mendadak bisa fleksibel. Terutama kalau sedang jalan-jalan. Tingkat kerewelan dan keruwetan saya mendadak melorot levelnya, jadi santai.

Yang akan saya ceritakan sekilas ini sebenarnya bukan tentang kebiasaan makan, tapi masih ada hubungannya dengan makan. Jadi kami sekeluarga bukan dari keluarga yang berkelebihan, cukupanlah. Tapi untuk makanan yang beli, sangat jarang sekali kalau tidak ada hari yang spesial misalkan ulang tahun atau ketika Bapak dan Ibu ada sedikit lebih rejeki. Nah, salah satu kesempatan untuk makan enak (beli di luar maksudnya) justru datang saat sakit. Jadi kalau ada anak-anaknya yang sakit, Bapak dan Ibu selalu bertanya, ” mau beli makan apa? sate atau soto ayam atau martabak atau mie goreng atau apa?” Sedangkan kalau dipikir-pikir, kalau sedang sakit kan mulut ga enak ya buat makan. Agak pahit gitu. Jadinya ya males ditawari untuk beli makanan diluar. Kenapa gak kalau pas lagi sehat aja ditawarinnya :)))

Kalau kalian, apa kebiasaan makan yang unik atau bahkan kadang mungkin berasa agak merepotkan untuk kalian sendiri atau orang sekitar?

Menu makanan favorit saya. Terong goreng, perkedel, telor dadar dan sambel petis Madura. Menu seperti ini selalu mengingatkan masa ngekos di Surabaya. Hampir selalu makan malam di warung penyetan. Bedanya di sambel saja. Ahhh saya jadi kangen warung penyetan di sekitar kampus (dekat Sakinah)
Menu makanan favorit saya. Terong goreng, perkedel, telor dadar dan sambel petis Madura. Menu seperti ini selalu mengingatkan masa ngekos di Surabaya. Hampir selalu makan malam di warung penyetan. Bedanya di sambel saja. Ahhh saya jadi kangen warung penyetan di sekitar kampus (dekat Sakinah)

-Nootdorp, 12 Agustus 2017-

Mengurangi Konsumsi Nasi Putih, Garam, dan Penggunaan Minyak Goreng Untuk Hidup Lebih Sehat

Beberapa waktu lalu saya dan beberapa teman dekat di grup whatsapp membicarakan susahnya menurunkan berat badan seiring dengan bertambahnya usia. Dulu pada saat rentang usia 20an, gampang sekali menguruskan jika kami rasa badan agak berisi. Disamping karena kami adalah anak kos-an yang memang uang pas pasan untuk makan, makanya badan kami juga mengikuti ketersediaan uang. Lumayan berisi pada awal bulan karena cadangan dana masih menggembul dan menjadi lebih langsing menjelang akhir bulan, karena saatnya koret koret recehan untuk makan. Disamping itu juga ada senjata andalan lainnya, yaitu berhutang diantara agar kami tetap bisa makan. Karenanya kami selalu menyebut hutang diantara kami itu seperti lingkaran setan, karena tidak ada putusnya. Kami selalu terbahak-bahak kalau mengingat bagaimana kami berteman sejak 17 tahun lalu. Mungkin itulah yang membuat kami awet berteman sampai sekarang, karena yang dibicarakan selalu hal-hal ringan dan receh :))).

Ok, kembali lagi ke masalah berat badan. Salah satu diantara kami lalu menyelutuk, kalau metabolisme tubuh akan melambat seiring bertambahnya usia. Saya juga sering mendengar tentang itu. Lalu saya mulai mencari informasi tentang apa sih sebenarnya metabolisme tubuh ini dan kenapa bisa menjadi lambat kalau kita bertambah usia. Dari beberapa informasi yang saya baca, metabolisme adalah suatu proses biokimia kompleks dimana tubuh akan mengubah apapun yang dimakan menjadi energi. Selama proses ini, kalori dalam makanan dan minuman akan digabungkan dengan oksigen, lalu dilepaskan menjadi energi yang dibutuhkan oleh tubuh. Bisa juga berat badan tidak turun atau bahkan naik disebabkan asupan makanan menjadi otot karena faktor olahraga, dan hal ini bagus.

Ada beberapa hal yang ingin saya kurangi dan saya ganti dengan yang lainnya untuk tujuan hidup lebih sehat dan sesuai dengan kondisi saya saat ini. Kalau untuk meniadakan sama sekali, saya masih belum bisa.

MENGURANGI KONSUMSI NASI DAN MEMVARIASIKAN SUMBER KARBOHIDRAT

Mengurangi konsumsi nasi ketika saya sudah tinggal di Belanda sebenarnya tidak direncanakan sama sekali. Walaupun sejak kuliah lagi (tahun 2012), saya sudah mulai mengurangi konsumi nasi menjadi satu kali per hari, tetapi mengurangi konsumsi nasi yang akan saya ceritakan kali ini berbeda dengan kondisi pada saat saya masih di Surabaya. Awalnya sekitar bulan Maret 2016, ketika saya dan suami bepergian ke Prancis utara selama 8 hari (cerita perjalanan kami pernah saya tulis di sini), selama kurun waktu tersebut saya tidak makan nasi sama sekali. Sebelum kami berangkat, suami bertanya apakah saya akan baik-baik saja (baca:tidak cranky) kalau misalkan tidak makan nasi selama liburan. Saya sebenarnya ragu, apakah bisa. Tetapi saya juga ingin merasakan makanan lokal saat liburan. Bukan berarti di Prancis tidak ada nasi ya. Mungkin menu nasi tidak segampang ditemui dibandingkan Belanda (ini saya main asumsi ya, karena memang selama di Prancis saya tidak secara khusus mencari restoran yang menjual menu ada nasinya). Saya juga tidak mau repot-repot membawa beras atau penanak nasi. Saya kan mau liburan dan saya yakin di tempat yang kami kunjungi pasti ada restoran yang menjual menu halal (dan ternyata memang banyak). Nah, setelah melewati 8 hari tanpa makan nasi sama sekali dan mengganti asupan karbohidrat dari sumber yang lain (roti atau pasta), saya lalu berpikir wah ternyata bisa juga. Sejak saat itu sampai sekarang saya sudah terbiasa memvariasikan asupan karbohidrat tidak hanya tergantung pada nasi putih. Bahkan saya pernah tidak mengkonsumsi nasi putih sama sekali selama 3 bulan. Lalu kalau tidak makan nasi putih, sumber karbohidratnya darimana? Jawabannya : banyak sekali. Dulu sewaktu masih punya IG saya rajin memposting makanan dengan variasi karbohidrat. Sumber karbohidrat pengganti nasi putih yang saya konsumsi selama ini adalah : ubi, singkong, couscous, quinoa merah, nasi coklat dengan biji-bijian, kentang, jagung. Beberapa kali juga saya makan pasta, tapi tidak sering. Mie juga saya konsumsi tapi juga tidak sering. Yang sering ya yang saya sebutkan sebelumnya. Nasi putih saya konsumsi kalau sedang makan Sushi dan kalau saya ingin nasi goreng, oh beberapa waktu juga saat saya membuat nasi kuning. Oh ya, saya mencampur karbohidrat dengan protein hewani saat akhir pekan saja karena itu waktu saya cheating dari Food Combining. Kalau hari biasa, saya taat untuk tidak mencampur protein hewani dengan karbohidrat. Protein hewani yang saya konsumsi adalah ikan, telur (keju dan es krim termasuk ga ya?). Selebihnya saya makan tahu tempe untuk lauk.

Rawon sayuran dimakan dengan couscous
Rawon sayuran dimakan dengan couscous
Urapan dimakan dengan ubi
Urapan dimakan dengan ubi

Kalau menu yang sudah ada karbohidratnya, saya tidak tambahi makan nasi. Jadi tidak double karbohidrat. Misal : kalau di sop sayuran sudah ada kentang, saya tidak memakan dengan nasi. Atau kalau misalkan di sop sudah ada jagung, saya tidak makan dengan nasi. Karbohidratnya sudah saya dapat dari jagung. Padahal enak kan ya makan mie dengan nasi plus telor ceplok :)))

Bagaimana rasanya tidak mengkonsumsi nasi putih? saya merasa enak di badan. Lebih segar dan tidak gampang mengantuk. Perut rasanya lebih enak dan tidak gampang lemas. Karena usia saya yang sudah diatas 35 tahun, mulai menjaga asupan makanan salah satunya menjaga seberapa banyak karbohidrat yang masuk dalam tubuh, untuk saya sangat penting. Buat kondisi tubuh saya, jumlah karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh tidak teralu banyak. Saya lebih fokus pada memperbanyak protein dimana sumber protein ini lebih banyak saya dapatkan dari protein nabati dibandingkan protein hewani karena saya batasi mengkonsumsi ikan maksimal 3 kali seminggu (untuk saat ini). Dan memvariasikan karbohidrat ini terasa manfaatnya saat jalan-jalan, tidak kebingungan cari nasi putih. Makan apa saja hayuk aja, tidak tergantung dengan nasi putih. Bisa merasakan makanan lokal yang masih bisa saya makan. Selain itu, dilihat dari segi kesehatan, nasi putih kandungan gulanya tinggi.

MENGURANGI GARAM

Nah, PR yang selama ini susah sekali rasanya dijalankan adalah mengurangi penggunaan garam dalam masakan.Teman-teman yang kenal saya secara dekat pasti tahu bagaimana tergantungnya saya dengan garam. Bersyukurnya sejak beberapa bulan ini niat untuk mengurangi garam sudah saya lakukan secara rutin. Bahkan sudah dua minggu ini saya memasak tanpa garam sama sekali. Sebelum suami mengenal saya, dia kalau masak tanpa menggunakan garam. Makanya dulu sewaktu awal saya datang ke Belanda dan mau memasak, saya panik karena tidak tersedia garam di rumah. Dulu saya berpikir, mustahil nih kalau hidup tanpa garam. Ternyata ketika secara perlahan dan secara sadar ingin menguranginya, ternyata bisa. Rasa masakannya bagaimana? ya baik-baik saja, tetap enak dikonsumsi. Misalkan memasak sayur sop. Rasa kuahnya saya dapatkan dari wortel (rasa manis), aroma seledri, rasa kentang dan buncis, merica dan bawang putih. Saya tidak menggunakan pengganti garam sama sekali. Biasanya saya mencari ide memasak tanpa garam ini dari youtube. Terlalu banyak garam tidak baik untuk ginjal (sekarang bisa ngomong gini, kemana aja dulu Mbak :D). Tapi kondisi ini bisa saya terapkan kalau saya sedang di rumah dan bisa mengontrol yang saya masak. Kalau lagi ada undangan makan atau sedang makan di luar sama suami, ya kan tidak mungkin makan makanan yang tanpa garam kecuali makannya di restoran khusus. Atau ketika liburan, kan sama saja cari perkara kalau harus cari makanan yang tanpa mengandung garam, kecuali bawa bekal sendiri. Liburan saatnya makan makanan lokal.

Sup labu tanpa garam karena rasanya sudah terwakili dari labu, jahe, merica, bawang putih, jeruk nipis dan bawang bombay. Seger.
Sup labu tanpa garam karena rasanya sudah terwakili dari labu, jahe, merica, bawang putih, jeruk nipis dan bawang bombay. Seger.
Sop sayuran tanpa garam. Bumbunya seperti membuat sop biasa kecuali garam dan kaldu ayam.
Sop sayuran tanpa garam. Bumbunya seperti membuat sop biasa kecuali garam dan kaldu ayam.

MENGURANGI PENGGUNAAN MINYAK GORENG

Saat ini, memang saya ingin mengurangi goreng-gorengan. Lebih kepada saya males menggoreng karena males membersihkan cipratan minyaknya yang kemana-mana. Alasannya cetek sekali ya haha! Tapi ternyata mengurangi gorengan bagus lho untuk tubuh saya. Minyak goreng 1L yang saya beli selama 4 bulan ini masih ada. Kalau tidak menggoreng lalu bagaimana? Saya masukkan ke oven. Lebih praktis dan saya bisa mengerjakan hal-hal lain. Saya sudah jarang tumis menumis. Sayur dan lauk untuk makan siang suami saya masukkan ke oven dan saya lebih memilih makan siang dengan sayur rebus. Sedangkan makan malam kami adalah sayuran mentah. Terdengar membosankan? sesungguhnya tidak, karena kami sangat menikmatinya. Kami lebih bisa berkreasi memadupadankan sayuran. Sekarang kalaupun ingin menggoreng, saya lebih memilih menggunakan minyak kelapa. Selain itu setiap hari saya juga meminum minyak kelapa sebanyak satu sendok. Tubuh saya sedang membutuhkan asupan minyak kelapa.

Sop kepiting jagung, asparagus, kacang hitam, wortel, batang seledri, bawang bombay. Bumbunya bawang putih, merica, tanpa garam, dikentalkan pakai maizena. Tinggal cemplung2 tanpa digongso. Rasa kuahnya dapat dari rasa sayurannya.
Sop kepiting jagung, asparagus, kacang hitam, wortel, batang seledri, bawang bombay. Bumbunya bawang putih, merica, tanpa garam, dikentalkan pakai maizena. Tinggal cemplung2 tanpa digongso. Rasa kuahnya dapat dari rasa sayurannya.
Kale direndem air panas (bukan direbus. Direndem sekitar 2 menit saja), tempe di oven, sambel trasi mentah tanpa garam soalnya terasinya sudah asin dimakan pakai nasi campur biji2an
Kale direndem air panas (bukan direbus. Direndem sekitar 2 menit saja), tempe di oven, sambel trasi mentah tanpa garam soalnya terasinya sudah asin dimakan pakai nasi campur biji2an

BAGAIMANA DENGAN GULA?

Beruntungnya saya memang tidak suka rasa manis. Jadi saya tidak terlalu suka baking ataupun membeli kue dan camilan manis. Jadi kalau untuk gula, memang tidak perlu dikurangi karena memang tidak terlalu banyak makan yang mengandung gula kecuali asupan gula yang saya dapat selama ini langsung dari buah yang saya konsumsi ketika sarapan.

MENGURANGI APA LAGI?

  • Sambal

Dalam dua minggu ini saya juga sedang mengurangi makan sambal. Selain dulu tergantung dengan garam, saya juga rasanya tidak bisa makan dengan sambal. Saat selama di Prancis, saya tetap hidup walaupun tidak makan dengan sambal. Dan memang ada kondisi yang tidak memungkinkan saya makan sambal saat ini. Hitung-hitung sambil membersihkan badan.

  • Mengurangi Olahraga Berat

Sejak awal bulan ini saya mulai mengalihkan jenis olahraga yang saya tekuni selama ini yaitu : lari, freelactic dan gym menjadi ke Yoga (ikut kelas 2 kali seminggu dan meditasi serta yoga sendiri di rumah) dan jalan kaki selama 1-2 jam setiap sore. Tentang pengkategorian olahraga berat ini hanya opini pribadi saya saja ya. Bukan berarti Yoga adalah olahraga ringan, tidak sama sekali. Justru saat-saat awal seperti ini saya belajar yoga, berat juga rasanya karena butuh konsentrasi dan sabar. Biasanya gerakan yang saya lakukan untuk olahraga kan cepat, sekarang saya memilih kelas yoga yang santai tetapi tetap menggerakkan seluruh anggota badan. Kata suami, saya pensiun dini berlari sebelum mencicipi Half Marathon :))) Ya nanti kalau kondisinya sudah memungkinkan, saya pasti akan kembali lagi berlari. Bersepeda tetap saya lakukan sehari-hari apalagi kalau ada jadwal kerja saya bersepeda PP 23km. Yang penting badan konsisten bergerak setiap hari.

  • Mengurangi Makan Mie Instan

Duh, godaan makan mie instan itu susah sekali untuk dihindarkan. Rasanya ingin setiap malam makan mie instant dengan merek yang sudah melegenda di hati :))). Tapi selama dua bulan ini saya sudah bisa mengendalikan hasrat untuk nge-mie. Kalau sedang niat bersih-bersih badan, langsung total saja. Kalau setengah-setengah nanti tergoda kembali ke titik awal. Apakah saya tidak mau makan mie instan seterusnya? Ya tidak lah. Lidah juga pasti kangen incip-incip mie goreng, tapi tidak sekarang. Nanti tunggu waktu yang tepat. Mumpung lagi niat ini, jadi ditahan-tahan saja meskipun kangen juga :D.

Kangen sih makan mie jamur bikinan sendiri seperti ini yang dimakan pakai kuah anget sama pangsit isinya sayuran
Kangen sih makan mie jamur bikinan sendiri seperti ini yang dimakan pakai kuah anget sama pangsit isinya sayuran
Kangen juga makan soto pakai sambel super pedas
Kangen juga makan soto pakai sambel super pedas
  • Mengurangi Berpikir Terlalu Berat

Apa yang kita pikirkan dan yang ada dalam pikiran kita juga akan berpengaruh terhadap kesehatan badan. Jadi sesuai ambisi saya di tahun ini yaitu hidup secara sederhana, maka saya perlu juga menyederhanakan yang ada di pikiran, menyederhanakan apa yang ada di hati dan mulai melakukan banyak hal baru, belajar banyak ilmu baru, melakukan tantangan-tantangan baru yang bisa membuat hati dan pikiran saya senang. Saya mulai fokus pada diri sendiri. Mengikuti kata hati ingin melakukan apa dan selalu bertanya ke diri sendiri apakah saya bahagia ketika melakukan itu. Saya sekarang lebih ingin menjadi diri sendiri bukan menjadi apa yang orang lain lihat. Mulai memperbanyak membaca buku supaya perbendaharaan kata semakin banyak dan wawasan semakin luas. Memperbanyak belajar Agama. Belajar keterampilan baru misalnya menggambar atau merajut atau bermain piano.

MENGAPA HARUS MELAKUKAN ITU SEMUA?

Saat menyadari bahwa bilangan angka usia sudah beranjak menjadi banyak, disaat itulah saya juga mulai sadar bahwa waktu untuk hidup di dunia semakin berkurang. Selama ini saya selalu “menyiksa” badan dengan makanan-makanan yang memberatkan kerja pencernaan dan tidak memikirkan akibatnya di masa depan. Saya telah mengikuti pola makan Food Combining lebih dari 8 tahun dan sudah cocok dengan badan saya, yang salah satu hasilnya saya tidak ingat kapan terakhir kali flu. Padahal dulu rasanya setiap bulan selalu saja flu. Sejak ber FC diimbangi dengan olahraga, bersyukurnya flu tidak pernah bertamu lagi bahkan di saat musim dingin yang aduhai semriwing hawanya tidak menentu. Inginnya, kalau diberikan kesempatan untuk lama tinggal di dunia, saya ingin hidup lama dengan sehat. Nah, kalau tidak dimulai dari sekarang, lalu kapan lagi. Sekarang saya mengubah cara berpikir dari yang dulunya saya berpikir tidak bisa bahkan mustahil bisa dilakukan, ternyata setelah dijalani secara perlahan, bisa kok mengubah pola makan menjadi lebih sehat. Hanya tergantung niat dan cara kita berpikir.

Mendengarkan kebutuhan tubuh dan mengurangi menyenangkan keinginan lidah. Mungkin seperti itu tepatnya yang saya lakukan sekarang. Lha kan hidup di dunia cuma sekali, ngapain musti menyiksa diri dengan makan-makanan yang tidak ada rasanya. Mungkin ada yang berpikir seperti itu. Saya tetap memanjakan lidah dengan rasa makanan yang luar biasa enaknya. Tapi sekarang porsinya saya kurangi. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya cheating kalau akhir pekan saja. Hari biasa, saya taat aturan. Hidup memang cuma sekali di dunia, karenanya saya ingin memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tubuh ini kan juga titipan, jadi saya juga ingin merawat sebaik mungkin apa yang sudah dititipkan sehingga kalau saatnya diambil pemiliknya, tubuh ini kembali dalam keadaan yang terawat.

Semua hanyalah tentang bagaimana kita melatih apa yang ada di pikiran kita. Bisa atau tidaknya memang tergantung niat dan kesadaran diri sendiri untuk berubah ke arah lebih baik. Dengarkan kebutuhan tubuh karena kondisi masing-masing orang berbeda. Apa yang saya tuliskan di sini adalah sesuai dengan kondisi saya saat ini dan yang saya inginkan kedepannya. Dan tujuan saya melakukan ini semua adalah hidup sehat. Berat badan itu hanyalah bonus meskipun tidak memungkiri ketika konsisten menerapkan pola makan yang seimbang diiringi dengan olahraga yang rutin akan membuat badan mencari berat idealnya sendiri. Tidur lebih nyenyak dan bangun tidur dengan suasana hati lebih nyaman. Buat saya, tidak ada yang namanya instan di dunia ini. Bahkan mie instan pun butuh waktu untuk memasaknya apalagi tentang kesehatan. Semua dimulai dari pola hidup. Kalau ingin hidup sehat tapi asupan makanan yang masuk ke tubuh tidak dipikirkan dan juga tidak berolahraga, ya jangan harap kedepannya akan sesuai dengan yang diinginkan. Begitupun dengan melakukan cara-cara instan seperti mengkonsumsi pil atau diet mati-matian, maka kasihan ke tubuh juga akan kaget dan kalau diet tidak sehatnya berhenti di tengah jalan, nanti hasil yang diinginkan juga tidak sesuai. Yang lebih penting adalah kerjakan secara pelan-pelan tapi konsisten, mendengarkan kebutuhan tubuh seperti apa karena kondisi masing-masing orang berbeda. Jangan hanya karena ingin seperti si A terus mengikuti apa yang orang lain kerjakan. Menjadi inspirasi boleh saja, tetapi kembali lagi, sesuaikan dengan kondisi tubuh kita. Saya juga mencari referensi tentang makanan sehat dan olahraga dari banyak membaca dan mempelajari pengalaman orang lain.

Intinya saya ingin hidup yang seimbang. Kalau ingin makan yang bersantan dan asin dan pedes, ya saya makan tapi setelahnya saya akan hajar dengan makanan yang lebih sehat. Lalu saya imbangi dengan olahraga, minum air putih sesuai kebutuhan badan dan berpikir positif. Tidak lupa juga banyak tersenyum, karena tersenyum membuat hati saya gembira πŸ™‚

Semoga saya juga konsisten menjalankan apa yang sudah saya lakukan selama ini dan saya juga tidak berhenti belajar untuk mengenali anggota tubuh dan kebutuhan tubuh supaya kedepannya makin lebih sehat lagi.

Sesekali makan yang bersantan juga tidak apa-apa. Gule daun kale cumi tahu dimakan pakai lontong dan sate lilit
Sesekali makan yang bersantan juga tidak apa-apa. Gule daun kale cumi tahu dimakan pakai lontong dan sate lilit

Kalau kalian, rencana dalam bidang kesehatan di tahun 2017 ini seperti apa? Saya sedang senang belajar tentang kesehatan yang berawal dari hal-hal simpel seperti makanan dan kehidupan sehari-hari. Jadi, saya akan senang membaca cerita kalian.

-Nootdorp, 26 Januari 2017-

Cerita Akhir Pekan – Kembali ke Dapur

Raw vegan cake. Tanpa gula, tanpa di oven, tanpa telur, dan gluten free.

Sudah lama ya rasanya tidak bercerita tentang kegiatan akhir pekan, kangen juga menuliskan di blog ini. Maklum, akhir pekan kami akhir-akhir ini selalu saja ada kegiatan yang menyita waktu, begitu minggu malam, rasanya ingin leyeh-leyeh saja. Setelah kami road trip ke Italia, minggu lalu saya pergi sendiri ke Berlin untuk kopdaran dengan beberapa blogger yang tinggal di Jerman (Beth, Mia, Mindy), Austria (Mbak Dian), dan Edinburgh (Anggi). Jadi ini semacam girls trip. Kami meninggalkan sejenak para suami di rumah. Cerita lengkapnya menyusul akan saya tuliskan, atau follow saja blog mereka karena nampaknya mereka yang akan terlebih dahulu menceritakan keseruan yang kami lalui di Berlin. Jika punya akun Instagram, bisa melihat foto-foto keseruan kami dengan hastag #mbakyuropdiberlin.

Dari kiri ke kanan : Mbak Dian, Beth, Anggi, Mia, Deny
Dari kiri ke kanan : Mbak Dian, Beth, Anggi, Mia, Deny
Beth, Anggi, Deny, Mindy, Mbak Dian. Foto dari kamera Mbak Dian.
Beth, Anggi, Deny, Mindy, Mbak Dian. Foto dari kamera Mbak Dian.

Akhir pekan ini kami tidak ada acara khusus. Karena sudah lama tidak memasak pada akhir pekan, saya merasa kangen dengan dapur. Rasanya ingin mencoba memasak sesuatu yang baru, tapi yang tidak ruwet. Sabtu pagi suami pergi ke gym setelahnya belanja di supermarket, saya di rumah bersih-bersih kamar. Tiba-tiba saya ingin makan pecel untuk makan siang karena persediaan bumbu pecel masih ada dan di kulkas stok sayuran masih bervariasi karena jumat sepulang kerja saya dan suami pergi belanja sayur dan buah. Akhirnya kami makan siang dengan pecel lauk perkedel tahu panggang. Ini sambel pecelnya sangat pedes, tapi mas Ewald doyan meskipun makannya sambil bercucuran air mata dan ingus keluar dari hidung saking pedesnya dan dia harus berkali-kali membersihkan ingus. Saya bilang kalau kepedesan tidak usah dihabiskan, tapi dia bilang pedasnya masih bisa diterima oleh lidahnya. Level pedes suami rasanya semakin hari semakin meningkat seiring istrinya tega selalu menyajikan makanan dengan rasa pedas πŸ˜€

Pecel dan perkedel tahu panggang
Pecel (sayurannya : daun basil, kecambah, sawi, buncis, ketimun, wortel) dan perkedel tahu panggang

Setelah makan siang, saya bersiap untuk membuat kue. Jadi suami malamnya ada acara dengan kerabat. Si empunya acara ini vegan. Setelah mencari resep kue vegan kesana kemari, akhirnya saya cocok dengan resep kue vegan yang ada di youtube ini karena bahannya tidak ruwet dan proses membuatnya tanpa dioven. Bahan kuenya : Tepung Almond (karena saya tidak paham tepung apa yang diterangkan di youtube tersebut, akhirnya saya ganti sendiri dengan tepung almond), air kelapa, kelapa parut, cocoa powder, vanilla extract, kurma (pengganti gula). Ini semua bahannya dicampur menggunakan tangan. Bahan isi dan lapisan luarnya : kurma, air kelapa, avocado, cocoa powder, vanilla extract, dan apel. Untuk takaran bahan-bahannya saya memakai ilmu kira-kira jadi tidak pakai timbangan. Ini baru pertama kali saya membuat kue vegan, dan tanpa di oven. Suami sempat bertanya,”kalau kuenya sudah jadi bisa dimakan?” Wah yo embuh ya mas, ora tau nggawe sebelumnya :D. Dan setelah jadi, taddaaa ternyata kuenya enaaakkk banget. Lembut, tidak terlalu manis, dan yang penting sehat dan tidak ruwet membuatnya. Kue vegan ini setengah loyang dibawa suami ke acara, dan mereka semua suka. Ah senang rasanya baru pertama membuat dan langsung sukses. Sementara suami di rumah berkali-kali buka tutup kulkas untuk makan kue ini. Dia ingin selanjutnya saya membuat kue vegan saja karena menurut dia rasanya lebih enak dibandingkan kue yang biasa saya buat. Saya yang memang tidak terlalu suka jenis kue yang manis, hanya memakan satu kali saja kue vegan coklat tersebut.

Raw vegan cake. Tanpa gula, tanpa di oven, tanpa telur, dan gluten free.
Raw vegan cake. Tanpa gula, tanpa di oven, tanpa telur, dan gluten free.
Raw vegan cake. Tanpa gula, tanpa di oven, tanpa telur, dan gluten free.
Raw vegan cake. Tanpa gula, tanpa di oven, tanpa telur, dan gluten free. Hiasan seadanya.

Sabtu malam saat suami tidak di rumah, saya tiba-tiba ingin makan Tom Yum. Saya ingat masih punya bumbu Tom Yum di kulkas yang saya buat sendiri. Tapi sayangnya saya tidak punya stok seafood. Akhirnya saya membuat Tom Yum isi sayuran : jamur, sawi, kecambah ditambah irisan cabe rawit. Sabtu malam kencan dengan Tom Yum sambil cekikikan melihat lagi foto-foto di Berlin.

Tom Yum isi kecambah, sawi, jamur.
Tom Yum isi kecambah, sawi, jamur.

Kami memulai minggu pagi seperti biasa dengan olahraga. Saya lari 5km, suami bersepeda 50km plus lari 8 km. Lalu saya sibuk di dapur menyiapkan makan siang, suami membersihkan wc dan kamar mandi. Sehari sebelumnya, saya sudah mencari resep pastel tutup karena memang belum pernah membuat dan masih ada stok kentang. Ternyata membuat pastel tutup itu gampang, tidak seruwet seperti yang saya bayangkan. Isi dari pastel tutup ini : wortel, sawi, buncis, jamur, soun, prei dan brokoli. Tinggal oseng-oseng isinya, masukkan di pinggan tahan panas, tutup dengan kentang rebus yang sudah dihaluskan, masukkan oven 190 derajat selama 22 menit. Setelah dicoba ternyata enaakk rasanya, meskipun kentangnya tidak memakai susu, keju ataupun telur. Kentangnya saya campur dengan sedikit tepung supaya agak merekat. Suami suka dengan pastel tutup ini. Hanya satu kritiknya, kok ga dikasih cabe. Duh mas, lidahmu kok lebih mengIndonesia sekarang, apa-apa harus pedas :p. Sisa adonan kentangnya saya buat perkedel panggang untuk lauk suami makan siang di kantor. Dan inilah penampakan pastel panggang pertama saya. Kami makan 3/4 loyang dan selebihnya saya bagi ke Mama mertua.

Pastel tutup isi wortel, soun, jamur, buncis, prei
Pastel tutup isi wortel, soun, jamur, buncis, prei
Pastel tutup isi wortel, soun, jamur, buncis, prei
Pastel tutup isi wortel, soun, jamur, buncis, brokoli, dan prei

Setelah makan siang dan kekenyangan pastel panggang, suami melanjutkan aktivitas menyapu dan membersihkan karpet sementara saya menjemur baju. Sekitar jam 3 kami pergi ke toko tanaman untuk membeli beberapa bunga karena bunga-bunga yang ada di rumah mati semua selama kami tinggal liburan. Setelah dari toko tanaman kami ke rumah Mama. Saya membawa pastel tutup dan kue vegan coklat. Setelah dicoba Mama, beliau sukaa sekali pastel tutup dan kue vegan coklat tersebut. Wah saya girang bukan kepalang. Mama adalah penikmat masakan saya yang paling jujur. Kalau masakan saya tidak enak, beliau akan bilang tidak enak dan makanan saya selebihnya akan dikembalikan. Untung saja selama ini baru satu kali masakan saya yang dibilang tidak enak dan dikembalikan. Kalau tidak salah semur tempe. Selebihnya beliau suka, bahkan tumis pare pete pedes pun beliau suka. Beliau ini suka makanan pedas. Kalau akhir pekan saya memang memasak agak banyak agar Mama juga bisa ikut makan masakan saya. Kalau saya sedang tidak bisa main ke rumah Mama, maka makanan akan saya titipkan pada suami karena suami setiap minggu pasti ke rumah Mama.

Setelah dari rumah Mama kami mengayuh sepeda diiringi angin yang super kencang, gerimis, dan mendung yang memang menggelayut sejak pagi. Musim panas di Belanda matahari muncul hanya sesekali. Selebihnya tetap mendung, hujan dan angin kencang. Akhir pekan kami tutup dengan berbincang ditemani kerupuk, teh jahe, kue coklat vegan dan mendung. Akhir pekan yang menyenangkan karena saya akhirnya kembali lagi ke dapur. Memasak selalu membuat saya bahagia.

Bagaimana cerita akhir pekan kalian?

-Den Haag, 7 Agustus 2016-

Pecel dan Cerita Akhir Pekan

Sunset yang muncul disaat masih ada es dimana-mana. Lovely

Mengapa judulnya Pecel? Ceritanya setelah lari pagi bareng suami, saya tiba-tiba kangen makan pecel dengan segala sayur-sayuran yang direbus plus ikan asin dan tahu goreng serta lodeh tewel. Saya kangen makan sambel pecel buatan Ibu yang pedasnya super dan rasanya tidak ada duanya enaknya (ya bagi siapapun, masakan ibu kita pasti tidak ada yang bisa mengalahkan kenikmatan rasanya). Hari minggu saya lari jam 8 pagi dengan Mas Ewald, udaranya dingin sekali dan berangin. Target lari saya kali ini 5km. Ditengah-tengah sedang berlari, tiba-tiba saya lapar dan entah kenapa terpikir ingin makan pecel dengan laut pauk komplitnya. Kemudian saya ingat, sebelum berangkat ke Belanda, ada teman SMA yang tinggal di Jakarta mengirimkan sambel pecel kepada saya. Buat tombo kangen kalau sudah di Belanda, katanya. Yiaayyy terima kasih Nuril untuk sambel pecelnya!! Berarti saya bisa makan pecel untuk makan siang. Saya selesaikan lari dengan sangat bersemangat πŸ™‚

Untung saja Jumat malam kami sudah berbelanja aneka macam sayuran. Saya dan Mas Ewald memang wajib makan sayur disetiap makan siang dan malam. Kalau pagi saya sarapan buah, sementara Mas Ewald makan roti dan keju, seperti umumnya orang Belanda. Dalam rentang seminggu kemarin juga menjadi ajang pengenalan saya ke beberapa tempat belanja yang biasa didatangi Mas Ewald. Karena saya sekarang sudah punya sepeda, maka sudah tidak ada alasan untuk tidak pergi berbelanja ke tempat yang agak jauh. Selama ini saya berbelanja di Toko Indonesia dekat rumah, di Nootdorp, karena bisa saya jangkau dengan berjalan kaki. Selain alasan dekat, saya sudah kenal dengan Ibu yang ada di Toko tersebut, sering berbincang pengalaman beliau sukses lulus ujian NT2 serta memberi semangat serta selalu meyakinkan saya bahwa saya bisa melalui ujian dengan baik, dan ujung-ujungnya Ibu tersebut sering memberi saya bonus-bonus dan diskon harga. Yang saya sebutkan terakhir tersebut adalah alasan tambahannya, yang terpenting adalah saya sudah punya kenalan dan tempat untuk berbelanja.

Saya ceritanya loncat-loncat tidak masalah ya. Karena saya terbangun jam 1 dini hari,Β  tidak bisa tidur lagi, dan mati gaya, akhirnya memutuskan untuk bercerita seputaran akhir pekan saja. Iya, jam tidur saya masih kacau. Hanya bisa tidur sekitar 3-4 jam saja. Mungkin masih beradaptasi.

Sabtu sore saya dan Mas Ewald pergi ke Zoetermeer, 10 menit berkendara dari tempat kami tinggal, untuk melihat Dance Competition. Senang sekali rasanya berbaur dengan masyarakat sekitar, dari segala jenis umur, segala kalangan. Malah saya sempat berbincang dengan beberapa orang, menggunakan bahasa Belanda yang belum lancar dicampur dengan bahasa Inggris tentunya. Bersyukurnya mereka mengerti bahwa saya baru pindah dan sedang berusaha keras untuk belajar bahasa Belanda dan sedang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Hal tersebut yang juga menjadi tujuan Mas Ewald menyuruh saya untuk mandiri, pergi kesana sini sendiri. Karena saya orangnya tidak bisa diam, maka saya sering sekedar jalan-jalan untuk mengerti lingkungan sekitar bagaimana. Sudah beberapa kali pergi sendiri naik kereta, trem ataupun bus. Pergi sendiri paling jauh ke Utrech, mengunjungi seorang teman. Saya juga sudah familiar dengan aplikasi Reisplanner dan Google Map yang mempermudah saya untuk mengetahui dan mendapatkan info tentang kendaraan umum apa yang harus digunakan untuk pergi kesuatu tempat serta jadwalnya. Mertua saya selalu mencemaskan, takut kalau saya kesasar. Tapi saya selalu mengatakan kepada beliau bahwa saya bisa survive dengan segala angkutan umum di Jakarta dan di Surabaya yang jauh lebih tidak teratur dibandingkan dengan Belanda, mestinya saya juga bisa survive di Belanda πŸ™‚

Hari minggu sore, setelah sibuk beres-beres rumah, kami memutuskan untuk bersepeda ke Delft, menunjukkan rute tempat berbelanja yang lainnya. Sebelum ke Delft, kami mampir ke rumah mertua, ingin menunjukkan ke Pappa dan Mamma kalau saya sudah punya sepeda dan akan sering-sering mengunjungi mereka meskipun tidak dengan Mas Ewald karena saya sudah tahu rute bersepedanya. Pappa dan Mamma sangat senang melihat saya dengan sepeda baru, juga senang mendapatkan kunjungan dari anak dan menantunya. Pappa dan Mamma juga sangat disiplin mengajari saya berbahasa Belanda. Meskipun mereka bisa berbahasa Inggris, bahkan Mamma bisa berbahasa Indonesia, karena pernah tinggal lama di Jakarta, tapi mereka selalu mengajak saya untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Belanda. Mamma bahkan sangat telaten selalu membimbing saya untuk memperlancar kemampuan berbicara. Jadinya, mau tidak mau setiap hari saya harus memperbanyak kosakata dan pelan-pelan mempraktekkan dengan Suami meskipun porsinya masih sering menggunakan bahasa Inggris. Setelah dari rumah Mertua, kami melanjutkan bersepeda menuju Delft. Sore yang dingin dan berangin. Membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai ditempat kami berbelanja. Sepanjang jalan, Mas Ewald menerangkan berbagai macam rambu bersepeda. Pemandangan yang sangat mengagumkan sepanjang bersepeda, membuat saya sering menghentikan kayuhan sejenak untuk mengabadikannya. Setelah selesai berbelanja sayuran dan roti, saya juga menyempatkan untuk jalan-jalan disekitar Stadhuis. Entah kenapa, saya selalu suka dengan suasana Delft.

Kambali ke Pecel, ternyata ini kali pertama Mas Ewald merasakan makan dengan menggunakan sayuran yang diguyur Sambal Pecel. Awalnya sempat berkerut dan sayurnya hanya dimakan sedikit. Tapi lama kelamaan dihabiskan, malah nambah bumbu pecelnya. Sayur yang saya gunakan juga seadanya dikulkas. Dan semuanya mentah (kacang panjang, wortel, timun, rucula kecuali bimi yang saya celup sebentar di air mendidih). Saya sendiri puas dengan makan lalapan sambal trasi. Meskipun tidak memenuhi pakem pecel sesuai aslinya, saya senang Mas Ewald menikmati pengalaman pertamanya makan pecel. Walaupun tidak ada ikan asin ataupun sayur lodeh tewel yang saya inginkan, tapi sudah cukup puas makan dengan tahu goreng.

Dari cerita gado-gado tentang akhir pekan saya, senang rasanya kembali mempelajari hal-hal yang baru. Senang juga orang-orang disekitar saya mendukung proses adaptasi, dari Mas Ewald yang selalu mengajarkan saya untuk mandiri, mengenalkan saya kepada kegiatan-kegiatan baru dan rute-rute perjalanan yang baru, Mertua yang selalu berusaha untuk memperlancar komunikasi bahasa Belanda saya, sampai saya sendiri yang memang bertekad kuat untuk mengalahkan segala kekhawatiran yang ada. Selalu ada sesuatu yang baru, dan setiap hari akan ada hal-hal baru yang bisa kita pelajari sebagai bagian dari perjalanan hidup. Mungkin akan banyak hal yang tidak sesuai yang kita harapkan, tapi itulah hakikat beradaptasi, menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada.

Hari ini tepat 6 bulan usia pernikahan kami. Memang masih seumur jagung dan kami menyadari bahwa proses pengenalan menjadi pembelajaran yang tidak akan pernah berakhir, selalu terjadi setiap saat, menemukan hal-hal baru dari pasangan, sampai kapanpun juga. Seperti halnya pecel yang terdiri dari beberapa sayuran, dan tidak lengkap jika hanya satu sayuran saja, maka kami selalu berdoa, apapun perbedaan yang ada diantara kami, mampu saling melengkapi satu sama lain, saat ini dan nantinya.

Selamat Hari Senin, dan semoga cerita akhir pekan kalian juga menyenangkan ^^

-Den Haag, 9 Februari 2015-

Beruntung dikirim sambel pecel oleh teman SMA yang di Jakarta. Mengobati kangen makan pecel pas makan siang di Surabaya
Beruntung dikirim sambel pecel oleh teman SMA yang di Jakarta sebelum saya berangkat ke Belanda. Mengobati kangen makan pecel ketika makan siang di Surabaya
Menuju Delft naik sepeda bareng suami, meskipun dingin banget dan berangin, tapi tetap senang karena pemandangannya menyenangkan
Menuju Delft naik sepeda bareng suami, meskipun dingin banget dan berangin, tapi tetap senang karena pemandangannya menyenangkan
Setelah belanja sayuran selesai, jalan-jalan sebentar diseputaran Stadhuis Delft
Setelah belanja sayuran selesai, jalan-jalan sebentar diseputaran Stadhuis Delft
Bangunan ini apa ya namanya. Dua kali datang kesini lupa terus mau cari tahu tentang namanya. Nanya Suami katanya Gereja
Bangunan ini apa ya namanya. Dua kali datang kesini lupa terus mau cari tahu tentang namanya. Nanya Suami katanya Gereja

Pict1

Pict2