Kebiasaan Saat Makan

Meskipun saya bukan tipe orang yang terlalu rewel dalam urusan makan, tetapi kadang juga termasuk tipe pemilih. Ada beberapa hal yang tidak bisa ditawar atau menjadi kebiasaan saat makan. Kebiasaan ini ada yang masih berlangsung sampai saat ini tapi juga ada yang perlahan bisa dihilangkan.

  • Kuah Pisah

Saya paling tidak bisa kalau makan yang berkuah terus dicampur dengan nasinya. Jadi, nasi harus dipisah dengan kuah. Tapi kalau kuah dimakan dengan lontong, masih bisa. Entah kenapa rasanya geli kalau makan yang berkuah ada nasinya. Melihat nasi mengambang atau ada di dalam kuah itu, entahlah rasanya tidak bisa dijelaskan. Geli lihatnya haha. Jadi saya tim kuah pisah dengan nasi :))))

  • Lebih Suka Makan Pakai Sendok

Meskipun dari kecil kebiasaan melihat Ibu dan hampir seluruh keluarga besar kalau makan pakai tangan (tidak menggunakan sendok) dan saya biasa disuapin dengan tidak menggunakan sendok, tetapi saya tumbuh besar mempunyai kebiasaan makan dengan menggunakan sendok. Pada dasarnya saya ini memang orang yang suka geli-an. Geli di sini maksudnya agak jijik an, jadi kalau makan tanpa menggunakan sendok, saya geli saat lihat tangan sendiri kotor. Duh, sok ratu banget ya saya haha. Tapi memang begitulah kenyataannya. Tetapi lama kelamaan akhirnya saya belajar supaya tidak geli sendiri, belajar makan tanpa menggunakan sendok. Sudah lumayan sering sih, meskipun frekuensinya ya tidak sangat sering. Minimal sudah bisa meredam ke-geli-an saya kalau lihat tangan kotor. Ngomong tentang kotor, saya juga paling tidak suka kalau hujan terus kaki saya kecipratan air hujan dari jalanan trus akhirnya kaki saya kotor. Pasti langsung saya bersihkan, tidak bisa berlama-lama. Saya lebih suka pakai sandal dibandingkan sepatu, tapi tidak suka kalau kaki kotor *rewel :))))

  • Durasi Makan Lama

Kalau yang ini, tidak diragukan lagi. Lamanya tidak ketulungan, sampai suami saya selalu geregetan kalau makan bareng. Kalau saya pikir-pikir lagi, ini awalnya mungkin karena sejak kecil (sampai sekarang) makan selalu sambil baca buku. Jadi konsentrasi makan terpecah antara makan dan baca buku. Saya makan bisa lebih dari setengah jam. Makanya, saya paling benci kalau makan diburu-buru. Saya ingat sekali pernah membentak teman kuliah waktu makan bakso di kampus karena dia buru-buru mau masuk kelas. Dia sampai kaget saya bentak hanya perkara makan yang super pelan haha. Tapi sekarang saya mulai belajar makan dengan tempo yang lebih cepat. Mulai membiasakan makan tidak baca buku, tapi tetap saja agak lama karena makan sambil ngelamun haha. Saya dan adik-adik sama saja, kami makannya lama. Padahal Ibu Bapak kalau makan cepet. Selama adik di Belanda, suami suka ngeledekin, “siapa nih yang menang, makan terlama” 😅

  • Suka Makan Sayur Kecuali ….

Meskipun Ibu adalah wanita pekerja dan di rumah ada pembantu, tetapi untuk urusan makan Ibu selalu memasak sendiri untuk semuanya. Jadi Ibu selalu bangun sebelum adzan subuh lalu mulai menyiapkan semuanya untuk memasak dari memasak nasi, lauk pauk dan sayur. Jam setengah tujuh pagi, Ibu sudah berangkat mengajar. Satu yang tidak pernah absen adalah sayur hijau harus selalu ada di meja makan. Jadi semacam sayur rebus gitu atau lalapan mentah. Meskipun kadang Ibu membuat sop sayur, tetapi tetap disediakan sayuran hijau. Akhirnya saya terbiasa sejak kecil makan sayur atau lalapan. Semua sayuran saya suka, kecuali kacang panjang. Saya kalau melihat kacang panjang seperti melihat ulat haha. Entah kenapa imajinasinya seperti itu. Karenanya, sayuran seenak apapun, tidak akan saya sentuh kalau ada kacang panjangnya. Tidak ingat pasti sejak kapan saya akhirnya mulai bisa makan kacang panjang. Kalau lodeh dikasih campuran kacang panjang, saya akhirnya bisa makan. Meskipun masih agak PR kalau mau makan lalapan kacang panjang.

  • Nasi Dikepel

Saya di masa kecil tumbuh jadi anak yang biasa disuapin. Ya sampai umur sebelum masuk TK. Nah, saya paling suka kalau disuapi nasi yang dikepel dengan lauknya. Dan favorit saya adalah nasi hangat yang dikepel dengan perkedel. Semakin besar, bertambah lagi kesukaan saya makan nasi dikepel dengan kuning telur ditambah sambel buje cabbi (sambelnya orang Madura, cabe dengan garam saja). Sampai sekarang, kalau saya sedang malas makan, ya akhirnya makan nasi dikepel kalau tidak dengan perkedel ya dengan kuning telur pakai sambel cabe garam.

  • Tidak Suka Bubur, Kecuali ….

Jika banyak orang suka sekali dengan yang namanya bubur ayam, tidak demikian dengan saya. Bahkan jauh dari Indonesia seperti ini, tidak membuat saya menjadi orang yang ingin sekali makan bubur ayam. Biasa saja. Sebenarnya secara keseluruhan saya memang bukan penggemar bubur. Meskipun bukan penggemar bubur, tetapi ada satu jenis bubur yang saya suka yaitu Tajin Palappa. Ini bubur khas Madura. Wah kalau bubur ini, saya doyan sekali. Saya pernah menjelaskan tentang Tajin Palappa di tulisan yang ini.

Tajin Palappa pakai hongkong (ote ote). Kalau di rumah Orangtua, setiap pagi saya bisa sarapan ini. Sumber foto http://kooliner.com/blog/main-ke-baluran-nikmati-tajin-palappa-situbondo/
Tajin Palappa pakai hongkong (ote ote). Kalau di rumah Orangtua, setiap pagi saya bisa sarapan ini. Sumber foto http://kooliner.com/blog/main-ke-baluran-nikmati-tajin-palappa-situbondo/

  • Tidak Harus Pakai Kerupuk Dan Sambal

Saya punya teman, kalau makan harus ada kerupuk dan sambal. Tanpa dua pelengkap tersebut terutama kerupuk, dia tidak bisa mulai makan. Jadi harus ada kerupuk disetiap dia makan. Kata dia, bukan orang Indonesia kalau makan tidak ada kerupuknya. Wah, berarti saya bukan orang Indonesia donk ya haha karena bisa makan tanpa kerupuk. Saya kalau makan tidak terbiasa dengan kerupuk berbarengan dengan makanan utama. Jika tidak makan kerupuknya di awal, pasti di akhir. Kalau makan berbarengan gitu, agak ribet buat saya. Tapi paling enak kalau makan soto atau rawon, atau bakso, kerupuknya dicelup di kuah. Ehhmm, Lekker! Sambel pun tidak harus ada sekarang. Jadi makan tanpa sambel pun tak mengapa. Sama seperti saya sekarang tidak harus makan nasi. Tapi yang pasti sehari harus ada karbohidrat satu kali yang saya konsumsi.

  • Lebih Baik Asin Daripada Manis

Nah ini, masalah rasa. Walaupun saya Jawa tulen, tapi saya tidak terlalu suka makan yang rasanya manis. Jelas ini terpengaruh dari lingkungan tinggal karena saya dari Jawa Timur apalagi lingkungan saya tumbuh besar yang memang mayoritas orang Madura. Terbiasalah saya mengkonsumsi makanan asin dibanding makanan manis. Sampai saya membuat perumpamaan : bisa hidup tanpa gula tapi susah kalau tanpa garam. Saya tidak terlalu suka kue yang rasanya manis. Mending makan dadar jagung yang rasanya asin haha perbandingannya jomplang banget. Saya tidak terlalu suka makan trus dicampur kecap. Tapi kalau nasi hangat dikasih kecap makan dengan telor ceplok, wah itu susah ditolak :))) Saya ingat punya teman kuliah yang kemana-mana (di dalam tasnya) bawa kecap. Makanan apapun pasti dikecapin sama dia. Sampai pernah dia makan sayur asem dikecapin juga. Untung sewaktu makan rawon tidak dikecapin juga haha.

  • Makan Jangan Dicampur

Ini masih lanjutan dengan rasa geli. Saya tidak bisa makan kalau isinya diaduk atau dicampur-campur. Contohnya : kalau makan nasi padang, selain saya tidak suka kalau nasi diguyur kuahnya, saya juga tidak suka kalau semua nasinya diaduk dengan kuah atau sayuran lainnya (nangka atau rebusan daun singkong). Kalau dibungkus pun, sebisa mungkin saya minta dipisah antara nasi dan lauknya biar tidak bersatu *terpisah sesaat :))). Sama saja dengan makan bubur, tidak bisa kalau saat makan harus diaduk campur semua. Makan mie ayam juga begitu, mienya dimakan sendiri tidak dicampur dengan kuahnya. Mienya harus bebas kuah. Intinya makan tidak diaduk dan dicampur. Btw, disaat banyak orang mengidolakan nasi padang, saya malah biasa saja dengan nasi padang. Entah kenapa, mungkin karena bersantan ya dan ada kuah kentalnya (padahal ya bisa saja pesan menu lainnya) . Saya kalau beli di restoran padang pasti menunya sama : ikan bakar dan sambel hijau plus sayur daun singkong. Sudah itu saja, tidak tertarik dengan menu lainnya.

  • Tidak Bersuara

Sejak kecil diajari oleh Bapak kalau makan mulut harus tertutup, tidak boleh mengeluarkan bunyi apapun, tidak boleh bersendawa. Jadi sampai sekarang terbiasa makan tidak berbunyi. Makanya paling tidak suka mendengar orang makan yang berbunyi dan bersendawa. Padahal untuk hal ini, masing-masing tempat berbeda ya. Ada yang kalau bersendawa atau makan berbunyi artinya pujian kepada yang masak dan artinya masakannya enak. Walaupun tetap saja, telinga agak risih kalau dengar orang makan berbunyi dan bersendawa. Cuma ya ditahan-tahan saja, kalau ga kenal ya masak langsung nyolot :)))) kalau adik saya sih ya langsung saya tegur.

Duh, rewel sekali ya kebiasaan makan saya. Untung dapat suami yang tabah haha. Tapi kalau dalam keadaan yang kepepet sekali, entah kenapa saya jadi mendadak bisa fleksibel. Terutama kalau sedang jalan-jalan. Tingkat kerewelan dan keruwetan saya mendadak melorot levelnya, jadi santai.

Yang akan saya ceritakan sekilas ini sebenarnya bukan tentang kebiasaan makan, tapi masih ada hubungannya dengan makan. Jadi kami sekeluarga bukan dari keluarga yang berkelebihan, cukupanlah. Tapi untuk makanan yang beli, sangat jarang sekali kalau tidak ada hari yang spesial misalkan ulang tahun atau ketika Bapak dan Ibu ada sedikit lebih rejeki. Nah, salah satu kesempatan untuk makan enak (beli di luar maksudnya) justru datang saat sakit. Jadi kalau ada anak-anaknya yang sakit, Bapak dan Ibu selalu bertanya, ” mau beli makan apa? sate atau soto ayam atau martabak atau mie goreng atau apa?” Sedangkan kalau dipikir-pikir, kalau sedang sakit kan mulut ga enak ya buat makan. Agak pahit gitu. Jadinya ya males ditawari untuk beli makanan diluar. Kenapa gak kalau pas lagi sehat aja ditawarinnya :)))

Kalau kalian, apa kebiasaan makan yang unik atau bahkan kadang mungkin berasa agak merepotkan untuk kalian sendiri atau orang sekitar?

Menu makanan favorit saya. Terong goreng, perkedel, telor dadar dan sambel petis Madura. Menu seperti ini selalu mengingatkan masa ngekos di Surabaya. Hampir selalu makan malam di warung penyetan. Bedanya di sambel saja. Ahhh saya jadi kangen warung penyetan di sekitar kampus (dekat Sakinah)
Menu makanan favorit saya. Terong goreng, perkedel, telor dadar dan sambel petis Madura. Menu seperti ini selalu mengingatkan masa ngekos di Surabaya. Hampir selalu makan malam di warung penyetan. Bedanya di sambel saja. Ahhh saya jadi kangen warung penyetan di sekitar kampus (dekat Sakinah)

-Nootdorp, 12 Agustus 2017-

32 thoughts on “Kebiasaan Saat Makan

  1. Aku kalau makan nasinya separo tapi lauknya banyak. Dulu jaman ngantor suka diketawain orang karena ayamnya selalu dua potong. Terus soal menu makanan, aku gak bosenan, jadi kalau jaman makan siang dulu bisa makan nasi, telur dadar sama sayur bayam selama seminggu penuh!

    1. Wah, soal menu makanan yang sama selama seminggu ini kayak suamiku Ail. Aku sampai heran dia bisa makan dengan menu sama selama seminggu penuh. Sampai aku selalu nanya apa dia ga bosen. Eh ternyata dirimu juga.

    1. Iya Pak Alris, kalau lihat orang makan nasi padang pakai tangan dengan kuah banyak gitu rasanya kok nikmat. Begitu nyoba sendiri, geli soalnya lengket ke tangan haha.

  2. Kalo ditilik-tilik dari kebiasaan makan, Deny ini cocoknya jadi orang Jepang, hahaha…
    Cocok kan, ada nasi kepal alias sushi, miso soup dipisah, lauk pauk selalu di wadah terpisah dan ga pake kerupuk. Bubur juga kayaknya ga banyak di Jepang, tapi meneketehe ya 🙂

    1. Ahahaha oh iyaaaa ya Dit, aku ga sampai mikir ke situ. Benar benar, orang Jepang kan kalau makan dipisah2 gitu pelengkapnya. Diambil kalau pas lagi mau makan aja. Boros di cucian piring sebenarnya haha, ga ringkes.

  3. Aku juga nih, gak demen kuah digabung! Pokoknya harus pisah. Kecuali kalo lagi sakit hahahaha yang penting tertelan… dan nggak hambar!
    Aku kalau makan nggak usah ada sambel atau kerupuk juga Den. Dan suka dibercandain org suku Chinese macam apa aku, soalnya kalau makan pasti pakai sendok garpu… atau pakai tangan

    1. Bener Mar, kalau sakit, kuah campur nasi ketelen ya jadinya hahaha. Kalau lagi sehat, harus dipisah.
      Oh iyaaa, mustinya pakai sumpit yaaa hahaha. Temenku yang orang Padang juga pernah komenin aku “kamu ini Jawa apa, makan kok pakai sendok” :))))

  4. Aku ada sama denganmu soal makan lama & makan pake sendok, mbak. Kalo bubur, kacang panjang, nasi Padang, sampe kuah soto dicampur nasi. Hajar aja. Haha.

    1. Waaahhh makannya lama juga yaa. Pas lah Frany kalo kita ketemuan. Sama2 lama makannya hahaha jadi ga terburu2. Menikmati makananan :))))

  5. berarti mbak deny mesti sering jalan-jalan biar makannya juga bisa lebih fleksibel…
    iyes mbak aku mbacanya juga sepintas mikir yg sama kayak mbak deny “duh rewel sekali ya kebiasaan makannya?” hehe….

    1. Makanya banyak doa semoga keturunan kami ga rewel nanti masalah makan haha. Iya Mbak, musti banyak nabung nih, biar bisa jalan2 supaya makannya ga rewel *makan ga rewel tapi keluar duit buat jalan2 haha.

  6. Kalau aku dulu itu paling ga bisa lepas sama kecap manis dan sambal, Mbak. Jadi apapun makanannya pasti diguyur sama 2 jenis itu, padahal aku sebenernya ga suka manis. Tapi sekarang udah ga begitu lagi.:D
    Aku paling ga demen sama seledri, menurut ku rasa dan aromanya terlalu kuat, jadi ga rasa yang lain ketutupan.

    1. Ah iya bener wulan, seledri itu aromanya kuat ya memang. Kalau dicampur perkedel atau sop gitu aromanya kuat banget. Aku akhir2 ini juga ga kuat sama aroma seledri. Kalau suami nih suka gadoin celery yang batangnya gede itu. Duh aku nyium aromanya aja ga tahan. Padahal dulu aku juga sering gadoin dan kubikin campuran jus.
      Wah kamu hampir mirip temanku, ga lepas dari kecap haha. Ga tau sekarang dia masih suka bawa kecap apa ga. Lama ga ada kontak

  7. Haha, lomba makan terlama. Btw Mba, kalo aku agak aneh. Padahal aku kan pecinta pedas. Tapi, aku gapapa makan yang plain gitu. fleksibel deh, bisa makan dengan banyak sambel atau ga ada sambel sama sekali yo wis ga masalah.

    1. Nah, mungkin karena sudah sering jalan2 Ji jadinya lebih fleksibel sekarang. Jadi meskipun kalau aslinya doyan banget pedes, tapi sejak dilatih jalan2 ke tempat yang ga selalu ada sambel, jadinya lebih santai masalah sambel

  8. Aku apa ya? Semuanya sih fine aja, maksudnya kayak nasi mau dicampur atau dipisah, ok..

    oiya, gak suka makan pake tangan, haha.. makan ayam goreng aja aku kadang bisa pake sendok garpu hihihi.. Sangking males cuci tangan kali ya..

    Yang aku gak suka cuma pete, jengkol dan seledri ( ini kalau disini tuh tulisan celery, jadi bukan kayak daun seledri gitu, buat aku rasanya anehh aja dan bau hihi ) Sisanya ku makan deh yang lain2..

    1. Tosss Inly!! makan pakai sendok :))) makan ikan bakar aja pakai sendok. Padahal kan nikmat banget kalau pakai tangan gitu haha.
      Aku celery akhir2 ini juga ga suka baunya. Suamiku suka banget tuh digadoin. Padahal aku dulu suka lho, ikut ngegadoin bahkan kucampur jus sayuran. Sekarang lihat batangnya aja males haha. Rasaya manis padahal. Sama kita, jengkol juga ga suka.

      1. Haha.. Toss.. aku kalau bisa sama sekali gak suah pake tangan, alasannya males cuci tangan, jorok bener ya haha.. Iya, kok baunya aneh terus kalau aku coba gak bisa krenyes2 gitu si celerynya haha.. Jengkol pernah nyoba tapi gak suka juga.. Jadi gak makan deh..

  9. Klo aku makan seringnya pake tangan den lebih nikmat,dan ngomong2 soal nasi kepel waktu kecil juga aku suka disuapin kaya gitu dan kdg skg juga klo iseng suka makan nasi panas dikepel aja pake garam udah enak,hehehehe

    1. Sebenarnya memang nikmat banget Ulfa kalau makan pakai tangan. Apalagi kalau makan ikan bakar gitu ya.
      Tosss kita, suka makan nasi kepel haha.

  10. kalau makans ambil baca, termasuk kebiasaan unik gak ya

    saya juga suka makan kuah dioisah, nakan soto nasi dipisah, makan bubur gak mau diadik-aduk geli,,,,

    1. Sama kayak aku, makan sambil baca. Menurutku bukan unik, tapi bikin lama haha.
      Ahh toss!! makan bubur ga mau diaduk karena geli.

  11. suka banget telor dadar,
    tim bubur gak diaduk, apapun gak diaduk kecuali mie ayam 😀

    daaan, makannya luamaaa bgt ahaha..
    sampe2 gakmau ikut makan di tempat makan kalo bareng yg lain, watir mereka nungguin. meski akhirnya belajar makan sendiri di luar dan makan lebih cepat :D, dan udh biasa sekarang.

    gak tahan juga sm makanan manis, kaya gudeg dkk, yg ada kecap2nya, tapi gakbisa juga asin2, jd keseringan makan dengan bumbu yg biasa aja, anyep gpp asal jgn dominan asin ato manis. tapi siy, intinya gak rewel jugak, segala dimakan, gda yg g doyan 😀

    1. Wahahahaha Toss Tin!! cocoklah kita makan bareng karena saking lamanya haha. Aku juga seringnya sungkan kalau makan sama keluarga suami, karena habisnya pasti terakhir sendiri. Lama2 mereka maklum haha.

Thank you for your comment(s)