The New Normal

Hai, apa kabar? mau menyapa sejenak dunia per-blog-an. Saya ingin menuliskan hal-hal baru yang akhirnya bisa menjadi bagian hidup sehari-hari setelah 6 minggu beradaptasi.

  • DIAM DI RUMAH. 

Buat saya, diam di rumah bukanlah hal baru. Sejak berhenti kerja akhir tahun 2017, kegiatan saya ya kebanyakan di rumah. Tapi diam di rumah kali ini berbeda. Biasanya saya suka spontan jalan-jalan ke luar rumah tanpa harus ada alasan kuat. Misalkan, ke supermarket hanya sekedar cuci mata, jalan sore ke taman bermain, jalan pagi ke sekeliling rumah, atau tiba-tiba pergi ke kota karena cuaca sedang cerah. Sekarang kami sudah beradaptasi, tidak bisa lagi seperti itu. Kami benar-benar diam di rumah saja jika tidak ada kepentingan ke luar.

  • KE TEMPAT YANG SEPI

Setiap sore, kami menyempatkan untuk sepedahan. Tujuannya ya ke tempat-tempat yang sepi semacam hutan, danau, peternakan, atau sekadar sepedahan keliling kampung. Beruntung kami tinggal di kampung, jadi kesempatan berpapasan dengan banyak orang di tempat-tempat yang saya sebutkan di atas sangat kecil. Jika salah satu tempat tersebut ramai, kami tidak akan berhenti di sana. Kami melanjutkan perjalanan sampai ketemu tempat yang sepi. Apalagi sejak Intelligent Lockdown diberlakukan di sini, entah kenapa cuaca mendadak nyaris selalu cerah setiap hari. Karenanya kami menyempatkan sepedahan setiap sore.

Hutan dekat rumah
Hutan dekat rumah
  • MENJAGA JARAK

Saat pemerintah mulai menganjurkan secara keras untuk menjaga jarak minimal 1.5 meter, saya malah merasa takut kalau bertemu orang. Kalau dari jauh terlihat ada orang yang berjalan ke arah saya,  cepat-cepat saya mencari cara supaya tidak berpapasan. Waktu itu saya benar ketakutan bertemu orang. Sekarang sudah tidak lagi. Perlahan perasaan cemas hilang dan otomatis jika bertemu orang langsung menjaga jarak. Berbicara dari jarak jauh.

  • MEMAKAI MASKER

Belanda tidak menyarankan untuk memakai masker. Tapi kami selalu membawa masker jika ke luar rumah dan memakainya jika bertemu orang. Bahkan suami saya menggunakan masker jika pergi ke supermarket retail. Kami punya masker dua jenis. Yang dari kain dan masker N95. Yang dari kain kami membeli dari orang Indonesia tinggal di sini, sedangkan masker N95 kami pesan sejak pertengahan Februari 2020 saat belum ada kasus di Belanda.

IMG_6387
Masker Kain
  • BELANJA MINGGUAN ONLINE

Sejak 6 minggu lalu, kami sudah tidak belanja mingguan ke supermarket lagi. Terutama saya karena terakhir ke supermarket tanggal 13 Maret 2020. Jadi sampai detik ini, saya tidak tahu sama sekali secara nyata perubahan apa yang ada di supermarket. Sedangkan suami sesekali pergi ke supermarket tapi yang retail jika ada kebutuhan yang mendesak. Setiap minggunya, kami berbelanja online. Menyenangkan berbelanja mingguan online, tapi perjuangannya tidak mudah. Slot jadwal pengiriman dibuka tidak setiap saat. Jadi harus benar-benar memantau aplikasinya. Saya selalu mendapatkan slot jika membuka aplikasi sekitar dini hari. Beruntung selama ini kami selalu mendapatkan slot dua minggu berturut. Jadi belanja mingguan aman.

  • SEMUANYA BELANJA ONLINE

Tidak hanya belanja mingguan saja yang online, semua belanja apapun kami lakukan secara online. Dulu tidak terbiasa karena kami lebih memilih datang langsung ke toko. Sekarang beli pelembab badan atau pasta gigi sebiji saja beli online.

  • MEMBUAT ROTI SENDIRI

Karena kami sudah tidak lagi pergi ke supermarket dan bakery, walhasil saya “terpaksa” membuat roti sendiri. Roti merupakan makanan sehari-hari di rumah kami. Jadi bukan sebagai camilan, tetapi sebagai makanan utama setiap makan malam. Dari awal yang saya buta sama sekali tentang tepung, jenis ragi, sekarang sudah lumayan bisa otak atik resep, otak atik cara membuatnya bahkan mulai bisa membuat desain eksperimennya. Nanti kapan-kapan kalau senggang, saya akan tuliskan tersendiri tentang perjalanan saya membuat roti.

Salah satu roti buatan sendiri. Roti tawar dan roti isi
Salah satu roti buatan sendiri. Roti tawar dan roti isi
  • BERTEMU OMA DARI JARAK JAUH

Akhirnya dua minggu lalu kami ke rumah Oma (Mama mertua saya). Sebelumnya sudah saya tuliskan tentang bagaimana kami tidak bisa bertemu Oma, di sini. Kami bertemu Oma dengan jarak yang sangat jauh. Jadi Oma membuka pintu rumah, berdiri di belakang pintu dalam rumah, dan kami berdiri di jalan. Tidak bisa ngobrol terlalu lama karena Oma sudah tidak terlalu kuat berdiri lama. Pertemuan pertama setelah 1 bulan tidak bertemu, berlangsung haru. Oma menangis, saya apalagi, sesenggukan. Merasa nelangsa kami sekarang tidak bisa lagi duduk di ruang tamu berbicara santai. Merasa nelangsa karena tidak bisa lagi sering – sering ke sana. Tapi masih bersyukur bisa melihat keadaan Oma.

  • SERING VIDEO CALL
<li> Saya dan suami bukan tipe orang yang suka video call-an. Entah, males aja gitu nelpon sambil lihat muka yang ditelpon haha. Tapi sejak 6 minggu terakhir, mau tidak mau kami jadi rajin menggunakan video call. Menelepon Oma atau saudara-saudara di Indonesia. Sekarang jadi terbiasa menelepon sambil melihat mukanya.</li>
  • BERSIH-BERSIH RUMAH BERDUA

Sejak awal tahun lalu (2019), setiap dua minggu sekali ada Mbak yang datang untuk bersih-bersih rumah. Enam minggu terakhir, kami kembali gotong royong bersih-bersih rumah. Nanti kalau keadaan sudah aman, kami akan menggunakan jasa bersih-bersih rumah lagi

  • SETIAP SAAT WAKTU KUMPUL KELUARGA

Suami sudah mulai kerja dari rumah sejak 12 Maret 2020. Meskipun kerja dari rumah, dia benar-benar seperti kerja di kantor. Sering meeting online juga. Turun ke bawah hanya jika mau ambil minum dan snack sekitar jam 10 dan saat makan siang. Sore jika sudah selesai jam kerja, kami baru jalan-jalan. Secara keseluruhan, tidak ada bedanya dengan dia bekerja di kantor. Hanya saat makan siang kami bisa bersama dan jika ada hal yang mendesak saya bisa minta bantuannya. Menyenangkan buat saya karena merasa tenang ada suami di rumah. Merasa lebih tenang dan senang.

  • BELUM NAIK KENDARAAN UMUM LAGI

Terakhir naik kendaraan umum tanggal 10 Maret. Sampai sekarang belum pernah naik kendaraan umum lagi. Kalau lihat bis atau tram yang lewat, kangen sebenarnya. Nanti-nanti saja kalau sudah aman.

  • KEHILANGAN SPONTANITAS

Kami sudah beradaptasi untuk tidak spontan lagi saat ini. Dulu kalau cuaca cerah, menjelang makan siang biasanya kami spontan punya rencana ke luar rumah ke mana. Sekarang kalau cuaca cerah, ya tujuannya ke mana lagi kalau bukan ke tempat yang sepi atau tinggal saja di rumah. Kangen sebenarnya spontan bisa jalan-jalan ke supermarket tanpa membeli apa-apa. Nanti saja, kalau keadaan sudah membaik kembali. Akan ada saatnya.

 

Begitulah beberapa adaptasi yang kami lakukan sehubungan dengan kondisi terkini. Adaptasi selama 6 minggu terakhir yang merupakan the new normal buat kami.

Saat menulis, di sini masih waktu Maghrib malam Ramadhan hari pertama. Selamat menjalankan Ibadah puasa Ramadhan untuk teman-teman yang menjalankan. Semoga diberikan kelancaran, kesehatan yang baik, dan berkah. Insya Allah Ramadhan kali ini saya sudah ikut berpuasa, semoga bisa khatam Al-Qur’an juga selama sebulan ini. Walaupun Ramadhan tahun ini yang rencananya saya bisa berpuasa dengan keluarga di Indonesia, tapi ternyata belum berjodoh untuk bisa pulang karena pandemi, semoga saya dan keluarga di sini diberikan umur panjang dan sehat sehingga bisa bertemu keluarga di Indonesia dalam keadaan yang jauh lebih baik.

Semangat buat kita semua. Semoga keadaan berangsur membaik dan kita diberikan perlindungan sehingga selamat dan hidup melewati pandemi ini.

IMG_6186

-23 April 2020-

Lebaran Kali Ini (2019)

Seperti layaknya lebaran-lebaran tahun sebelumnya, setelah saya menetap di sini. Sepi, tak ada bedanya dengan hari-hari biasanya. Kecuali kalau ikutan sholat di Masjid Al Hikmah di Den Haag atau ikut halal bihalal di rumah dinas Dubes, baru berasa suasana lebaran. Tapi karena saya tidak ke mana-mana, jadi ya biasa saja suasana lebaran tahun ini.

Awalnya saya sudah berencana akan ikutan halal bihalal. Namun saya cukup sadar diri dengan situasi yang tidak memungkinkan, akhirnya ya di rumah saja. Tahun ini adalah tahun ketiga saya tidak puasa Ramadan. Kangen pastinya ikutan puasa. Mudah-mudahan tahun depan bisa kembali puasa Ramadan. 

Tidak ada rencana pasti apakah saya akan memasak khusus untuk lebaran, seperti tahun-tahun sebelumnya. Masih belum tertebak situasinya. Tapi H-1, ternyata cukup kondusif keadaan di rumah, secepat kilat saya memasak dengan bahan-bahan yang ada di freezer dan di kulkas. Intinya tidak memaksakan diri. Bisa masak, bersyukur. Kalau tidak, ya makan yang ada saja. Niatnya saya memasak yang agak banyak, jadi bisa diantar ke tetangga-tetangga. 

Di Belanda, lebaran jatuh pada hari selasa, 4 Juni 2019. Lebih cepat satu hari dari lebaran di Indonesia. Suami berinisiatif bekerja dari rumah, jadi tidak berangkat ke kantor. Katanya supaya saya tidak terlalu sedih lebaran jauh dari keluarga, padahal dia ingin makan siang mewah haha.

Hidangan Lebaran
Hidangan Lebaran

Singkat cerita, inilah hidangan lebaran yang bisa saya masak. Kecuali rendang yang beli dari kateringan padang di Den Haag, selebihnya saya masak sendiri. Lodeh labu siem tahu, sambel goreng kentang ati, telor petis, sate ayam, lontong, dan opor ayam tahu. Terharu juga dengan waktu yang tidak banyak bisa masak beberapa macam. Kami sekeluarga makan siang bersama, merayakan lebaran di rumah.

BAB40E94-3B27-4E59-8F6B-F0F7ABAD99C0

Sorenya saya menghantarkan makanan-makanan tersebut ke beberapa tetangga, supaya mereka juga ikut merasakan suasana lebaran lewat masakan Indonesia. Mereka mengucapkan selamat lebaran pada saya. Dalam bahasa Belanda, lebaran adalah Suikerfeest : pesta gula, karena lebaran identik dengan makanan yang manis-manis. 

2A594910-6827-4152-9A61-19123DD7F6C8

Lingkungan rumah kami memang tetangga lumayan guyub. Maklum, mungkin karena di kampung. Jadi mengantarkan makanan satu sama lain adalah hal yang biasa. Para tetangga kami mayoritas Belanda karena lingkungan orang lokal, bukan pendatang. Paginya, seorang tetangga yang saya antarkan makanan menyapa saat saya terburu-buru jalan,”Deny, kalau kamu sering memberi saya makanan Indonesia yang enak-enak, badan saya nanti jadi melebar.” Saya anggap sebagai pujian. 

92215A36-8292-4510-873D-29B4781C1E4B

Begitulah cerita lebaran tahun ini. Selamat hari raya Idul Fitri, selamat merayakan kemenangan. Mohon maaf lahir batin atas segala khilaf komen, menjawab komen, status, postingan yang tak berkenan, maupun perbuatan di dunia nyata. Semoga bulan syawal ini membawa keberkahan buat siapapun, dibukakan pintu kemudahan untuk yang sedang diuji dan kesabaran untuk menjalaninya. Semoga kita selalu bersyukur atas sekecil apapun nikmat yang dititipkanNya dan musibah sebagai pengingat untuk menundukkan hati.

-Nootdorp, 11 Juni 2019-

Ramadan Kelima di Belanda

Biasanya saya menuliskan tentang pengalaman Ramadan selalu menjelang akhir Ramadan atau saya jadikan satu dengan cerita Idul Fitri. Tapi kali ini saya menuliskan di awal dan mudah-mudahan diakhir Ramadan dan cerita Idul Fitri tahun ini bisa saya tuliskan juga.

Tanggal 6 Mei sudah mulai puasa Ramadan. Selalu, ada rasa haru, sedih, serta rindu suasana Ramadan di kampung halaman bersama keluarga di Indonesia. Rindu taraweh bersama, rindu mendengar bedug Maghrib dari Masjid, rindu mendengar khataman Al Quran dari Musholla, rindu buka puasa bersama, rindu masakan Ibu selama Ramadan, bahkan rindu berburu gorengan dan berbagai jenis es ketika ngabuburit. Yang saya tidak terlalu rindu adalah buka puasa bersama di mall karena antrinya panjang, tempatnya rame, sholat maghribnya terburu-buru. Sebagai perantau, saya tahu konsekuensinya jika jauh seperti ini, ya pasti merindukan kebiasaan-kebiasaan menjelang dan selama Ramadan.

Tahun ini adalah Ramadan kelima di Belanda dan akan menjadi tahun ketiga saya tidak menunaikan puasa selama Ramadan. Semoga tahun depan saya sudah bisa kembali berpuasa ketika Ramadan dan hutang-hutang puasa bisa saya cicil pelan-pelan.

Buat yang menjalankan puasa Ramadan, semoga lancar, berkah, sehat-sehat terus dan diijabah doa-doa yang dipanjatkan. Buat yang berpuasa di negara dengan durasi Ramadannya panjang (di Belanda tahun ini sekitar 18.5 jam), semoga dikuatkan dan istiqomah. Cuaca di Belanda nampaknya tidak terlalu panas selama Ramadan ini (kayaknya ya, karena kemaren cuacanya super labil. Sebentar hujan, panas, angin, hujan es, repeat sampai seharian. Ini bulan Mei lho masih saja hujan es deras. Bahkan saat menulis ini, di luar mendung dan hujan. Saya sudah kangen sekali cuaca hangat).

Maaf lahir batin dari saya jika ada khilaf dalam berkomentar ataupun tidak berkenan maupun tidak sependapat dengan postingan yang ada di blog ini (maupun di media sosial lainnya). Berbeda pendapat tidak masalah yang penting tidak memecah belah. Semoga yang mempunyai kesulitan dibukakan pintu kemudahan untuk menyelesaikannya dan Ramadan membawa berkah.

Selamat berpuasa!

-Nootdorp, 5 Mei 2019-

Ramadan Keempat di Belanda

Hari ini adalah hari ke 22 di bulan Ramadan tahun 2018. Tidak terasa ya minggu depan sudah lebaran. Semoga kita semua bisa dipertemukan dengan lebaran tahun ini, berkumpul bersama keluarga dan handai taulan serta diberikan umur yang berkah supaya bisa bertemu dengan Ramadan tahun-tahun selanjutnya dengan Ibadah dan amalan yang lebih baik.

Tahun ini adalah tahun ke empat Ramadan saya di Belanda. Ternyata setiap tahunnya saya selalu membuat tulisan tentang Ramadan. Jadi cerita Ramadan di Belanda seperti berseri. Jika ingin membaca cerita Ramadan tahun-tahun sebelumnya bisa diklik tautan di bawah ini :

Tahun pertama Ramadan di Belanda, durasi puasa sampai 20 jam karena bertepatan dengan musim panas. Tahun ini durasinya antara 18 sampai 19 jam di musim semi dan musim panas. Suhunya meskipun tidak sepanas musim panas pada bulan Juli dan Agustus, tapi tetap saja rasanya panas karena ada hari-hari sampai 30 derajat celcius. Semoga selalu dikuatkan untuk mereka yang berpuasa dengan durasi yang panjang disertai cuaca yang berubah dari hujan ke panas.

Di bawah ini adalah jadwal Ramadan tahun 2018

Jadwal Ramadan Den Haag 2018
Jadwal Ramadan Den Haag 2018

Dua tahun terakhir Ramadan sangat berbeda untuk saya. Memaknainya pun berbeda. Walaupun begitu, semoga tidak mengurangi niat saya untuk tetap beribadah, apapun itu. Ramadan tahun ini, tidak terlalu banyak yang bisa saya ceritakan karena kegiatannya seputar rumah, jalan-jalan menikmati sinar matahari kalau sedang muncul, belanja, me time jalan-jalan tanpa suami, makan mencoba beberapa menu baru di restoran, masak, leyeh-leyeh, bersih-bersih rumah, baca buku (Sudah menuju buku ke 11 yang saya baca setengah tahun ini), apalagi ya. Akhirnya makan nasi padang dan sate padang setelah lebih dari 4 tahun tidak makan nasi padang. Lumayan tombo kangen meskipun kalau ingat harganya ya agak nyesek. Saya belinya di Tong Tong Fair stan Lapek Jo. Ini bener-bener enak sampai sekarang rasanya saya ingat dengan baik. Yang di Belanda, kalau beli masakan padang di Lapek Jo saja. Adanya di Den Haag. Ini bukan tulisan berbayar, murni karena puas dengan rasanya.

Nasi Padang
Nasi Padang
Sate Padang
Sate Padang

Semoga tahun depan ada lebih banyak cerita yang bisa saya bagi pada saat Ramadan seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini saya tidak bisa berbagi banyak cerita, saya simpan dulu ceritanya.

Buat yang sedang persiapan akan mudik, semoga semuanya dipersiapkan dengan baik tidak ada yang ketinggalan. Semoga selamat sampai tujuan berkumpul bersama keluarga menyambut hari yang fitri. Sudah 4 kali lebaran saya tidak berkumpul dengan keluarga di Indonesia. Semoga suatu saat kami sekeluarga bisa berlebaran di Indonesia, kumpul keluarga dan makan masakan khas keluarga di sana.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin.

Semoga Segala Amal Ibadah Selama Ramadan Menjadi Berkah dan Kita Semua Dipertemukan Dengan Ramadan Tahun-Tahun Mendatang

-Nootdorp, 7 Juni 2018-