Makna Pada Bilangan Usia yang Tidak Lagi Sama

Setiap periode usia mempunyai cerita yang berbeda. Rentang usia 20an dibandingankan dengan rentang usia 30an pasti tantangannya juga berbeda. Tidak hanya itu saja karena semakin bertambah bilangan usia, pasti ada beberapa hal yang tidak sama, misalkan : penyikapan terhadap suatu masalah, cara memandang suatu perkara, memilih lingkungan pergaulan, ambisi yang ingin dituntaskan, bahkan sampai pada gaya hidup. Entah apakah ini berlaku untuk semua orang, tetapi semua yang tersebut di atas adalah bagian dari cerita perjalanan usia saya.

Saya merasa periode usia 20an berjalan begitu cepat. Jika menengok lagi ke belakang, pada rentang waktu tersebut, saya mempunyai daftar ambisi yang ingin digapai. Dengan darah muda yang masih bergelora dan energi yang masih berlimpah sehingga ada setumpuk cita-cita yang ingin diraih, melakukan kegiatan dan pekerjaan bersamaan sehingga merasa waktu 24 jam sehari tak akan pernah cukup, ingin membuktikan kesuksesan kepada seisi dunia, ingin selalu ada di setiap lapisan pergaulan agar nampak “eksis”, melakukan kenakalan masa muda atas nama penasaran semata, masih berjiwa “senggol bacok”, dan masih banyak hal lainnya yang terjadi pada rentang usia 20an. Waktu berlari begitu cepat karena memang saat itu saya sangat menikmati semua hal dengan cara yang saya pilih. Cara mendongakkan kepala dan lupa melihat ke bawah, begitu saya menyebutnya. Mendongakkan kepala karena ingin memperlihatkan ke semua orang tentang keberhasilan yang telah saya capai agar mendapatkan pujian sebanyak-banyaknya, berjalan cepat bahkan berlari kencang sampai tidak sempat menengok kiri kanan ataupun menatap ke tanah, dan segala cara asal tidak merugikan orang lain pasti akan saya lakukan asal segala ambisi tercapai. Pernah merasakan lelah dengan kehidupan yang seperti itu, tetapi keinginan untuk membuktikan dan mendapatkan pengakuan akan segala keberhasilan yang telah diraih mengalahkan letih yang sesekali menghampiri. Pernah juga bertanya pada diri sendiri, apakah saya benar-benar bahagia? apakah saya benar-benar menikmati itu semua? karena ada saatnya saya merasa sepi ditengah keramaian, merasa sendiri padahal mempunyai banyak kenalan dan teman, merasa seperti ada lubang besar dan hitam yang selalu mengikuti dalam setiap perjalanan, dan merasa terasing padahal banyak tangan yang membutuhkan. Saya pernah dalam pusaran tersebut dan saya tidak pernah menyesalinya sampai sekarang karena masa-masa tersebut adalah waktu dimana saya belajar banyak hal.

Teufelsberg, Berlin
Teufelsberg, Berlin

Jika tidak mempunyai ambisi dan melakukan segala sesuatu sampai melampau batas yang saya bisa, maka saya tidak akan tahu sampai mana kemampuan saya. Jika tidak punya setumpuk cita-cita dan mengerahkan segala kekuatan untuk meraihnya, saya tidak tahu apakah saya bisa berhasil atau tidak. Jika tidak pernah mencoba untuk “eksis” disemua kalangan (terlebih kalangan yang terkenal), saya tidak merasakan kesempatan untuk mempelajari karakter orang dan belajar untuk tahu mana kawan mana lawan. Jika tidak pernah melakukan kenakalan masa muda, maka mungkin sampai sekarang saya akan penasaran bagaimana rasanya, karena saya adalah tipe orang yang punya rasa ingin tahu yang besar dan ingin mencoba apa yang menurut saya layak dicoba. Jika tidak mendongakkan kepala, berlari kencang, serta berjalan cepat pasti saya akan merasakan kebosanan dan merasa hampa karena merasa ada lubang hitam besar yang selalu mengikuti. Jika pada saat itu tidak mempunyai daftar keinginan yang harus dibuktikan, pasti saya tidak belajar banyak tentang pahit manis kehidupan, jatuh bangun mencapai keberhasilan, merasakan sakit yang mendalam, bahkan indah dan kelamnya pertemanan. Saya menikmati rentang usia 20an dengan cara yang menggebu. Ambisi membuat hidup saya lebih hidup, pada saat itu. Semua hal tersebut membawa saya pada sebuah perenungan ketika mengarungi rentang usia 30an yang masih pada tahap pertengahan ini.

Cinque Terre, Italy
Cinque Terre, Italy

Saya menyebut umur 30an ini sebagai rentang usia yang selektif akan segala hal. Kalau dulu saya bisa bergaul dengan siapa saja, sekarang saya lebih pemilih. Awal usia 30 saya berhenti bekerja dan memilih untuk melanjutkan kuliah. Mengikuti kata hati untuk memenuhi keinginan lainnya, bukan atas nama pembuktian kepada orang lain, tetapi keinginan untuk belajar sesuatu yang baru. Saya melepaskan kesempatan untuk memiliki karir yang (nampaknya akan) cemerlang dan memilih untuk membaca beratus-ratus jurnal penelitian, tertimbun tugas sampai dini hari, melakukan presentasi setiap hari, saat kembali ke bangku kuliah. Memulai lagi pertemanan dengan mereka yang berbeda usia jauh dibawah saya, menikmati status kembali sebagai mahasiswa. Saat itu, kehidupan saya benar-benar berbeda dengan kehidupan dunia kantor yang saya tekuni selama 8 tahun. Tidak mudah, tetapi saya nikmati. Pada saat kuliah tersebut, saya mulai menyadari bahwa sesungguhnya saya ini adalah tipe “pertapa,” yang masih bisa hidup tanpa harus dikelilingi ataupun harus berada diantara orang banyak. Ternyata saya bisa sendiri dan justru dalam kesendirian itu saya bisa lebih mengenal siapa dan bagaimana diri ini sebenarnya. Sejak awal pindah ke Belanda, saya tidak pernah memaksakan diri untuk harus kenal dengan sesama orang Indonesia. Saya tidak pernah ngoyo untuk bisa kenal ataupun dikenal dengan sesama orang Indonesia. Saya sudah pernah mengalami masa-masa harus selalu “tampak di mana-mana.” Rasanya capek karena tidak menjadi diri sendiri. Saya merasa cukup dengan lingkungan pertemanan dan kenalan yang saya miliki saat ini, yang memang hanya segelintir. Jika ada yang mengenal saya, Alhamdulillah. Tidak ada yang kenal pun, ya tidak masalah, tidak memaksakan diri untuk terkenal. Yang penting KBRI tahu keberadaan saya. Ada yang tidak suka dengan saya dan selalu membicarakan di belakang serta selalu mencari kejelekan, ya silahkan. Namanya juga hidup, pasti ada yang suka ataupun tidak suka. Dan saya tidak akan pernah memaksakan semua orang untuk suka pada saya. Selama yang saya lakukan tidak merugikan orang lain, saya tetap akan melakukan apapun yang ingin saya lakukan. Saya bisa lebih fokus pada diri sendiri dibandingkan harus kesana kemari untuk mendapatkan sebuah pengakuan.

Teufelsberg, Berlin
Teufelsberg, Berlin

Usia 30an juga mengajarkan saya untuk lebih pemilih terhadap makanan yang saya konsumsi dan cara menjaga kesehatan badan. Kalau dulu menjaga pola makan dengan alasan agar kurus, tetapi sekarang saya memilih apa yang masuk dalam badan karena alasan kesehatan. Dulu saya terlalu memanjakan lidah, sekarang saya lebih mementingkan memanjakan tubuh dengan memberi asupan makanan yang sehat, tentunya juga tidak melupakan rasa asalkan masih dalam koridor sehat. Bukan hanya makanan saja, olahraga juga tidak kalah pentingnya untuk menjaga kesehatan. Kesehatan lebih penting buat saya daripada angka yang tertera pada timbangan badan. Karena kalau kita menerapkan pola hidup sehat sehingga badan dan pikiran kita juga sehat, maka berat badan akan menyesuaikan. Saya tidak tahu sampai pada angka berapa usia saya di dunia ini, yang saya tahu adalah menjaga anugerah kesehatan dengan sebaik-baiknya. Kalaupun diberikan kesempatan yang panjang untuk hidup, inginnya saya bisa hidup lama dalam keadaan badan dan pikiran yang sehat.

Menjaga pikiran untuk selalu sehat memang gampang-gampang susah. Namanya juga manusia, ada saja jiwa “ingin”nya. Apalagi di era media sosial seperti ini, gampang sekali terjangkiti yang namanya penyakit hati. Membaca ada yang menuliskan liburan kesini, jadi ingin. Melihat ada yang memasang foto tahu tek, jadi ngiler tapi malas masak karena tidak ada tukang tahu tek yang jualan di depan rumah. Membaca berita politik ataupun gosip, jadi ikutan emosi sendiri. Dunia pada masa sekarang hanya sejauh jangkauan jari, apapun bisa dan gampang diraih. Segala sesuatu menjadi mungkin. Suami pernah bertanya, apakah ada rasa rindu dengan Facebook (FB) dan Instagram (IG) yang saya nonaktifkan dan tidak pernah saya buka lagi (sampai kata kuncinya pun lupa) sejak September 2015? Saya menjawab, tidak. Saya mencukupkan diri saat ini dengan Twitter dan Blog untuk media sosial yang saya miliki sebagai sumber informasi, berbagi informasi dan cerita, membentuk jejaring perkenalan, ataupun sarana untuk pamer-pamer. FB dan IG banyak sekali manfaatnya untuk saya karena banyak juga informasi yang bisa saya dapatkan dari dua media sosial tersebut. Tapi untuk saat ini, saya mencukupkan diri dengan yang ada saja. Saya belum mau lagi menjebakkan diri stalking-stalking yang tidak penting yang dulu sering saya lakukan. Saya tidak mau menyia-nyiakan menit berharga saya untuk mengkepo urusan orang lain dan menjadikan bahan perbincangan di belakang. Selain karena memang hal tersebut tidak ada manfaatnya untuk hidup saya, juga untuk menjaga pikiran tetap sehat. Kalau ada akun di Twitter dan Blog yang saya ikuti dan isinya mulai tidak sejalan, tinggal tekan tombol unfollow. Semudah itu. Saya ingin membuat segampang mungkin kehidupan nyata dan kehidupan media sosial. Apa yang gampang, tidak saya buat susah. Saya tidak mau ngoyo. Saya juga bukan manusia suci yang tidak pernah menggosipkan orang di belakang. Saya tidak munafik, pasti saya pernah melakukan itu bahkan sampai sekarang, hanya porsinya semakin hari semakin saya kurangi dan saya batasi. Dari wacana menggosipkan saya ubah menjadi membahas. Saya tidak perlu lagi tahu sampai kulit ari kehidupan orang lain, apalagi orang yang saya tidak kenal. Lebih baik saya gunakan waktu untuk membaca buku ataupun melakukan kegiatan berguna lainnya, misalkan tidur atau membaca blog dan artikel tentang perjalanan. Seorang teman baik bilang, saya lebih tertutup sekarang. Sebenarnya bukan tertutup, hanya berbagi informasi yang perlu saja. Hanya mau pamer seperlunya saja. Saya belajar mengendalikan diri untuk tidak memberitahu semua hal kepada semua orang. Ada batas-batas yang memang saya ciptakan sendiri.

Atasan saya di kantor sebelumnya, pernah berkirim pesan, menanyakan kabar saya saat ini. Lalu kamipun terlibat perbincangan yang cukup lama. Dia memperhatikan saya yang sekarang sangatlah berbeda dengan 10 tahun lalu saat dia mewawancara saya. Dalam rentang 6 tahun bekerja bersamanya, dia tahu betul siapa saya. Tapi dia sekarang melihat saya dari seorang ambisius berubah menjadi seseorang yang lebih santai dan menikmati hidup. Lalu dia melontarkan pertanyaan : apakah masih ada yang ingin saya lakukan dan ingin saya capai serta saya buktikan kedepannya?. Cukup lama juga saya berpikir untuk bisa menjawabnya. Keinginan, pasti banyak hal yang masih ingin saya lakukan. Saya masih ingin kuliah lagi, ingin mendapatkan pekerjaan impian, ingin bisa lebih dekat dengan keluarga, ingin lebih berguna bagi orang lain, ingin ikut Half Marathon, ingin bisa bepergian kesana sini, ingin selalu sehat, ingin menulis buku, dll. Kalau dijabarkan, daftar keinginan saya masih panjang, butuh berlembar-lembar kertas untuk menuliskannya. Keinginan untuk melakukan ini dan itu menurut saya wajar. Kalau tidak ada keinginan, tidak ada arah kehidupan mau dibawa kemana. Kalau ditanya apakah masih ada yang ingin saya buktikan? mungkin bukan pembuktian kata yang tepat untuk menggambarkannya. Masa pembuktian saya sudah lewat. Saya sudah memanfaatkan sebaik mungkin segala pembuktian yang ingin saya buktikan, baik itu kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Saat ini, yang lebih penting adalah melakukan segala keinginan yang ada dalam daftar karena memang saya ingin melakukan, bukan keharusan untuk melakukan. Keinginan yang datangnya dari hati, keinginan yang realistis. Target tetap saya buat supaya saya tahu sampai mana pencapaiannya, tetapi tidak ngoyo dan gaspol lagi dan lebih mementingkan untuk menikmati prosesnya.

Rentang usia 20an dan 30an saya nikmati dengan cara berbeda, yang menghadirkan kebahagiaan dan pengalaman yang berbeda. Semua masa pasti ada cerita uniknya karena semua ada saatnya. Saat ini saya ingin lebih mengatur ritme perjalanan. Kadang saya berjalan lambat agar bisa menengok kesegala arah untuk melihat pemandangan ataupun menyapa orang-orang yang saya jumpai dalam perjalanan. Namun ada kalanya saya mempercepat laju kaki, untuk menyesuaikan ritme dengan alam semesta dan target yang telah saya buat. Saya ingin menikmati setiap detik yang terjadi dalam hidup dengan penuh kesadaran, bukan ketergesaan. Merasakan pahit manis kehidupan dan menikmati hidup dengan tetap mengerjakan hal-hal yang saya ingin lakukan. Lebih banyak bersyukur akan apa yang saya dapatkan saat ini, mencukupkan diri namun tetap berusaha untuk menuju apa yang ingin saya tuju di depan sana.

Zoetermeer
Zoetermeer, The Netherlands

-Den Haag, 13 Oktober 2016-

Tidak sedang berulangtahun dan semua foto milik pribadi

27 thoughts on “Makna Pada Bilangan Usia yang Tidak Lagi Sama

  1. Deny, baca tulisanmu dan melihat ada beberapa kesamaan.. seperti di rentang 20an. Terus sekarang di rentang 30an, soal menyeleksi teman dan makan itu kaya seiring. Soal teman, nggak berusaha pengen di kenal dimana2. Kalo dalam hidupku sekarang ya Den yg lagi merantau dan punya status yg sama nih (para student and spouse di negara orang), nggak sedikit yg aku liat tipikal “kudu eksis dimana” baik socmed dan dunia nyata. Sekarang aku lebih fokus sama temen2 yg memang cocok. Jadi ya mainnya sama itu2 aja tapi aku nyaman.. kalo socmed sekarang mainnya IG, twitter dan blog. IG udah jarang banget kepo2 hahahha awalnya dimulai dari pindah rumah dan nggak berwifi lagi, so data nya mending dipake buat yg penting2. Twitter buat link berita2 di Indonesia, blog.. jarang nulis n BW sih, ini lagi BW abis subuhan hahahhaa.. duh maaf Den, jadi panjang banget komennya. Thank you udah nulis ini yaaaa 😉

    1. Awal2nya aku juga sempet “keseret” untuk selalu eksis dimana2 Dil (di FB dan IG maksudnya). Trus lama2 kok aku bosen sendiri akhire ya tak tutup pisan akunku. Ngasih ruang privasi buatku sendiri, menghargai diri sendiri. Sebenarnya ga ada yang salah buat eksis dimanapun, tapi saat ini buatku pilihan ini aku coret dulu.
      Berarti ada untunge yo Dil rumahmu ga ada wifinya. Makin fokus ke dunia nyata, soalnya kalo lama2 gentayangan di dunia maya takutnya lupa menapak tanah haha. Eh sama, aku twitter juga buat update2 berita dari Indonesia dan seluruh dunia. Gpp lagi Dil komen panjang. Aku senang malahan, jadi bisa sama2 curhat haha!

  2. Tulisan yang menarik mbak Den, saya juga setelah sakit ini jadi gak ngoyo lagi. Dulu saya selalu ambisius orangnya, kerja dibela2in sampai lembur bahkan sampai sakit, gak peduli. Sekarang agak menyesal sih, yah penyesalan memang datang terakhir ya tapi saya selalu usahakan untuk mengganti penyesalan itu sbg pelajaran saja. Toh yang menjalani hidup saya, jadi ya gak perlu ngoyo hehe. Makasih mbak atas tulisannya!

    1. Terima kasih Aggy. Iya, memang semua ada waktunya ya. Aku kalo sekarang ingat2 lagi masa2 di Jakarta, heran sendiri kok bisa ya dengan kehidupan yg lembur sampai subuh trus jam 9 pagi sudah harus presentasi. Memang semua sudah ada yg mengatur, sekarang saatnya kita jalan santai ga ngoyo setelah beberapa lama lari gedubrakan. Sekarang saatnya menikmati hidup dengan fokus ke diri sendiri, yang penting bahagia. Selalu semangat ya Aggy!

    1. Hallo, salam kenal. Terima kasih sudah mampir ke blog kami. Belum tentu ketika usia 30an sudah pilih2 makanan. Masih ada yang diatas 50 ingin tetap memanjakan lidah tanpa mikir kesehatan.

  3. Tahun lalu masuk kepala tiga dan bln depan genap 31. Jujur, aku takut. Bukan takut tua, PD banget. Takut umur gak panjang karena anak masih kecil ntar gimana. Takut dipanggil tapi ibadah masih gini2 aja. Takut rumah tangga ini belum sakinah, mawaddah, dan warrahmah. Takut ini itu. Tapi untung punya sahabat2 yg selalu ngingetin untuk selalu bersyukur.

    1. Aku belajar berpasrah tentang umur dari yang selalu diajarkan almarhum Bapak. Menurut Beliau, jangan meresahkan kematian karena itu bukan urusan kita. Yang lebih baik diresahkan adalah bagaimana mempergunakan usia yg sudah dijatah ini dengan sebaik2nya. Jangan meresahkan nilai ibadah, karena sudah ada bagian yg menilainya. Resahkan kalau kitanya ga beribadah. Intinya beliau mengajarkan, jangan meresahkan hal2 yang diluar jangkauan kita. Nikmati hidup dengan berbuat sebaik2nya, urusan diluar itu jangan dibuat takut.

  4. kita sama mba medsos cuma aktif di twitter…yg lain pos atau dibuka seperlunya..mungkin aku tipe yg gampang belok kemana2 dan pusing kalau kebanyakan lihat gambar hoho…

    1. Iya, akhirnya aku yg membatasi diri sendiri. Ternyata setelah lepas dari IG dan FB setahunan ini, ya biasa saja rasanya 🙂

  5. sempet ngirain deny ultah.
    soal kontemplasi ini jadi mengingatkan saya juga ke masa-masa melakukan sesuatu karena orang lain.
    saya sendiri sadar harus melakukan sesuatu karena kita sendiri setelah meninggalkan indonesia den. apakah ada kaitannya dengan umur saya kurang tau. saya udah kepala tiga kala itu…

    salam
    /kayka

    1. Makanya aku tulis kalo ga ulang tahun Mbak, daripada ada yg terjebak haha. Mungkin salah satu faktornya juga umur Mbak. Ingin melakukan sesuatu yang membuat kita senang, tanpa harus mikir orang lain senang atau ga. Atau mungkin karena jauh dari Indonesia, jauh dari “kebisingan” jadi banyak waktu untuk memikirkan diri sendiri.

  6. dengan bertambah umur juga makin sabar, makin berdamai dengan keadaan sekeliling, makin pemaaf, makin sadar banyak dosa, itu kalau aku Den…

    1. Iya bener Mbak, berdamai dengan keadaan itupun yg aku rasakan. Sekarang kalau ada situasi yg diluar rencana, mikirnya “belum saatnya, pasti ada yg lebih baik kalau memang sudah waktunya.” Sekarang lebih nrimo.

  7. Ah lewat tulisan kamu ini aku jadi ikutan berkontemplasi inget2 hidupku di awal 20an dan sekarang ini memasuki 30an Den, setelah pikir2 ternyata banyak juga perubahannya lho, dan aku malah menjadi semakin semangat memasuki rentang usia 30an.. lucunya banyak teman2 aku yg malah lagi mengeluh karena menganggap diri udah tua, udah 30 tahun. Aku kebalikannya, semangat menyambut rentang usia baru 🙂

    1. 30an itu menyenangkan Chris, karena mau ga mau kitanya pasti ikut berubah. Entah berubahnya ke arah mana, tapi rentang 30an itu kejadian2 yg ada di dalamnya menyenangkan menurutku. Teman2ku dulu juga banyak yg ketakutan pas memasuki usia 30. Sedangkan aku antusias, pengen tahu gimana rasanya. Sama kayak sekarang mikir, nanti kalo sudah usia 40an gimana ya rasanya, suka berimajinasi2 sendiri gitu pas 40an nanti aku seperti apa haha.

  8. aku nelaaaaat…. menjelang 40 baru sadar akan makanan sehat dan olah raga.. tapi lak better late than never toh mbak’eeee… sekarang menikmati hasilnya kok.. hasil checklab menyenangkan…

    1. Haha iyo bener, lebih baik nelat timbangane ga nelat 😀 aku wes mulai menjaga makanan dan rutin olahraga sejak masuk dunia kerja, karena kalo ga dijaga pasti melar kemana2 dan penyakitan karena kerjaanku dulu isinya makan2 mulu dan tingkat stressnya tinggi.

  9. Tulisannya bagus banget Mbak, reflektif dan manis sekali. Suka banget dengan kalimat terakhir,

    “Lebih banyak bersyukur akan apa yang saya dapatkan saat ini, mencukupkan diri namun tetap berusaha untuk menuju apa yang ingin saya tuju di depan sana.”

    Reminder buat aku juga. Terima kasih ya Mbak 🙂

    1. Terima kasih Dixie sudah membaca (walaupun panjang banget tulisanku :D). Iya, lagi pengen berkontemplasi, akhirnya keluar tulisan ini. Sama-sama, senang kalau tulisan ini bisa bermanfaat. Sama2 sebagai pengingat kita bersama untuk selalu bersyukur dan berusaha serta jangan lupa bahagia.

    1. So sorry to know that. Iya Yu, makin berumur, makin ingin jaga kesehatan. Biar kalau dikasih umur panjang ga nyusahin karena kitanya sehat. Kalau jatah umurnya ga panjang, ya tetep pengennya hidup dengan sehat. Semangat!

  10. Bener banget mbak,klo aku sudah di tiga periode neh,skg sudah masuk diawal 40 mbak…udah lebih bijaklah istilahnya,hehehe… lebih bisa tenang menghadapi masalah.

    1. Wah, aku lebih muda berarti. Panggil aku deny aja kalo gitu, ga perlu pakai mbak haha. Aku panggil nama aja ya biar sama2 panggil nama. Iya bener, nambah usia jadi lebih tenang menghadapi masalah, meskipun ujian yang datang juga kayaknya levelnya makin naik.

      1. Hahahaha iya deny,untungnya juga saya kecil alias kurus jadi gak ada yg tau udah 40,hehehe dinikmati ajalah btw seneng bgt ktemu dan kenal sama tmn” di blog ini jadi nambah temen nambah wawasan juga…

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.