Makna Pada Bilangan Usia yang Tidak Lagi Sama

Zoetermeer, The Netherlands

Setiap periode usia mempunyai cerita yang berbeda. Rentang usia 20an dibandingankan dengan rentang usia 30an pasti tantangannya juga berbeda. Tidak hanya itu saja karena semakin bertambah bilangan usia, pasti ada beberapa hal yang tidak sama, misalkan : penyikapan terhadap suatu masalah, cara memandang suatu perkara, memilih lingkungan pergaulan, ambisi yang ingin dituntaskan, bahkan sampai pada gaya hidup. Entah apakah ini berlaku untuk semua orang, tetapi semua yang tersebut di atas adalah bagian dari cerita perjalanan usia saya.

Saya merasa periode usia 20an berjalan begitu cepat. Jika menengok lagi ke belakang, pada rentang waktu tersebut, saya mempunyai daftar ambisi yang ingin digapai. Dengan darah muda yang masih bergelora dan energi yang masih berlimpah sehingga ada setumpuk cita-cita yang ingin diraih, melakukan kegiatan dan pekerjaan bersamaan sehingga merasa waktu 24 jam sehari tak akan pernah cukup, ingin membuktikan kesuksesan kepada seisi dunia, ingin selalu ada di setiap lapisan pergaulan agar nampak “eksis”, melakukan kenakalan masa muda atas nama penasaran semata, masih berjiwa “senggol bacok”, dan masih banyak hal lainnya yang terjadi pada rentang usia 20an. Waktu berlari begitu cepat karena memang saat itu saya sangat menikmati semua hal dengan cara yang saya pilih. Cara mendongakkan kepala dan lupa melihat ke bawah, begitu saya menyebutnya. Mendongakkan kepala karena ingin memperlihatkan ke semua orang tentang keberhasilan yang telah saya capai agar mendapatkan pujian sebanyak-banyaknya, berjalan cepat bahkan berlari kencang sampai tidak sempat menengok kiri kanan ataupun menatap ke tanah, dan segala cara asal tidak merugikan orang lain pasti akan saya lakukan asal segala ambisi tercapai. Pernah merasakan lelah dengan kehidupan yang seperti itu, tetapi keinginan untuk membuktikan dan mendapatkan pengakuan akan segala keberhasilan yang telah diraih mengalahkan letih yang sesekali menghampiri. Pernah juga bertanya pada diri sendiri, apakah saya benar-benar bahagia? apakah saya benar-benar menikmati itu semua? karena ada saatnya saya merasa sepi ditengah keramaian, merasa sendiri padahal mempunyai banyak kenalan dan teman, merasa seperti ada lubang besar dan hitam yang selalu mengikuti dalam setiap perjalanan, dan merasa terasing padahal banyak tangan yang membutuhkan. Saya pernah dalam pusaran tersebut dan saya tidak pernah menyesalinya sampai sekarang karena masa-masa tersebut adalah waktu dimana saya belajar banyak hal.

Teufelsberg, Berlin
Teufelsberg, Berlin

Jika tidak mempunyai ambisi dan melakukan segala sesuatu sampai melampau batas yang saya bisa, maka saya tidak akan tahu sampai mana kemampuan saya. Jika tidak punya setumpuk cita-cita dan mengerahkan segala kekuatan untuk meraihnya, saya tidak tahu apakah saya bisa berhasil atau tidak. Jika tidak pernah mencoba untuk “eksis” disemua kalangan (terlebih kalangan yang terkenal), saya tidak merasakan kesempatan untuk mempelajari karakter orang dan belajar untuk tahu mana kawan mana lawan. Jika tidak pernah melakukan kenakalan masa muda, maka mungkin sampai sekarang saya akan penasaran bagaimana rasanya, karena saya adalah tipe orang yang punya rasa ingin tahu yang besar dan ingin mencoba apa yang menurut saya layak dicoba. Jika tidak mendongakkan kepala, berlari kencang, serta berjalan cepat pasti saya akan merasakan kebosanan dan merasa hampa karena merasa ada lubang hitam besar yang selalu mengikuti. Jika pada saat itu tidak mempunyai daftar keinginan yang harus dibuktikan, pasti saya tidak belajar banyak tentang pahit manis kehidupan, jatuh bangun mencapai keberhasilan, merasakan sakit yang mendalam, bahkan indah dan kelamnya pertemanan. Saya menikmati rentang usia 20an dengan cara yang menggebu. Ambisi membuat hidup saya lebih hidup, pada saat itu. Semua hal tersebut membawa saya pada sebuah perenungan ketika mengarungi rentang usia 30an yang masih pada tahap pertengahan ini.

Cinque Terre, Italy
Cinque Terre, Italy

Saya menyebut umur 30an ini sebagai rentang usia yang selektif akan segala hal. Kalau dulu saya bisa bergaul dengan siapa saja, sekarang saya lebih pemilih. Awal usia 30 saya berhenti bekerja dan memilih untuk melanjutkan kuliah. Mengikuti kata hati untuk memenuhi keinginan lainnya, bukan atas nama pembuktian kepada orang lain, tetapi keinginan untuk belajar sesuatu yang baru. Saya melepaskan kesempatan untuk memiliki karir yang (nampaknya akan) cemerlang dan memilih untuk membaca beratus-ratus jurnal penelitian, tertimbun tugas sampai dini hari, melakukan presentasi setiap hari, saat kembali ke bangku kuliah. Memulai lagi pertemanan dengan mereka yang berbeda usia jauh dibawah saya, menikmati status kembali sebagai mahasiswa. Saat itu, kehidupan saya benar-benar berbeda dengan kehidupan dunia kantor yang saya tekuni selama 8 tahun. Tidak mudah, tetapi saya nikmati. Pada saat kuliah tersebut, saya mulai menyadari bahwa sesungguhnya saya ini adalah tipe “pertapa,” yang masih bisa hidup tanpa harus dikelilingi ataupun harus berada diantara orang banyak. Ternyata saya bisa sendiri dan justru dalam kesendirian itu saya bisa lebih mengenal siapa dan bagaimana diri ini sebenarnya. Sejak awal pindah ke Belanda, saya tidak pernah memaksakan diri untuk harus kenal dengan sesama orang Indonesia. Saya tidak pernah ngoyo untuk bisa kenal ataupun dikenal dengan sesama orang Indonesia. Saya sudah pernah mengalami masa-masa harus selalu “tampak di mana-mana.” Rasanya capek karena tidak menjadi diri sendiri. Saya merasa cukup dengan lingkungan pertemanan dan kenalan yang saya miliki saat ini, yang memang hanya segelintir. Jika ada yang mengenal saya, Alhamdulillah. Tidak ada yang kenal pun, ya tidak masalah, tidak memaksakan diri untuk terkenal. Yang penting KBRI tahu keberadaan saya. Ada yang tidak suka dengan saya dan selalu membicarakan di belakang serta selalu mencari kejelekan, ya silahkan. Namanya juga hidup, pasti ada yang suka ataupun tidak suka. Dan saya tidak akan pernah memaksakan semua orang untuk suka pada saya. Selama yang saya lakukan tidak merugikan orang lain, saya tetap akan melakukan apapun yang ingin saya lakukan. Saya bisa lebih fokus pada diri sendiri dibandingkan harus kesana kemari untuk mendapatkan sebuah pengakuan.

Teufelsberg, Berlin
Teufelsberg, Berlin

Usia 30an juga mengajarkan saya untuk lebih pemilih terhadap makanan yang saya konsumsi dan cara menjaga kesehatan badan. Kalau dulu menjaga pola makan dengan alasan agar kurus, tetapi sekarang saya memilih apa yang masuk dalam badan karena alasan kesehatan. Dulu saya terlalu memanjakan lidah, sekarang saya lebih mementingkan memanjakan tubuh dengan memberi asupan makanan yang sehat, tentunya juga tidak melupakan rasa asalkan masih dalam koridor sehat. Bukan hanya makanan saja, olahraga juga tidak kalah pentingnya untuk menjaga kesehatan. Kesehatan lebih penting buat saya daripada angka yang tertera pada timbangan badan. Karena kalau kita menerapkan pola hidup sehat sehingga badan dan pikiran kita juga sehat, maka berat badan akan menyesuaikan. Saya tidak tahu sampai pada angka berapa usia saya di dunia ini, yang saya tahu adalah menjaga anugerah kesehatan dengan sebaik-baiknya. Kalaupun diberikan kesempatan yang panjang untuk hidup, inginnya saya bisa hidup lama dalam keadaan badan dan pikiran yang sehat.

Menjaga pikiran untuk selalu sehat memang gampang-gampang susah. Namanya juga manusia, ada saja jiwa “ingin”nya. Apalagi di era media sosial seperti ini, gampang sekali terjangkiti yang namanya penyakit hati. Membaca ada yang menuliskan liburan kesini, jadi ingin. Melihat ada yang memasang foto tahu tek, jadi ngiler tapi malas masak karena tidak ada tukang tahu tek yang jualan di depan rumah. Membaca berita politik ataupun gosip, jadi ikutan emosi sendiri. Dunia pada masa sekarang hanya sejauh jangkauan jari, apapun bisa dan gampang diraih. Segala sesuatu menjadi mungkin. Suami pernah bertanya, apakah ada rasa rindu dengan Facebook (FB) dan Instagram (IG) yang saya nonaktifkan dan tidak pernah saya buka lagi (sampai kata kuncinya pun lupa) sejak September 2015? Saya menjawab, tidak. Saya mencukupkan diri saat ini dengan Twitter dan Blog untuk media sosial yang saya miliki sebagai sumber informasi, berbagi informasi dan cerita, membentuk jejaring perkenalan, ataupun sarana untuk pamer-pamer. FB dan IG banyak sekali manfaatnya untuk saya karena banyak juga informasi yang bisa saya dapatkan dari dua media sosial tersebut. Tapi untuk saat ini, saya mencukupkan diri dengan yang ada saja. Saya belum mau lagi menjebakkan diri stalking-stalking yang tidak penting yang dulu sering saya lakukan. Saya tidak mau menyia-nyiakan menit berharga saya untuk mengkepo urusan orang lain dan menjadikan bahan perbincangan di belakang. Selain karena memang hal tersebut tidak ada manfaatnya untuk hidup saya, juga untuk menjaga pikiran tetap sehat. Kalau ada akun di Twitter dan Blog yang saya ikuti dan isinya mulai tidak sejalan, tinggal tekan tombol unfollow. Semudah itu. Saya ingin membuat segampang mungkin kehidupan nyata dan kehidupan media sosial. Apa yang gampang, tidak saya buat susah. Saya tidak mau ngoyo. Saya juga bukan manusia suci yang tidak pernah menggosipkan orang di belakang. Saya tidak munafik, pasti saya pernah melakukan itu bahkan sampai sekarang, hanya porsinya semakin hari semakin saya kurangi dan saya batasi. Dari wacana menggosipkan saya ubah menjadi membahas. Saya tidak perlu lagi tahu sampai kulit ari kehidupan orang lain, apalagi orang yang saya tidak kenal. Lebih baik saya gunakan waktu untuk membaca buku ataupun melakukan kegiatan berguna lainnya, misalkan tidur atau membaca blog dan artikel tentang perjalanan. Seorang teman baik bilang, saya lebih tertutup sekarang. Sebenarnya bukan tertutup, hanya berbagi informasi yang perlu saja. Hanya mau pamer seperlunya saja. Saya belajar mengendalikan diri untuk tidak memberitahu semua hal kepada semua orang. Ada batas-batas yang memang saya ciptakan sendiri.

Atasan saya di kantor sebelumnya, pernah berkirim pesan, menanyakan kabar saya saat ini. Lalu kamipun terlibat perbincangan yang cukup lama. Dia memperhatikan saya yang sekarang sangatlah berbeda dengan 10 tahun lalu saat dia mewawancara saya. Dalam rentang 6 tahun bekerja bersamanya, dia tahu betul siapa saya. Tapi dia sekarang melihat saya dari seorang ambisius berubah menjadi seseorang yang lebih santai dan menikmati hidup. Lalu dia melontarkan pertanyaan : apakah masih ada yang ingin saya lakukan dan ingin saya capai serta saya buktikan kedepannya?. Cukup lama juga saya berpikir untuk bisa menjawabnya. Keinginan, pasti banyak hal yang masih ingin saya lakukan. Saya masih ingin kuliah lagi, ingin mendapatkan pekerjaan impian, ingin bisa lebih dekat dengan keluarga, ingin lebih berguna bagi orang lain, ingin ikut Half Marathon, ingin bisa bepergian kesana sini, ingin selalu sehat, ingin menulis buku, dll. Kalau dijabarkan, daftar keinginan saya masih panjang, butuh berlembar-lembar kertas untuk menuliskannya. Keinginan untuk melakukan ini dan itu menurut saya wajar. Kalau tidak ada keinginan, tidak ada arah kehidupan mau dibawa kemana. Kalau ditanya apakah masih ada yang ingin saya buktikan? mungkin bukan pembuktian kata yang tepat untuk menggambarkannya. Masa pembuktian saya sudah lewat. Saya sudah memanfaatkan sebaik mungkin segala pembuktian yang ingin saya buktikan, baik itu kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Saat ini, yang lebih penting adalah melakukan segala keinginan yang ada dalam daftar karena memang saya ingin melakukan, bukan keharusan untuk melakukan. Keinginan yang datangnya dari hati, keinginan yang realistis. Target tetap saya buat supaya saya tahu sampai mana pencapaiannya, tetapi tidak ngoyo dan gaspol lagi dan lebih mementingkan untuk menikmati prosesnya.

Rentang usia 20an dan 30an saya nikmati dengan cara berbeda, yang menghadirkan kebahagiaan dan pengalaman yang berbeda. Semua masa pasti ada cerita uniknya karena semua ada saatnya. Saat ini saya ingin lebih mengatur ritme perjalanan. Kadang saya berjalan lambat agar bisa menengok kesegala arah untuk melihat pemandangan ataupun menyapa orang-orang yang saya jumpai dalam perjalanan. Namun ada kalanya saya mempercepat laju kaki, untuk menyesuaikan ritme dengan alam semesta dan target yang telah saya buat. Saya ingin menikmati setiap detik yang terjadi dalam hidup dengan penuh kesadaran, bukan ketergesaan. Merasakan pahit manis kehidupan dan menikmati hidup dengan tetap mengerjakan hal-hal yang saya ingin lakukan. Lebih banyak bersyukur akan apa yang saya dapatkan saat ini, mencukupkan diri namun tetap berusaha untuk menuju apa yang ingin saya tuju di depan sana.

Zoetermeer
Zoetermeer, The Netherlands

-Den Haag, 13 Oktober 2016-

Tidak sedang berulangtahun dan semua foto milik pribadi

Berkah dan Musibah

Setiap orang kalau boleh memilih, pastinya akan selalu berdoa untuk dijauhkan dari segala macam musibah. Bagaimanapun juga musibah selalu datang tanpa diduga, meskipun kita sudah berhati-hati menjaga langkah, melantunkan segala macam doa, menjalankan segala yang diperintahkan juga menjauhi segala yang dilarang. Musibah adalah satu paket dalam kehidupan, tidak dapat kita hindari. Beberapa orang lebih mudah untuk bersyukur ketika mendapatkan kenikmatan dibandingkan bersyukur dan ikhlas ketika sedang diuji dengan musibah. Jangankan melihat sebagai berkah, ikhlas saja menjadi sangat jauh dari jangkauan kita. Ketika mendapat musibah, biasanya akan terlontar “Mengapa, Tuhan?” Namun banyak juga dari kita yang pada akhirnya menyadari bahwa dibalik sebuah musibah, ada suatu berkah.

2012 adalah tahun penuh musibah, begitu saya menyebutnya. Kejadian yang tidak menyenangkan datang secara beruntun. Awal tahun tersebut Bapak meninggal, 100 hari kemudian Ibu kecelakaan sampai koma selama satu minggu yang disusul operasi pada bagian kepala karena ada penggumpalan darah. Tempurung kepala dibuka. Tiga bulan kemudian harus menjalani operasi kedua untuk pemasangan kembali tempurung kepala. Pada saat itu, energi dan emosi saya terkuras habis. Diakhir tahun 2011 saya mendapatkan promosi dikantor. Jadwal kerja untuk tahun 2012 sudah tersusun rapi karena memang pada saat itu saya diberi tanggungjawab memegang satu produk yang baru diluncurkan. Jadwal promo diluar kotapun padat. Ketika Bapak meninggal, bubar jalan segala ambisi saya. Dunia seakan runtuh pada saat itu. Bapak tidak sakit apa-apa sebelumnya, bahkan 5 hari sebelum beliau berpulang, kami masih bertemu. Saat itu hidup saya melorot pada titik nol. Hancur. Orang yang selama ini selalu menjadi teman, panutan, tempat bercerita, yang selalu mendukung setiap keputusan, pergi meninggalkan saya tanpa ada tanda dan pesan apapun. Setiap hari saya meratap dan bertanya, “kenapa, Tuhan? kenapa secepat ini?” Saya menggugat Tuhan.

Belum kering air mata dan belum selesai meratap, saya harus dihadapkan pada musibah lainnya. Ibu kecelakaan dan koma. Saya sontak kembali bertanya, “apalagi ini Tuhan? Kenapa beruntun Kau datangkan musibah?” Pada saat itu saya merasa tak sanggup. Tapi kalau saya lemah, tidak ada yang kuat dalam keluarga. Saya yang tinggal di Jakarta harus sering bolak balik ke Situbondo dan Jember untuk menemani Ibu pada masa-masa pemulihan secara fisik karena kecelakaan maupun mental karena masih shock akan kepergian Bapak yang kami rasa sangat mendadak. Saya harus membagi antara jadwal super padat dikantor dan mendampingi Ibu. Pada akhirnya saya harus ikhlas memilih. Pada bulan Juni saya membuat keputusan besar dalam hidup. Pada saat sedang dipercaya untuk melakukan tugas besar dalam kantor, pada saat sedang menikmati posisi yang selama ini diperjuangkan, saya memilih untuk resign. Bukan keputusan yang mudah karena berbulan-bulan memikirkannya dengan penuh pertimbangan baik dan buruk. Pilihan resign diambil karena pada saat itu saya merasa sudah saatnya berbakti pada Ibu. Hubungan kami tidak terlalu baik sebelum Bapak meninggal, sering bersitegang dan berselisih paham. Kami sama-sama keras dalam hal apapun. Dan pada saat mendapatkan musibah beruntun, pada akhirnya saya menyadari, mungkin ini cara Tuhan mengembalikan saya pada keluarga, menuntun langkah saya kembali pada Ibu, menyelami arti berbakti yang sekian lama saya abaikan. Ya, setelah beberapa lama, kami sekeluarga harus berdamai dengan keadaan, menerima kenyataan bahwa Bapak memang sudah takdirnya dipanggil Yang Kuasa. Pada saat itu juga saya menyebut musibah yang beruntun tersebut sebagai sebuah berkah. Saya mencoba memperbaiki hubungan dengan Ibu untuk semakin membaik meskipun masih belum dalam taraf baik-baik saja sampai saat ini, begitupun hubungan dengan adik-adik. Saya bukan lagi seorang anak yang selalu “berkeliaran” kesana kemari mengejar segala ambisi. Saya bukan lagi seorang Mbak yang tidak terlalu peduli dengan adik-adiknya. Saya kembali ke keluarga, diterima pada program double degree Master Program di NTUST Taiwan (akhirnya saya lepaskan), lulus S2, dan bertemu suami tercinta. Pada akhirnya saya bersyukur telah diberikan kepercayaan untuk mengecap musibah.

Lima bulan lalu, tepatnya pertengahan bulan Mei ada sebuah musibah yang mampir dalam kehidupan pernikahan kami. Saya keguguran. Kami yang sedang bergembira karena ada bayi dalam kandungan harus menerima kenyataan dan merelakan bayi itu pergi sebelum terlahirkan secara sehat dan normal, sebelum kami bisa menyentuhnya, sebelum kami bisa melihat seperti siapa raut mukanya. Saya sedih luar biasa. Suami terus menerus membesarkan hati saya, Ibu tidak pernah alpa untuk selalu menguatkan dalam setiap telepon dan smsnya. Kemudian saya teringat dengan apa yang terjadi tahun 2012. Musibah yang beruntun yang pada akhirnya ada berkah yang didapatkan. Saya kemudian bangkit, tidak ingin terlalu lama tertimbun sedih karena kehilangan. Namun kehilangan tetaplah meninggalkan luka yang mendalam. Apalagi ini adalah kehamilan pertama, yang berarti anak saya yang pertama meninggal dunia. Ibu selalu berucap, tidak ada suatu kejadian tanpa seijinNya, bahkan sehelai daun yang gugur sekalipun. Jadi pasti ada hikmah dibaliknya.

Setelah keguguran, saya ingin dilakukan pemeriksaan menyeluruh oleh Ginekolog. Saya pernah ada riwayat kista dan setiap menstruasi sakitnya luar biasa. Setelah berkonsultasi pada Huisarts dan mendapatkan rekomendasi ke Ginekolog, pemeriksaan menyeluruhpun dilakukan. Hasilnya bagus. Tidak ada kista dan rahim bersih. Menurut Ginekolog, saya dan suami siap untuk proses menuju kehamilan selanjutnya. Berkah apa yang saya dapatkan setelah keguguran? Setiap bulan saya tidak pernah merasakan lagi sakit yang luar biasa ketika menstruasi, lancar tanpa hambatan. Hubungan dengan Suami semakin kuat dan harmonis. Saya semakin mencintai dia luar biasa. Pada hari saya keguguran, dia terus mendampingi sepanjang hari, sibuk kesana kemari, beberapa kali menelepon bidan, membersihkan darah yang berceceran, bahkan ketika saya jatuh pingsan karena tidak kuat menahan sakit, dia ada untuk saya. Proses keguguran itu bukan hanya menguras energi secara fisik, tetapi juga menguras emosi. Dia sedih harus kehilangan anak dalam kandungan saya, tetapi dia menguatkan diri dan tegar supaya saya juga kuat menerima kenyataan. Kami beruntung saling dipertemukan, karenanya kami bisa saling menguatkan. Memang benar saya mendapatkan musibah, tetapi setelahnya saya mendapatkan berkah yang luar biasa.

Sedih dan kecewa ketika mendapatkan musibah itu hal yang lumrah, normal. Kita manusia bukan malaikat. Butuh beberapa waktu untuk menyadari bahwa disetiap musibah ada sebuah berkah, sekecil apapun itu. Bersyukur ketika musibah datang hampir mustahil bagi saya untuk melakukannya. Namun seiring berjalannya waktu, berkurangnya umur, dan semakin bertambah pengalaman hidup yang dijalani, saya belajar untuk ikhlas dan bersyukur atas segala ujian hidup yang telah dipercayakan oleh Tuhan. Memang benar, bahwa semua sudah atas kehendakNya. Ikhlas dan bersyukur atas segala keadaan memang lebih gampang untuk diucapkan daripada dilakukan, tetapi bukan tidak mungkin untuk dilaksanakan. Ikhlas dan bersyukur akan selalu menjadi pelajaran seumur hidup.

Semoga atas segala musibah, ujian, kesenangan, kebahagiaan, maupun kesedihan yang dihampirkanNya dalam hidup, kami tidak lupa untuk selalu bersyukur serta mengingat bahwa selalu ada berkah dibaliknya, sekecil apapun itu. Saya belajar untuk tidak lagi bertanya “kenapa?” dan percaya bahwa Tuhan jauh lebih tahu apapun yang terbaik untuk hambaNya.

Find someone complimentary, not suplimentary -Oprah Winfrey-
Find someone complimentary, not suplimentary -Oprah Winfrey-

-Den Haag, 8 Oktober 2015-

Kelas Inspirasi 2013 – Surabaya

Kelas Inspirasi
“Bangun Mimpi Anak Indonesia…”

Mari berbagi cerita yang dapat menumbuhkan cita. Jejak langkah profesimu sebagai awalnya.
Sudah saatnya para profesional turut mengambil peran dalam pendidikan anak bangsa.

"Bagi Anda hanya satu hari cuti bekerja, namun bagi murid-murid itu bisa menjadi hari yang menginspirasi mereka seumur hidup. Berbagi cerita, pengetahuan, dan pengalaman untuk menjadi cita-cita dan mimpi mereka."

-Kelas Inspirasi-

Saya mengenal Kelas Inspirasi (KI) awalnya dari perkenalan dengan Indonesia Mengajar (IM). Saya ingat betul pagi itu hari minggu melihat lowongan untuk menjadi pengajar muda dikoran Kompas ketika saya sedang bekerja di Jakarta. Saat itu IM baru angkatan pertama tahun 2010. Setelah membaca profil tentang IM, tanpa pikir panjang saya langsung mengirim semua persyaratan untuk menjadi Pengajar Muda (PM) walaupun tipis harapan akan lolos karena pada saat itu usia sudah tidak muda lagi (tidak masuk dalam persyaratan yang diajukan). Tapi saya cuek saja, siapa tahu rejeki, pikir saya waktu itu. Beberapa minggu kemudian, saya mendapatkan jawaban kalau saya memang ditolak, tidak bisa bergabung menjadi PM. Tetapi mereka (atas nama Pak Anies Baswedan) menawari saya untuk bergabung menjadi pengurus membantu kelancaran terlaksananya IM. Saya membalas dengan mengatakan bahwa saya ingin menjadi pengajar, ingin mengabdikan diri pada kelangsungan pendidikan Indonesia yang lebih baik kedepannya dengan terjun langsung mengajar. Pada akhirnya saya melanjutkan lagi ritme hidup dengan tetap menjadi pekerja kantoran di Jakarta yang tidak pernah berhenti mengeluh ini itu.

Suatu ketika, Indonesia Bercerita, wadah saya menyalurkan hobi bercerita kepada anak-anak kecil, mendapatkan undangan dari IM. Ternyata mereka ingin mensosialisasikan tentang Indonesia Menyala. Indonesia Menyala adalah gerakan buku dan perpustakaan yang diinisiasikan oleh Gerakan Indonesia Mengajar. Filosofi dibalik pemilihan nama ini, menurut Bapak Anies Baswedan, adalah anak-anak desa yang menyala akal dan budinya karena membaca buku yang baik bersama para Pengajar Muda, bagaikan ribuan dan jutaan lampu yang menyalakan Indonesia. Saat itu saya membantu beberapa kegiatan Indonesia menyala yaitu menyortir dan mencari buku-buku yang bisa dikirimkan ketempat para Pengajar Muda. Kegiatan tersebut tidak bisa lama saya tekuni karena frekuensi pekerjaan yang mengharuskan bepergian keluar kota semakin meningkat. Setelahnya saya rutin mengikuti berita tentang kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Gerakan Indonesia Mengajar, salah satunya Kelas Inspirasi.

Pada tahun 2012, Kelas Inspirasi (KI) pertama kali diadakan di Jakarta. Saya ikut mendaftar sebagai relawan untuk mengajar. Sebenarnya apa kelas Inspirasi? Kelas Inspirasi adalah kegiatan yang mewadahi professional dari berbagai sektor untuk ikut serta berkontribusi pada misi perbaikan pendidikan di Indonesia. Melalui program ini, para professional pengajar dari berbagai latar belakang diharuskan untuk cuti satu hari serentak untuk mengunjungi dan mengajar SD yaitu pada hari Inspirasi. Tujuan dari KI ini ada dua, yaitu menjadi wahana bagi sekolah dan siswa untuk belajar dari para professional, serta agar para professional secara lebih luas dapat belajar mengenai kenyataan dan fakta mengenai kondisi pendidikan kita.

Tahun 2013 ketika saya sedang meneruskan kuliah di Surabaya, ternyata ada perekrutan relawan pengajar untuk kota Surabaya. Saya kembali mendaftar. Awalnya sempat bimbang karena pada saat itu status saya Mahasiswa, tidak mempunyai pekerjaan. Sempat bingung kalau misalkan saya lolos seleks,i cerita apa yang akan dibagikan. Tapi saya tepis keraguan dan tetap mendaftar. Ternyata saya lolos seleksi dan mendapatkan penempatan di SDN Kedungcowek II/254 Surabaya. Seperti biasa seminggu sebelumnya kami para relawan diharuskan datang briefing untuk mengetahui teknis pelaksanaan serta untuk mengetahui lebih jauh tentang KI itu sendiri. Dan saya selalu tidak bisa menyembunyikan air mata ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya. Semua rasa menyatu : haru, sesak, bahagia. Padahal dulu sewaktu sekolah sering membolos upacara bendera atau pura-pura sakit terus tidur diruang UKS.

Sebelum hari H, saya sudah menyiapkan alat peraga. Pada KI kali ini saya ingin berbagi cerita tentang pekerjaan sebagai Researcher. Karena dikantor sebelumnya memang saya beberapa kali berganti titel dan salah satunya researcher. Saya juga ingin menjelaskan lebih jauh bahwa yang saya teliti adalah dibidang marketing. Supaya tidak membingungkan mereka, maka saya tulis pekerjaan saya : Peneliti. Maka alat peraga yang saya siapkan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan angka, tabel, gambar, grafik dan lainnya. Saya juga menyiapkan kalkulator raksasa dari kardus bekas sebagai analogi bahwa memang kemanapun saya membawa kalkulator. Dua hari sebelum hari H, kami para relawan survey lokasi dan berkenalan dengan beberapa guru yang ada serta kepala sekolah untuk mengetahui kondisi lapangan seperti apa. Juga untuk pembagian tugas siapa yang akan mengajar kelas berapa. Relawan disini bukan hanya pengajar saja tetapi ada bagian dokumentasi foto dan merekam juga ada koordinator. Masih jelas teringat kalau koordinator saya anak ITS jurusan Desain Produk, karena waktu survey lapangan dan hari H saya numpang dia dari ITS-SD-ITS. Ngelamak.

Tanggal 11 Nopember 2013 tiba sebagai Hari Inspirasi. Dimulai dengan upacara bendera memperingati Hari Pahlawan tanggal 10 Nopember. Lalu jam 8 pagi kelaspun dimulai. Bohong kalau saya tidak grogi. Dari pengalaman sebelumnya yang super capek tapi juga riang gembira menghadapi kelincahan anak SD kelas 5  ditambah pertanyaan-pertanyaan yang tidak terduga, sayapun menyiapkan mental kalau kali ini pasti ada pengalaman baru yang tidak terduga lainnya. Kali ini saya kebagian kelas 5. Masuk kelas sudah disambut salam. Kemudian saya memperkenalkan diri dan membuat permainan untuk mereka memperkenalkan diri juga. Saya mulai bertanya satu persatu cita-cita mereka apa. Ada seorang murid yang bertanya, tidak mengerti cita-cita itu apa. Selalu ada yang seperti ini, jadi bukan hal yang baru untuk saya. Lalu pertanyaan tersebut saya lemparkan ke kelas. Supaya teman-temannya yang lain ikut menerangkan juga. Jadi komunikasi dikelas makin hidup. Tidak hanya guru. Kelas saya ini termasuk aktif sekali. Kalau saya berikan pertanyaan, mereka berebut menjawab. Kalau saya tantang dengan permainan, mereka berebut maju depan kelas. Suara sampai saya tinggikan entah beberapa oktaf untuk mengontrol mereka yang lari kesana kemari karena antusias dengan permainan, sampai tidak terasa diakhir acara suara sudah serak. Menjadi seorang Guru tidaklah mudah. Butuh kesabaran tinggi. Selalu salut dengan perjuangan Bapak Ibu Guru.

Saya menerangkan tentang pekerjaan yang lalu, tentang apa yang saya kerjakan, tentang dengan siapa saja saya berhubungan dalam pekerjaan, tentang tanggungjawab apa yang harus diselesaikan, dan tentang bagaimana keseharian saya dipekerjaan. Tentunya saya menjelaskan sesuai dengan bahasa mereka dan saya selingi dengan beberapa permainan karena jika saya menerangkan terlalu panjang lebar, pasti mereka akan bosan dan tidak fokus lagi. Saya juga menerangkan tentang status saya saat itu sebagai mahasiswa. Lalu saya juga memberikan gambaran bahwa bekerja dibidang marketing terutama untuk urusan riset konsumen itu sering keluar kota bahkan keluar negeri untuk mengikuti pelatihan atau seminar. Saya menceritakan bahwa saya senang dengan pekerjaan sebagai peneliti karena bisa mengenal banyak orang, bisa mengetahui banyak tempat baru, dan bisa belajar banyak hal sehingga menambah ilmu.

Saat mereka menyebutkan satu persatu ingin menjadi apa mereka nantinya, saya menemukan kejutan-kejutan jawaban. Ada yang ingin menjadi polisi, tentara, pemain sepak bola, presiden, tukang jual sate, tukang tambal ban, supir taksi, dokter, pemain sinetron, guru, pegawai negeri, ingin membela kebenaran, dan bahkan ada yang menjawab ingin seperti Caesar (itu lho yang dulu heboh dengan goyang apa namanya lupa). Satu yang saya ingat sampai sekarang dan selalu membuat terharu tentang seorang gadis kecil. Dia lumayan pendiam diantara anak-anak lainnya.  Saya bertanya dia punya cita-cita apa. Lalu dia menjawab “ingin seperti Ibu saya.” Lalu saya bertanya lagi kenapa ingin seperti Ibu. Dia menjawab “saya ingin seperti ibu. Mengumpulkan sampah lalu menjual, memasak untuk saya dan adik-adik, membersihkan rumah dan membantu ayah yang sakit tidak bisa kemana-mana.” Kalau dalam bahasa jawa, hati saya langsung maktratap. Saya merasa trenyuh, terharu, juga ingin menangis. Anak sekecil itu sudah merasakan kerasnya hidup. Sementara teman-temannya yang lain langsung mengolok cita-citanya, yang kemudian saya tenangkan suasana riuh dikelas dan saya bilang bahwa setiap anak mempunyai cita-cita yang berbeda. Kita harus saling menghormati cita-cita baik setiap orang. Saya mengatakan pada mereka agar jangan putus sekolah, menjadi anak yang kreatif, mencintai buku dan membacanya supaya pengetahuan bertambah.

Ada beberapa kejadian yang membuat saya tersenyum sekaligus membuat ngenes ketika diingat sekarang. Jadi ada satu waktu saya mengajak mereka untuk bernyanyi bersama. Saya menawarkan Hymne Guru. Sebagian besar dari mereka keberatan dan meminta lagu yang lain. Saya bertanya maunya lagu apa. Hampir semua serentak menjawab lagu Kereta Malam. Saya terdiam sejenak mencoba mengingat lagu apa itu. Tetapi karena saya sama sekali tidak tahu, saya bertanya mereka mendengar lagu itu dimana. Ternyata diacara TV yang mereka lihat yang isinya joged-joged. Wah, mereka menolak menyanyikan Hymne Guru dan memilih lagu dari acara TV yang selalu mereka tonton setiap malam. Pengaruh TV kuat sekali. Pada akhirnya mereka tetap menyanyikan Hymne Guru.

Sesi terakhir adalah setiap anak menuliskan cita-cita mereka pada kertas yang sudah kami berikan. Kertas-kertas itu kemudian ditempel pada tempat yang disediakan yang ditaruh dekat dengan halaman sekolah. Mereka bisa membaca satu persatu cita-cita teman yang lain serta mereka dengan bangga menunjukkan pada teman-teman yang lain apa yang sudah dituliskan. Mereka nampak bahagia. Pada saat pulang sekolah, satu anak datang kepada saya untuk bersalaman seraya mengucapkan “Bu, terima kasih ya sudah datang ke sekolah. Saya akan belajar rajin dan banyak membaca. Saya ingin seperti Ibu, sekolah tinggi terus bisa keliling dunia.” Ah saya sungguh terharu. Ketika dikelas saya memang mengatakan kalau ingin keliling dunia untuk membawakan buku bagi anak-anak yang tidak mampu supaya mereka bisa melihat dunia luar dan makin bertambah ilmu.

Satu hari yang tidak akan terlupakan. Banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan. Bukan saya yang menginspirasi mereka, tetapi merekalah yang sudah memberikan saya banyak inspirasi tentang hidup dan pendidikan. Bahwa definisi cita-cita tinggi itu relatif bagi setiap anak. Kadangkala kita juga harus realistis dalam menggapai apa yang sudah dicita-citakan. Seringkali kita juga harus berdamai dengan keadaan jika cita-cita dimasa kecil tidak menjadi kenyataan ketika sudah dihadapkan pada realitas kehidupan. Bahwa apapun yang menjadi cita-cita memang layak diperjuangkan sampai batas maksimal. Memang belum seberapa apa yang sudah saya lakukan sebagai relawan di Kelas Inspirasi ini. Tapi saya selalu berharap ini akan berguna untuk pendidikan Indonesia. Semua dimulai dari langkah kecil. Dimulai dengan langkah kita untuk terjun langsung menjadikan pendidikan Indonesia menuju ke arah yang lebih baik. Dimulai dengan cuti satu hari untuk berbagi cerita yang menumbuhkan cita anak Indonesia.

Saya rindu mengajar lagi, rindu bertemu dengan mereka, rindu belajar dari mereka, dan rindu berbagi dengan sesama.

Langkah menjadi panutan. Ujar menjadi pengetahuan. Pengalaman menjadi inspirasi -@KelasInspirasi-

Sudahkan menjadi bagian dari Kelas Inspirasi? Lalu apa cita-citamu dulu?

Saya sertakan satu video Lilin Lilin Penyala diakhir tulisan ini. Video ini selalu membuat saya terharu.

-Den Haag, 24 September 2015-

Semua foto adalah dokumentasi Kelas Inspirasi Surabaya.

Saya bawa serta ke Belanda. Kenangan yang tidak akan terlupa
Saya bawa serta ke Belanda. Kenangan yang tidak akan terlupa
Mereka dan Cita-cita
Mereka dan Cita-cita
Ketika saya sedang menunjukkan foto beberapa tempat di Luar Negeri yang pernah saya kunjungi> Untuk memotivasi mereka supaya mempunyai cita-cita yang tinggi
Ketika saya sedang menunjukkan foto beberapa tempat di Luar Negeri yang pernah saya kunjungi. Untuk memotivasi mereka supaya mempunyai cita-cita yang tinggi.
Senyum masa depan bangsa
Senyum masa depan bangsa.
Ketika saya sedang bercerita tentang pekerjaan
Ketika saya sedang bercerita tentang pekerjaan
Alat peraga selain kalkulator raksasa. Saya ingin menunjukkan bahwa sehari-hari dengan angka-angka, tabel, diagram dan gambar-gambar seperti inilah saya bergelut didalam pekerjaan
Alat peraga selain kalkulator raksasa. Saya ingin menunjukkan bahwa sehari-hari saya bergelut dengan angka-angka, tabel, diagram dan gambar-gambar seperti inilah ketika bekerja
Membaca cita-cita yang tertempel. Semoga mereka diberikan kemudahan mewujudkan impian dimasa depan
Membaca cita-cita yang tertempel. Semoga mereka diberikan kemudahan mewujudkan impian dimasa depan.
Bersama Ibu Bapak Guru
Bersama Ibu Bapak Guru dan para relawan
Satu-satunya kantin
Satu-satunya kantin Sekolah
Kantin sekolah
Kantin sekolah
Piring plastik kotor yang menumpuk ditempat cucui piring yang tidak layak kebersihan
Piring-piring plastik kotor yang menumpuk ditempat cucui piring yang tidak layak kebersihan
Nasi soto, makanan yang paling banyak diminati dibandingkan jajanan lainnya. Harganya Rp 1.000 satu pring plastik kecil.
Nasi soto, makanan yang paling banyak diminati dibandingkan jajanan lainnya. Harganya Rp 1.000 satu pring plastik kecil.
Lingkungan disekitar SDN Kedung Cowek Surabaya
Lingkungan disekitar SDN Kedung Cowek Surabaya

 

Saya selalu suka dan tersentuh dengan apa yang Pak Anies Baswedan utarakan pada video Lilin Lilin Penyala ini.

 

Perihal Pindah (Lagi)

Hidup berpindah bukan hal baru lagi buat saya. Sejak umur 15 tahun saya sudah merantau. Lulus SMP di Situbondo saya memutuskan ingin melanjutkan sekolah di Surabaya. Orangtua menyetujui. Walhasil sejak umur 15 tahun saya sudah menjadi anak rantau, tinggal di rumah kos, hidup mandiri demi cita-cita melanjutkan pendidikan di SMA favorit di Surabaya. Selama 10 tahun setelahnya saya habiskan waktu di kota yang sama. Melanjutkan kuliah dan bekerja di salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Selama kurun waktu tersebut, tercatat saya pindah 4 kali tempat kos. Pada tahun ke 10, saya merasa saatnya untuk pindah kota. Menetap di satu tempat yang sama dalam jangka waktu yang lama membuat saya terlalu merasa nyaman, malas bergerak, dan menjadi tidak peka untuk berbuat lebih dari yang sudah ada. Awalnya saya diliputi rasa cemas harus memulai segala sesuatunya dari awal. Mengenal kota yang baru, teman baru, lingkungan baru. Segala sesuatunya baru. Tetapi jika tidak memutuskan pindah, saya merasa hidup tidak ada tantangan. Bukankah manusia pada dasarnya melakukan perpindahan untuk kelangsungan hidupnya. Saya juga ingin hidup tetap berlangsung, tapi dengan keadaan yang berbeda, tidak melulu itu itu saja.

Akhirnya saya diterima kerja di Jakarta. Tidak tanggung-tanggung kantor tempat saya bekerja adalah perusahaan asing. Gegar budaya tentu saja saya alami. Bermodalkan nekad, saya seperti ingin menantang diri sendiri untuk bekerja di perusahaan tersebut. Bagaimana tidak, Bahasa Inggris saja minim sekali, pas-pasan, bahkan nyaris tidak bisa berkomunikasi. Pasti Tuhan sedang bercanda, pada saat itu pikir saya. Satu tim dengan orang-orang asing, bosnya pun orang asing, dan sehari-hari komunikasi dipaksa untuk menggunakan Bahasa Inggris. Laporan serta presentasi pun dalam Bahasa Inggris. Saya yang awalnya hampir menyerah karena nyaris tidak bisa mengikuti ritme kerja mereka, serta terkendala bahasa, pada akhirnya mampu mengimbangi. Saya berpikir lagi tujuan pindah ke Jakarta apa. Saya memotivasi diri sendiri sambil terus berusaha keras belajar untuk bisa membuktikan bahwa saya mampu dan bisa lebih dari yang mereka kira. Bersyukur, pelan-pelan tapi pasti hampir tiap tahun mendapatkan promosi jabatan. Dari awalnya posisi paling bawah, pelan-pelan bisa naik sampai pada posisi yang saya targetkan. Dari anak kampung yang awalnya belepotan berbicara dan menulis dalam Bahasa Inggris, dengan kerja keras dan semangat ingin maju, saya bisa selangkah lebih pada yang dituju. Pada akhirnya saya berterima kasih pada diri sendiri bahwa dulu memutuskan pindah. Berpindah memberikan saya waktu untuk bergerak maju, tidak membiasakan diri untuk diam karena bisa belajar banyak hal baru. Pindah itu seperti mencari ilmu.

Enam tahun di Jakarta, berkarir pada satu tempat yang sama kembali membuat saya gelisah. Sudah saatnya harus kembali pindah. Saya merasa ditempat itu tidak terlalu memberikan tantangan lagi. Saya kembali mencari alasan untuk keluar dari zona nyaman. Kuliah, ya itu sepertinya jawaban yang tepat. Momennya juga tepat. Akhirnya saya kembali mengemas barang, pindah ke kota yang lama pernah saya singgahi, Surabaya. Kenapa harus Surabaya? Karena saya sudah jatuh cinta dengan kota ini, terutama makanan dan orang-orangnya. Lain waktu saya akan bercerita tentang Surabaya. Saya sangat antusias ketika menyadari bahwa pindah kali ini adalah untuk menuntut ilmu. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya kembali, saya ingat betul pernah berujar dalam hati “Pindah kali inipun bersifat sementara. Setelah kuliah ini selesai, saya ingin tinggal diluar Indonesia. Entah dimana, tapi saya harus bertualang jauh dari negeri ini. Saya ingin seperti busur panah yang kali ini dalam tahap ditarik pemanahnya, disuatu saat nanti akan dilepas, meluncur jauh dari titik semula

“Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang”

-Imam Syafi’i-

Dan apa yang saya ucapkan pada waktu itu, 2.5 tahun lalu, saat ini terjadi. Saya akan pindah lagi, jauh dari Negeri sendiri, merantau mengadu nasib di Negara orang. Saya akan mencoba peruntungan, mencari penghidupan dan kembali berburu ilmu disamping menjalankan peran sebagai seorang istri. Beradaptasi bukan perkara yang kecil. Tapi dengan pengalaman yang sudah saya lewati sebagai perantau, saya yakin bahwa semua akan teratasi, perlahan tapi pasti.

Karena pindah kali ini jaraknya sangat jauh, lintas benua, maka pengalaman mengemas barang juga berbeda. Banyak barang yang harus saya relakan untuk dihibahkan. Contohnya buku-buku yang sedikit demi sedikit saya kumpulkan, karena dulu niatnya ingin mempunyai taman baca, akhirnya dengan berat hati saya hibahkan untuk taman baca milik teman. Baru menyadari ternyata buku yang saya kumpulkan selama ini mencapai 300an buku. Semoga mereka menemukan pemilik yang akan selalu menyayangi dan merawat penuh kasih. Proses Packing ini pun memakan waktu lama. Saya harus memilih satu persatu barang yang harus dibawa, barang yang harus dibuang, ataupun barang yang harus diberikan pada orang supaya tetap bermanfaat. Seperti sebuah kenangan, ada yang harus disimpan, ada yang harus dibuang. Begitu juga barang. Pindah juga mengajarkan keikhlasan. Merelakan barang kesayangan berpindah tangan.

Pindah juga artinya berpisah dengan orang-orang tersayang. Keluarga, teman, dan handai taulan. Proses berpamitan pun dilakukan, untuk mengabarkan bahwa saya tidak akan bisa mereka temui lagi dalam kurun waktu tertentu. Meskipun tidak bisa bertemu secara fisik, namun dengan kemajuan teknologi, tentu saja berkirim pesan bukan hal yang jauh dari jangkauan . Semua tetap menjadi mungkin untuk saling menjaga silaturahmi.

Dalam hitungan jam, sekarang saya siap untuk terbang. Pergi ke tempat baru, lingkungan baru, bersiap mendapatkan kenalan baru, pengalaman baru, dan keluarga baru.

Pindah selalu menimbulkan sensasi yang luar biasa meskipun melewatinya tidak selalu mudah. Pindah kali ini berbeda karena menuju Suami tercinta.

Punya cerita seputar pindah?

 -Surabaya, 29 Januari 2015-

Gambar Cover dari sini

Makan siang sampai malam bersama teman-teman kerja sewaktu di Jakarta. 8 tahun pertemanan, dari awal berkarir sampai sekarang mereka sudah dijabatan Top Manajemen semua. Proud of you girls
Makan siang sampai malam bersama teman-teman kerja sewaktu di Jakarta. 8 tahun pertemanan, dari awal berkarir sampai sekarang mereka sudah dijabatan Top Manajemen semua. Proud of you girls
Makan malam bersama teman-teman kuliah yang tinggal di Jakarta. 16 tahun tahun pertemanan. Selalu saling silaturahmi ya Teman :)
Makan malam bersama teman-teman kuliah Statistika yang tinggal di Jakarta. 16 tahun tahun pertemanan. Selalu saling silaturahmi ya Teman 🙂
Makan siang bareng teman-teman kuliah yang di Surabaya sambil belajar membuat Bento. Pertemanan 16 tahun. Awet dengan segala hiruk pikuknya :)
Makan siang bareng teman-teman kuliah Statistika yang di Surabaya sambil belajar membuat Bento. Pertemanan 16 tahun. Awet dengan segala hiruk pikuknya 🙂
Makan malam bersama teman-teman kuliah Teknik Industri dan Statistika. Kalian pasti akan selalu kurindukan :)
Makan malam bersama teman-teman kuliah Teknik Industri dan Statistika. Kalian pasti akan selalu kurindukan 🙂

 

Meskipun saat itu Surabaya sedang hujan sangat deras dan banjir dimana-mana, mereka tetap menyempatkan datang. Terharu ^^
Meskipun saat itu Surabaya sedang hujan sangat deras dan banjir dimana-mana, mereka tetap menyempatkan datang. Terharu ^^
Pilah Pilih berkas berkas
Pilah Pilih berkas berkas
Buku-Buku yang harus rela dihibahkan. Sedih sebenarnya
Buku-Buku yang harus rela dihibahkan. Sedih sebenarnya
Bertahun-tahun mengumpulkan sedikit demi sedikit. Mudah-mudahan berguna buat Rumah Baca Srikandi
Bertahun-tahun mengumpulkan sedikit demi sedikit. Mudah-mudahan berguna buat Rumah Baca Srikandi
Packing baju yang digulung membuat banyak tempat kosong dan muat banyak
Packing baju yang digulung membuat banyak tempat kosong dan muat banyak
Taraaa!! 2 tas siap diangkut
Taraaa!! 2 tas siap diangkut
Akhir dari perjuangan selama ini, dan awal dari perjuangan lainnya. Semoga kamu "laku" ya Nak di Negara orang :)
Akhir dari perjuangan selama ini, dan awal dari perjuangan lainnya. Semoga kamu “laku” ya Nak di Negara orang 🙂
Narsis sesaat. Selama kuliah belum pernah foto disini :)
Narsis sesaat. Selama kuliah belum pernah foto disini 🙂
Siap menuju Belanda. Yiaayy!!
Siap menuju Belanda. Yiaayy!!

Berpamitan

Beberapa hari ini saya rajin sekali berkunjung, lebih tepatnya mengunjungi saudara-saudara dan para tetangga untuk berpamitan. Ya, akhirnya saat yang dinanti tiba juga. Berpamitan karena saya akan pergi dalam waktu yang lama, tinggal jauh dari mereka. Rasanya sedih karena pindah kali ini berbeda dengan pindah yang sebelum-sebelumnya. Pindah kali ini jaraknya sangat jauh, yang tidak memungkinkan untuk saya sering bertemu. Entah kapan saya bisa kembali mengunjungi mereka, karena saya berniat untuk tidak sering-sering pulang, kecuali ada kejadian khusus. Pindah kali ini terasa berat, tapi inilah pilihan hidup yang harus saya jalani.

Dan diantara acara berpamitan tersebut, yang paling berat tentu saja harus meninggalkan Ibu. Baru 3 tahun lalu kami kehilangan Bapak. Setahun setelahnya Adik saya keluar rumah karena menikah dan memilih tinggal terpisah dengan Ibu. Setahun kemudian giliran saya yang harus pergi jauh dari Ibu. Saya bisa merasakan bagaimana sedihnya Ibu, meskipun tidak pernah ditunjukkan. Saya sangat bisa memahami bagaimana Ibu akan merasa sangat kesepian karena 2 anak perempuannya tinggal berjauhan. Saya hanya bisa selalu berdoa bahwa apa yang telah saya pilih untuk dijalani sekarang ini selalu mendapat iringan restu dan doa dari Ibu. Bahwa apa yang akan saya jalani nantinya juga salah satu bentuk ketaatan kepada Ibu.

Diantara wejangan yang terlontar saat berpamitan, ada satu yang sangat melekat saya ingat

Bagaimanapun kondisinya disana, apapun yang terjadi dengan kalian berdua, seberapa hebatpun ujian yang akan kalian hadapi bersama, selalu ingat bahwa kalian menikah berucap janji setia dengan mengucap nama Allah. Jalan yang kalian lalui untuk menjadi satu itu tidaklah mudah. Banyak halangan dan rintangan yang berhasil kalian taklukkan. Ingatlah selalu perjuangan itu ketika masa sulit ada dihadapan. Semua menjadi mungkin ketika diperjuangkan bersama. Jadi, berjuanglah bersama untuk kebahagiaan dalam rumah tangga kalian. Ketika semuanya menjadi sangat sulit, serahkan pada Allah. Selalu sertakan Dia dalam segala urusan, dan kemudian Dia akan menyertakan kalian dalam kemudahan.

Benar adanya, bahwa apa yang kita dapatkan dengan penuh perjuangan, mudah-mudahan akan selalu kita pertahankan, tidak dengan mudah kita lepaskan. Semoga kami bisa meneladani Bapak dan Ibu, bersama mengarungi suka duka sampai maut memisahkan.

Dan berpamitan kali ini tetap tidak mudah, menyisakan sedih dan berat hati ketika kaki harus melangkah pergi

There’s always a goodbye in every hello, and i will find another hello

-Situbondo, 26 Januari 2015-

Akhirnya Lulus!

Cita-cita dari dulu foto disini begitu selesai sidang

9 Januari 2015. 5 bulan pernikahan, daaan… Akhirnya lulus juga. Yiaayy!! Rasanya senaangg sekali. Bahagia tiada tara. Seminggu ini dipenuhi perasaan berkecamuk setelah jadwal sidang diumumkan dan mendapati salah satu penguji adalah Professor yang memang ahlinya berkaitan dengan topik Tesis saya. Antara pengen mundur tidak mau melanjutkan karena takut diuji beliau (terbayang pertanyaan-pertanyaan kritis yang akan terlontarkan), tapi sayang juga kalau mundur karena tinggal selangkah lagi. Seminggu penuh drama air mata, nangis sana sini tidak jelas juga nangis karena apa. Belum lagi selama proses mengerjakan Tesis juga dipenuhi drama-drama lainnya yang tidak kalah luar biasanya. Nggondok sama Dosen Pembimbing, menyerah dengan topik yang terlalu sulit, LDM sama suami semakin membuat rasa malas makin menjadi untuk segera mengakhiri kuliah ini

Hari yang dinanti akhirnya datang juga. Ternyata sidang Tesis tidak seseram seperti yang diduga (sekarang aja bisa ngomong gini, tadi malam blingsatan ga bisa tidur ga doyan makan). 45 menit tidak terasa karena suasana seperti diskusi. Tidak ada pertanyaan menjatuhkan. Bahkan Bapak Professor memberikan arahan untuk perbaikan Tesis saya. Wah! Bapak ternyata tidak seseram yang saya kira 😀

Sesaat setelah sidang dan keputusan lulus diumumkan
Sesaat setelah sidang dan keputusan lulus diumumkan
Dari dulu punya cita-cita mulia foto didepan raung keramat ini
Dari dulu punya cita-cita mulia foto didepan ruang keramat ini
Seluruh peserta sidang hari ini. Senyumnya dong sumringah semua meskipun capek tiada tara
Seluruh peserta sidang hari ini. Senyumnya dong sumringah semua meskipun capek tiada tara
Dan seorang teman yang selalu mendampingi serta memberikan motivasi. Setahun yang lalu dia berfoto disini dengan status saya saat ini. Terima Kasih ya Pu selalu ada untuk aku
Dan seorang teman yang selalu mendampingi serta memberikan motivasi. Setahun yang lalu dia berfoto disini dengan status saya saat ini. Terima Kasih ya Pu selalu ada untuk aku

Terima kasih untuk Ibu yang selalu menenangkan, membesarkan hati walaupun berkali-kali saya telepon hanya untuk sekedar menangis, yang selalu ada kapanpun saja. Terima Kasih untuk Mas Ewald yang hari ini tidurnya tidak nyenyak karena saya paksa untuk bangun jam 3 pagi waktu Belanda dan harus tetap bangun sampai saya selesai sidang, juga orang pertama yang menelepon saya ketika tadi siang dinyatakan lulus. Mas Ewald juga yang selalu menguatkan saya untuk jangan menyerah, fokus pada apa yang ingin saya raih. Dan yang tidak kalah pentingnya, terima kasih kepada Almarhum Bapak. Kalau tidak karena janji yang terlontar sebelum Bapak meninggal, saya tidak akan mungkin sampai pada tahap ini. Dan hari ini saya membuktikan dan menepati janji saya untuk Almarhum Bapak bahwa pada akhirnya saya lulus kuliah. Terima kasih Bapak.

Dan terima kasih untuk mereka yang selalu saya repotkan dengan cerita-cerita putus asa saya, terima kasih untuk saudara, teman-teman, dan adik-adik yang telah mendoakan saya. Terima kasih.

Kelulusan ini juga semacam kado 5 bulan pernikahan. Sekarang saatnya tidur nyenyak, dan makan-makanan enak, kemudian memikirkan revisi.

Benar adanya, bahwa ujian itu harus dihadapi, diselesaikan, bukan dihindari.

Selamat berakhir pekan kawan!

-Surabaya, 9 Januari 2015-

6 Januari 2012 – Jika Waktu Bisa Diputar Kembali

Jika waktu bisa diputar kembali,

Saya ingin lebih awal mewujudkan keinginan Bapak dan berharap Bapak ada dimomen yang selama ini selalu dinantikan.

Saya ingin lebih awal melanjutkan kuliah, sesuai yang Bapak selalu ucapkan berulang bahwa saya harus melanjutkan kuliah. Tapi saya selalu punya 1000 alasan untuk menunda. Tak pernah tahu bahwa itu permintaan terakhir sampai saat itu benar-benar tiba

Bapak ingin melihat saya menikah, menggunakan kebaya putih dan menikahkan saya secara langsung. 2 tahun berselang, saya baru bisa mewujudkan keinginan itu, tanpa ada Bapak disana melihat saya berkebaya.

Jika waktu bisa diputar kembali,

Saya akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan Bapak, bukan bepergian melancong kesana kemari mengejar segala mimpi dan cita-cita, yang kata Bapak tak pernah ada habisnya

Saya akan menyediakan waktu untuk mengenal Ibu lebih baik, tidak selalu bertengkar dan bersitegang meskipun Bapak mempunyai stok sabar yang tidak terbatas untuk menjadi penengah antara kami berdua.

Saya akan lebih dekat dengan adik-adik, tidak menjadi kakak yang cuek dan tidak peduli dihari sejak saya meninggalkan rumah dan tidak lagi hidup satu atap dengan mereka

Harusnya saya lakukan itu semua lebih awal, sebelum saat itu benar-benar datang

Namun waktu tidak pernah bisa diputar kembali,

Saya sudah mewujudkan keinginan Bapak, disaat semua mungkin sudah terlambat

Saya sudah berdamai dengan Ibu, menjaga dan selalu membuat Ibu gembira, meskipun tidak ada Bapak disana

Saya mencoba menjadi kakak yang perhatian, meskipun itu belum cukup adanya

Bapak akan selalu ada dalam langkah dan hati saya. Bapak ada dalam setiap doa yang terpanjatkan dan sujud panjang yang saya lakukan. Saya percaya bahwa Bapak selalu ada disekitar dan tidak pernah benar-benar pergi.

Saya, Kami semua hanya butuh waktu untuk menghilangkan trauma akan kehilangan yang tiba-tiba. Kami hanya membutuhkan waktu untuk berdamai dengan takdirNya.

Ya, kami masih berduka. Kami masih harus melewati masa-masa sulit itu bersama. Sejak saat itu hidup kami tidak pernah lagi sama. Namun kami harus tetap melangkah dan doa tidak pernah putus kami panjatkan agar Bapak selalu mendapatkan tempat terbaik disisi Allah. Kami yakin, Bapak sudah bahagia disana, dan sedang tersenyum bahagia melihat kami disini baik-baik saja.

Bapak, kami sangat rindu Bapak

-Surabaya, 6 Januari 2015-

2014 – Tahun Penuh Kejutan

2014 memang tahun penuh kejutan untuk saya. Banyak kejadian tidak terduga, tidak hanya yang menyenangkan, yang tidak menyenangkan juga singgah dalam roda waktu ditahun ini. Sama seperti tahun lalu, tidak banyak perjalanan yang sempat saya lakukan karena sebagai mahasiswa masih mengirit uang buat jalan-jalan sementara kebutuhan penelitian juga lumayan banyak. Bersyukurnya diberikan kesehatan yang baik sepanjang tahun. Semakin berkomitmen untuk menjalankan Raw Food dan Food Combining (sejak lama saya tidak makan daging dan unggas). Semakin rajin lari pagi dan berenang. Dan 2014 menjadi tahun yang mengesankan karena diberikan kesempatan bertemu belahan jiwa dan berbagi hidup serta cinta dengannya.

Januari 2014

Januari selalu menjadi bulan penuh kenangan. Pada tahun ini, genap dua tahun Bapak sudah tenang bersama Allah. Setiap tahun saya, ibu, dan adik-adik harus berjuang keras mengatasi trauma ditinggalkan Bapak secara mendadak. Dan saya selalu percaya bahwa waktu yang akan menyembuhkan trauma itu.

Februari 2014

Bulan yang tidak akan pernah dilupa. Di bulan ini saya pertama kali bertemu muka dengan Mas Ewald (kali ini pakai nama lengkap, karena sedang tidak malas mengetik :D) pada tanggal 2 Februari, yang kemudian dilanjutkan dengan melamar langsung ke Ibu. Kami sekeluarga tidak pernah menduga kalau dia akan seserius itu. Lamaran tidak langsung dijawab. Ibu masih keberatan karena saya masih kuliah dan belum siap kalau harus tinggal berjauhan. Tapi saya tentu saja senang dilamar. Yiaayy!! 🙂 Di bulan ini pertama kali Mas Ewald menginjakkan kaki di Indonesia, bahkan sampai ke Situbondo, kota saya dibesarkan. Akhirnya saya dan adik mengajak jalan-jalan dia ke Bromo, Kawah Ijen, Pantai Merah, dan Air Terjun Madakaripura. Cerita Kawah Ijen ada disini

Maret 2014

Anggota keluarga bertambah satu karena adik saya melahirkan bayi laki-laki yang lucu. Di bulan Maret ini juga usia saya berkurang secara arti namun bertambah secara angka. Harus lebih baik lagi dalam menjalani hari karena saya tidak tahu sampai dimana dan kapan usia saya harus terhenti. Lebih banyak bersyukur dan melakukan kegiatan yang berarti

April 2014

Visa ke Belanda akhirnya disetujui. Saya ke Belanda dalam rangka berkenalan dengan keluarga Mas Ewald dan mencari kemantapan hati bahwa Mas Ewald adalah “orangnya”. Jadi, lamaran Mas Ewald belum bisa dijawab sebelum saya berkenalan dengan keluarganya dan melihat kehidupan disana.

Mei 2014

Untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Eropa, tepatnya di Belanda. Tidak pernah terpikirkan akan sampai di Negara yang selama ini saya selalu berjuang untuk mendapatkan beasiswa disalah satu universitasnya. Jungkir balik saya mengikuti tes untuk mendapatkan beasiswa di TU Delft, tapi tidak pernah lolos. Ternyata saya malah ke Belanda dalam rangka bertemu calon mertua. Dan salah satu impian terbesar saya dapat terwujud yaitu mengunjungi Keukenhof dan Red Light District. Pasti tidak menyangka bahwa saya sangat ingin pergi ke RLD 🙂 Entah kenapa, banyak hal di hidup saya selalu bermula dari mimpi. Pertemuan dengan keluarga di Belanda berjalan lancar. Dan dibulan ini juga hati saya sudah mantap untuk berbagi hidup dalam suka dan duka dengan Mas Ewald. Setelah 2 minggu di Belanda, saya dan keluarga memulai persiapan pernikahan yang dilaksanakan bulan Agustus 2014.

Keukenhof 2014
Keukenhof 2014

Juni 2014

Akhirnya saya maju proposal Tesis juga. Setelah sekian lama ditunda dan berganti topik beberapa kali, pada saatnya lulus juga proposal Tesis. Senangnya bukan main. Tinggal selangkah lagi menuju lulus. Dan dibulan Juni ini juga untuk pertama kalinya saya belajar Bahasa Belanda. Jadi bulan Juni ini adalah bulan sibuk. Belajar Bahasa Belanda, sibuk mengerjakan Tesis, dan mempersiapkan pernikahan. Tapi saya jalani semua dengan santai. Saya selalu yakin bahwa pada saatnya nanti, semua akan terlewati. Jadi tidak perlu bingung atau tertekan.

Juli 2014

Ada berita tidak nyaman di bulan ini. Saya tidak bisa maju sidang Tesis yang artinya tidak bisa wisuda bulan September dan harus molor satu semester. Rasanya campur aduk. Sedih, kesal, jengkel, dan kecewa. Tapi saya mencoba berdamai dengan diri sendiri. Mungkin memang ini yang terbaik karena beberapa bulan kedepan saya akan sibuk dengan banyak urusan .

Berita baiknya, proses aplikasi Beasiswa S3 satu tahun lalu mendapatkan jawaban baik. Iya, saya mendapatkan beasiswa S3. Tapi sayangnya pada saat ini saya tidak bisa mengambil beasiswa itu. Rencana hidup setahun lalu dan saat ini sudah berubah. Sedih karena dulu saya ingin sekali melanjutkan sekolah disana. Namun, hidup adalah tentang memilih. Mudah-mudahan ini pilihan terbaik untuk masa depan saya dan suami.

Agustus 2014

Bulan yang tidak akan dilupa. 9 Agustus 2014 saya resmi menjadi Istri Mas Ewald. Setelah 8 bulan lalu sejak pertama berkenalan akhirnya ini adalah awal baru dalam kehidupan saya. Kini, saya menemukan tangan yang bisa selalu digenggam dalam setiap gerak menuju masa depan yang belum pasti, tapi akan bersama kami lalui. Dengan persiapan hanya 3 bulan, dengan segala macam birokrasi di Indonesia dan Kedutaan Belanda, bersyukur semua berjalan lancar. Mas Ewald sangat menikmati proses pernikahan di Indonesia. Dia juga senang mendapatkan keluarga baru, keluarga besar. Dibulan ini juga saya memulai memperkenalkan tentang Indonesia dengan perjalanan yang tidak akan terlupa selama 3 minggu : Bali-Surabaya-Jember-Jogjakarta-Semarang-Karimunjawa-Solo-Jakarta-Bandung. Mas Ewald belajar dan mengenal banyak hal baru. Dari makanan, budaya, dan adat istiadat. Bahkan Mas Ewald akhirnya menemukan kembali jejak rumah keluarganya di Jl. Surabaya No.40 Jakarta. Ceritanya pernah saya tulis disini.

Kaleidoskop Agustus
Kaleidoskop Agustus

September 2014

Untuk pertama kalinya saya dan Mas Ewald mengikuti lomba lari bersama. Kami mengikuti Bromo Marathon pada tanggal 7 September 2014. Saya pada 10K sedang Mas Ewald pada Half Marathon. Ya, kami memang mencintai lari. Karenanya kami berkomitmen untuk tetap mengikuti perlombaan lari bersama setelah saya pindah ke Belanda. Buat kami, berlari bukan hanya tentang mengalahkan diri sendiri, tetapi berlari adalah tentang meditasi dan kontemplasi. Pada bulan ini Mas Ewald harus kembali ke Belanda dan babak baru Long Distance Marriage (LDM) pun dimulai.

Bromo Marathon 2014
Bromo Marathon 2014

Oktober 2014

Setelah sekian lama tidak pernah melakukan kegiatan mendongeng, akhirnya pada tanggal 18 Oktober 2014 saya bersama teman-teman yang tergabung dalam Bookstart Indonesia melakukan kegiatan berbagi buku kepada anak-anak Kelud. Salah satu kegiatannya adalah pelatihan story telling kepada para Ibu. Senang rasanya kembali bergelut dengan hobi saya, yaitu bercerita.

Pada tanggal 28 Oktober 2014, setelah kurang lebih 5 bulan belajar Bahasa Belanda, akhirnya saya lulus tes Bahasa Belanda di Kedutaan Belanda Jakarta sebagai syarat untuk mendapatkan ijin tinggal. Senang sekali perjuangan belajar bahasa baru membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Ceritanya pernah saya tulis disini. Dan proses pengajuan ijin tingal (MVV) pun dimulai. Semakin percaya bahwa segala sesuatu yang dikerjakan secara maksimal dan penuh cinta, pasti akan membuahkan hasil yang sepadan.

Dibulan Oktober ini juga, Ibu harus menjalani operasi ketiga setelah mengalami kecelakaan pada 2012 lalu. Operasi tempurung kepala. Bersyukur semuanya berjalan lancar.

Workshop Story Telling Bookstart Indonesia
Workshop Story Telling Bookstart Indonesia

November 2014

Saya mulai kembali mengerjakan Tesis yang terbengkalai karena hanya punya waktu 2 bulan sampai pada deadline untuk mengumpulkannya. Diantara rasa malas, kangen suami, dan ingin memenuhi janji pada Almarhum Bapak bahwa saya harus menyelesaikan kuliah, mengerjakan Tesis pun diisi dengan rasa yang campur aduk. Tapi saya tetap bertekad bahwa kuliah ini harus segera diakhiri, karena suami memberi ultimatum bahwa saya tidak boleh pindah ke Belanda sebelum dinyatakan lulus.

Desember 2014

Awal bulan mendapatkan berita yang menggembirakan. 1 Desember 2014 MVV saya sudah keluar. Bahagia rasanya bahwa dalam waktu yang tidak lama lagi saya bisa berkumpul dengan suami. LDM dalam waktu hampir 4 bulan sangat tidak nyaman rasanya.

24 Desember 2014 akhirnya saya mengumpulkan draft Tesis. Belum ada jadwal sidangnya, tapi rasanya senang karena pada akhirnya bisa juga menyelesaikan mengerjakan Tesis. Semoga Januari 2015 saya mendapatkan kabar gembira, lulus kuliah. Amin.

27 Desember 2014 tulisan yang saya kirim terpilih menang. Ceritanya saya tulis disini. Hadiahnya memang tidak seberapa, tapi penghargaan atas karya itu lebih dari segalanya.

Dan, berita gembira di penghujung tahun benar-benar tiba. 31 Desember 2014, Yap hari ini, Visa tinggal saya (MVV) sudah keluar. Bersyukur berkali-kali bahwa saya dan Mas Ewald sebentar lagi akan segera bersama kembali setelah hampir 4 bulan terpisah. Kejutan akhir tahun yang menyenangkan.

Saya meyakini bahwa Tuhan selalu mempunyai rencana yang indah dibalik setiap kejadian yang mengisi kehidupan kita. Tawa bahagia, kisah sedih merupakan bagian roda waktu yang tidak dapat dipisahkan. Benar adanya bahwa ketika rencana yang sudah disiapkan tidak berjalan dengan baik, Tuhan menyiapkan yang lebih baik. Saya sudah mencapai garis finish dengan baik dan selamat. 2014 adalah tahun yang luar biasa. Bertemu teman-teman baru, keluarga baru, pengalaman baru, dan banyak pembelajaran baru. Terima kasih 2014.

Selamat datang 2015. Biarkan saya menyambut tahunmu dengan rasa penasaran tentang kejutan apakah yang sudah kau persiapkan. 2015 akan menjadi tahun yang penuh tantangan. Semoga rasa syukur tidak pernah terhenti terucap disetiap desah nafas yang terhembuskan. Semoga keberkahan, kebahagiaan, dan kesehatan yang baik selalu menyertai langkah kami dan keluarga, juga teman-teman semua di tahun 2015.

Hidup itu seperti berlari marathon, tak ada tempat pemberhentian dan selalu butuh perjuangan sampai pada satu titik bernama impian

-Ninit Yunita-

Postingan ini diikutsertakan dalam #liamartagiveaway ‘Share Your Moment’

-Bekasi, 31 Desember 2014-

Kelayapan seharian di Jakarta menyebabkan tulisan ini telat posting ^^

Kamu Yang Kutunggu

Tanah Lot, Bali

…Kamu dikirim Tuhan untuk melengkapiku, ‘tuk jaga hatiku. Darimu aku bisa merasakan kesungguhan hati. Tak kan cemas kupercaya kamu. Ternyata kamu yang kutunggu…

Video Klip dan liriknya bikin mewek. Iya, saya lagi kangen tingkat dewa sama Mas Ewald. Nonton sambil nangis. Iya, saya memang gampang nangis.

Tinggal selangkah lagi, kemudian jarak dan waktu bukan lagi menjadi penghalang buat kami untuk menyatukan hati

301113 – Masa Dimana Semuanya Bermula

Prosesi Jawa

Hari ini setahun yang lalu…

Saya dan kamu adalah dua asing dalam ruang yang berbeda. Kamu melihat saya, tanpa ada niat untuk menyapa. Hanya memandang dari sudut ruang yang berbeda. Saya memulai menyapa kamu. Tanpa ada rasa, tanpa ada asa. Hanya sebuah sapaan biasa. Iseng tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kamu membalas sapaan saya, lugas, tegas, tanpa ada kata yang bias. Kita kemudian saling bertegur sapa, memulai percakapan yang jauh dari kata istimewa. Saya dan kamu memulai semuanya dari sepotong kata. Delapan bulan kemudian, saya dan kamu melebur menjadi kita, berucap janji setia saling menjaga selamanya dan tidak akan menyia-nyiakan yang telah dipersatukanNya menjadi ikatan yang tidak akan lepas seberapa kuat goncangan dan ujian yang ada dihadapan.

Hari ini setahun kemudian…

Saya dan kamu telah berubah menjadi kita dalam ruang yang sama. Kita yang pada awalnya memulai dengan sapa yang sederhana, melanjutkan langkah dengan sebongkah doa agar niat tetap kuat, saling bergandengan tangan sampai maut memisahkan. Meskipun saat ini kita masih terpisah oleh jarak namun selalu yakin bahwa keikhlasan hati untuk saling bersama mampu meretas rentang yang membentang. Jalan kita masih panjang dan tidak pernah tahu apa yang ada didepan. Mari kita jalani segalanya secara sederhana namun dengan langkah luar biasa. Langkah penuh cinta, saling berbagi tawa, suka dan duka dalam balutan doa.

Teruntuk kamu, suami dan teman terbaik dalam hidupku, Mas Ewald. Terima kasih sudah menemukan saya. The most wonderful thing i decided to do was to share my life and heart with you. Thank you

NB : 301113 adalah mahar pernikahan kami, sebuah penanda tentang masa dimana semuanya bermula.

Dan puisi dibawah ini saya tulis pada waktu itu untuk seseorang yang kelak akan menjadi imam saya. Sekarang coretan kata ini saya berikan untuk suami tercinta sebagai tanda mata karena yakin telah menjadikan saya sebagai istrinya.

Coretan Kata Untuk Suami Tercinta
Coretan Kata Untuk Suami Tercinta

-Surabaya, 30 November 2014-