Perihal Pindah (Lagi)

Hidup berpindah bukan hal baru lagi buat saya. Sejak umur 15 tahun saya sudah merantau. Lulus SMP di Situbondo saya memutuskan ingin melanjutkan sekolah di Surabaya. Orangtua menyetujui. Walhasil sejak umur 15 tahun saya sudah menjadi anak rantau, tinggal di rumah kos, hidup mandiri demi cita-cita melanjutkan pendidikan di SMA favorit di Surabaya. Selama 10 tahun setelahnya saya habiskan waktu di kota yang sama. Melanjutkan kuliah dan bekerja di salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Selama kurun waktu tersebut, tercatat saya pindah 4 kali tempat kos. Pada tahun ke 10, saya merasa saatnya untuk pindah kota. Menetap di satu tempat yang sama dalam jangka waktu yang lama membuat saya terlalu merasa nyaman, malas bergerak, dan menjadi tidak peka untuk berbuat lebih dari yang sudah ada. Awalnya saya diliputi rasa cemas harus memulai segala sesuatunya dari awal. Mengenal kota yang baru, teman baru, lingkungan baru. Segala sesuatunya baru. Tetapi jika tidak memutuskan pindah, saya merasa hidup tidak ada tantangan. Bukankah manusia pada dasarnya melakukan perpindahan untuk kelangsungan hidupnya. Saya juga ingin hidup tetap berlangsung, tapi dengan keadaan yang berbeda, tidak melulu itu itu saja.

Akhirnya saya diterima kerja di Jakarta. Tidak tanggung-tanggung kantor tempat saya bekerja adalah perusahaan asing. Gegar budaya tentu saja saya alami. Bermodalkan nekad, saya seperti ingin menantang diri sendiri untuk bekerja di perusahaan tersebut. Bagaimana tidak, Bahasa Inggris saja minim sekali, pas-pasan, bahkan nyaris tidak bisa berkomunikasi. Pasti Tuhan sedang bercanda, pada saat itu pikir saya. Satu tim dengan orang-orang asing, bosnya pun orang asing, dan sehari-hari komunikasi dipaksa untuk menggunakan Bahasa Inggris. Laporan serta presentasi pun dalam Bahasa Inggris. Saya yang awalnya hampir menyerah karena nyaris tidak bisa mengikuti ritme kerja mereka, serta terkendala bahasa, pada akhirnya mampu mengimbangi. Saya berpikir lagi tujuan pindah ke Jakarta apa. Saya memotivasi diri sendiri sambil terus berusaha keras belajar untuk bisa membuktikan bahwa saya mampu dan bisa lebih dari yang mereka kira. Bersyukur, pelan-pelan tapi pasti hampir tiap tahun mendapatkan promosi jabatan. Dari awalnya posisi paling bawah, pelan-pelan bisa naik sampai pada posisi yang saya targetkan. Dari anak kampung yang awalnya belepotan berbicara dan menulis dalam Bahasa Inggris, dengan kerja keras dan semangat ingin maju, saya bisa selangkah lebih pada yang dituju. Pada akhirnya saya berterima kasih pada diri sendiri bahwa dulu memutuskan pindah. Berpindah memberikan saya waktu untuk bergerak maju, tidak membiasakan diri untuk diam karena bisa belajar banyak hal baru. Pindah itu seperti mencari ilmu.

Enam tahun di Jakarta, berkarir pada satu tempat yang sama kembali membuat saya gelisah. Sudah saatnya harus kembali pindah. Saya merasa ditempat itu tidak terlalu memberikan tantangan lagi. Saya kembali mencari alasan untuk keluar dari zona nyaman. Kuliah, ya itu sepertinya jawaban yang tepat. Momennya juga tepat. Akhirnya saya kembali mengemas barang, pindah ke kota yang lama pernah saya singgahi, Surabaya. Kenapa harus Surabaya? Karena saya sudah jatuh cinta dengan kota ini, terutama makanan dan orang-orangnya. Lain waktu saya akan bercerita tentang Surabaya. Saya sangat antusias ketika menyadari bahwa pindah kali ini adalah untuk menuntut ilmu. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya kembali, saya ingat betul pernah berujar dalam hati “Pindah kali inipun bersifat sementara. Setelah kuliah ini selesai, saya ingin tinggal diluar Indonesia. Entah dimana, tapi saya harus bertualang jauh dari negeri ini. Saya ingin seperti busur panah yang kali ini dalam tahap ditarik pemanahnya, disuatu saat nanti akan dilepas, meluncur jauh dari titik semula

“Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang”

-Imam Syafi’i-

Dan apa yang saya ucapkan pada waktu itu, 2.5 tahun lalu, saat ini terjadi. Saya akan pindah lagi, jauh dari Negeri sendiri, merantau mengadu nasib di Negara orang. Saya akan mencoba peruntungan, mencari penghidupan dan kembali berburu ilmu disamping menjalankan peran sebagai seorang istri. Beradaptasi bukan perkara yang kecil. Tapi dengan pengalaman yang sudah saya lewati sebagai perantau, saya yakin bahwa semua akan teratasi, perlahan tapi pasti.

Karena pindah kali ini jaraknya sangat jauh, lintas benua, maka pengalaman mengemas barang juga berbeda. Banyak barang yang harus saya relakan untuk dihibahkan. Contohnya buku-buku yang sedikit demi sedikit saya kumpulkan, karena dulu niatnya ingin mempunyai taman baca, akhirnya dengan berat hati saya hibahkan untuk taman baca milik teman. Baru menyadari ternyata buku yang saya kumpulkan selama ini mencapai 300an buku. Semoga mereka menemukan pemilik yang akan selalu menyayangi dan merawat penuh kasih. Proses Packing ini pun memakan waktu lama. Saya harus memilih satu persatu barang yang harus dibawa, barang yang harus dibuang, ataupun barang yang harus diberikan pada orang supaya tetap bermanfaat. Seperti sebuah kenangan, ada yang harus disimpan, ada yang harus dibuang. Begitu juga barang. Pindah juga mengajarkan keikhlasan. Merelakan barang kesayangan berpindah tangan.

Pindah juga artinya berpisah dengan orang-orang tersayang. Keluarga, teman, dan handai taulan. Proses berpamitan pun dilakukan, untuk mengabarkan bahwa saya tidak akan bisa mereka temui lagi dalam kurun waktu tertentu. Meskipun tidak bisa bertemu secara fisik, namun dengan kemajuan teknologi, tentu saja berkirim pesan bukan hal yang jauh dari jangkauan . Semua tetap menjadi mungkin untuk saling menjaga silaturahmi.

Dalam hitungan jam, sekarang saya siap untuk terbang. Pergi ke tempat baru, lingkungan baru, bersiap mendapatkan kenalan baru, pengalaman baru, dan keluarga baru.

Pindah selalu menimbulkan sensasi yang luar biasa meskipun melewatinya tidak selalu mudah. Pindah kali ini berbeda karena menuju Suami tercinta.

Punya cerita seputar pindah?

 -Surabaya, 29 Januari 2015-

Gambar Cover dari sini

Makan siang sampai malam bersama teman-teman kerja sewaktu di Jakarta. 8 tahun pertemanan, dari awal berkarir sampai sekarang mereka sudah dijabatan Top Manajemen semua. Proud of you girls
Makan siang sampai malam bersama teman-teman kerja sewaktu di Jakarta. 8 tahun pertemanan, dari awal berkarir sampai sekarang mereka sudah dijabatan Top Manajemen semua. Proud of you girls
Makan malam bersama teman-teman kuliah yang tinggal di Jakarta. 16 tahun tahun pertemanan. Selalu saling silaturahmi ya Teman :)
Makan malam bersama teman-teman kuliah Statistika yang tinggal di Jakarta. 16 tahun tahun pertemanan. Selalu saling silaturahmi ya Teman 🙂
Makan siang bareng teman-teman kuliah yang di Surabaya sambil belajar membuat Bento. Pertemanan 16 tahun. Awet dengan segala hiruk pikuknya :)
Makan siang bareng teman-teman kuliah Statistika yang di Surabaya sambil belajar membuat Bento. Pertemanan 16 tahun. Awet dengan segala hiruk pikuknya 🙂
Makan malam bersama teman-teman kuliah Teknik Industri dan Statistika. Kalian pasti akan selalu kurindukan :)
Makan malam bersama teman-teman kuliah Teknik Industri dan Statistika. Kalian pasti akan selalu kurindukan 🙂

 

Meskipun saat itu Surabaya sedang hujan sangat deras dan banjir dimana-mana, mereka tetap menyempatkan datang. Terharu ^^
Meskipun saat itu Surabaya sedang hujan sangat deras dan banjir dimana-mana, mereka tetap menyempatkan datang. Terharu ^^
Pilah Pilih berkas berkas
Pilah Pilih berkas berkas
Buku-Buku yang harus rela dihibahkan. Sedih sebenarnya
Buku-Buku yang harus rela dihibahkan. Sedih sebenarnya
Bertahun-tahun mengumpulkan sedikit demi sedikit. Mudah-mudahan berguna buat Rumah Baca Srikandi
Bertahun-tahun mengumpulkan sedikit demi sedikit. Mudah-mudahan berguna buat Rumah Baca Srikandi
Packing baju yang digulung membuat banyak tempat kosong dan muat banyak
Packing baju yang digulung membuat banyak tempat kosong dan muat banyak
Taraaa!! 2 tas siap diangkut
Taraaa!! 2 tas siap diangkut
Akhir dari perjuangan selama ini, dan awal dari perjuangan lainnya. Semoga kamu "laku" ya Nak di Negara orang :)
Akhir dari perjuangan selama ini, dan awal dari perjuangan lainnya. Semoga kamu “laku” ya Nak di Negara orang 🙂
Narsis sesaat. Selama kuliah belum pernah foto disini :)
Narsis sesaat. Selama kuliah belum pernah foto disini 🙂
Siap menuju Belanda. Yiaayy!!
Siap menuju Belanda. Yiaayy!!

22 thoughts on “Perihal Pindah (Lagi)

  1. Halloo Mbak Deny,
    Very very excited baca blog mbak, karena banyak sekali info bermanfaat, terutama tentang tes bahasa Belanda itu loh.. aduh aku jadi ikutan deg-degan 😀 hihihi belum-belum udah stress duluan, Anyway aku tetangga mbak .. maksudnya di Jatim hihihi… and sedang berproses untuk melewati fase-fase yang mbak tulis ini, menikah dengan Pria Belanda InsyaAllah 🙂 siapa tahu kita nanti juga tetanggan ya disana 😀

    Sukses selalu yaa

    1. Hai Ericka, terima kasih yaa sudah mampir kesini dan baca-baca 🙂
      Waahh dari Bondowoso ya, berarti tetangga banget kita. Aku besar dan tinggal di Situbondo dan Jember. Jadi wes hapal sama Bondowoso wong ngelewatin terus 🙂 Semoga dipermudah yaa untuk ujian dan persiapan pernikahannya. Lancar jaya Insya Allah atas pertolongan Allah dan usaha keras. Semangat!!

  2. Halloo mbak Deny, salam kenal ya =)
    Lagi blog walking karna masih newbie disini (meskipun dulu pernah bikin di situs lain hihi) trus ketemu postingannya mbak deny.

    Dulu tahun 2008/2009 saya pindah (sementara) ke Belanda untuk belajar, kembali lagi ke Indonesia dan Juni tahun lalu kembali pindahan lagi ke sini tapi sekarang pindahnya for good (insyaallah) hehe.

    ps.
    Tinggalnya di kota mana mbak?

    Salam,
    Anis

    1. Hai hai Mbak Anis. Panggil aja Deny. Thanks yaa sudah mampir blogku. Aku juga baru kok kecemplung diblog ^^. Aku baru 9 bulan mbak tinggal disini :D. Aku tinggal di Den Haag. Mbak Anis dimana? Seringkali komen diblogku ini bikin frustasi Mbak saking susahnya. ajdi yang sabar ya ^^

      1. Iya niih tadi nyoba langsung reply ternyata failed terus wkwkwk

        Aku tinggal di kampung den hihi, namanya Drunen. 15 menit dari Den Bosch. Dulu pas kuliah tinggal di Tilburg, ga nyangka aja tau-tau jodohnya ada di kampung sebelah hahaha

        1. Makanya aku tadi sudah kasih warning duluan. Soalnya banyak yang complain haha. Waahh kuliah membawa berkah berarti itu ya. Rejeki ketemu jodoh. Aku pernah ke Den Bosch, eh maksudnya pernah ngelewatin hehehe. Jauh dari Den Haag. Enak tinggal dikampung, hening 🙂

  3. Wah telat banget saya baru baca ini sekarang. Tapi emang bener Mbak, hidup harus selalu dinamis kalo nggak pasti bosan karena monoton. Terima kasih inspirasinya! 🙂

  4. Ternyata makanan itu bisa berpengaruh terhadap pilihan pindah juga ya? Hihihi…benar sekali. Saya pengalaman pindah dari ke Jawa, Sumatra, Kalimantan, saat kerja bolak balik visit Sumatra, Sulawesi, dsb.sebelum akhirnya ke level yg lebih berat ke luar.Dari pengalaman ya, adaptasi sekitar 3-5 bulan awal.Asal niatnya benar2 melebur.Daaan yg plg melelahkan saat jadi kutu loncat adalah packing2nya mwahaha…berkat pengalaman, teman ada aja yang mempercayai saya saat mau packing2. Pilih mana yg hrs ditinggal dan dibawa. Intinya kalau memang ditakdirkan pindah2,hindari hobi beli barang, deh. Apalagi buku, eh kecuali untuk kerja/kuliah ya…Apalagi di luar, bawa koper segambreng cuma jadi bahan tontonan, tertawaan orang di transportasi umum. Kalau taksi juga minta tips angkat2,,,

    1. Iyaaa betul sekali. packingnya benar2 menguras tenaga. pas pindahan ini aja aku nyicil 2 bulan sebelum berangkat sudah pilah pilih ini itu. Pfiuuhhh, kalo nggak, bakalan kelabakan

  5. Pindah kontrakan dah 4 kali den sejak married. Kalo pindah kota dah beberapa kali. Waktu kecil pindah dari Binjai ke Jakarta. SMA di Malang, kuliah di Bandung.

    Btw, teknik packingnya boleh juga tuh

    1. Ohhh kamu pindah2 juga toh ternyata hehehe. Teknik packingnya didapat dari pengalaman backpackingan 🙂

  6. yeay,,akhirnya kumpul lagi dengan suami,,masalah packing itu aku kemarin sebelum berangkat ke italia juga gitu,,semua di hibahkan dari pada over bagasi 🙂

    1. Iyaaaa…. Yiaayy!! senang bahagia. aku kemaren over bagasi 10kg hahaha. Untung ga kena denda, dibantu sama petugas pesawatnya. Duh terharu

    1. Pindahanku pun kali ini biayanya banyaaakkk banget, dan mudah2an bisa melewati masa-masa sulit adaptasi ini hehehe

    1. Hahaha, dicoba aja kalo gitu merantau. Seruu lho. Biar ga mbok mbok en hihihi istilahe keren

  7. Aku suka deuternya haha *loh koq*

    Pindah baru sekali doang ke Surabaya 🙂 trus pindah lagi ke Medan karena nikah. Besok2 gak tau lagi bakalan pindah kemana lagi. Terpaksa ngikut si Matt walau di kantor yang sekarang terbuka luas pindah2 ke property lain.

    1. Deuternya itu mahar nikah, jadi musti dibawa2 biar bermanfaat hehehe. Iya, ngikut suami aja, hidup pisahan itu ga enak banget *curhat masa lalu hahaha

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.