Sakit di Perantauan

Dini hari sekitar jam 2 saya terbangun karena rasa nyeri yang saya rasakan di perut. Saya mengubah posisi tidur yang miring ke kiri menjadi terlentang kemudian mencoba untuk duduk. Semakin lama nyeri yang saya rasakan semakin menusuk. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya merasakan nyeri yang seperti ini. Dalam rentang dua bulan, ini sudah ke empat kalinya. Tiga nyeri terdahulu sudah dikonsultasikan kepada pihak medis dan hasilnya masih dalam tahap normal, tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Karenanya ketika rasa nyeri ini datang, saya tidak terlalu khawatir karena sudah “berpengalaman” sebelumnya. Selang satu jam kemudian, nyerinya semakin hebat. Saya terpaksa membangunkan suami yang terlelap. Tujuannya cuma satu, kalau misalkan saya pingsan, minimal ada yang tahu lah. Suami bangun lalu bingung juga apa yang musti dilakukan. Dia mengelus punggung saya. Sedangkan saya duduk sambil berusaha mengatur nafas. Satu jam berlalu, nyerinya tetap datang tapi saya sudah mulai kelelahan dan mengantuk. Akhirnya saya coba untuk tidur dengan harapan ketika bangun rasa nyerinya hilang.

Pagi datang, saya terbangun. Saya rasakan nyerinya masih ada. Suami lalu menyarankan untuk menelepon pihak medis. Saya menahan, “jangan sekarang, biasanya ga lama lagi hilang.” Setelah membawakan sarapan roti dan segelas susu coklat, suami berangkat ke kantor karena saya bilang sudah agak baikan. Tinggallah saya di rumah dengan adik. Saya bilang ke adik kalau rencana hari ini ke Amsterdam terpaksa dibatalkan karena untuk bergerak dari tempat tidur saja sangat susah. Sayang sebenarnya karena cuaca sangat cerah. Tapi adik memaklumi melihat kondisi saya yang kesakitan. Berbicara saja terbata-bata karena menahan sakit. Saya bilang ke adik untuk sering-sering mengecek kondisi saya di kamar. Takutnya saya pingsan tanpa ketahuan. Bersyukur ada adik di rumah. Jadi saya agak tenang kalau misalkan keadaan makin memburuk, setidaknya dia bisa telpon suami atau memberitahu tetangga.

Sekitar jam 10, suami telpon. Saya bilang nyerinya semakin hebat dan datangnya sering. Saya sebutkan di bagian mana saja yang nyeri dan tanda-tanda lainnya. Dia lalu bilang akan menelepon pihak medis. Selang berapa lama, dia menelepon saya kembali. Kata pihak medisnya, setelah mendengar keluhan dan tanda-tandanya yang masih sama dengan yang sebelum-sebelumnya, saya hanya disuruh menunggu, banyak minum air putih dan sering bergerak. Saya bingung juga ya mau bergerak yang bagaimana. Ke kamar mandi saja rasanya pengen ngesot saking tidak kuatnya jalan. Tapi akhirnya saya paksakan juga turun ke lantai bawah dengan menahan nyeri yang amat sangat. Nyeri yang saya rasakan itu seperti sakit maag yang sakitnya sampai ke ulu hati dan seperti ketusuk-tusuk. Nyerinya datang dan pergi.

Karena sudah jam makan siang, saya mempersiapkan makan dibantu adik. Dalam keadaan seperti ini, kangen deh dengan warung. Tinggal beli langsung makan. Ingin makan nasi pecel pakai lauk dadar jagung. Sempet kesel juga kenapa pas sakit gini, makan saja musti tetep masak sendiri. Tapi pikiran itu langsung saya enyahkan, karena bersyukur saya masih bisa makan dan mempersiapkan makanan meskipun dengan keadaan yang tidak ideal dan ditemani adik. Akhirnya saya makan dengan oseng sayuran dan tahu tempe sembari menahan nyeri. Sebenarnya bisa makan yang simpel seperti roti, tapi saya ingin makan yang ada sayurnya.

Siang menjelang sore, keadaan tidak semakin membaik. Saya coba untuk tidur dengan harapan yang sama, pas bangun nyerinya hilang. Sementara adik bilang akan jalan-jalan sebentar ke kota. Ternyata setelah satu jam tidur dan ketika terbangun, sakitnya makin tidak karuan. Saya mencoba menyeret pantat menjauh dari tempat tidur dan mengatur nafas ketika bergerak. Tapi nyerinya makin sering datang. Tidak berapa lama, suami datang. Dia menyarankan untuk telepon lagi pihak medis. Saya menyetujui. Yang saya khawatirkan bukanlah rasa nyeri yang semakin menjadi-jadi, karena untuk menahan sakit, saya masih bisa. Tapi karena sudah lebih dari 12 jam nyerinya tidak hilang, jadi khawatir juga pasti ada sesuatu di dalam sana. Setelah menelepon, pihak medis bilang akan segera datang ke rumah dan jika ada sesuatu yang genting ditemukan, saya akan langsung dikirim ke RS. 10 menit kemudian Beliau sampai rumah dan langsung menuju ke kamar. Setelah ditanya ini dan itu untuk diagnosa awal, lalu dilanjutkan pemeriksaan luar dan dalam. Setelah pemeriksaan menyeluruh, dikatakan ulu hati saya tertekan (semacam itulah kesimpulannya). Saya disarankan minum paracetamol untuk meredakan nyeri, lebih banyak minum air, dan makan buah. Kalau sudah menjalankan itu semua tetapi nyerinya belum hilang, disuruh telpon lagi. Saya sempat bilang ke Beliau, baru kali ini saya kesakitan trus diperiksanya di rumah. Semacam seperti di film-film yang saya tonton. Biasanya kalau saya sakit walaupun sampai susah berjalan (sewaktu sakit usus buntu), ya saya yang pergi ke dokter. Beliau langsung tertawa mendengar guyonan saya dan memuji daya tahan saya terhadap sakit. Maksudnya bisa menahan sakit dengan tidak panik sampai lebih dari 12 jam.

Mendengar bahwa semuanya baik-baik saja, saya agak tenang. Saya tidak langsung mengkonsumsi paracetamol, tapi langsung hajar dengan buah lalu guyur dengan minum yang banyak. Saya bilang suami, kalau sampai malam nyerinya tidak hilang, baru akan minum paracetamol. Saya lalu banyak bergerak jalan ke sana ke mari. Sekitar jam 9 malam, saya merasakan nyerinya jauh berkurang. Dan ketika menulis ini, nyerinya tinggal sekitar 10% dari awal. Semoga nyerinya tidak kembali lagi sehingga besok saya bisa mengantarkan adik jalan-jalan ke Amsterdam *loalaaahh lak pecicilan maneh. Suami bilang rasanya tidak tega melihat saya kesakitan yang sedemikian hingga sampai beberapa kali dia berkata, “andaikan nyerinya bisa ditransfer sedikit ke saya,” sambil memeluk dan mengelus punggung saya.

Kejadian hari ini mengingatkan saya tentang tidak enaknya sakit terutama jika sedang merantau. Sakit saja sudah tidak enak, apalagi kalau jauh dari keluarga. Mulai hidup ngekos sejak umur 15 tahun, saya sangat berhati-hati sekali dalam menjaga kesehatan. Saya berpikirnya, kalau sakit jauh dari keluarga pasti rasanya sangat nelongso dan bingung ya mau minta tolong siapa kalau ada apa-apa. Tapi yang namanya musibah, bisa datang kapan saja tanpa terduga. Sewaktu di Surabaya, masih enak lah kalau sakit tidak terlalu jauh kalau mau pulang ke rumah (6 jam perjalanan). Waktu itu saya sakit usus buntu yang akhirnya harus operasi. Tapi sewaktu di Jakarta, kalau sakit ya harus dihadapi sendiri, kalau semakin memburuk baru saya telepon teman untuk mengantarkan ke dokter atau RS. Sewaktu di Jakarta sempat 2 kali harus dirawat di RS. Saya ini bukan tipe kalau sakit langsung memberi tahu ke orangtua. Sebisa mungkin saya tangani sendiri dulu. Kalau sudah semakin parah, baru memberi tahu mereka. Tapi satu yang pasti, kalau sedang sakit saya pasti memberi tahu orang di sekitar dengan tujuan untuk sering-sering menengok saya di kamar. Jadi kalau saya pingsan atau katakan kalau keadaan buruk saya meninggal, ketahuan. Jadi ga pingsan atau meninggal tanpa ketahuan.

Yang paling nelongso kalau sakit jauh dari keluarga itu adalah urusan makan. Kalau di Indonesia masih bisa minta tolong teman kos untuk nitip beli makan. Atau setidaknya saya bisa jalan sendiri ke warung terdekat untuk beli makan. Tapi kalau seperti hari ini, sedih sekali pas ingin makan sesuatu yang diingini, malah makannya yang lain dan harus masak dulu pula. Tapi pikiran itu langsung saya usir jauh-jauh karena bersyukur masih bisa makan dan masih ada tenaga untuk menyiapkan makanan. Itu tandanya sakit masih bisa saya tahan. Dan bersyukur ada ada adik di rumah. Dan sangat bersyukur meskipun suami ngantor hari ini tapi tetap memantau keadaan saya bahkan mengurus ke pihak medis dan mengurus saya di rumah. Dia pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya. Setidaknya tenang ada keluarga di sekitar saya. Memang musti dicari celah supaya ditengah kesusahan masih ada yang bisa disyukuri. Hidup jauh dari keluarga sejak usia muda, lumayan menempa jiwa kalau saat-saat sulit datang. Minimal tidak panik.

Ada yang punya pengalaman sakit di perantauan, jauh dari keluarga?

-Nootdorp, 31 Juli 2017-

25 thoughts on “Sakit di Perantauan

  1. Semoga cepat sembuh Den, dan nggak balik lagi yaa sakitnya! Aku pernah sakit di Inggris, demam dan radang tenggorokan gitu, berasanya udah parah banget, pas ke dokter ga dikasih obat cuma disuruh minum honey and lemon tea 😀 tapi waktu itu aku bersyukur walau tinggal sendiri ada teman sesama orang Indonesia yg rumahnya dekat, dia anterin aku ke dokter dan masakin juga 😀

    1. Amiinn terima kasih Christa. Ada kemungkinan balik lagi nih nyerinya dalam beberapa bulan ke depan. tapi semoga badanku dikuatkan 🙂
      Hahaha iya, padahal ngarep banget ya Chris dikasih obat biar cepet selesai sakitnya. Semoga nanti kalau kamu sudah pindah ketemu teman yang sreg dan deketan tinggalnya, jadi kalau ada apa2 (ga minta sih) ada yang dimintain tolong. Di sini aku ga terlalu kenal dekat orang2 Indonesia yang dekat dengan kotaku. Teman dekat malah tinggalnya jauuuhh banget.

    1. Wah benar, sakit pas liburan itu kebayang ga enaknya apalagi sampai mampir UGD. Semoga kedepannya selalu sehat ya Ye sekeluarga 🙂

  2. Sakit di perantauan emang ga enak banget. Aku udah lebih dari 8 tahun merantau, lama-lama biasa ngurusin diri sendiri kalo sakit. Andalan bikin sayur bayam bening, telor ceplok dan nasi/bubur kalo lagi sakit. Tapi ya tetep aja sehat itu segalanya 🙂
    Cepet sembuh ya Den. Gelonggong air putih 🙂

    1. Terima kasih Dita, iya langsung gelonggong air putih trus malamnya agak baikan, besoknya sudah jalan-jalan ke Kinderdijk haha.
      Emang paling enak kalau sakit itu makan bubur ya. Semoga kamu juga selalu sehat ya Dit!

  3. Cepat sembuh yah Deny, waduh kirain tuh nulis post ini sudah sembuh, ternyata sakitnya sisa 10% huhuhu.. Istirahat dulu.. Aku belum oernah merantau, baru nyoab sekarang, moga2 kalau sakit pun yang biasa2 aja, jangan yang terlalu bikin panik.. Aminnn..

    1. Terima kasih Inly, besokannya sudah sembuh dan nganterin adik jalan-jalan *tetep ya kakinya ga bisa diem haha.
      Semoga ga sakitlah Inly pas merantau gini. Kalaupun sakit, ga usah yang parah, pilek2 aja gitu *lah sakit kok rikues haha. Selalu sehat Inly!

      1. hahaha.. aku pun kalau doa selalu rikues, kalau sakit jangan yang aneh2.. Duh aku pun gitu Den, ini nganggur disini, lah yah gak ada kegiatan sama sekali, bosen juga.. hehe.. makanya update blog hampir tiap hari hihihi

  4. Kalau saya seumur-umur merantau belum pernah sakit kayaknya. Cuma sekali saja demam selama 3 hari. Tapi itu tidak parah karena saya masih bisa menyiapkan makan. Cuma mayoritas dipakai untuk tidur aja sih.

    Semoga cepat baikkan mbak deny. 😀

  5. Aku angkat tangan… terus sedihnya kalo sakit ya mau makan harus masak sendiri. Beli nggak enak! Makanya aku siapkan sup buat dibekukan, kalau sakit tinggal memanaskan saja… aku tiap sakit wah kangennya sama Mamiku Den…

    1. Ya ampun, awal tahun ini aku sakit amandel yang cukup parah. Rasanya nelangsa banget, mau makan apa aja susah, pengen banget makan bubur di dekat rumah di Jakarta apa daya cuma makan yoghurt… sampe sampe mamaku suruh pulang ke Indonesia (gila kali ye). Setiap hari pacar datang ke rumah bawa sup dan suruh makan. Tapi rasanya sakit di perantauan tanpa keluarga emang gak enak banget. Cepat sembuh ya mbak!!!

      1. Kalau sakit gitu emang yang kepikiran makanan-makanan di mana tempat kita tumbuh ya Crys, dan makin bikin nelongso haha. Semoga kamu selalu sehat Crys kedepannya apalagi cuacanya lagi ga enak gini.
        Terima kasih! ini nyeri kayaknya bakal jadi langganan sampai beberapa bulan lagi.

    2. Sama Mar! Pas masak gitu bener2 langsung keingat Ibu dan warung buatku haha. Soalnya berasa kesel banget kalau sakit trus musti masak sendiri pula. Tapi mau gimana lagi, daripada ga keisi perutnya. Mau dimasakin suami, dianya tahu masak makanan Belanda aja. Kalo sakit ga cocok di lidah. Semoga kamu selalu sehat Mar!

  6. Cepat sembuh ya kak! Saya juga berusaha hidup dengan benar waktu masih ngekost dulu, dalam artian mencoba makan teratur, rutin makan sayur dan buah, kurangi indomie, kurangi mikirin hal ga penting, lebih banyak konsumsi air putih hangat, mengurangi bir dan sejenisnya, menjauhi manusia perokok juga haha, karena sakit sebagai anak perantauan memang tidak enak. Kejadian paling parah pas kecelakaan motor dulu, mau makan susah, mau tidur susah, apalagi mau jalan. Bersyukurnya masih ada orang-orang yang peduli saat itu dan bersyukur sekarang ada suami yang ngurusin kalau sakit haha..

    1. Terima kasih Wien! semoga kamu selalu sehat ya.
      Beberapa bulan belakangan ini aku ga doyan makan yang instan2 termasuk Indomie atau Chiki2 atau apapun yang ada MSG nya. Badanku langsung bergetar gitu trus muntah2. Ga kuat dicekokin micin lagi kayaknya haha.
      Iya sama Wien, sekarang minimal ada suami lah yang ngurusin, dibanding jaman ngekos dulu haha.

  7. Mudahan cepet sembuh ya mba Deny. Jaman tinggal di Jogja pernah juga sakit sampai masuk rumah sakit karena gejala tipes, dan itu rasanya ga enak banget karena keluarga di Balikpapan. Semoga kita selalu di beri kesehatan ya Mba Den.

    1. Terima kasih Geraldine! Belanda cuacanya bener2 lagi ga enak banget nih. Panas dingin hujan angin dalam satu hari. Bikin badan agak nggreges. Semoga kamu juga selalu sehat ya.

Thank you for your comment(s)