Bercerita Tentang Makanan

Beberapa waktu lalu, seorang teman menyampaikan “protes” pada saya. Dia membaca tulisan saya sebelumnya dan rasanya tidak percaya kalau saya akan menulis hal yang receh seperti itu. Seperti bukan tulisan saya yang biasanya. Dan kalau membaca beberapa komentar, mereka pun bertanya, tumben saya menulis hal seperti itu. Tenang saja, tulisan itu akan menjadi permulaan dari tulisan-tulisan receh lainnya yang akan mengisi blog kami tahun ini 😅saya pastikan, tahun ini akan lebih banyak tulisan-tulisan santai di blog kami. Energi dan waktu yang biasanya saya gunakan untuk riset sana sini sebagai bahan tulisan di blog, kali ini saya pergunakan untuk hal yang lebih bermanfaat lainnya di dunia nyata. Jadi, selamat membaca tulisan saya yang santai-santai saja 😁 

Kali ini saya akan menuliskan beberapa hal yang berkaitan dengan makanan. Ya apalagi, makanan selalu membuat saya gembira, apalagi dingin begini.

1. Bawang Goreng Inly

Beberapa waktu lalu, kami mengadakan syukuran. Tidak terlalu yang besar-besaran, hanya mengundang keluarga dan teman-teman dekat. Karena rumah kami tidak terlalu besar, dari undangan yang disebar, acara dipisah pada 3 waktu yang berbeda. Jadi kloter pertama, untuk keluarga. Kloter kedua dan ketiga untuk teman-teman kami. Makanannya tentu saja masakan Indonesia. Karena waktu itu Ibu masih di sini, jadi kebanyakan Ibu yang masak. Saya kebagian yang ringan-ringan saja. Dan juga ada beberapa teman yang datang sambil bawa makanan. Mereka memang menanyakan sebelumnya apakah ada yang bisa dibantu berkaitan dengan makanan. Saya dengan tanpa sungkan langsung menyebutkan makanan yang bisa dibawa seperti kue-kue, campur Bali, jeroan (babat dan paru) goreng. Selebihnya menunya saya dan Ibu yang masak. Menunya adalah : mie goreng kuning, rendang, urap sayur, ayam panggang bumbu saus, sambel bajak, nasi kuning.


Dari semua menu di atas, salah satu yang menarik perhatian dan jadi pertanyaan terutama dari teman-teman saya adalah bawang goreng yang ada di dalam toples plastik. Mereka tanya apakah saya menggoreng sendiri bawangnya. Saya jawab : tentu sajaaaa….. tidak! 😅 saya suka sekali dengan bawang goreng. Kalau lagi rajin, saya selalu menggoreng sendiri. Tapi masalahnya rajin saja tidak cukup. Musti punya waktu yang cukup juga. Jadi, bawang goreng yang jadi primadona ini darimana? Saya beli di Inly. Tahu kalau keluarga Inly bisnisnya adalah berjualan bawang goreng dari salah satu tulisan Mariska. Sejak saat itu saya niat, kalau ada keluarga yang akan ke Belanda, saya akan nitip bawakan bawang goreng itu.

Pucuk dicinta, Ibu datang ke Belanda. Langsung saya hubungi Inly lewat twitter bertanya bagaimana cara pemesanannya dan bertanya bertahan berapa lama. Asli, ini bukan endorse-an. Sebagai penyuka bawang goreng renyah dan ga gampang melempeng, bawang goreng keluarga Inly ini josss banget. Tidak pakai tepung juga. Jadi asli bawang tanpa campuran. Saya beli 1kg yang dipisah menjadi 4 toples. Masih ada sisa 2 toples, saya sayang-sayang banget. Yang penasaran dan berminat, silahkan hubungi Inly ya. Ini testimoni dari konsumen yang puas. 

Penampakan bawang goreng Inly jadi taburan. Ini foto teman saya
Penampakan bawang goreng Inly jadi taburan. Ini foto teman saya

2. Sayur Daun Kelor aka Gengan Maronggi

Pada postingan tentang masakan rumah, saya menyebutkan kalau salah satu masakan yang saya kangeni dari rumah adalah gengan maringgi atau sayur kelor. Sayangnya, selama di Belanda, saya belum pernah menemukan yang namanya daun kelor. Kalau buah kelor aka kelentang, saya selalu beli di pasar. 

Nah sewaktu awal Ibu di sini, kami ke toko Asia, mau beli tempe. Tiba-tiba Ibu bilang, “Lho Den, katanya ga ada maronggi, lha ini ada” lalu saya ambil bungkusan itu. Owalaahh ternyata daun kecil-kecil yang hampir selalu ada di rak itu maronggi aka daun kelor tho. Saya ga ngeh sama sekali. Lagian selama di Indonesia, saya jarang memperhatikan daun kelor itu bentuknya seperti apa. Yang saya perhatikan dengan seksama kalau sudah dikirimi sayur kelor oleh tetangga dalam keadaan siap santap haha.

Waahh, saya tentu saja senang sekali ternyata kelor dijual di toko Asia. Sejak saat itu, kerinduan saya untuk makan sayur kelor terobati. Harganya pun tidak semahal buah kelornya. Sudah beberapa kali saya membuat sayur kelor dimasak pake kunci. Segernya luar biasa. Ini salah satu penampakan sayur kelor bersama lauk pauk lainnya. Teman saya yang sedang mampir ke rumah sampai nambah 3 kali hahaha. 

Sayur kelornya yang di dalam panci
Sayur kelornya yang di dalam panci

Pernah dengar mitos atau cerita seputar kelor ga? Kan katanya bisa merontokkan susuk haha. Kalau buat orang Jawa katanya kelor buat memandikan mayat ya.

3. Pecelan Komplit

Sabtu minggu lalu ada acara kumpul-kumpul di salah satu rumah teman di Rotterdam. Masing-masing orang yang datang bawa makanan. Tuan rumah masak ayam saus dan bakso lengkap dengan balungan dan gajih-gajihnya. Ada yang bawa siomay dan cendol. Ada yang bawa onde-onde dan kue. 


Saya sejak awal menawarkan akan membawa pecelan lengkap dengan sambel tumpang dan mendol. Sambel tumpang dan mendolnya saya buat asli dari tempe yang sudah kadaluarsa satu bulan. Jadi rasanya ciamik soro. Nah, bumbu pecelnya, Ibu yang membuat sebelum berangkat ke Belanda. Jadi Ibu membawa 2kg sambel pecel. Enak banget sambel pecel buatan Ibu. Sambel pecel Nganjuk gitu. Terasa bumbunya. Testimoni dari yang pernah merasakan seperti itu. Malah ada yang pesan untuk dibawakan. Makanya saya irit-irit sekali makan sambel pecel. Harus cukup sebelum nanti kami liburan ke Indonesia. Selain itu, sayuran di pecel yang saya bawa ada kenikirnya. Ini juga dibawa Ibu dari desa. Jadi kenikirnya dikeringkan. Harta berharga sekali kenikir ini, makan juga saya irit supaya tidak cepat habis. Maklum, di Belanda saya belum pernah menjumpai kenikir.

Pecelan Komplit
Pecelan Komplit

Suami saya doyan sekali dengan mendol dan pecel. Walaupun dia tahu mendol dibuat dari tempe kadaluarsa, tetap saja dimakan dengan hati gembira.

Nah, itu cerita singkat saya tentang beberapa hal yang benang merahnya adalah makanan. Suhu di Belanda minggu ini semakin drop. Di tempat tinggal kami kalau pagi sampai minus 8. Besok malah sampai minus 10. Bahkan di beberapa kota, salju datang lagi. Dalam minggu ini salju nampaknya akan rata datang lagi. Matahari sih sebenarnya bersinar cerah sekali, cuma dingin dan anginnya yang tidak kuat. Kami yang biasanya hampir tiap hari jalan kaki cari udara segar kalau siang atau sore, seminggu ini rencananya di rumah saja. Saya sudah kangen sekali hangat matahari. Supaya kalau mau beli tempe ke toko yang jalan kaki cuma 5 menit tidak harus ribet dengan pakaian yang membutuhkan waktu lebih dari 15 menit. 

Jadi, ada rencana makan siang apa kalian? Sewaktu saya jadi mbak kantoran di Indonesia, pertanyaan mau makan siang apa sudah didiskusikan satu ruangan semenjak jam 8 pagi 😅Besok siang saya ada rencana masak jamur goreng pedas, sambel tempe kemangi dan oseng kangkung. Ya mudah-mudahan rencana bisa terlaksana supaya tidak berhenti jadi wacana.
-Nootdorp, 26 Februari 2018-

57 thoughts on “Bercerita Tentang Makanan

  1. Hallo Mba Denny.. Aku lagi browsing2 tentang makanan indonesia di belanda, klik sana sini dan sampailah di blog ini. Trus aku baca2, eeh ternyata kita sama2 tinggal di Nootdorp..hehehe.. kebetulan banget. Namaku Dissy. Rumahku deket pom bensin/ jalan tol. Salam kenal yaa 🙂

    1. Hai Dissy, waahh tinggal di Nootdorp juga? Aku baru ketemu satu orang yang tinggal di Nootdorp, sekarang nambah lagi satu orang. Salam kenal ya. Pom Bensin Jalan Tol itu yang deket danau itu kah?
      Kalau cari makanan Indonesia di Den Haag, banyak banget 🙂 di Parade juga ada Toko yang jual makanan Indonesia.

  2. Huaaaaaaa… Postingan muantap rek, apalagi yang nomor 1, hihihi.. Makasih yah Deny.. :* Yang aku bawa cuma 2 toples saja, dan sekarang sisa 1/2 toples, disayang2 juga makannya, haha..
    Dan kangen pecel deh sekarang..

    1. Hahaha karena memang enak makanya promosi Inly, bagi2 enaknya :))) punyaku masih 2 toples nih, disayang2 sampai akhir tahun haha

    1. Wah kamu niat banget pas winter gini Diet hahaha. Kalo dingin kan biasanya gampang lapar. Sukses dietnya!

    1. Hai Lin, Terima kasih 🙂
      Ini mah masakan warteg Lin haha. Tinggal ke `warteg aja kamu, lebih banyak pilihannya 😀

  3. Hai Denny, udah lama nggak ke sini…, pas aku agak longgar ngeblog ternyata Dennya sudah kembali..

    daun kelor dimasak pakai kuci itu dibening doang ya Den?
    aku punya pohonnya tapi masih ragu aja mau dimasak apa yang enak

    1. Hai Mbak Monda, Makasih sudah mampir 🙂 Iya nih Mbak baru2 aja baliknya setelah 3 bulan ga nulis sama sekali. Kangen juga ternyata.
      Beruntung sekali Mbak Monda punya pohonnya. Iya Mbak, masak beningnya kayak gini :Bumbunya cuma bawang putih, kunci, garam sama tepung beras. Jadi, bawang putih diiris2, kunci digeprek, masukin ke air. Lalu tepung beras secukupnya juga dicampurin ke air. Lalu air ini didihkan sampai aroma bawang putihnya keluar lalu masukkan garam sesuai rasa yg diinginkan. Kalo sudah ok, baru masukkan daun kelornya. Masaknya ga usah lama2. Ya kira2 2-3 menit api dimatikan. Kalo lama2, bisa agak pahit rasanya. Sudah gitu aja Mbak udah enak banget.

  4. Mba Den, aku di rumah punya daun kelor. Kalo masak pake Kunci, bumbunya apa aja? Terus, mba Deny pernah masak daun kelor pake resep sayur lodeh ga? Maap nih banyak nanya, newbie mau cobain daun kelor 😀

    1. Ga pernah Ji kalo lodeh. Selalu disayur bening. Bumbunya cuma bawang putih, kunci, garam sama tepung beras. Jadi, bawang putih diiris2, kunci digeprek, masukin ke air. Lalu tepung beras secukupnya juga dicampurin ke air. Lalu air ini didihkan sampai aroma bawang putihnya keluar lalu masukkan garam sesuai rasa yg diinginkan. Kalo sudah ok, baru masukkan daun kelornya. Masaknya ga usah lama2. Ya kira2 2-3 menit api dimatikan. Kalo lama2, bisa agak pahit rasanya.

  5. Glek, baca ini kuterus laper hahahah lagi sakit gigi jadi gak bisa makan enak nih.
    Bacanya juga aku jadi pengen makan pecel hahaha, udah lama gak makan pecel enak. Dulu pas jaman masih ngekos, suka ada mbok pecel yg lewat depan kos-an. 5000 udah kenyang banget.
    Eh sama loh jaman aku ngantor dulu juga begitu, makan siang diomongin dari pagi atau malah dari sehari sebelumnya. Sebagai penyemangat hahaha 😆

    1. Ya ampuuunn murah banget yak 5000 sudah kenyang.
      Lah toss kita hahaha. Emang bener lho, ngomongin makan sianhg itu selalu bikin semangat. Padahal makan siangnya soto mie

      1. Ih itu 5000 aja kadang banyak banget, Den.
        Hahaha iya, makan soto mie, ayam goreng, dan 101 macam sayur berlumur micin huahahaha … habis makan siang trus ngantuk 😆

    1. Hahaha bawang goreng abal2. Duh aku paling ga seneng ndelok bawang merah digoreng pake tepung. Kayak penistaan makanan gitu *serius banget istilahnya mbaak

  6. Bener sih, bawang goreng Inly emang maknyos banget. (testimoni yang makan disitu juga saat acara syukuran).

    Minggu lalu aku juga masak masak, mbak. Masak daging sapi pake sambel dan kecap manis, terus Minggunya bumbu sama tapi pake ayam.

      1. Iya, enak dan gampang bikinnya. Nggak jadi semur juga tapi, karena aku nggak terlalu suka terlalu manis. Apa ya, daging rica-rica pake kecap manis jadinya, hahaha!

  7. Sama kita Den. Aku juga suka bgt bawang goreng. Rasanya ditabur ke makanan apa aja enak dan makin harum. Suamiku pun doyan dan suka nyemilin gitu aja. Dan aku suka protes karena bikinnya perjuangan juga. Aku iris manual dan kalau pake alat suka ga rata gt.

    1. Toss Helena!
      Bener, aku juga bikinnya manual ngiris sendiri. Ga punya alatnya. Akupun suka kesel sendiri, seberapa banyaknya aku goreng selalu cepet habis. Soalnya aku cemilin. Jadi kesel sama diri sendiri hahaha.

    1. Akupun Va, malam2 gini pengennya bakso panas kayak yang difoto. Hadeuuhh, ga nduwe stok pentol. Dadi cuma mbayangno thok.

    1. Kok jadi kamu yang meninggalkan komantar ga enak begini Fran. Aku sebagai pemilik bloh ga ada masalah lho diprotes seperti itu. Malah senang. Aku menerima dengan senang hati segala kritik dan masukan yang membangun. Selama memang untuk kebaikan, ya akan dipertimbangkan. Kalau sampai ada yg protes artinya memang mereka membaca tulisanku dengan seksama, tidak sekilas lalu saja. Dan ketika ada yg berbeda, mereka menyadari itu. Meskipun blog ini blog kami, tapi blog ini sudah jadi milik publik juga karena semua yg tertulis di sini publik yang baca. Kecuali blog yg diprivat. Sama halnya dengan buku atau film, ketika penulis atau sutradaranya sudah meluncurkan karyanya, maka harus siap juga menerima segala kritikan, protesan. Bukan sekedar pujian.

      1. Maafkan kalo berbeda pandangan. Aku justru berusaha menerima semua blog yang aku follow, artinya keren di mataku. Misalpun gak berkenan ya skip aja, karena toh blog milik orang. Kritik, saran, pujian ya kembali ke pemilik blog menanggapinya.

  8. dari postingan mbak Deny baru tau kalau keluarganya Inly bisnis bawang goreng, hehe. Itu foto pecelnya bikin ngeces mbak. Rencana makan siangku hari ini, tadi udah masak di rumah/bawa bekal ke kantor: ayam goreng bacem, sambel terasi, tumis bayam campur toge+wortel, kerupuk. 🙂

    1. Iya, aku juga tahu dari blognya Mariska. Jadi ini akhirnya viral sesama blogger
      Aduuhh sambel terasi itu juara apalagi dicolek pake krupuk. Yummm

  9. Diana lebih suka baca yang ringan aja mba, Kalo blog yang berat, lama bacanya, bahkan bisa sampai kelupaan. Heheheh.. Oh ya, makanannya keliatan enak-enak mba 😀
    Hari ini dah bawa cah toge dan baso goreng untuk makan siang. Pagi tadi sich sarapan puding dan jus (buah naga + strawberry + pear + apel). 😀

      1. Iya, bakso goreng enak. Laper lagi jdnya. 😀 Sarapan jus dan puding sebenernya kurang ‘nendang’, jadi kadang diganti nasi kuning sama jus. Jusnya diusahakan ada. Hehehe

  10. Inilah satu-satunya momen ketika saya “iri” sama orang Indonesia yg tinggal di kota besar di luar negeri: di kota besar biasanya banyak orang Indonesia, jadi sering/gampang makan-makan kayak gini.. Gak kayak aku, sorangan we..

    1. Em, percayalah, rumah kami bukan di kota besar. Pinggirnya kota besar(Den Haag). Desa malah hitungannya nah di Den Haag aku ga ada teman. Teman2 yg kukenal baik rumahnya jauh2. Makanya aku musti naik kereta, atau metro atau tram (karena kami ga punya mobil) minimal satu jam kalo ada acara kumpul2 gini, sendiri pula karena suami ga ikutan. Ada yg rumahnya malah 3 jam perjalanan. Lelah, tapi aku usahakan selalu datang. Demi makan2 hahaha.

  11. Walah baru tau Inly punya bisnis bawang goreng, nanti mo ikut pesen juga ah biar ngerasain sama mo nyoba bumbu pecel ibumu juga, bisa pesen ga den?

    Kalo postingan kamu dibilang receh apalagi punyaku ya, remah-remah ala kadarnya, ada yg baca trus komen syukur, ga dibaca ya gapapa juga si tapi hihi

    1. Aku cocok sama bawang gorengnya Inly. Cuma kutambahin garam biar ada rasa karena aslinya ga digaramin. Ibuku sudah balik ke kampung hampir sebulan ini Nis haha jadi ga bisa pesen. Itupun Ibu bikinnya di desa, bukan di sini. Kalau memang memungkinkan kita ketemu dalam waktu dekat, Insya Allah aku kasih aja. Buat tombo pengen kalo kata orang Jawa
      Yang penting terus menulis dan semangat menulis. Kalo aku, supaya tetap terjaga kewarasan makanya menulis

  12. Aku seringnya lebih suka baca blog yang isinya ringan “receh” hehe. Kalau buka laptop seringnya sudah cape duluan, mencari hiburan/bacaan yg ringan saja 😀 . Draft tulisanku ada sampai 100 an karena muncul ide macem2 langsung bikin 1-2 palagraf, lalu kumat malasnya, ditinggalin haha. Eh si Inly bukanya sudah ga tinggal di Indonesia Den?, bgm pesan bawang goreng sama dia?.

    1. Iya Inly sudah ga di Indonesia tapi aku mesennya lewat dia. Nanti dia yang menyampaikan ke keluarganya ttg pesanan yg datang. Nah nanti keluarganya yg meneruskan selanjutnya ttg pengiriman.

      Akupun Nel, sering banget punya ide2 receh yang akan kutulis. Setiap datang ide, langsung kutulis di note Hp. Mau nulis, baru dapat satu kalimat, eh males atau ngantuk hahaha. Semangatlah buat kita untuk tetap menulis apapun topiknya itu

  13. Selalu ngiler kalo baca tulisan Deny tentang makanan yang ya ampuuunnn ocencik cekaliiii… Tapi ntar malem mau makan pizza aja ah, lagi males masak 😀

Thank you for your comment(s)