Terlalu Senang di Nijntje Museum – Utrecht – Belanda

Nijntje Museum - Utrecht - Belanda

‘I create a world that children fill with their own imagination.’

-Dick Bruna (1927-2017)-

Begitulah yang dilakukan oleh Dick Bruna, seorang penulis dan ilustrator dari lebih 124 buku bergambar, kelahiran Utrecht Belanda. Belanda selain terkenal dengan kincir angin, keju, tulip, dan beberapa ikon lainnya, juga dikenal dengan karakter kelinci kecil yang bernama Nijntje. Karakter ini diambil dari Kelinci yang dalam bahasa Belanda adalah Konijn. Konijntje berarti kelinci kecil. Konijntje yang lebih dikenal Nijntje lahir pada tanggal 21 Juni 1955. Nijntje juga dikenal dengan sebutan Miffy, karena tidak semua orang selain Belanda bisa menyebutkan Nijntje (baca : Naince).

Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Nijntje Museum – Utrecht – Belanda

Dick Bruna menuliskan cerita dengan karakter Nijntje berdasarkan kisah sehari-hari sehingga mudah dipahami olah anak-anak. Nijntje yang dikisahkan dalam bukunya adalah seorang kelinci kecil yang hadir pagi hari setelah malam sebelumnya seorang malaikat datang dan berkata pada keluarga Plaus (keluarga kelinci) bahwa akan ada kelinci perempuan yang akan hadir ditengah keluarga mereka. Pada akhirnya Bapak dan Ibu Plaus memberi nama kelinci tersebut Nijntje dan sejak saat itu si kelinci adalah anak dari keluarga Plaus.

Karakter Nijntje adalah penggambaran dari keseharian anak-anak yang tidak jauh dari aktivitas bermain, berkegiatan dengan keluarga, mengajarkan cara menyeberang jalan, dan aktivitas harian lainnya. Dalam buku-bukunya, Dick Bruna melalui Nijntje selain bertujuan menghibur anak-anak dengan cerita-ceritanya, juga sebisa mungkin mengajarkan mereka tentang dasar-dasar bersikap. Misalkan tentang berucap terima kasih, meminta maaf, mengantri, mengucapkan selamat ulang tahun, membuang sampah pada tempat yang sesuai dan sebagainya. Nijntje tidak hanya populer di Belanda, di Jepang juga ada satu museum Miffy. Bahkan ada satu kereta di Jepang yang interiornya penuh dengan gambar Miffy

Hall Utama - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Hall Utama – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Tempat menggantungkan jaket - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Tempat menggantungkan jaket – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Tempat Parkir Stroller - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Tempat Parkir Stroller – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Tempat Parkir Stroller - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Tempat Parkir Stroller – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Loker - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Loker – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda

Akhir tahun 2019, kami akhirnya bisa juga ke Museum Nijntje di Utrecht. Bersama seorang teman dan putrinya, lebih dari 4 jam kami bersenang-senang di sana. Saya memang sudah jatuh cinta dengan Nijntje sejak membaca beberapa bukunya. Tak heran, setelahnya saya suka gemas sendiri kalau ada barang yang ada Nijntjenya dan berakhir dengan membeli *bukan khilaf tapi sengaja beli :)))

Tips : 

  • Saya sarankan untuk membeli tiketnya secara online. Selain karena harganya lebih murah (kalau tidak salah ingat bedanya €2 lebih murah dibanding beli langsung), juga untuk menghindari antrian panjang apalagi jika musim liburan dan libur sekolah. Tiket online bisa dibeli melalui website merekaSaat membeli tiket tersebut kita juga bisa memilih rentang waktu sesuai dengan yang kita inginkan. Dan pastikan kita tidak telat datang sesuai waktu yang kita pilih.
  • Anak dibawah usia 2 tahun, gratis. 2-17 tahun serta dewasa jika membeli tiket online €6 per orang.
  • Ada beberapa pilihan tiket sesuai kebutuhan. Misalkan tiket dengan anggota keluarga, tiket bersama sekolah, dan sebagainya.
  • Jika datang pada hari kerja, pengunjung tidak seramai pada akhir pekan. Namun hal tersebut tak berlaku saat musim liburan dan libur sekolah karena setiap hari ramai pengunjung.

Bersyukurnya kami waktu itu membeli tiket secara online dan datang pada hari kerja jadi tidak ada antrian.

Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Nijntje Museum – Utrecht – Belanda

Fasilitas dalam museum ini juga lengkap. Ada loker, tempat khusus menaruh stroller, menaruh tas, dan jaket, ruang khusus untuk menyusui dan memanaskan makanan (disediakan microwave), ruang khusus tempat mengganti popok. Tidak itu saja,ada juga ruang khusus tempat makan.

Tips : 

  • Jika tidak ingin membeli makanan di restoran Nijntje Museum yang terletak tepat di depan museumnya, kita juga bisa membawa bekal. Ada ruangan khusus tempat kita bisa makan bekal yang kita bawa. Tidak itu saja, kita juga bisa menggunakan microwave yang disediakan.
  • Jika ingin makan siang pancake Nijntje, kita bisa makan siang di restorannya, dengan harga yang (menurut saya) tidak terlalu murah untuk sepiring Pancake.

Kami waktu itu membawa makanan sendiri. Jadi lumayan, selain bisa mengirit, juga bisa sembari leyeh-leyeh sejenak. Tapi jangan dibayangkan bekal yang kami bawa semacam nasi liwet lengkap dengan ayam goreng sambel trasi ya. Kami cukup membawa roti keju dan roti coklat haha *pembaca pun kecewa. Kalau ada yang berencana ke Nijntje museum dan akan bawa bekal lengkap, monggo lho tidak ada larangan. Kalau saya sih lebih kepada ringkesnya saja.

Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Nyocokin gambar - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Nyocokin gambar – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Main dokter-dokteran - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Main dokter-dokteran – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda

Jadi dalam Nijntje Museum ini isinya apa? banyak sekali. Anak-anak seperti diberikan semacam surga buat mereka. Bukan hanya bermain, tapi juga bisa berimajinasi. Misalkan di ruangan rumah sakit, mereka bisa memakai baju yang disediakan, menggunakan stetoskop. Ada yang pura-pura menjadi pasien tidur di ranjang pasien, ada yang menjadi dokter. Di ruangan lain, ada baju pemadam kebakaran, polisi dll. Jadi mereka bisa berimajinasi tanpa batas. Semua yang ada di Nijntje museum bisa dipegang dan dimainkan.

Selain itu, mereka juga bisa bereksperimen dengan layar sentuh. Memasangkan gambar-gambar balok, mewarnai, atau bahkan menggambar. Ada juga pojok cerita yang bisa kita gunakan untuk mendongeng menggunakan boneka tangan.

Main dokter-dokteran - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Main dokter-dokteran – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Bermain bentuk - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Bermain bentuk – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Ruangan mengenal lalu lintas - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Ruangan mengenal lalu lintas – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Ruangan mengenal lalu lintas - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Ruangan mengenal lalu lintas – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda

Untuk orangtua yang mendampingi, mereka pun bisa bercerita kepada anak tentang ruangan yang mereka kunjungi. Setiap ruangan akan ada keterangan hal-hal apa saja yang bisa kita eksplorasi. Museum ini terdiri dari dua lantai.

Pengunjung museum ini meskipun mayoritas adalah anak-anak dengan pendampingnya, tapi banyak juga yang berminat dan tertarik dari kalangan dewasa tanpa anak. Mereka berkunjung ke sini karena tertarik dengan karakter Nijntje.

Ruangan mengenal binatang - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Ruangan mengenal binatang – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Ruangan mengenal binatang - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Ruangan mengenal binatang – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Ruangan mengenal binatang - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Ruangan mengenal binatang – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda

Tempat Workshop, anak-anak dalam grup bisa menggunakan ruangan ini untuk menggambar bersama.
Tempat Workshop, anak-anak dalam grup bisa menggunakan ruangan ini untuk menggambar bersama.
Ruang istirahat. BIsa makan dan minum di sini
Ruang istirahat. BIsa makan dan minum di sini

Buat kami, waktu 4 jam berlalu sangat cepat karena betul-betul menikmati suasana dan hal-hal yang ada di dalamnya. Menikmati mungkin kata yang terlalu sederhana. Kami sangat antusias mencoba segala macam yang ada di sana.

Nijntje museum terletak tidak jauh dari stasiun Utrecht. Bisa ditempuh dengan jalan kaki ataupun naik bis. Jika ada yang berencana berlibur ke Belanda dan membawa anak, bingung mau diajak ke mana, bisa dicoba berkunjung ke Nijntje Museum.

Karena hari ini Nijntje berulang tahun, jadi saya akan ucapkan selamat ulang tahun.

Gefeliciteerd met je Verjaardag Nijntje. Alle beste wensen!

Selamat Ulang Tahun Nijntje. All The Best!

Tertarik berkunjung ke Nijntje Museum?

-Nootdorp, 21 Juni 2019-

Fijne Vaderdag!

Kado Vader Dag

Hari ini adalah Hari Bapak (atau tergantung manggilnya apa, bisa ayah, papa dll) di Belanda. Kalau hari Ibu dirayakan setiap bulan Mei minggu kedua pada hari minggu, maka hari Bapak dirayakan setiap bulan Juni minggu kedua pada hari minggu. Berdasarkan pengamatan saya, euforia hari Bapak dari iklan-iklan maupun diskon-diskon yang ditawarkan tidak semeriah pada saat hari Ibu, meskipun ya gemanya tetap terasa.

Hari Bapak di rumah ngapain saja? Tidak ada acara khusus haha. Saya bangun pagi untuk lari (hei, saya sudah mulai kembali lari. Senangnya. Tadi pagi bisa 5km), satu jam kemudian sudah di rumah lalu suami gantian lari. Daripada nganggur, saya kemudian bersih-bersih halaman depan dan belakang. Setelah suami sampai rumah, kami semua lalu makan pagi bersama.

Sebelum makan pagi, kami bersama-sama mengucapkan hari Bapak lalu memberinya kado. Aslinya ada kado lainnya, tapi karena pesannya mendadak, walhasil barangnya belum sampai haha. Jadi ya kado yang ini saja .

Kado Vader Dag

Setelah itu suami ke luar karena ada acara. Saya leyeh-leyeh (baca : beberes), mandi lalu makan siang. Oh ya, menu weekend kami adalah rawon pake kohlrabi, kacang panjang dan daging.

Rawon

Sorenya setelah semua bangun tidur, kami jalan-jalan ke Den Haag. Sudah terbiasa hidup di kampung, kalau ke Den Haag apalagi weekend, pulangnya pasti agak pening kepala. Ramenya ga ketulungan. Dan disetiap pengkolan, pasti kedengeran obrolan dalam bahasa Indonesia.

Setelah mendapatkan barang-barang yang dicari, kami lalu makan malam di restoran. Menu yang kami pesan : Cap Chay, Daging bumbu Shicuan, dan Yakitori (fotonya blur karena grogi ditunggu yang mau makan sudah tak sabar). Makan di restoran inipun kayak makan di warteg, isinya banyak orang Indonesia. Kembali ke rumah, bersih-bersih lalu jam 8 malam rumah senyap. Penduduknya sudah dikamar masing-masing.

Een hele fijne vaderdag voor alle vaders! Vooral mijn man, Jij bent geweldig!
Selamat hari Bapak untuk semua para Bapak. Dan spesial untuk suamiku, kamu Bapak yang hebat!

— sekali-kali muji suami di blog  🙂

Begitulah akhir pekan sekaligus perayaan hari Bapak dikeluarga kami. Semoga akhir pekan kalian juga berkesan ya.

-Nootdorp, 16 Juni 2019-

Lebaran Kali Ini (2019)

Seperti layaknya lebaran-lebaran tahun sebelumnya, setelah saya menetap di sini. Sepi, tak ada bedanya dengan hari-hari biasanya. Kecuali kalau ikutan sholat di Masjid Al Hikmah di Den Haag atau ikut halal bihalal di rumah dinas Dubes, baru berasa suasana lebaran. Tapi karena saya tidak ke mana-mana, jadi ya biasa saja suasana lebaran tahun ini.

Awalnya saya sudah berencana akan ikutan halal bihalal. Namun saya cukup sadar diri dengan situasi yang tidak memungkinkan, akhirnya ya di rumah saja. Tahun ini adalah tahun ketiga saya tidak puasa Ramadan. Kangen pastinya ikutan puasa. Mudah-mudahan tahun depan bisa kembali puasa Ramadan. 

Tidak ada rencana pasti apakah saya akan memasak khusus untuk lebaran, seperti tahun-tahun sebelumnya. Masih belum tertebak situasinya. Tapi H-1, ternyata cukup kondusif keadaan di rumah, secepat kilat saya memasak dengan bahan-bahan yang ada di freezer dan di kulkas. Intinya tidak memaksakan diri. Bisa masak, bersyukur. Kalau tidak, ya makan yang ada saja. Niatnya saya memasak yang agak banyak, jadi bisa diantar ke tetangga-tetangga. 

Di Belanda, lebaran jatuh pada hari selasa, 4 Juni 2019. Lebih cepat satu hari dari lebaran di Indonesia. Suami berinisiatif bekerja dari rumah, jadi tidak berangkat ke kantor. Katanya supaya saya tidak terlalu sedih lebaran jauh dari keluarga, padahal dia ingin makan siang mewah haha.

Hidangan Lebaran
Hidangan Lebaran

Singkat cerita, inilah hidangan lebaran yang bisa saya masak. Kecuali rendang yang beli dari kateringan padang di Den Haag, selebihnya saya masak sendiri. Lodeh labu siem tahu, sambel goreng kentang ati, telor petis, sate ayam, lontong, dan opor ayam tahu. Terharu juga dengan waktu yang tidak banyak bisa masak beberapa macam. Kami sekeluarga makan siang bersama, merayakan lebaran di rumah.

BAB40E94-3B27-4E59-8F6B-F0F7ABAD99C0

Sorenya saya menghantarkan makanan-makanan tersebut ke beberapa tetangga, supaya mereka juga ikut merasakan suasana lebaran lewat masakan Indonesia. Mereka mengucapkan selamat lebaran pada saya. Dalam bahasa Belanda, lebaran adalah Suikerfeest : pesta gula, karena lebaran identik dengan makanan yang manis-manis. 

2A594910-6827-4152-9A61-19123DD7F6C8

Lingkungan rumah kami memang tetangga lumayan guyub. Maklum, mungkin karena di kampung. Jadi mengantarkan makanan satu sama lain adalah hal yang biasa. Para tetangga kami mayoritas Belanda karena lingkungan orang lokal, bukan pendatang. Paginya, seorang tetangga yang saya antarkan makanan menyapa saat saya terburu-buru jalan,”Deny, kalau kamu sering memberi saya makanan Indonesia yang enak-enak, badan saya nanti jadi melebar.” Saya anggap sebagai pujian. 

92215A36-8292-4510-873D-29B4781C1E4B

Begitulah cerita lebaran tahun ini. Selamat hari raya Idul Fitri, selamat merayakan kemenangan. Mohon maaf lahir batin atas segala khilaf komen, menjawab komen, status, postingan yang tak berkenan, maupun perbuatan di dunia nyata. Semoga bulan syawal ini membawa keberkahan buat siapapun, dibukakan pintu kemudahan untuk yang sedang diuji dan kesabaran untuk menjalaninya. Semoga kita selalu bersyukur atas sekecil apapun nikmat yang dititipkanNya dan musibah sebagai pengingat untuk menundukkan hati.

-Nootdorp, 11 Juni 2019-

Handal Pekerjaan Rumah Tangga yang Mana?

http://courageouscolleen.blogspot.nl/2013_09_01_archive.html

Hari senin kemaren akan saya ingat sebagai salah satu hari bersejarah dalam hidup. Pasalnya, saya akhirnya bisa juga mengerjakan salah satu pekerjaan rumah tangga yang tidak terlalu saya sukai karena merasa tidak handal (berdasarkan dari hasil yang lalu-lalu, tidak memuaskan). Memasang seprei (dan kurungan selimut) adalah salah satu pekerjaan RT yang saya tidak suka. Sejak jaman ngekos, entahlah kenapa kalau pasang seprei selalu tidak rapi. Mencong sana sini. Mau dipakai peniti atau sepreinya sudah ada karetnya, tetap saja mencang mencong tak rapi. Mungkin karena saya tidak telaten.

Berbeda dengan suami, dia bisa rapi jali kalau pasang seprei. Betul-betul rapi seperti di hotel. Karenanya selama ini urusan ganti seprei saya serahkan ke dia. Nah beberapa waktu ini, dia memang sedang sibuk. Dan lagi, ada orang yang kerja bersih-bersih di rumah, jadi sekalian saya minta tolong mbak tersebut buat ganti seprei. Karena ada masalah, mbak tersebut tidak kerja lagi dengan kami. Terpaksalah saya yang ganti seprei karena sudah waktunya diganti. Membayangkan saja saya sudah capek dan pengen ngunyah martabak telor *alesan, padahal ya aslinya pengen makan.

Singkat cerita, ternyata saya bisa. Hasilnya lumayan rapi meskipun tidak selicin kalau suami yang pasang. Bener-benar saya langsung bangga pada diri sendiri haha. Pasang seprei bisa jadi pencapaian hidup saat ini. Kalau terpaksa, apapun mendadak jadi bisa.

Selain pasang seprei, pekerjaan RT lain yang saya tidak suka adalah ngosek kamar mandi dan wc. Untunglah di sini kamar mandinya kering pakai shower, jadi tidak perlu nguras bak mandi. Nah ini suami juga kinclong banget kalau mengerjakan. Semacam sangat menghayati kalau sedang membersihkan kamar mandi dan WC. 

Ada beberapa pekerjaan RT yang saya memang tidak suka dan tidak memaksakan untuk suka. Ternyata suami yang lebih handal. Di rumah kami, semua kami lakukan berdua. Jadi tidak ada tuh yang ongkang-ongkang kaki sementara yang lainnya bersih-bersih. Prinsipnya adalah rumah ditempati bersama ya dirawat dan dibersihkan bersama. Pernah saya tuliskan tentang hal ini ditulisan ini. Namun, meskipun sudah ada bagian siapa mengerjakan apa, tapi hal tersebut tidak saklek. Kalau ada yang tidak bisa, ya yang bisa mengerjakan. Yang penting rumah tidak sampai berantakan. 

Pekerjaan RT yang saya suka selain memasak dan beres-beres rumah (termasuk nyapu dan ngepel) adalah menyetrika. Saking sukanya dengan menyetrika, sampai serbet pun saya setrika haha. Kalau menyetrika saya bisa semacam meditasi. Jadi bisa ada ide-ide yang keluar dan bisa dapat inspirasi. Oh ya, meskipun saya suka masak, tapi saya tidak suka mencuci perkakas yang dipakai masak. Meskipun ada mesin cuci piring, tapi untuk peralatan masak yang besar tidak kami masukkan ke situ. Biasanya suami yang dengan sukarela mencuci peralatan masaknya (kalau pas dia di rumah ya).

http://courageouscolleen.blogspot.nl/2013_09_01_archive.html

Saking saya doyan dengan bersih-bersih dan kayaknya setiap saat selalu ngelap-ngelap, suami sering nyelutuk,”ga usah lah rumah terlalu bersih. Ini bukan museum, jadi kotor ya wajar.” Haha iya bener sih, memang bukan museum. Tapi mata gatel kalau ada yang kotor.

Kalau kalian gimana, handal dipekerjaan RT yang mana dan yang tidak disukai apa? Partner kalian ikut bareng-bareng ngerjain pekerjaan RT ga? 

Oh ya, selamat mudik ya buat yang mudik. Semoga selamat sampai tujuan berkumpul dengan keluarga besar merayakan Idul Fitri. Selamat liburan juga. Kalau makan opor dan hidangan lebaran lainnya, tolong ingat saya, di sini ga masak apa-apa minggu depan haha. Lebaran sepi seperti biasa. 

-Nootdorp, 29 Mei 2019-

Cerita Seru Potluck

Potluck di rumah kami

Saat di Jakarta, saya sering diajak grup Peucangers (teman2 backpackeran yang ketemu di pulau Peucang) untuk potluck. Seringnya sih ngumpul di taman Suropati. Selain memang tempatnya nyaman, sekalian saya bisa melihat pemuda pemudi yang main alat musik hari minggu pagi.

Sebenarnya potluck bukanlah hal yang baru buat saya karena sewaktu masih di Surabaya pun juga sering mengadakan potluck dengan teman-teman kampus. Cuma waktu itu menyebutnya bukan potluck melainkan : nggowo dewe-dewe yo rek panganane. Haha ga ringkes ya, kedawan (terlalu panjang). Tapi ya intinya sama, bawa makanan sendiri-sendiri lalu dimakan bareng dengan bawaan kawan lainnya.

Nah selama di Belanda, sudah tak terhitung berapa kali saya ikut dalam acara potluck. Bukan hanya dengan sesama orang Indonesia, tapi juga dengan kolega-kolega di tempat saya kerja dulu. Serunya kalau dengan kolega-kolega, kami bisa saling mencicipi masakan dari berbagai negara karena kolega saya tidak hanya berasal dari Belanda, ada juga yang dari Iran, Turki, Thailand, Irlandia, Kenya, Suriname, dan beberapa negara lagi tapi lupa mana saja. Wah itu masakan yang dibawa enak-enak. Kalau cuaca cerah, kami duduk-duduk di taman belakang rumah jompo. Lesehan gitu. Guyub rasanya. Saya yang memang selalu penasaran dengan makanan dari negara lain, selalu bawel bertanya tentang namanya, bahan masaknya apa saja, cara masaknya bagaimana dan tradisi memakannya di negara asal seperti apa. Seru sekali.

Potluck di Rotterdam
Potluck di Rotterdam

Kalau dengan sesama orang Indonesia juga tidak kalah seru. Karena bukan hanya suku Jawa peserta potlucknya, makanan yang dibawa juga bervariasi. Ada makanan Jawa Timur, Manado, Jawa Barat, Sumatera, Aceh, sampai Kalimantan. Lengkap. Nah inipun tidak kalah serunya karena kami bisa saling bertukar resep ataupun menyimak bagaimana proses memasaknya. Di Belanda, kumpul-kumpul yang paling enak memang kalau di rumah, lebih bebas dan tak terbatas waktu (ya ga mungkin sampai dini hari sih haha). Bisa juga disepakati kumpul di taman atau pinggir danau. Intinya bukan di mall atau restoran karena konsepnya bukan lagi potluck melainkan njajan

Kalau potluck begini, biasanya memang dibahas dulu siapa akan membawa apa. Semampu dan sebisanya saja. Fungsinya dibahas sebelumnya adalah untuk menghindari menu yang sama dan juga supaya tidak terlalu bentrok antara satu menu dan lainnya. Jadi saling melengkapi. Nah membahas menu ini juga menyenangkan karena akan menimbulkan perut keroncongan padahal rencana potlucknya masih 4 bulan yang akan datang.

Baru-baru ini saya dan beberapa teman mengadakan potluck yang bertempat di rumah kami. Pesertanya sih hanya 6 orang ya (plus anak-anak dan para suami), tapi makanan yang dibawa bisa untuk makan satu kampung haha saking banyaknya. Meja makan di rumah sudah lumayan besar, bisa untuk 8 orang, masih saja tidak cukup menampung makanan-makanan yang dibawa. Luar biasa memang semangat Ibuk-ibuk ini membawa makanan. Silahkan dizoom saja untuk melihat menunya apa saja. Kalau saya daftar, nanti malah panjang jadi buku berseri.

Potluck di rumah kami
Potluck di rumah kami

Empat diantaranya adalah blogger. Ya peserta tetap yang sering ketemuan. Yayang, Anis, Maureen, dan dua lainnya juga peserta tetap yaitu Rurie dan Asri. Karena masih dalam suasana hari Paskah, Rurie mengadakan permainan mencari coklat telur. Ini juga lumayan seru, anak-anak bersemangat sekali mencari coklat telur yang disembunyikan. Sayang cuaca saat itu tidak terlalu cerah di luar, jadinya kami hanya duduk dan ngobrol di dalam rumah.

Peserta Potluck
Peserta Potluck

Yang paling menyenangkan kalau ada acara kumpul-kumpul begini ya apalagi kalau bukan bungkus membungkus makanan. Lumayan kan jadi bisa bawa pulang beraneka jenis makanan. Apalagi saya sebagai tuan rumah, sampai 4 hari berturut tidak masak. Mengandalkan makanan hasil potluck haha. Jadi merasa orang paling kaya sedunia karena punya berbagai jenis makanan.

Kami sudah merencanakan untuk potluck selanjutnya summer nanti di ruang terbuka alias di alam. Sudah tidak sabar rasanya, karena menu-menunya juga enak-enak dan tempatnya nampak menyenangkan. Mudah-mudahan cuacanya benar-benar musim panas. Bukan musim gugur berkedok musim panas.

Kalian ada cerita seru juga tentang Potluck?

-Nootdorp, 22 Mei 2019-

Kisah Hari Ibu

Hari Ibu di Belanda dan beberapa negara Eropa (atau mungkin di benua lainnya juga) dirayakan setiap hari minggu, pada minggu kedua dibulan Mei. Jadi tanggal 12 Mei adalah Hari Ibu ditahun 2019. Dengar-dengar tradisi di Belanda kalau hari Ibu, anggota keluarga yang lain akan membuatkan sarapan dan mengantarkan ke tempat tidur. Ibu memakan sarapan tersebut di sana. Lalu seharian, Ibu akan bebas tugas (bebas memasak terutama) mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Meskipun saya mendapatkan hadiah, tapi hari Ibu di rumah kami tak ada bedanya dengan akhir pekan pada umumnya. Hari minggu waktunya leyeh-leyeh. Semua bangun siang, kecuali suami yang sudah lari pagi dan pergi ke gym sejak jam 6 pagi. Setelah suami datang dari Gym, sekitar jam setengah 9 kami sama-sama makan di ruang makan. Jadi tidak ada sarapan yang diantarkan ke tempat tidur (padahal ngarepnya yang diantarkan adalah bubur ayam, nyatanya ya sarapan roti seperti biasa). Untuk bebas tugas masak, memang betul. Bukan karena hari Ibu tapi karena hari Sabtu ada undangan ulang tahun anaknya Astrid dan hari minggunya ditraktir suami makan di restoran. Ya jadinya akhir pekan bebas masak.

Setelah bersiap, kami pergi jalan-jalan ke Clingendael. Seperti biasa kalau Taman Jepang waktunya dibuka untuk umum, kami tak pernah melewatkan untuk berkunjung. Walaupun ya isinya tetap sama, entah kenapa kami selalu saja kesana, dua kali setahun. Tak pernah bosan mengunjungi Japanse Tuin.

Japanse Tuin

Japanse Tuin

Kami melewatkan pagi dengan berjalan menyusuri taman di Clingendael. Mendengarkan kicau burung yang saling bersahutan, melihat keluarga yang saling bersenda gurau, menyapa oma opa yang semangat berolahraga, seorang Bapak yang menggandeng tangan anaknya, maupun sepasang kekasih yang saling bergenggaman tangan

.

Clingendael

Hari Ibu mengingatkan akan hubungan saya dengan Ibu yang tak pernah baik-baik saja, bahkan sampai saat ini. Kami saling menyayangi dengan cara yang tidak biasa. Walaupun begitu, saya mencoba berdamai dengan hal tersebut, mencoba semaksimal mungkin selesai dengan hal-hal yang memberatkan langkah saya. Apa yang telah terjadi pada saya dan Ibu, memberikan banyak pelajaran berharga pada saya yang saat ini sudah mempunyai keluarga. Yang baik akan saya pertahankan, yang buruk akan saya singkirkan. Dan saya akan melangkah dengan cara saya sendiri. Luka yang pernah ada, coba saya obati dan sembuhkan perlahan.

Clingendael

Kami makan siang di restoran yang terletak di pusat kota. Sembari menunggu saya selesai makan, suami pamit sebentar ke supermarket. Mau membeli roti katanya.

Tak berapa lama dia datang sambil membawa roti dan bunga. Wah tumben nih dikasih bunga, batin saya. Dia meletakkan bunga tersebut di meja depan saya, tanpa berkata apa-apa dan dengan ekspresi yang datar

Saya : “Terima kasih ya bunganya.”

Suami : “Bunga apa? Ohh itu tadi aku beli buat Mama.”

…………………………………………….Hening sesaat dan kami saling berpandangan. Beberapa detik kemudian meledaklah tawa kami.

Saya sudah GR tak karuan. Ternyata bunganya untuk Mama mertua. Tiwas sudah tersipu malu. Pengen krukupan panci ae rasane.

Bunga yang membuat GR

Hal-hal receh seperti ini tetap membuat kami tertawa terbahak. Saya yang gampang sekali GR dan suami yang tidak tertebak jalan pikirannya. Bagaimanapun, saya sangat bersyukur memiliki dia. Bersyukur memiliki keluarga yang tidak sempurna tapi pantang menyerah untuk terus belajar supaya hari ini menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

Hadiah dari tetangga

Apapun status saat ini dan nanti, semoga saya selalu ingat bahwa saya tetap seorang individu. Ada hal-hal yang tidak serta merta melebur dan saya tetap bisa bersenang-senang sebagai seorang individu. Betapapun beratnya waktu yang telah terlewati, setiap mengingat bahwa keluarga dalam keadaan sehat dan bahagia, selalu membuat payah jadi terbayarkan dipenghujung hari. Rasa syukur yang selalu terucapkan karena mempunyai keluarga tempat untuk kembali pulang dan menerima saya apa adanya.

Selamat hari Ibu.

-Nootdorp, 12 Mei 2019-

Ramadan Kelima di Belanda

Biasanya saya menuliskan tentang pengalaman Ramadan selalu menjelang akhir Ramadan atau saya jadikan satu dengan cerita Idul Fitri. Tapi kali ini saya menuliskan di awal dan mudah-mudahan diakhir Ramadan dan cerita Idul Fitri tahun ini bisa saya tuliskan juga.

Tanggal 6 Mei sudah mulai puasa Ramadan. Selalu, ada rasa haru, sedih, serta rindu suasana Ramadan di kampung halaman bersama keluarga di Indonesia. Rindu taraweh bersama, rindu mendengar bedug Maghrib dari Masjid, rindu mendengar khataman Al Quran dari Musholla, rindu buka puasa bersama, rindu masakan Ibu selama Ramadan, bahkan rindu berburu gorengan dan berbagai jenis es ketika ngabuburit. Yang saya tidak terlalu rindu adalah buka puasa bersama di mall karena antrinya panjang, tempatnya rame, sholat maghribnya terburu-buru. Sebagai perantau, saya tahu konsekuensinya jika jauh seperti ini, ya pasti merindukan kebiasaan-kebiasaan menjelang dan selama Ramadan.

Tahun ini adalah Ramadan kelima di Belanda dan akan menjadi tahun ketiga saya tidak menunaikan puasa selama Ramadan. Semoga tahun depan saya sudah bisa kembali berpuasa ketika Ramadan dan hutang-hutang puasa bisa saya cicil pelan-pelan.

Buat yang menjalankan puasa Ramadan, semoga lancar, berkah, sehat-sehat terus dan diijabah doa-doa yang dipanjatkan. Buat yang berpuasa di negara dengan durasi Ramadannya panjang (di Belanda tahun ini sekitar 18.5 jam), semoga dikuatkan dan istiqomah. Cuaca di Belanda nampaknya tidak terlalu panas selama Ramadan ini (kayaknya ya, karena kemaren cuacanya super labil. Sebentar hujan, panas, angin, hujan es, repeat sampai seharian. Ini bulan Mei lho masih saja hujan es deras. Bahkan saat menulis ini, di luar mendung dan hujan. Saya sudah kangen sekali cuaca hangat).

Maaf lahir batin dari saya jika ada khilaf dalam berkomentar ataupun tidak berkenan maupun tidak sependapat dengan postingan yang ada di blog ini (maupun di media sosial lainnya). Berbeda pendapat tidak masalah yang penting tidak memecah belah. Semoga yang mempunyai kesulitan dibukakan pintu kemudahan untuk menyelesaikannya dan Ramadan membawa berkah.

Selamat berpuasa!

-Nootdorp, 5 Mei 2019-

Koningsdag 2019

Kinderrommelmarkt
Pasang Bendera depan rumah Pasang Bendera depan rumah

Koningsdag tahun ini jatuh pada hari Sabtu. Jika bertepatan dengan hari kerja, maka hari dimana raja berulangtahun tersebut menjadi hari libur nasional. Ada yang berbeda tahun ini, biasanya pesta pada Koningsnacht hanya berlangsung malam itu saja, tetapi di Den Haag panggung musiknya berlangsung sampai keesokan harinya. Sungguhlah pesta raja ini meriah sekali (nampaknya ya, karena Koningsnacht tahun ini tentu saja saya selonjoran saja di rumah, saya hanya mendapatkan cerita dari sepupu yang melihat langsung di Den Haag).

Rumah-rumah memasang Bendera dan satu bendera Orange. Rumah kami? Tentu saja tidak memasang, wong tidak punya Bendera Belanda.

Kinderrommelmarkt Kinderrommelmarkt

Tentu saja yang kami nantikan jika Koningsdag adalah berburu barang bekas. Karena Koningsdag identik dengan pasar barang bekas atau disebut Rommelmarkt. Seperti tahun lalu (ceritanya bisa dibaca di sini), kali ini kami hanya pergi ke perayaan yang diadakan di kampung tempat tinggal kami. Namun karena cuaca sungguhlah tidak bisa ditebak maunya apa karena sebentar hujan, angin kencang, lalu muncul matahari dan panas, lalu hujan lagi, ulang berkali-kali (Cuaca asli Belanda yang bisa berubah suka-suka), kami nyaris membatalkan rencana berburu barang bekas. Ternyata setelah makan siang, matahari muncul sekelebatan.

Permainan untuk anak, gratis Permainan untuk anak, gratis

Mungkin karena diprediksi akan badai, saya lihat penjual barang bekasnya tidak sebanyak tahun lalu. Oh ya, di kampung kami, barang bekas yang dijual khusus barang anak-anak, karenanya pasarnya disebut Kinderrommelmarkt yang artinya pasar barang bekas anak-anak. Jangan dibayangkan barang bekasnya sudah jelek sekali ya. Meskipun disebut bekas tapi kondisinya masih bagus dan tentu saja harganya sangatlah murah bahkan ada banyak barang diberikan secara gratis.

Permainan untuk anak, gratis Permainan untuk anak, gratis

Senang dan menggemaskan melihat anak-anak kecil diajari berjualan oleh orangtuanya. Jadi ingat cerita Yayang di blognya tentang anak-anaknya yang berjualan mainan mereka dan semuanya ludes terjual. Pembelajaran yang bagus juga buat anak-anak supaya berani berkomunikasi dengan orang baru, melatih negoisasi, dan berlatih berhitung juga.

Sama juga seperti tahun lalu, ada panggung hiburan, beberapa permainan anak yang disediakan secara gratis, dan tak lupa stan-stan makanan. Meskipun diguyur hujan, semua tetap bersenang-senang. Kami akhirnya pulang membawa beberapa barang yang kami butuhkan. Semoga tahun depan kami bisa berpartisipasi berjualan di sini karena ada beberapa barang yang siap untuk dijual.

-Nootdorp, 28 April 2019-

Belanda Akhirnya Cerah dan Hangat

Suasana kampung tempat tinggal kami

Setelah minggu sebelumnya suhu turun sampai 1°C, sejak kamis lalu Belanda kembali menghangat dan matahari tidak tanggung-tanggung muncul setiap hari, konon sampai hari selasa besok. Bukan hanya itu, kami setiap hari juga disuguhi langit yang birunya tanpa cela *hiperbola tapi nyata adanya.

Intinya, saya benar-benar menikmati (meskipun ya sedikit ongkep alias gerah) suhu 24°C. Seperti biasa, kalau sudah cerah begini, saya kebingungan cari kegiatan di luar rumah. Pengennya jalan terus seharian kalau tidak ingat setrikaan menanti dan perut yang harus diisi (masak maksudnya). Nah kalau cuaca cerah seperti ini, saya juga males masak yang ruwet. Yang penting cepat, gampang cuci peralatan masaknya supaya bisa jalan-jalan di luar rumah sesegera mungkin. Menu andalan yang tidak ruwet adalah soto ayam. Saya sudah punya stok bumbu soto ayam di freezer, jadi tinggal cemplung ke rebusan ayam.

Kamis minggu lalu, saya mendadak punya ide untuk melihat pasar keju tradisional yang ada di Gouda. Cerita lengkapnya akan saya tulis terpisah ya. Sempat mampir ke rumah Rurie, numpang makan siang haha. Karena semangat ada sinar matahari, kami yang keluar rumah sejak jam 9 pagi, baru kembali ke rumah lagi jam setengah 5 sore. Sebahagia itu saya menghangatkan diri di luar rumah, jalan kaki jauh, dan duduk-duduk sejenak di taman. Tapi memang tidak bisa disangkal, besok harinya pinggang saya rasa patah. Boyok cuklek, legrek, tapi hati gembira.

Pasar Keju di Gouda
Pasar Keju di Gouda

Apa kegiatan kami jika sedang cuaca cerah seperti ini? Ya memaksimalkan aktivitas di luar rumah. Jalan kaki, olahraga pagi, bermain sepuasnya di taman bermain, berkunjung ke pusat kota Den Haag, bahkan piknik di pantai abal-abal yang ada di kampung tempat tinggal kami. Selain itu, karena libur panjang Paskah, suami ada di rumah selama 4 hari. Jadi menyenangkan siang hari ada yang membantu saya dengan pekerjaan rumah. Rejeki lainnya, Mama mertua mentraktir kami makan di restoran Indonesia favorit Beliau.

Olahraga Pagi
Olahraga Pagi

Cakep banget ya warna langitnya
Cakep banget ya warna langitnya

Menu andalan akhir pekan, soto ayam
Menu andalan akhir pekan, soto ayam

Cerah
Cerah

Mengapa disebut pantai abal-abal? Karena sesungguhnya ini adalah danau, tapi dibeberapa area diberi pasir seolah-olah seperti di pantai. Jadi kalau panas seperti ini, banyak yang berjemur di pinggirnya dan anak-anak bisa bermain pasir seperti di pantai. Di mana ada matahari, di situ juga kegiatan BBQ dimulai. Ketika kami piknik, banyak yang membawa peralatan BBQ, bahkan ada yang niat membawa kompor dan penggorengan, masak mie goreng haha. Sayangnya kami hanya kebagian aromanya saja, padahal berharap diberi sepiring mie goreng. Nasib! Sedangkan kami berbekal aneka roti yang dibeli dari Lidl dan minuman serta Chips yang beli di AH. Sungguhlah terlihat perbedaannya sungguh nyata dibandingkan yang bawa penggorengan dan masak mie goreng di tengah orang-orang yang berjemur haha. Eh tapi kami diberi es krim oleh anak kecil yang duduk di depan. Rejeki.

Piknik di pantal abal abal
Piknik di pantal abal abal

Rasanya tidak pernah bosan memandang langit yang warnanya biru sempurna. Dan juga tidak pernah bosan mengabadikan dengan kamera (Hp tanpa editan, karena malas mengedit). Saya puas-puaskan dengan cuaca panas ini sebelum hujan kembali datang, angin, dan langit abu-abu. Cuaca Belanda sesuai fitrahnya. Genieten van! Dua foto terakhir ini adalah suasana kampung tempat tinggal kami.

Suasana kampung tempat tinggal kami
Suasana kampung tempat tinggal kami

Suasana kampung tempat tinggal kami
Suasana kampung tempat tinggal kami

-Nootdorp, 22 April 2019-

Cerita Pemilu 2019 di Belanda

13 April 2019 menjadi tanggal yang tidak akan saya lupakan sebagai WNI yang tinggal di Belanda karena hari sabtu tersebut saya mempergunakan hak pilih pada pemilu tahun 2019 yang bertempat di Sekolah Indonesia Den Haag di Wassenaar. Setelah sempat ragu beberapa waktu sebelumnya apakah saya bisa datang atau tidak, lalu mendengar kabar bahwa pemilik katering Padang favorit akan membuka stan di sana, saya jadi bersemangat ingin datang. Ya, sejujurnya motivasi utama saya karena ingin membeli masakan padang (pemiliknya tidak punya restauran hanya melayani pemesanan dan makan ramai ramai di rumahnya). Salah satu variabel kebahagiaan saya adalah makanan. Jadi ya, langsung berbinar ketika tahu bisa menyantap masakan padang setelah mencoblos. Namun sesungguhnya saya pun ingin menyaksikan dan merasakan secara langsung bagaimana suasana dan keadaan pemilu di Belanda. Saya bilang ke diri sendiri bahwa ini akan jadi bagian sejarah hidup saya, pertama kali merasakan dan ikut pemilu di Belanda setelah tidak tinggal di Indnesia.

Pagi hari saya mempersiapkan diri di rumah. Cuaca cerah, matahari bersinar, langit biru dengan suhu 3°C. Dingin sekali pagi itu. Tapi tidak menyurutkan niat saya untuk datang. Setelah diantar suami dan sampai di tempat pencoblosan, mendadak agak surut langkah. Antrian mengular sampai di luar area sekolah. Namun saya tetap langsung masuk di antrian.

Antrian sampai luar area sekolah
Antrian sampai luar area sekolah

 Setelah beberapa saat, akhirnya bisa melewati pintu pemeriksaan tas. Antrian bergerak perlahan. Saya tidak akan ceritakan secara detail ya apa yang terjadi kemaren selama mengantri. Karena akan sangat panjang

Antrian di dalam. Terlihat ya mengular panjang
Antrian di dalam. Terlihat ya mengular panjang

Saat ada panitia lewat, saya sempat bertanya apa tidak ada jalur atau antrian khusus untuk Lansia, orang sakit, wanita hamil, orangtua yang membawa balita (atau Ibu yang membawa bayi yang masih menyusui), disabilitas. Ibu panitia menjawab bahwa jalur khusus hanya untuk wanita hamil. Lalu saya bertanya lagi bagaimana Ibu yang membawa bayi dan butuh menyusui apakah tidak bisa dimasukkan jalur khusus. Dijawab : antri saja. 

Selama mengantri, sebenarnya banyak sekali hal-hal lucu sampai menjengkelkan yang saya temui. Ini saya bagi ceritanya beberapa saja ya :

  1. Ketika sudah 1.5 jam mengantr dan itupun masih panjang antrian di depan (belum setengahnya), saya mengeluh kepada orang di samping kenapa jalur khusus hanya untuk Ibu hamil saja. Lalu seseorang menyelutuk “lho saya hamil tapi kok tidak tahu kalau bisa langsung masuk tenda pendaftaran?” Lalu saya bilang : langsung saja Bu ke tenda. Ibu tersebut keadaannya segar bugar ya, bukan Ibu hamil yang pucat. Lalu Ibu tersebut diantar suaminya langsung ke tenda pendaftaran dan si suami ikut mengantri di belakangnya. Panitia yg di dalam tenda bertanya : Bapak juga hamil? Kalau tidak, silahkan kembali le antrian yang di luar. Saya sebenarnya ingin tertawa, tapi saya tahan.
  2. Ada seorang Bapak lewat di depan antrian saya. Orang-orang di sekitar saya langsung menyalami Bapak tersebut. Saya hanya melihat sambil berpikir keras siapa ya Bapak itu. Kayaknya pejabat tapi siapa. Lalu saya tanya ke sebelah saya. Ohh ternyata Bapak Dubes haha. Duh, kok saya tidak hapal ya muka Bapak Dubes. Padahal pernah sekali ketemu di Pasar Raya tahun lalu. Orang-orang sekeliling saya memandang tak percaya kalau saya tidak tahu bahwa Beliau adalah Pak Dubes. Duh biasa aja sih, ga usah dipandang aneh gitu.

Singkat cerita ya, akhirnya setelah 1.5 jam dalam antrian dan seorang panitia melihat, saya disuruh masuk ke dalam tenda pendaftaran. Jadi kalau ada yang bertanya berapa lama saya mengantri, saya jawab 1.5 jam karena memotong antrian yang normal. Kalau dengar cerita dari Crystal, dia antri 3 jam. Lalu kemudian di forum saya baca ada yg sampai 6 jam mengantri. 

Setelah di tenda pendaftaran, lalu masuk ruang tunggu per TPS, lalu masuk ke TPS. Saya mencoblos di TPS 1. Wah terharu juga ya akhirnya mencoblos dengan perjuangan ngantri, dingin, berangin dan sempat gerimis (kata teman sorenya bahkan hujan es dan salju). Melalui pintu keluar TPS, saya lalu tidak sabar beli sate Padang. Duh nikmatnya, karena perut sangat lapar. Selain gembira karena sudah mencoblos, makan sate padang dan bungkus pulang rendang serta ikan bakar, saya juga senang bisa bertemu beberapa teman di sana termasuk Crystal dan Yayang yang bertemu di bis menuju pulang. Bis menuju dan pulang dari Wassenaar gratis disediakan oleh KBRI. Berdasarkan pengalaman tahun ini, untuk pemilu selanjutnya, saya mencoblos lewat pos saja. Tak sanggup antri segitu lamanya.

Lapek Jo is the best!
Lapek Jo is the best!

Sate padang yang membuat saya terharu
Sate padang yang membuat saya terharu

Nasi Padang untuk sepupu
Nasi Padang untuk sepupu

Ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya dan sudah tersampaikan kepada salah satu panitia. Ini yang hanya berhubungan dengan yang saya alami. Karena sesungguhnya banyak sekali yang perlu diperbaiki dalam pelaksanaan pemilu di Belanda kali ini :

  1. Perlu diadakan antrian khusus untuk Lansia, Ibu hamil, orang tua, orang sakit, disabilitas, orangtua yang membawa balita (termasuk di dalamnya Ibu yang membawa bayi yang masih menyusui). 
  2. Tidak ada nursery room. Saya lihat ruang di tempat tenda-tenda makanan masih luas sehingga masih memungkinkan untuk mendirikan satu tenda supaya orangtua bisa mengganti popok anaknya atau Ibu yang mau menyusui bayinya. Di cuaca dingin, sangat kasihan melihat beberapa balita ganti popok di ruangan terbuka dan menangis kedinginan.
  3. Masukan saja, lebih baik sejak pintu masuk sudah dipisah antrian berdasarkan TPS, antrian khusus dan antrian buat mereka yg tidak membawa C6. Kemungkinan dengan antrian sudah dipecah sejak awal akan mengurangi keruwetan dan antrian yang mengular sampai ke jalan raya.

Bagaimanapun juga, terima kasih untuk tim panitia atas kerja kerasnya. Semoga ke depan lebih baik lagi pelaksanaannya dengan memperhatikan masukan-masukan yang ada sebagai bahan evaluasi dan perbaikan.

Saya benar-benar terharu akhirnya ikut merasakan pesta demokrasi Indonesia di negara Belanda. Tidak menyangka bahwa saya akhirnya mempergunakan hak pilih. Diantara banyak hal yang terjadi selama di sana, komentar-komentar tak penting dan menyebalkan yang saya terima, tetaplah saya gembira sudah merasakan dan menyaksikan secara langsung suasana pencoblosan. Kelak, bisa saya ceritakan pada anak-anak kami, bahwa mereka bagian dari saksi sejarah ini.

Ada yang tahu saya yang mana dalam antrian? Foto milik KBRI
Ada yang tahu saya yang mana dalam antrian? Foto milik KBRI

Semoga presiden yang terpilih nanti amanah. Dan segala perseteruan tak penting antara teman, saudara, sahabat berakhir damai. Ingat, beda pilihan itu biasa, apalagi pilihan berpolitik, namun jangan sampai meretas apa yg sudah terjalin baik selama ini. Setiap orang berhak atas pilihannya masing-masing. Mari saling menghormati saja. Tak perlu menjelek-jelekkan di belakang.

Buat pemilih di Indonesia, semoga apapun pilihan politik kalian tanggal 17 April 2019, selamat berpesta demokrasi. Gunakan hak pilih dengan bijak. 

Sah mencoblos langsung
Sah mencoblos langsung

-Nootdorp, 14 April 2019-